Check out the Latest Articles:

Rabu, 20 April 2011

15. ATTADANDA SUTTA : Perilaku Kekerasan

15. ATTADANDA SUTTA

Perilaku Kekerasan
(Penggambaran tentang kebebasan sempurna yang mirip dengan Sutta sebelumnya)
1. Rasa takut muncul karena mengambil jalan kekerasan — lihat saja bagaimana orang-orang bertengkar dan berkelahi! Tetapi akan kujelaskan padamu sekarang tentang kecemasan dan teror yang telah kurasakan. (935)
2. Melihat orang-orang meronta –bagaikan ikan yang menggelepar di air yang dangkal– dengan rasa saling bermusuhan, aku menjadi takut. (936)
3. Pada suatu ketika, aku ingin mencari tempat untuk bernaung, tetapi tidak pernah kulihat tempat seperti itu. Tak ada sesuatu pun di dunia ini yang kokoh dasarnya, tak ada satu bagian pun darinya yang tidak berubah. (937)
4. Telah kulihat mereka semua berada di dalam perangkap konflik satu sama lain, dan itulah sebabnya aku merasa amat muak. Tetapi kemudian kulihat sesuatu yang terkubur di dalam hati mereka. Dan itu –kemudian kulihat– adalah satu anak panah. (938)
5. Anak panah itulah yang membuat semua korbannya berlarian ke sana kemari. Tetapi bila panah itu telah dicabut keluar, semua lintang pukang pun berhenti. Demikian pula keletihan yang muncul bersamanya. (939)
6. Ada yang dapat kita pelajari dari hal ini: ikatan-ikatan dunia tidak seharusnya dikejar. Dengan tidak tertarik pada segala kesenangan indera, orang seharusnya melatih diri di dalam ketenangan [Nibbana]. (940)
7. Orang bijaksana harus jujur, tidak congkak, tidak menipu, tidak memfitnah dan tidak membenci. Dia seharusnya meninggalkan jahatnya keserakahan dan kekikiran. (941)
8. Untuk membuat pikiranmu terarah pada ketenangan, engkau harus menaklukkan kantuk, kelesuan dan kemalasan mental. Tidak ada tempat bagi kemalasan dan tidak ada jalan bagi kesombongan. (942)
9. Janganlah terpengaruh untuk mau berbohong, janganlah melekat pada bentuk. Engkau harus menembus semua kesombongan dan hidup tanpa kekerasan. (943)
10. Janganlah terhanyut oleh apa yang sudah lama, jangan merasa senang dengan apa yang baru. Janganlah menangisi apa yang hilang, janganlah dikendalikan oleh nafsu. (944)
11. Kusebut nafsu keinginan ini, keserakahan ini: banjir yang besar. Dan kusebut kerinduan ini kemelekatan, rintangan. Lumpur nafsu ini sulit diseberangi. (945)
12. Tetapi manusia bijaksana berdiri di atas tanah yang kokoh — dia bagaikan brahmana, yang tidak pernah menyeleweng dari kebenaran, dan ketika dia telah sepenuhnya meninggalkan keduniawian, maka dia benar-benar tenang. (946)
13. Dia memiliki kebijaksanaan, dan pengetahuan yang lengkap, dia telah memahami Segala Sesuatu Sebagaimana Adanya. Dia sepenuhnya mandiri. Ketika berkelana secara sempurna dari satu tempat ke tempat lain, dia tidak memiliki iri hati terhadap siapa pun. (947)
14. Nafsu merupakan rantai, yang membelenggu dunia, dan sulit untuk dipatahkan. Namun begitu dipatahkan, tidak akan ada lagi ratap tangis dan kerinduan: arusnya telah terpotong dan tidak ada lagi rantai-rantai. (948)
15. Hendaknya tidak ada apa pun di belakangmu; sisihkan masa depan ke satu sisi. Jangan mencengkeram apa yang terletak di tengah; dengan demikian engkau akan menjadi kelana dan akan tenang. (949)
16. Jika orang sama sekali tidak mengidentifikasikan dirinya dengan batin dan materi, jika dia tidak meratapi apa yang tidak ada, maka dia tidak akan menderita karena kehilangan di dunia ini. (950)
17. Bila dia tidak berpikir, ‘Ini milikku’ atau ‘Itu milik mereka’, maka dia tidak mungkin berduka dengan pikiran ‘Aku tidak punya’, karena dia tidak memiliki egoisme. (951)
18. Jika engkau meminta aku menjelaskan tentang orang yang tidak tergoyahkan, kukatakan bahwa di mana tidak ada kekerasan, di mana tidak ada keserakahan, tidak ada jejak nafsu, dan jika dia tetap sama dalam segala keadaan, maka engkau peroleh apa yang dapat kusebut kondisi terpuji dari manusia yang tak tergoyahkan. (952)
19. Orang yang memiliki pemahaman, dan tanpa gejolak nafsu, tidak akan mengumpulkan –dia tidak memiliki pengondisian– dia telah menghentikan segala usaha macam apa pun; jadi di mana pun juga dia melihat kedamaian dan kebahagiaan. (953)
20. Orang bijaksana tidak menilai dirinya yang tertinggi, terendah, atau pun orang biasa; karena tenang dan tidak egois, dia bebas dari kepemilikan: dia tidak mengukuhi apa pun dan dia tidak menolak apa pun. (954)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar