Check out the Latest Articles:

Sabtu, 11 Juni 2011

AGAMA BUDDHA DAN ILMU FISIKA NUKLIR


Oleh :
UPASAKA WU SHU
(Loo Yung Tsung)

Theori-theori ilmu Fisika, yang baru, mengungkapkan fakta-fakta, sebagai berikut ini :

Bagian yang paling sederhana dari zat, sekarang ini, dianggap terdiri dari proton-proton dan elektron-elektron. Sekeliling elektron-elektron terdapat garis-garis kekuatan magnetis. Pengaruh garis-garis kekuatan magnetis itu, secara theoritis, bersifat universal. Makna kalimat tersebut, dapat diterangkan secara lain : bahwa konstitusi-konstitusi dari alam semesta, itu saling ber-interaksi, satu terhadap yang lainnya, dan berkeadaan tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian, dapatlah kita katakan bahwa konsep tentang eksistensi individual, dari sesuatu objek yang tunggal, itu dasar pemikirannya bersifat illusi atau khayalan belaka. Ini adalah fakta yang ke-satu.

Didalam "realitas"-nya, benda-benda itu tidak ber-eksistensi didalam keadaan tiga-dimensional, seperti kebanyakan orang menyangka demikian; termasuk beberapa ilmuwan yang mempercayainya seperti itu. Yang lebih mendekati kenyataan adalah bahwa benda-benda itu ber-eksistensi didalam keadaan empat-dimensional, dimana disisi lainnya, dari ruang (= space), adalah "waktu" (= time), sebagai suatu elemen yang penting. Suatu continum, adalah suatu unit baru, dari pengukuran didalam alam realitas. Bahkan unsur dan unsur waktu, itu berkeadaan saling bergantungan, yang satu terhadap yang lainnya. Ini adalah fakta yang ke-dua.

Dari fakta-fakta tersebut, orang dapat melihat secara langsung bahwa sifat-sifat alam, atau realitas, itu dapat diterangkan secara definitif, berada diluar imaginasi kita.

Walaupun terdapat fakta-fakta yang demikian itu, para ilmuwan dan para ahli filsafat, masih berusaha dengan tak henti-hentinya, untuk memecahkan problema realitas, dengan alat yang sama, yang bersifat kuno, yaitu : kekuatan dalam ber-imaginasi dan ber-nalar. Kami yakin bahwa mereka itu akan mengalami kekecewaan. Satu-satunya kemungkinan untuk memperoleh sukses, adalah apabila mereka mau menyatakan konsepsi dari sifat-sifat realitas itu kedalam ungkapan mathematis.

Marilah sekarang kita bicarakan mengenai sumber dari pengetahuan yang kita peroleh. Dapatlah ditunjukkan bahwa pengetahuan yang kita peroleh melalui proses pemikiran, atau penalaran, itu sifatnya relative, atau indirect (= secara tidak langsung). Orang hanya dapat berfikir mengenai ruang dan waktu, sebagai berkeadaan bebas dan tidak saling bergantungan. Demikianlah, orang tidak dapat membebaskan dirinya dari alam semesta yang dalam kenyataannya tidak bersifat tiga-dimenslonal, yang tidak riil sifatnya itu, karena orang menganggap itu berkeadaan konflik, atau bertentangan, dengan sifat-sifat dari realitas.

Penyusun artikel ini percaya bahwa alam semesta, yang bersifat tiga-dimensional ini, sesungguhnya adalah merupakan projeksi (atau projeksi-projeksi) dari realitas, yaitu dari yang dalam kenyataannya adalah bersifat empat-dimensional, yang dipandang oleh beberapa pengamat, dari berbagai segi, dan itu sama, atau analog, dengan rencana gambar (= cetak-biru) yang dua-dimensional yang merupakan suatu projeksi dari gedung yang sesungguhnya bersifat tiga-dimensional.

Para ilmuwan dan para filsafat hanya mengubah projeksi-projeksi dengan tujuan mengurangi kesalahan dan untuk dapat lebih dekat dengan profil-profil dari realitas. Mereka hanya men-desain (merencanakan pola-polanya), tetapi tidak mengkonstruksi gedungnya. Adalah jelas bahwa, tidak ada artinya, betapa pun sampai sekecil-kecilnya, atau bagaimana pun telitinya desain itu, gedungnya tidak akan dapat berwujud, apabila tidak ada kegiatan mengkonstruksinya, atau membangunnya.

Sama jelasnya dengan yang kami sebutkan diatas, bagi seorang Pencari Kasunyataan, theori-theori dari para ilmuwan dan para ahli ilmu filsafat, itu hanya memberikan pertolongan sampai sejauh tertentu saja, dan tidak semuanya bersifat vital. Baginya apa yang lebih penting dari semua theori ilmu pengetahuan dan ilmu filsafat adalah membentuk gedung, secara riil, dengan menyediakan material dan melaksanakan kerja-nyata, sehingga dia dapat hidup bahagia didalam gedungnya, dan dapat melihat setiap bagian dari gedung itu dengan sejelas-jelasnya.

Apabila orang mau mengalihkan observasinya seratus delapan puluh derajat, yaitu melihat kebelakang, pada sumber-arah pengetahuan secara langsung, - yang berupa kesadaran (= consciousness) -, orang akan mendapati sejumlah data berbagai jenis, yang sangat besar nilainya, mengenai reatitas. Tetapi proses introspeksi itu sukar menguasainya. Untuk dapat mengurangi kesalahan dan menghindari diterimanya "intuisi" yang palsu, adanya latihan persiapan, moral dan mental, adalah essensial.

Benda-benda itu dihayati, atau diketahui adanya, didalam proses mengalaminya. Pengalaman itu disimpan didalam bagian yang paling dalam dari jiwa. Fungsi dari bagian jiwa tersebut, berkeadaan begitu halus dan lembut, sehingga jarang dapat dipersepsi (= diamati = dihayati) oleh orang kebanyakan. Pengalaman itu terkena modifikasi, atau perubahan, sedikit demi sedikit, dan saat ke saat. Prinsip kausalitas, atau hukum sebab dan akibat, itu menguasai dan mengatur modifikasi-modifikasi.

Didalam semua pengalaman dengan dirinya sendiri, ego, sebagai pusat, maka elemen-elemen material dan spiritual itu dihayati secara salah, sebagai objek-objek individual, sebagai lingkungan sekitar, dengan kesan sebagai bersifat tiga-dimensional. Konsep yang salah ini menghasilkan kecenderungan centripetal, yang menarik perhatian bagi self dan individualitas. Itu menyerupai elemen yang bergerak dengan bebas, dengan tekanan permulaannya, pada struktur. Walaupun belum ada tekanan yang sifatnya external, dari luar, namun elemen itu sendiri selalu didalam keadaan mengalami tekanan, atau ketegangan. Tekanan permulaan tersebut mewakili kekuatan karma. Ketegangan itu merupakan kehidupan yang sifatnya illusive, yang dibebani penderitaan. Apabila kecenderungan centripetal tersebut dapat dilenyapkan secara layak, orangnya akan dengan mudah menghayati kehidupan dengan kesadaran dimensi empat, didalam hidupnya di alam semesta ini.

Sesungguhnyalah, yang kami kemukakan ini adalah cara menginterpretasikan, cara menafsirkan, menurut Agama Buddha, tentang realitas. Pandangan Buddhis ini bersesuaian dengan theori-theori ilmiah modern, dan dapat memberikan cahaya yang terang bagi Sang Pencari Kasunyataan untuk mencapai Pengetahuan Yang Sejati. Sang Sakhyamuni Buddha, adalah Orang Suci Pertama di dunia ini yang telah mampu mencapai Pandangan Terang dan selanjutnya dapat masuk ke ALAM KASUNYATAAN (= TRUTH). Beliau mengistilahkannya, dengan : ALAM SEMESTA YANG SEJATI (= REAL UNIVERSE), NIRVANA, yaitu Alam Realitas, yang berdimensional empat. NIRVANA itu walaupun telah diterangkan didalam banyak cara, keadaannya yang sesungguhnya, berada diluar jangkauan spekulasi (= renungan, pemikiran) kita.

Dengan mempergunakan perumpamaan yang sama, orang dapat sampai pada pemahaman bahwa ajaran Sang Buddha itu adalah desain realitas, yang bersifat praktis dan dapat digunakan didalam praktek, yang ditarik dan diletakkan pada peta yang bersifat sementara. Nilai latihan moral dan mental hingga sampai ke hal yang sekecil-kecilnya, itu begitu besar, dan sukar dibandingkan dengan nilai-nilai bidang yang lainnya. Nilai kepentingannya lebih besar dari pada segi philosophisnya dari ajarannya.

Sang Sakhyamuni telah meyakinkan kepada kita bahwa setiap makhluk hidup, terutama makhluk manusia, itu memiliki kesempatan dan memiliki materi yang cukup, untuk mencapai NIRVANA. Adapun Jalan untuk mencapai NIRVANA itu adalah dengan melakukan latihan moral, dan dengan mengadakan reformasi psychologis, atau perubahan kejiwaan.

Prinsip-prinsip dari ajaran Agama Buddha itu dapat membimbing orang ke arah Jalan Kehidupan Yang Benar, yaitu Jalan Kehidupan tanpa adanya kontradiksi-kontradiksi fikiran, kesalahan-kesalahan penalaran, dan penderitaan dalam bentuk apa pun. Jalan Kehidupan yang benar-benar sangat baik ini dinamai "Jalan Kehidupan Yang Suci". Dengan melangkah di Jalan Yang Suci ini, seseorang sungguh-sungguh dapat hidup dengan bahagia dan terbebas dari kematian.

Paragraph-paragaraph tersebut dimuka, dapatlah kita ringkaskan sebagai berikut :

  1. Benda-benda atau makhluk-makhluk hidup, itu ada, atau berkehidupan, didalam keadaan saling bergantungan yang satu dengan yang lainnya.
  2. Benda-benda, atau makhluk-makhluk hidup, itu saling berinteraksi, yang satu dengan yang lainnya, dan setiap saat senantiasa mengalami perubahan.
  3. Yang tersebut pada No. 1 dan No. 2 diatas, menunjukkan bahwa keadaan realitas itu berkeadaan empat dimensional dan bahwa sifat-sifatnya, ada diluar imaginasi kita.
  4. Theori-theori ilmiah dan philosophis itu hanya memberi kepada kita projeksi-projeksi dari realitas.
  5. Sumber yang langsung dari pengetahuan itu adalah pengalaman. Pengalaman yang subjektif dengan ego sebagai pusat observasi, memberi kepada kita konsepsi yang salah dari realitas. Kekuatan motive yang menyebabkan kecenderungan yang tampaknya tak dapat ditahan untuk mengalami kesalah-pengertian, itu didalam Agama Buddha, dinamai Karma.
  6. Persepsi yang illusive (yang bersifat khayal, atau palsu) dari alam semesta, dan khususnya mengenai self, yang bersifat tidak tergantung, atau bebas, menyebabkan setiap makhluk itu mengalami penderitaan. Variasi dari penderitaan, itu dikuasai oleh hukum sebab dan akibat, dan bekerja secara alamiah, tentu saja. Kepercayaan kepada seorang Deva, atau seseorang makhluk yang sifatnva supernatural. yang menguasai dunia ini, semua merupakan peng-anthropomorphian, dan dengan demikian bersifat phantasmic.
  7. Jalan untuk dapat bebas dari gangguan karma adalah "JALAN KE NIRVANA". yang terdiri dari latihan-latihan moral, menjalankan ajaran-ajaran Agama, dan sebagainya, serta latihan-latihan kejiwaan, konsentrasi, meditasi, kontemplasi, dan sebagainya, seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha.
  8. Pengetahuan Yang Benar, yang menjadi tujuan dari philosophi, dan tingkah-laku yang bajik (= virtue), susila, dan bijaksana, yang menjadi tujuan dari Ethika, adalah merupakan dua cabang dari pohon Realitas. Atau itu dapat dibandingkan dengan kedua roda, dari satu kereta, yang membawa orang ke Pencapaian NIRVANA.
  9. Bagi seorang Pencari Kasunyataan, Pengetahuan yang Benar, adalah merupakan sebuah microscope: latihan merupakan eksperimen; dan keseluruhan bagian dari Alam Semesta ini, merupakan laboratori-nya yang sempurna.
  10. Ajaran Agama Buddha itu memperlengkapi semua yang oleh para Pencari Kasunyataan, dibutuhkan, untuk dipelajari, dan diikuti petunjuk-petunjuknya.


File dalam format Microsoft Words dapat anda Download di >>>CLICK ME<<<

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar