Check out the Latest Articles:

Rabu, 20 April 2011

arti kamma? - ajahn brahm

Jadi pada dasarnya kamma itu apa?

Kamma secara harafiah berarti ‘tindakan yang disertai kehendak’ dan ini merujuk kepada keyakinan
umat Buddha akan hukum Sebab dan Akibat. Kita percaya bahwa setiap tindakan yang disengajai dapat
memberi akibat baik dikehidupan saat ini maupun di kehidupan mendatang.

Hasil daripada kamma tidak seharusnya dipandang sebagai imbalan atau hukuman terhadap tindakan
yang dilakukan, tetapi merupakan akibat dari sesuatu tindakan yang disengajai. Tindakan yang positif
akan memberikan akibat yang positif, dan tindakan yang negative akan memberikan akibat yang negatif.
Dengan menggunakan akal pikiran yang sehat tentang hukum sebab dan akibat, ambillah contoh
seseorang yang merokok, minum dan makan yang berlebihan, tanpa olahraga yang teratur. Sebagai
akibat dari tindakannya, orang ini memiliki kemungkinan yang besar untuk menjadi lumpuh atau
mengidap penyakit jantung dan pada saatnya mengalami banyak penderitaan. Di sisi lain, orang yang
memperhatikan dietnya dan menjaga tubuhnya dengan baik biasanya dapat memiliki hidup yang sehat,
bahkan di usia tuanya.

Oleh sebab itu, orang yang telah melakukan banyak kebajikan dan kemudian mengumpulkan banyak
kamma positif akan menikmati hidup yang bahagia dan cenderung menuju alam manusia atau bahkan
alam Surga di kelahiran yang berikutnya. Sebaliknya, orang yang telah melakukan banyak tindakan jahat
dan mengumpulkan kamma negatif akan memiliki hidup yang dipenuhi dengan kesulitan, dan juga
dilahirkan kembali di alam kehidupan yang rendah.

Kamma dapat juga dipandang sebagai bibit. Anda memiliki pilihan atas bibit yang ingin anda tumbuhkan.
Oleh karenanya, tanamlah bibit yang baik sebanyak yang anda mampu!
Bagaimana seharusnya apabila kita telah melakukan banyak kejahatan? Dapatkah
kita meminta Buddha untuk mengampuni kita?

Buddha dianggap sebagai Guru kita dan bukan seseorang tempat kita berdoa dan meminta
pengampunan. Umat Buddha tidak percaya dengan perantara luar manapun yang darinya kita harus
meminta ampun, atau memujanya untuk suatu pembebasan.

Jika umat Buddha harus meminta ampun, maka hal itu seharusnya ditujukan kepada orang yang telah
kita lukai, dan bukan kepada pihak ketiga atau perantara luar. Apabila kita tidak mendapatkan ampun
dari orang yang kita lukai atau untuk mengoreksi diri, maka kita harus merelakan hal itu, belajar darinya
dan mengampuni diri kita sendiri, tentu saja dengan catatan bahwa kita tulus melakukannya.

Buddha mengajari bahwa setiap dari kita bertanggung jawab terhadap tindakan kita sendiri, dan setiap
dari kita mampu menentukan nasib kita sendiri. Kita sepantasnya mempertimbangkan dengan hati‐hati
sebelum melakukan kejahatan apapun, dan sebaliknya berusaha melakukan kebajikan setiap saat.
Jika anda tidak yakin apabila suatu perbuatan benar atau salah, anda dapat mengaplikasikan peraturan
yang sederhana ini seperti yang telah diajarkan Buddha : apabila tindakan tersebut merugikan baik diri
anda sendiri atau yang lainnya, atau kedua‐duanya; maka hindari tindakan tersebut. Apabila tidak, anda
dapat melanjuti tindakan yang baik itu!

Abraham Lincoln :
“Ketika saya berbuat baik, saya merasa senang.
Ketika saya berbuat jahat, saya merasa susah.
itulah agama saya.”


Peran penting dari Kamma :
Kamma adalah satu‐satunya milik kita, dan yang kita bawa serta dari satu
kehidupan ke kehidupan berikutnya.
Setiap tindakan yang disengajai dari jasmani, ucapan dan pikiran ibarat bibit
yang ditanam; yang dapat berbuah ketika kondisi‐kondisi mendukung. Apa yang
anda tanam, itu juga yang anda panen.
Jadi apa yang dapat kita perbuat untuk mengatasi kamma negatif dari tindakan
jahat yang telah kita lakukan?
Menurut hukum Sebab dan Akibat, kamma negatif tidak dapat dengan semudah itu dihapus dengan
kamma positif. Setiap tindakan yang disengajai akan memberikan akibat dalam waktu dekat atau di
masa mendatang.
Buddha memberikan perumpamaan garam di sungai dalam menasehati kita tentang bagaimana caranya
mengurangi pengaruh dari kamma negatif. Beliau berkata apabila satu sendok garam dapat membuat
satu cangkir air terasa asinnya namun satu sendok yang sama ini hampir tidak memberikan pengaruh
terhadap rasa air di suatu sungai.
Secara sederhana, kurangi kamma negatif yang anda miliki dengan mengumpulkan banyak kamma
positif.

Dan kamma positif dikumpulkan dengan pelaksanaan Dana, Sila dan Bhavana.
Buddha :

“Jangan meremehkan kebajikan dengan berkata ia tidak berpengaruh bagi diriku.
Bagaikan tetesan air yang memenuhi tempayan air.
Begitu pula dengan orang bijak yang mengumpulkan sedikit demi sedikit,
dia memenuhi dirinya dengan kebajikan.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar