Check out the Latest Articles:
Tampilkan postingan dengan label dhammachakka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dhammachakka. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 April 2011

arti kamma? - ajahn brahm

Jadi pada dasarnya kamma itu apa?

Kamma secara harafiah berarti ‘tindakan yang disertai kehendak’ dan ini merujuk kepada keyakinan
umat Buddha akan hukum Sebab dan Akibat. Kita percaya bahwa setiap tindakan yang disengajai dapat
memberi akibat baik dikehidupan saat ini maupun di kehidupan mendatang.

Hasil daripada kamma tidak seharusnya dipandang sebagai imbalan atau hukuman terhadap tindakan
yang dilakukan, tetapi merupakan akibat dari sesuatu tindakan yang disengajai. Tindakan yang positif
akan memberikan akibat yang positif, dan tindakan yang negative akan memberikan akibat yang negatif.
Dengan menggunakan akal pikiran yang sehat tentang hukum sebab dan akibat, ambillah contoh
seseorang yang merokok, minum dan makan yang berlebihan, tanpa olahraga yang teratur. Sebagai
akibat dari tindakannya, orang ini memiliki kemungkinan yang besar untuk menjadi lumpuh atau
mengidap penyakit jantung dan pada saatnya mengalami banyak penderitaan. Di sisi lain, orang yang
memperhatikan dietnya dan menjaga tubuhnya dengan baik biasanya dapat memiliki hidup yang sehat,
bahkan di usia tuanya.

Oleh sebab itu, orang yang telah melakukan banyak kebajikan dan kemudian mengumpulkan banyak
kamma positif akan menikmati hidup yang bahagia dan cenderung menuju alam manusia atau bahkan
alam Surga di kelahiran yang berikutnya. Sebaliknya, orang yang telah melakukan banyak tindakan jahat
dan mengumpulkan kamma negatif akan memiliki hidup yang dipenuhi dengan kesulitan, dan juga
dilahirkan kembali di alam kehidupan yang rendah.

Kamma dapat juga dipandang sebagai bibit. Anda memiliki pilihan atas bibit yang ingin anda tumbuhkan.
Oleh karenanya, tanamlah bibit yang baik sebanyak yang anda mampu!
Bagaimana seharusnya apabila kita telah melakukan banyak kejahatan? Dapatkah
kita meminta Buddha untuk mengampuni kita?

Buddha dianggap sebagai Guru kita dan bukan seseorang tempat kita berdoa dan meminta
pengampunan. Umat Buddha tidak percaya dengan perantara luar manapun yang darinya kita harus
meminta ampun, atau memujanya untuk suatu pembebasan.

Jika umat Buddha harus meminta ampun, maka hal itu seharusnya ditujukan kepada orang yang telah
kita lukai, dan bukan kepada pihak ketiga atau perantara luar. Apabila kita tidak mendapatkan ampun
dari orang yang kita lukai atau untuk mengoreksi diri, maka kita harus merelakan hal itu, belajar darinya
dan mengampuni diri kita sendiri, tentu saja dengan catatan bahwa kita tulus melakukannya.

Buddha mengajari bahwa setiap dari kita bertanggung jawab terhadap tindakan kita sendiri, dan setiap
dari kita mampu menentukan nasib kita sendiri. Kita sepantasnya mempertimbangkan dengan hati‐hati
sebelum melakukan kejahatan apapun, dan sebaliknya berusaha melakukan kebajikan setiap saat.
Jika anda tidak yakin apabila suatu perbuatan benar atau salah, anda dapat mengaplikasikan peraturan
yang sederhana ini seperti yang telah diajarkan Buddha : apabila tindakan tersebut merugikan baik diri
anda sendiri atau yang lainnya, atau kedua‐duanya; maka hindari tindakan tersebut. Apabila tidak, anda
dapat melanjuti tindakan yang baik itu!

Abraham Lincoln :
“Ketika saya berbuat baik, saya merasa senang.
Ketika saya berbuat jahat, saya merasa susah.
itulah agama saya.”


Peran penting dari Kamma :
Kamma adalah satu‐satunya milik kita, dan yang kita bawa serta dari satu
kehidupan ke kehidupan berikutnya.
Setiap tindakan yang disengajai dari jasmani, ucapan dan pikiran ibarat bibit
yang ditanam; yang dapat berbuah ketika kondisi‐kondisi mendukung. Apa yang
anda tanam, itu juga yang anda panen.
Jadi apa yang dapat kita perbuat untuk mengatasi kamma negatif dari tindakan
jahat yang telah kita lakukan?
Menurut hukum Sebab dan Akibat, kamma negatif tidak dapat dengan semudah itu dihapus dengan
kamma positif. Setiap tindakan yang disengajai akan memberikan akibat dalam waktu dekat atau di
masa mendatang.
Buddha memberikan perumpamaan garam di sungai dalam menasehati kita tentang bagaimana caranya
mengurangi pengaruh dari kamma negatif. Beliau berkata apabila satu sendok garam dapat membuat
satu cangkir air terasa asinnya namun satu sendok yang sama ini hampir tidak memberikan pengaruh
terhadap rasa air di suatu sungai.
Secara sederhana, kurangi kamma negatif yang anda miliki dengan mengumpulkan banyak kamma
positif.

Dan kamma positif dikumpulkan dengan pelaksanaan Dana, Sila dan Bhavana.
Buddha :

“Jangan meremehkan kebajikan dengan berkata ia tidak berpengaruh bagi diriku.
Bagaikan tetesan air yang memenuhi tempayan air.
Begitu pula dengan orang bijak yang mengumpulkan sedikit demi sedikit,
dia memenuhi dirinya dengan kebajikan.”

Selasa, 19 April 2011

Apa makna dari Sila? - ajahn brahm

Apa makna dari Sila?

Ia bermakna ‘Moralitas’ dan Buddha menasehati kita untuk mengamalkan Lima Unsur dalam
pelaksanaan Sila :
1. Menghindari pembunuhan makhluk hidup manapun.
2. Menghindari pengambilan sesuatu yang tidak diberikan.
3. Menghindari tindakan perzinahan.
4. Menghindari bohong dan ucapan salah.
5. Menghindari konsumsi minuman memabukkan/obat terlarang.


Sila‐sila ini bukanlah perintah tetapi peraturan yang diamalkan oleh umat Buddha sebagai bagian daripelatihan diri. Sila‐sila diamalkan bukan karena rasa takut akan hukuman tetapi karena kita menyadari
bahwa tindakan tersebut merugikan yang lainnya beserta diri kita sendiri.
Misalnya, sebagaimana diri kita sendiri tidak ingin dibunuh atau dilukai, kita menyadari bahwa semua
makhluk yang lain juga tidak ingin dibunuh atau dilukai. Sama halnya dengan diri kita yang tidak ingin
menjadi korban dari pencurian, perzinahan, bohong dan fitnah, kita harus menghindari diri dari tindakan
tersebut terhadap orang lain.
Buddha juga dengan tegas menganjurkan untuk menghindari sesuatu yang memabukkan dan obat‐obat
terlarang. Sebab apabila anda berada di bawah pengaruh alkohol dan obat‐obat terlarang, anda mampu
melakukan tindakan yang mungkin tidak akan anda lakukan sebelumnya.
Apabila anda melanggar Sila, cara Buddhis adalah dengan sepenuhnya menyadari bahwa anda telah
melakukannya, berusaha sebaik mungkin untuk mengoreksi diri, dan kemudian berketetapan hati untuk
berusaha lebih keras lagi kedepannya.

Moralitas adalah fondasi penyanggah bagi segala hal. Oleh sebab itu cukup baik untuk menghafal lima
Sila supaya anda dapat memperhatikannya setiap saat.

Dan ketika pengamalan lima Sila telah dengan sendirinya menjadi bagian dari sikap anda,
pengembangan aspek‐aspek positifnya akan menjadi mudah dan alami, yakni :
1. Pengamalan Cinta‐kasih dan Belas kasih.
2. Pengamalan Kebaikan dan Kemurahan hati.
3. Pengamalan Kesetiaan dan Tanggung‐jawab.

4. Pengamalan Kejujuran dan Ucapan yang menyenangkan.
5. Pengamalan Pengendalian diri dan Kewaspadaan.

Apa yang kita maksudkan dengan NIBBANA? - ajahn brahm

Lalu Nibbana itu apa?

Tanpa mempelajari ajaran Buddha terlebih dahulu dan berlatih di jalan yang telah ditetapkan oleh
Buddha, Nibbana merupakan konsep yang sulit untuk digenggam atau dipahami. Hal itu serupa dengan
usaha dalam menjelaskan warna bagi orang buta dan bunyi bagi orang tuli. Bahasa yang biasa tidak
cukup untuk menjelaskan Nibbana. Nibbana harus dialami dan dipahami.

Bagaimanapun, secara ringkas, Nibbana adalah akhir dari segala nafsu dan penderitaan. Ia dicapai oleh
seseorang yang telah menghapus segala aspek dari ketamakan, kebencian dan kebodohan. Ia adalah
keadaan kebahagiaan dan kesenangan yang abadi yang tidak lagi dilahirkan kembali.

Buddha telah mengajari kita bagaimana mengurangi, dan pada akhirnya mengakhiri ketamakan,
kebencian dan kebodohan dalam segala aspeknya. Dan ini dapat dilakukan dengan berlatih faktor yang
baik dari kemurahan hati dan kebaikan, kesabaran dan belas kasih, moralitas dan kebijaksanaan.

Dengan latihan yang baik akan ajaran Buddha, dimungkinkan bagi siapapun dari kita untuk mengalami
kedamaian dan kebahagiaan dari Nibbana, bahkan di kehidupan sekarang. Selidiki, periksa dan cobalah
ajaran Buddha untuk diri anda sendiri!

Tidak perlu menunggu sampai kematian,
alami Surga ketika anda masih hidup.
Surga di sini dan saat ini,
itulah rasa dari Nibbana di kehidupan ini.

Apa yang kita maksudkan dengan SURGA? - ajahn brahm

SURGA
Apa yang kita maksudkan dengan SURGA?
Surga dapat dikatakan sebagai tempat dimana kita dapat dilahirkan setelah kita meninggal nanti. Ia
dapat juga berupa keadaan pikiran.
Misalnya, seseorang yang pemarah bisa saja secara terus‐menerus dalam suasana hati yang buruk dan
dengan mudah mengamuk. Orang demikian akan menyebabkan orang‐orang disekelilingnya, termasuk
dirinya sendiri, menderita dan sedih setiap saat. Di sisi lain, ambillah contoh, seseorang yang berwatak
tenang, dengan pikiran yang hening dan selalu damai dengan dirinya sendiri dan orang lain.
Dikarenakan oleh keadaan pikirannya, hidup orang yang pemarah akan kelihatan seperti neraka bagi
dirinya dan orang‐orang disekelilingnya. Tidak perlu dikatakan lagi, orang yang berwatak tenang, dan
orang‐orang disekelilingnya akan menikmati kehidupan yang bahagia, layaknya Surga.
Ajaran Buddha mengijinkan kita menikmati Surga di bumi dengan menunjukkan kepada kita bagaimana
mencapai keadaan pikiran yang bahagia.
Terlepas dari keadaan pikiran, umat Buddha mempercayai adanya beberapa alam kehidupan di semesta,
dan ini dapat berupa tempat‐tempat yang menyedihkan atau tempat‐tempat yang menyenangkan.
Secara tradisi, alam‐alam yang menyedihkan, (atau alam rendah), termasuk alam neraka di dalamnya;
dan alam‐alam yang menyenangkan (atau lebih tinggi) adalah alam manusia dan alam‐alam Surga.
Di alam mana kita akan dilahirkan tergantung kepada kamma yang kita telah kita kumpulkan untuk diri
kita sendiri di kehidupan ini, beserta kamma yang kita kumpulkan di berbagai kehidupan lampau.
Kamma ini adalah hasil dari tindakan dan sikap kita sehari‐hari.
Oleh karenanya, tingkat populasi penduduk di dunia tidak dapat tentukan dengan pasti atau distatiskan
dengan pembatasan suatu alam saja, berhubung proses kelahiran kembali tidak hanya terbatas kepada
alam manusia. Terdapat banyak alam‐alam kehidupan lainnya di semesta terlepas dari alam manusia
dimana kita dapat dilahirkan, atau dimana proses kelahiran kembali dapat berlangsung.
Apabila kita terlahir di alam rendah, akankah kita berada di sana sepanjang masa?
Umat Buddha percaya bahwa lamanya waktu yang dihabiskan di alam rendah bergantungan pada
jumlah kamma buruk yang telah dikumpulkan.
Tidak ada hal yang namanya penderitaan abadi untuk siapapun juga, tidak peduli seberapa banyak
kejahatan yang dilakukan.
Walaupun mungkin memerlukan waktu yang sangat lama, penderitaan akan berakhir ketika kamma
buruk telah habis.
Oleh sebab itu, ajaran Buddha tidak mengenal konsep yang tidak adil akan hukuman yang tidak terbatas
untuk suatu perbuatan jahat tertentu.

Ajaran Buddha juga tidak mengancam pengikut dari ajaran lain dengan bentuk hukuman apapun.
Siapapun saja memiliki kebebasan untuk memilih keyakinan dan jalan yang berbeda untuk diri mereka
sendiri.
Apakah kita berada di alam Surga selamanya? Apakah Surga merupakan tujuan
tertinggi?

Makhluk – makhluk yang telah melakukan banyak kebajikan dan mengumpulkan banyak kamma baik
akan terlahir di alam Surga. Jika seseorang belum mampu mencapai Nibbana, Buddha mendorong setiap
dari kita untuk menjalani kehidupan yang lurus dan bajik untuk dapat terlahir di alam‐alam yang lebih
tinggi, dan yang lebih penting untuk melindungi diri kita dari kelahiran kembali di alam rendah.
Sementara kehidupan di alam Surga dapat berlangsung dalam waktu yang sangat lama, namun tetap
saja ia tidak kekal. Makhluk‐makhluk di alam tersebut juga pada akhirnya akan meninggal dan dilahirkan
kembali ketika kamma baik telah habis.

Dengan demikian, umat Buddha tidak menganggap kelahiran kembali di alam Surga sebagai tujuan
tertinggi. Untuk kebanyakan umat Buddha tujuan tertinggi adalah mencapai Nibbana.

Dikatakan bahwa Nanda, saudara kandung Buddha, tidak puas dan memberitahukan Buddha jika dia
ingin melepaskan kehidupan suci. Buddha kemudian membawanya ke salah satu alam Surga dan
menunjukkan kepadanya segala kesenangan di sana. Buddha memberinya janji bahwa dia dapat
menikmati semua kesenangan itu apabila dia berlatih Dhamma dengan baik. Hal ini menginspirasikan
Nanda dan dia berlatih sangat keras untuk dapat terlahir di alam Surga itu.
Sementara berlatih, Nanda secara bertahap menyadari Nibbana jauh lebih berbahagia dari makhluk di
alam Surga, dia kemudian membebaskan Buddha dari janji semulanya.

Senin, 18 April 2011

MENGATASI KETAKUTAN : Bhikkhu Thitaviriyo

MENGATASI KETAKUTAN

Malam terasa panjang bagi orang yang berjaga. Satu yojana terasa jauh
bagi orang yang lelah. Sungguh panjang siklus kehidupan bagi
orang bodoh yang tak mengenal ajaran benar.
(Dhammapada, 60)

Rasa cemas, khawatir, dan takut sepertinya sudah menjadi bagian dalam kehidupan kita. Setiap orang pasti pernah mengalaminya. Ketika kita masih kecil, bentuk-bentuk pikiran negatif ini sudah kita alami. Setelah remaja, dewasa, sampai usia lanjut pun, kita masih mengalaminya. Sebagian orang yang hidupnya kekurangan, merasa cemas memikirkan kebutuhan hidupnya, sedangkan orang lain cemas memikirkan persaingan dagang untuk mempertahankan kekayaannya.

Kita tidak bisa terhindar sepenuhnya dari kecemasan dan ketakutan, karena kita masih sebagai orang awam (belum terbebas dari belenggu kotoran batin). Kecemasan dan ketakutan pada tingkat tertentu adalah wajar karena dapat membuat kita lebih berhati-hati dan waspada dalam bertindak. Namun kekhawatiran, kecemasan, dan ketakutan yang berlebihan dapat menyebabkan masalah bagi kita,  seperti mudah terkena penyakit, sulit tidur, dan sebagainya.

Sebab ketakutan
Kecemasan, kekhawatiran, maupun ketakutan sesungguhnya bersumber dari diri sendiri. Dalam Aṅguttara Nikāya, ii. 173, ada empat sebab, mengapa kita sering cemas, khawatir, maupun takut.

Pertama, kemelekatan terhadap nafsu kesenangan indera. Kesenangan indera adalah kebahagiaan bermata kail karena di balik kesenangan-kesenangan tersebut menyimpan derita (cemas, khawatir, dan takut). Memang, setiap orang adalah wajar mendambakan kesenangan-kesenangan duniawi, seperti memiliki rumah bagus, pakaian indah, alat transportasi yang memadai, serta memiliki suami, istri, dan anak-anak. Banyak orang merasa takut pada saat menjelang kematian karena tidak bisa melepaskan kesenangan-kesenangan inderanya. Kemelekatan terhadap kesenangan indera itulah yang menyebabkan munculnya kecemasan maupun ketakutan.

Kedua, kemelekatan terhadap tubuh. Tubuh yang baik dan sehat adalah dambaan setiap orang. Tetapi tubuh kita pun akan berproses sesuai dengan sifatnya, yaitu akan berubah. Kalau kita tidak menyadari perubahan yang akan terjadi pada tubuh, melekat pada keindahan tubuh ini, maka kecemasan dan ketakutan akan muncul.

Ketiga, merasa belum melakukan perbuatan bajik dan bermanfaat. Hidup kita adalah ibarat sebuah perjalanan yang panjang dan jauh. Jika telah mempersiapkan bekal untuk melakukan perjalanan tersebut, kita tidak akan khawatir kekurangan sesuatu di tengah jalan. Demikian pula dengan hidup, kita perlu memiliki bekal kebajikan yang cukup agar bisa hidup dengan baik. Namun, jika kita tidak memiliki bekal kebajikan yang cukup, inilah yang membuat kita takut tentang kehidupan kita selanjutnya.

Keempat, masih memiliki keraguan dan kebingungan tentang Dhamma. Kehidupan kita tidak bisa terlepas dari tradisi. Tradisi di setiap daerah berbeda-beda. Orang yang keyakinannya lemah, meskipun sering belajar Dhamma, dia akan merasa cemas maupun takut, tatkala harus berhadapan dengan tradisi yang ada di daerahnya. Kemelekatan pada tradisi tanpa penyelidikan inilah yang menyebabkan seseorang merasa cemas maupun takut terhadap kehidupannya.

Cara mengatasi ketakutan
Kecemasan maupun ketakutan adalah penyakit mental yang bersumber dari pikiran. Dalam Aṅguttara Nikāya, iii, 71, ada lima perenungan yang hendaknya kita lakukan untuk mengurangi kecemasan maupun ketakutan.

Pertama, perenungan terhadap usia tua. Saya wajar mengalami usia tua, saya tidak akan mampu menghindari usia tua. Ketika masih muda, rambut kita masih hitam, kulit masih kencang, tenaga masih kuat, dan indera-indera masih normal. Namun ketika usia tua datang, rambut berubah menjadi putih, kulit menjadi keriput, dan indera-indera sudah tidak normal lagi. Perenungan ini akan membuat pikiran kita yang semula cemas karena perubahan yang terjadi pada jasmani menjadi tenang dan tidak sombong dengan masa muda.
Kedua, perenungan terhadap penyakit. Saya wajar menyandang penyakit, saya tidak akan mampu menghindari penyakit. Sakit merupakan rentetan dari sebuah kehidupan yang akan kita alami. Buddha pun masih mengalami sakit jasmani, apalagi kita yang masih awam. Ketika sakit fisik, sering kali kita masih menambah dengan sakit mental, yaitu cemas, khawatir, dan takut terhadap penyakit kita. Namun, dengan perenungan ini, kita tidak akan menambah sakit fisik dengan sakit mental.

Ketiga, perenungan terhadap kematian. Saya wajar mengalami kematian, saya tidak akan mampu menghindari kematian. Setiap kelahiran pasti akan diakhiri dengan kematian. Pada saat ini, banyak orang merasa cemas maupun takut, ketika hendak bepergian. Takut kalau transportasi yang ditumpangi nanti mengalami kecelakaan dan menjadi salah satu korban yang meninggal. Sesungguhnya kematian ini tidak hanya terjadi ketika kita sedang bepergian. Kita duduk atau tidur di rumah pun bisa meninggal, kalau saatnya tiba. Mengapa kita harus cemas dan takut sehingga kita tidak bisa menikmati perjalanan kita? Tidak di angkasa atau laut, juga tidak di dalam gua atau di atas gunung; tidak ada tempat di dunia ini yang dapat dipakai sebagai tempat bersembunyi, di mana seseorang dapat terbebas dari kematian. (Dhammapada, 128). Perenungan tentang kematian ini, selain mengurangi rasa cemas dan takut, juga akan membuat kita lebih menghargai kehidupan kita ini.

Keempat, perenungan tentang perubahan. Segala milikku yang kucintai dan kusenangi, wajar berubah, wajar terpisah dariku. Kita memerlukan sarana-sarana penunjang hidup lain, selain empat kebutuhan pokok (pakaian, makanan, tempat tinggal, dan obat-obatan) agar kita tetap dapat bertahan hidup. Kita juga memiliki orangtua, suami, istri, anak, kerabat, serta teman-teman. Kita harus sadar bahwa apa yang kita miliki suatu saat akan berubah dan berpisah dengan kita. Kecemasan, kekhawatiran maupun ketakutan pada perubahan atau perpisahan sering dialami oleh setiap orang. Perenungan ini mengajarkan kita agar tidak terikat pada apapun yang kita miliki, tetapi bukan berarti kita harus bersikap acuh tak acuh pada semua itu. Kita harus merawat barang-barang yang kita miliki, melakukan kewajiban kita dengan baik. Tetapi ketika perubahan itu terjadi, kita harus menerima dengan pikiran yang tenang.

Kelima, perenungan tentang hukum kamma (perbuatan). Hukum kamma adalah hukum perbuatan yang berlaku universal, kepada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Sesuai dengan benih yang ditabur, begitulah buah yang akan dipetik. Pelaku kebajikan akan memetik kebahagiaan, pelaku kejahatan akan memetik penderitaan (Saṁyutta Nikāya, III.415). Sebagian besar orang mengalami ketakutan dan kecemasan karena tidak memahami hukum kamma dengan benar. Kita tidak bisa menghindari akibat perbuatan buruk kita sendiri. Namun, akibat perbuatan buruk itu bisa kita minimalkan akibatnya, yaitu dengan melakukan perbuatan baik yang banyak. Dengan demikian, meskipun kita diramal tidak baik, kita tidak akan menjadi takut ataupun cemas. Namun, kita harus menyadari bahwa perbuatan kita saat ini juga ikut menentukan akibat yang akan kita terima. Oleh karena itu, kita juga harus berhati-hati dalam berbuat.

Kesenangan adalah awal munculnya kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan. Setelah seseorang mendapatkan kesenangan, kemudian muncul keinginan untuk mempertahankan kesenangannya sehingga muncul kemelekatan. Semakin banyak kesenangan yang kita miliki, kecemasan, dan ketakutan juga semakin besar. Semakin kita melekat pada kesenangan-kesenangan tersebut, kecemasan maupun ketakutan akan sering muncul. Namun, apabila kita mengimbangi kesenangan tersebut dengan pengertian Dhamma yang benar, dengan bijaksana memandang segala sesuatu sebagaimana adanya, maka kecemasan maupun ketakutan akan dapat kita kurangi.

Oleh: Bhikkhu Thitaviriyo (09 Mei 2010)

Manfaat Melatih Kesabaran : Y.M. Bhikkhu Gunasilo

Manfaat Melatih Kesabaran


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Manfaat Melatih Kesabaran

Khantῑ paramaṁ tapo tῑtikkhā
Melatih kesabaran adalah cara bertapa yang tertinggi
(Ovādapāṭimokkhadipāṭhā)


Latihan untuk membina diri kita sesungguhnya adalah latihan dalam keseharian. Membina diri bukan sesuatu yang dimengerti bahwa; harus dilatih di tempat ibadah atau pada saat tertentu. Justru dalam keseharian, kita dapat meningkatkan pembinaan terhadap diri kita masing-masing. Salah satu pesan yang sangat penting yang pernah diungkapkan di hadapan 1250 orang bhikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian, adalah kesabaran. Sesungguhnya kesabaran adalah latihan untuk membina diri yang paling tinggi. Kalau kita berhadapan atau mengalami keadaan yang menyenangkan di sekitar kita, seperti melihat orang lain berbuat baik, berkata ramah, tidak membenci, saling menyayangi, maka kita dapat bersikap sabar.

Tetapi menurut ajaran Sang Buddha, menghadapi keadaan yang menyenangkan bukan sikap sabar, justru kesabaran adalah sikap yang tenang dengan dilandasi sikap yang benar. Pada saat menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan, seperti melihat orang lain yang berbuat jahat kepada kita, mencela, menghina, memfitnah, atau melakukan perbuatan buruk apa saja kepada kita, sesungguhnya itu merupakan sikap yang baik dalam melatih kesabaran, untuk melatih kesabaran kalau menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan. Kalau ada masalah timbul, biasanya muncul kemarahan, dendam, kebencian, saat itulah betapa rapuhnya batin kita menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan, menghadapi orang yang menyulitkan kita. Kalau timbul emosi sikap yang didorong oleh kemarahan, sesungguhnya sikap seperti itu sangat merugikan kita sendiri. Tampak dengan jelas tidak ada ketahanan mental dalam diri kita untuk menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan.

Ada dua macam kesabaran:
 
1.    Yang pertama, kesabaran yang paling rendah
Bersabar dengan hal yang sederhana, dengan kondisi yang kecil, seperti: menghadapi udara yang panas, makanan yang tidak sesuai, menunggu agak lama, bersabar bila fisik sedang sakit dan bersabar ketika sedang mengemudikan mobil di jalan. Dalam menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan itu, akan memungkinkan kita untuk melatih kesabaran yang lebih tinggi.
 
2.    Yang kedua, kesabaran yang lebih tinggi
Apakah kesabaran yang lebih tinggi itu? Yaitu bersabar terhadap masalah yang lebih besar. Dalam Dhammapada (1:4) Sang Buddha bersabda:
”Mereka yang tidak memendam di dalam dirinya (dan tidak berpikir): ’Ia telah menyiksa diriku, ia telah memukuli tubuhku, ia telah mengalahkan aku dan merampas barang-barangku’, maka kebencian akan lenyap dari batinnya.” Inilah kesabaran yang paling tinggi. Jadi ketika kita disiksa, dipukul, dihina, dicela, dimarahi, namun kita tetap sabar dan tidak membalasnya. Mengapa demikian? Karena kita tahu bahwa; kemarahan dan kebencian apabila muncul dalam batin kita tentu akan merugikan diri kita sendiri dan orang lain.
Kesabaran yang lebih tinggi ini amat sulit. Justru itulah merupakan latihan kesabaran yang tertinggi. Merupakan guru kesabaran kita, kalau ada orang yang mengganggu kita, menghancurkan dan menjelekkan kita. Kalau kita menghadapi dengan emosi yang meluap, sikap itu tidak menyelesaikan masalah, tetapi akan membuat masalah. Kebencian, dendam, dan sakit hati bukan menunjukkan keperkasaan, tetapi sebaliknya, menunjukkan kelemahan mental.

Bagi orang yang melatih kesabaran akan memperoleh lima (5) manfaat:
1.    Ia akan disenangi oleh orang lain;
2.    Ia akan terhindar dari bahaya;
3.    Ia akan terhindar dari kesalahan;
4.    Pada saat ia mau meninggal dunia, ia memiliki pikiran yang tenang;
5.    Setelah meninggal dunia ia akan terlahir di alam bahagia.


Sekarang bagaimana melatih kesabaran itu? Ada dua macam cara melatih kesabaran, yaitu:

1.    Yang pertama, menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta itu tidak kekal, tidak abadi, berubah setiap saat. Kesulitan apapun yang kita hadapi tidaklah kekal dan tidak selamanya akan mencengkeram kita. Masalah yang menyulitkan kita datang sebentar kemudian akan berlalu. Menyadari perubahan terhadap sesuatu masalah membuat kita bertahan. Jadi, tidak ada alasan untuk patah semangat.
 
2.    Yang kedua adalah: kesulitan yang kita alami janganlah kita hadapi dengan berpikir biasa. Apakah berpikir biasa itu? Kita selalu berpikir: ia telah menyiksa diriku, ia telah memukuli tubuhku, ia telah mengalahkan aku dan telah merampas barang-barangku, ia telah benci kepadaku dan ia tidak simpatik kepadaku. Inilah berpikir biasa. Timbul ingin membalas kepada mereka, sehingga hidup tidak tenteram. Berpikirlah secara Dhamma, bahwa kesulitan yang terjadi adalah akibat dari perbuatan kita sendiri. Kesulitan dan segala macam kesalahan bukan dibuat oleh para dewa atau makhluk lain, tetapi oleh akibat dari perbuatan diri sendiri. Kalau tidak dari kita, tidak mungkin masalah menimpa kita. Kalau kita berpikir seperti itu, tidak ada tempat untuk membalas dendam. Justru melihat orang lain berperilaku buruk kepada kita, malah kasihan, karena akan menghasilkan penderitaan.

Dengan dua landasan pengertian inilah kita membangun kesabaran kita, memperkuat daya tahan mental kita dalam menghadapi kesulitan yang mengganggu kita. Dengan cara inilah kita melatih kesabaran. Kita berusaha tenang, batin tidak tergoyahkan meskipun masalah yang datang silih berganti. Kita harus pandai menggunakan kesempatan dalam keseharian, meningkatkan kesabaran kita. Kesabaran sangat dibutuhkan dimanapun kita tinggal. Seseorang yang tidak cukup memiliki ketahanan mental, ia akan mudah terpengaruh melakukan perbuatan buruk. Menurut mereka hal itu akan menghasilkan materi. Namun orang yang memiliki ketahanan mental, tidak akan tertarik dengan perilaku buruk, ia bisa bertahan, ia dapat mengalihkan dirinya dari perbuatan buruk. Karena punya ketahanan mental, tidak tergiur dengan perbuatan buruk walaupun dapat keuntungan besar. Oleh karena itulah kesabaran merupakan kunci keberhasilan melakukan perbuatan baik. Kejahatan akan merugikan makhluk lain dan juga si pembuatnya sendiri. Demikian juga perbuatan baik akan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Memang perbuatan yang tidak terpuji, mudah sekali menggiurkan kita, menarik banyak orang karena memberikan manfaat yang tiba-tiba, tidak perlu sabar. Kemudian orang banyak melakukan perbuatan buruk. 

Marilah kita melatih kesabaran. Dengan melatih kesabaran kita akan selalu memilih perbuatan yang baik. Dengan melatih kesabaran sekuat tenaga, kita menghindari perbuatan buruk dan perbuatan yang tidak sehat. Dengan keuletan dan sekuat tenaga, kita melakukan perbuatan baik dan berguna bagi masyarakat, keluarga, dan diri sendiri.

Memang perbuatan buruk akan memberikan kenikmatan yang spontan, tetapi kalau perbuatan itu sudah masak, akan berakibat buruk pada kita. Namun sebaliknya, perbuatan baik kalau dilakukan akan berguna bagi orang lain dan diri sendiri.

Marilah kita menggunakan kesempatan untuk meningkatkan kualitas batin kita, meningkatkan kesabaran dan daya tahan mental. Marilah kita mengisi dengan hal-hal yang berguna dengan selalu berbuat baik dan meninggalkan perbuatan buruk serta bersihkan kekotoran batin yang ada pada batin kita. Dengan demikian, kita akan menemukan kebahagiaan dalam kondisi apapun yang datang menyongsong kita dengan ketahanan mental. Hiduplah dengan penuh kesabaran, sehingga hidup kita akan selalu aman, damai, dan bahagia.

Oleh: Y.M. Bhikkhu Gunasilo (04 April 2010)

Dua Kebahagiaan Dari Mendapat dan Memberi : Bhikkhu Sudassano

Dua Kebahagiaan Dari Mendapat dan Memberi



Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Anavassuta cittassa, ananvāhatacetaso,
puñña pāpapahnassa, natthi jāgarato bhayaṁ

Seseorang yang pikirannya tidak ternoda oleh nafsu, terbebas dari kebencian,
dapat mengatasi baik dan buruk, maka tidak ada lagi perasaan takut.
(Dhammapada III:7)


Dalam hidup ini, tentunya kita menginginkan hidup yang bahagia damai dan tentram. Tetapi apakah kenyataannya kita sudah benar-benar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya? Tentunya kita sulit untuk menjawabnya. Karena kenyataannya, apa yang dilakukan, belum tentu mendapatkan atau membuahkan kebahagiaan yang berarti. Terkadang kita sudah merasa mendapatkan sesuatu yang diinginkan atau yang didambakan. Kenyataannya apa yang diinginkan itu tidak membawa ke arah kebahagiaan yang sesungguhnya, malahan sebaliknya, apa yang dilakukan itu membawa penderitaan, bukan kebahagiaan. Sungguh membingungkan, apa yang dicita-citakan malahan membawa seseorang ke penderitaan. Memang awalnya bahagia, tetapi akhirnya kebahagiaan itu berakhir dengan penderitaan.

Memang, kalau membicarakan kebahagiaan, semua orang sangat senang. Karena, siapa yang mau hidupnya selalu menderita? Rasanya tidak ada yang mau, kalau hidupnya menderita. Masalahnya, apakah cara untuk membuat kebahagiaan itu sudah benar-benar sesuai dengan kebenaran itu sendiri? Lalu apakah kebahagiaan yang kita kejar itu benar-benar sudah sesuai dengan ajaran Buddha?
Ada dua jenis kebahagiaan:

1. Kebahagiaan mendapat

Kebahagiaan mendapat inilah yang selalu dinginkan, dirindukan, dan didambakan oleh banyak orang, yaitu mendapatkan kesuksesan, usaha maju, kekayaan, ketampanan, dan sebagainya. Hal tersebut adalah bentuk-bentuk pada umumnya yang selalu dinanti-nanti oleh kebanyakan orang. Siapa yang tidak mau mendapatkan hal tersebut di atas? Rasanya semua mau, karena hal tersebut akan membawa kemajuan dan kesuksesan demi tercapainya hidup yang bahagia, tanpa kekurangan.
Kebahagiaan mendapat, tidaklah jaminan untuk membebaskan diri kita dari derita. Karena kebahagiaan mendapat itu, jikalau kita tidak hati-hati, maka apa yang didapat itupun berubah menjadi belenggu. Ketika kita berpisah dan tidak mendapat apa yang dicita-citakan, maka kita akan menderita, kecewa serta bersedih. Makanya, ketika seseorang mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, di sana sudah tertanam penderitaan. Memang sepintas menyenangkan, tetapi sesungguhnya apa yang didapat, tidaklah permanen, dan seseorang cenderung untuk melekatinya. Ketika kebahagiaan itu hilang, timbullah penderitaan, kekecewaan dan penyesalan.

Pada dasarnya seseorang yang cenderung mengikuti kesenangan indria, pada akhirnya berakhir dengan penderitaan dan terus datang silih berganti. Senang hilang, penderitaan datang, penderitaan hilang, bahagia datang. Begitulah hidup. Jadi pada umumnya apa yang didapatkan, semua itu termotivasi untuk kesenangan saja, bukan berpikiran bahwa, apa yang dicarinya itu demi kebutuhan, bukan hanya kesenangan semata. Mendapatkan apa yang dicita-citakan memang hal yang wajar. Tetapi, di sana setelah mendapatkan kita harus ekstra hati-hati agar kita tidak digerogoti oleh kesenangan itu sendiri, yang nantinya akan berubah menjadi penderitaan. Jadi kita juga harus memperhatikan kebahagiaan yang kedua, yaitu bahagia karena memberi.

Sang Buddha mengatakan, “Magandiya, pada masa lalu, kesenangan indriawi menyakitkan jika disentuh, panas, serta menghanguskan; pada masa mendatang pun kesenangan-kesenangan indriawi akan menyakitkan jika disentuh, panas, serta menghanguskan; dan sekarang, pada saat ini, kesenangan indriawi menyakitkan jika disentuh, panas, serta menghanguskan. Namun orang-orang yang belum terbebas dari nafsu akan kesenangan indriawi, yang digerogoti nafsu keinginan akan kesenangan indriawi, yang terbakar dengan demam kesenangan indriawi, kemampuannya tengah terganggu; karenanya, walaupun kesenangan indriawi sesungguhnya menyakitkan jika disentuh, mereka mendapatkan pencerapan yang salah bahwa kesenangan indriawi itu menyenangkan.” (Majjhima Nikāya, Magandiya Sutta I 504-8)


2. Kebahagiaan memberi

Kebahagiaan memberi inilah yang justru harus kita buat, agar kita mendapatkan berkah dari memberi tersebut. Dalam hal ini adalah bukan memberi yang didasari untuk mendapatkan, tetapi memberi yang didasari oleh niat yang ingin melepas dengan tulus ikhlas atas apa yang dimiliki untuk makhluk lain yang membutuhkan. Tetapi kebanyakan orang menganggap memberi adalah untuk mendapatkan. Atau bahkan ada yang merasa, dengan memberi berarti kehilangan. Sulit memang untuk dilakukan, tetapi kita harus melatih untuk memberi atas dasar pelepasan bukan untuk mendapatkan. Kalau memberi atas dasar mendapatkan, di sana masih ada kekikiran dan keserakahan, dan jika kehilangan apa yang dimiliki, maka orang tersebut akan menderita.

Jadi, memberi atas dasar untuk melepaskan inilah yang sesungguhnya akan membuat hidup kita tambah bahagia, karena di samping kita mendapat, kita juga latihan untuk melepas apa yang kita miliki untuk makhluk lain yang membutuhkan.
Sang Buddha mengatakan, ”Seandainya para makhluk tahu, seperti apa yang Aku tahu, buah dari perbuatan memberi serta berbagi, mereka tidak akan makan sebelum memberi; mereka tidak akan membiarkan noda-noda kekikiran menguasai mereka dan mengakar di dalam pikiran. Bahkan seandainya makanan itu adalah makanan terakhir, suapan terakhir, mereka tidak akan menikmatinya tanpa membaginya seandainya ada orang yang diajak berbagi” (Itivuttaka 26)

Jadi, sebenarnya bukan hanya kebahagiaan mendapat saja yang kita buat. Kalau hanya ini saja, berarti kebahagiaan ini akan membuahkan penderitaan di kemudian. Maka dari itu, kebahagiaan melepas juga amat penting, agar hidup kita terasa seimbang, di samping kita juga bahagia karena mendapat. Kita juga bisa latihan memberi yang didasari untuk melepas apa yang kita miliki diberikan kepada makhluk lain yang benar-benar membutuhkan. Maka dari itu, hidup kita akan benar-benar bahagia karena mendapat dan bahagia karena memberi.

”Jasa timbul dari orang yang memberi; tidak ada rasa permusuhan yang terbentuk bagi seseorang yang terkendali; seseorang yang cakap meninggalkan perbuatan jahat; dengan berakhirnya keserakahan, kebencian dan ketidaktahuan, seseorang mencapai pembebasan, Nibbāna akhir.” (Itivuttaka 8.5)

(10 Januari 2010)

Air Paritta : Bhikkhu Khemaviro

Air Paritta


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Manopubbaṅgamā dhammā, manoseṭṭhā mano mayā
Manasā ce pasannena, bhāsati vā karoti vā
Tato naṁ sukkhamanveti, chāyā va anapāyinî

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin,
pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni,
maka kebahagiaan akan mengikutinya bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.
(Dhammapada I:2)

      Air Paritta adalah air yang mendapatkan penguncaran paritta-paritta suci. Jadi, air yang ditempatkan di altar pada waktu puja bakti, umat menguncarkan paritta-paritta suci – berarti air yang ada di altar tersebut menjadi air paritta.

       Air kemasan dalam botol atau air yang ditempatkan di sebuah wadah (mangkok atau patta), kemudian bhikkhu atau samanera menguncarkan paritta-paritta suci, juga menjadi air paritta disebut air paritta.
      Yang menjadi pertanyaan di sini adalah, ‘apakah ada perbedaan antara air biasa dengan air paritta?’ Secara kasat mata, yang nampak adalah air paritta dan air biasa – tidak ada bedanya, bahkan ada peneliti, yang melakukan penelitian terhadap air paritta menyatakan bahwa: air paritta dan air biasa sama saja berdasarkan atas mineral-mineral yang di kandungnya.

       Berkaitan dengan penelitian terhadap air ini, sekitar tahun 2000, muncul seorang pakar air dari Jepang yaitu Dr. Masaru Emoto. Dengan keuletan, serta ketelitiannya juga dengan bantuan alat-alat canggih yang digunakan untuk melakukan penelitian, beliau mampu memotret kristal-kristal air. Beliau adalah seorang penemu untuk pertama kalinya mampu memotret kristal air.

      Dari hasil-hasil pemotretannya itu ternyata dia menemukan bahwa kristal-kristal air yang terbentuk berbeda-beda. Perbedaan tersebut ternyata berasal dari getaran ucapan yang diarahkan ke air. Pikiran benar yang diucapkan dan diarahkan ke air ternyata membentuk kristal-kristal air yang bagus dan indah. Sedangkan jika pikiran buruk, yang diarahkan ke air, diucapkan ke arah air, ternyata membentuk kristal-kristal air yang buruk dan jelek. Dari penelitian-penelitian air ini, muncul suatu pertanyaan demikian: apakah air mampu membedakan antara pikiran baik dan pikiran buruk yang diucapkan?

       Berdasarkan penelitian Dr. Masaru Emoto, jawabanya adalah ya! Terbukti dari terbentuknya kristal air yang baik ketika air mendapatkan getaran ucapan yang baik yang berasal dari pikiran yang baik. Sebaliknya, air akan membentuk kristal yang buruk ketika air mendapatkan getaran dari ucapan yang tidak bagus.

       Air paritta ini, untuk pertama kalinya dibuat oleh Sang Buddha, di Kota Vesali. Beliau tidak memerlukan alat-alat bantu yang canggih seperti mikroskop elektron, kamera otomatis, ruang pendingin, untuk membuktikan bahwa air paritta memang beda dengan air biasa. Tidak hanya beda, tetapi air paritta memiliki manfaat yaitu untuk pembersihan suasan tempat – sehingga tempat menjadi nyaman untuk dijadikan tempat tinggal atau tempat usaha.

       Untuk membedakan antara air biasa dengan air paritta, Beliau menggunakan alat super canggih yang dinamakan ”Iddhi” yaitu kekuatan super natural yang hanya bisa diperoleh kalau orang mampu mengembangkan ketenganan batin hingga mencapai tingkat ketenangan yang ke empat atau jhana ke empat.

       Dengan jhana ke empat inilah Sang Buddha melihat dengan jelas bahwa: ada perbedaan antara air biasa dengan air paritta, serta manfaat dari air paritta tersebut.

Sabbe Sattā Bhavantu Sukhitattā

 (17 Januari 2010)

Ada Apa Dengan Mimpi? : Bhikkhu Piyadhiro

Ada Apa Dengan Mimpi?


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Dῑghā jāgarato ratti, Dῑghaṁ santassa yojanaṁ
Dῑgho bālānaṁ saṁsāro, Saddhammaṁ avijānataṁ

Malam terasa panjang bagi orang yang berjaga, satu yojana terasa jauh bagi orang yang lelah.
Sungguh panjang siklus kehidupan bagi orang bodoh yang tak mengenal Ajaran Benar.
 (Dhammapada, syair 60)
 
Kehidupan umat manusia diisi dengan beragam kegiatan. Kegiatan umat manusia dalam kehidupan sehari-hari itu adalah: makan, minum, kerja, olahraga, rekreasi, kegiatan keagamaan, dan istirahat. Dari berbagai kegiatan itu, yang tidak boleh dilupakan adalah komposisi yang sesuai, tidak kebanyakan dan juga tidak terlalu sedikit, dengan kata lain harus cukup.

Di antara semua kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari yang cukup menyita waktu, yang cukup banyak adalah istirahat. Istirahat yang cukup akan mendukung kesehatan. 

Istirahat yang paling baik menurut pakar kesehatan adalah tidur. Dalam sehari semalam, manusia dalam hidupnya rata-rata istirahat sekitar delapan jam. Ukuran untuk istirahat delapan jam bukanlah ukuran mati, artinya bisa kurang atau lebih. 
Saat tidur itulah kadang-kadang manusia mengalami berbagai macam mimpi. Mimpi yang baik diharapkan, mimpi yang kurang baik tidak ada yang berharap. 

Orang bermimpi sesungguhnya pada saat sedang tidur-tidur ayam, yaitu antara tidur dan sadar. Sesungguhnya mimpi adalah tanda yang datang melintasi jalur pikiran. Ada orang-orang tertentu yang sering mengalami mimpi, ada juga yang jarang mengalami mimpi. Ada juga orang-orang tertentu ingat apa yang dimimpikan tetapi tidak sedikit pula yang begitu bangun dari tidur lupa habis mimpi apa.

Berkaitan dengan mimpi, ada enam jenis orang yang bermimpi, yaitu orang yang dipengaruhi:

1. oleh angin,
2. oleh empedu,
3. oleh lendir,
4. oleh dewa,
5. oleh kebiasaannya sendiri, dan
6. oleh firasat.

Di antara enam jenis mimpi maka yang terakhir inilah yang benar, sedangkan yang lainnya tidak usah terlalu diperhatikan. Masalahnya kita belum mampu membedakan mana yang harus diperhatikan karena mimpi itu mengandung firasat atau hanya bunganya orang tidur.

Berkaitan dengan mimpi, Bodhisatta pernah mengalami mimpi. Ada lima macam mimpi besar yang tampak padanya. Apakah lima macam mimpi besar yang tampak pada Bodhisatta?

1. Bodhisatta bermimpi bahwa bumi yang besar ini adalah tempat tidurnya, Gunung Himalaya adalah bantalnya, tangan kirinya beristirahat di laut timur, tangan kanannya di laut barat, dan kedua kakinya di laut selatan.

2. Bodhisatta bermimpi bahwa dari pusarnya muncul sejenis rumput yang disebut rumput tiriya, yang terus tumbuh sampai akhirnya menyentuh awan.

3. Bodhisatta bermimpi tentang cacing-cacing putih berkepala hitam yang merayap di kaki-kaki Bodhisatta sampai lutut, menutupi kaki-kaki itu.

4. Bodhisatta bermimpi bahwa empat burung dengan warna yang berbeda-beda datang dari empat penjuru, jatuh di kakinya dan semuanya berubah menjadi putih.

5. Bodhisatta bermimpi mendaki gunung kotoran yang besar tanpa dikotori oleh kotoran itu.



Inilah lima macam mimpi dari Bodhisatta yang mengandung makna, bukan sembarang mimpi. Apakah arti dari lima macam mimpi dari Bodhisatta itu? Arti dari mimpi-mimpi Bodhisatta adalah :

1. Bodhisatta akan terbangun pada pencerahan sempurna yang tak ada bandingnya.

2. Bodhisatta akan sepenuhnya memahami Jalan Mulia Berunsur Delapan dan akan menyampaikannya dengan baik kepada para dewa dan manusia.

3. Banyak perumah tangga berjubah putih yang akan pergi berlindung kepada Sang Tathagata sampai akhir hayat mereka.

4. Anggota dari empat kasta akan pergi menuju kehidupan tanpa rumah (petapa) di dalam ajaran dan peraturan-peraturan yang di ajarkan oleh Sang Tathagata dan akan merealisasikan pembebasan yang tiada bandingnya.

5. Bodhisatta akan mendapatkan banyak pemberian jubah, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan, dan beliau akan menggunakannya tanpa tergila-gila kepada barang-barang tersebut, tanpa terikat, tanpa melekat karena melihat bahaya dan mengetahui jalan keluarnya.

Itulah lima macam arti mimpi dari Bodhisatta yang setelah diteliti semuanya mengandung kebenaran, bukan sembarang mimpi.

Di dalam kehidupan sehari-hari apapun mimpinya yang baik, kita harus berusaha untuk memujudkan mimpi-mimpi yang baik menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Apapun mimpi buruk yang kita alami anggap saja bunganya orang tidur atau mimpi hanyalah mimpi, dengan cara itu kita tidak akan khawatir. Supaya tidak bermimpi buruk maka perlu menjaga dan mengembangkan pikiran positif saat sebelum tidur. Berusaha berbuat baik di mana saja, kapan saja, kepada siapa saja di dalam kehidupan sehari-hari adalah jauh lebih baik dibandingkan hanya memperdebatkan mimpi itu sendiri. Perbuatan baik yang dapat dilakukan dan dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari adalah kemurahan hati, kemoralan, pembersihan kekotoran batin dengan mengembangkan samadhi. Selamat berjuang semoga hari-hari kita bermakna, mimpi-mimpi kita mimpi yang bermakna, dan hidup kita bermakna dengan hidup penuh makna dengan berjuang sungguh-sungguh.

Referensi:
1. Petikan Milinda Pañha
2. Petikan Aṅguttara Nikāya, Kitab Suci Agama Buddha
(24 Mei 2009)

Jalan Menuju Kebaikan : Bhikkhu Cittanando

Jalan Menuju Kebaikan


Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa

Terdapat banyak macam kebaikan, namun jika kita tidak pernah mempraktikkannya, kita tidak akan pernah menjadi baik. Bila kita memutuskan akan melakukan kebaikan, maka kita harus mengisi diri dengan keyakinan dan pikiran yang mantap, tetap tenang, berkepala dingin, berpandangan ke depan, dan mempunyai ketekunan. Oleh karena itu kita harus gembira dengan apa yang kita lakukan, tidak mudah menyerah, melainkan harus memiliki kemauan kuat dan keyakinan terhadap apa yang kita lakukan.

Kebaikan muncul sebagai ucapan atau pikiran di dalam batin kita. Sang Buddha berkata bahwa hidup kita ini berasal dari perasaan kita. Pikiran adalah akar dari segalanya. Hidup kita pada dasarnya berproses menurut bagaimana perasaan dan pikiran kita. Bila batin memiliki pikiran yang baik, Anda akan merasa lebih bijaksana dan mengetahui apa yang harus dilakukan. Anda akan merasa berani, bersemangat, dan melakukan pekerjaan dengan senang hati, dan akan tumbuh rasa percaya diri Anda untuk melakukan kebajikan hingga Anda tidak memerlukan lagi dorongan atau pujian dari orang lain.

Sang Buddha berkata bahwa melakukan kebaikan adalah baik, dan melakukan kejahatan adalah buruk. Adalah lebih baik tidak melakukan kejahatan walaupun kecil, karena ia akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Bila ada kesempatan walau hanya kesempatan kecil untuk melakukan kebaikan, coba dan lakukanlah itu; maka kebahagiaan akan Anda dapatkan. Melakukan kebaikan memang sulit, oleh karena itu, kita harus mengerahkan energi dan usaha. Dalam melakukan kebaikan kita harus mengusahakan diri kita melawan arus duniawi, dan melawan kekotoran batin (kilesa). Kita harus memaksa diri kita untuk tidak melakukan apa yang biasa kita lakukan. Pada mulanya kita harus memaksa diri kita, tetapi kemudian akan menjadi lebih mudah dan pada akhirnya menjadi suatu kebiasaan. Bila ini terjadi, Anda akan merasa lebih nyaman dan tenang dalam batin dan jasmani.

Bila Anda berhasil mengontrol pikiran, Anda akan merasa segar dan mampu melakukan tugas dengan lebih baik melalui badan, pikiran, atau ucapan. Usahakan hindari melakukan perbuatan buruk, dan kembangkanlah kebajikan Anda. Terdapat tiga cara untuk menghindari perbuatan salah dari perbuatan jasmani, yaitu:

1. Pāṇātipāta veramaṇῑ ―tidak membunuh atau melukai makhluk lain.
2. Adinnādānā veramaṇῑ ―tidak mencuri milik orang lain.
3. Kāmesumichācāra veramaṇῑ ―tidak melakukan hubungan seksual yang salah, dan tidak melakukan selingkuh dengan suami atau istri orang lain. Suami atau istri harus setia satu sama lain. Tiap suami harus hanya punya satu istri dan demikian pula sebaliknya. Jika salah satu meninggal dunia, maka baru kemudian yang lainnya dapat menikah. Punyailah tingkah laku yang baik.

Seperti ketiga perbuatan jasmani, terdapat pula cara untuk menghindari ucapan salah. Inilah vacikamma, empat perbuatan melalui ucapan:

1. Musāvādā veramaṇῑ ―tidak berkata bohong atau salah.
2. Pisuṇāvācā veramaṇῑ ―tidak menggunakan ucapan yang memfitnah atau tidak menyenangkan.
3. Pharusāya vācāya veramaṇῑ ―tidak mengucapkan kata-kata yang kasar. Perkataan tidak hanya harus benar, tetapi juga harus enak didengar dan dapat menciptakan harmoni pada pendengar. Sang Buddha mengajarkan bahwa ucapan haruslah tidak keras atau kasar.
4. Samphappalāpa veramaṇῑ ―menghindari obrolan kosong dan percakapan yang tidak karuan, atau berbicara tanpa tujuan.

Mempraktikkan ucapan yang baik dan benar dapat diawali kepada anak sendiri, saudara-saudara kita, dan juga kepada setiap orang; bahkan kepada orang-orang yang tidak kita sukai. Lakukan itu setiap waktu, tidak hanya sekarang atau nanti. Ucapan Anda harus membuat orang lain tenang dan relaks, dan merasa bergairah untuk melakukan kebaikan.

Topik terakhir adalah manokamma, tiga perbuatan melalui pikiran. Ada tiga jalan yang mengakibatkan batin menjadi tak berguna:

1. Ketamakan (abhijjhā) ―serakah dan iri hati.
2. Keinginan jahat (byāpāda) ―kemarahan, kebencian, dendam, ketidaksukaan.
3. Pandangan salah (micchādiññhi) ―seperti misalnya kepercayaan bahwa tidak ada surga atau neraka, atau tidak ada jalan menuju Nibbāna (pelenyapan dari semua kekotoran dan penderitaan).

Perbuatan jahat atau salah (pāpa) dan perbuatan yang benar atau baik (puñña) adalah sangat nyata. 
Orang yang mengerti hal ini akan berubah dari berpandangan salah menjadi berpandangan benar (sammādiṭṭhi). Orang ini percaya akan adanya kebaikan dan keburukan/kejahatan, perbuatan baik (karma baik) dan perbuatan buruk/jahat (karma buruk). 
Dia mengerti hubungan atau hukum sebab-akibat, Empat Kebenaran Mulia (Ariyasacca), penderitaan (dukkha), dan penyebab penderitaan (samudaya), dimana penyebabnya adalah ketidaktahuan atau khayalan (avijjā), nafsu atau keinginan (tanha), dan kemelekatan, keterikatan, atau ketamakan (upadana).  
Jika kita percaya pada kamma, maka kita percaya kita dapat menghindari penyebab penderitaan (samudaya), dan menghindari sang 'aku' (atta), keinginan (tanha), dan keterikatan atau kemelekatan (upadana). 
 Setelah kita dapat melepaskan semuanya itu, kita akan merasa baik, bersih, murni, dan damai.

Jika kita mengembangkan tiga kamma; tiga perbuatan melalui jasmani, empat perbuatan melalui ucapan, dan tiga perbuatan melalui pikiran, maka kita akan maju sebagaimana mestinya. Kamma-kamma inilah yang harus kita jalankan dalam hidup kita. 

Seseorang dengan pandangan benar (sammādiṭṭhi) tahu bagaimana berpikir, dan orang yang berpandangan salah (micchādiṭṭhi) tidak tahu bagaimana berpikir. 

Beberapa orang mempunyai pikiran benar, dan beberapa mempunyai pikiran salah yang menyebabkan noda dan ketidakbahagiaan.

Kebaikan dan nilai dalam hidup kita tergantung kepada kita dan kepada apa yang kita lakukan. Kitalah satu-satunya pengontrol atau pengendali hidup kita, apakah kita ingin bahagia atau menderita, ingin maju atau mundur. Apabila kita telah memutuskan untuk melakukan hanya kebaikan, maka kita dapat mengikuti jalan menuju kebaikan dan kebahagiaan hidup.

(07 Juni 2009)

Ke-aku-an (oleh Bhante Pannyavaro Mahathera)

Ke-aku-an (oleh Bhante Pannyavaro Mahathera)


Dalam pandangan agama Buddha, antara pikiran dan pemikiran tidaklah dibedakan. Pemikiran yang dalam pengertian umum adalah hasil dari pikiran, sesungguhnya adalah pikiran itu sendiri. Sama seperti kita melihat rumah. Komponen2 seperti tiang, kasau2, dinding, kerangka atap, genteng dan lantai; yang disusun membentuk rumah, sebenar-benarnya adalah rumah itu sendiri. Sama sekali tidak bisa dikatakan, bahwa 'rumah' ini memiliki tiang seperti ini, dinding seperti ini, atap begini, lantai begitu, dan sebagainya. Rumah yang mana yang memiliki atau menjadi si pemilik semua itu? Tidak ada! Komponen atau bagian-bagian itu sendiri, yang tersusun seperti itu, adalah 'rumah' itu sendiri. Tidak ada si pemilik atau bagian rumah, dan bagian lainnya adalah bagian yang dimiliki atau menjadi pelengkap. Persis seperti itu adalah pikiran kita. Pikiran ini adalah pemikiran itu sendiri, termasuk proses berpikir.

Pemikiran itu pun bukan juga suatu yg muncul kemudian berhenti, sehingga boleh dianggap sebagai hasil akhir dari suatu proses berpikir. Satu pemikiran muncul sesaat, kemudian berubah, cepat sekali, terus begitu tanpa henti.

Semua yang muncul menjadi pikiran atau pemikiran disebut sankhara, perpaduan. Disebut perpaduan karena sifat kemunculannya yang tidak mandiri tetapi terjadi karena banyak faktor. Dan juga faktor-faktor yang memungkinkan timbulnya pikiran itu tidak kekal, berubah terus, maka pikiran yang muncul pun berubah dengan cepat.

Pengertian Benar


Bila faktor yang berpengaruh pada pikiran itu benar dan baik, maka pikiran pun mendapatkan faktor yang benar dan baik. Pengaruh baik itu dalam Delapan Unsur Jalan Mulia disebut Pengertian Benar atau Pandangan Benar. Pengertian yang benar adalah pengertian yang sesuai dengan Hukum ALam (Niyama Dhamma) dan membawa keterbebasan dari penderitaan.

Seluruh ajaran Guru Agung Buddha Gotama atau Dhamma, yang kita pelajari dan fahami adalah pengertian benar. Pengertian benar ini mempengaruhi pikiran.

Tetapi pikiran tidak selalu berada dalam pengaruh atau arahan yang benar. Faktor-faktor lain pun masih sering muncul mempengaruhi pikiran kita, misalnya keserakahan, kebencian, keakuan, dan berbagai angan-angan lainnya.

Bila pengaruh buruk itu muncul pada pikiran, lalu seseorang teringat pada pengertian benar bahwa keburukan akan berakibat keburukan; oleh karenanya pengaruh buruk jangan diikuti; maka pikiran buruk tidak akan berlanjut terus.

Proses tidak berlanjutnya pikiran buruk itu dapat diterangkan sebagai berikut: Adanya kewaspadaan yang mengetahui bahwa pikiran buruk sedang atau mulai muncul, kemudian digunakanlah pengertian atau konsep yang baik untuk menghentikannya.

Memang bisa berhasil. Meski bisa juga tidak berhasil. Artinya, pikiran yang buruk itu berjalan terus sampai muncul menjadi ucapan atau tindakan yang buruk. Cara ini yang dilakukan oleh hampir semua umat beragama. Pengertian benar yang sudah diyakini atau diimani digunakan untuk mengatasi pikiran-pikiran buruk.

Demikian juga, umat Buddha mengenal pengertian Anatta (tanpa-aku), atau Sunyata (Tanpa inti yang kekal). Tetapi bukan berarti kalau seseorang sudah mengerti atau faham benar tentang pengertian Anatta yang diajarkan oleh Guru Agung Buddha Gotama, maka sudah tidak ada lagi pikiran keakuan padanya. Pikiran keakuan itu tetap saja timbul begitu cepat dan begitu sering meskipun dia sudah sangat faham Anatta dan juga sudah tidak menghendaki pikiran keakuan itu timbul.

Bila ia waspada terhadap munculnya pikiran keakuan itu: "Ini kebaikanku". "Ini jasaku". "Ini kewajibanku". "Ini hasilku", dan masih banyak lagi, lalu dilawanlah pikiran keakuan itu dengan pengertiannya tentang Anatta (Tanpa-aku) yang sudah diyakini kebenarannya. Maka yang sekarang menjadi pikirannya adalah pikiran atau konsep tentang Anatta (Tanpa-aku) tersebut. Cara ini bukanlah cara mengatasi atau menghabiskan keakuan, melainkan melawan konsep (keakuan) dengan konsep (tanpa-aku).

Untuk memudahkan mengingat, kita berikan saja nama untuk cara ini: cara konvensional atau cara biasa.

Kewaspadaan atau Perhatian

Cara menghabiskan pikiran keakuan yang sering muncul dan menjadi sumber keburukan atau penderitaan menurut ajaran Guru Agung Buddha Gotama adalah:

Perhatikan atau waspadai terus-menerus bila pikiran keakuan itu muncul. Jangan menyesali bila pikiran keakuan muncul, tetapi yang sangat penting adalah menyadari atau memperhatikan pikiran itu. Perhatikan saja! Waspadai saja!

Waspadai dengan sikap pasif. Artinya, tidak perlu menggunakan konsep Anatta (Tanpa-aku) untuk menghentikan atau melawannya. Tidak menganalisis dari mana munculnya pikiran keakuan itu, dan juga tidak perlu ingin menghentikannya karena tidak sesuai dengan Dhamma. Tetapi, perhatikan saja terus-menerus, awasi saja terus-menerus. Mengawasi dengan pasif. Hanya mengawasi saja! Maka, pikiran keakuan itu akan teratasi, akan berhenti dengan sendirinya. Inilah cara yang diajarkan oleh Dhamma ajaran Guru Agung Buddha Gotama sebagai cara untuk menghabiskan keakuan. Kita namakan cara ini: cara vipassana atau cara pencerahan.

Memang kita belum mampu mengawasi setiap timbulnya pikiran buruk: keserakahan, iri hati, kebencian, kekejaman, kejengkelan, kekecewaan dan keakuan. Tetapi bila kita mengetahui atau menyadari bahwa pikiran itu mulai atau sedang muncul, maka perhatikanlah, awasilah! Pikiran itu akan berhenti. Selanjutnya hanya kesadaran murni yang berlangsung. Kesadaran murni itu adalah kata lain dari kebebasan. Kebebasan dari penderitaan. Meski hanya dialami sesaat, kesadaran murni adalah kebebasan. Bagi yang belum mencapai kebebasan penuh, kebebasan itu hanya dialami sesaat. Mengapa hanya dialami sesaat? Karena kotoran yang lain dari pikiran masih akan muncul lagi.

Beda antara manfaat kedua cara

Apakah perbedaan di antara kedua cara, yakni cara biasa dan cara vipassana, dalam mengatasi pikiran buruk? Cara biasa, yaitu cara melawan konsep buruk atau pikiran buruk dengan pikiran baik yang didasari pengertian benar atau keyakinan memang bisa menghentikan pikiran buruk. Karena pikiran buruk bisa dihentikan, maka perilaku buruk tidak akan dilakukan. Tetapi cara ini tidak banyak mengurangi kelekatan seseorang pada kenikmatan dalam melakukan keburukan.

Ketagihan pada kenikmatan terhadap keburukan, dan juga kenikmatan terhadap kebaikan, akan memperkuat pikiran keakuan. Keakuan ini kemudian menyebabkan berbagai keinginan bermunculan.

Cara vipassana atau mengembangkan pandangan terang akan menumbuhkan pencerahan mental yang menyadarkan kita bahwa kondisi pikiran ini adalah tidak kekal. Dalam perhatian penuh atau perhatian terus-menerus itu kita akan menyadari dengan jelas munculnya suatu pikiran, bertahan sebentar, lalu tenggelam. Kemudian muncul pikiran yang lain, bergolak, berkembang, tidak lama juga lalu tenggelam. Begitu seterusnya! Arus pikiran ini tidak akan pernah berhenti. Pencerahan mental yang timbul dari perhatian terus-menerus (nyana), bukan logika intelektual, terhadap pikiran kita sendiri ini akan mengurangi kelekatan atau kelengketan kita terhadap segala kenikmatan sesaat. Kekuatan keakuan yang timbul dalam pikiran menjadi berkurang. Kekuatannya yang membakar-bakar berbagai keinginan pun berkurang.

Kemampuan mengetahui pikiran-pikiran yang muncul, utamanya pikiran keakuan, dan mengawasi atau memperhatikannya terus-menerus sampai pikiran keakuan itu lenyap adalah latihan dan juga tujuan meditasi Buddhis.

KEMELEKATAN : Bhikkhu Abhicitto

KEMELEKATAN

Ratiyā jāyati soko, ratiyā jāyati bhayaṁ
Ratiyā vippamuttassa, natthi soko kuto bhayaṁ

Dari kemelekatan timbul kesedihan, dari kemelekatan timbul ketakutan.
Bagi orang yang telah bebas dari kemelekatan, tidak ada lagi kesedihan maupun ketakutan.
(Dhammapada 214)

Sering kali kita terlalu melekat pada sesuatu yang tidak semestinya dan yang sebenarnya sudah tidak diperlukan, seperti pakaian, sepatu, sandal yang sudah tidak dipakai sampai barang-barang bekas lainnya. Akhirnya barang-barang tersebut hanya menjadi penghias rumah. Apabila kita enggan untuk melepaskannya maka rumah yang kita tempati akan serasa seperti gudang barang bekas.

Kebiasaan menyimpan barang-barang tersebut hanya membuat rumah kita menjadi tempat sampah. Kalau barang-barang tersebut sudah tidak digunakan dan kita sulit untuk melepaskannya, maka untuk berbuat baik pasti sangat berat sekali. Padahal barang bekas itu akan bermanfaat apabila diberikan kepada orang yang membutuhkan, ketimbang menjadi sampah di dalam rumah.

Kalau kita tidak pernah siap untuk melepaskan kepemilikan, maka suatu saat ketika kita kehilangan sesuatu yang disayangi, maka kita akan kecewa. Dhammapada Atthakatha mengisahkan tentang seorang Thera yang melekat pada jubahnya.

Kisahnya berikut ini:
Suatu saat seorang Thera bernama Tissa tinggal di Savatthi. Pada suatu hari, ia menerima seperangkat jubah yang bagus dan merasa sangat senang. Ia bermaksud mengenakan jubah tersebut keesokan harinya. Tetapi pada malam hari ia meninggal dunia.

Karena melekat pada seperangkat jubah yang bagus itu, ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal di dalam lipatan jubah tersebut.  

Karena tidak ada orang yang mewarisi benda miliknya, diputuskan bahwa seperangkat jubah tersebut akan dibagi bersama oleh bhikkhu-bhikkhu yang lain.
Ketika para bhikkhu sedang bersiap untuk membagi jubah di antara mereka, si kutu sangat marah dan berteriak, "Mereka sedang merusak jubahku!"

Teriakan ini didengar oleh Sang Buddha dengan kemampuan pendengaran luar biasa Beliau. Maka Beliau mengirim seseorang untuk menghentikan perbuatan para bhikkhu dan memberi petunjuk kepada mereka untuk menyelesaikan masalah jubah itu setelah tujuh hari. Pada hari ke delapan, seperangkat jubah milik Tissa Thera itu dibagi oleh para bhikkhu.

Kemudian Sang Buddha ditanya oleh para bhikkhu mengapa Beliau menyuruh mereka menunggu selama tujuh hari sebelum melakukan pembagian jubah Tissa Thera.

Kepada mereka Sang Buddha berkata, "Murid-murid-Ku, pikiran Tissa melekat pada seperangkat jubah itu pada saat dia meninggal dunia, dan karena hal itu ia terlahir kembali sebagai seekor kutu yang tinggal dalam lipatan jubah tersebut.
Ketika engkau semua bersiap untuk membagi jubah itu, Tissa si kutu sangatlah menderita dan berlarian tak tentu arah dalam lipatan jubah itu.

Jika engkau mengambil jubah tersebut pada saat itu, Tissa si kutu akan merasa sangat membencimu dan ia akan terlahir di alam neraka (niraya). Tetapi sekarang Tissa telah bertumimbal lahir di alam dewa Tusita, dan sebab itu Aku memperbolehkan engkau mengambil jubah tersebut.

"Sebenarnya, para bhikkhu, kemelekatan sangatlah berbahaya, seperti karat merusak besi di mana ia terbentuk, begitu pula kemelekatan menghancurkan seseorang dan mengirimnya ke alam neraka (Niraya). Seorang bhikkhu sebaiknya tidak terlalu menuruti kehendak atau melekat dalam pemakaian empat kebutuhan pokok".
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 240 berikut:

Bagaikan karat yang timbul dari besi, bila telah timbul akan menghancurkan besi itu sendiri, begitu pula perbuatan-perbuatan sendiri yang buruk akan menjerumuskan pelakunya ke alam kehidupan yang menyedihkan. (Dhammapada XVIII. 3)

Kita harus menyadari bahwa hidup ini tidak selalu sesuai dengan kehendak sendiri.

Pada suatu saat semua yang kita miliki akhirnya akan ditinggalkan.

Jangankan barang-barang yang disayangi, orang-orang yang kita cintai pun kita tinggalkan, demikian pula jasmani yang kita rawat tiap hari.

Jadi, belajarlah melepaskan sebelum mereka yang meninggalkan kita atau kita yang meninggalkannya.
Belajarlah melepas yang kecil-kecil dahulu dengan berdana, sampai pada saatnya dapat melepaskan yang lebih tinggi yaitu kekotoran batin seperti keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin.

Kekotoran batin adalah kilesa yang menyebabkan manusia dicengkeram oleh ketidakpuasan.

Oleh karenanya, jadikan melepas sebagai latihan dalam keseharian agar kita terlatih dalam menyikapi hidup dan kehidupan.
Kalau ada rasa sayang untuk melepas, ingatlah cerita di atas dan bahayanya.

Oleh: Bhikkhu Abhicitto (13 Februari 2011)