Untuk menambah kasanah kita atas Tipitaka :
Milinda Panha dapat anda download di sini
Itivuttaka dapat anda download di sini
Suttanipata dapat anda download di sini
Udana dapat anda download di siniBuddhavamsa dapat anda download di sini
Dhammapada Atthakatha dapat anda download di sini
Digha Nikaya dapat anda download di sini
Petavatthu dapat anda download di sini
Tampilkan postingan dengan label Milinda Panha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Milinda Panha. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 01 Oktober 2011
Minggu, 17 April 2011
Ringkasan Milinda Panha
Ringkasan Milinda Panha
Kata-kata Pali Dan Istilah Teknis
4 Buah Sang Jalan
1.Pemenang Arus (Sotapanna —tingkat kesucian pertama).
Ketika mewujudkan nibbana untuk pertama kalinya, Sotapanna telah menghancurkan 3 belenggu pandangan salah: percaya adanya pribadi (sakkaya-ditthi); percaya pada tata-cara dan ritual; dan keraguan. Dia tidak mungkin dapat melakukan kejahatan yang keji, dan seandainya dia melakukan suatu perbuatan jahat, dia tidak dapat menyembunyikannya. Dia terjamin pasti mencapai tingkat Arahat, paling banyak dalam 7 kali kelahiran.
2.Yang Kembali Sekali (Sakadagami —tingkat kesucian kedua).
Sakadagami ini telah menghilangkan sebagian besar kekuatan belenggu nafsu dan niat jahat; dia akan dilahirkan di bumi paling banyak hanya 1 kali lagi sebelum mencapai tingkat Arahat.
3.Yang Tidak Kembali (Anagami —tingkat kesucian ketiga).
Anagami ini telah sepenuhnya menghilangkan belenggu-belenggu nafsu dan niat jahat; dia tidak akan dilahirkan kembali di bumi tetapi akan mencapai tingkat Arahat di alam-alam yang lebih tinggi, di alam dewa atau alam Brahma.
4.Arahat.
Arahat telah menyingkirkan 5 sisa belenggu, telah menghancurkan semua kebodohan batin dan nafsu keinginan, serta mengakhiri semua bentuk kelahiran kembali. Dengan demikian dia mencapai tujuan akhir kehidupan suci.
4 Cara Hidup Tanpa Rasa Takut (Vesarajja).
Sang Buddha berkata:
"Saya tidak melihat alasan apapun yang dapat dipakai orang untuk marah terhadap Saya dalam hal:
1.telah sepenuhnya tercerahkan;
2.banjir-banjir yang telah sepenuhnya dihancurkan;
3.pengetahuan tentang penghalang kemajuan;
4.pengetahuan Dhamma yang menuju ke penghancuran banjir-banjir itu".
5 Halangan (Nivarana)
Nafsu; keinginan jahat; kelambanan dan kemalasan; keresahan dan penyesalan yang dalam; serta keraguan. Kekotoran-kekotoran batin ini disebut penghalang karena mereka menghambat perkembangan konsentrasi.
5 Khandha Makhluk
Ketika kita mengatakan "makhluk hidup", ini hanyalah suatu cara bicara konvensional. Yang mendasari konvensi ini adalah pandangan salah mengenai kepercayaan akan adanya pribadi (sakkaya ditthi), kekekalan dan adanya substansi. Tetapi, apabila kita periksa dengan lebih seksama apakah sebenarnya makhluk hidup atau orang itu, maka yang akan kita temukan hanyalah suatu arus fenomena yang terus-menerus berubah. Fenomena-fenomena ini dapat diatur dalam 5 kelompok: tubuh atau fenomena materi (rupa), perasaan (vedana), pencerapan (sanna), bentukan-bentukan mental (sankhara), dan kesadaran murni (vinnana). Ini hanya kategori, dan jangan menganggap bahwa kelompok-kelompok ini adalah sesuatu yang stabil.
8 Penyebab Gempa Bumi
1.Bumi ini ditopang oleh air, air ditopang oleh udara, udara oleh ruang. Kadang-kadang angin besar bertiup kencang dan air tergoncang. Ketika air tergoncang, bumi tergoncang. (Air adalah elemen kohesi/kepaduan atau ketidak-stabilan, udara adalah elemen gerak. Elemen-elemen ini ada sekalipun pada batu karang yang leleh).
2.Seorang pertapa atau dewa dengan kekuatan (bala) yang besar menyebabkan bumi bergoncang lewat kekuatan konsentrasinya.
3.Ketika Sang Bodhisatta secara sengaja dan sadar meninggal dari Surga Tusita, dan terkandung dalam rahim ibunya, maka bumi besar ini bergoncang.
4.Ketika Sang Bodhisatta secara sengaja dan sadar keluar dari rahim ibunya, bumi besar ini bergoncang.
5.Ketika Sang Tathagata mencapai pencerahan tertinggi yang sempurna, bumi besar ini bergoncang.
6.Ketika Sang Tathagata memutar roda Dhamma, bumi besar ini bergoncang.
7.Ketika Sang Tathagata secara sengaja dan sadar melepaskan proses mental yang menahan kehidupan, bumi besar ini bergoncang. (Dengan kekuatan kesaktianNya Beliau sebanarnya dapat memperpanjang kehidupanNya, tetapi karena tidak diminta, Beliau melepaskan kemungkinan itu dan mengumumkan waktu wafatNya).
8.Ketika seorang Buddha meninggal dunia dan mencapai Parinibbana, bumi besar ini bergoncang.
10 Belenggu (Samyojana)
Kamachanda (nafsu); byapada (maksud jahat); mana (kesombongan); sakkaya-ditthi (percaya adanya pribadi); vicikiccha (keraguan); silabattam (kemelekatan pada ritual dan upacara); ruparaga (nafsu akan keberadaan); issa (iri hati); macchriya (ketamakan); avijja (kebodohan batin).
10 Kesempurnaan (Parami)
Dana (kedermawanan); sila (keluhuran); nekkhama (meninggalkan keduniawian); panna (kebijaksanaan); viriya (semangat); khanti (kesabaran); sacca (kejujuran); adhitthana (tekad); metta (cinta-kasih); upekkha (ketenangan-keseimbangan).
18 Sifat Ke-Buddha-an (Buddhadhamma)
1-3. Melihat segala hal: di masa lampau, kini dan yang akan datang. 4-6. Kebenaran dalam tindakan, ucapan dan pikiran. 7-12. Mantapnya hal-hal berikut ini sehingga tidak dapat dicegah oleh yang lain: kehendak, doktrin, hal-hal yang dihasilkan oleh konsentrasi, semangat, pembebasan dan kebijaksanaan. 13-14. Menghindari: kesenangan atau apapun yang dapat mengundang hinaan, serta perselisihan dan pertikaian. 15. Maha tahu. 16. Melakukan segala hal dengan kesadaran penuh. 17. Melakukan semua hal dengan tujuan tertentu. 18. Tidak melakukan apapun secara memihak atau tidak bijaksana.
32 Bagian Tubuh (untuk perenungan)
Rambut kepala; bulu tubuh; kuku; gigi; kulit; daging; otot; tulang; sumsum tulang; ginjal; jantung; hati; jaringan; limpa; paru-paru; usus besar; usus kecil; mesentery (???); perut; tinja; empedu; lendir; nanah; darah; keringat; lemak padat; lemak cair; ludah; ingus; cairan synovic (???); air kencing; otak.
Abhidhamma
Berarti Ajaran yang lebih tinggi. Abhidhamma menggunakan metode analitis. Sementara khotbah-khotbah menggunakan bahasa konvensional manusia atau makhluk, Abhidhamma menggunakan istilah-istilah seperti "lima khanda manusia".
Arahat —(lihat 4 Buah Sang Jalan).
Bhikkhu
Biarawan Buddhis yang telah menerima pentahbisan yang lebih tinggi.
Bodhisatta
Makhluk yang sepenuhnya mengabdi untuk mencapai pencerahan sempurna seorang Buddha. Untuk itu dia harus mengembangkan kesempurnaan-kesempurnaan (parami) selama berkalpa-kalpa.
Brahma
Seorang dewa atau makhluk agung yang berada dalam alam kehidupan yang terbebas dari hawa nafsu. Brahmacarin —Orang yang menjalani kehidupan kesucian. Brahmana —Seorang pendeta Hindu atau orang dari kasta itu.
Buddha Soliter
Paccekka Buddha atau Buddha yang mencapai pencerahan tanpa bantuan seorang Buddha Maha Tahu. Tidak seperti Buddha Maha Tahu, seorang Buddha soliter belum sepenuhnya mengembangkan kemampuan untuk mengajar orang lain.
Cara (Prilaku Baik)
Merupakan penggenapan tugas-tugas. Imbalannya, sila, adalah penahanan diri dari perbuatan salah.
Jasa (Punna)
Perbuatan-perbuatan baik yang merupakan landasan untuk kebahagiaan dan kemakmuran dalam lingkaran kelahiran kembali.
Latihan Keras (Dukkarakarikam)
Ini adalah latihan-latihan pengendalian diri yang keras yang dijalankan oleh Sang Bodhisatta tetapi harus dibedakan dari latihan-latihan pertapa (dhutanga), yang walaupun sulit namun bukannya rendah dan bukan pula tidak menguntungkan.
Masa vassa
Masa tiga bulan, dari Agustus sampai Oktober. Dimana para bhikkhu tetap tinggal di satu tempat. Senioritas seorang bhikkhu diukur dari vassa atau jumlah tahun dia menjadi bhikkhu.
Parinibbana
Kematian seorang Buddha, Paccekka Buddha atau Arahat.
Patimokkha
227 peraturan latihan yang diucapkan lagi oleh para bhikkhu pada upacara hari oposatha, setiap bulan baru dan bulan purnama.
Pemenang Arus (Sotapanna) —(Lihat 4 Buah Sang Jalan).
Penalaran (Yoniso Manasikara)
Sering diterjemahkan sebagai "perhatian sistematis". Artinya perhatian akan sifat-sifat yang mengikis kekotoran batin dan bukannya sifat-sifat yang meningkatkan kekotoran batin.
Penyerapan (Jhana)
Yaitu tahap-tahap konsentrasi mental yang dicapai dengan mengatasi 5 rintangan. Hasil dari keadaan-keadaan ini adalah kelahiran kembali di alam Brahma.
Peraturan-peraturan Yang Minor Dan Kurang Penting
Pengarang Milinda Panha mengatakan bahwa peraturan-peraturan minor adalah pelanggaran karena tindakan salah (dukkata), sedangkan peraturan-peraturan yang kurang penting adalah pelanggaran karena ucapan salah (dubhasita), walaupun dia mengakui bahwa 500 bhikkhu thera yang mulia tersebut tidak satu suara mengenai hal ini.
Pohon Bodhi
Pohon dimana Sang Bodhisatta menjadi seorang Buddha. Pohon Bodhi Ananda merupakan anak pohon dari pohon aslinya, yang dibawa Ananda ke Savatthi guna mengingatkan orang-orang akan Sang Buddha jika Beliau sedang pergi. Sebatang anak pohon lain dikirim ke Srilangka oleh Raja Asoka dan msih dipuja sampai kini.
Samana
Seorang pertapa, tidak harus Buddhis.
Tipitaka
Kumpulan berunsur tiga, yaitu Sutta; Vinaya dan Abhidhamma. Yang berupa khotbah, peraturan disiplin, dan filsafat —(Lihat Kitab Suci Pali).
Vedagu
Digunakan dalam Milinda Panha dalam pengertian suatu jiwa atau sesuatu yang mengalami, yang melihat, mendengar, membau, mencicipi, merasa atau mengetahui. Ini juga merupakan julukan bagi Sang Buddha yang artinya "YangTelah Memperoleh Pengetahuan".
Vinaya
Enam dari Kitab Suci yang menangani disiplin-disiplin para bhikkhu dan urusan-urusan pengaturan lainnya.
Visuddhimagga
Suatu buku pegangan yang sangat berharga yang ditulis dalam bahasa Pali pada abad ke 3 M oleh Yang Mulia Buddhaghosa, yang menjelaskan latihan berunsur tiga: keluhuran, konsentrasi dan kebijaksanaan.
Yang Kembali Satu Kali (Sakadagami) —(Lihat 4 Buah Sang Jalan).
Yang Tidak Kembali (Anagami) —(Lihat 4 Buah Sang Jalan).
Yunani Baktria (Baktrian Greek) —(Yonaka).
Ada beberapa acuan untuk kata yonaka selain yang ada di dalam Milinda Panha. Sebuah prasasti di gua di Nasik, dekat Bombay, menyebutkan 9 Yonaka yang merupakan donor, dan Mahavamsa menghubungkannya pada bhikkhu-bhikkhu dari Yona, pada seorang Yonadhammarakkhita yang pasti merupakan seorang bhikkhu Yunani Baktria.
***
Sumber:
Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating
Ringkasan Milinda Panha 17
Ringkasan Milinda Panha 17
Bagian Tujuh Belas
"Bhante Nagasena, apa sifat-sifat yang harus dimiliki seorang bhikkhu agar dapat mencapai tingkat Arahat?"
1. Keledai
Seperti halnya, O Baginda, seekor keledai, di mana pun ia berbaring ia tidak akan beristirahat lama; demikian juga seorang bhikkhu yang berniat mencapai tingkat Arahat tidak akan beristirahat lama.
2. Ayam
Seperti halnya seekor ayam yang bertengger pada saat yang tepat; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu dengan cepat melaksanakan tugas-tugasnya setelah berpindapatta dan pergi ke tempat yang sunyi untuk bermeditasi.
Seperti seekor ayam yang bangun pagi; demikian juga seorang bhikkhu harus bangun pagi.
Seperti seekor ayam yang terus-menerus mangais tanah mencari makan; demikian juga seorang bhikkhu harus terus-menerus merenungkan makanan yang dimakannya dengan mengingat: 'Saya makan bukan untuk kenikmatan dan bukan untuk keindahan, melainkan hanya untuk meredakan sakit karena rasa lapar dan memungkinkan diri ini menjalani kehidupan suci. Dengan demikian saya menghentikan penderitaan'.
Seperti ayam yang meskipun mempunyai mata namun buta pada waktu malam; demikian juga seorang bhikkhu menjadi seolah-olah buta ketika sedang bermeditasi, tidak memperhatikan objek indra yang mungkin akan mengganggu konsentrasinya.
Dan seperti ayam yang meskipun diusir dengan tongkat dan batu tidak akan meninggalkan tempatnya bertengger; demikian juga seorang bhikkhu tidak meninggalkan perhatiannya walaupun dia sedang sibuk membuat jubah, membangun, mengajar, mempelajari kitab suci, atau apa pun.
4. Panther Betina
Seperti seekor panther betina yang begitu hamil tidak berpaling lagi kepada yang jantan; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu. Setelah melihat penderitaan yang menjadi sifat kelahiran, seorang bhikkhu memutuskan untuk tidak memasuki kelahiran yang mana pun di masa yang akan datang.
Hal ini telah dikatakan oleh Sang Buddha, O Baginda raja, dalam Dhaniya Sutta di Sutta Nipata:
'Setelah mematahkan belenggu-belenggu seperti banteng, dan seperti gajah yang telah mematahkan tanaman-tanaman jalar, maka tidak akan ada lagi kelahiran bagiKu. Jadi, curahkan hujan, O awan, semaumu!'" (Sn.v.29)
7. Pohon Bambu
Seperti pohon bambu yang berayun ke mana angin bertiup; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu, fleksibel dan menyesuaikan diri pada Ajaran.
10. Monyet
Seperti seekor monyet yang tinggal di pohon besar yang rindang, tertutup rapat oleh dahannya; demikian juga seorang bhikkhu harus tinggal dengan guru yang terpelajar, yang patut dihormati dan mampu membimbingnya.
12. Teratai
Seperti teratai yang tidak ternoda oleh air dimana ia dilahirkan dan bertumbuh; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu tidak ternoda oleh sokongan, persembahan dan penghormatan umatnya.
Seperti teratai yang berada jauh di atas air; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu berada jauh di atas keduniawian.
Dan seperti teratai yang bergetar terkena hembusan angin sepoi; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu gemetar walaupun hanya berpikir ingin melakukan suatu yang jahat, karena melihat adanya bahaya dalam kesalahan yang paling kecil pun.
20. Samudra
Seperti samudra yang melemparkan mayat ke pantai; demikian juga seorang bhikkhu harus menyingkirkan kekotoran batin dari pikirannya.
Seperti samudra yang meskipun menyimpan banyak kekayaan tidak akan mengangkatnya ke atas; demikian juga seorang bhikkhu harus memiliki permata pencapaian tetapi tidak memamerkannya.
Seperti samudra yang berhubungan dengan makhluk-makhluk yang besar; begitu juga seharusnya seorang bhikkhu berhubungan dengan murid-murid yang hanya mempunyai sedikit keinginan, yang berbudi luhur, terpelajar dan bijaksana.
Seperti samudra yang tidak membanjiri pantainya; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu tidak pernah melanggar sila sekali pun demi kehidupannya.
Dan seperti samudra yang tidak penuh meskipun semua sungai mengalir ke dalamnya; demikian juga seorang bhikkhu seharusnya tidak pernah bosan mendengarkan Ajaran dan instruksi Dhamma, Vinaya dan Abhidhamma.
21. Bumi
Seperti bumi yang besar yang tidak tergoyahkan oleh barang-barang, yang baik maupun yang busuk, yang dilemparkan kepadanya; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu tetap tidak tergoyahkan bila dipuji atau dicaci, didukung atau diabaikan.
Seperti bumi yang besar yang tidak berhias tetapi mempunyai aroma sendiri; demikian juga seorang bhikkhu seharusnya tidak dihiasi oleh parfum tetapi memiliki keharuman nilai-nilai kemoralannya.
Seperti bumi yang tidak pernah lelah menyangga beban yang sangat banyak; demikian juga seorang bhikkhu tidak boleh lelah memberikan petunjuk, peringatan dan dorongan.
Dan seperti bumi yang besar yang tidak mempunyai rasa benci atau rasa suka; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu tidak mempunyai kebencian dan kesukaan.
22. Air
Seperti air yang secara alami tetap tenang; demikian juga seorang bhikkhu memiliki sifat tidak munafik, tidak suka berkeluh-kesah, tidak berbicara dengan maksud untuk memperoleh keuntungan, tidak berperilaku yang tercela, tetap tenang tak terganggu dan murni secara alami.
Seperti air yang selalu menyegarkan; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu penuh dengan welas asih, selalu mencari yang baik dan bermanfaat bagi semuanya.
Dan seperti air yang tidak pernah mencelakakan siapa pun; demikian juga seorang bhikkhu bersungguh-sungguh berusaha, tidak pernah melakukan kesalahan yang menyebabkan pertengkaran atau perselisihan, kemarahan atau ketidak-puasan.
Hal ini telah dikatakan oleh Sang Buddha dalam Kanha jataka:
'O Sakka, raja seluruh dunia, sebuah pilihan kau nyatakan: Tidak seharusnya ada makhluk yang dilukai untukku; O Sakka, di manapun, tidak di tubuh tidak pula di pikiran: Ini, Sakka, adalah doaku'. (Ja.iv.14.PTS trnsl)
27. Bulan
Seperti bulan yang berubah semakin besar dari hari ke hari; demikian juga seorang bhikkhu seharusnya meningkatkan sifat-sifatnya yang baik dari hari ke hari.
30. Raja Semesta
Seperti halnya raja semesta yang disenangi rakyatnya karena empat dasar ketenaran yaitu kemurahan hati, keramah-tamahan, keadilan dan sifatnya yang tidak memihak; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu yang disenangi oleh para bhikkhu dan umat awam.
Seperti raja semesta yang tidak mengijinkan para perampok berdiam di alamnya; demikian juga seorang bhikkhu seharusnya tidak mengijinkan pikiran yang jahat, yang bernafsu atau yang kejam berdiam di dalam pikirannya.
Dan seperti raja semesta yang berkelana ke seluruh dunia memeriksa yang baik dan jahat; demikian juga seorang bhikkhu seharusnya memeriksa dirinya dengan seksama dalam pikiran, perkataan dan perbuatannya.
40. Gajah
Seperti seekor gajah yang memutar seluruh tubuhnya ketika memandang sekelilingnya; demikian juga seorang bhikkhu seharusnya memutar tubuhnya ketika memandang sekelilingnya. Tidak melihat ke sana-sini melainkan mengendalikan matanya dengan baik.
Seperti gajah yang mengangkat kakinya dan melangkah dengan hati-hati; demikian juga seorang bhikkhu harus selalu waspada dan sepenuhnya menyadari gerak jalannya.
46. Bangau India
Seperti bangau India yang dengan jeritannya memperingatkan orang akan nasib mereka yang akan datang; demikian juga seorang bhikkhu harus memperingatkan orang akan nasib mereka di masa mendatang dengan Ajaran Dhamma-nya.
47. Kelelawar
Seperti kelelawar yang meskipun terkadang memasuki rumah orang dengan segera akan pergi; demikian juga seorang bhikkhu, meskipun dia memasuki rumah orang untuk berpindapatta, segera dia akan pergi.
Dan seperti kelelawar yang tidak merugikan bila mengunjungi rumah seseorang; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu. Ketika mengunjungi rumah orang dia tidak merugikan karena mudah dilayani dan penuh tenggang rasa melihat kesejahteraan mereka.
48. Lintah
Seperti lintah yang menghisap sampai kenyang sebelum melepas; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu teguh kukuh dalam objek meditasinya dan menghirup sepuasnya nektar kebebasan yang lezat.
50. Ular Batu
Seperti ular batu yang dapat bertahan hidup selama beberapa hari tanpa makan; demikian juga seorang bhikkhu seharusnya dapat terus bertahan meskipun dia hanya menerima sedikit makanan. Hal ini telah dikatakan oleh Bhante Sariputta:
'Tak peduli makanan basah atau kering yang dia santap, tidak pernah dia membiarkan dirinya makan kekenyangan. Pertapa yang baik meningalkan keduniawian dalam kekosongan, dan tetap makan secukupnya saja. Jika dia hanya mendapat empat atau lima suap, biarlah dia minum air. Hal itu bukan masalah bagi orang yang pikirannya tertuju ke tingkat Arahat dan mencari ketentraman'. (Thag.vv.982,983)
60. Tukang Kayu
Seperti tukang kayu yang membuang bagian kayu yang empuk dan hanya menggunakan bagian kerasnya saja; demikian juga seorang bhikkhu seharusnya membuang pandangan-pandangan salah seperti misalnya keabadian, kenihilan, jiwa adalah tubuh, jiwa adalah satu hal sedangkan tubuh adalah hal lain, semua ajaran sama baiknya, yang tidak terkondisi merupakan ketidak-mungkinan, tindakan manusia tidak ada gunanya, tidak ada kehidupan suci, ketika satu makhluk mati maka lahirlah satu makhluk yang baru, hal-hal yang terkondisi secara abadi ada, seseorang yang bertindak akan langsung mengalami hasil dari padanya, seseorang bertindak dan orang lainlah yang akan menerima akibatnya, dan segala macam pandangan salah lainnya mengenai buah dari kamma (niat) dan kiriya (perbuatan). Setelah membuang segala macam jalan seperti itu, dia harus memahami ide tentang kekosongan (void) yang merupakan keadaan yang sebenarnya dari hal-hal yang terkondisi.
61. Pot Air
Seperti halnya pot air yang penuh tidak menimbulkan suara; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu tidak menjadi banyak mulut meskipun dia tahu banyak. Hal ini telah dikatakan oleh Sang Buddha:
Dengarkanlah suara air. Dengarkanlah air yang mengalir melalui celah jurang dan bebatuan. Sungai yang kecillah yang menimbulkan suara yang keras. Sungai yang besar mengalir tanpa suara.
Yang kosong bersuara dan penuh tenang. Kebodohan seperti sebuah pot yang berisi setengahnya; orang bijaksana bagaikan sebuah danau yang penuh air. (Sn.vv.720,721)
Pada akhir perdebatan antara Sang bhikkhu thera dan raja ini, bumi yang besar ini bergetar enam kali, kilat menyambar di langit dan para dewa menaburkan bunga dari surga. Milinda dipenuhi oleh sukacita di dalam hatinya dan semua kesombongan lenyap dari dalam dirinya. Ia tidak lagi mempunyai keraguan tentang Sang Tiratana dan tidak lagi mempertahankan kekeras-kepalaannya, bagaikan kobra yang tidak lagi memiliki taring.
Raja kemudian berkata, "Sangat hebat, Yang Mulia Nagasena! Teka-teki yang pantas diselesaikan oleh seorang Buddha, telah Bhante selesaikan. Tidak ada yang seperti Bhante di antara para murid Sang Buddha, terkecuali Yang Mulia Sariputta. Bhante, maafkanlah segala kesalahan saya. Semoga Bhante sudi menerima saya sebagai murid, sebagai seseorang yang telah menemukan perlindungan selama hidupnya".
Dan sang raja, beserta para prajuritnya, menyokong Sang bhikkhu thera itu beserta sejumlah besar pengikutnya. Dia membangun tempat tinggal yang diberi nama Vihara Milinda. Dan di kemudian hari, Milinda menyerahkan kerajaannya kepada putranya. Setelah meninggalkan kehidupan berumah tangga, dia mengembangkan pandangan terang dan mencapai tingkat Arahat.
***
Sumber:
Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating
Ringkasan Milinda Panha 16
Ringkasan Milinda Panha 16
Bagian Enam Belas
1. Pertanyaan Yang Diselesaikan Dengan kesimpulan
Milinda sang raja menemui Nagasena di kediamannya, dan setelah memberi hormat, raja duduk di satu sisi. Karena ingin mengetahui, mendengar dan mengingat di dalam pikiran, serta karena ingin menghalau kebodohan batinnya, Milinda mengumpulkan keberanian dan semangatnya, memantapkan kontrol diri dan perhatiannya dan kemudian berbicara kepada Nagasena:
"Sudah pernahkah Bhante melihat Sang Buddha?" (D.i.Sta.13)
"Belum, Baginda raja".
"Sudah pernahkah guru-guru Bhante melihat Sang Buddha?"
"Belum, Raja yang agung".
"Kalau begitu, Bhante Nagasena, Sang Buddha itu tidak ada; tidak ada bukti yang jelas akan keberadaan Sang Buddha".
"Baginda, apakah para pejuang gagah berani yang merupakan pendiri dari deretan raja yang menurunkan Baginda itu ada?"
"Tentu saja, Bhante. Tidak ada keraguan tentang hal itu".
"Sudah pernahkah Baginda melihat mereka?"
"Belum, Bhante".
"Apakah para guru dan menteri negara yang menetapkan undang-undang sudah pernah melihat mereka?"
"Belum, Bhante".
"Kalau begitu, Baginda, tidak ada bukti yang jelas tentang keberadaan para pejuang jaman dahulu itu".
"Tetapi, Bhante Nagasena, lencana kerajaan yang mereka gunakan masih dapat dilihat, dan dari situ kita dapat menyimpulkan dan mengetahui bahwa para pejuang dahulu itu benar-benar ada".
"Demikian juga, O Baginda raja. Kita dapat mengetahui bahwa Sang Buddha pernah hidup dan kita dapat mempercayai Beliau. Lencana kerajaan yang dipakai Sang Buddha masih dapat dilihat. Ada empat landasan perhatian, empat daya upaya benar, empat landasan keberhasilan, lima kekuatan moral, lima indria pengontrol, tujuh faktor pencerahan dan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Dari semua ini kita dapat menyimpulkan dan mengetahui bahwa Sang Buddha benar-benar ada".
"Berilah saya ilustrasi".
"Seperti halnya orang yang melihat kota yang indah dan terencana dengan baik akan mengetahui bahwa kota itu ditata oleh arsitek yang ahli; demikian juga kota kebenaran yang dibangun oleh Sang Buddha dapat dilihat. Kota ini memiliki perhatian yang tak terputus sebagai jalan utamanya, dan di jalan utama itu terdapat kios-kios pasar yang menjual bunga, parfum, buah, penawar racun, obat-obatan, nektar, permata yang tak ternilai, dan segala macam barang dagangan. Demikianlah, O Baginda raja. Kota kebenaran Sang Buddha direncanakan dengan baik, dibangun dengan kuat, dan terlindung dengan baik sehingga kota itu tak dapat ditembus musuh; dan dengan cara menyimpulkan seperti inilah Baginda dapat mengetahui bahwa Sang Buddha pernah ada".
"Apakah bunga di kota kebenaran itu?"
"Ada beberapa objek meditasi yang diperkenalkan oleh Sang Buddha: persepsi tentang ketidak-kekalan, tentang ketidak-puasan, tidak adanya jiwa, sifat yang menjijikan, bahaya, meninggalkan keduniawian, hilangnya nafsu, kekecewaan terhadap semua alam kehidupan, ketidak-kekalan semua bentukan mental (sankhara); meditasi dengan memperhatikan nafas, persepsi mengenai sembilan macam mayat dalam proses pembusukan yang berlangsung, meditasi cinta kasih (metta), welas asih (karuna), sukacita dengan simpati (mudita) dan keseimbangan batin (upekkha); serta kesadaran akan kematian dan kesadran tentang 32 bagian tubuh. Siapapun yang ingin terbebas dari usia tua dan kematian dapat memilih salah satu dari objek tersebut. Dia akan dapat terbebas dari nafsu ketamakan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin, kesombongan dan pandangan salah (moha). Dia dapat menyeberangi lautan samsara, membendung derasnya aliran nafsu keinginan, dan menghancurkan semua penderitaan. Dia kemudian dapat memasuki kota Nibbana dimana terdapat rasa aman, ketenangan dan kebahagiaan".
"Apakah parfum kota kebenaran itu?"
Parfum itu ada dalam bentuk pelaksanaan pengendalian diri lewat tiga perlindungan (Tisarana), Pancasila, Atthasila, Dasasila, serta Patimokkha bagi para bhikkhu. Hal ini dikatakan oleh Sang Buddha:
'Tak ada bau harum bunga yag dapat melawan arah angin; Baik itu cendana, sari wewangian, atau bunga melati. Tetapi harumnya kebajikan dapat melawan arah angin; Ke segala arah menyebar harumnya nama orang yang bajik'. (Dhp.v.54)
"Apakah buah dari kota kebenaran itu?"
"Buah itu ada dalam bentuk sotapana, sakadagami, anagami, Arahat, pencapaian kekosongan, pencapaian animitta (keadaan tanpa tanda) dan pencapaian hilangnya nafsu. Orang yang dengan tekad yang besar merenungkan anicca (ketidak-kekalan) mencapai animitta, yang dengan ketenangan yang besar merenungkan dukkha (ketidak-puasan) mencapai keadaan tanpa keinginan, yang dengan kebijaksanaan yang besar merenungkan anatta (tiada 'aku') mencapai kekosongan".
"Apakah penawar racun di kota kebenaran itu?"
"Empat Kesunyataan Mulia adalah penawar bagi racun kegelapan batin. Siapa pun yang merindukan pandangan terang yang tertinggi dan mendengar Ajaran ini akan terbebas dari kelahiran, usia tua, kematian, penderitaan, kesakitan, dukacita, ratap-tangis dan keputus-asaan".
"Apakah obat di kota kebenaran itu?"
"Obat-obat tertentu, O Raja, telah diramu oleh Sang Buddha untuk menyembuhkan para dewa maupun manusia. Obat-obatan itu adalah: Empat Landasan Perhatian, Empat Usaha Benar, Empat landasan keberhasilan, Lima indria pengontrol, Lima kekuatan moral, Tujuh faktor kesucian, dan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Dengan obat-obatan ini Sang Buddha menyembuhkan orang dari pandangan salah, pikiran salah, ucapan salah, tindakan salah, mata pencaharian salah, usaha salah, perhatian salah, dan konsentrasi salah. Beliau membebaskan mereka dari ketamakan, kebencian dan khayalan, kesombongan, sakayyaditthi (pandangan tentang diri), keraguan, kegelisahan, kemalasan dan kelambanan, tidak tahu malu dan kesembronoan serta semua kekotoran batin lainnya".
"Apakah nektar di kota kebenaran itu?"
"Perhatian akan tubuh adalah bagaikan nektar, karena semua makhluk yang minum nektar perhatian akan tubuh ini akan terbebas dari segala penderitaan. Hal ini dikatakan oleh Sang Buddha:
'Mereka yang memanfaatkan perhatian akan tubuh akan menikmati nektar keadaan tanpa kematian'". (A.i.45)
"Apakah permata yang tak ternilai di kota kebenaran itu?"
"Kemoralan, konsentrasi, kebijaksanaan, kebebasan, pengetahuan dan visi kebebasan, pengetahuan membedakan, dan faktor-faktor pencerahan adalah permata yang tak ternilai dari Sang Buddha.
Dan apakah permata yang tak ternilai dari kemoralan? Yaitu nilai-nilai luhur pengendalian diri lewat peraturan Patimokkha; nilai-nilai luhur pengendalian diri indra; nilai-nilai luhur dari mata pencaharian yang benar; nilai-nilai luhur dari perenungan terhadap penggunaan empat kebutuhan pokok secara benar: pindapatta, obat-obatan, jubah, dan tempat tinggal; nilai-nilai luhur pengendalian diri sesuai dengan vinaya yang pokok, menengah dan kecil, serta nilai-nilai luhur yang sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang yang luhur.
Dan apakah permata yang tak ternilai dari konsentrasi? Yaitu jhana pertama dengan savitakkasavicara (pikiran yang diterapkan dan pikiran yang bertahan), jhana kedua dengan avitakkasavicara (tanpa pikiran yang diterapkan tetapi dengan pikiran yang bertahan), jhana ketiga dengan avitakka-avicara (tanpa pikiran yang diterapkan maupun pikiran yang bertahan) tetapi dengan sukacita yang murni, kebahagiaan, dan tertuju pada satu titik; dan ini juga merupakan konsentrasi pada kekosongan, animitta dan tiadanya nafsu. Ketika seorang bhikkhu mengenakan permata konsentrasi ini, maka pikiran yang jahat dan pikiran yang tidak bermanfaat akan terkibas dari pikirannya bagaikan air di daun teratai.
Dan apakah permata yang tak ternilai dari kebijaksanaan? Yaitu pegetahuan tentang apa yang bajik dan tidak bajik, apa yag tercela dan apa yang terpuji, serta pengetahuan tentang Empat Kesunyataan Mulia.
Dan apakah permata yang tak ternilai dari kebebasan? Menjadi Arahat adalah permata dari segala permata, permata yang tak ternilai dari kebebasan. Jika seorang bhikkhu mengenakannya, dia akan menjadi lebih cemerlang daripada yag lainnya.
Dan apakah permata yang tak ternilai dari pengetahuan dan visi kebebasan? Yaitu pengetahuan yang digunakan para siswa untuk meninjau lagi Sang Jalan, buah-buahnya dan Nibbana, dan merenungkan kekotoran batin yang telah dapat dihilangkan dan kekotoran batin yang masih ada.
Dan apakah permata yang tak ternilai dari pengetahuan membedakan? Yaitu pemahaman analitis terhadap arti, hukum, bahasa dan intelegensi. Siapapun yang mengenakan permata ini tidak akan takut menghadapi segala macam pertemuan, dan percaya diri karena tahu bahwa ia dapat menjawab segala macam pertanyaan yang diajukan padanya.
Dan apakah permata yang tak ternilai dari faktor-faktor kesucian? Yaitu permata kesadaran (Sati), penyelidikan Dhamma (Dhammacicaya), usaha yang bersemangat (Viriya), sukacita (Piti), ketenangan (Passaddhi), konsentrasi (Samadhi) dan keseimbangan batin (Upekkha). Dihiasi dengan permata-permata ini, seorang bhikkhu akan menerangi dunia dengan keluhurannya".
2. Latihan Pertapa
Sang Raja melihat para bhikkhu di hutan yang sendiri dan jauh dari orang lain, yang menjalankan latihan yang berat sesuai tekadnya. Dan kemudian ia juga melihat para perumah-tangga di rumah mereka yang memetik buah manis dari Jalan Mulia. Mempertimbangkan kedua hal ini, raja merasakan keraguan yang dalam.
"Jika umat awam juga mewujudkan kebenaran, maka bertekad seperti itu tentunya sia-sia saja. Baiklah! Akan saya tanyakan pada guru yang terbaik, yang bijaksana dalam ketiga kitab suci yang berisi sabda Sang Buddha, yang terampil menyanggah argumentasi lawannya. Ia akan mampu memecahkan keragu-raguanku!"
Milinda mendatangi Nagasena, memberi hormat, duduk di satu sisi dan bertanya: "Bhante, apakah ada umat awam yang telah mencapai Nibbana?"
"Tidak hanya seratus atau seribu, tetapi lebih dari semilyar yang telah mencapai Nibbana". (Selain manusia, banyak dewa yang mencapai Nibbana pada waktu mendengarkan Dhamma).
"Bhante Nagasena, jika seorang perumah tangga yang hidup di rumahnya bisa menikmati kesenangan-kesenangan indria, dan juga dapat mencapai Nibbana, apakah gunanya tekad tambahan tersebut? Jika musuh dapat dikalahkan hanya dengan menggunakan tinju, apa gunanya mencari senjata? Jika pohon dapat dipanjat begitu saja, apa gunanya tangga? Jika berbaring di lantai sudah nyaman, apa gunanya tempat tidur? Demikian juga, jika orang awam dapat mencapai Nibbana sementara hidup di rumah, apa gunanya tekad tambahan?"
"O Raja. Ada 28 keluhuran tekad ini yang dinilai tinggi oleh para Buddha. Menjaga tekad adalah:
1. suatu cara hidup murni;
2. buahnya membahagiakan;
3. tidak tercela;
4. tidak membawa penderitaan bagi yang lain;
5. memberikan keyakinan (dia bebas dari rasa takut terhadap perampok);
6. tidak menekan (tak perlu melindungi hartanya);
7. pasti menyebabkan pertumbuhan sifat-sifat yang baik;
8. mencegah kemunduran;
9. tidak mengotori batin;
10. merupakan suatu perlindungan;
11. memenuhi keinginan;
12. menjinakkan semua makhluk;
13. baik bagi disiplin diri;
14. pantas bagi seorang pertapa;
15. dia mandiri (tidak melekat kepada keluarga);
16. dia bebas (dan bebas pergi ke mana pun juga). (Vism.59-83)
17. kemoralan ini juga menghancurkan nafsu (lobha);
18. menghancurkan kebencian (dosa);
19. menghancurkan kebodohan batin (moha);
20. mengikis kesombongan;
21. memutus pikiran yang melantur dan membuat pikiran menuju satu titik;
22. mengatasi keraguan;
23. menghalau kelambanan;
24. melenyapkan ketidak-puasan;
25. membuat orang toleran;
26. keluhuran ini tidak ada bandingnya;
27. tak terukur; dan
28. mengarah pada penghancuran segala penderitaan.
Dan siapa pun yang melaksanakan tekad-tekad itu akan mendapat 18 sifat baik:
1. kelakuannya murni;
2. latihannya sepenuhnya tercapai;
3. tindakan dan kata-katanya terjaga baik;
4. pikirannya murni;
5. semangatnya bangkit;
6. ketakutannya berkurang;
7. pandangannya tentang ego hilang;
8. kemarahannya lenyap; dan
9. cinta-kasihnya tumbuh;
10. dia makan dengan pemahaman sifat makanan yang menjijikan;
11. dia dihormati oleh semua makhluk;
12. dia makan secukupnya;
13. dia penuh kewaspadaan;
14. dia tak-berumah; dan
15. dapat bertempat tinggal di mana pun juga;
16. dia jijik terhadap kejahatan;
17. dia bersukacita dalam kesendirian; dan
18. dia selalu penuh perhatian.
Dan sepuluh macam orang yang pantas mengambil sumpah-sumpah itu:
1. orang yang penuh dengan kepercayaan diri;
2. orang yang tahu malu;
3. orang yang penuh keberanian;
4. orang yang tidak memiliki kemunafikan;
5. orang yang mengandalkan diri sendiri;
6. orang yang tegar;
7 orang yang berniat untuk berlatih;
8. orang yang memiliki kebulatan tekad;
9. orang yang sangat mawas diri; dan
10. orang yang penuh kasih sayang.
Dan semua orang awam yang mewujudkan Nibbana sementara hidup di rumah adalah mereka yang telah menjalankan tekad ini dalam kehidupan-kehidupan mereka sebelumnya. Tidak mungkin ada realisasi tujuan menjadi Arahat dalam hidup kali ini tanpa tekad-tekad tersebut. Arahat hanya dapat dicapai dengan kerja yang amat sangat keras. Oleh karena itulah maka nilai menjaga tekad tersebut sangat tinggi dan berharga.
Dan siapapun, O Baginda raja, yang mempunyai pikiran jahat dan berniat mengambil tekad ini dengan tujuan mencari keuntungan materi, akan mendapatkan hukuman ganda: di dunia ini dia akan dipandang rendah dan dicemooh, dan sesudah mati dia akan menderita di neraka.
Tetapi siapapun, O Baginda raja, yang perilakunya sesuai dengan kehidupan kebhikkhuan, yang layak menjadi bhikkhu, yang keinginannya sedikit dan dapat berpuas hati, terbiasa dengan kesendirian, penuh semangat, tidak memiliki akal bulus, dan telah meninggalkan keduniawian bukan karena ingin memperoleh keuntungan dan ketenaran melainkan karena memiliki keyakinan terhadap Dhamma, yang menginginkan kebebasan dari usia tua dan kematian, dia pantas mendapat penghormatan ganda karena dia dicintai oleh para manusia maupun dewa. Dan dengan cepat dia memperoleh empat buah, empat jenis diskriminasi (diskriminasi arti, hukum, bahasa dan inteligensi), visi berunsur tiga [Tevijja —ingatan akan kehidupan lalu, pengetahuan akan muncul dan lenyapnya makhluk, pengetahuan akan penghancuran banjir (asava)], dan pengetahuan berunsur enam yang lebih tinggi (abhinnana —kekuatan supra-normal seperti misalnya terbang di angkasa, memiliki telinga yang luar biasa daya dengarnya, penembusan pikiran, ditambah tiga di atas).
Dan apakah tiga belas tekad tersebut?
1. mengenakan jubah yang dipotong-potong;
2. menggunakan hanya tiga jubah;
3. hidup hanya dengan pindapatta;
4. pindapatta dari satu rumah ke rumah lain tanpa pilih-pilih;
5. makan sekali sehari;
6. makan dari mangkuk saja;
7. menolak makanan yang ditawarkan sesudah (pindapatta) itu;
8. hidup di hutan;
9. bertempat tinggal di bawah pohon;
10. bertempat tinggal di tempat terbuka;
11. hidup di kuburan;
12. menggunakan tempat tidur manapun yang diberikan; dan
13. tidak berbaring untuk tidur. (Baca Vism.59ff untuk keterangan lebih terinci)
Dan dengan menjalankan tekad-tekad inilah Upasena dapat mengunjungi Sang Buddha ketika Beliau sedang menyendiri (Vin.iii.230ff), dan karena tekad yang sama pula Sariputta memiliki keluhuran yang begitu tinggi sehingga dia dinyatakan sebagai orang kedua yang hanya kalah oleh Sang Buddha dalam kemampuannya membabarkan Dhamma". (A.i.23, S.i.191)
"Bagus sekali Bhante Nagasena. Seluruh ajaran Sang Buddha, pencapaian adi-duniawi (lokuttara) dan semua hasil terbaik di dunia ini termasuk di dalam 13 latihan pertapa ini".
***
Sumber:
Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating
Ringkasan Milinda Panha 15
Ringkasan Milinda Panha 15
Bagian Lima Belas
71. Pemberian Vessantara (Ja.vi.479ff)
"Bhante Nagasena, apakah semua Bodhisatta meninggalkan istri dan anaknya, atau hanya Vessantara saja?"
"Semuanya".
"Tetapi apakah semua istri dan anaknya menyetujuinya?"
"Para istri menyetujuinya, tetapi anak-anaknya tidak setuju, karena usia mereka yang masih muda".
"Tetapi, apakah tindakan itu bijak, karena toh anak-anaknya ketakutan dan menangis ketika ditinggalkan?"
"Ya. Seperti halnya seseorang yang ingin berbuat kebajikan, dia akan membawa seseorang yang cacat dalam kereta kemanapun ia pergi sehingga membuat kerbaunya menderita; atau seperti halnya seorang raja harus menarik pajak dalam rangka berbuat kebajikan yang besar; demikian juga tindakan memberi. Meskipun hal itu dapat menyebabkan kesedihan yang mendalam bagi beberapa orang, tetapi akan membawa kelahiran kembali di alam surga. Apakah ada, O Baginda, pemberian yang seharusnya tidak diberikan?"
"Ya, Bhante Nagasena. Ada sepuluh macam pemberian yang tidak seharusnya diberikan, pemberian yang menyebabkan kelahiran kembali di alam yang menyedihkan:
1. pemberian yang dapat membuat mabuk;
2. pemberian dalam bentuk pesta;
3. pemberian dalam bentuk wanita;
4. pemberian dalam bentuk pria;
5. pemberian dalam bentuk maksud-maksud tertentu yang tidak baik;
6. pemberian dalam bentuk senjata;
7. pemberian dalam bentuk racun;
8. pemberian dalam bentuk rantai atau alat penyiksaan;
9. pemberian dalam bentuk unggas dan babi;
10. pemberian dalam bentuk timbangan dan alat ukur yang salah".
"Saya tidak bertanya tentang pemberian yang tidak disetujui secara duniawi. Saya bertanya tentang pemberian yang tidak boleh diberikan meskipun ada orang yang patut menerimanya".
Kalau begitu, Bhante Nagasena, tidak ada pemberian yang tidak seharusnya diberikan. Bilamana keyakinan dalam Dhamma telah muncul, beberapa orang memberikan 100.000, atau suatu kerajaan, atau bahkan kehidupan mereka".
"Kalau begitu mengapa Baginda mengkritik pemberian Vessantara dengan begitu sengitnya? Bukankah terkadang ada kasus dimana seseorang yang terlilit hutang mungkin menjual anaknya atau menanggungkannya sebagai agunan? Demikian juga, Vessantara memberikan anaknya sebagai tekad bagi pencapaian kemaha-tahuannya di masa depan".
"Tetapi mengapa ia tidak memberikan dirinya sendiri saja?"
"Karena bukan itu yang diminta. Menawarkan sesuatu yang lain akan menjadi rendah nilainya. Lagi pula, O Baginda raja. Vessantara tahu bahwa Brahmana tersebut tidak akan mampu mempekerjakan anak-anaknya sebagai budak dalam waktu yang lama karena ia telah lanjut usia dan kakek mereka akan menebus mereka kembali".
"Dengan baik sekali, Bhante, teka-teki ini telah tersingkap dan jaring klenik ini telah terobek-robek. Bagus sekali cara Bhante tetap menjaga kata-kata dalam kitab suci ketika Bhante menjelaskan apa yang tersirat. Demikianlah adanya, dan saya menerimanya seperti kata Bhante".
72. Disiplin Yang Keras (Kesederhanaan, Tanpa Kesenangan)
"Apakah semua Bodhisatta berlatih pengendalian diri dengan disiplin yang amat keras, atau hanya Bodhisatta Gotama?"
"Hanya Bodhisatta Gotama (M.Sta.81, Ap.301 —sebagai akibat melecehkan Buddha Kassapa dalam kehidupan yang lampau). Ada empat perbedaan di antara Bodhisatta. Tentang:
1. keluarga (yaitu antara kasta prajurit atau kasta brahmana);
2. lamanya waktu untuk mengembangkan kesempurnaan;
3. masa hidup; dan
4. ketinggian
Tetapi tidak ada perbedaan di antara para Buddha dalam hal keluhuran atau kebijaksanaan mereka. Dalam rangka membawa pengetahuan ini menuju kematanganlah maka Beliau harus berlatih pengendalian diri dengan disiplin yang amat keras".
"Kalau begitu, Bhante Nagasena. Mengapa beliau pergi ketika pengetahuannya masih belum matang? Mengapa beliau tidak mematangkan terlebih dahulu pengetahuannya dan kemudian baru meninggalkan kehidupan duniawi?"
"Ketika Bodhisatta, O Baginda raja, melihat wanita-wanita di haremnya tidur dengan tidak teratur, beliau merasa muak dan resah. Karena melihat bahwa pikiran beliau dipenuhi dengan ketidak-puasan, Mara berkata, 'Tujuh hari dari sekarang kau akan menjadi Monarki Penguasa Dunia'. Tetapi Sang bodhisatta malah merasa telinganya seakan-akan dimasuki sepotong besi panas, dan beliau dipenuhi dengan kegelisahan dan ketakutan. Apalagi, O Baginda raja, Sang Bodhisatta berpikir, 'Jangan sampai aku disalahkan di kalangan dewa dan manusia karena tidak memiliki pekerjaan atau sarana. Biarlah aku menjadi orang yang mau bertindak dan tetap bersungguh-sungguh'. Dengan demikian Sang Bodhisatta menggunakan pengendalian diri tersebut untuk mematangkan pengetahuannya".
"Yang Mulia Nagasena. Ketika Sang Bodhisatta sedang menjalani pengendalian diri, timbul dalam pemikiran beliau, 'Mungkinkah ada jalan lain menuju pengetahuan yang lebih tinggi yang dapat dicapai orang yang mulia?' Apakah itu berarti bahwa beliau bingung mengenai jalan yang benar?"
"Ada dua puluh lima kondisi, O Baginda raja, yang menyebabkan lemahnya pikiran: kemarahan, permusuhan, kemunafikan, kedengkian, keiri-hatian, ketamakan, kebohongan, pengkhianatan, kekeras-kepalaan, suka melawan, harga diri, kesombongan, kecongkakan, ketidak-pedulian, keengganan, rasa mengantuk, kemalasan, teman yang jahat, penglihatan, suara, bau, rasa, sensasi sentuhan, kelaparan, kehausan, dan ketidak-puasan. Dan kelaparan serta rasa hauslah yang menguasai tubuhnya sehingga pikirannya menjadi tidak terarah dengan benar untuk memusnahkan banjir (asava). Sang Bodhisatta telah mencari pencerapan Empat Kesunyataan Mulia selama beberapa kalpa, jadi bagaimana mungkin dapat timbul kebingungan dalam pikirannya tentang jalan itu? Meskipun begitu beliau berpikir, 'Mungkinkah ada jalan lain untuk mencapai kebijaksanaan?' Sebelumnya, ketika berumur satu bulan Sang Bodhisatta telah mencapai empat penyerapan (jhana) ketika sedang bermeditasi di bawah pohon rose-apel ketika ayahnya sedang membajak". (M.i.246, Ja.i.57)
"Bagus sekali Bhante Nagasena. Saya menerimanya seperti apa yang Bhante katakan. Ketika sedang membawa pengetahuannya menuju kematanganlah Sang Bodhisatta berlatih pengendalian diri dengan disiplin yang amat keras".
73. Kekuatan Kejahatan
"Manakah yang lebih kuat, kebajikan atau kebatilan (ketidak-bajikan)?" (Lihat pertanyaan Bab 7 No. 7 di atas).
"Kebajikan lebih kuat, O Baginda raja".
"Itu adalah sesuatu yang tidak dapat saya percaya. Orang-orang yang melakukan kejahatan dalam kehidupan ini sering menerima hasil perbuatannya itu pada kehidupan yang sekarang ini juga ketika mereka dihukum karena kejahatannya. Tetapi apakah ada orang, yang karena memberikan persembahan bagi Sangha atau menjalankan Uposattha, menerima manfaatnya pada kehidupan sekarang ini juga?"
"Ada, O Baginda raja, enam kasus seperti itu. (Lihat juga Bab 8 No. 4)
1. Si budak Punnaka, dengan memberikan makanan kepada Sariputta, pada hari yang sama mendapat kehormatan menjadi seorang bendahara.
2. Kemudian ada juga ibu Gopala, yang menjual rambutnya agar dapat memberikan makanan kepada Maha Kaccayana dan sebagai hasilnya menjadi permaisuri Raja Udena.
3. Si wanita saleh Suppiya, yang memotong daging di pahanya untuk memberi makan seorang bhikkhu yang sakit, keesokan harinya lukanya langsung sembuh sama sekali.
4. Mallika, ketika masih menjadi seorang budak wanita, memberikan makanannya sendiri kepada Sang Buddha dan pada hari itu juga menjadi permaisuri di Kosala.
5. Sumana —tukang bunga, yang memberikan delapan ikat bunga melati pada Sang Buddha, memperoleh kemakmuran yang melimpah; serta
6. Ekasataka si Brahmana yang memberikan satu-satunya pakaian luarnya kepada Sang Buddha dan pada hari itu juga menerima pemberian 'Serba 8' (8 gajah, 8 kuda, 8 ribu kahapanna, 8 wanita, 8 budak, dan hasil penjualan dari 8 desa)".
"Jadi, Bhante, kalau begitu Bhante hanya dapat menemukan delapan kasus dari seluruh penelidikan Bhante?"
"Demikianlah, O Baginda raja".
"Kalau begitu kebatilan lebih kuat daripada kebajikan. Karena saya telah melihat banyak orang ditusuk dengan senjata tajam sebagai hukuman atas perbuatan jahat mereka. Dan dalam peperangan yang dipimpin oleh Jendral Bhaddasala mewakili keluarga kerajaan Nanda melawan Chandagutta ada 80 Tarian Mayat, karena mereka berkata bahwa ketika terjadi pembantaian besar-besaran, mayat-mayat tanpa kepala tersebut bangkit kembali dan menari di kancah peperangan. Dan semua orang itu hancur sebagai hasil dari perbuatan jahat mereka. Tetapi ketika raja Kosala memberikan persembahan dana makanan yang tidak tertandingi, apakah dalam kehidupannya itu juga ia menerima kekayaan atau keagungan atau kebahagiaan?"
"Tidak, O Baginda raja, tidak".
"Kalau begitu, Bhante Nagasena. Tentu saja kebatilan lebih kuat daripada kebajikan".
"Seperti halnya, O Baginda raja, padi yang jelek akan masak dalam waktu satu atau dua bulan tetapi padi yang baik akan masak baru setelah lima atau enam bulan, perbuatan baik baru akan berbuah dalam jangka waktu lama. Apalagi, O Baginda raja, hasil dari perbuatan baik maupun perbuatan jahat akan dialami dalam kehidupan yang akan datang; tetapi karena kesalahan kejahatan, maka telah ditetapkan bahwa mereka yang berbuat jahat akan dihukum menurut hukum; tetapi mereka yang berbuat baik tidak akan dihadiahi. Jika seandainya telah ditetapkan suatu hukum untuk memberikan hadiah bagi pelaku perbuatan baik, maka perbuatan baik juga akan dihadiahi dalam kehidupan ini juga".
"Bagus sekali, Bhante Nagasena. Hanya seseorang yang bijaksana seperti Bhante maka teka-teki semacam ini dapat diselesaikan. Pertanyaan yang saya ajukan dari sudut pandang yang biasa telah Bhante jelaskan dengan cara yang luar biasa".
74. Membagikan Jasa
"Apakah ada kemungkinan bagi keluarga yang telah meninggal untuk ikut menerima jasa dari suatu perbuatan baik?"
"Tidak. Hanya mereka yang dilahirkan sebagai setan kelaparan yang makanannya adalah perbuatan baik orang lainlah yang dapat ikut menerima jasa. Mereka yang dilahirkan di neraka, surga, terlahir sebagai binatang, setan kelaparan yang makanannya muntahan, atau setan kelaparan yang dipenuhi oleh ketamakan, tidak akan mendapatkan manfaat".
"Kalau begitu, persembahan dalam kasus-kasus itu tidak ada gunanya, karena mereka yang diberi tidak mendapat manfaat".
"Tidak demikian, O Baginda raja. Persembahan-persembahan itu bukannya tidak berguna atau tidak berbuah, karena si pemberi sendiri mendapat manfaat darinya".
"Yakinkanlah saya dengan alasan".
"Bila beberapa orang telah menyiapkan hidangan dan mengunjungi sanak saudaranya tetapi sanak-saudara mereka itu tidak menerima pemberian itu, apakah pemberian tersebut menjadi sia-sia?"
"Tidak, Yang Mulia. Si pemilik sendiri dapat memakannya".
"Demikian juga, O Raja. Si pemberi persembahan mendapatkan manfaat dari persembahan dana tersebut".
"Kalau begitu, apakah juga mungkin membagikan ketidak-bajikan?"
"Ini bukanlah pertanyaan yang patut ditanyakan, O Baginda raja. Anda kemudian akan bertanya kepada saya mengapa ruang angkasa tidak terbatas dan mengapa manusia dan burung mempunyai dua kaki sedangkan rusa mempunyai empat!"
"Saya tidak bertanya seperti itu untuk menjengkelkan Bhante, tetapi banyak orang di dunia ini yang tersesat (berpikiran jahat, memiliki pandangan salah) atau tidak dapat melihat (bodoh)".
"Meskipun suatu tanaman dapat menjadi masak dalam air tangki, tetapi tidak mungkin dalam air laut. Perbuatan jahat tidak dapat dibagikan kepada siapa yang tidak melakukannya dan tidak menyetujuinya. Orang mengalirkan air dengan menggunakan pipa-pipa air tetapi mereka tidak dapat mengalirkan batu yang padat dengan cara yang sama. Kebatilan atau ketidak-bajikan adalah sesuatu yang jahat, sedangkan kebajikan adalah sesuatu yang sangat hebat".
"Berikanlah penjelasan".
"Jika setetes air jatuh ke tanah, apakah air itu dapat mengalir sepanjang 50 atau 60 kilometer?"
"Tentu saja tidak, Bhante. Titik air itu hanya akan mempengaruhi tanah dimana ia jatuh".
"Mengapa demikian?"
"Karena sifat sedikitnya".
"Demikian juga, O Baginda raja. Kebatilan adalah sesuatu yang jahat dan karena sifat sedikitnya, ia hanya dapat mempengaruhi si pelaku dan tidak dapat dibagikan. Tetapi jika ada hujan badai yang sangat hebat, apakah airnya akan sampai ke mana-mana?"
"Tentu saja, Bhante. Bahkan bisa sejauh 50 atau 60 kilometer".
"Demikian juga, O Raja. Kebajikan adalah sesuatu yang hebat dan karena sifat melimpahnya, ia dapat dibagikan baik kepada manusia maupun dewa".
"Bhante Nagasena, mengapakah kebatilan begitu terbatas sifatnya, sedangkan kebajikan dapat menjangkau lebih jauh?"
"Siapa pun, O Baginda raja, yang memberikan persembahan, menjalankan sila dan melakukan Uposattha, ia akan merasa gembira dan berada gembira dan berada dalam ketenangan. Karena ketenangannya maka kebaikannya bahkan menjadi semakin melimpah. Seperti kolam air yang dalam dan jernih, segera setelah air mengalir keluar di salah satu sisinya, tempat itu akan terisi penuh lagi dari segala arah. Demikian juga, O Raja, jika seseorang akan mengirimkan kebajikan yang telah dilakukannya kepada orang lain, bahkan selama 100 tahun kebaikannya akan semakin bertumbuh. Itulah sebabnya mengapa kebajikan itu begitu hebat. Tetapi dengan perbuatan jahat, O Baginda raja, orang akan dipenuhi oleh rasa penyesalan dan pikirannya tidak akan dapat terlepas darinya. Dia merasa tertekan dan tidak mendapatkan ketenangan, lalu karena merasa putus asa dia menjadi sia-sia. Seperti halnya, O Raja, setetes air yang jatuh di sungai yang kering tidak akan dapat menambah isinya dan malahan akan langsung tertelan di titik jatuhnya. Inilah sebabnya ketidak-bajikan sangat jahat dan mempunyai sifat sedikit".
75. Mimpi
"Apakah sesuatu yang disebut mimpi itu dan siapakah yang bermimpi?"
"Mimpi adalah tanda yang datang melintasi jalur pikiran. Dan ada enam macam orang yang melihat impian. Orang yang dipengaruhi:
1. oleh angin melihat impian; yang dipengaruhi
2. oleh empedu;
3. oleh lendir;
4. oleh dewa;
5. oleh kebiasaannya sendiri; dan
6. oleh pertanda.
Hanya yang terakhir inilah yang benar, sedang yang lain semuanya tidak benar".
"Ketika seseorang bermimpi, apakah ia sedang terjaga atau tidur?"
"Tidak kedua-duanya. Ia bermimpi ketika sedang 'tidur-tidur monyet', yaitu keadaan antara tidur dan sadar".
76. Kematian Yang Prematur
"Bhante Nagasena, apakah semua makhluk hidup mati ketika jangka waktu hidup mereka telah berakhir, atau apakah beberapa di antaranya mati prematur?"
"Keduanya, O Baginda raja. Seperti halnya buah di pohon yang terkadang jatuh ketika telah masak dan terkadang sebelum masak karena pengaruh angin, serangga atau tongkat. Demikian juga ada makhluk mati ketika jangka waktu hidup mereka telah tiba, tetapi ada juga yang mati secara prematur".
"Tetapi Bhante Nagasena, semua yang mati prematur tersebut, baik yang mati tua atau muda, telah mencapai akhir dari jangka waktu hidup yang telah ditentukan sebelumnya. Jadi tidak ada sesuatu yang dinamakan mati prematur".
"O Raja. Ada tujuh macam kematian prematur bagi mereka yang mati secara prematur, walaupun mereka itu sebelumnya masih mempunyai jangka waktu hidup:
1. karena kelaparan;
2. kehausan;
3. gigitan ular;
4. racun;
5. api;
6. tenggelam;
7. senjata.
Dan kematian datang melalui delapan cara:
1. melalui angin;
2. empedu;
3. lendir;
4. campuran cairan tubuh;
5. perubahan temperatur;
6. tekanan keadaan lingkungan;
7. pengaruh luar; dan
8. kamma. (Lihat pula Bab 8 No. 8)
Dan dari semua tadi, hanya yang melalui kamma saja yang dapat disebut akhir dari jangka waktu hidup. Yang lain semuanya prematur".
"Yang Mulia Nagasena, Bhante mengatakan ada kematian prematur. Berikanlah alasan lain untuk itu".
"Api besar, O Raja, yang kehabisan tenaga dan mati ketika bahan bakarnya telah habis, bukan sebelumnya karena berbagai penyebab lain, dikatakan api itu telah mati sesuai dengan waktunya. Demikian juga dengan seseorang yang mati dalam usia tua tanpa ada kecelakaan apapun dikatakan telah mencapai akhir jangka waktu hidupnya. Tetapi dalam kasus api yang dipadamkan oleh curahan hujan, tidak dapat dikatakan bahwa api itu telah mati sesuai dengan waktunya. Demikian juga, siapa pun yang mati sebelum waktunya karena penyebab selain kamma dikatakan mati prematur".
77. Mukjizat Pada Altar Para Arahat
"Apakah ada mukjizat pada altar (cetiya) semua Arahat atau hanya pada cetiya beberapa Arahat saja?"
"Hanya pada beberapa. Dengan tekad kemauan keras dari tiga macam individu maka akan ada keajaiban:
1. oleh seorang Arahat ketika ia masih hidup;
2. oleh para dewa; atau
3. oleh seorang murid bijaksana yang mempunyai keyakinan.
Jika tidak ada tekad kemauan keras maka tidak akan ada keajaiban sekali pun di altar para Arahat yang mempunyai kekuatan kesaktian. Tetapi meskipun tidak ada keajaiban, orang harus mempunyai keyakinan terhadap mereka setelah mengetahui kelakuan mereka yag murni dan tanpa cela".
78. Dapatkah Semua Mengerti Dhamma?
"Apakah semua yang berlatih dengan benar mencapai pandangan terang dalam Dhamma, atau adakah beberapa yang tidak mencapainya?"
"Tidak akan ada pencapaian pandangan terang bagi mereka yang meskipun telah berlatih dengan benar, merupakan binatang, setan kelaparan, para penganut pandangan salah, penipu, pembunuh ibu, pembunuh ayah, pembunuh Arahat, pemecah belah Sangha, yang menyebabkan berdarahnya seorang Tathagata, yang mencuri jubah dan menyamar sebagai bhikkhu (Vin.i.86 —mengenakan jubah sendiri dan berpura-pura menjadi seorang bhikkhu), yang berpindah ke sekte lain, yang bertindak kejam kepada anagarini/bhikkhuni, menyembunyikan pelanggaran yang menyebabkan perlunya pertemuan Sangha, orang kasim atau banci. Demikian juga anak yang berusia di bawah 7 tahun tidak akan mampu mengerti Dhamma".
"Apakah alasannya sehingga anak yang berusia di bawah tujuh tahun tidak dapat mencapai pandangan terang? Bukankah pikiran seorang anak itu murni dan seharusnya siap untuk menyadari Dhamma?"
"Jika seandainya saja, Baginda, seorang anak di bawah usia tujuh tahun dapat merasakan nafsu untuk hal-hal yang menyebabkan nafsu, dapat merasakan kebencian untuk hal-hal yang menimbulkan kebencian, dapat dibodohi oleh hal-hal yang menyesatkan dan dapat membedakan antara kebajikan dan ketidak-bajikan, maka pandangan terang mungkin baginya. Tetapi, Baginda, pikiran anak yang berusia di bawah tujuh tahun masih lemah sedangkan unsur Nibbana yang tak berkondisi itu berat dan dalam. Oleh karenanya, O Raja, meskipun berlatih dengan benar, anak yang berusia di bawah tujuh tahun tidak dapat menyadari Dhamma".
79. Berkah Nibbana
"Apakah Nibbana itu sepenuhnya membahagiakan ataukah sebagian menyakitkan?"
"Sepenuhnya membahagiakan".
"Hal itu tidak dapat saya terima. Mereka yang mencarinya harus berlatih dengan pengendalian diri yang keras dan usaha keras bagi tubuh dan pikiran, tidak makan kecuali pada saat yang benar, mengurangi tidur, mengendalikan indria, dan mereka harus meninggalkan kekayaan, keluarga, dan teman-temannya. Yang berbahagia adalah mereka yang dapat menikmati kesenangan-kesenangan indria tetapi Anda menahan diri dan mencegah kenikmatan semacam itu, dan karenanya mengalami penderitaan secara fisik maupun mental serta rasa sakit".
"O Baginda raja. Nibbana tidak mempunyai rasa sakit. Apa yang Baginda sebut rasa sakit itu bukanlah Nibbana. Memang benar bahwa mereka yang sedang mencari Nibbana mengalami rasa sakit dan ketidak-nyamanan, tetapi sesudah itu mereka akan mengalami berkah Nibbana yang tidak terhingga. Saya akan memberikan alasan untuk itu. Apakah ada, O Raja, suatu kebahagiaan tertentu yang didapat karena kedaulatan raja?"
"Ya, ada".
"Apakah hal itu bercampur dengan rasa sakit?"
"Tidak".
"Kalau begitu, mengapa O Raja, bila para prajurit garis depan memberontak, raja-raja harus meninggalkan istananya dan menempuh perjalanan pada tanah yang tidak rata, menderita akibat gigitan nyamuk dan angin yang panas, dan terlibat dalam suatu pertempuran yang ganas yang membahayakan nyawa mereka?"
"Itu, Bhante Nagasena, bukanlah kebahagiaan dari kedaulatan. Itu hanyalah tahap awal dari pencaharian kedaulatan tersebut. Baru sesudah memenangkannya maka mereka dapat menikmati kebahagiaan suatu kedaulatan. Dan kehahagiaan itu, Bhante Nagasena, tidak bercampur dengan rasa sakit".
"Demikian juga, O Baginda raja. Nibbana adalah berkah yang tidak tertandingi, dan tidak ada rasa sakit yang tercampur di dalamnya".
80. Gambaran Tentang Nibbana
"Apakah mungkin, Bhante Nagasena, Nibbana ditunjukkan ukurannya, bentuknya atau jangka waktunya dengan menggunakan perumpamaan?"
"Tidak, hal itu tidak mungkin. Tidak ada sesuatu yag menyerupainya".
"Apakah ada sifat pada Nibbana yang terdapat pada sesuatu yang lain yang dapat ditunjukkan dengan perumpamaan?"
"Ya, itu dapat dilakukan".
"Sama seperti bunga teratai yang tidak basah oleh air, Nibbana tidak tercemar karena kegelapan batin.
Sama seperti air, Nibbana mendinginkan panasnya kegelapan batin dan menyegarkan kehausan akan lobha.
Sama seperti obat, Nibbana melindungi makhluk yang terkena racun kegelapan batin, menyembuhkan penyakit penderitaan, dan memberi gizi seperti nektar.
Sama seperti samudra yang tidak menyimpan mayat, Nibbana sama sekali tidak menyimpan kegelapan batin; sama seperti samudra yang tidak bertambah ketika semua air sungai mengalir padanya, demikian juga Nibbana tidak akan bertambah karena adanya makhluk yang mencapainya; Nibbana adalah tempat kediaman bagi para makhluk yang luar biasa (para Arahat), dan dihiasi oleh gelombang pengetahuan dan kebebasan.
Sama seperti makanan yang menopang kehidupan, Nibbana menyingkirkan usia tua dan kematian; Nibbana meningkatkan kekuatan spritual makhluk-makhluk; Nibbana memberikan keindahan keluhuran, Nibbana menghilangkan tekanan kegelapan batin, Nibbana mengusir kelelahan yang terjadi karena penderitaan.
Sama seperti ruang, Nibbana tidak dilahirkan, tidak lapuk ataupun hilang, Nibabna tidak berlalu di sini dan muncul di tempat lain, Nibbana tidak terkalahkan, pencuri tidak dapat mengambilnya, Nibbana tidak terikat pada apapun, Nibbana adalah lingkup bagi para Ariya ibarat burung-burung di angkasa, Nibbana tidak terhalangi dan tidak terhingga.
Sama seperti permata yang bisa memenuhi segala permintaan, Nibbana memenuhi semua keinginan, menyebabkan sukacita dan berkilau.
Sama seperti kayu cendana merah, Nibbana itu sulit didapat, keharumannya tak ada bandingnya dan Nibbana dipuji oleh orang-orang yag baik.
Seperti ghee yang dikenal karena kekhususannya, begitu juga Nibbana mempunyai kekhususannya sendiri; seperti ghee yang mempunyai aroma yang harum, begitu juga Nibbana mempunyai keharuman keluhuran; seperti ghee yang mempunyai rasa yang lezat, begitu juga Nibbana mempunyai kelezatan rasa kebebasan.
Seperti puncak gunung, Nibbana itu sangat tinggi, tidak tergoyahkan, tidak ada jalan masuk bagi kegelapan batin, Nibbana tidak mempunyai ruang bagi kegelapan untuk dapat tumbuh, dan Nibbana tidak memihak atau memiliki prasangka".
81. Perwujudan Nibbana
"Bhante berkata, bahwa Nibbana itu bukan masa lalu, bukan masa kini, dan bukan masa mendatang, bukan timbul dan bukan pula tidak-timbul, dan tidak dapat dihasilkan (bandingkan dengan Bab 14 No. 65). Dalam hal itu, apakah orang yang telah menyadari Nibbana menyadari bahwa sesuatu telah dihasilkan, atau dia sendiri yang pertama-tama menghasilkannya dan baru kemudian menyadarinya?"
"Bukan semua itu, tetapi Nibbana itu benar-benar ada".
"Bhante Nagasena, janganlah menjawab pertanyaan ini dengan membuatnya semakin tidak jelas. Jelaskan dan babarkanlah. Nibbana merupakan titik yang membuat banyak orang menjadi bingung dan tersesat dalam keraguan. Patahkanlah ketidak-pastian ini".
"Unsur Nibbana itu benar-benar ada, O Baginda raja. Dan orang yang telah berlatih dengan benar dan yang benar-benar mengerti bentukan-bentukan menurut apa yang telah diajarkan oleh Sang Penakluk, dia, dengan kebijaksanaannya, mencapai Nibbana.
Dan bagaimanakah Nibbana ditunjukkan? Dengan terbebasnya dari rasa tertekan dan bahaya, dengan kemurnian dan ketenangan. Seperti halnya seeorang, yang ketakutan dan ngeri karena telah jatuh ke tangan musuh, akan merasa lega dan sangat berbahagia ketika ia dapat meloloskan diri ke tempat yang aman; atau seperti halnya seseorang yang terjatuh di selokan yang penuh kotoran akan merasa tenang dan senang setelah ia keluar dari selokan itu dan membersihkan diri; seperti halnya seseorang yang terjebak api di hutan akan menjadi tenang dan merasakan kesejukan setelah dia mencapai daerah yang aman. Anda harus menganggap kecemasan yang timbul terus-menerus karena kelahiran, usia tua, penyakit dan kematian itu sebagai sesuatu yang menakutkan dan mengerikan; Anda harus menganggap keuntungan, kehormatan dan ketenaran itu sebagai kotoran; Anda harus menganggap api berunsur tiga: lobha (nafsu), dosa (kebencian) dan moha (khayalan) sebagai sesuatu yag panas dan tajam.
Dan bagaimana orang yang berlatih dengan benar mencapai Nibbana? Dengan benar dia memahami sifat bentukan yang terus berputar dan di sana dia hanya melihat kelahiran, usia tua, penyakit dan kematian; dia tidak melihat sesuatu yang menyenangkan atau yang serasi di bagian manapun. Karena dia melihat bahwa tidak ada yang dapat dilekati di sana, maka bagaikan di atas bola besi yang panas membara, pikirannya dipenuhi dengan ketidak-puasan dan panas menjalar di seluruh tubuhnya; karena merasa putus asa dan tanpa perlindungan dia menjadi jijik dengan kehidupan yang terulang-ulang. Dan bagi orang yang melihat kilatanlah roda kehidupan ini berada, penuh dengan penderitaan dan keputus-asaan. Jika saja ada akhir dari semua ini, akhir itu akan penuh ketenangan, dan hebat sekali; berhentinya semua bentukan-bentukan mental, lepasnya kemelekatan, musnahnya lobha, hilangnya nafsu, berhentinya penderitaan, Nibbana!
Dari situ pikirannya melompat ke depan menuju keadaan dimana tidak ada lagi dumadi. Pada saat itulah dia telah mencapai kedamaian, kemudian ia bersyukur dan bersukacita pada pemikiran 'Sebuah perlindungan akhirnya telah ditemukan!' Ia terus berusaha keras di Sang Jalan untuk menghentikan bentukan-bentukan, menemukan caranya, mengambangkannya, dan mengambil banyak manfaat darinya. Untuk tujuan itulah dia menimbulkan sati, semangat dan sukacitanya; dan dengan berulang-ulang memperhatikan pemikiran itu (muak pada bentukan-bentukan mental), setelah melampaui rantai kehidupan yang terus berjalan, dia telah dapat menghentikan roda itu. Orang yang telah menghentikan rantai kehidupan yang terus berjalan ini dapat dikatakan telah mencapai Nibbana".
82. Di manakah Nibbana?
"Apakah ada tempat, Nagasena, dimana Nibbana tersimpan?"
"Tidak, tidak ada, tetapi Nibbana itu benar-benar ada. Seperti halnya tidak ada tempat dimana api disimpan tetapi toh api dapat dihasilkan dengan menggosokkan dua batang kayu kering".
"Tetapi, apakah ada tempat dimana orang bisa berdiri dan menyadari Nibbana?"
"Ya, ada; keluhuran adalah tempatnya (bandingka Bab 1 No. 9); dengan berdiri di atas keluhuran, dan dengan pengertian, di manapun ia berada, baik di Sychtia atau di Bactria, di China atau Tibet, di Kashmir atau Gandhara, di puncak gunung atau cakrawala tertinggi, orang yang telah berlatih dengan benar menyadari Nibbana".
"Bagus sekali! Bhante Nagasena, Anda telah mengajarkan Nibbana, telah menjelaskan tentang pencapaian Nibbana, telah memuji kualitas dari keluhuran, menunjukkan cara berlatih yang benar, menjunjung tinggi panji-panji Dhamma, memantapkan Dhamma sebagai prinsip utama, tidak akan sia-sia atau tanpa buah usaha orang-orang yang mempunyai tujuan yang benar!"
***
Sumber:
Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating
Ringkasan Milinda Panha 14
Ringkasan Milinda Panha 14
Bagian Empat Belas
61. Berada Tanpa Rintangan
"Sang Buddha bersabda:
'Hiduplah dengan bakti pada apa yang tanpa rintangan, dan berbahagialah dalam apa yang tanpa rintangan itu'. (M.i.65)
Apakah yang tanpa rintangan itu?"
"Empat Phala dari Sang Jalan dan nibbana adalah yang tanpa rintangan".
"Tetapi, jika demikian, Yang Mulia Nagasena. Mengapa para bhikkhu merepotkan diri dengan mempelajari ajaran Sang Buddha serta membangun apa yang harus diperbaiki dan memberi persembahan pada Sangha?"
"Para bhikkhu yang melakukan hal-hal itu perlu melepaskan pikiran mereka dari rintangan sebelum mereka dapat mencapai Empat Phala Sang Jalan. Akan tetapi mereka yang pada dasarnya memang sudah murni, sebenarnya telah melakukan pekerjaan persiapan seperti itu dalam kehidupan mereka sebelumnya. Maka dengan mudah mereka dapat mencapai Phala Sang Jalan tanpa persiapan seperti itu. Seperti halnya seorang petani di beberapa daerah berhasil menanam tanpa harus membangun pagar, sementara di tempat lain ia terlebih dahulu harus membangun pagar atau tembok; atau seperti orang yang mempunyai kesaktian khusus dapat dengan mudahnya memetik buah yang ada di puncak pohon yang tinggi, sementara orang lain harus membuat tangga terlebih dahulu. Demikian juga, belajar, bertanya, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya adalah seperti tangga yang membantu para bhikkhu mencapai Phala dari empat pencapaian tersebut. Selama masih dibutuhkan proses belajar pada guru, bahkan bhikkhu seperti Bhante Sariputta pun masih menganggap tidak mungkin dapat berhasil mencapai tingkat Arahat tanpa bantuan guru, maka tetap bergunalah pembacaan kitab suci. Dan dengan demikian para murid akan terbebas dari rintangan dan akan mencapai tingkat Arahat".
62. Arahat Awam
"Bhante berkata bahwa jika seorang umat awam mencapai tingkat Arahat, ia harus memasuki Sangha pada hari itu juga, atau mati dan mencapai parinibbana. Tetapi jika ia tidak mendapat jubah, mangkuk dan penahbis, maka kondisi ke-Arahat-an yang mulia itu akan sia-sia karena melibatkan hancurnya suatu kehidupan".
"Kesalahannya bukan terletak pada ke-Arahat-annya, melainkan pada keadaan si umat awam yang terlalu lemah untuk menopang ke-Arahat-an itu. Seperti halnya, O Baginda, meskipun makanan melindungi kehidupan makhluk ia juga akan mengambil nyawa orang yang pencernaannya lemah. Demikian juga, jika seorang awam mencapai tingkat Arahat, maka karena kelemahan kondisi itulah ia harus memasuki Sangha pada hari itu juga. Kalau tidak, ia akan mati".
63. Pelangaran Para Arahat
"Bhante mengatakan bahwa seorang Arahat tidak mungkin mempunyai kewaspadaan yang kebingungan (Pts.contr.114). Kalau begitu, dapatkah ia melakukan pelanggaran?"
"Dapat, O Baginda. Pada masalah ukuran kutinya. Dia mungkin saja bertindak sebagai perantara perjodohan, makan tidak pada waktunya, makan makanan yang tidak dipersembahkan, atau mengira ia tidak diundang padahal sebetulnya diundang".
"Tetapi Bhante mengatakan bahwa orang yang melakukan pelanggaran itu melakukannya karena kebodohan atau rasa tidak hormat. Jika seorang Arahat dapat jatuh dalam pelanggaran dan jika tidak ada rasa hormat di dalam diri Arahat, apakah itu berarti ada kebingungan dalam kewaspadaan?"
"Tidak, tidak ada kebingungan pada kewaspadaan dalam diri seorang Arahat. Ada 2 jenis pelanggaran. Ada hal-hal yang salah di mata dunia umum seperti misalnya pembunuhan, pencurian dan sebagainya. Serta ada hal-hal salah yang hanya berlaku bagi para bhikkhu, seperti misalnya: makan tidak pada waktunya, merusak pepohonan dan tumbuhan, atau bermain air. Dan banyak lagi hal-hal seperti itu, O Raja, yang tidak salah di dunia umum tetapi salah bagi seorang bhikkhu. Seorang Arahat tidak mungkin berbuat kesalahan jenis pertama, tetapi ia mungkin dapat melakukan kesalahan jenis kedua karena ia tidak mengetahui segala hal. Ia mungkin tidak tahu jam berapa saat itu, atau hari apa, atau nama keluarga seorang wanita. Akan tetapi setiap Arahat mengetahui tentang kebebasan dari penderitaan".
64. Apa Yang Tidak Di Dunia
"Ada banyak macam hal yang dapat ditemui di dunia ini, Yang Mulia Nagasena. Tetapi katakanlah padaku apa yang tidak dapat ditemukan di dunia ini".
"Ada tiga hal, O Baginda, yang tidak dapat ditemukan di dunia ini: Sesuatu, yang sadar ataupun yang tidak sadar, yang tidak lapuk dan lenyap, Paduan Unsur (sankhara) atau hal terkondisi yang kekal, dan dalam arti yang sebenar-benarnya tidak ada sesuatu yang disebut makhluk".
65. Yang Tanpa Sebab
"Bhante Nagasena. Terdapat hal-hal di dunia ini yang menjadi ada karena kamma, ada yang merupakan hasil dari suatu sebab, dan ada yang dihasilkan oleh musim. Beritahukan padaku, apakah ada yang tidak masuk di dalam tiga kategori itu?"
"Ada dua hal, O Baginda; ruang dan nibbana".
"Bhante Nagasena. Janganlah mengubah kata-kata Sang Penakluk, atau menjawab pertanyaan tanpa mengetahui apa yang Bhante katakan!"
"Apa yang telah saya katakan, O Baginda, sehingga Baginda berkata demikian?"
"Yang Mulia, memang betul apa yang Bhante katakan tentang ruang. Tetapi dengan ratusan alasan Sang Buddha menyatakan pada muridNya cara menuju perwujudan nibbana. Dan Bhante mengatakan bahwa nibbana bukanlah hasil dari suatu sebab".
"Memang benar, O Raja. Dengan banyak cara Sang Buddha menunjukkan sebab bagi timbulnya nibbana".
"Di sini, Bhante Nagasena, kami melangkah dari kegelapan menuju ke kegelapan yang lebih besar; dari ketidak-pastian menuju ke kebingungan total. Jika ada ayah dari seorang anak, maka kami akan mengharapkan dapat menemukan ayah dari sang ayah. Demikian juga, jika ada penyebab bagi perwujudan nibbana maka kami mengharapkan dapat menemukan penyebab bagi timbulnya nibbana itu".
"Nibbana, O Raja, tidak dibangun, dan karenanya tidak ada sebab yang dapat ditunjuk bagi pembuatannya. Tidak dapat dikatakan bahwa nibbana itu telah timbul atau dapat timbul; bahwa nibbana itu adalah masa lalu, masa kini atau masa depan; atau dapat dikenali dengan mata, telinga, hidung, lidah atau tubuh".
"Kalau begitu, Yang Mulia Nagasena. Nibbana adalah kondisi yang tidak ada!"
"Nibbana itu ada, O Baginda, dan dapat dikenali lewat pikiran. Seorang murid luhur yang pikirannya murni, mulia, tulus, tidak terhalang, dan bebas dari kemelekatan dapat mencapai nibbana".
"Kalau begitu, jelaskanlah dengan perumpamaan apa nibbana itu".
"Apakah ada sesuatu yang disebut angin?"
"Ya, ada".
"Kalau begitu, jelaskanlah dengan perumpamaan apa angin itu".
"Tidaklah mungkin dapat menjelaskan apa angin itu dengan menggunakan perumpamaan. Tetapi angin itu ada".
"Demikian juga, O Baginda. Nibbana itu ada tetapi tidak mungkin digambarkan".
66. Cara-cara Menghasilkan
"Apa saja yang dilahirkan oleh kamma, apa yang dilahirkan oleh sebab, dan apa yang dilahirkan oleh musim? Dan apa yang bukan semua ini?"
"Semua makhluk, O Baginda, dilahirkan oleh kamma. Api, dan semua yang bertumbuh dari biji, dilahirkan oleh sebab. Tanah, air dan angin dilahirkan oleh musim. Sedangkan ruang dan nibbana itu ada, tetapi tidak tergantung dari kamma, sebab dan musim. Tentang nibbana, tidak dapat dikatakan dapat dikenali oleh panca indera, tetapi dapat dipahami oleh batin. Seorang murid yang batinnya murni, dan bebas dari rintangan dapat mencerap nibbana".
67. Setan
"Apakah ada sesuatu yang disebut yakkha (setan) di dunia ini?"
"Ya, O Baginda, ada".
"Kalau begitu mengapa sisa yakkha yang telah mati tidak terlihat?"
"Sisa yakkha dapat dilihat dalam bentuk serangga, seperti belatung, semut, ngengat, ular, kalajengking, lipan dan binatang-binatang liar lainnya".
"Siapa lagi, Nagasena, yang dapat memecahkan teka-teki ini kecuali orang sebijaksana Bhante!"
68. Menetapkan Peraturan Bagi Para Bhikkhu
"Para dokter yang terkenal mampu menuliskan resep obat yag sesuai bagi suatu penyakit sebelum penyakit tersebut timbul, meskipun mereka tidak maha-tahu. Kalau begitu mengapa Sang Tathagata tidak menetapkan peraturan bagi para bhikkhu sebelum ada kejadian, tetapi menunggu sampai suatu pelanggaran terjadi dan terdengar keributan?"
"Sang Tathagata, O Baginda, telah mengetahui sebelumnya bahwa 150 aturan itu semuanya harus ditetapkan. Tetapi Beliau berpikir, 'Jika Saya menetapkan semua peraturan ini sekaligus maka akan banyak yang takut memasuki Sangha karena melihat begitu banyaknya aturan yang harus diperhatikan, karenanya Aku akan menetapkan peraturan ketika dibutuhkan'". (Vin.iii.9,10)
69. Panas Matahari
"Mengapa panas sinar matahari terkadang garang dan terkadang tidak?"
"Terhalang oleh empat hal, O Baginda, maka matahari tidak bersinar garang: oleh awan badai, kabut, awan debu, atau oleh bulan (gerhana) (Vin.ii.295; A.ii.53). (Demikian pula, empat hal yang menghalangi sinar para pertapa: minum minuman yang memabukkan, melakukan hubungan seksual, menerima emas dan perak serta menjalani kehidupan dengan cara yang tidak benar).
"Betapa mengagumkan, Yang Mulia Nagasena. Bahwa matahari yang begitu hebat, dan begitu kuat, dapat terhalang. Apalagi makhluk lain".
70. Matahari Musim Dingin
"Mengapa matahari lebih garang di musim dingin daripada di musim panas?"
"Di musim dingin langit cerah, sehingga matahari bersinar dengan garang. Tetapi di musim panas debu beterbangan dan awan terkumpul di langit, sehingga panas sinar matahari terkurangi".
***
Sumber:
Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating
Ringkasan Milinda Panha 13
Ringkasan Milinda Panha 13
Bagian Tiga Belas
52. Dua Buddha Tidak Dapat Muncul Bersama
"Sang Buddha bersabda:
'Dalam dunia ini, tidak mungkin dua Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna ada bersamaan'. (M.iii.65; A.i.27; Vbh.336)
Tetapi, Yang Mulia Nagasena. Jika semua Tathagata mengajarkan ajaran yang sama, mengapa mereka tidak boleh ada bersama? Jika ada dua Buddha, mereka akan dapat mengajar lebih santai dan dunia ini akan lebih mendapat penerangan".
"O Baginda. Seandainya ada dua Buddha muncul sekaligus, bumi ini tidak akan mampu menahan beban kebajikan mereka berdua. Bumi akan bergetar, bergoncang dan hancur. Misalnya, O Baginda. Ada orang yang telah makan begitu banyak sehingga tidak ada lagi tempat yang tersisa di perutnya. Jika ia harus makan sebanyak itu lagi, apakah ia akan merasa nyaman?"
"Tentu saja tidak, Yang Mulia. Jika ia makan lagi, ia akan mati".
"Demikian juga halnya, O Baginda raja. Bumi ini tidak akan dapat tahan kalau terdapat satu Tathagata lagi. Sama halnya seperti orang yang tidak akan dapat tahan kalau harus makan lagi. Dan jika ada dua Buddha, maka akan timbul persengketaan di antara para pengikutNya. Lagipula, pernyataan bahwa Sang Buddha adalah yang utama dan tidak ada bandingannya akan menjadi salah".
'Dengan baik sekali dilema ini telah dijelaskan. Bahkan orang yang tidak pandai pun akan merasa puas, apalagi orang yang bijaksana. Bagus sekali, Yang Mulia Nagasena. Aku menerimanya seperti yang telah Bhante katakan".
53. Persembahan Bagi Sangha
"Ketika Mahapajapati Gotami mempersembahkan jubah mandi bagi Sang Buddha, Beliau bersabda padanya:
'Berikanlah pada Sangha, Gotami. Jika kau berikan pada Sangha, Aku akan merasa dihormati. Demikian juga Sangha'.
Apakah itu karena Sangha lebih penting dari pada Sang Buddha?"
"O Baginda. Bukan berarti bahwa persembahan bagi Sang Buddha tidak akan memberikan manfaat yang besar. Itu dimaksudkan untuk menunjukkan kebesaran Sangha sehingga pada waktunya nanti Sangha akan dijunjung tinggi. Seperti halnya, Baginda tuan, seorang ayah memuji anaknya di pengadilan kerajaan dengan pikiran, "Jikalau ia mendapat nama baik di sini sekarang, maka dia akan dihormati juga setelah aku tiada'. Atau misalkan, O Baginda. Seseorang mempersembahkan suatu hadiah pada raja, dan kemudian raja memberikan hadiah itu kepada orang lain —prajurit atau pesuruh. Apakah orang itu lalu menjadi lebih tinggi dibandingkan raja?"
"Tentu saja tidak, Yang Mulia. Orang itu menerima gajinya dari sang raja, dan rajalah yang menempatkannya pada kedudukan itu".
"Demikian juga, O Baginda. Sangha tidak menjadi lebih tinggi dibandingkan Sang Tathagata hanya karena suatu persembahan. Dan tidak ada, O Raja. Makhluk apapun yang lebih pantas menerima persembahan dari pada Sang Tathagata (M.iii.253). Hal ini telah disabdakan oleh Sang Buddha sendiri:
'Ada satu makhluk, O para bhikkhu, yang dilahirkan di dunia ini demi kebaikan dan manfaat banyak pihak, karena rasa welas asihnya pada dunia, serta demi kebaikan dan manfaat para dewa dan manusia. Dan siapakah makhluk itu? Seorang Tathagata, seorang Arahat, Buddha Yang Utama". (A.i.20)
54. Manfaat Hidup Sebagai Pertapa
"Sang Buddha bersabda:
'Aku akan memuji umat awam ataupun bhikkhu yang telah berlatih dengan benar dan mendapatkan cara yang benar'. (M.ii.197; A.i.69)
Jika seorang umat awam, yang menikmati kenikmatan indria, hidup dengan istri serta anak-anaknya, menggunakan wewangian serta menerima emas dan perak, dapat mencapai tingkat Arahat, lalu apa gunanya menjadi seorang bhikkhu dengan kepala tercukur, makan tergantung pada pemberian umat, memenuhi 150 aturan dan menjalani tiga belas latihan pertapa? Bhikkhu menahan diri tidak ada hasilnya, bhikkhu meninggalkan keduniawian tidak ada gunanya, bhikkhu memperhatikan peraturan itu sia-sia belaka, dan bhikkhu mengucapkan tekad lainnya pun tidak ada artinya. Apa gunanya menyusahkan diri sendiri dengan kesulitan, jika dengan kenyamanan pun kebahagiaan itu dapat dicapai?"
"Memang benar adanya jika dikatakan bahwa orang yang berlatih dengan benar adalah orang yang terbaik, tak peduli apakah dia seorang bhikkhu ataupun umat awam. Jika seorang pertapa yang berpikir, 'Aku adalah seorang pertapa' tidak berlatih dengan benar, maka ia jauh dari kehidupan pertapa. Apalagi perumah tangga yang mengenakan pakaian umat awam! Tetapi walaupun demikian, keuntungan yang didapat sebagai seorang pertapa itu terlalu banyak untuk bisa diukur. Karena hanya mempunyai sedikit keinginan, maka ia mudah puas. Ia menjauhkan diri dari masyarakat. Dengan bersungguh hati, tidak berumah-tangga, ia menjalani peraturan, ia teguh dan trampil dalam latihan menyingkirkan kekotoran batin. Karena itulah ia dapat dengan tepat menyelesaikan tugas yag dijalaninya. Seperti halnya, O Baginda. Tombak Baginda, karena halus dan lurus ia dapat dengan cepat mencapai sasaran".
55. Praktek Penahanan Diri
"Ketika Sang Bodhisatta sedang mempraktekkan penahanan diri dengan begitu kerasnya, Beliau tidak dapat mencapai tujuannya. Maka kemudian Beliau meninggalkan praktek tersebut dan berpikir, 'Tak mungkinkah ada jalan lain menuju kebebasan?' (M.i.246). Tetapi ketika menyuruh para muridNya, Beliau bersabda:
'Ambillah tindakan, tinggalkan kehidupan duniawi; Paksakanlah diri kalian dalam ajaranKu; Dan hancurkanlah pasukan kematian; Bagaikan gajah menghancurkan rumah buluh'. (S.i.156, Kvu.203, Thag.256)
Mengapa Sang Tathagata menyuruh para muridNya mengikuti latihan yang oleh Beliau sendiri telah ditinggalkan?"
"Karena pada saat itu, O Baginda, dan masih sampai saat ini juga, hanya itulah satu-satunya jalan. Dan lewat jalan itulah Sang Bodhisatta mencapai ke-Buddha-an. Sang Bodhisatta, yang memaksakan dirinya dengan amat sangat, mengurangi makanan yang dimakannya sampai kemudian tidak makan sama sekali. Karena kurang makan, Beliau lalu menjadi lemah. Akan tetapi ketika Beliau kemudian mulai makan makanan padat, lewat pemaksaan diri jugalah Beliau mencapai ke-Buddha-an. Tidak ada yang salah dalam pemaksaan diri itu. Hanya karena kurang makananlah maka pemaksaan diri itu tidak membawa hasil. Ibarat orang yang dapat meneruskan lagi, bukanlah kesalahan bumi ini maka ia terjatuh. Kesalahannya terletak pada pemaksaan dirinya yang keterlaluan. Seperti halnya, O Baginda. Bila ada orang yang memakai jubah tetapi tidak pernah mencucinya, kesalahannya tidak terletak pada airnya, melainkan pada orang itu. Itulah sebabnya Sang Tathagata mendorong dan memimpin para muridNya di sepanjang jalan itu, Karena Jalan itu selalu siap, dan selalu benar".
56. Kembali Pada Kehidupan Awam
"Apakah benar memperbolehkan umat awam masuk ke dalam Sangha sebelum mereka mencapai Sotapanna Magga? Jika orang seperti itu lalu meninggalkan kehidupan kebhikkhuan, orang-orang mungkin akan berpikir bahwa agama tidak memberikan manfaat".
"Jika, O Baginda. Ada kolam yang airnya sangat bersih dan ada orang yang ingin mandi pergi ke sana, tetapi kemudian dia berbalik pergi lagi tanpa mandi, apakah orang-orang akan menyalahkan orang itu tadi atau kolamnya?"
"Mereka akan menyalahkan orang itu".
"Demikian juga, O Baginda. Sang Tathagata telah membangun kolam yang penuh dengan ajaran Dhamma yang murni. Sang Buddha berpikir, 'Mereka yag mempunyai kekotoran batin tetapi pandai dapat menghilangkan kekotoran mereka di sini'. Tetapi jika ada orang yang kembali ke kehidupan awam tanpa membersihkan kekotoran batinnya, maka yang bersalah adalah orang itu. Tidak ada alasan untuk mencari kesalahan dalam Ajaran. Sebaliknya, mereka yang kembali pada kehidupan berumah-tangga menunjukkan 5 sifat khusus Ajaran Sang Penakluk:
1. betapa mulianya Ajaran itu;
2. betapa murninya Ajaran itu;
3. betapa Ajaran itu terbebas dari segala kejahatan;
4. betapa sulitnya untuk menembus Dhamma; dan
5. betapa banyaknya kontrol diri dalam kehidupan suci.
"Dan bagaimana mereka menunjukkan kemuliaan kehidupan suci itu? Sama halnya, O Baginda. Bila ada orang yang dilahirkan di kasta rendah, miskin dan tidak pandai. Jika ia mendapat kekayaan kerajaan yang agung, tidak lama kemudian ia akan terguling dan terlepas dari kemuliaan. Demikian juga orang yang tidak mempunyai kebijaksanaan dan hanya mempunyai sedikit kebajikan. Bila ia meninggalkan kehidupan duniawi, ia tidak akan mampu melaksanakan Ajaran Sang Penakluk dan akan kembali ke tingkat yang lebih rendah.
Dan bagaimana mereka menunjukkan kemurniannya? Seperti halnya, O Baginda. Bila air jatuh pada bunga teratai, air itu akan bergulir dan tidak melekat pada teratai itu. Demikian juga mereka yang bersifat tidak murni, yang melekat pada pandangan salah. Ketika mereka masuk ke dalam agama Sang Penakluk, tidak lama kemudian mereka akan terlepas dari agama yang murni tanpa kesalahan itu, karena mereka tidak dapat melekat padanya.
Dan bagaimana mereka menunjukkan kebebasannya dari segala tindakan jahat? Seperti samudra yang tidak mau menerima mayat dan dengan cepat menggulungnya ke pantai dan melemparnya ke tanah kering; demikian juga, O Raja. Mereka yang berpikiran jahat dan malas tidak akan dapat bertahan di dalam Sangha dan berhubungan dengan para Arahat yang bebas dari noda.
Dan bagaimana mereka menunjukkan sulitnya menembus Dhamma? Seperti halnya, O Baginda. Seorang pemanah yang ceroboh dan tidak trampil tidak dapat mempertunjukkan keahliannya seperti misalnya membelah rambut, atau mungkin malahan meleset dari sasarannya; demikian juga mereka yang dungu dan bodoh, yang meninggalkan kehidupan duniawi tidak dapat memahami Empat Kesunyataan Mulia Sang Penakluk yang sangat halus. Karena tidak dapat memahaminya, mereka kembali ke tingkat yang lebih rendah".
Dan bagaimana mereka menunjukkan berbagai macam kontrol dalam kehidupan suci? Seperti halnya, O Baginda. Seorang pengecut yang pergi ke medan perang. Ketika dikepung oleh musuhnya dari segala penjuru ia akan berbalik dan lari terbirit-birit, takut kehilangan kehidupannya; demikian juga siapa pun yang tidak terkontrol, tidak tahu malu, tidak sabar dan plin-plan. Ketika meninggalkan kehidupan duniawi, mereka tidak akan mampu melaksanakan berbagai macam peraturan dan akan kembali ke tingkat yang lebih rendah".
57. Penguasaan Para Arahat
"Bhante mengatakan bahwa para Arahat hanya mempunyai satu jenis perasaan, yaitu perasaan fisik, bukan perasaan mental. Tetapi bagaimana hal ini bisa terjadi? Arahat tetap hidup dengan menggunakan tubuhnya. Apakah itu berarti bahwa ia tidak lagi punya kuasa atas tubuhnya? Bahkan burungpun merupakan penguasa sarang yang dipakainya sebagai tempat tinggal".
"O Baginda. Ada sepuluh kondisi dalam tubuh yang berada di luar kontrol Arahat: rasa dingin, rasa panas, rasa lapar, rasa haus, pembuangan kotoran, kencing, lelah, usia tua, sakit dan mati. Seperti halnya semua makhluk yang hidup di dunia ini tergantung pada dunia ini tetapi tidak mempunyai kuasa atasnya, demikian juga Arahat tergantung pada tubuhnya tetapi tidak mempunyai kontrol atasnya".
"Mengapa, Yang Mulia Nagasena, orang biasa merasakan perasaan tubuh dan juga perasaan mental?"
"Karena keadaan pikirannya yang tidak terlatih. Seperti halnya seekor sapi lapar yang diikat dengan tali rumput yang rapuh akan dengan mudahnya memutus tali itu dan lepas, demikian juga perasaan orang biasa menjadi resah karena rasa sakit, sehingga ia merasakan rasa sakit mental juga. Tetapi pikiran seorang Arahat telah terlatih dengan baik. Sehingga ketika tubuhnya terserang rasa sakit, dengan teguh ia memusatkan pikirannya pada pengertian ketidak-kekalan. Pikirannya tidak terganggu dan ia tidak merasakan sakit mental. Sama seperti batang pohon yang kuat tidak tergerak oleh angin meskipun mungkin cabang-cabangnya akan berayun".
58. Kejahatan Berat
"Jika seorang awam telah melakukan kejahatan berat (Garuka Kamma) sebelum ia memasuki Sangha tetapi tidak menyadarinya, apakah ia akan dapat mencapai tingkat sotapanna?"
"Tidak, tidak dapat. Ini disebabkan karena dasar untuk pemahaman Dhamma dalam dirinya telah dihancurkan".
"Tetapi Bhante mengatakan bahwa bila orang menyadari dirinya telah melakukan pelanggaran, akan datang penyesalan yang menyebabkan adanya suatu penghalang dalam pikirannya. Akibatnya, ia tidak akan dapat memahami kesunyataan (A.iii.165). Tetapi bila orang tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan pelanggaran, tidak akan ada penyesalan, dan ia akan tetap merasakan kedamaian dalam pikirannya".
"Jika, O Baginda, ada orang yang telah minum racun tetapi ia tidak menyadarinya, apakah ia masih tetap akan mati?"
"Ya, Yang Mulia".
"Demikian juga, O Baginda. Meskipun seseorang tidak sadar akan pelanggarannya, ia tetap tidak akan dapat memahami kesunyataan".
"Yang Mulia Nagasena, itu pastilah kata-kata dari Sang Penakluk. Mencari-cari kesalahan dalam kata-kata itu akan sia-sia belaka. Kebenaran itu pasti seperti yang Bhante katakan; dan aku menerimanya".
59. Yang Tidak Bermoral
"Apakah perbedaan antara seorang umat awam yang telah berbuat kesalahan dan seorang bhikkhu yang telah berbuat kesalahan?"
"Ada sepuluh sifat yang membedakan seorang bhikkhu yang mempunyai kebiasaan moral yang lemah dengan seorang umat awam yang mempunyai kebiasaan moral yang lemah:
1. Seorang bhikkhu penuh hormat pada Buddha;
2. Ia penuh hormat pada Dhamma; dan
3. Ia penuh hormat pada Sangha;
4. Ia membaca kitab suci dan menanyakan artinya;
5. Ia telah banyak mendengar;
6. Ia memasuki kelompok para bhikkhu dengan penuh harga diri karena takut dicela;
7. Ia menjaga badan dan perkataannya;
8. Ia mengarahkan pikirannya untuk terus berusaha;
9. Ia berteman dengan para bhikkhu; dan
10. Jika berbuat salah ia merahasiakannya.
Dan dengan sepuluh cara ia memurnikan pemberian yang diperolehnya karena keyakinannya:
1. dengan mengenakan jubah para Buddha;
2. dengan kepala yang tercukur ia membawa tanda orang bijak;
3. dengan berteman dengan para bhikkhu;
4. dengan berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha;
5. dengan bertempat tinggal di tempat yang sepi, yang sesuai untuk latihan keras;
6. dengan menyelidiki Dhamma yang tak ternilai harganya;
7. dengan membabarkan Dhamma yang indah;
8. karena ia menjadikan Dhamma sebagai pelita pembimbingnya;
9. karena ia menganggap Sang Buddha itu agung; dan
10. dengan memperhatikan Hari Uposatha.
Karena semua alasan itulah maka ia patut mendapatkan persembahan meskipun ia telah jatuh dari nilai-nilai luhur. Dan ini disabdakan oleh Sang Buddha dalam Majjhima Nikaya:
'Siapapun yang berbudi luhur dan memberi pada yang tidak saleh; Pemberian yang benar-benar dibutuhkan; Pikiran menjadi senang; Sepenuhnya percaya akan buah kamma yang subur; Inilah pemberian yang dimurnikan oleh si pemberi'". (M.iii.Sta.142)
"Alangkah indahnya, Bhante Nagasena. Meskipun pertanyaanku hanya sederhana, jawabannya sungguh luar biasa. Bagaikan seorang juru masak ahli yang diberi sepotong daging biasa, dia mengolahnya menjadi makanan yang pantas bagi seorang raja".
60. Apakah Air Hidup?
"Ada beberapa pengikut sekte lain yang berkata bahwa Bhante mencelakakan suatu kehidupan bila menggunakan air dingin (MLS.ii.41n4; D.i.167). Bila air dipanaskan dalam ketel, ia membuat berbagai suara. Apakah itu disebabkan karena air mempunyai jiwa dan hidup?"
"Tidak, Raja yang agung. Air tidak hidup. Air yang ada dalam kubangan dangkal akan mengering bila terkena panas dan angin, tanpa ada suara apapun yang terdengar. Genderang mengeluarkan suara tetapi ia tidak berisikan kehidupan ataupun sesuatu yang hidup".
***
Sumber:
Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating
Langganan:
Postingan (Atom)
Buddha Gautama
Labels
- Abhidhamma (3)
- Ajahn Brahm (1)
- Ajahn Brahm - Wisdom of Silence (7)
- Anthony de Mello SJ - Berbasa-basi Sejenak (5)
- Anthony de Mello SJ - Burung Berkicau (9)
- Anthony de Mello SJ - Doa Sang Katak (16)
- artikel buddhist (48)
- Berkah (1)
- Bhikkhu Girirakkhito Mahathera (1)
- Bhikkhu Jotidhammo Mahathera (4)
- Bhikkhu Khantipalo (1)
- Bhikkhu Sri Paññavaro Mahathera (4)
- Bhikkhu Subalaratano (3)
- Bhikkhuni (1)
- Buddha dan Sains (11)
- Buddhadasa Bhikkhu - THE TRUE NATURE OF THINGS (2)
- Buddhavamsa (1)
- catatan ajahn chah (4)
- catatan dhamma (4)
- Cinta Kasih (1)
- dhammachakka (52)
- Dhammadesana (39)
- Dhammapada (2)
- Digha Nikaya (1)
- Download (1)
- Dr. K. Sri Dhammananda (5)
- EMPAT KESUNYATAAN MULIA (4)
- Font Pali (1)
- H.H Somdet Phra Nyanasamvara (3)
- Hidup Lebih Baik (1)
- HTML Help Doc (1)
- Identitas Umat Buddhis (1)
- INTISARI AGAMA BUDDHA (3)
- Itivuttaka (1)
- Jan Sanjiva (1)
- Jataka (4)
- Magha Puja (1)
- meditasi (7)
- Milinda Panha (19)
- Must have (1)
- Parita Suci (3)
- Petavatthu (1)
- Pindapatta (1)
- Puja Bhakti (2)
- RAPB (1)
- Riwayat Agung Para Buddha (1)
- Riwayat Singkat Guru Agung Buddha Sakyamuni (13)
- samaggi-phala.or.id (48)
- serba-serbi (7)
- serba-serbi galaksi (6)
- Sila (1)
- Spelling (1)
- sutta pitaka - Anguttara Nikaya (1)
- sutta pitaka - Khuddaka-Nikaya (17)
- sutta pitaka - Digha Nikaya (1)
- sutta pitaka - Samyutta Nikaya (2)
- sutta pitaka - Majjhima Nikaya (1)
- Suttanipata (1)
- Tanya Jawab (5)
- teori ajaran sang buddha (5)
- Tipitaka (1)
- TIPITAKA - kitab suci agama buddha (6)
- Tokoh (1)
- Udana (1)
- Ulasan Dhamma (34)
- Ven Narada Mahathera (11)
- Ven. Buddhadasa Bhikkhu (3)
- Ven. S. Dhammika (1)
- Vinaya Pitaka - Suttavibhanga (1)
- www.samaggi-phala.or.id (37)
- Y. M. Mahāsi Sayādaw (1)
- Y.A. Khantipalo (1)
- Y.M. Bhikkhu Girirakkhito Mahathera (6)
Blog Archive
Entri Populer
-
40 OBJEK SAMATHA MEDITASI. oleh Panna Nanda Bhikkhu pada 03 April 2011 jam 21:47 Samatha Bhavana 1. EMPAT PULUH MACAM OBYEK MEDITASI ...
-
Vipassana Bhavana 1. EMPAT MACAM SATIPATTHANA Dalam melaksanakan Vipassana Bhavana, obyeknya adalah nama dan rupa (batin dan materi),...
-
(Berdasarkan buku Paritta Suci terbitan Sangha Theravada Indonesia) 1. PEMBUKAAN Pemimpin puja bakti : ...
-
Manfaat Melatih Kesabaran Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa Manfaat Melatih Kesabaran Khantῑ paramaṁ tapo tῑtikkhā Mela...
-
oleh: Bhikkhu Subalaratano Namo tassa bhagavato Arahato Sammasambuddhassa Namo tassa bhagavato Arahato Sammasambud...
-
oleh: P. Sabar Hingga saat ini masih juga terdapat kesalahpengertian di antara umat Buddha mengenai siapakah yang disebut S...
-
Misteri Panglima Burung Panglima Perang Orang Dayak Hai bro beberapa hari ini kita diramaikan berita tentang kematian orang yang pal...
-
Tipitaka Kanon Pali atau Tipitaka berarti tiga keranjang penyimpanan Kanon (Kitab Suci). Selama beberapa abad sabda-sabda Sang...








