Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Doa Sang Katak

Doa Sang Katak

oleh Anthony de Mello SJ

MENARI TANPA KAKI

Pada  suatu  ketika,  di  sebuah  kamp tconsentrasi hiduplah
seorang tahanan, yang meskipun sudah dijatuhi  hukuman  mati
tetap  tidak  merasa  takut  dan merdeka. Pada suatu hari ia
tampak  berada  di  tengah-tengah  lapangan  penjara  sedang
bermain   gitar.   Sejumlah   besar   orang   berkumpul   di
sekelilingnya mendengarkan  alunan  musiknya  dan  di  bawah
pengaruh  musik  itu  mereka pun menjadi tidak merasa takut.
Ketika para pembesar penjara melihat  ini,  mereka  melarang
orang itu bermain gitar.

Akan  tetapi  hari  berikutnya,  orang  itu  kembali lagi di
tempat yang  sama,  bernyanyi  dan  memainkan  gitar  dengan
orang-orang  yang  jumiahnya  lebih besar lagi. Dengan marah
para penjaga menyeretnya dan memotong jari-jari tangannya.

Hari berikutnya ia kembali lagi, bernyanyi dan bermain musik
sedapat-dapatnya dengan jari-jarinya yang berdarah. Kali ini
orang-orang yang  datang  di  sekelilingnya  bersorak-sorai.
Para penjaga menyeretnya lagi dan membanting gitarnya sampai
hancur.

Pada hari berikutnya ia bernyanyi  dengan  segenap  hatinya.
Nyanyian yang sangat indah! Begitu merdu dan menyentuh hati!
Orang banyak menggabungkan diri dan selama mereka  bernyanyi
hati  mereka  menjadi begitu jernih seperti hatinya dan jiwa
mereka menjadi tak dapat ditaklukkan seperti  jiwanya.  Kali
ini  penjaga  begitu  marah  sehingga  mereka memotong lidah
orang itu.

Keheningan menyelimuti seluruh  penjara,  sesuatu  yang  tak
terkalahkan oleh maut.

Semua orang heran, ketika pada hari berikutnya ia kembali ke
tempat yang sama  sambil  berlenggang  dan  menari  diiringi
musik  yang tidak dapat didengar oleh orang lain kecuali dia
sendiri. Segera saja semua orang saling bergandengan tangan,
menari   di  sekitar  tubuhnya  yang  berdarah  dan  hancur,
sementara para penjaga berdiri terpaku penuh kekaguman.

Karir Sudha Chandran, seorang penari klasik India,  terhenti
ketika  berada  di puncak ketenarannya, karena kaki kanannya
harus dipotong. Sesudah ia terbiasa lagi dengan kaki tiruan,
ia kembali menari. Sangat mengherankan, ia kembali sampai ke
puncak  ketenarannya.  Ketika  ditanya  bagaimana  ia  dapat
melakukan hal itu, dengan sederhana ia menjawab, "Anda tidak
membutuhkan dua kaki untuk menari."

   

MENCONTOH RAJA


Ketika  "Messiah"  karangan  Handel  untuk  pertama  kalinya
dipertunjukkan di London, raja hadir. Ia begitu terbuai oleh
perasaan religius ketika  paduan  suara  menyanyikan  bagian
Alleluia, sehingga di luar kebiasaan ia berdiri hening penuh
hormat terhadap karya besar yang sedang ia nikmati.

Ketika melihat  ini,  para  bangsawan  yang  hadir  di  sana
mengikuti raja dan berdiri juga. Itu menjadi tanda bagi para
hadirin yang lain untuk berdiri.

Sejak saat  itu,  dianggap  suatu  keharusan  untuk  berdiri
setiap  kali  Alleluia  dinyanyikan,  tanpa  peduli  seperti
apakah  sikap  batin  orang  yang  mendengarkan  atau   mutu
pembawaannya.

   

PERKARA SEMANGKA


Tiga orang anak yang dituduh  telah  mencuri  buah  semangka
dibawa  ke  pengadilan  dan  menghadap hakim dengan perasaan
takut. Mereka berpikir akan menerima  hukuman  berat  karena
hakim itu dikenal sebagai orang yang sangat keras.

Hakim  itu juga seorang pendidik yang bijaksana. Dengan satu
ketokan palu ia berkata,  "Kalau  di  sini  ada  orang  yang
ketika  masih  anak-anak belum pernah mencuri buah semangka,
silakan tunjuk jari." Ia menunggu. Para pegawai  pengadilan,
polisi,  pengunjung  -  dan hakim sendiri - tetap meletakkan
tangan mereka di meja mereka.

Ketika sudah puas melihat bahwa tidak ada satu jari pun yang
diangkat  dalam  sidang  itu,  hakim  itu  berkata, "Perkara
ditolak."

   

MENGENAKAN PIKIRAN ORANG LAIN


Seorang filsuf yang hanya mempunyai  sepasang  sepatu  minta
tolong  seorang  tukang  sepatu untuk memperbaikinya, dan ia
akan menunggu.

"Sekarang sudah waktunya tutup."  kata  tukang  sepatu  itu.
"Oleh  karena  itu saya tidak dapat memperbaikinya sekarang.
Mengapa engkau tidak datang besok pagi saja?"

"Saya hanya mempunyai sepasang sepatu ini,  dan  saya  tidak
dapat berjalan tanpa sepatu."

"Baik, untuk sementara engkau saya pinjami sepatu."

"Apa! Memakai sepatu orang lain? Kauanggap apa saya ini?"

"Mengapa  engkau  menolak  menggunakan  sepatu orang lain di
kakimu kalau  engkau  begitu  saja  membawa  pikiran-pikiran
orang lain di kepalamu?"


MISA UNTUK SEEKOR ANJING


... namun kadang-kadang baik juga!

Seseorang berkata  kepada  pastor  paroki,  Pastor,  kemarin
anjing saya mati. Dapatkah pastor mempersembahkan misa untuk
kedamaian jiwanya?"

Pastor itu marah. "Kami  tidak  mempersembahkan  misa  untuk
binatang,"  katanya  tajam.  "Mungkin  dapat  engkau coba di
gereja baru di sebelah sana. Mungkin mereka mau berdoa untuk
anjingmu."

"Saya  sungguh mencintai makhluk kecil itu," kata orang itu,
"dan saya ingin melepasnya  dengan  baik.  Saya  tidak  tahu
berapa      biasanya      yang      dipersembahkan     untuk
kesempatan-kesempatan seperti ini. Apakah  lima  ratus  ribu
dollar cukup?"

"Tunggu  sebentar,"  kata  pastor  itu.  "Engkau  tadi tidak
mengatakan kepada saya bahwa anjingmu katolik!"


LIN CHI MEMPUNYAI LIMA MURID


... Pencari yang sungguh-sungguh amat jarang ...

Ketika  raja  mengunjungi pertapaan-pertapaan Guru Agung Zen
Lin Chi, ia heran karena melihat  lebih  dari  sepuluh  ribu
petapa tinggal bersama Guru Agung itu di sana.

Karena  raja ingin tahu berapa persis jumlah petapa di situ,
ia pun bertanya, "Berapa banyakkah muridmu?"

Lin Chi menjawab, "Empat atau paling banyak lima."

   

NAIK KE SORGA ATAU MATI


Seorang  pastor  masuk  ke  tempat  minum  dan menjadi marah
karena ada banyak sekali anggota jemaahnya yang ada di sana.
Ia mengumpulkan mereka dan membawa masuk ke gereja.

Kemudian  dengan  sungguh-sungguh  ia  berkata,  "Semua yang
ingin masuk surga, maju ke  sebelah  kiri."  Semua  maju  ke
sebelah  kiri,  kecuali  satu  orang  yang  tetap tinggal di
tempatnya.

Pator memandang orang itu dengan galak dan berkata,  "Engkau
tidak ingin masuk surga?" "Tidak," kata orang itu.

"Apakah   engkau   bermaksud   tetap  berdiri  di  situ  dan
mengatakan kepada saya bahwa engkau tidak ingin masuk  surga
kalau engkau mati?"

"Tentu saya  ingin  masuk surga kalau saya mati.  Saya pikir
pastor mau ke surga sekarang!"

Kita dapat nekad - hanya kalau kendali kita lepas.



NAMA TERKENAL SUATU PENJARA


Mereka membanggakan diri karena selalu masuk akal   hal yang
selanjutnya  mau  mereka  buktikan  dengan  cara-cara   yang
mengejutkan:

Seorang  Gubernur  mengunjungi  suatu Lembaga Pemasyarakatan
dan  berbicara  dengan  seorang   gelandangan   yang   mohon
pengampunan.

"Apa  yang  kurang  dengan  tempat ini? Engkau tinggal lebih
enak di sini daripada dulu-dulu bukan?"

"Ya tuan," jawabnya, "Tetapi saya tetap ingin keluar."

"Apakah engkau tidak mendapat makan cukup?"

"Mereka memberi cukup makanan. Ini bukan soalnya."

"Lalu apa?"

"Ah tuan, hanya ada satu keberatan saya terhadap tempat ini:
reputasi tempat ini yang diketahui di seluruh negeri."

   

"YANG PUTIH ATAU YANG HITAM?"


Seorang gembala sedang menggembalakan dombanya. Seorang yang
lewat  berkata,  "Engkau mempunyai kawanan domba yang bagus.
Bolehkan  saya  mengajukan   beberapa   pertanyaan   tentang
domba-domba  itu?"  "Tentu,"  kata  gembala  itu.  Orang itu
berkata, "Berapa jauh domba-dombamu berjalan  setiap  hari?"
"Yang  mana, yang putih atau yang hitam?" "Yang putih." "Ah,
yang putih berjalan sekitar  enam  kilometer  setiap  hari."
"Dan yang hitam?" "Yang hitam juga."

"Dan  berapa  banyak rumput mereka makan setiap hari?" "Yang
mana, yang putih atau yang hitam?" "Yang putih."  "Ah,  yang
putih makan sekitar empat pon rumput setiap hari." "Dan yang
hitam?" "Yang hitam juga."  "Dan  berapa  banyak  bulu  yang
mereka  hasilkan  setiap tahun?" "Yang mana, yang putih atau
yang hitam?" "Yang putih." "Ah menurut perkiraan saya,  yang
putih  menghasilkan sekitar enam pon bulu setiap tahun kalau
mereka dicukur." "Dan yang hitam?" "Yang hitam juga."

Orang  yang  bertanya  menjadi  penasaran.  "Bolehkah   saya
bertanya,  mengapa  engkau  mempunyai  kebiasaan  yang aneh,
membedakan dombamu menjadi domba putih dan hitam setiap kali
engkau  menjawab pertanyaanku?" Gembala itu menjawab, "Tentu
saja. Yang putih adalah milik saya." "Ooo, dan yang  hitam?"
"Yang hitam juga," kata gembala itu.

Pikiran manusia membuat pemisahan-pemisahan yang bodoh, yang
oleh Sang Kasih dilihat sebagai satu.

                     (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar