Check out the Latest Articles:
Tampilkan postingan dengan label Buddha dan Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buddha dan Sains. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juni 2011

AGAMA BUDDHA DAN ILMU FISIKA NUKLIR


Oleh :
UPASAKA WU SHU
(Loo Yung Tsung)

Theori-theori ilmu Fisika, yang baru, mengungkapkan fakta-fakta, sebagai berikut ini :

Bagian yang paling sederhana dari zat, sekarang ini, dianggap terdiri dari proton-proton dan elektron-elektron. Sekeliling elektron-elektron terdapat garis-garis kekuatan magnetis. Pengaruh garis-garis kekuatan magnetis itu, secara theoritis, bersifat universal. Makna kalimat tersebut, dapat diterangkan secara lain : bahwa konstitusi-konstitusi dari alam semesta, itu saling ber-interaksi, satu terhadap yang lainnya, dan berkeadaan tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian, dapatlah kita katakan bahwa konsep tentang eksistensi individual, dari sesuatu objek yang tunggal, itu dasar pemikirannya bersifat illusi atau khayalan belaka. Ini adalah fakta yang ke-satu.

Didalam "realitas"-nya, benda-benda itu tidak ber-eksistensi didalam keadaan tiga-dimensional, seperti kebanyakan orang menyangka demikian; termasuk beberapa ilmuwan yang mempercayainya seperti itu. Yang lebih mendekati kenyataan adalah bahwa benda-benda itu ber-eksistensi didalam keadaan empat-dimensional, dimana disisi lainnya, dari ruang (= space), adalah "waktu" (= time), sebagai suatu elemen yang penting. Suatu continum, adalah suatu unit baru, dari pengukuran didalam alam realitas. Bahkan unsur dan unsur waktu, itu berkeadaan saling bergantungan, yang satu terhadap yang lainnya. Ini adalah fakta yang ke-dua.

Dari fakta-fakta tersebut, orang dapat melihat secara langsung bahwa sifat-sifat alam, atau realitas, itu dapat diterangkan secara definitif, berada diluar imaginasi kita.

Walaupun terdapat fakta-fakta yang demikian itu, para ilmuwan dan para ahli filsafat, masih berusaha dengan tak henti-hentinya, untuk memecahkan problema realitas, dengan alat yang sama, yang bersifat kuno, yaitu : kekuatan dalam ber-imaginasi dan ber-nalar. Kami yakin bahwa mereka itu akan mengalami kekecewaan. Satu-satunya kemungkinan untuk memperoleh sukses, adalah apabila mereka mau menyatakan konsepsi dari sifat-sifat realitas itu kedalam ungkapan mathematis.

Marilah sekarang kita bicarakan mengenai sumber dari pengetahuan yang kita peroleh. Dapatlah ditunjukkan bahwa pengetahuan yang kita peroleh melalui proses pemikiran, atau penalaran, itu sifatnya relative, atau indirect (= secara tidak langsung). Orang hanya dapat berfikir mengenai ruang dan waktu, sebagai berkeadaan bebas dan tidak saling bergantungan. Demikianlah, orang tidak dapat membebaskan dirinya dari alam semesta yang dalam kenyataannya tidak bersifat tiga-dimenslonal, yang tidak riil sifatnya itu, karena orang menganggap itu berkeadaan konflik, atau bertentangan, dengan sifat-sifat dari realitas.

Penyusun artikel ini percaya bahwa alam semesta, yang bersifat tiga-dimensional ini, sesungguhnya adalah merupakan projeksi (atau projeksi-projeksi) dari realitas, yaitu dari yang dalam kenyataannya adalah bersifat empat-dimensional, yang dipandang oleh beberapa pengamat, dari berbagai segi, dan itu sama, atau analog, dengan rencana gambar (= cetak-biru) yang dua-dimensional yang merupakan suatu projeksi dari gedung yang sesungguhnya bersifat tiga-dimensional.

Para ilmuwan dan para filsafat hanya mengubah projeksi-projeksi dengan tujuan mengurangi kesalahan dan untuk dapat lebih dekat dengan profil-profil dari realitas. Mereka hanya men-desain (merencanakan pola-polanya), tetapi tidak mengkonstruksi gedungnya. Adalah jelas bahwa, tidak ada artinya, betapa pun sampai sekecil-kecilnya, atau bagaimana pun telitinya desain itu, gedungnya tidak akan dapat berwujud, apabila tidak ada kegiatan mengkonstruksinya, atau membangunnya.

Sama jelasnya dengan yang kami sebutkan diatas, bagi seorang Pencari Kasunyataan, theori-theori dari para ilmuwan dan para ahli ilmu filsafat, itu hanya memberikan pertolongan sampai sejauh tertentu saja, dan tidak semuanya bersifat vital. Baginya apa yang lebih penting dari semua theori ilmu pengetahuan dan ilmu filsafat adalah membentuk gedung, secara riil, dengan menyediakan material dan melaksanakan kerja-nyata, sehingga dia dapat hidup bahagia didalam gedungnya, dan dapat melihat setiap bagian dari gedung itu dengan sejelas-jelasnya.

Apabila orang mau mengalihkan observasinya seratus delapan puluh derajat, yaitu melihat kebelakang, pada sumber-arah pengetahuan secara langsung, - yang berupa kesadaran (= consciousness) -, orang akan mendapati sejumlah data berbagai jenis, yang sangat besar nilainya, mengenai reatitas. Tetapi proses introspeksi itu sukar menguasainya. Untuk dapat mengurangi kesalahan dan menghindari diterimanya "intuisi" yang palsu, adanya latihan persiapan, moral dan mental, adalah essensial.

Benda-benda itu dihayati, atau diketahui adanya, didalam proses mengalaminya. Pengalaman itu disimpan didalam bagian yang paling dalam dari jiwa. Fungsi dari bagian jiwa tersebut, berkeadaan begitu halus dan lembut, sehingga jarang dapat dipersepsi (= diamati = dihayati) oleh orang kebanyakan. Pengalaman itu terkena modifikasi, atau perubahan, sedikit demi sedikit, dan saat ke saat. Prinsip kausalitas, atau hukum sebab dan akibat, itu menguasai dan mengatur modifikasi-modifikasi.

Didalam semua pengalaman dengan dirinya sendiri, ego, sebagai pusat, maka elemen-elemen material dan spiritual itu dihayati secara salah, sebagai objek-objek individual, sebagai lingkungan sekitar, dengan kesan sebagai bersifat tiga-dimensional. Konsep yang salah ini menghasilkan kecenderungan centripetal, yang menarik perhatian bagi self dan individualitas. Itu menyerupai elemen yang bergerak dengan bebas, dengan tekanan permulaannya, pada struktur. Walaupun belum ada tekanan yang sifatnya external, dari luar, namun elemen itu sendiri selalu didalam keadaan mengalami tekanan, atau ketegangan. Tekanan permulaan tersebut mewakili kekuatan karma. Ketegangan itu merupakan kehidupan yang sifatnya illusive, yang dibebani penderitaan. Apabila kecenderungan centripetal tersebut dapat dilenyapkan secara layak, orangnya akan dengan mudah menghayati kehidupan dengan kesadaran dimensi empat, didalam hidupnya di alam semesta ini.

Sesungguhnyalah, yang kami kemukakan ini adalah cara menginterpretasikan, cara menafsirkan, menurut Agama Buddha, tentang realitas. Pandangan Buddhis ini bersesuaian dengan theori-theori ilmiah modern, dan dapat memberikan cahaya yang terang bagi Sang Pencari Kasunyataan untuk mencapai Pengetahuan Yang Sejati. Sang Sakhyamuni Buddha, adalah Orang Suci Pertama di dunia ini yang telah mampu mencapai Pandangan Terang dan selanjutnya dapat masuk ke ALAM KASUNYATAAN (= TRUTH). Beliau mengistilahkannya, dengan : ALAM SEMESTA YANG SEJATI (= REAL UNIVERSE), NIRVANA, yaitu Alam Realitas, yang berdimensional empat. NIRVANA itu walaupun telah diterangkan didalam banyak cara, keadaannya yang sesungguhnya, berada diluar jangkauan spekulasi (= renungan, pemikiran) kita.

Dengan mempergunakan perumpamaan yang sama, orang dapat sampai pada pemahaman bahwa ajaran Sang Buddha itu adalah desain realitas, yang bersifat praktis dan dapat digunakan didalam praktek, yang ditarik dan diletakkan pada peta yang bersifat sementara. Nilai latihan moral dan mental hingga sampai ke hal yang sekecil-kecilnya, itu begitu besar, dan sukar dibandingkan dengan nilai-nilai bidang yang lainnya. Nilai kepentingannya lebih besar dari pada segi philosophisnya dari ajarannya.

Sang Sakhyamuni telah meyakinkan kepada kita bahwa setiap makhluk hidup, terutama makhluk manusia, itu memiliki kesempatan dan memiliki materi yang cukup, untuk mencapai NIRVANA. Adapun Jalan untuk mencapai NIRVANA itu adalah dengan melakukan latihan moral, dan dengan mengadakan reformasi psychologis, atau perubahan kejiwaan.

Prinsip-prinsip dari ajaran Agama Buddha itu dapat membimbing orang ke arah Jalan Kehidupan Yang Benar, yaitu Jalan Kehidupan tanpa adanya kontradiksi-kontradiksi fikiran, kesalahan-kesalahan penalaran, dan penderitaan dalam bentuk apa pun. Jalan Kehidupan yang benar-benar sangat baik ini dinamai "Jalan Kehidupan Yang Suci". Dengan melangkah di Jalan Yang Suci ini, seseorang sungguh-sungguh dapat hidup dengan bahagia dan terbebas dari kematian.

Paragraph-paragaraph tersebut dimuka, dapatlah kita ringkaskan sebagai berikut :

  1. Benda-benda atau makhluk-makhluk hidup, itu ada, atau berkehidupan, didalam keadaan saling bergantungan yang satu dengan yang lainnya.
  2. Benda-benda, atau makhluk-makhluk hidup, itu saling berinteraksi, yang satu dengan yang lainnya, dan setiap saat senantiasa mengalami perubahan.
  3. Yang tersebut pada No. 1 dan No. 2 diatas, menunjukkan bahwa keadaan realitas itu berkeadaan empat dimensional dan bahwa sifat-sifatnya, ada diluar imaginasi kita.
  4. Theori-theori ilmiah dan philosophis itu hanya memberi kepada kita projeksi-projeksi dari realitas.
  5. Sumber yang langsung dari pengetahuan itu adalah pengalaman. Pengalaman yang subjektif dengan ego sebagai pusat observasi, memberi kepada kita konsepsi yang salah dari realitas. Kekuatan motive yang menyebabkan kecenderungan yang tampaknya tak dapat ditahan untuk mengalami kesalah-pengertian, itu didalam Agama Buddha, dinamai Karma.
  6. Persepsi yang illusive (yang bersifat khayal, atau palsu) dari alam semesta, dan khususnya mengenai self, yang bersifat tidak tergantung, atau bebas, menyebabkan setiap makhluk itu mengalami penderitaan. Variasi dari penderitaan, itu dikuasai oleh hukum sebab dan akibat, dan bekerja secara alamiah, tentu saja. Kepercayaan kepada seorang Deva, atau seseorang makhluk yang sifatnva supernatural. yang menguasai dunia ini, semua merupakan peng-anthropomorphian, dan dengan demikian bersifat phantasmic.
  7. Jalan untuk dapat bebas dari gangguan karma adalah "JALAN KE NIRVANA". yang terdiri dari latihan-latihan moral, menjalankan ajaran-ajaran Agama, dan sebagainya, serta latihan-latihan kejiwaan, konsentrasi, meditasi, kontemplasi, dan sebagainya, seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha.
  8. Pengetahuan Yang Benar, yang menjadi tujuan dari philosophi, dan tingkah-laku yang bajik (= virtue), susila, dan bijaksana, yang menjadi tujuan dari Ethika, adalah merupakan dua cabang dari pohon Realitas. Atau itu dapat dibandingkan dengan kedua roda, dari satu kereta, yang membawa orang ke Pencapaian NIRVANA.
  9. Bagi seorang Pencari Kasunyataan, Pengetahuan yang Benar, adalah merupakan sebuah microscope: latihan merupakan eksperimen; dan keseluruhan bagian dari Alam Semesta ini, merupakan laboratori-nya yang sempurna.
  10. Ajaran Agama Buddha itu memperlengkapi semua yang oleh para Pencari Kasunyataan, dibutuhkan, untuk dipelajari, dan diikuti petunjuk-petunjuknya.


File dalam format Microsoft Words dapat anda Download di >>>CLICK ME<<<

SELEKSI ALAMIAH DAN EVOLUSI


Oleh :
Buddhadasa P. Kirthisinghe

Apakah hidup atau kehidupan itu?. Ini adalah pertanyaan yang sukar dijawab; dipandang dari sudut ilmu pengetahuan. Professor Rhodes menggambarkan hidup atau kehidupan itu sebagai suatu urut-urutan proses yang terjadi didalam tingkat-tingkatan tertentu, yang sifatnya komplek, dari organisasi zat Walaupun demikian, Agama Buddha (Sang Buddha tidak membicarakan tentang masalah sebab-dan-akibat), didalam membicarakan hidup atau kehidupan, yang merupakan suatu continuum (= sesuatu yang berlanjut terus), sesuai dengan doktrin Persebaban Yang Saling Bergantungan) (lihat di bagian lain dari artikel ini). Agama Buddha menunjukkan dengan jelas bagaimana suatu sebab itu menjadi akibat, dan suatu akibat itu lalu menjadi sebab. Menurut Yang Mulia Nyanaponike, didalam masalah phenomena mental (= gejala-gejala jiwa), unsur sebab itu tidak akan pernah menjadi unsur akibat, dan unsur akibat tidak akan pernah menjadi unsur penyebab; walaupun suatu unsur akibat itu mungkin menjadi suatu kondisi berbagai type-type gejala-gejala, tetapi tidak akan pernah menjadi suatu unsur sebab yang sifatnya produktif. Secara umum, Agama Buddha lebih suka mempergunakan istilah "kondisi" dan "kondisionalitas". Sama seperti itu, didalam ilmu pengetahuan dan ilmu filsafat, istilah-istilah sebab dan akibat, itu merupakan istilah yang sangat disederhanakan, tetapi istilah-istilah tersebut, masih dipergunakan didalam maknanya yang populer.

Kelahiran dan kematian yang secara berulang-ulang dan berlanjut terus, yang dinamai "samsara", itu telah digambarkan secara tepat, sebagai suatu cyclus atau roda. Tidaklah dapat kita bayangkan, dan adalah sangat sukar untuk menunjukkan titik permulaan didalam cyclys sebab dan akibat, yang demikian itu; oleh karena itu mengenai asal hidup atau kehidupan, yang paling pertama, Sang Buddha menerangkannya sebagai berikut : "Tanpa mengetahui tujuannya, didalam mengembara dalam kehidupannya secara berulang-ulang di dunia (samsara) ini, makhluk-makhluk yang hidup di saat permulaannya, itu berkeadaan terliputi oleh ketidak-tahuannya, dan terikat oleh keinginan-keinginannya; mereka mengembara kesana-kemari, tanpa mengetahui apa seharusnya yang wajib diperbuatnya."

Hendaklah orang tidak cemas dan kecewa, karena merasa mengalami kegagalan, didalam mencari keterangan tentang titik permulaan dari suatu masa lampau yang tak-ber-permulaan. Hidup atau kehidupan, itu adalah suatu proses menjadi, merupakan suatu kekuatan, merupakan sesuatu yang mengalir terus menerus, dan keadaan yang demikian itu membutuhkan adanya suatu masa lampau yang tak berpermulaan, yang tidaklah perlu kita risaukan, apakah makhluk yang pertama itu adalah kera atau manusia.

Walaupun demikian, kita mengetahui bahwa hidup atau kehidupan, itu merupakan suatu kesatuan, dan bahwa semua makhluk-makhluk hidup, yang bermacam-macam jenisnya, yang jutaan, atau bahkan tak terhitung banyaknya itu, telah selama ribuan juta tahun sama-sama ikut menghayati proses kehidupan yang sama. Didalam peristiwa yang demikian itu, secara sekaligus, kita lihat adanya kesederhanaan dan keajaiban atau kehidupan.

Suatu penyelidikan yang dilakukan akhir-akhir ini, pada lapisan tanah bagian atas, setebal satu inch, dan seluas satu acre, yang terletak di dekat ibukota Amerika Serikat, menunjukkan bahwa tanah setebal dan seluas itu, berisi lebih dari 1.000.000 hewan-hewan microscopic, dan 2.000.000 benih-benih microscopic. Pada tanah setebal dan seluas tersebut diatas itu terdapat lebih dari 300.000 species (= jenis-jenis) tanaman hidup, dan 1.120.000 species hewan-hewan hidup, dan lebih dari tiga-per-empat-nya terdiri dari insect (= serangga), sedangkan hewan golongan tinggi atau yang telah bertulang belakang, membentuk hanya 5 persennya. Kira-kira 20 persennya terdiri dari golongan mollusc (= jenis keyong atau siput), dan lainnya golongan arthropod (= jenis hewan yang banyak kakinya) (serangga, kepiting, labah-labah, dan lipan), dan hewan golongan protozoa (= organisme-organisme yang ber-cel satu). Jadi, terdapat banyak sekali kehidupan dan ini merupakan faktor utama, didalam evolusi kehidupan. Seperti ditunjukkan oleh Charles Darwin, hal-hal yang demikian itu membimbing orang untuk mempercayai apa yang dinamai "Seleksi Alamiah" (= Natural Selection). Di alam ini, dengan hasil yang berlebihan dari organisme dan terdapatnya perjuangan hidup yang tak terelakkan, maka organisme-organisme yang paling kuat, yang paling menang, didalam menghadapi persaingan-persaingan hidup, dapat tetap hidup terus (= survival of the fittest), ini adalah theori umum dari seleksl alamiah.

Apabila kita memikirkan pengaruh Darwin pada pemikiran manusia selama 100 tahun terakhir ini, adalah layak untuk memperbedakan secara tajam antara evolusi sebagai suatu fakta historis dan theori operasional dari modifikasi didalam masalah penurunan jenis. Adalah merupakan yang pertama kalinya dari theori-theori ilmu pengetahuan, bahwa theori evolusi itu telah diterima oleh umum sebagai imaginasi yang populer, dan telah menggerakkan saat timbulnya Zaman Victoria, di Dunia Barat, dengan implikasinya terhadap filsafat keagamaan, dan di semua bagian dari dunia lalu membicarakannya sebagai suatu pukulan yang mematikan terhadap mythologi-mythologi yang bersifat takhayul dan tradisional, yang telah menyelimuti idea-idea dari semua bangsa, sebagai suatu keterangan tentang asal manusia, kecuali pandangan Agama Buddha.

Didalam proses evolusi, theori seleksi alamiah yang diperkembangkan oleh Darwin, adalah sangat penting. Selanjutnya Darwin menunjukkan bagaimana modifikasi sepanjang garis penurunan jenis itu berlangsung. Makhluk hidup telah ber-evolusi secara berlanjut dan melalui periode waktu, yang berurut-urutan, yang tiap periodenya memiliki type, tingkatan, dan susunan organisme hidup, yang khusus.

Julian Huxley menyatakan pendapatnya sebagai berikut : "Sistem alam adalah penyusunan genealogis dengan pencapaian tingkatan-tingkatan perbedaan, yang ditandai dengan istilah-istilah : varietas-varietas, species-species, genus-genus, family-family, dan order-order. Dan kita telah menemukan garis-garis keturunan, dengan ciri-ciri karakteristik yang paling permanen, apa pun ciri-ciri mereka itu, dan tidak perlu terpengaruh betapa kurang vitalnya ciri-ciri mereka itu."

Susunan rangka yang terkenal dari tulang-tulang pada tangan-tangan, pada sayap-sayap dari kelelawar, pada sirip-sirip ikan hiu, dan ciri-ciri leher pada kuda, yang dibandingkan dengan sejumlah yang sama, pada hewan-hewan bertulang belakang, yang membentuk leher hewan jerapah dan gajah, segera terlihat telah menunjukkan benarnya theori keturunan jenis, dengan modifikasi-modifikasi yang perlahan-lahan, dan secara berurut-urutan.

Sejak tahun 1900 theori-nya Darwin telah diungkapkan kembali didalam istilah-istilah genetic yang memungkinkan kita memperoleh manfaat yang besar didalam pemahaman kita mengenai proses-proses penurunan warisan (= hereditas).

Pada tahun 1866 Gregor Mendel telah mempublikasikan karyanya yang termasyhur mengenal keturunan, yang memperkuat dan mengkonsolidasikan theori-nya Darwin. Faktor lainnya yang menolong didalam penerimaan theori seleksi alam, yang menciptakan species baru didalam alam, adalah mutasi. Namun ketepatan dari methode operasinya dari phenomena mutasi ini belum sepenuhnya dapat dimengerti. Contoh yang paling terkenal mengenai mutasi-mutasi yang demikian itu, yang dinamai variasi-variasi yang spontan (variasi tunggal dari Darwin), dengan mana varietas-varietas yang berbeda dan baru dari tanaman-tanaman dan hewan-hewan muncul. Hukum-hukum mutabilitas itu sangat berbeda dengan variasi-variasi individual. Yang disebutkan belakangan itu dikarenakan oleh faktor-faktor herediter.

Dinyatakan orang bahwa lama sebelum Darwin, orang telah mulai menolak ceritera dari Kitab Suci mengenai penciptaan. Satu demi satu, Darwin telah memperkembangkan idea-idea besarnya, yang kita assosiasikan dengan namanya, yaitu: seleksi alam, seleksi seksual, argumen-argumen dari domestikasi, studi-studi didalam penekanan penduduk, studi tentang variasi-variasi dan isolasi geografis; bukti tentang perbandingan anatomi dan embryologi, cara-cara hybridisasi, manfaat dari hybrid-hybrid, dan yang terakhir dari semuanya, adalah analisanya tentang jiwa dan moral. Tidak ada satu pun dari yang tersebut dimuka tadi, yang didalam sesuatu cara, bertentangan dengan ajaran Buddha Dhamma.

Darwin mempertahankan pendapatnya bahwa manusia itu berasal dari satu sumber tunggal, yang berupa hewan-hewan menyerupai kera, yang menghuni dunia kuno (= old world). Dia mempertahankan pendapatnya bahwa satu sumber tunggal tersebut lalu mengalami diversifikasi menjadi berbagai species-species atau bangsa-bangsa (= races). Mereka itu juga telah mengadakan adaptasi atau akklimatisasi (= penyesuaian-diri terhadap iklim) (dengan seleksi alam), untuk mempertahankan diri dari serangan penyakit-penyakit yang ada di daerah dimana mereka tinggal.

Evolusi didalam faktanya terjadi peristiwanya, paling jelas ditunjukkan oleh studi mengenai fossil-fossil. Penemuan fossil-fossil tulang-tulang hewan, yang dapat diperbandingkan dengan makhluk-makhluk yang masih hidup, dinamai palaentologi.

Adalah doktrin evolusi-lah, yang mula pertama dapat memberikan interpretasi mengenai sifat-sifat perubahan-perubahan fauna, dari fossil-fossil yang ada, yang diketemukakan oleh para ahli palaeontologi dan para ahli geologi. Seri-seri hewan-hewan yang menunjukkan adanya perubahan-perubahan evolusioner, yang paling meyakinkan adalah pada penemuan-penemuan hewan-hewan yang bertulang belakang. Suatu contoh klassik, yang tidak diketahui oleh Darwin, adalah perubahan secara setapak demi setapak dari kuda-kuda, selama 40 hingga 50 juta tahun, dari makhluk hewan, yang jari-jari kakinya ada empat, dan masih sangat kecil, dengan gigi-gigi yang masih primitif, hingga ke makhluk hewan yang kakinya berjari satu dan besar, dengan gigi gerahamnya, yang mewakili jenis family kuda yang hidup, di zaman sekarang ini.

Kita memiliki pengetahuan yang luar biasa kayanya tentang sejarah hewan-hewan menyusui (= mammal). Dapat ditunjukkan bahwa didalam proses perubahan setingkat demi setingkat yang meliputi keterangan suatu jenis makhluk, tentang besarnya tubuhnya, pertumbuhannya, kebiasaan cara memakannya, dari jenis babi, hingga jenis gajah. Perubahan-perubahan tersebut meliputi jangka waktu kira-kira 40 juta tahun. Kalau jenis kuda dan jerapah (= giraffe) dengan memperpanjang lehernya untuk mencari makanannya, maka yang terjadi pada hewan jenis gajah adalah dengan memperpanjang rahang bawahnya, untuk tujuan yang sama seperti pada jenis kuda. Julian Huxley berpandangan yang sama dengan pandangan Darwin yang berfikiran bahwa mungkin semua kehidupan yang ada ini berasal dari satu wujud yang aseli.

Professor Mannes Alfven dari Royal Institute of Technology, mempertahankan pendapatnya dengan mengatakan sebagai berikut : "Jawaban yang paling sederhana dan paling sympathic adalah bahwa secara alamiah, Tuhan, atau beberapa "Kekuatan" lainnya, itu mengarahkan perkembangan menuju ke tujuan tertentu didalam "membawa ke pencapaian mahkota kehidupan", yaitu menjadi seperti kita ini. Dipandang dari sudut skala yang lebih luas, dengan hewan amoeba sebagai titik berangkatnya, perspektif yang dikemukakan, nampaknya lebih bersifat ilmiah, tetapi segera setelah kita meneliti hingga ke hal yang sekecil-kecilnya, kita dapat mengetahui bahwa konsepsi yang demikian itu tidak dapat dipertahankan. Pertanyaannya yang utama berbunyi : "Bagaimana caranya intervensi yang supernatural itu terjadi?. Sebab, apabila hukum-hukum alam itu, tanpa ada kecualinya, berkeadaan valid (= berlaku sah dan tidak dapat ditawar-tawar), maka tentu tidak ada tempat untuk adanya intervensi yang demikian itu."

"Kita mulai dapat melihat bahwa keajaiban evolusi dari amoeba ke tingkat manusia, atau, kita tahu, tanpa perlu adanya keragu-raguan bahwa itu merupakan suatu keajaiban yang sangat mentakjubkan, dan bahwa evolusi yang demikian itu bukan merupakan hasil karya dari Sabda Yang Maha Perkasa dari Sang Maha Pencipta, tetapi adalah merupakan hasil pergabungan dari proses-proses kecil, yang tampaknya tidak berarti. Perubahan struktural itu terjadi didalam suatu molekul, pada chromosome-chromosome-nya, hasil dari suatu perjuangan untuk mencari makan, pada dua hewan, reproduksi dan kegiatan membesarkan anaknya, yang demikian itu adalah merupakan elemen sederhana, yang bersama-sama, didalam garis waktu sepanjang jutaan tahun, telah menciptakan keajaiban besar. Ini bukan merupakan sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Suatu keajaiban itu bukan terpisah dari kehidupan yang biasa. Suatu keajaiban didalam kehidupan kita sehari-hari, itu hanya masalah apakah kita memiliki kemampuan melihat keajaiban itu, atau tidak."

Sir Garvin mengemukakan pendapatnya sebagai berikut : "Lebih lanjut, dapatlah kita terangkan bahwa evolusi dan adaptasi dari tanaman-tanaman dan hewan-hewan, itu sering dikatakan pada desainnya, tujuannya, atau bimbingannya; namun didalam kenyataannya sering ada penyimpangan-penyimpangan, dan bencana-bencana, yang berada jauh dari desain, tujuan, dan bimbingan, sehingga hal itu mendorong kita untuk mencari keterangan-keterangan yang lainnya."

Tidak ada entitas (= entity) yang keadaannya sedemikian rupa, yang dikatakan sebagai roh (= soul), (yang didalam Agama Buddha, diistilahkan dengan ("anatta") pada manusia dan hewan-hewan. Menurut ajaran Agama Buddha, semua benda, baik makhluk hidup atau benda-benda mati, itu merupakan subjek yang terkena perubahan. Tidak ada yang bersifat permanen; semua benda itu muncul dan lalu lenyap; oleh karena itu, tidak ada entitas yang berkeadaan permanen didalam bentuk suatu roh atau self, yang terdapat didalam diri manusia atau didalam sesuatu yang lain.

Semua kehidupan di bumi ini berkeadaan saling bergantungan, yang satu terhadap yang lainnya, dan tidak berfungsi didalam isolasi atau keterasingan. Oleh karena itu, manusia dan hewan-hewan itu tidak bersifat dapat mencukupi dirinya sendiri, dan semua phenomena biologis itu bersifat tidak permanen dan mengalami perubahan-perubahan secara berlanjut terus, dan berada didalam suatu keadaan yang selalu mengalami keadaan yang mengalir (= continuous flux) (yang didalam Agama Buddha, diistilahkan dengan "anicca"), dan masing-masing dikondisikan oleh faktor-faktor lingkungan-sekitar. Dimana-mana, kita dapati konflik-konflik, dan konflik-konflik itu menunjukkan adanya sifat tidak memuaskan didalam kehidupan, atau untuk menggunakan istilah tehnis didalam Agama Buddha, "duhkha" (= penderitaan, keadaan sakit, dan kepedihan karena sakit badaniah, atau sakit kejiwaan).

Kejanggalan dari apa yang dinyatakan oleh Religi yang bersifat theistic, yaitu bahwa manusia dikatakan mempunyai roh, - yang diterangkan sebagai merupakan setitik kecil api dari Maha-Api Ke-Tuhan-an, dan merupakan suatu entitas yang tidak mengalami perubahan, didemonstrasikan dengan jelas dengan adanya organ tubuh, terutama jantung, yang dicangkokkan dari manusia satu ke manusia lainnya. Dr. Christian Barnard, seorang ahli bedah dari Afrika Selatan, yang telah melakukan pencangkokkan jantung manusia, yang pertama kali, meramalkan bahwa di masa-masa yang akan datang, jantung-jantung hewan dan organ-organ lainnya akan digunakan secara luas, sebagai pengganti organ tubuh yang sama pada badan manusia.

REFERENSI :

- Alfven, Hannes.

Atom, Man and the Universe, Pelican, 1952.

- Huxley, Julian

Evolution in Action, Perennial Library, N.Y. 1958.

- Huxley, Julian

The Struggle of Life, Present Living Thoughts of Charles Darwin, Pelican, 1950

- Rhodes, F.H.T.

The Evolution of Life, Pelican, 1951

- Rook, Arthur, ed.

The Origin and Growth of Biology, Pelican, 1950.

- Smith, J.M.

The Theory of Evolution, A Pyramid Book, 1969.

- Wendt, Herbert

The Road to Man, The World of Science, 1961.

File dalam format Microsoft Words 2007 dapat anda Download disini

>>>CLICK ME<<<

KARMA, KELAHIRAN KEMBALI, DAN ILMU GENETIKA


Oleh :
Buddhadasa. P. Kirthisinghe

Kebahagiaan dan penderitaan, yang umum dialami sebagai nasib dari semua makhluk hidup, terutama bagi manusia, itu menurut pandangan Agama Buddha, tidak dianggap sebagai hadiah atau hukuman, yang diberikan oleh seorang Deva kepada roh yang telah melakukan perbuatan yang baik atau yang buruk. Umat Buddha mempercayai hukum alam, yang dinamai hukum 'sebab dan akibat', yang umum berlaku pada semua gejala-gejala alam. Umat Buddha tidak percaya kepada seorang Deva yang dianggap maha kuasa, dan oleh karena itu hukum 'sebab dan akibat', yang merupakan hukum alam itu, berlakunya tidak dapat dihambat oleh Deva, bahwa juga tidak dapat dihambat oleh semua Buddha, walaupun semua Buddha itu telah memiliki cinta-kasih yang universal.

Hukum 'sebab dan akibat' itu dalam bahasa Sanskrit, dinamai 'karma' dan didalam bahasa Pali, dinamai 'kamma', yaitu bahasa-bahasa yang dipergunakan didalam Agama Buddha. Didalam kata-katanya Sang Buddha, kita temui ajaran yang bunyinya sebagai berikut: " 'Karma' kita sendirilah, atau perbuatan kita sendirilah, yang baik, dan yang buruk, yang menghadiahi dan menghukum kita". Apakah 'karma' itu?. 'Karma' adalah suatu kekuatan, yang kebajikannya, menimbulkan reaksi yang mengikuti sesuatu aksi; 'karma' adalah energi yang membuat jalan keluar; atau yang menyebabkan kita sekarang ini, hidup di alam ini; dan kehidupan kita yang baru ini adalah merupakan suatu aliran kehidupan yang tak habis-habis energinya, yang mengalir secara berlanjut, tanpa henti-hentinya.

Oleh karena itu, Yang Mulia Piyadassi Thera berkata : "Selama ada kemauan selama itu ada perbuatan. Selama ada perbuatan, selama itu ada suatu realitas kejam, yang timbul sebagai akibat dari suatu 'karma' yang buruk; dan selama ada perbuatan, hadiah serta hukuman, itu bukan merupakan kata-kata yang kosong. Keinginan itu menimbulkan perbuatan; perbuatan menimbulkan hasil; hasil itu mempertunjukkan dirinya sebagai suatu corporealitas baru, yang diisi dengan keinginan yang baru. Energi yang bersifat kenyal (= elastis) itu selalu mengubahnya menjadi kehidupan yang segar, dan kita hidup secara abadi melalui keinginan kita yang kuat untuk hidup. Adapun yang menjadi medium-nya, sarana-nya, yang membuat semua kemungkinan itu ada, adalah 'karma'.

Seperti yang dikatakan oleh Dr. Paul Bahlke, dari Jerman, yang dikemukakan didalam naskahnya yang berjudul 'Essay-Essay Buddhis', kita juga berpendapat bahwa, adalah pengetahuan tentang hukum sebab dan akibat, aksi dan reaksi, yang mendorong seseorang untuk mencegah dirinya untuk tidak berbuat jahat dan untuk memperbanyak perbuatan-perbuatan yang baik. Seseorang yang mempercayai hukum sebab dan akibat, mengetahui dengan sangat baik, bahwa hanya perbuatan dirinya sendirilah, yang membuat kehidupannya berisi penderitaan, dan sebaliknya, hanya perbuatan dirinya sendiri pula, yang membuat kehidupannya berisi kebahagiaan.

Keadaan seseorang, hari ini, adalah merupakan hasil dari jutaan pengulangan-pengulangan dari fikiran-fikiran dan perbuatan-perbuatannya. Dia bukan makhluk yang sekali tercipta telah berkeadaan seperti sekarang ini; dia berkeadaan selalu menjadi keadaan yang baru, dan senantiasa tetap mengalami perubahan-perubahan, menjadi sesuatu yang baru, berikutnya lagi. Watak-wataknya ditentukan sebelumnya, oleh pemilihan-pemilihannya sendiri. Jenis fikirannya, dan jenis perbuatannya, yang dia pilih, menjadi kebiasaan-kebiasaannya, dan selanjutnya ini menentukan dia untuk menjadi manusia dengan watak-watak yang tertentu.

"Karma itu secara mutlak bersifat tidak mengenal belas kasihan, dan cara bekerjanya tidak pandang bulu. Sama keadaannya seperti sebuah cermin yang telah dibersihkan dengan sangat baik, itu mampu memantulkan pada permukaannya, gambar yang sebaliknya, hingga ke hal yang sekecil-kecilnya, demikian juga "karma" itu dapat memberikan kepada orang yang melakukan perbuatan, akibat yang membalik, yang tepat sama dengan jenis perbuatan yang telah dilakukannya."

Yang tersebut dimuka tadi, sama seperti sabda Sang Buddha, sebagai berikut : "Tidak ada tempat untuk persembunyian di langit, atau di kedalaman dari samudera, pun juga tidak dapat dengan cara masuk ke dalam gua di sebuah gunung, atau juga di mana pun di Bumi ini, jika anda ingin menghindar dari terkena akibat dari buah perbuatan anda."

Cara untuk bebas dari 'karma' tidak dapat diajarkan, itu hanya dapat dihayati; tujuan tersebut hanya dapat dicapai dengan menghayati kebajikan-kebajikan atau kebijaksanaan-kebijaksanaan didalam kehidupan. Setiap individu haruslah merasa perlu untuk dapat bebas dari ikatan karma. Didalam tangan kita sendirilah letak dari kekuatan pembentuk nasib kita sendiri. Orang-orang lain dapat menolong kita secara tidak langsung, tetapi kebebasan dari penderitaan, itu haruslah kita sendiri yang melakukannya, dan kita sendirilah yang haruslah menempa, dengan landasan diri kita sendiri pula.

Psychologi (= ilmu-jiwa)-nya Buddhis, mengungkapkan bahwa pada diri manusia itu terdapat kemungkinan-kemungkinan yang masih bersifat terpendam, dan potensi-potensi untuk mencapai kemungkinan-kemungkinan itu harus diperkembangkan dan direalisir, dengan usaha-usaha yang nyata. Manusia adalah merupakan kumpulan dari perbuatan-perbuatan yang baik dan yang jahat. Dia selalu mengalami perubahan, ke arah menjadi baik, atau menjadi jahat. Perubahan ini tidak dapat dihindari, dan tergantung sama sekali kepada perbuatan-perbuatannya sendiri, dan tidak tergantung kepada sesuatu yang lain. Dengan perbuatan-perbuatan kita, kita membentuk watak-watak kita, kepribadian kita, individual kita. Harus hanya melalui perbuatan-perbuatan kita sendiri saja, kita dalam berusaha untuk mengubah kembali diri kita, dan untuk memenangkan atau membebaskan diri kita, dari penderitaan-penderitaan.

Adalah keharusan kita sendiri untuk dapat hidup, adalah keinginan kita sendiri untuk dapat hidup, adalah ketergantungan kita kepada hiduplah, yang membuat permainan aksi dan reaksi, yang tak ada henti-hentinya ini, bergerak terus dengan tidak putus-putusnya. Selama kita gagal untuk melihat sifat yang sebenarnya dari hukum sebab dan akibat, sifat yang sebenarnya dari persebaban moral, selama itu pula masih terdapat keinginan dan ketidak-tahuan didalam diri kita, dan dengan demikian kita akan masih berkeadaan terikat kepada "Roda Kelahiran dan Kematian Secara Berulang-Ulang" itu. Apabila unsur penyebab dari sesuatu, telah dapat kita hancurkan maka secara automatis kemunculan unsur akibatnya, akan berhenti. Penderitaan akan menjadi lenyap, apabila akar-akar yang kecil-kecil dan bermacam-macam, dari penderitaan, telah dapat dilenyapkan. Seseorang, misalnya, yang membakar biji buah mangga, hingga menjadi abu, mengakibatkan berhentinya kekuatan pertumbuhan, dan biji buah mangga itu tidak akan pernah dapat menjadi sebuah pohon buah mangga. Itu sama keadaannya dengan yang terjadi pada sesuatu yang terkena persyaratan-persyaratan (= terkena kondisi-kondisi) dan yang terdiri dari komponen-komponen, apakah itu benda mati, atau makhluk hidup.

Sama seperti bahwa bayangan itu mengikuti bendanya, dan sama seperti bahwa asap itu muncul setelah ada api, demikian jugalah unsur akibat itu baru muncul, setelah ada unsur penyebabnya, dan penderitaan atau kebahagiaan itu muncul, setelah pada diri orang, ada fikiran dan perbuatan, yang bersifat buruk, atau baik. Tidak ada akibat-akibat disekeliling kita, di dunia ini, kecuali ada unsur-unsur penyebabnya, yang mungkin tidak tampak, atau belum terbabar, yang lalu mangejawantah (= manifest); dan bagaimana pun jenis penyebabnya, itu menghasilkan akibat-akibat, yang perbandingannya tepat sama dengan jenis-jenis penyebabnya. Orang-orang menuai hasil panenannya, yang berupa penderitaan, karena di masa yang lampau, yang waktunya dekat, atau jauh (di masa kelahirannya yang lampau), atau dalam kelahirannya yang sekarang ini, mereka pernah menanam benih kejahatan; dan orang-orang menuai hasil panenannya, yang berupa kebahagiaan, karena hal itu merupakan hasil perbuatan mereka di masa yang telah lalu, dalam menanam benih kebaikan-kebaikan.

  • "Seseorang yang bekerja sangat keras, mengerjakan tugasnya sebagai pelayan, mungkin saja, pada suatu ketika, didalam, kelahirannya yang akan datang, menjadi Pangeran yang baru.
  • Seorang Raja yang memerintah sebuah Kerajaan, mungkin saja, lalu dalam kehidupannya di dunia, pada kelahirannya yang akan datang, menjadi pengembara yang miskin, dengan pakaian compang-camping, karena dalam kehidupannya yang sekarang ini, Sang Raja telah berbuat sesuatu yang sangat buruk, dan telah melalaikan kewajibannya dalam berbuat kebaikan."

Biarlah seseorang mau bermeditasi terhadap ajaran tentang hukum sebab dan akibat ini, biarlah dia berusaha untuk memahaminya, dan semoga dia rajin menanam benih-benih kebaikan, dan rajin pula melenyapkan bintik-bintik kotor dari sifat-sifat jahatnya, yang terdapat didalam hatinya, yang merupakan hasil dari perbuatan-perbuatan jahatnya di masa kelahirannya yang lampau, bagaikan petani yang rajin melenyapkan rumput-rumput pengganggu tanaman di kebunnya.

KELAHIRAN KEMBALI

Kelahiran kembali, atau keadaan tetap hidup terus sesudah orang meninggal dunia (dan lalu pada suatu ketika terlahirkan lagi di dunia), diterima sebagai fakta kehidupan, didalam Agama Buddha. Energi atau kekuatan yang terkumpul ini berlanjut terus untuk memanifestasikan diri pada kesadaran di berbagai lapisan alam lainnya. Menurut hukum konservasinya energi dan hukum bahwa zat itu tidak dapat dihancurkan, kita yakini bahwa didalam proses kelahiran kembali, itu tidak ada sesuatu yang hilang. Vitalitas atau kekuatan karma yang lenyap dari tubuh kita, itu lalu (didalam kelahiran kembali) memulai cyclus pengambilan tubuh, yang baru.

Kekuatan karma tersebut adalah aliran kehidupan (= santati = life flux) yang berlanjut terus dalam mencari jalan untuk memanifestasikan dirinya, dari satu alam kehidupan ke alam kehidupan berikutnya, dan energi karma ini didukung oleh kekuatan keinginan (untuk hidup). Ini adalah kekuatan karma yang sifatnya tidak nampak.

'Karma' adalah suatu bentuk energi, yang kita bawa dari kehidupan yang satu (kelahiran yang satu) ke kehidupan (kelahiran) yang berikutnya yang bersifat 'kusala' dan 'akusala', yaitu yang sifatnya baik dan buruk. Apabila kita telah meninggal dunia, materi karma kita, berubah didalam bentuk energi, sampai dicapainya rahim yang bersesuaian, dimana telur (= ovum) dan mani (= sperma) bergabung, untuk memvitalisasikannya. Sang Ayah dan Sang lbu hanya menyediakan materi untuk kehidupan makhluk yang baru. Faktor karma atau kekuatan individual (vinnana, atau kesadaran kelahiran kembali) adalah keadaan yang mengkondisikan, mempersyarati, suatu kehidupan yang baru. Ini tidak menyangkal keterangan dari ilmu pengetahuan (= science) tentang genetika, yang menerangkan bahwa anak itu mewarisi ciri-ciri dari orang tuanya dan sanak keluarganya yang dekat. Seorang anak itu juga dibentuk oleh lingkungan sekitar sosial, tetapi semuanya itu dikondisikan oleh "karma"-nya.

Didalam Agama Buddha, diterangkan bahwa terdapat lima dunia kehidupan, yang berkeadaan berbeda yang satu dengan yang lainnya, dan oleh karena itu, memungkinkan terdapatnya lima jalan untuk kelahiran kembali. Adapun ke-lima alam kehidupan itu adalah : alam kehidupan hewan, alam kehidupan roh (yang dinamai "spirit' atau "ghost"), alam neraka, alam kehidupan manusia, dan alam "sakkaloka" atau surga.

ILMU PENGETAHUAN GENETIKA

Ilmu Genetika adalah studi mengenai physiology tentang reproduksi (menurunkan jenis, mempunyai keturunan) dan ketrampilan mengembang-biakkan tanam-tanaman dan hewan-hewan.

Semua warisan (= heredity) itu ditransmisi-kan (= diliyerkan) dari satu generasi ke generasi berikutnya, melalui cel-cel sex yang sangat kecil, yang dinamai sperm (= mani, pada pria) dan ova (= telur, pada wanita). Kedua cel itu bergabung didalam rahim, untuk membentuk telur yang dibuahi, yang tumbuh menjadi foetus (= janin bayi) dan akhirnya lahirlah seorang bayi.

Ayah dan ibu itu keduanya penting didalam transmisi, atau peliyeran, warisan. Inti-inti dari cel-cel sex itu berisi chromosome-chromosome, dan setiap sperma manusia itu berisi 24 chromosome, separo (= setengah) dari jumlah itu berisi cel-cel yang normal, dan jumlah ini bervariasi pada hewan-hewan lainnya dan pada tanam-tanaman.

Fertilisasi atau pembuahan itu terdiri dari bergabungnya inti sperma dengan inti ovum. Cel telur yang telah dibuahi ini lalu membagi dua, lalu menjadi empat, lalu menjadi delapan, dan akhirnya menjadi bilyunan cel-cel tubuh orang dewasa. Gregor Johann Mendel meng-identifikasi-kan unit-unit warisan sebagai gene-gene. Kita dapati unit-unit kehidupan didalam chromosome-chromosome dan didalam molekul yang wujudnya sangat kecil. Setiap ciri yang tampak pada tanaman-tanaman dan pada hewan-hewan itu mempunyai gene-gene, yang seperti telah dikatakan dimuka, itu dibawa chromosome-chromosome, yang terdapat didalam inti-inti dari semua cel kehidupan. Mendel telah menemukan hukum pewarisan, sebagai berbanding 3 dan 1, pada tanaman-tanaman dan pada hewan-hewan. Beliau juga telah menemukan gene-gene yang dinamai yang bersifat dominant dan yang bersifat recessive. Eksperimen klassik beliau telah menolong memperkuat theori-theorinya Charles Darwin, mengenai : asal dari jenis-jenis (= the origin of species), sekesi alamiah (= the natural selection). Dan tentang "Perjuangan untuk dapat tetap hidup dengan jalan mengadakan penyesuaian-diri, siapa yang kuat akan dapat tetap hidup terus" (= the survival of the fittest in the struggle for existence).

Sekarang telah diketahui bahwa gene-gene itu memisah diri menjadi separo (= setengah) dari jumlah mereka didalam cel-cel sex (sperma dan ovum), dan dinamai haploid-haploid dan menggabung kembali didalam telur yang sudah dibuahi, untuk membentuk suatu complement yang lengkap dari gene-gene, seperti cel-cel orang tuanya (= induknya).

Oleh karena itu anak-anak didalam sesuatu keluarga menjadi tampak serupa. Tetapi dari sudut moral, intelleklual, dan emosional, kemiripan mereka itu dapat sangat dekat, atau sangat jauh. Inilah yang dimaksudkan dengan 'karma' yang dikondisikan, yang dipersyarati. Orang tua yang tinggi intelleknya, dapat menurunkan anak-anak yang bodoh, atau sebaliknya, tergantung dari, 'karma' orang tuanya, dan 'karma' anak-anaknya.

Terdapat studi yang sangat menarik terhadap anak-anak kembar, yaitu studi terhadap anak-anak kembar, yang dilahirkan dari telur-telur yang dibuahi secara terpisah, dengan studi terhadap anak-anak kembar, yang dilahirkan dari satu telur yang dibuahi, yang menghasilkan dua anak kembar. Adalah bersifat alamiah bagi anak kembar, yang dilahirkan dari telur-telur yang dibuahi secara terpisah, yang hasilnya menunjukkan kesamaan warisan (= hereditary) yang berkeadaan berbeda, sebagai saudara-saudara perempuan dan saudara-saudara laki-laki yang biasa. Tetapi itu tidak benar bagi anak kembar dua yang identik, yang dilahirkan dari satu telur yang dibuahi dan lalu menjadi dua anak kembar.

Telah diselidiki oleh team sarjana besar - yaitu : Newman, Freeman, dan Holzinger dari Universitas Chicago yang termasyhur itu -, bahwa setelah anak kembar dua dari satu telur itu tumbuh menjadi besar, mulai tampak terdapat perbedaan-perbedaan diantara mereka itu. Yang satu mungkin berat tubuhnya sedikit lebih dari yang satunya; yang satu mungkin lebih cepat pandai didalam belajar, dari pada yang satunya; yang satu bersifat mudah marah atau mudah tersinggung dari pada yang satunya. Jawaban terhadap pertanyaan mengapa ada perbedaan, memisahkan diri, tidak lagi tetap berkeadaan sama, sebagai yang sama-sama berasal dari genetica dari anak kembar yang identik, itu adalah karena itu dikondisikan, dipersyarati, oleh 'karma', - hal ini merupakan suatu faktor yang tak dapat dihindarkan.

REFERENSI.

- Baptist, Egerton C.

The Supreme Science of the Buddha, Ceylon, 1954

- Carter, C.O

Human Heredity, Pelican, 1969.

- Dahlke, Paul

Buddhist Essays, Ceylon, 1961.

- Dunn & Dolzhansky

Heredity, Race and Society, Mentor Book, 1960.

File dalam format Microsoft Word dapat anda Download di >> CLICK ME <<