Check out the Latest Articles:
Tampilkan postingan dengan label sutta pitaka - Khuddaka-Nikaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sutta pitaka - Khuddaka-Nikaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 April 2011

Khuddaka-Nikaya (silahkan klik judul kitab yang ingin di baca)

Khuddaka-Nikaya

Khuddaka-Nikaya

Pembagian dalam buku-buku kecil seperti diterangkan oleh Buddhaghosa. Ia memberikan dua daftar isi yang dalam salah satunya tidak terdapat karya pertama, tetapi sutta-sutta tertentu di dalamnya sebagian besar terdapat pula pada bagian lain dalam Tipitaka. Nikaya ini muncul secara bertahap dengan pengumpulan koleksi-koleksi yang tidak terdapat dalam Nikaya-Nikaya lama. Nikaya ini tidak ditemukan dalam Kitab Suci aliran-aliran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Cina, meskipun ada terjemahan tersendiri dalam bahasa Cina dari sebagian besar isinya.
1. Khuddaka-patha. “Bacaan dari bagian-bagian singkat” yang memuat
1. Saranattaya. Pengulangan tiga kali berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sangha.
2. Dasasikkhapada. Sepuluh sila yang harus dipatuhi oleh para bhikkhu. Lima sila pertama harus dipatuhi oleh umat biasa.
3. Dvattimsakara. Daftar 32 unsur pokok Badan jasmani.
4. Kumarapañha. Sepuluh macam tanya-jawab untuk para samanera.
5. Mangala-sutta. Sebuah syair untuk menjawab pertanyaan mengenai apakah kebahagiaan tertinggi itu.
6. Ratana-sutta. Sebuah syair mengenai Tiratana dalam hubungannya untuk menerangkan kepada para makhluk halus.
7. Tirokudda-sutta. Syair mengenai sajian untuk roh (mahluk peta) keluarga yang sudah meninggal.
8. Nidhikanda-sutta. Syair tentang pengumpulan harta sejati.
9. Metta-sutta. Syair tentang cinta kasih.
2. DHAMMAPADA. “Kata-kata dari Dhamma”, kumpulan 423 bait dalam 26 vagga.
3. Udana. Kumpulan dari 80 udana dalam delapan vagga, yakni pengutaraan Sang Buddha pada kesempatan-kesempatan tertentu. Kumpulan ini sebagian besar dalam bentuk syair dan disertai cerita prosa mengenai keadaan-keadaan yang menyebabkan vagga-vagga ini.
1. Bodhi-Vagga. Menggambarkan kejadian-kejadian tertentu setelah pencapaian Penerangan Sempurna oleh Sang Buddha, termasuk khotbah termasyhur kepada Bahiya yang menekankan kehidupan pada waktu sekarang.
2. Mucalinda. Vagga ini dinamai menurut nama raja Naga yang melindungi Sang Buddha dengan kepalanya.
3. Nanda. Sang Buddha meyakinkan saudara tirinya, Nanda, tentang kehampaan hidup duniawi. Juga, memuat nasihat-nasihat kepada Sangha.
4. Meghiya. Tanpa memperdulikan nasihat Sang Buddha, Meghiya mengasingkan diri ke sebuah hutan mangga untuk berlatih meditasi, tetapi batinnya segera diserang dengan pikiran-pikiran tidak baik. Setelah kembali kepada Sang Buddha, ia diberitahukan bahwa lima faktor harus ditumbuhkan oleh orang yang batinnya belum berkembang – persahabatan yang baik, moralitas, percakapan yang menguntungkan, keteguhan hati, dan pengetahuan. Juga, memuat cerita-cerita Sundari dan serangan terhadap Sariputta oleh seorang yakkha.
5. Sonathera. Memuat kisah kunjungan Raja Pasenadi kepada Sang Buddha, khotbah kepada Suppabuddha yang menderita penyakit kusta, penjelasan mengenai delapan ciri Sasana dan tahun pertama dari kehidupan Sona sebagai bhikkhu.
6. Jaccandha. Memuat gambaran tentang Sang Buddha akan mencapai parinibbana, percakapan Pasenadi, dan kisah raja yang menyuruh orang-orang yang buta sejak lahir (jaccandha) untuk masing-masing meraba dan menggambarkan seekor gajah – untuk membantu menjelaskan realisasi sebagian dari kebenaran.
7. Cula. Memuat peristiwa-peristiwa kecil, terutama mengenai para bhikkhu secara perorangan.
8. Pataligama. Memuat definisi termasyhur dari Nibbana sebagai yang tak dilahirkan, tidak menjadi, tidak dibuat, tidak dibentuk; santapan Buddha yang terakhir dan nasihatnya kepada Ananda mengenai Cunda, dan kunjungan ke Pataligama tempat Sang Buddha mengungkapkan lima manfaat menempuh kehidupna suci dan lima kerugian tidak melakukan hal itu.
4. Itivuttaka. kumpulan 112 sutta pendek dalam 4 nipata yang masing-masing disertai syair. Syair-syair ini biasanya dimulai dengan kata iti vuccati, “demikian dikatakan”. Karya ini terdiri atas ajaran-ajaran etika dari Sang Buddha:
1. Ekaka-Nipata - tiga vagga Nafsu, kemauan jahat, khayalan, kemarahan, dengki, kesombongan, ketidaktahuan, ketamakan, perpecahan, kedustaan, kekikiran dicela; dan kesadaran, pergaulan dengan orang bijaksana, kerukunan, kedamaian batin, kebahagiaan, ketekunan, kemurahan hati dan cinta kasih dipujikan.
2. Duka – dua vagga. Menjelaskan penjagaan pintu-pintu indria dan kesederhanaan dalam makanan, perbuatan baik, kebiasaan sehat dan pandangan benar, ketenangan dan penyendirian, perasaan malu dan takut, dua jenis Nibbana, dan kebajikan-kebajikan menempuh kehidupan pertapa yang bersemangat.
3. Tika - lima vagga. Mengelompokkan faktor-faktor yang berlipat tiga: akar-akar kejahatan, unsur-unsur, perasaan-perasaan, kehausan, kebusukan, dsb. dan menunjukkan kehidupan sesuai bagi seorang bhikkhu.
4. Catukka. - Mengelompokkan faktor-faktor yang berlipat empat – kebutuhan para bhikkhu, Kesunyataan Mulia, dll. dan menekankan kasucian batin bagi bhikkhu.
5. Sutta-Nipata. “Kumpulan sutta”. Kumpulan ini terdiri atas lima vagga yang memuat 71 sutta. Sutta-sutta, yang masing-masing memuat dari delapan sampai lima puluh syair, berbentuk syair dengan pendahuluan dalam bentuk sajak maupun prosa.
1. Uragavagga
Uraga Sutta. Bhikkhu yang menyingkirkan semua nafsu manusiawi – kemarahan, kebencian, kerakusan, dll. – dan terbebas dari khayalan dan ketakutan, diperbandingkan dengan seekor ular yang telah berganti kulit.
Dhaniya Sutta. Ketenangan duniawi diperbandingkan dengan ketenangan Buddha.
Khaggavisana Sutta. Kehidupan pengembaraan seorang bhikkhu dipujikan – ikatan-ikatan kekeluargaan dan kemasyarakatan dihindari mengingat kemelekatan-kemelekatannya yang bersifat samsara, dengan mengecualikan “sahabat baik” (kalyanamitta).
Kasibharadvaja Sutta. pekerjaan yang berguna secara sosial atau duniawi diperbandingkan dengan usaha-usaha Sang Buddha yang tak kurang pentingnya untuk mencapai Nibbana.
Cunda Sutta. Sang Buddha menguraikan empat jenis samana: seorang Buddha, seorang Arahat, seorang bhikkhu yang bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab, seorang bhikkhu penipu.
Parabhava Sutta. “Sebab-sebab kejatuhan seseorang” dalam bidang moral dan batin diuraikan.
Vasala atau Aggika Bharadvaja Sutta. Untuk menyangkal tuduhan “orang buangan”, Sang Buddha menjelaskan bahwa karena perbuatanlah, bukan garis keturunan, orang menjadi orang buangan atau brahmana.
Metta Sutta. Unsur-unsur pokok latihan cinta kasih terhadap semua makhluk.
Hemavata Sutta. Dua orang yakkha ragu-ragu tentang sifat-sifat Buddha yang dinyatakan olehnya. Sang Buddha merumuskan uraiannya dengan menjelaskan jalan pembebasan dari kematian.
Alavaka Sutta. Sang Buddha menjawab pertanyaan-pertanyaan yakkha Alavaka mengenai kebahagiaan, pengertian, jalan ke Nibbana.
Vijaya Sutta. Suatu analisa tubuh dalam bagian-bagian pokoknya (yang tidak bersih) dan sebutan bhikkhu yang mencapai Nibbana karena memahami sifat sejati badan jasmani.
Muni Sutta. Konsepsi idealistis seorang muni atau orang bijaksana yang menjalani kehidupan menyepi yang bebas dari nafsu-nafsu.
2. Culavagga.
Ratana Sutta. Nyanyian pujian kepada Tiratana, Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Amagandha Sutta. Kassapa Buddha menyangkal pandangan brahmana tentang kekotoran batin karena memakan daging dan menyatakan bahwa kekotoran batin hanya terjadi karena pikiran jahat dan perbuatan-perbuatan yang berhubungan dengan itu.
Hiri Sutta. Uraian panjang lebar secara ilmiah mengenai persahabatan sejati.
Mahamangala Sutta. Tiga puluh delapan macam berkah diuraikan dalam menempuh kehidupan suci – mulai dengan petunjuk-petunjuk etika dasar dan mencapai puncaknya pada penyelaman Nibbana.
Suciloma Sutta. Untuk menanggapi sikap mengancam dari yakkha Suciloma, Sang Buddha menyatakan bahwa nafsu, kebencian, keraguan, dsb. bermula dengan badan jasmani, keinginan, dan konsep aku.
Dhammacariya Sutta. Seorang bhikkhu hendaknya menjalani kehidupan yang adil dan suci dan menghindari mereka yang suka bertengkar dan mereka yang menjadi budak keinginan.
Brahmanadhammika Sutta. Sang Buddha menjelaskan kepada beberapa orang brahmana tua dan kaya tentang norma-norma moral yang tinggi dari para leluhur mereka dan bagaimana akhlak mereka merosot karena mengikuti ketamakan akan kekayaan raja. Akibatnya, mereka membujuk raja untuk memberikan kurban hewan, dll. untuk memperoleh kekayaan dan dengan demikian kehilangan pengetahuan tentang Dhamma.
Nava Sutta. Dengan memperhatikan sifat guru, orang seharusnya pergi pada orang yang terpelajar dan pandai untuk memperoleh pengetahuan yang dalam tentang Dhamma.
Kimsila Sutta. Jalan dari seorang siswa biasa yang teliti, Dhamma sebagai perhatiannya yang pertama dan terakhir.
Utthana Sutta. Serangan terhadap keengganan dan kemalasan. Meski ditembus oleh panah dukkha, orang seharusnya tidak berhenti sampai semua keingianan terhapus.
Rahula Sutta. Buddha menasihati puteranya yang telah ditahbiskan, Rahula, untuk menghormati orang bijaksana dan bergaul dengan dan berbuat sesuai dengan prinsip-prinsip seorang pertapa.
Vangisa Sutta. Sang Buddha memberi kepastian kepada Vangisa bahwa gurunya yang telah wafat, Nigrodhakappa, telah mencapai Nibbana.
Sammaparibbajaniya Sutta. Jalan seorang siswa sebagai bhikkhu yang teliti dan bersungguh-sungguh: ketidakmelekatan, pembasmian hawa nafsu, pemahaman sifat Samsara.
Dhammika Sutta. Sang Buddha menjelaskan kepada Dhammika kewajiban masing-masing dari seorang bhikkhu dan umat biasa; umat biasa diharapkan untuk mentaati Pancasila dan memperingati hari-hari uposatha.
3. Mahavagga
Pabbajja Sutta. Raja Bimbisara dari Magadha menggoda Sang Buddha dengan kekayaan materinya dan menanyakan garis keturunannya. Sang Buddha menunjukkan kenyataan tentang kelahirannya di antara kaum Sakya dari Kosala dan bahwa ia telah mengatasi sifat khayal dari kenikmatan-kenikmatan indria.
Padhana Sutta. Uraian yang jelas sekali mengenai godaan Mara menjelang pencapaian Penerangan Sempurna oleh Sang Buddha.
Subhasita Sutta. Bahasa para bhikkhu hendaknya baik dalam penuturannya, menyenangkan, tepat dan benar.
Sundarikabharadvaja Sutta. Sang Buddha menjelaskan kepada sang brahmana Sundarika, bagaimana orang memperoleh kehormatan untuk menerima persembahan.
Magha Sutta. Sang Buddha menjelaskan hal tersebut di atas kepada umat bernama Magha dan menjelaskan berbagai jenis berkah karena melakukan persembahan.
Sabhiya Sutta. Sabhiya, seorang pertapa kelana, tidak dapat memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya dari enam guru termasyhur pada waktu itu. Karena itu, ia mendekati Sang Buddha dan menjadi siswa setelah mendapat jawaban-jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaannya.
Sela Sutta. Seorang brahmana, Sela, berbicara dengan Sang Buddha dan menjadi pengikut Sang Buddha bersama tiga ratus orang pengikutnya.
Salla Sutta. Kehidupan itu berlangsung singkat dan semua kehidupan terancam oleh kematian, tetapi orang bijaksana yang memahami sifat kehidupan tidak merasa takut.
Vasetta Sutta. Dua orang pemuda, Bharadvaja dan Vasettha, membahas masalah martabat brahmana: Bharadvaja mengatakan bahwa seseorang menjadi brahmana karena kelahiran, tetapi Vasettha mengatakan bahwa seseorang menjadi brahmana hanya karena perbuatan. Sang Buddha akhirnya menegaskan pandangan Vasettha sebagai pendapat yang benar.
Kokaliya Sutta.Kokaliya secara keliru menganggap keinginan-keinginan jahat berasal dari Sariputta dan Moggallana dan akhirnya menimbulkan penderitaan – karena kematian dan tumimbal lahir di salah satu alam neraka. Sang Buddha kemudian menyebutkan satu persatu neraka-neraka yang berbeda dan menggambarkan hukuman atas perbuatan mengumpat dan memfitnah.
Nalaka Sutta. Ramalan pertapa Asita mengenai Buddha Gotama yang akan datang. Putera adik perempuannya, Nalaka, memiliki kebijaksanaan tertinggi yang dibentangkan kepadanya oleh Sang Buddha.
Dvayatanupassana Sutta. Dukkha timbul dari substansi, ketidaktahuan, panca khanda, keinginan, kemelekatan, usaha, makanan, dsb.
4. Atthakavagga
Kama Sutta. Untuk menghindari akibat-akibat yang tidak menyenangkan, kenikmatan-kenikmatan indria hendaknya dihindari.
Guhatthaka Sutta. Selain dari hal tersebut di atas, eksistensi fisik hendaknya tidak dipegang erat jika seseorang tertarik untuk mencapai pembebasan dari Samsara.
Dutthathaka Sutta. Orang yang memuji-muji kebajikannya sendiri dan terikat pada pandangan-pandangan dogmatis (yang berbeda dari orang ke orang dan sekte ke sekte) menjalani kehidupan yang terbatas. Namun, seorang pertapa tetap tidak menonjolkan diri sendiri dan lepas dari sitem-sistem kefilsafatan.
Suddhatthaka Sutta. Pengetahuan tentang sistem-sistem kefilsafatan tidak dapat menyucikan seseorang dan terdapat kecenderungan untuk pecah dan berubah, tanpa sama sekali mencapai kedamaian batin. Namun, orang bijaksana tidak disesatkan oleh nafsu dan tidak berpegang erat pada sesuatu dalam Samsara.
Paramatthaka Sutta. Orang hendaknya tidak terlibat dalam perbantahan-perbantahan kefilsafatan. Seorang brahmana sejati tidak berbuat demikian dan mencapai Nibbana.
Jara Sutta. Dari sifat suka mementingkan diri sendiri muncul ketamakan dan kekecewaan. Bhikkhu yang diharapkan, “seorang yang tanpa rumah”, bersikap bebas dan tidak mencari pembersihan melalui orang lain.
Tisa Metteya Sutta. Sang Buddha menjelaskan jenis-jenis akibat yang tidak dikehendaki yang muncul dari kontak-kontak hawa nafsu.
Pasura Sutta. Kebodohan dari perdebatan-perdebatan di mana kedua belah pihak menghina atau mencemoohkan satu sama lain. Jika kalah, mereka menjadi tidak senang. Karena itu, hal itu tidak membawa penyucian.
Magandiya Sutta. Kembali Sang Buddha menekankan kepada Magandiya, seorang yang yakin akan kesucian melalui filsafat, bahwa kesucian hanya dapat terjadi karena kedamaian batin.
Purabheda Sutta. Kelakuan dan ciri-ciri seorang bijaksana sejati: kebebasan dari keserakahan, kemarahan, keinginan, nafsu, dan kemelekatan, dan senantiasa tenang, tenggang rasa, dan bermental seimbang.
Kalahavivada Sutta. Perbantahan dan perdebatan timbul dari obyek-obyek yang dirasakan mendalam, dsb.
Culaviyuha Sutta. Uraian mengenai mazhab-mazhab filsafat yang berbeda semuanya saling bertentangan tanpa menyadari bahwa Kebenaran itu satu.
Mahaviyuha Sutta. Para ahli filsafat hanya memuji diri mereka sendiri dan mengecam orang lain, tetapi seorang brahmana sejati tetap tidak tertarik kepada pencapaian intelektual yang meragukan itu dan karenanya tenang dan damai.
Tuvataka Sutta. Bhikkhu seharusnya memotong akar kejahatan dan keserakahan, mempelajari Dhamma, tenang dan penuh renungan, menghindari obrolan, kemalasan, dsb. dan dengan teliti memenuhi kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan.
Attadanda Sutta. Orang bijaksana hendaknya tulus, tidak berbohong, sederhana, bebas dari ketamakan dan fitnah, bersemangat dan tanpa keinginan untuk memperoleh nama dan kemasyhuran.
Sariputta Sutta. Lagi-lagi, pada saat ini untuk menjawab pertanyaan Sariputta, Sang Buddha menetapkan prinsip-prinsip yang seharusnya mengatur kehidupan bhikkhu.
5. Parayanavagga
Bagian ini terdiri atas enam belas dialog (puccha) antara Sang Buddha dan para brahmana dan bhikkhu pengikut:
Ajita,
Tissa Metteya,
Punnaka,
Mettagu,
Dhotaka,
Upasiva,
Nanda,
Hemaka,
Todeyya,
Kappa,
Jatukanni,
Bhadravudha,
Udaya,
Posala,
Mogharaja, dan
Pingiya.
Mereka semua menekankan perlunya membasmi keinginan, ketamakan (lobha), kemelekatan, pandangan-pandangan kefilsafatan, kenikmatan indria, kemalasan; dan tetap menjauh, tidak terikat, tenang, penuh perhatian, teguh dalam Dhamma – untuk mencapai Nibbana.
Penutup (Parayana Thuti Gatha)
6. Vimanavatthu. “Cerita-cerita mengenai rumah di surga” yang merupakan 85 syair dalam tujuh vagga mengenai pahala dan tumimbal lahir di alam-alam surga.
7. Petavatthu. Terdiri atas 51 syair dalam empat vagga mengenai tumimbal lahir sebagai setan pengembara (peta) karena perbuatan-perbuatan tercela.
8. Theragatha. “Syair tentang para bhikkhu senior” (thera), yang berisi 107 syair (1.279 gatha).
9. Therigatha. “Syair tentang para bhikkhuni senior” (theri), yang berisi 73 syair (522 gatha).
10.Jataka. Jataka atau Cerita Kelahiran merupakan kumpulan yang memuat 547 kisah yang dianggap sebagai cerita tentang kehidupan-kehidupan lampau Sang Buddha. Nidana Katha atau “Cerita tentang Garis Silsilah” adalah ulasan pengantar yang menguraikan kehidupan Sang Buddha sampai pembukaan Vihara Jetavana di Savatthi dan juga kehidupan-kehidupan lampaunya di bawah Buddha-Buddha terdahulu.
11. Niddesa. Terbagi dalam (i) Mahaniddesa. sebuah ulasan mengenai Atthakavagga dari Sutta-Nipata, dan (ii) Culaniddesa, sebuah ulasan mengenai Parayanavagga dan Khaggavisana Sutta yang juga dari Sutta Nipata. Niddesa ini sendiri diulas dalam Saddhammapajjotika dari Upasena dan di situ dihubungkan dengan Sariputta.
12. Patisambhidamagga. Suatu analisa “Abhidhamma” tentang konsep dan latihan yang sudah disebutkan dalam Vinaya Pitaka dan Digha, Samyutta dan Anguttara Nikaya. Ini dibagi dalam tiga bagian: Maha-vagga, Yuganaddha-vagga, dan Pañña-vagga; tiap-tiap vagga memuat sepuluh topik (Katha).Maha-vagga. Pengetahuan tentang ketidakkekalan dan dukkha dari segala sesuatu yang terbentuk; Empat Kesunyataan Mulia; Sebab Musabab yang Saling Bergantungan; empat kelompok alam kehidupan; pandangan keliru, Lima Kemampuan, tiga aspek Nibbana, kamma-vipaka, empat jalan menuju Nibbana.Yuganaddha-vagga. Tujuh Faktor Penerangan, Empat Dasar Kesadaran, Empat Usaha Benar, Empat Kekuatan (kemauan, daya, pikiran, penyelidikan), Delapan Jalan Mulia, empat pahala dari kehidupan bhikkhu (Patticariya) dan Nibbana, 68 jenis kemampuan.Pañña-vagga. Delapan Jenis Kelakuan (Cariya): sikap tubuh (berjalan, duduk, berdiri, berbaring), alat-alat indria, kesadaran, pemusatan pikiran (Jhana), Empat Kesunyataan Mulia, Empat Jalan menuju Nibbana, Empat Pahala dari kehidupan bhikkhu, dan lokattha (untuk meningkatkan kesejahteraan dunia).
13. Apadana. Kisah dalam syair tentang kehidupan lampau dari 550 orang bhikkhu dan 40 orang bhikkhuni.
14. Buddhavamsa. “Riwayat Para Buddha” yang di dalamnya Sang Buddha menuturkan cerita tentang kebulatan hatinya untuk menjadi Buddha, dan mengungkapkan riwayat dua puluh empat Buddha yang mendahuluinya.
15. Cariyapitaka. Tiga puluh lima kisah dari Jataka dalam syair yang melukiskan tujuh dari Sepuluh Kesempurnaan (Dasa Parami) – kemurahan hati, moralitas penglepasan, kebijaksanaan, daya usaha, kesabaran, kebenaran, keteguhan hati, cinta kasih dan keseimbangan batin.

Rabu, 20 April 2011

16. SARIPUTTA SUTTA : Praktek latihan seorang bhikkhu

16. SARIPUTTA SUTTA

Sariputta
Praktek latihan seorang bhikkhu

Yang Mulia Sariputta berkata:
1. Belum pernah kulihat, belum pernah pula orang mendengar ada Guru dengan tutur manis semacam ini turun dari surga Tusita ke tengah banyak orang. (955)
2. Manusia yang memiliki visi, kemudian muncul — sebagaimana dia sebenarnya — bagi alam manusia dan dewa. Dan setelah menguak semua kegelapan, ia sendiri mencapai kebahagiaan. (956)
3. Di sini, di antara orang banyak, saya datang memohon, untuk bertanya kepada Sang Buddha yang tidak memiliki kemelekatan, seorang guru tanpa tipu muslihat yang telah datang ke dunia. (957)
4-5. Bhikkhu yang tidak tertarik pada dunia akan mencari tempat tinggal yang sunyi di bawah, pohon, di gua-gua di gunung; bahaya apakah yang ada bagi dia yang bersuka cita dalam berbagai tempat tinggal seperti ini? Bhikkhu itu tidak akan gentar di tempat kediamannya yang tenang. (938-9)
6. Berapa banyakkah bahaya di dunia ini yang harus diatasi oleh bhikkhu yang berdiam sendirian, yang menapak menuju alam tanpa kematian? (960)
7. Apakah kata-kata, apakah obyek-obyek di dunia ini, apakah kebajikan dan praktek seorang bhikkhu yang penuh semangat? (961)
8. Dengan terkonsentrasi, bijaksana dan penuh kewaspadaan, pelatihan apakah yang harus dia jalani agar dia dapat menghilangkan ketidakmurniannya sendiri bagaikan seorang pandai perak menghilangkan zat tak berguna dari peraknya? (962)

Sang Buddha berkata:
9. O, Sariputta, kepadamu yang muak dengan dunia, yang bergembira dalam kesendirian, dan menginginkan pencerahan sempurna sesuai dengan Kebenaran, akan kuberitahukan apa yang telah kuwujudkan. (963)
10. Bhikkhu yang bijaksana, penuh perhatian dan berkelana dalam keterbatasan,1 tidak takut akan lima bahaya, [yaitu] lalat pengganggu dan semua lalat lain, ular, manusia yang memiliki niat jahat atau binatang. (964)
11. Dia tidak takut kepada orang bida’ah, bahkan ketika dia telah melihat bahayanya. Selain itu, dia yang mencari kebaikan, akan menaklukkan bahaya-bahaya lain juga. (965)
12. Dia bisa bertahan terhadap rasa dingin dan panas yang berlebihan, bahkan jika dia harus menanggung rasa sakit dan kelaparan. Karena acap kali terkena hal-hal demikian, dan karena tak-berumah, maka berusahalah sekuat mungkin ! (966)
13. Hendaknya dia tidak mencuri, hendaknya dia tidak berbicara bohong, hendaknya dia dengan kasih sayang menyentuh mereka yang lemah atau kuat. Ketika dia menyadari bahwa pikirannya gelisah, hendaknya kegelisahan itu dihalau pergi dengan pengetahuan bahwa kegelisahan termasuk di bagian yang rendah. (967)
14. Hendaknya dia tidak terjatuh ke dalam pengaruh kemarahan atau kecongkakan; hendaknya dia tetap demikian setelah mencabut akar-akar kemarahan dan kecongkakan; dan hendaknya dia mengatasi apa yang menyenangkan serta apa yang tidak menyenangkan. (968)
15. Dibimbing oleh kebijaksanaan, dengan suka cita yang agung, setelah menanggulangi bahaya, hendaknya dia menghalau ketidakpuasan dalam kesendiriannya di tempat yang jauh. Hendaknya dia mengatasi empat macam penyesalan: (969)
16. ‘Apa yang akan kumakan, atau di mana aku akan makan? Tidurku [tadi malam] amat tidak nyaman; di manakah aku akan tidur malam ini?’ Hendaknya para aspiran (calon) yang berkelana tanpa-rumah meredakan pikiran-pikiran yang penuh ratapan ini. (970)
17. Setelah menerima makanan, pakaian dan jubah pada waktunya, dia bersikap tak berlebihan dalam hal-hal duniawi sehingga dia dapat merasa puas. Waspada dalam hal-hal ini dan menahan diri sementara berkelana di desa sekalipun orang-orang menyakiti hatinya, dia tidak pernah mengucapkan kata yang kasar. (971)
18. Dia yang berkelana dengan mata tertuju ke bawah, tidak berkeliaran, tekun bermeditasi, haruslah sangat waspada. Setelah mendapatkan ketenang-seimbangan, dengan pikiran yang mantap dia harus memutus buah-buah pikir yang rendah dan tak keruan, serta penyesalan yang dalam. (972)
19. Hendaknya dia menerima kata-kata teguran dengan penuh perhatian. Lewat kata-kata teguran, hendaknya dia mematahkan sikap keras-kepala pada diri sesama bhikkhu. Hendaknya dia mengucapkan kata-kata bijaksana pada saat yang tepat. Hendaknya dia tidak berpikir mengecilkan arti orang-orang yang tidak sopan. (973)
20. Kemudian dengan penuh perhatian hendaknya dia berlatih untuk mendisiplinkan lima macam polusi di dunia, [yaitu] nafsu terhadap bentuk, suara, citarasa, bau, dan sentuhan. (974)
21. Hendaknya bhikkhu yang penuh perhatian ini –dengan pikiran yang telah terbebas– menaklukkan nafsu terhadap hal-hal ini. Kemudian, dengan menyelidiki Kebenaran secara menyeluruh dan dengan konsentrasi, dia akan menghancurkan kegelapan [ketidaktahuan]. (975)
Catatan
  1. Empat pembatasan (pariyanta) adalah pengendalian diri secara moral (silasamvara), pengendalian indera (indriyasamvara), sikap tak berlebihan dalam makanan (bhojanamattannuta), dan penerapan kewaspadaan (jagiriyanuyoga).

15. ATTADANDA SUTTA : Perilaku Kekerasan

15. ATTADANDA SUTTA

Perilaku Kekerasan
(Penggambaran tentang kebebasan sempurna yang mirip dengan Sutta sebelumnya)
1. Rasa takut muncul karena mengambil jalan kekerasan — lihat saja bagaimana orang-orang bertengkar dan berkelahi! Tetapi akan kujelaskan padamu sekarang tentang kecemasan dan teror yang telah kurasakan. (935)
2. Melihat orang-orang meronta –bagaikan ikan yang menggelepar di air yang dangkal– dengan rasa saling bermusuhan, aku menjadi takut. (936)
3. Pada suatu ketika, aku ingin mencari tempat untuk bernaung, tetapi tidak pernah kulihat tempat seperti itu. Tak ada sesuatu pun di dunia ini yang kokoh dasarnya, tak ada satu bagian pun darinya yang tidak berubah. (937)
4. Telah kulihat mereka semua berada di dalam perangkap konflik satu sama lain, dan itulah sebabnya aku merasa amat muak. Tetapi kemudian kulihat sesuatu yang terkubur di dalam hati mereka. Dan itu –kemudian kulihat– adalah satu anak panah. (938)
5. Anak panah itulah yang membuat semua korbannya berlarian ke sana kemari. Tetapi bila panah itu telah dicabut keluar, semua lintang pukang pun berhenti. Demikian pula keletihan yang muncul bersamanya. (939)
6. Ada yang dapat kita pelajari dari hal ini: ikatan-ikatan dunia tidak seharusnya dikejar. Dengan tidak tertarik pada segala kesenangan indera, orang seharusnya melatih diri di dalam ketenangan [Nibbana]. (940)
7. Orang bijaksana harus jujur, tidak congkak, tidak menipu, tidak memfitnah dan tidak membenci. Dia seharusnya meninggalkan jahatnya keserakahan dan kekikiran. (941)
8. Untuk membuat pikiranmu terarah pada ketenangan, engkau harus menaklukkan kantuk, kelesuan dan kemalasan mental. Tidak ada tempat bagi kemalasan dan tidak ada jalan bagi kesombongan. (942)
9. Janganlah terpengaruh untuk mau berbohong, janganlah melekat pada bentuk. Engkau harus menembus semua kesombongan dan hidup tanpa kekerasan. (943)
10. Janganlah terhanyut oleh apa yang sudah lama, jangan merasa senang dengan apa yang baru. Janganlah menangisi apa yang hilang, janganlah dikendalikan oleh nafsu. (944)
11. Kusebut nafsu keinginan ini, keserakahan ini: banjir yang besar. Dan kusebut kerinduan ini kemelekatan, rintangan. Lumpur nafsu ini sulit diseberangi. (945)
12. Tetapi manusia bijaksana berdiri di atas tanah yang kokoh — dia bagaikan brahmana, yang tidak pernah menyeleweng dari kebenaran, dan ketika dia telah sepenuhnya meninggalkan keduniawian, maka dia benar-benar tenang. (946)
13. Dia memiliki kebijaksanaan, dan pengetahuan yang lengkap, dia telah memahami Segala Sesuatu Sebagaimana Adanya. Dia sepenuhnya mandiri. Ketika berkelana secara sempurna dari satu tempat ke tempat lain, dia tidak memiliki iri hati terhadap siapa pun. (947)
14. Nafsu merupakan rantai, yang membelenggu dunia, dan sulit untuk dipatahkan. Namun begitu dipatahkan, tidak akan ada lagi ratap tangis dan kerinduan: arusnya telah terpotong dan tidak ada lagi rantai-rantai. (948)
15. Hendaknya tidak ada apa pun di belakangmu; sisihkan masa depan ke satu sisi. Jangan mencengkeram apa yang terletak di tengah; dengan demikian engkau akan menjadi kelana dan akan tenang. (949)
16. Jika orang sama sekali tidak mengidentifikasikan dirinya dengan batin dan materi, jika dia tidak meratapi apa yang tidak ada, maka dia tidak akan menderita karena kehilangan di dunia ini. (950)
17. Bila dia tidak berpikir, ‘Ini milikku’ atau ‘Itu milik mereka’, maka dia tidak mungkin berduka dengan pikiran ‘Aku tidak punya’, karena dia tidak memiliki egoisme. (951)
18. Jika engkau meminta aku menjelaskan tentang orang yang tidak tergoyahkan, kukatakan bahwa di mana tidak ada kekerasan, di mana tidak ada keserakahan, tidak ada jejak nafsu, dan jika dia tetap sama dalam segala keadaan, maka engkau peroleh apa yang dapat kusebut kondisi terpuji dari manusia yang tak tergoyahkan. (952)
19. Orang yang memiliki pemahaman, dan tanpa gejolak nafsu, tidak akan mengumpulkan –dia tidak memiliki pengondisian– dia telah menghentikan segala usaha macam apa pun; jadi di mana pun juga dia melihat kedamaian dan kebahagiaan. (953)
20. Orang bijaksana tidak menilai dirinya yang tertinggi, terendah, atau pun orang biasa; karena tenang dan tidak egois, dia bebas dari kepemilikan: dia tidak mengukuhi apa pun dan dia tidak menolak apa pun. (954)

14. TUVATAKA SUTTA : Jalan Menuju Kebahagiaan

14. TUVATAKA SUTTA

Jalan Menuju Kebahagiaan
(Penggambaran bhikkhu yang ideal)
1. ‘Penguasa kebijaksanaan, Putra Surya,’ kata seseorang kepada Sang Buddha. ‘Saya ingin mengajukan pertanyaan tentang keadaan damai, keadaan kesendirian, dan keadaan tidak melekat yang tenang. Pandangan terang yang bagaimanakah yang membuat seorang bhikkhu menjadi tenang, dingin dan tidak lagi serakah terhadap apa pun?’ (915)
2. ‘Dia mencapai hal ini,’ jawab Sang Buddha, ‘dengan memotong penghalang akarnya, yaitu kebodohan: dia menghapus segala buah-pikir mengenai ‘aku’. Senantiasa penuh perhatian, dia melatih dirinya untuk melepas semua nafsu keinginan yang muncul di dalam dirinya.’ (916)
3. Apa pun yang mungkin dipahaminya di dalam atau di luar, dia harus menghindari menjadi sombong akan pendirian-pendiriannya. Orang baik-baik telah mengatakan bahwa ini bukanlah keadaan tenang. (917)
4. Dia harus menghindar agar tidak berpikir bahwa dirinya lebih baik atau lebih buruk, atau sejajar dengan siapa pun. Ketika kontak dengan berbagai hal, tidak seharusnya dia membumbui ‘diri’-nya itu. (918)
5. Bhikkhu harus mencari ketenangan di dalam dirinya, bukan di tempat lain mana pun juga. Karena jika seseorang tenang di dalam, tidak akan dapat diketemukan suatu ‘diri’ di mana pun juga. Dengan demikian di manakah dapat diketemukan suatu ‘bukan-diri’? (919)
6. Tidak ada ombak di kedalaman laut; laut itu diam, tak terputus. Demikian juga seorang bhikkhu. Dia diam, tanpa nafsu apa pun, tanpa ada sisa di mana kesombongan dan nafsu dapat dibangun di atasnya.’ (920)
7. ‘Bhante,’ kata si penanya, ‘Bhante telah menerangkan dengan kata-kata yang jelas serta mata yang terbuka cara untuk menyingkirkan segala bahaya. Dapatkah sekarang Bhante menerangkan tentang praktek-praktek Sang Jalan, peraturan-peraturan yang harus dijalankan, serta mengembangkan konsentrasi?’ (921)
8. Sang Buddha menjawab: ‘Seorang bhikkhu menjaga agar matanya tidak gelisah memandang ke sana sini dengan nafsu, dan telinganya tuli terhadap celoteh dan gosip. Dia tidak memiliki kerinduan untuk mencicipi hal-hal manis yang baru; demikian pula dia tidak memiliki nafsu untuk memiliki benda-benda dunia sebagai miliknya. (922)
9. Bilamana dia kontak dengan kesan-kesan indera, tidak seharusnya dia menjadi sedih atau berduka. Tidak seharusnya dia lalu menginginkan jenis kehidupan lain, atau gemetar ketika dihadapkan dengan hal-hal yang menakutkan. (923)
10. Ketika diberi nasi dan, makanan lain untuk disantap, atau susu untuk diminum, atau pakaian untuk dikenakan, maka sebagai bhikkhu, tidak seharusnya dia lalu menyimpannya. Dan tidak seharusnya dia merasa cemas jika tidak memperoleh yang mana pun. (924)
11. Dia harus menjadi meditator, bukan yang berkeliaran, dan dia tidak memiliki penyesalan atau kemalasan. Dia adalah seorang bhikkhu, dan selagi duduk atau pun berbaring, dia melewatkan waktunya di kediamannya yang sunyi. (925)
12. Tidak seharusnya dia tidur terlalu banyak, dan dia harus selalu berusaha untuk waspada selagi terjaga. Kemalasan, penipuan, gelak tawa, permainan, hubungan seks, hiasan kehidupan: semua ini harus ditinggalkan. (926)
13. Dia tidak mempelajari praktek magis serta jampi-jampi. Ia tidak menganalisa arti impian, tanda-tanda saat tidur, serta perubahan zodiak. Sebagai pengikutku, tidak seharusnya dia menghabiskan waktu untuk menafsirkan suara-suara burung atau menyembuhkan kemandulan atau menjual obat-obatan. (927)
14. Tidak seharusnya seorang bhikkhu terganggu oleh kritik, atau terkesan oleh pujian. Tidak ada tempat bagi keserakahan di dalam dirinya. Keinginan menimbun, kemarahan serta fitnah merupakan emosi yang harus dibuangnya. (928)
15. Tidak seharusnya dia terlibat di dalam kegiatan jual-beli, dan dia harus belajar agar tidak menimpakan kesalahan dalam bentuk apa pun pada orang lain. Bila bertemu orang di desa, tidak seharusnya dia berbicara kepada mereka dengan harapan memperoleh sesuatu sebagai imbalannya. (929)
16. Tidak seharusnya dia membual, tidak seharusnya dia berbicara dengan sembrono, tidak seharusnya dia melatih diri menjadi kurang ajar atau mengucapkan kata-kata yang menimbulkan pertengkaran. (930)
17. Tidak seharusnya seorang bhikkhu berbicara bohong. Tidak seharusnya dia melakukan tindakan-tindakan tak jujur secara sengaja. Tidak seharusnya dia memandang rendah orang lain, karena menyombongkan kehidupannya, kebijaksanaannya atau prakteknya dalam menjalankan peraturan serta ritual. (931)
18. Dan bilamana dia mendengar para kelana lain atau orang-orang biasa menggunakan kata-kata yang mengandung kemarahan, dia tidak membalas dengan kata-kata yang kasar; karena orang yang baik tidak membalas. (932)
19. Dengan memahami norma ini, bhikkhu yang mencari pengetahuan ini harus melatih diri dengan senantiasa penuh perhatian. Ketika muncul kesadaran bahwa kedamaian dapat ditemukan dalam keadaan tenang, maka dia harus sepenuhnya menyerahkan diri kepada Ajaran Gotama. (933)
20. Dia adalah penakluk yang tak terkalahkan: dia telah melihat dengan matanya sendiri Segala Sesuatu Sebagaimana Adanya; dia tidak meminjamnya dari tradisi. Maka, dengan senantiasa tekun dan hormat, bhikkhu itu sudah seharusnya membaktikan diri kepada Ajaran Sang Penguasa.’ (934)

13. MAHAVIYUHA SUTTA : Penyebab-penyebab Utama Perselisihan

13. MAHAVIYUHA SUTTA

Penyebab-penyebab Utama Perselisihan
1. Mereka yang amat melekati pandangan-pandangan mereka sehingga mengatakan: ‘Hanya inilah yang merupakan kebenaran’, akan menyebabkan dirinya disalahkan atau akan memperoleh pujian karenanya. (895)
2. Hasil dari pujian itu sangat kecil dan tidak cukup untuk menghasilkan ketenangan. Aku nyatakan ada dua akibat perselisihan [yaitu menang atau kalah]. Setelah melihat hal ini, hendaknya tak seorang pun berselisih, demi untuk mewujudkan Nibbana di mana tidak ada perselisihan. (896)
3. Orang bijaksana tidak memeluk erat-erat semua pandangan yang telah muncul di antara orang-orang duniawi. Apakah orang yang telah terbebas dari pandangan harus merasa gembira karena apa yang dilihat dan didengar, dan tetap tergantung pada pandangan-pandangan itu? (897)
4. Mereka yang menganggap bahwa praktek-praktek moral merupakan yang tertinggi akan mengatakan: ‘Kesucian datang melalui pengendalian diri. Setelah menjalani praktek kesucian, marilah kita berlatih di dalamnya. Dari situlah kesucian muncul.’ Tetapi mereka yang disebut ahli itu pun masih tetap terbenam dalam Samsara. (898)
5. Jika dia menyeleweng dari perilaku moral dan praktek kesucian, dia gemetar karena telah gagal dalam tindakannya. Di sini dia merindukan kesucian bagaikan musafir yang kehilangan karavan ketika sedang bepergian dari rumahnya. (899)
6. Setelah sepenuhnya meninggalkan praktek-praktek keagamaan dan tindakan-tindakan yang ‘baik’ dan ‘buruk’, serta tidak lagi merindukan ‘kesucian’ atau pun ‘ketidakmurnian’, dia berkelana sendiri tanpa melakukan kedua hal itu, tanpa melekati ekstrim yang mana pun. (900)
7. Dengan mempraktekkan penyiksaan-penyiksaan diri yang menjijikkan atau melekati apa yang telah didengar, dilihat, atau dipikirkan, orang-orang itu memuji-muji kemurnian dengan suara lantang. Tetapi mereka belum terbebas dari nafsu keinginan untuk terlahir kembali. (901)
8. Bagi orang yang bernafsu, akibatnya adalah lebih banyak nafsu; dia gemetar karena dikuasai kebodohan lewat pandangan-pandangan khayal. Bagi orang yang telah menaklukkan kematian dan kelahiran, mengapa dia harus gemetar dan apa pula yang dia rindukan? (902)
9. Apa yang dianggap oleh beberapa orang sebagai pandangan tertinggi, oleh orang lain dianggap sebagai tak bernilai. Namun mereka semuanya menyatakan sebagai ahli. Yang mana dari mereka yang sungguh-sungguh benar? (903)
10. Setiap orang menyatakan bahwa pandangannya sendirilah yang sempurna sedangkan kepercayaan orang lain lebih rendah. Dengan begitu, mereka masuk ke dalam perselisihan. Demikianlah masing-masing menyatakan bahwa pandangan mereka sendirilah yang benar. (904)
11. Jika suatu pandangan menjadi tak berharga karena dikecam oleh orang lain, maka semuanya tak ada bedanya karenaa masing-masing bersikukuh menganggap pandangan orang lain sebagai yang rendah dan pandangan mereka sendirilah yang dianggap benar. (905)
12. Seperti halnya mereka meninggikan pandangan-pandangan mereka, demikian pula mereka memuji-muji cara-cara mereka. Jika semua pandangan mereka benar, maka kemurnian mereka juga harus khusus bagi mereka saja. (906)
13. Orang bijaksana tidak dipimpin orang lain, tidak mengukuhi pandangan-pandangan setelah menyelidikinya. Akibatnya, dia telah melampaui perselisihan karena dia tidak melihat pandangan orang lain sebagai yang terbaik. (907)
14. ‘Saya mengetahui dan melihat, ini hanyalah demikian’ -dengan berkata demikian, beberapa orang menyatakan kesucian melalui pandangan itu. Apa gunanya mengatakan bahwa seseorang telah ‘melihat’ (kebenaran) ketika pandangan-pandangan lawan dikemukakan? (908)
15. Orang melihat batin dan materi, dan setelah melihat itu mereka menganggapnya kekal. Biarlah dia melihat sedikit atau banyak, karena para ahli tidak mengatakan: ‘kesucian muncul lewat itu.’ (909)
16. Tidaklah mudah mendisiplinkan orang yang berpegang teguh pada dogma, yang mengatakan inilah kebenaran, padahal mereka disesatkan oleh pandangan-pandangan. Dengan mengatakan bahwa ada kebaikan dalam prasangka semacam ini, dia cenderung mengatakan bahwa kesucian bersifat pembawaan seperti yang telah dilihatnya. (910)
17. Orang bijaksana yang telah memahami segala sesuatu melalui pengetahuan, tidak akan masuk ke dalam spekulasi. Setelah mempelajari berbagai teori yang telah muncul di antara orang-orang lain, dia tidak peduli terhadap teori-teori itu walaupun orang-orang lain bersusah payah mengukuhinya. (911)
18. Orang bijaksana ini, karena telah terbebas dari ikatan-ikatan duniawi, tetap damai di antara mereka yang gelisah. Dia tidak peduli pada perselisihan sekte, dan tidak melekatinya walaupun orang-orang lain tetap melekat. (912)
19. Setelah melenyapkan kekotoran-kekotoran batin yang dahulu ada, dan tidak menyebabkan timbulnya yang baru serta tidak menjadi pengikut, dia terbebas dari pandangan-pandangan dogmatis. Karena bijaksana, dia tidak melekat pada dunia, serta tidak menyalahkan diri sendiri. (913)
20. Dengan mengatasi semua teori yang berdasar pada apa yang dilihat, didengar atau dipikirkan, dia menjadi orang bijaksana yang telah menaruh bebannya dan telah terbebas. Dia tidak berkhayal dalam pandangan-pandangan, tidak menginginkan apa pun juga — demikianlah Sang Buddha berkata. (914)

12. CULAVIYUHA SUTTA : Penyebab-penyebab Kecil Pertikaian

12. CULAVIYUHA SUTTA

Penyebab-penyebab Kecil Pertikaian
1. Penanya: Beberapa orang yang mengukuhi pandangan mereka sendiri saja, akan masuk ke dalam pertikaian dengan orang-orang lain. Masing-masing menyatakan bahwa hanya dia sendirilah satu-satunya pakar dan menyatakan: ‘Orang yang memahami ini berarti mengetahui Kebenaran; siapa yang menolak ini berarti tidak sempurna.’ (878)
2. Maka, setelah masuk ke dalam perdebatan, mereka berselisih paham [di antara mereka sendiri]. Mereka mengatakan, ‘Orang itu tolol, bukan pakar.’ Karena semuanya ahli berbicara, pernyataan manakah yang benar? (879)
3. Sang Buddha: Jika orang yang tidak memiliki toleransi terhadap pandangan orang lain adalah orang tolol, orang yang dungu dan bodoh, maka mereka semua adalah orang-orang tolol yang tidak memiliki pemahaman, karena semuanya hanya mengukuhi pandangan-pandangan mereka [sendiri] saja. (880)
4. Jika karena pandangan maka orang bisa menjadi suci, murni dalam kebijaksanaan, ahli dan pandai — berarti tidak ada satu pun di antara mereka yang lebih rendah kebijaksanaannya, karena mereka semuanya telah sama-sama sampai pada pandangan-pandangan [dogmatis]. (881)
5. Aku tidak mengatakan bahwa apa pun yang disarankan oleh setiap orang tolol merupakan kebenaran. Merekalah yang membenarkan pandangan-pandangan mereka sendiri. Karena itu, mereka memutuskan bahwa orang lain adalah tolol. (882)
6. Penanya: Apa yang dikatakan benar dan nyata oleh beberapa orang dinyatakan sebagai kosong dan salah oleh orang lain. Akibatnya, terjadi konflik dan perdebatan. Mengapa para pertapa tidak mengemukakan satu doktrin saja? (883)
7. Sang Buddha: Kebenaran memang hanya satu dan mereka yang mengetahui kebenaran itu tidak memperdebatkannya. Tidak ada [pandangan] kedua. Karena dicetuskannya berbagai pandangan yang berbeda, maka para pertapa tidak mengatakan satu pandangan dan mereka tidak mengatakan hal yang sama. (884)
8. Penanya: Mengapa mereka yang berselisih dan mengemukakan diri sebagai pakar menyatakan ‘kebenaran-kebenaran’ yang amat berbeda-beda? Apakah pada realitasnya memang ada kebenaran-kebenaran yang berbeda-beda atau apakah mereka hanya mengikuti penalaran mereka sendiri saja? (885)
9. Sang Buddha: Tidak ada banyak kebenaran yang berbeda-beda di dunia ini kecuali kebenaran yang dinalarkan oleh persepsi [yang salah]. Karena memiliki pandangan dengan cara berpikir yang menyesatkan, mereka menyatakan dualisme — ‘Ini salah dan itu benar.’ (886)
10. Orang tolol bergantung pada apa yang dilihat, didengar, atau dikognisi, juga pada peraturan atau ritual serta memandang rendah orang-orang lain dan mengatakan ‘Orang itu tolol, orang yang tidak sempurna.’ Dia menentukan penilaiannya sendiri dan merasa bahagia dengan penilaian itu. (887)
11. Hanya karena dia menganggap yang lain tolol sehingga dia menyebut dirinya ahli, orang yang menyebut dirinya ahli ini menghina dirinya sendiri dan menghina orang lain. (888)
12. Orang yang dipenuhi pandangan-pandangan yang kaku dan mati, yang dibuai kesombongan dan kecongkakan, yang menganggap dirinya ‘sempurna’, akan terpaku di dalam opininya sendiri karena dia memegang erat-erat pandangannya sendiri. (889)
13. Jika orang menjadi rendah karena kata-kata orang lain, maka dia menjadi orang yang rendah kebijaksanaannya bila bersama orang itu. Dan jika dengan usaha sendiri orang menjadi terampil dan bijaksana, maka tak seorang pun di antara pertapa itu yang merupakan orang tolol. (890)
14. ‘Mereka yang menyatakan pandangan doktrin yang berbeda dari ini berarti telah salah memahami.’ Demikianlah para orang bida’ah, (yang memiliki kepercayaan yang berbeda dengan kepercayaan umum) mencetuskan banyak pandangan yang berbeda karena mereka melekat pada pandangan-pandangan mereka sendiri. (891)
15. Mereka yang melekat pada pandangan-pandangan mereka [sendiri] bertahan bahwa pada diri merekalah terdapat kemurnian [pandangan], dan mereka menyangkal kemurnian [pandangan] di dalam doktrin lain. Demikianlah para orang bida’ah melekat secara mendalam pada pandangan mereka sendiri. (892)
16. Para orang bida’ah yang kukuh bertahan bahwa pandangan mereka sendirilah yang benar, orang lain mana yang akan disebutnya orang tolol? Dia yang menyebut orang lain ‘orang tolol’ dan ‘pemegang doktrin yang tidak murni’ benar-benar akan mengundang perselisihan. (893)
17. Karena berdiri kaku di atas pandangannya sendiri dan bergantung pada kriterianya sendiri, dia memasuki perselisihan di dunia. Dengan berhenti dari segala teori, orang bijaksana tidak memasuki perselisihan di dunia. (894)

11. KALAHAVIVADA SUTTA : Perselisihan dan Pendirian

11. KALAHAVIVADA SUTTA

Perselisihan dan Pendirian
(Penyebab-penyebab kemarahan dan kemelekatan)
1. Seseorang bertanya, ‘Bhante, kapan pun ada perselisihan dan pertengkaran, di situ ada air mata dan kesedihan mendalam, kecongkakan dan kesombongan, rasa dendam serta penghinaan yang muncul bersamanya. Mohon dijelaskan bagaimana terjadinya hal-hal ini. Dari manakah asal semua ini?’ (862)
2. ‘Air mata dan kesedihan mendalam yang mengikuti perselisihan dan pertengkaran,’ kata Sang Buddha, ‘kecongkakan dan kesombongan, rasa dendam serta penghinaan yang muncul bersamanya, semuanya merupakan akibat dari satu hal. Semuanya muncul karena memiliki rasa lebih-suka, karena mengukuhi hal-hal yang berharga dan disayangi. Penghinaan terlahir dari perselisihan, sedangkan rasa dendam tidak bisa dipisahkan dari pertengkaran.’ (863)
3. ‘Tetapi, Bhante, mengapa kami memiliki rasa lebih-suka, dan hal-hal khusus itu? Mengapa kami memiliki amat banyak keserakahan? Juga, semua cita-cita serta prestasi yang mendasari kehidupan kami, dari manakah kami mendapatkan itu semua?’ (864)
4. ‘Rasa lebih-suka, dan benda-benda yang berharga ini,’ kata Sang Buddha, ‘datang dari dorongan nafsu. Begitu juga keserakahan, begitu pula cita-cita serta prestasi yang membentuk kehidupan manusia.’ (865)
5. ‘Bhante, dari manakah datangnya dorongan nafsu ini? Dari manakah kami memperoleh segala teori dan pendapat kami? Dari mana pula semua hal yang tadi telah Engkau — Sang Kelana– sebutkan, seperti misalnya: kemarahan, ketidak-jujuran serta kebingungan?’ (866)
6. ‘Dorongan nafsu muncul ketika orang menganggap satu hal sebagai menyenangkan dan yang lain sebagai tidak menyenangkan: Itulah sumber nafsu. Pada waktu orang melihat bahwa hal-hal yang bersifat materi itu menjelma dan hancur, pada saat itulah mereka membentuk teori tentang dunia. (867)
7. Kemarahan, kebingungan serta ketidakjujuran muncul ketika hal-hal dipasang-pasangkan sebagai lawannya. Orang yang memiliki kebingungan harus melatih diri di dalam jalan pengetahuan. Sang Pertapa menyatakan Kebenaran setelah mewujudkannya.’ (868)
8. ‘Namun, Bhante, mengapakah kami dapati bahwa beberapa hal menyenangkan dan yang lain tidak menyenangkan? Apakah yang dapat kami lakukan untuk menghentikannya? Juga mengenai ide menjelma dan hancur ini, mohon dijelaskan dari mana asalnya.’ (869)
9. ‘Karena adanya kontak, adanya kesan mentallah maka muncul perasaan menyenangkan dan tidak-menyenangkan. Tanpa kontak, perasaan itu tidak akan ada. Dan — sebagaimana yang kulihat — ide mengenai menjelma dan hancur juga beras dari sumber ini, yaitu dari adanya kontak.’ (870)
10. ‘Kalau begitu, dari manakah asalnya kontak ini? Dan kebiasaan melekati, mengapa demikian? Adakah sesuatu yang dapat dilakukan agar terbebas dari rasa-memiliki, dan adakah yang dapat dihilangkan agar kontak tidak ada lagi ?’ (871)
11. ‘Kontak ada karena adanya paduan materi dan batin. Kebiasaan melekati didasarkan pada menginginkan benda-benda. Jika seandainya tidak ada keinginan, tidak akan ada kepemilikan. Begitu juga, tanpa elemen bentuk, tanpa elemen materi, kontak tidak akan ada.’ (872)
12. ‘Apakah yang harus dicari agar orang terbebas dari bentuk? Bagimanakah penderitaan dan kesenangan dapat berhenti dan tak lagi ada? Inilah yang ingin kuketahui.’ (873)
13. ‘Ada satu keadaan di mana bentuk tidak lagi muncul,’ kata Sang Buddha. ‘Di dalam keadaan itu, tidak ada persepsi biasa, tidak ada persepsi kacau, dan tidak ada tanpa-persepsi dan tidak ada penghapusan persepsi apa pun. Persepsi, kesadaran, merupakan sumber semua penghalang dasar.’ (874)
14. ‘Bhante, telah Bhante jelaskan segala yang kami tanyakan. Namun ada satu pertanyaan lagi yang ingin kami ajukan: Apakah para cendekiawan terampil di dunia ini mengatakan bahwa inilah kemurnian tertinggi bagi makhluk individu, atau apakah mereka mengatakan bahwa ada tujuan lain?’ (875)
15. ‘Ada cendekiawan dan para ahli,’ jawab Sang Buddha, ‘yang mengatakan bahwa inilah yang tertinggi, inilah kemurnian individu. Ada pula yang mempertahankan bahwa kemurnian tertinggi tercapai dengan hapusnya lima komponen manusia secara tuntas. (876)
16. Dan juga ada sang bijaksana, muni. Dia telah menyadari hal-hal apa yang hanya merupakan bantuan, dan dia mengetahui bahwa itu hanyalah tongkat dan penopang belaka. Ketika telah menyadari hal ini, dia menjadi terbebas. Dia tidak masuk ke dalam perselisihan dan dengan demikian tidak masuk ke dalam lingkaran dumadi tanpa-akhir.’ (877)

10. PURABHEDA SUTTA : Kelakuan dan ciri-ciri seorang bijaksana sejati

10. PURABHEDA SUTTA

Sifat-sifat Seorang Muni
1. Seseorang bertanya kepada Sang Buddha, ‘Tuan Gotama, saya ingin bertanya tentang manusia sempurna. Ada yang dapat disebut ‘orang yang sudah tenang’ — dapatkah Engkau menjelaskan bagaimana dia melihat segala sesuatu dan bagaimana dia berperilaku?’ (848)
2. ‘Orang yang sudah tenang, yang telah memadamkan semua nafsu keinginannya sebelum tubuhnya hancur dan hilang, yang tidak peduli bagaimana hal-hal bermula atau bagaimana hal-hal itu akan berakhir, serta tidak melekat dengan apa yang tejadi di antaranya: orang itu tidak lagi memiliki rasa ‘lebih suka’. (849)
3. Dia tidak memiliki kemarahan, ketakutan maupun kesombongan. Tak ada sesuatu pun yang mengganggu ketenangannya dan tidak ada sesuatu pun yang menjadi penyebab untuk penyesalan. Dia adalah manusia bijaksana yang terkendali ucapannya. (850)
4. Dia tidak merindukan masa depan dan tidak menyesali masa lampau; tidak ada pandangan maupun opini yang memimpinnya. Dia dapat melihat dan tidak melekat pada dunia kesan-indera yang menyesatkan. (851)
5. Dia tidak menyembunyikan apa pun dan tidak ada sesuatu pun yang dia kukuhi erat-erat. Tanpa ketamakan maupun keirihatian, dia tetap tidak menonjolkan diri; dia tidak merendahkan dan menghina orang lain. (852)
6. Dia bukanlah manusia yang memikirkan diri sendiri, atau manusia yang kecanduan kenikmatan; dia adalah manusia yang lembut dan waspada, tanpa keyakinan buta; dia tidak menunjukkan kebencian [terhadap apa pun]. (853)
7. Dia bukanlah orang yang bekerja karena menginginkan sesuatu; sekalipun tidak mendapatkan apa-apa sama sekali, dia tetap tidak tergoyahkan; tak ada keserakahan untuk membangun nafsu guna mencicipi kesenangan-kesenangan baru. (854)
8. Kewaspadaannya membuat dia terus-menerus berada dalam keseimbangan pikiran, di mana kecongkakan tidak mungkin ada. Terhadap dunia di sekitarnya; dia tidak membuat perbandingan sebagai ‘lebih tinggi’, ‘lebih rendah’ atau ‘setara’. (855)
9. Karena memahami Hal-hal Sebagaimana Adanya, dia terbebas dari ketergantungan dan tidak ada apa pun yang dia andalkan. Baginya tidak ada lagi nafsu keinginan untuk hidup atau tidak hidup. (856)
10. Inilah yang kusebut manusia yang telah tenang. Yaitu manusia yang tidak mengejar kesenangan, yang tidak memiliki ikatan apa pun, yang telah melampaui tarikan kemelekatan. (857)
11. Dia adalah manusia tanpa anak, manusia tanpa harta kekayaan, tanpa ladang, tanpa ternak — manusia yang tidak memiliki apa pun di dalam dirinya yang dilekatinya sebagai miliknya, serta tidak ada satu pun di dalam dirinya yang di tolaknya sebagai bukan miliknya. (858)
12. Dia adalah manusia yang dapat menerima kritik-kritik salah dari orang lain, pandita dan pertapa lain namun tetap tak terganggu dan tak tergoyah oleh kata-kata mereka. (859)
13. Dia adalah manusia tanpa ketamakan dan tanpa rasa memiliki; dia adalah manusia yang — karena bijaksana-tidak menganggap dirinya ‘lebih tinggi’, ‘lebih rendah’ atau ‘setara’. Dia adalah manusia yang tidak memasuki spekulasi, manusia yang terbebas dari spekulasi. (860)
14. Dia adalah manusia yang tidak mempunyai apa pun yang dapat disebutnya sebagai miliknya, dan dia tidak menangis karena tidak memiliki apa pun. Dia tenang, karena tidak memegang pandangan-pandangan spekulatif. (861)

9. MAGANDIYA SUTTA : Magandiya

9. MAGANDIYA SUTTA

Magandiya
(Mirip dengan sutta sebelumnya)
[Dialog antara Magandiya dan Sang Buddha pada saat Magandiya menawarkan putrinya pada Sang Buddha untuk dijadikan istri.]
1. Sang Buddha: ‘Bahkan ketika melihat putri-putri Mara1 yaitu Tanha (nafsu keinginan), Rati (kemelekatan) dan Raga (nafsu indera), tidak ada sedikit pun nafsu jasmani yang muncul di dalam diriku untuk berhubungan. Apa pula benda yang penuh air kencing dan kotoran ini? Bahkan dengan kakiku pun aku tak ingin menyentuhnya!’ (835) (835)
2. Magandiya: Jika engkau tidak menginginkan permata ini, putri yang diinginkan oleh banyak raja, katakanlah apa pandanganmu, bagaimanakah cara hidupmu sesuai dengan moralitas dan praktek, serta masa depanmu. (836)
3. Sang Buddha: O, Magandiya, setelah mempelajari apa yang dilekati erat-erat oleh manusia, aku tidak mengatakan ‘Inilah yang kukatakan’. Dengan melihat semua pandangan ini –namun tidak melekatinya– dan karena mencari kebenaran, kutemukan kedamaian di dalam diri. (837)
4. Magandiya: Pertapa agung, tanpa melekati pandangan-pandangan yang tergabung dalam sistem-sistem spekulatif itu, engkau membicarakan kedamaian di dalam. Bagaimanakah hal itu dapat dijelaskan oleh para bijaksana? (838)
5. Sang Buddha: Aku tidak mengatakan bahwa manusia mencapai ‘kesucian’ lewat pandangan, tradisi, pengetahuan, moralitas atau ritual. Kesucian tidak juga dapat dicapai tanpa pandangan, tradisi, pengetahuan, moralitas atau ritual. Pencapaian kesucian hanya menggunakan faktor-faktor ini sebagai sarana namun tidak melekatinya sebagai tujuan. Hanya dengan cara itulah manusia mencapai kesucian dan tidak merindukan tumimbal lahir. (839)
6. Magandiya: Jika engkau tidak mengatakan bahwa ‘kesucian’ tidak dicapai lewat pandangan, tradisi, pengetahuan dan ritual, dan tidak juga lewat tidak adanya itu semua — bagiku tampaknya pengetahuanmu itu omong kosong, karena beberapa manusia menganggap bahwa ‘penyucian’ berasal dari pandangan. (840)
7. Sang Buddha: Karena pandanganmulah engkau terus-menerus mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini. Hal ini disebabkan oleh karena engkau terobsesi dan berpegang erat pada pendapat-pendapat yang sudah terbentuk sebelumnya. Dari pandangan ini engkau belum memperoleh pengertian sedikit pun: itulah sebabnya engkau melihat ini semua sebagai omong kosong. (841)
8. Bila seseorang menganggap dirinya ‘setara’, ‘lebih rendah’, atau ‘lebih tinggi’ dibanding yang lain, dengan alasan itu pula dia langsung masuk ke dalam perdebatan. Tetapi di dalam diri orang yang tidak tergerak oleh ketiga macam pengukuran ini tidak ada pikiran-pikiran semacam itu -yaitu ‘setara’, ‘lebih rendah’ atau ‘lebih tinggi’. (842)
9. Mengapa Arahat harus berbantahan dengan orang yang cukup dia beritahu dengan mengatakan ‘Ini kebenaran’ atau ‘Itu kebohongan’? Jika orang tidak memiliki pikiran-pikiran ‘setara’ atau ‘tidak setara’, dengan siapakah dia dapat bersitegang? (843)
10. Pertapa yang telah meninggalkan rumahnya dan tidak membina hubungan intim di desa-desa, bebas dari nafsu birahi, tidak dikuasai oleh rasa senang (terhadap nafsu duniawi) — dia tidak terjebak masuk ke dalam percakapan-percakapan yang dapat menimbulkan perselisihan dengan orang lain. (844)
11. Manusia agung yang berkelana di dunia ini terbebas dari pandangan-pandangan, tidak melekatinya dan tidak masuk ke dalam perselisihan. Bagaikan bunga teratai berduri yang muncul dengan tangkainya tanpa ternoda oleh lumpur dan air, begitu pula sang pertapa –pembicara perdamaian yang bebas dari nafsu– tidak ternoda oleh dunia dan nafsu-nafsu jasmaninya. (845)
12. Orang bijaksana itu tidak menjadi sombong melalui pandangan atau pengetahuan, karena dia tidak melekati hal-hal semacam itu. Dia tidak tergoda oleh tindakan dan tidak pula tergoda oleh belajar, karena ia tidak melekat dalam setiap keadaan. (846)
13. Tidak ada ikatan bagi dia yang telah terbebas dari ide, dan tidak ada salah pandangan bagi dia yang telah terbebas lewat kebijaksanaan. Mereka yang mengukuhi ide dan pandangan, berkelana dan masuk ke dalam perselisihan di dunia. (847)

8. PASURA SUTTA : Perselisihan Mempertahankan Pandangan — dan Kesia-siaannya

8. PASURA SUTTA

Perselisihan Mempertahankan Pandangan — dan Kesia-siaannya
1. Banyak orang mengatakan bahwa kemurnian hanyalah milik mereka saja. Mereka tidak mengatakan bahwa ada pula kemurnian di dalam ajaran-ajaran lain. Mereka menyatakan bahwa ajaran yang mereka tekuni adalah yang paling hebat, sehingga secara terpisah mereka mengukuhi beranekaragam kebenaran. (824)
2. Mereka yang ikut berbantahan, setelah ikut bergabung, mulai berselisih dan saling menyebut ‘manusia tolol’. Karena bergantung pada guru tertentu, mereka mencari pujian, dan menyebut diri mereka ‘pakar’. (825)
3. Karena terlibat perselisihan di antara banyak orang, pendebat itu menjadi frustasi pada waktu mencari pujian bagi dirinya. Bila kalah dia menjadi terpukul, lalu mencari-cari kesalahan manusia lain, dan bila dikritik dia marah. (826)
4. Ketika mereka yang telah menguji pertanyaan-pertanyaannya mengatakan bahwa pembicaraannya salah, dia bersedih, meratap dan menangis dalam perselisihan-perselisihan yang tak berharga, seraya mengatakan: ‘Mereka telah mengalahkan saya!’ (827)
5. Perselisihan-perselisihan ini muncul di antara para pertapa dan akibatnya muncullah rasa gembira yang meluap-luap serta rasa tertekan. Melihat hal ini, hindarilah perselisihan. Tidak ada nilai yang terkandung kecuali pujian yang dimenangkan dengan cara itu. (828)
6. Dia yang dipuji di antara banyak orang –karena telah berhasil mempertahankan pandangannya– akan dipenuhi perasaan senang dan pikirannya terbuai kegembiraan yang meluap-luap karena telah menjadi pemenang. (829)
7. Kegembiraan yang meluap-luap itu sendiri adalah landasan untuk keruntuhannya; karena dia tetap akan berbicara dengan kesombongan dan kecongkakan. Melihat hal ini, seharusnya manusia tidak berselisih; karena para bijaksana tidak pernah mengatakan bahwa kemurnian dapat dicapai dengan perselisihan. (830)
8. Bagaikan si pemberani yang kokoh kuat karena makanan yang baik, dia meraung maju mencari lawan. Di mana pun ada lawan semacam itu, engkau boleh pergi ke sana. Namun ingatlah, di sini tidak lagi tersisa apa pun yang dapat menimbulkan perkelahian. (831)
9. Dengan mereka yang telah memegangi suatu teori dan kemudian bersikeras mengenai hal itu dengan menyatakan bahwa hanya teori itu saja yang benar, engkau boleh berbicara pada mereka. Tetapi ingatlah, ‘tidak ada lawan untuk bertempur denganmu’. (832)
10. Apakah yang akan kau peroleh dari mereka yang menang setelah mengatasi lawan tanpa membalas satu teori dengan teori lain, o, pemberani? Bagi mereka, tidak sesuatu pun dipegang sebagai yang tertinggi. (833)
11. Dengan berspekulasi di pikiran mengenai berbagai pandangan filsafat yang berbeda, engkau telah merenungkan pandangan-pandangan itu. Tetapi engkau tidak dapat maju sembari mengikatkan diri pada manusia yang telah murni. (834)

7. TISSAMETTEYYA SUTTA : Sang Buddha menjelaskan jenis-jenis akibat yang tidak dikehendaki yang muncul dari kontak-kontak hawa nafsu

7. TISSAMETTEYYA SUTTA

Tissametteyya
Puji-pujian terhadap kehidupan selibat

Tissametteyya:
1. O, Guru yang agung, beritahukanlah apa salahnya manusia terbiasa melakukan hubungan seksual. Dengan mempelajari peringatan Guru, kami akan melatih diri dalam kesendirian. (814)

Sang Buddha:
2. Di dalam diri manusia yang terbiasa melakukan hubungan seksual tidak lagi terdapat praktek Ajaran dan dia tidak lagi belajar. Dia menggunakan dirinya secara salah. Itulah yang tercela di dalam dirinya. (815)
3. Bagi manusia yang pada mulanya bisa berjalan sendirian tetapi kini memiliki kebiasaan melakukan hubungan seksual, para bijaksana menyebut manusia tak-terkendali seperti itu makhluk biasa yang rendah, seperti kereta sempoyongan. (816)
4. Kemasyhuran dan nama baik yang sebelumnya dimilikinya lenyaplah sudah. Karena melihat hal ini, sudah seharusnya dia berlatih meninggalkan hubungan seksual. (817)
5. Dia yang dikuasai oleh buah-pikir akan terus-menerus memikirkan hal itu bagaikan manusia sengsara. Dan setelah mendengar celaan manusia lain, dia menjadi tertekan. (818)
6. Karena tersiksa oleh kata-kata orang lain, dia menghancurkan hidupnya sendiri dengan tindakan-tindakan yang salah. Dia menjadi melekat dan tenggelam di dalam kepalsuan. (819)
7. Pada mulanya, ketika dia menjalani kehidupan kesendirian, para bijaksana menganggapnya ‘manusia bijaksana’, tetapi semenjak dia memanjakan diri di dalam hubungan seksual, mereka menyebutnya ‘manusia tolol!’ (820)
8. Karena menyadari bahaya di dunia ini dari awal sampai akhirnya, secara ketat manusia bijaksana menjaga kehidupan kesendiriannya. Dia tidak menyerahkan diri pada hubungan seksual. (821)
9. Hendaknya dia berlatih di dalam kehidupan kesendirian, karena itulah kehidupan yang suci. Karena itu dia tidak boleh menganggap dirinya yang terbaik. Sesungguhnya, dia adalah manusia yang berada di ambang pembebasan [Nibbana]. (822)
10. Manusia bijaksana yang tenang dan hidup sendirian ini tetap bebas dari nafsu-nafsu indera dan telah menyeberangi arus kecenderungan-kecenderungan semacam itu. Mereka yang terbelenggu oleh ikatan-ikatan seksual benar-benar iri kepadanya. (823)

6. JARA SUTTA : Kelapukan

6. JARA SUTTA

Kelapukan
1. Benar-benar singkat kehidupan ini. Manusia akan mati dalam waktu seratus tahun, namun sekalipun manusia bisa bertahan hidup lebih lama dari itu, dia pasti mati karena kelapukan. (804)
2. Manusia menangisi apa yang dilekati sebagai ‘milikku’, padahal tidak ada obyek kemelekatan yang bertahan lama. Dengan memahami keadaan ini, manusia bijaksana akan menjalani kehidupan tak-berumah. (805)
3. Apa pun yang dilekati seseorang dengan berpikir, ‘Ini milikku,’ akan ditinggalkan pada waktu mati. Dengan mengenali kenyataan ini, hendaknya orang bijaksana yang mengikuti jalan yang benar tidak berbelok menuju keinginan untuk memiliki. (806)
4. Manusia yang sadar dan terjaga tidak akan melihat apa yang diimpikannya saat tertidur; demikian juga dia tidak akan melihat mereka yang dicintainya yang telah berlalu dan telah mati. (807)
5. Ketika nama mereka disebut, memang benar mereka terlihat dan terdengar; tetapi setelah mati, yang tinggal hanya nama saja. (808)
6. Manusia-manusia yang tamak, dan egois tidak akan melepaskan kesedihan, ratap tangis dan kekikiran. Maka para bijaksana, yang telah meninggalkan obyek-obyek kemelekatan, berkelana dengan pandangan terang menuju ketenangan. (809)
7. Karena manusia berdisiplin yang menjalani kehidupan meditatif akan mengembangkan pikiran kesendirian, maka dapat diharapkan bahwa dia tidak akan melanjutkan eksistensi. (810)
8. Manusia bijaksana yang mandiri dalam segala keadaan tidak menunjukkan suka atau tidak suka. Kesedihan dan ketamakan tidak melekat padanya, sebagaimana air tidak melekat pada daun teratai. (811)
9. Sebagaimana setetes air tidak melekat pada daun teratai atau sebagaimana sekuntum bunga teratai tidak ternoda oleh air, begitu juga manusia bijaksana tidak melekat pada apa pun — baik yang dilihat, didengar, atau dipikirkan. (812)
10. Manusia yang telah terbebas tidak mencari apa pun yang dilihat, didengar atau dipikirkan. Dia tidak mencari kemurnian melalui apa pun lainnya karena dia tidak lagi memiliki kegemaran dan tidak pula tanpa-kegemaran. (813)