Check out the Latest Articles:

Rabu, 20 April 2011

1. RATANA SUTTA : Puji pujian terhadap ‘permata-permata’ Buddha, Dhamma, dan Sangha

1. RATANA1 SUTTA

Permata
Puji pujian terhadap ‘permata-permata’ Buddha, Dhamma, dan Sangha

1. Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, baik yang dari dunia maupun dari luar angkasa, semoga semua makhluk itu bahagia. Demikian juga, semoga mereka mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dikatakan. (222)
2. Karena itu, wahai para makhluk, perhatikanlah baik-baik. Pancarkanlah kasih sayang kepada umat manusia yang siang malam memberikan persembahan kepadamu. Karena itu, lindungilah mereka dengan setulus hati. (223)
3. Harta apapun yang ada di sini atau di dunia lain, atau permata tak ternilai apa pun yang ada di alam-alam surga, tidak ada satu pun yang sebanding dengan Sang Tathagata. Permata tak ternilai ini ada di dalam Buddha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian! (224)
4. Manusia bijak dari suku Sakya, yang tenang pikirannya, telah mewujudkan penghentian yang bebas dari nafsu, yang bebas dari kematian, dan luar biasa. Tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan keadaan itu. Permata tak ternilai ini ada di dalam Dhamma. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian ! (225)
5. Buddha yang agung memuji meditasi murni yang segera memberikan hasil. Tidak ada sesuatu pun yang sebanding dengan meditasi itu. Permata berharga ini ada di dalam Dhamma. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian! (226)
6. Delapan individu yang dipuji oleh orang-orang baik2 terdiri dari empat pasang.3 Mereka adalah siswa-siswa Sang Buddha, yang pantas menerima persembahan. Apapun yang dipersembahkan kepada mereka akan memberikan buah yang melimpah. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian! (227)
7. Mereka yang terbebas dari nafsu semuanya mantap di dalam ajaran Gotama yang berpikiran teguh. Mereka telah mencapai apa yang harus dicapai karena telah menyelam ke dalam Nibbana yang bebas dari kematian. Mereka menikmati Kedamaian yang dicapai, yang tak ternilai. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian! (228)
8. Bagaikan gerbang kota yang berfondasi kokoh tidak tergoyahkan oleh angin dari empat penjuru, demikianlah kunyatakan bahwa orang yang sepenuhnya memahami Kebenaran Mulia adalah orang yang baik. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian! (229)
9. Mereka yang dengan jernih memahami Kebenaran Mulia yang telah diajarkan dengan baik oleh Yang Maha Bijaksana, betapapun tidak berhati-hatinya mereka itu, mereka tidak akan terlahir untuk kedelapan kalinya. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian! (230)
10. Tiga kondisi telah ditinggalkan oleh dia pada saat mencapai pandangan terang,4 yaitu: (i) pandangan salah tentang diri, (ii) keraguan, dan (iii) pandangan salah bahwa ritual dan upacara dapat menyelamatkan. Dia juga telah sepenuhnya terbebas dari empat keadaan menderita5 dan tidak dapat lagi melakukan enam kejahatan.6 Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian ! (231)
11. Kejahatan apa pun yang dilakukan, baik lewat tubuh, ucapan atau pikiran, tak dapat disembunyikannya. Karena telah dikatakan bahwa tindakan semacam itu tidak mungkin dilakukan oleh orang yang telah melihat Sang Jalan.7 Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian! (232)
12. Bagaikan pohon-pohon yang pucuknya berbunga pada bulan-bulan pertama musim panas, begitu juga ajaran tertinggi yang menuju ke Nibbana ini diajarkan untuk tujuan tertinggi. Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian! (233)
13. Yang Luar Biasa, Yang Maha Mengetahui, Sang Pemberi yang luar biasa, dan Sang Pembawa Kesempurnaan telah membabarkan ajaran yang luar biasa. Permata tak ternilai ini ada di dalam Buddha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian! (234)
14. Dengan musnahnya (kamma) lampau, tidak ada (kamma) baru yang dihasilkan, maka pikiran pun tak melekat pada kelahiran di masa depan — mereka telah menghancurkan benih-benih tumimbal lahir. Nafsu-nafsu tidak lagi muncul dan para bijaksana itu pergi, sama seperti lampu ini.8 Permata tak ternilai ini ada di dalam Sangha. Dengan kebenaran ini, semoga ada kedamaian! (235)
15. Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, baik yang dari dunia maupun dari luar angkasa, marilah kita menghormat Buddha. Sang Tathagata dipuja oleh para dewa dan manusia! Semoga ada kedamaian! (236)
16. Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, baik yang dari dunia maupun dari ruang angkasa, marilah kita menghormat Dhamma. Sang Tathagata dipuja oleh para dewa dan manusia! Semoga ada kedamaian! (237)
17. Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, baik yang dari dunia maupun dari luar angkasa, marilah kita menghormat Sangha. Sang Tathagata, dipuja oleh para dewa dan manusia! Semoga ada kedamaian! (238)
Catatan
  1. Permata atau batu mulia. Lihat Paramatthajotika I, hal. 165, II, hal. 278, edisi Helmer Smith, Pali Text Society, London, cetak ulang 1966.
  2. Paramatthajotika I, hal. 275: satam pasattha ti sappurisehi Buddha-paccekabuddhasavakehi annehi ca devamanussehi pasattha.
  3. Mereka yang mencapai tingkat kesucian pertama, yaitu pemenang-arus (sotapatti) dan buahnya; dengan demikian keduanya ini menjadi sepasang. Begitu juga tingkat kesucian kedua yaitu Yang-kembali-sekali-lagi (sakadagami), tingkat kesucian ketiga yaitu Yang tak-kembali-lagi (anagami) dan Yang-mulia (arahatta). Demikian maka terbentuk delapan individu.
  4. Pandangan terang (dassana): Sang Jalan dan Buah dari Pemenang-arus (sotapatti).
  5. (i) Naraka (keadaan yang menderita), (ii) alam binatang, (iii) alam setan, (iv) alam raksasa.
  6. (i) Membunuh ibu, (ii) membunuh ayah, (iii) membunuh orang suci, (iv) memecah-belah Sangha, (v) melukai seorang Buddha, (vi) mengukuhi pandangan salah.
  7. Sang Jalan (pada) menunjuk pada Pemenang-arus (sotapatti), tahap dimana Sang Calon memahami Nibbana untuk pertama kalinya.
  8. Di sini Nibbana dilukiskan dengan perumpamaan sebuah lampu. Asvaghosa menjelaskannya sebagai berikut: ‘Seperti sebuah lampu, ketika ia padam, tidak ke sana dan tidak kemari, tidak di bumi tidak juga di langit, tidak di arah ini tidak juga di arah itu, setelah sepenuhnya padam karena minyaknya habis, begitu juga seorang suci mencapai Nirvana ketika nafsu dan gairahnya yang kuat telah habis. Dia tidak pergi ke sini maupun ke sana, tetapi mencapai kedamaian seutuhnya.’ (Saundaranandakavya, Bab XVI, syair 28).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar