Check out the Latest Articles:
Tampilkan postingan dengan label Bhikkhu Jotidhammo Mahathera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bhikkhu Jotidhammo Mahathera. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2012

Membangun Etos Kerja Buddhis


oleh: Bhikkhu Jotidhammo


"Kâlâgatanca na hâpeti attham".

Orang rajin tidak akan kehilangan manfaat pada setiap kesempatan. (Khuddaka Nikaya, Jataka, Cakkanipata)


Kehidupan manusia memerlukan sandang, pangan, papan, ditambah obat-obatan yang merupakan kebutuhan hidupnya agar dapat hidup secara layak sebagaimana halnya kehidupan manusia pada umumnya. Bahkan kebutuhan hidup itu akan bertambah semakin banyak seperti pendidikan, kendaraan, hiburan dan lain-lain yang semuanya itu membuat peluang manusia lebih berbahagia hidupnya. Tetapi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut manusia harus mencari, menggunakan akal budinya untuk mendapatkannnya.

Dan akal budi yang dikembangkan dengan baik akan mendorong manusia untuk mencari nafkah atau pendapatan yang dapat digunakan untuk mendapatkan berbagai kebutuhan hidup tersebut. Mencari nafkah atau pendapatan hanya dapat diperoleh apabila manusia bekerja atau berkarya.

Makin maju dan berhasil manusia bekerja atau berkarya pada umumnya makin mudah mereka menikmati kebutuhan-kebutuhan hidupnya sekaligus makin mudah mereka berbuat kebaikan seperti menolong sesama yang membutuhkan.

Lalu bagaimanakah manusia dapat meraih keberhasilan dalam kerja atau karyanya? Pertama dan utama ialah bagaimanakah manusia mempersiapkan diri sendiri untuk memiliki sikap mental yang tepat dalam menghadapi dan menyelesaikan pekerjaan. Hal ini jauh lebih penting karena manusia adalah makhluk yang dapat mengolah dirinya ke arah yang akan dituju.

Sikap mental bagaimanakah yang merupakan cambuk menuju keberhasilan bekerja atau berkarya itu?

Sang Buddha mengatakan dalam Dhammapada 160:

"Diri sendiri sesungguhnya tuan bagi dirinya sendiri, karena siapa lagi yang dapat menjadi tuan bagi dirinya? Setelah seseorang dapat melatih dirinya sendiri dengan baik, maka ia akan memperoleh suatu perlindungan yang amat sukar diperoleh".

Jelas sekali bahwasanya kemajuan ataupun kemunduran usaha kita adalah akibat dari sampai seberapa jauh kita sendiri berusaha. Berkah bukan datang dari surga, sial bukan datang dari neraka. Berkah ataupun sial datang dari usaha diri sendiri. Oleh karena itu apabila manusia menginginkan berkah atau kemajuan maka di tangan manusia sendiri semua itu dapat terwujud nyata. Ketergantungan terhadap sesuatu yang berada di luar diri kita akan menjadikan kita tak mampu betul-betul 'berdiri di atas kaki sendiri', sifat pasrah pada nasib merupakan wujud kekalahan dari usaha kita; oleh karena itu dua hal di atas akan menghambat tumbuhnya kepercayaan diri sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan kita. Orang yang meminta, memohon dan berdoa kepada sesuatu berarti separuh usaha atau mungkin semua usaha sudah dipasrahkan kepada sesuatu itu, sedangkan orang yang selalu berpaling pada nasib akan mudah ragu-ragu dalam mengambil tindakan, sebab segala tindakan yang belum saatnya bernasib baik akanlah percuma dilakukan.

"Segala keadaan yang terbentuk dari berbagai faktor tidaklah abadi, oleh karena itu berjuanglah dengan sungguh-sungguh", kata Sang Buddha.

Perjuangan manusia yang percaya pada kemampuan diri sendiri sangatlah diperlukan untuk mengubah keadaan yang serba tidak abadi yang berada di hadapan manusia itu sendiri. Andaikata perjuangan manusia melemah tentu saja keadaan yang diperoleh menjadi menurun, sebaliknya apabila perjuangan manusia meningkat maka keadaan akan menjadi meningkat juga. Hal ini tidak dapat diputar-balikkan, karena sudah ada hukum tersendiri (hukum karma) yang berkuasa atas hal itu.

Kepercayaan manusia bahwa segala keadaan dapat berubah kalau manusia itu sendiri mau mengubahnya, atas usaha manusia sendiri pula adalah akar dasar dari tumbuhnya sikap mental kerja.

Sang Buddha menunjukkan adanya empat sikap mental kita yang perlu kita bangun untuk mewujudkan etos kerja Buddhis (Empat Iddhipada):

1. Canda (kepuasan dan kegembiraan di dalam mengerjakan hal-hal yang sedang dikerjakan).

Kepuasan dan kegembiraan di sini menunjukkan adanya keserasian antara keinginan, kemampuan ataupun kepribadian kita dengan pekerjaan yang sedang kita garap. Jadi justru pada saat kita menghadapai dan menyelesaikan pekerjaan itulah kepuasan dan kegembiraan kita nikmati. Hal ini sangatlah membantu sekali dalam membangun etos kerja Buddhis yang sehat sehingga sering kali manusia memilih atau bahkan diarahkan kepada pilihan pekerjaan tertentu yang dikatakan sesuai dengan bakatnya. Ada kalanya manusia mempunyai kekeliruan bahwa mereka hanya bekerja untuk memperoleh kepuasan/kegembiaraan pada hasil akhirnya saja sehingga mereka tidaklah menikmati kepuasan/kegembiraan selama mengerjakan pekerjaannya itu. Sehingga mudah sekali muncul kekecewaaan apabila mereka tidak memperoleh hasil yang diharap-harapkannya. Inilah sebenarnya merupakan dorongan hawa nafsu yang sangat besar yaitu penderitaan kekecewaan dan juga kepuasan yang tidak memuaskan. Oleh karena itu sebenarnya kepuasan itu hendaknya kita nikmati pada saat kita berkiprah dalam pekerjaan kita yang sekaligus kehidupan kita, adapun hasil pekerjaan kita adalah akibat langsung dan sepadan dari apa yang telah selesai kita kerjakan dengan penuh kepuasan itu. Akibat lain yang juga kita terima dari kepuasan selama kita bekerja adalah terpusatnya perhatian kita kepada pekerjaan yang sedang kita garap itu. Ini merupakan faktor pendukung keberhasilan pekerjaan kita.

2. Viriya (usaha yang bersemangat dalam mengerjakan sesuatu).

Kegigihan, keuletan, merupakan salah satu faktor pembentuk sikap kerja yang positif. Ia tidak mudah putus asa sehingga berhenti berusaha. Banyak orang yang berhenti berusaha setelah merasakan begitu lambat hasil yang ingin diraihnya sehingga muncullah kebosanan atau kejenuhan. Bahkan ada orang yang berhenti berusaha sebelum memulainya, tentu saja ini merupakan kesempatan yang baik bagi mereka yang tekun, teguh, gigih dalam usahanya untuk mendapatkan kemajuan atau keberhasilan. Sebenarnya kegigihan, keuletan berada setingkat lebih atas daripada bakat, ketrampilan, bahkan pendidikan, karena tidak jarang di antara mereka-mereka yang berbakat, trampil dan berpendidikan itu kandas di tengah-tengah usahanya.

Thomas A. Edison menghasilkan banyak penemuan termasuk lampu bohlam listrik, gramafon dll. Orang boleh iri terhadap kejeniusan Edison yang kreatif, tetapi apakah pernyataan Edison yang luar biasa terhadap proyeknya?

"Kejeniusan ialah satu persen inspirasi dan sembilan puluh sembilan persen adalah keringat; saya tidak pernah melakukan sesuatu yang berharga secara tidak sengaja. Demikian juga penemuan saya yang tidak terjadi karena suatu kebetulan. Penemuan itu terjadi karena saya kerjakan".

Usaha yang bersemangat ini bukan hanya usaha untuk meraih keberhasilan dalam pekerjaan, tetapi perlu juga kita perhatikan usaha yang bersemangat untuk melakukan apa saja yang sekiranya baik dan mendukung kemajuan pekerjaan kita. Bahkan perlu juga kita menyadari apakah ada hal-hal yang tidak mendukung kemajuan pekerjaan kita, tentu saja hal ini perlu usaha yang bersemangat untuk menyingkirkannya.

3. Citta (memperhatikan dengan sepenuh hati hal-hal yang sedang dikerjakan tanpa membiarkannya begitu saja).

Orang yang memperhatikan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh akan menyebabkan ia dapat menyelesaikan pekerjaannya itu dengan baik. Perhatian, kewaspadaan terhadap pekerjaan kita merupakan sikap yang menjauhkan kita dari kelalaian dan peluang keberhasilan yang lewat berlalu. Sering kali kelalaian dalam pekerjaan kita menyebabkan banyaknya kesalahan atau kegagalan dan pemborosan waktu yang sebenarnya berguna untuk kemajuan. Sedangkan peluang keberhasilan yang lewat tanpa kita ketahui merupakan keterlambatan kemajuan. Oleh karena itu dengan perhatian pulalah kita dapat mengetahui saat munculnya peluang emas keberhasilan. Dan juga perhatian serta kewaspadaan menjaga diri kita agar tidak mudah berpaling kepada hal-hal lain yang berada di luar pekerjaan kita yang dapat mengakibatkan perhatian terhadap pekerjaan semula berkurang sehingga semangat semula pun dapat menurun dan bahkan dapat berpindah-pindah pekerjaan sebelum suatu pekerjaan selesai.

4. Vimamsa (merenungkan dan menyelidiki hal-hal yang sedang dikerjakan).

Pekerjaan kita sebenarnya menyimpan banyak pendapat, gagasan, ide baru yang tak nampak mata tetapi akan tampak jelas apabila dilakukan perenungan atau penyelidikan seksama terhadapnya, inilah sebenarnya yang memberi peluang bagi timbulnya kreatifitas, gagasan dan ide-ide menarik yang kadang-kadang di luar angan-angan. Makin luas wawasan perenungan serta penyelidikan kita makin lebar ide dan gagasan yang dapat dijangkau dalam bentuk apapun. Jarang orang dapat menumbuhkan ide atau gagasan atau penemuan baru yang sebenarnya tidaklah aneh karena semua itu ada di sekeliling kita. Mereka yang mendapatkan penemuan baru betul-betul merupakan orang berjasa dalam mengembangkan pekerjaan atau karyanya itu. Kemajuan ilmu pengetahuan maupun teknologi merupakan hasil ide atau gagasan yang cemerlang dari mereka-mereka yang penuh perhatian disertai perenungan dan penyelidikan terhadap apa yang dikerjakannya. Sehingga manusia dengan pekerjaan atau karyanya akan berkembang maju bersama-sama.

Empat macam faktor tersebut di atas saling berkaitan satu sama lain dan merupakan faktor-faktor pembentuk sikap mental etos kerja Buddhis yang sebenarnya. Hanya saja semua faktor itu perlu ditumbuh-kembangkan dalam diri manusia lewat suatu proses perkembangan praktek secara terus menerus dan berkesinambungan.

Niscaya apabila keempat faktor itu dapat tumbuh dalam diri manusia pekerja atau pekarya, maka macam pekerjaan atau karya apapun yang dihadapi dan diselesaikan oleh manusia itu merupakan fragmen hidupnya yang sangat mengasyikkan.

Kiranya perlu juga kita perhatikan suatu kaitan nyata yang tak dapat dipisahkan dengan sikap mental pribadi etos kerja Buddhis itu adalah peranan penting dari hubungan antar manusia yang langsung terlibat dalam kerja tersebut. Terutama pekerjaan yang ditangani banyak orang tidaklah dapat dipungkiri begitu besar peranan hubungan timbal balik antara manusia, pekerjaannya dan atau antara atasan dan bawahan.

Menurut Sang Buddha, hubungan timbal balik tersebut perlu dijalin dengan keserasian dalam empat hal (Empat Sanghavatthu):

1. Dâna.

Memberi dan membagi barang-barang kepada orang lain yang pantas menerimanya.
2. Piyavâcâ.

Berbicara atau membicarakan sesuatu dengan menyenangkan.
3. Atthacariyâ.

Melakukan hal-hal yang berguna bagi orang lain (menolong).
4. Samânattatâ.

Memiliki ketenangan dan tidak sombong.

Empat hal inilah yang membuat suasana sehat dalam suatu lapangan pekerjaan apapun juga apabila dapat terwujud dengan nyata.

Kini kesempatan yang bagaimanakah yang dapat memberikan manfaat pada orang yang rajin?

Sang Buddha mengatakan dalam Anguttara Nikaya III, 65 seperti berikut ini:

Terdapat lima kesempatan tepat untuk berusaha keras. Apakah lima kesempatan tersebut?

Apabila sesorang masih muda, nampak muda, hitam rambutnya, mempunyai keindahan masa muda dan pada usia yang sebaik-baiknya. Inilah kesempatan tepat pertama untuk berusaha keras.

Kemudian jika seseorang memiliki kesehatan dan kekuatan, dengan pangan yang baik yang tidak terlalu panas maupun tidak terlalu dingin. Inilah kesempatan tepat kedua untuk berusaha keras.

Jika tak terjadi kelaparan dan hasil panen baik, makanan dengan mudah diperoleh dan seseorang dapat dengan mudah hidup, menabung dan murah hati. Inilah kesempatan tepat ketiga untuk berusaha keras.

Apabila manusia hidup saling bersahabat, harmoni seperti air dengan susu bercampur, jauh dari pertengkaran serta tidak memandang satu sama lain dengan tidak senang. Inilah kesempatan tepat keempat untuk berusaha keras.

Dan sekali lagi, apabila Sangha hidup dalam suasana persahabatan, puas dengan ajaran yang tunggal, kemudian mereka tidak saling mencerca, tidak saling menuduh, berselisih, berdebat, tetapi mereka dari sedîkit keyakinan mengharapkan keyakinan yang utuh dan keyakinan mereka tumbuh dengan menyakinkan. Inilah kesempatan tepat kelima untuk berusaha keras.***


Sumber:

BUDDHA CAKKHU No.19/XI/90; Yayasan Dhammadipa Arama.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Khotbah Dhamma 5 Februari 1989 Di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya

Khotbah Dhamma 5 Februari 1989 Di Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya

oleh: Bhikkhu Jotidhammo

disadur oleh: Nani Linda, SH

Sudahkah anda mencoba melaksanakan atau memenuhi ajaran-ajaran agama yang anda anut, di dalam kehidupan beragama? Pernahkah anda merasa jemu, bosan dalam kehidupan beragama? Coba anda renungkan!

Sebagai umat Buddha yang baik, setiap hari Minggu anda datang ke vihara, mengikuti kebaktian, mendengarkan khotbah Dhamma; ini merupakan perwujudan dari kehidupan beragama. Namun bila anda ke vihara, mengikuti kebaktian, mendengarkan khotbah Dhamma, lalu hanya direnung-renung; O... masuk akal, benar, 'cengli'. Cukup hanya sampai di situ, selesai begitu saja; maka pasti yang anda dapatkan hanya kejemuan. Dan ini sering terjadi di dalam kehidupan beragama kita. Ini terjadi karena kita menerima agama hanya kebenaran (teori)nya saja, di sini kita baru sampai pada taraf pengertian. Kalau kita beragama hanya demikian, apalagi pengkhotbahnya selalu memberikan materi yang itu-itu saja, maka kejemuan akan timbul di dalam diri kita.

Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan agar kejemuan itu tidak timbul? Dalam kehidupan beragama hendaknya kita tidak berhenti sampai pada taraf pengertian saja, menerima kebenarannya hanya berdasarkan nalar, tetapi cobalah kita terapkan ajaran itu di dalam kehidupan sehari-hari. Ini disebut taraf penerapan. Sudah cukupkah sampai di situ? Tidak cukup! Pernah ada seorang umat yang menyatakan bahwa dia sudah menerapkan ajaran agama Buddha dalam kehidupan sehari-harinya; seperti berdana, melatih sila, dan bermeditasi. Tetapi kejemuan masih timbul di dalam dirinya. Mengapa kejemuan itu masih ada? Mengapa?

Penerapan memang tidak cukup, karena masih ada kekurangan bila kita berhenti pada taraf ini, yaitu kita tidak berusaha mengambil, memetik hikmahnya pengalaman dari penerapan tersebut. Hal ini sering dilupakan orang, padahal sangat penting. Apabila orang tidak bisa mengenali pengalaman-pengalaman dalam hidup beragamanya sendiri, pasti orang tersebut akan berpendapat bahwa agama sama sekali tidak bermanfaat bagi perkembangan dirinya.

Misalnya dalam melaksanakan Dana, Sila, dan Samadhi. Cobalah ambil pengalaman-pengalaman dari melaksanakan tiga hal tersebut. Seringkali orang berdana hanya karena ikut-ikutan saja, supaya tidak dikatakan pelit atau solider dengan teman. Atau bersamadhi, duduk bermeditasi sewaktu ikut kebaktian di vihara dan 'Meditasi selesai' ucap pemimpin kebaktian, ya... selesai, sudah beres. Lalu apa gunanya, apa manfaatnya semua hal itu? Apa?

Setiap orang beragama pasti mempunyai pengalaman-pengalaman dalam hidup beragamanya walaupun kecil, pasti ada. Pengalaman hidup beragama ini tidak diperoleh dengan berbincang-bincang, beradu pendapat tentang teori Dhamma, atau membaca buku-buku Dhamma. Tidak bisa! Semua itu semata-mata hanya menimbulkan pengertian, melulu pengertian. Mengerti ajaran Dhamma. Makin banyak membaca buku Dhamma, makin mengerti. Makin banyak pengetahuan Dhamma yang diperoleh, makin berpengetahuan Dhamma. Jadi makin berilmu agama Buddha.

Anda ingin hidup beragama Buddha atau berilmu agama Buddha? Kalau hanya ingin memiliki ilmu agama Buddha, anda cukup mempelajarinya, banyak-banyaklah membaca buku dan berdiskusi tentang agama Buddha, sekolah sampai di perguruan tinggi dalam bidang agama Buddha. Itu orang berilmu agama atau ahli agama Buddha. Dalam hal ini sebenarnya orang itu tidak perlu beragama Buddha. Orang yang beragama lain pun bisa menjadi ahli agama Buddha. Pernah ada seorang dosen IAIN yang ahli dalam bidang agama Buddha tetapi dia sendiri beragama Islam dan mengimani agamanya sendiri. Ia beragama lain namun juga dapat belajar ilmu agama Buddha.

Bagi kita yang datang ke vihara, ikut kebaktian, mendengarkan khotbah Dhamma, merupakan salah satu perwujudan dari hidup beragama, bukan hanya ingin berilmu agama saja; walaupun ilmu agama itu juga penting dan perlu. Kalau orang beragama tidak mempunyai pengetahuan sama sekali tentang agamanya, dapat dikatakan seperti orang yang hendak pergi tetapi tidak tahu jalannya.

Jika kita ingin hidup beragama, hidup di dalam keagamaan, menjadi umat Buddha yang mempunyai keyakinan terhadap agama Buddha, maka kita harus menambah kemantapan keyakinan dengan mencari tahu, melihat pengalaman-pengalaman kehidupan beragama kita. Andaikata anda tidak dapat melihat pengalaman-pengalaman kehidupan beragama, maka keyakinan anda pun masih diragukan. Karena dalam diri anda belum ada memantapan bahwa hidup beragama itu ada manfaatnya, ada gunanya, ada untungnya, bukan biasa-biasa saja, dan tidak ada kelebihannya. Dan kelebihan itu bisa anda peroleh dengan melihat pengalaman-pengalaman anda dalam kehidupan beragama.

Misalnya anda datang ke vihara dan berpendapat, ya... biasa saja, datang atau tidak datang juga sama saja, hanya membuang-buang waktu saja. Ini disebabkan karena anda tidak pernah memetik pengalaman-pengalaman kehidupan beragama anda, maka anda tidak pernah melihat kelebihannya. Dan anda layaknya seperti ikut-ikutan atau membuang-buang waktu atau membuang-buang uang recehan saja. Melihat dan memetik pengalaman itu memang tidak bisa sekaligus, harus sedikit demi sedikit.

Kalau anda mau melihat, memetik pengalaman-pengalaman tersebut tentu agama akan berpengaruh bagi anda. Coba perhatikan bagaimana agama dapat mendatangkan manfaat bagi kita, bagaimana agama ini membentuk kepribadian kita? Dari sanalah dapat dilihat bahwa agama bermanfaat, berguna bagi hidup kita. Lalu ada yang bertanya, apakah agama bisa membentuk kepribadian kita? Bisa! Dengan usaha dan kemauan. Seperti para Arahat murid Sang Buddha, mereka telah berhasil membentuk kepribadiannya sehingga mencapai tingkat kesucian batin yang tertinggi, padahal mereka juga manusia biasa. Kalau anda tidak mengenali hal tersebut, maka hidup anda akan tetap begitu-begitu saja, tidak ada kemajuan sampai kapan pun.

Tapi jangan digambarkan beragama itu kalau sedang susah, sedang mengalami kesulitan, sedang dirundung kemalangan, dirundung duka nestapa lalu datang ke vibara. Ini adalah hal yang keliru yang sudah salah kaprah di dalam masyarakat umum. Pengalaman dan manfaat apa yang diperoleh kalau ke vihara hanya pada waktu susah saja.

Contoh yang paling mudah dan melihat dan memetik pengalamam itu misalnya, bersembahyang, pasang lilin, pasang hio atau dupa. Coba anda rasakan apa manfaatnya? Batin yang tenang, batin yang betul-betul berbakti, menghormat; itulah sebuah pengalaman. Apalagi setelah itu anda membaca paritta dengan khusuk, perhatikan dengan sungguh-sungguh kata demi kata, resapkan, renungkan, dan coba perhatikan apa yang anda peroleh. Anda akan mendapatkan ketenangan, kedamaian, batin yang betul-betul sejuk sekali. Tetapi kalau anda tidak melihat, tidak memetik pengalaman dan melakukan hal ini, maka semua itu tidak ada gunanya, hanya membuang-buang waktu saja.

Yang lain misalnya menjalankan Sila, katakanlah sila yang pertama, tidak membunuh. Dengan latihan ini maka dalam diri anda akan tumbuh dan berkembang rasa cinta kasih dan kasih sayang, bukan hanya terhadap semua makhluk tetapi lebih dari itu, yaitu timbul penghargaan yang besar terhadap kehidupan. Inilah yang diajarkan oleh Sang Buddha, menghargai, menghormati kehidupan yang memang penuh dengan penderitaan ini.

Pengalaman-pengalaman beragama tidak bisa setengah-setengah, anda tidak bisa memetik manfaatnya bila tidak melaksanakannya dengan sungguh-sungguh, dengan sepenuh hati. Coba anda laksanakan, janganlah beragama itu hanya datang untuk rame-rame, kumpul- kumpul melakukan kegiatan. Kalau hanya begitu kehidupan beragama kita hanya akan menjadi aktivitas sosial, perkumpulan sosial, lembaga sosial, bukan lagi aktivitas beragama. Dengan memetik pengalaman, merasakan manfaatnya, itulah hidup beragama, hidup di dalam Dhamma.***


Sumber:

Jalan Tengah No. 7/Tahun Ke I/9 April 1989; Yayasan Dhamma Dipa Arama; Jakarta.

Sikap Mental Yang Bagaimanakah Yang Mendasari Sikap Mental Buddhisme?

Sikap Mental Yang Bagaimanakah Yang Mendasari Sikap Mental Buddhisme?

oleh: Bhikkhu Jotidhammo

disadur oleh: Nani Linda, SH

Seperti kita ketahui ada 3 (tiga) hal yang tersirat di dalam Jalan Utama berunsur delapan Yaitu:

  1. Sila (kemoralan): Ucapan benar, Perbuatan benar, Usaha benar, Penghidupan benar.
  2. Samadhi (konsentrasi): Kesadaran benar, Konsentrasi benar.
  3. Panna (kebijaksanaan): Pengertian benar, Pikiran benar.

Hal tersebut di atas bukan hanya sekedar teori yang buat kita baca saja, tapi seharusnya merupakan sikap mental yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sila, adalah sikap mental yang baik, bersahabat, dan cinta kasih yang mendasari semua perbuatan kita.

Samadhi, bukan hanya sekedar duduk bermeditasi memusatkan perhatian pada satu obyek tertentu, tapi inti sebenarnya adalah mengajarkan kita untuk bersikap sungguh-sungguh, disiplin, serius dalam menghadapi sesuatu yang sudah kita tentukan, tidak setengah-setengah, tidak menghiraukan hal-hal yang lain.

Pada hakekatnya dalam hal panna ini, kita dituntut untuk melihat suatu masalah dengan pandangan luas, tidak sempit, mempunyai pengetahuan, dan pengertian. Bila saudara menghadapi sesuatu masalah dalam kehidupan ini terutama yang tidak menyenangkan, menyulitkan, menjengkelkan atau timbul pertanyaan mengapa saya tidak disukai, disingkirkan, diacuhkan orang. Kalau kita melihat masalah tersebut secara sempit, kita tidak bisa menyelesaikan masalahnya, tidak bisa mendapatkan jalan keluarnya secara tepat. Tapi kita bisa melihat masalah tersebut secara luas dengan mencari sebabnya. Sang Buddha mengajarkan kita bahwa segala sesuatu itu pasti ada sebabnya, sebab itulah yang harus kita tangani. Kebanyakan orang hanya mau melihat persoalannya saja, tidak mau melihat penyebabnya; sehingga persoalan itu dibawa ke Bhikkhu, psycholoog, dokter atau penasehat-penasehat lainnya, pada hal mereka itu hanya menasihatkan bahwa semua itu ada sebabnya, kalau bisa mengatasi sebabnya selesailah masalah itu. Biasanya setelah ditunjuk sebabnya orang itu akan lebih lega. Orang-orang yang hanya mau melihat melulu persoalannya saja dan tidak mau melihat penyebabnya adalah terlalu emosional, namun jika kita mau meredakan sedikit emosi kita pasti bisa melihat penyebabnya. Biasanya orang yang emosi ini nalar (ratio)nya di belakang sedang emosinya lebih ke depan, yang berjalan tanpa kendali. Emosi itu memang sukar untuk dikendalikan, yang bisa dikendalikan adalah nalar/pikiran, kalau kita mau menggunakan nalar maka emosi akan reda.

Menggunakan nalar lebih sulit daripada menggunakan emosi yang lebih gampang muncul. Saudara tidak perlu belajar/sekolah untuk menggunakan emosi, tapi anak-anak dari SD sampai SMA di sekolah itu diajari nalar, tapi emosi tidak perlu sekolah dari SD sampai SMA. Penderitaan yang kita alami disebabkan oleh nafsu keinginan dan nafsu keinginan itu sebenarnya didasari oleh emosi. Kalau kita bisa menggunakan nalar/akal sehat maka nafsu keinginan akan turun. Dhamma mengajar kita menggunakan nalar/akal sehat dan bukan menggunakan perasaan/emosi, juga mengajarkan kita melatih nalar untuk meredakan emosi. Dhamma memacu akal sehat kita untuk maju. Di dalam batin kita ada cita (pikiran), rasa (peranan), karsa (keinginan), jika tiga hal ini tidak diseimbangkan biasanya yang muncul adalah perasaan/emosi. Ajaran Sang Buddha itu bukan melulu menonjolkan nalar, karena kalau kita hanya menggunakan nalar saja maka orang akan menjadi kaku namun harus diimbangi dengan panna (kebijaksanaan).

Ditinjau dari segi ilmu jiwa, bisa mengikuti ajaran Sang Buddha amatlah bermanfaat karena di balik apa yang kita pelajari ditanamkan sikap mental yang positif yaitu sikap mental yang baik dan penuh cinta kasih, bekerja dengan sungguh-sungguh dan mempunyai pandangan yang luas. Ketiga sikap ini dapat Saudara bawa ke mana saja dan kapan saja.

Kalau Saudara bekerja di kantor/perusahaan dengan tugas tertentu dan jabatan tertentu, harus ada tiga sikap di atas. Saudara harus bekerja dengan baik, segala tugas haruslah dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan Saudara harus mempunyai pengertian, pengetahuan yang luas agar bisa mencapai suatu kemajuan, keberhasilan.

Jika Saudara sudah bekerja dengan baik, tapi kadang-kadang baik, kadang-kadang seenaknya, pasti Saudara tidak akan berhasil menaikkan prestasi. Atau jika Saudara sudah datang tepat pada waktunya, pulang tepat waktunya tapi melaksanakan tugas dengan tidak sungguh-sungguh, Saudara juga tidak akan berhasil. Atau Saudara bekerja dengan baik, tepat waktu, sungguh-sungguh, tapi Saudara tidak punya pengertian/pengetahuan/pandangan yang luas akan pekerjaannya atau dapat dikatakan bodoh. Saudara juga tidak akan maju-maju, Saudara tidak akan berkembang.

Bila Saudara seorang pelajar/mahasiswa, Saudara barus belajar dengan baik, sungguh-sungguh dan harus mempunyai pengertian/pandangan/pengetahuan baru Saudara bisa maju.

Atau bila mengendarai kendaraan perlu ketiga hal tersebut di atas, harus dilakukan dengan baik, sungguh-sungguh kalau tidak akan menabrak dan harus mengerti cara mengendarainya dan harus tahu rambu-rambu lalu-lintas.

Atau jika ibu-ibu memasak juga harus dikerjakan dengan baik, sungguh-sungguh dan harus tahu bahan-bahannya dan tahu cara memasaknya.

Atau seorang wiraswasta, harus menjalankan usahanya dengan baik/benar, sungguh-sungguh dan harus punya pengetahuan tentang seluk-beluk usahanya itu menuju ke arah yang lebih maju.

Semua itu membutuhkan sila, samadhi, dan panna; tapi Saudara jangan menerimanya seperti apa yang tersurat saja, semua itu bisa dipraktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bukan melulu sila itu membacakan Pancasila, samadhi itu duduk bermeditasi dan panna itu mendengarkan khotbah Dhamma. Kalau demikian agama Buddha hanya ada di Vihara saja, di luar Vihara semua tidak ada. Tapi seharusnya sikap mental itu dipakai, dipraktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari di mana saja dan kapan saja.***


Sumber:

Jalan Tengah No. 05/Tahun Ke I/09 Februari 1989; Yayasan Dhamma Dipa Arama; Jakarta.

Membangun Etos Kerja Buddhis

Membangun Etos Kerja Buddhis

oleh: Bhikkhu Jotidhammo


"Kâlâgatanca na hâpeti attham".

Orang rajin tidak akan kehilangan manfaat pada setiap kesempatan. (Khuddaka Nikaya, Jataka, Cakkanipata)


Kehidupan manusia memerlukan sandang, pangan, papan, ditambah obat-obatan yang merupakan kebutuhan hidupnya agar dapat hidup secara layak sebagaimana halnya kehidupan manusia pada umumnya. Bahkan kebutuhan hidup itu akan bertambah semakin banyak seperti pendidikan, kendaraan, hiburan dan lain-lain yang semuanya itu membuat peluang manusia lebih berbahagia hidupnya. Tetapi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut manusia harus mencari, menggunakan akal budinya untuk mendapatkannnya.

Dan akal budi yang dikembangkan dengan baik akan mendorong manusia untuk mencari nafkah atau pendapatan yang dapat digunakan untuk mendapatkan berbagai kebutuhan hidup tersebut. Mencari nafkah atau pendapatan hanya dapat diperoleh apabila manusia bekerja atau berkarya.

Makin maju dan berhasil manusia bekerja atau berkarya pada umumnya makin mudah mereka menikmati kebutuhan-kebutuhan hidupnya sekaligus makin mudah mereka berbuat kebaikan seperti menolong sesama yang membutuhkan.

Lalu bagaimanakah manusia dapat meraih keberhasilan dalam kerja atau karyanya? Pertama dan utama ialah bagaimanakah manusia mempersiapkan diri sendiri untuk memiliki sikap mental yang tepat dalam menghadapi dan menyelesaikan pekerjaan. Hal ini jauh lebih penting karena manusia adalah makhluk yang dapat mengolah dirinya ke arah yang akan dituju.

Sikap mental bagaimanakah yang merupakan cambuk menuju keberhasilan bekerja atau berkarya itu?

Sang Buddha mengatakan dalam Dhammapada 160:

"Diri sendiri sesungguhnya tuan bagi dirinya sendiri, karena siapa lagi yang dapat menjadi tuan bagi dirinya? Setelah seseorang dapat melatih dirinya sendiri dengan baik, maka ia akan memperoleh suatu perlindungan yang amat sukar diperoleh".

Jelas sekali bahwasanya kemajuan ataupun kemunduran usaha kita adalah akibat dari sampai seberapa jauh kita sendiri berusaha. Berkah bukan datang dari surga, sial bukan datang dari neraka. Berkah ataupun sial datang dari usaha diri sendiri. Oleh karena itu apabila manusia menginginkan berkah atau kemajuan maka di tangan manusia sendiri semua itu dapat terwujud nyata. Ketergantungan terhadap sesuatu yang berada di luar diri kita akan menjadikan kita tak mampu betul-betul 'berdiri di atas kaki sendiri', sifat pasrah pada nasib merupakan wujud kekalahan dari usaha kita; oleh karena itu dua hal di atas akan menghambat tumbuhnya kepercayaan diri sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan kita. Orang yang meminta, memohon dan berdoa kepada sesuatu berarti separuh usaha atau mungkin semua usaha sudah dipasrahkan kepada sesuatu itu, sedangkan orang yang selalu berpaling pada nasib akan mudah ragu-ragu dalam mengambil tindakan, sebab segala tindakan yang belum saatnya bernasib baik akanlah percuma dilakukan.

"Segala keadaan yang terbentuk dari berbagai faktor tidaklah abadi, oleh karena itu berjuanglah dengan sungguh-sungguh", kata Sang Buddha.

Perjuangan manusia yang percaya pada kemampuan diri sendiri sangatlah diperlukan untuk mengubah keadaan yang serba tidak abadi yang berada di hadapan manusia itu sendiri. Andaikata perjuangan manusia melemah tentu saja keadaan yang diperoleh menjadi menurun, sebaliknya apabila perjuangan manusia meningkat maka keadaan akan menjadi meningkat juga. Hal ini tidak dapat diputar-balikkan, karena sudah ada hukum tersendiri (hukum karma) yang berkuasa atas hal itu.

Kepercayaan manusia bahwa segala keadaan dapat berubah kalau manusia itu sendiri mau mengubahnya, atas usaha manusia sendiri pula adalah akar dasar dari tumbuhnya sikap mental kerja.

Sang Buddha menunjukkan adanya empat sikap mental kita yang perlu kita bangun untuk mewujudkan etos kerja Buddhis (Empat Iddhipada):

1. Canda (kepuasan dan kegembiraan di dalam mengerjakan hal-hal yang sedang dikerjakan).

Kepuasan dan kegembiraan di sini menunjukkan adanya keserasian antara keinginan, kemampuan ataupun kepribadian kita dengan pekerjaan yang sedang kita garap. Jadi justru pada saat kita menghadapai dan menyelesaikan pekerjaan itulah kepuasan dan kegembiraan kita nikmati. Hal ini sangatlah membantu sekali dalam membangun etos kerja Buddhis yang sehat sehingga sering kali manusia memilih atau bahkan diarahkan kepada pilihan pekerjaan tertentu yang dikatakan sesuai dengan bakatnya. Ada kalanya manusia mempunyai kekeliruan bahwa mereka hanya bekerja untuk memperoleh kepuasan/kegembiaraan pada hasil akhirnya saja sehingga mereka tidaklah menikmati kepuasan/kegembiraan selama mengerjakan pekerjaannya itu. Sehingga mudah sekali muncul kekecewaaan apabila mereka tidak memperoleh hasil yang diharap-harapkannya. Inilah sebenarnya merupakan dorongan hawa nafsu yang sangat besar yaitu penderitaan kekecewaan dan juga kepuasan yang tidak memuaskan. Oleh karena itu sebenarnya kepuasan itu hendaknya kita nikmati pada saat kita berkiprah dalam pekerjaan kita yang sekaligus kehidupan kita, adapun hasil pekerjaan kita adalah akibat langsung dan sepadan dari apa yang telah selesai kita kerjakan dengan penuh kepuasan itu. Akibat lain yang juga kita terima dari kepuasan selama kita bekerja adalah terpusatnya perhatian kita kepada pekerjaan yang sedang kita garap itu. Ini merupakan faktor pendukung keberhasilan pekerjaan kita.

2. Viriya (usaha yang bersemangat dalam mengerjakan sesuatu).

Kegigihan, keuletan, merupakan salah satu faktor pembentuk sikap kerja yang positif. Ia tidak mudah putus asa sehingga berhenti berusaha. Banyak orang yang berhenti berusaha setelah merasakan begitu lambat hasil yang ingin diraihnya sehingga muncullah kebosanan atau kejenuhan. Bahkan ada orang yang berhenti berusaha sebelum memulainya, tentu saja ini merupakan kesempatan yang baik bagi mereka yang tekun, teguh, gigih dalam usahanya untuk mendapatkan kemajuan atau keberhasilan. Sebenarnya kegigihan, keuletan berada setingkat lebih atas daripada bakat, ketrampilan, bahkan pendidikan, karena tidak jarang di antara mereka-mereka yang berbakat, trampil dan berpendidikan itu kandas di tengah-tengah usahanya.

Thomas A. Edison menghasilkan banyak penemuan termasuk lampu bohlam listrik, gramafon dll. Orang boleh iri terhadap kejeniusan Edison yang kreatif, tetapi apakah pernyataan Edison yang luar biasa terhadap proyeknya?

"Kejeniusan ialah satu persen inspirasi dan sembilan puluh sembilan persen adalah keringat; saya tidak pernah melakukan sesuatu yang berharga secara tidak sengaja. Demikian juga penemuan saya yang tidak terjadi karena suatu kebetulan. Penemuan itu terjadi karena saya kerjakan".

Usaha yang bersemangat ini bukan hanya usaha untuk meraih keberhasilan dalam pekerjaan, tetapi perlu juga kita perhatikan usaha yang bersemangat untuk melakukan apa saja yang sekiranya baik dan mendukung kemajuan pekerjaan kita. Bahkan perlu juga kita menyadari apakah ada hal-hal yang tidak mendukung kemajuan pekerjaan kita, tentu saja hal ini perlu usaha yang bersemangat untuk menyingkirkannya.

3. Citta (memperhatikan dengan sepenuh hati hal-hal yang sedang dikerjakan tanpa membiarkannya begitu saja).

Orang yang memperhatikan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh akan menyebabkan ia dapat menyelesaikan pekerjaannya itu dengan baik. Perhatian, kewaspadaan terhadap pekerjaan kita merupakan sikap yang menjauhkan kita dari kelalaian dan peluang keberhasilan yang lewat berlalu. Sering kali kelalaian dalam pekerjaan kita menyebabkan banyaknya kesalahan atau kegagalan dan pemborosan waktu yang sebenarnya berguna untuk kemajuan. Sedangkan peluang keberhasilan yang lewat tanpa kita ketahui merupakan keterlambatan kemajuan. Oleh karena itu dengan perhatian pulalah kita dapat mengetahui saat munculnya peluang emas keberhasilan. Dan juga perhatian serta kewaspadaan menjaga diri kita agar tidak mudah berpaling kepada hal-hal lain yang berada di luar pekerjaan kita yang dapat mengakibatkan perhatian terhadap pekerjaan semula berkurang sehingga semangat semula pun dapat menurun dan bahkan dapat berpindah-pindah pekerjaan sebelum suatu pekerjaan selesai.

4. Vimamsa (merenungkan dan menyelidiki hal-hal yang sedang dikerjakan).

Pekerjaan kita sebenarnya menyimpan banyak pendapat, gagasan, ide baru yang tak nampak mata tetapi akan tampak jelas apabila dilakukan perenungan atau penyelidikan seksama terhadapnya, inilah sebenarnya yang memberi peluang bagi timbulnya kreatifitas, gagasan dan ide-ide menarik yang kadang-kadang di luar angan-angan. Makin luas wawasan perenungan serta penyelidikan kita makin lebar ide dan gagasan yang dapat dijangkau dalam bentuk apapun. Jarang orang dapat menumbuhkan ide atau gagasan atau penemuan baru yang sebenarnya tidaklah aneh karena semua itu ada di sekeliling kita. Mereka yang mendapatkan penemuan baru betul-betul merupakan orang berjasa dalam mengembangkan pekerjaan atau karyanya itu. Kemajuan ilmu pengetahuan maupun teknologi merupakan hasil ide atau gagasan yang cemerlang dari mereka-mereka yang penuh perhatian disertai perenungan dan penyelidikan terhadap apa yang dikerjakannya. Sehingga manusia dengan pekerjaan atau karyanya akan berkembang maju bersama-sama.

Empat macam faktor tersebut di atas saling berkaitan satu sama lain dan merupakan faktor-faktor pembentuk sikap mental etos kerja Buddhis yang sebenarnya. Hanya saja semua faktor itu perlu ditumbuh-kembangkan dalam diri manusia lewat suatu proses perkembangan praktek secara terus menerus dan berkesinambungan.

Niscaya apabila keempat faktor itu dapat tumbuh dalam diri manusia pekerja atau pekarya, maka macam pekerjaan atau karya apapun yang dihadapi dan diselesaikan oleh manusia itu merupakan fragmen hidupnya yang sangat mengasyikkan.

Kiranya perlu juga kita perhatikan suatu kaitan nyata yang tak dapat dipisahkan dengan sikap mental pribadi etos kerja Buddhis itu adalah peranan penting dari hubungan antar manusia yang langsung terlibat dalam kerja tersebut. Terutama pekerjaan yang ditangani banyak orang tidaklah dapat dipungkiri begitu besar peranan hubungan timbal balik antara manusia, pekerjaannya dan atau antara atasan dan bawahan.

Menurut Sang Buddha, hubungan timbal balik tersebut perlu dijalin dengan keserasian dalam empat hal (Empat Sanghavatthu):

1. Dâna.

Memberi dan membagi barang-barang kepada orang lain yang pantas menerimanya.
2. Piyavâcâ.

Berbicara atau membicarakan sesuatu dengan menyenangkan.
3. Atthacariyâ.

Melakukan hal-hal yang berguna bagi orang lain (menolong).
4. Samânattatâ.

Memiliki ketenangan dan tidak sombong.

Empat hal inilah yang membuat suasana sehat dalam suatu lapangan pekerjaan apapun juga apabila dapat terwujud dengan nyata.

Kini kesempatan yang bagaimanakah yang dapat memberikan manfaat pada orang yang rajin?

Sang Buddha mengatakan dalam Anguttara Nikaya III, 65 seperti berikut ini:

Terdapat lima kesempatan tepat untuk berusaha keras. Apakah lima kesempatan tersebut?

Apabila sesorang masih muda, nampak muda, hitam rambutnya, mempunyai keindahan masa muda dan pada usia yang sebaik-baiknya. Inilah kesempatan tepat pertama untuk berusaha keras.

Kemudian jika seseorang memiliki kesehatan dan kekuatan, dengan pangan yang baik yang tidak terlalu panas maupun tidak terlalu dingin. Inilah kesempatan tepat kedua untuk berusaha keras.

Jika tak terjadi kelaparan dan hasil panen baik, makanan dengan mudah diperoleh dan seseorang dapat dengan mudah hidup, menabung dan murah hati. Inilah kesempatan tepat ketiga untuk berusaha keras.

Apabila manusia hidup saling bersahabat, harmoni seperti air dengan susu bercampur, jauh dari pertengkaran serta tidak memandang satu sama lain dengan tidak senang. Inilah kesempatan tepat keempat untuk berusaha keras.

Dan sekali lagi, apabila Sangha hidup dalam suasana persahabatan, puas dengan ajaran yang tunggal, kemudian mereka tidak saling mencerca, tidak saling menuduh, berselisih, berdebat, tetapi mereka dari sedîkit keyakinan mengharapkan keyakinan yang utuh dan keyakinan mereka tumbuh dengan menyakinkan. Inilah kesempatan tepat kelima untuk berusaha keras.***


Sumber:

BUDDHA CAKKHU No.19/XI/90; Yayasan Dhammadipa Arama.