Check out the Latest Articles:

Selasa, 19 April 2011

LIMA RINTANGAN (NIVARANA) - Terjemahan buku Wisdom of Silence - Ajahn Brahm

LIMA RINTANGAN (NIVARANA)

Yang menjadi halangan terbesar atas keberhasilan meditasi dan pencapaian pengetahuan adalah satu unsur atau lebih dari Lima Rintangan. Seluruh praktik menuju pencerahan bisa dianggap sebagai usaha untuk mengatasi Lima Rintangan, pertama-tama memendamnya sementara waktu untuk mengalami Jhana dan Pengetahuan, kemudian mengatasinya secara tuntas melalui pengembangan Jalan Mulia Berunsur Delapan sepenuhnya.

Jadi, apa saja Lima Rintangan ini? Lima Rintangan terdiri dari:

Kamacchanda : Nafsu Keinginan
Vyapada : Kemauan Jahat
Thina-middha : Kemalasan dan Kelambanan
Uddhacca-Kukucca : Kegelisahan dan Penyesalan
Vicikiccha : Keragu-raguan

1. Nafsu Keinginan
Merujuk pada keinginan tertentu untuk mencari kebahagiaan melalui lima indriawi: indra penglihatan, indra pendengaran, indra penciuman, indra pengecap dan indra peraba. Tetapi hal ini secara spesifik tidak mencakup segala cita-cita untuk mencapai kebahagiaan yang didapat melalui indra keenam yaitu pikiran.

Dalam bentuk ekstrim, nafsu keinginan dapat berupa obsesi untuk mencari kesenangan dalam hal-hal seperti hubungan intim, makanan lezat, atau musik yang indah. Juga mencakup keinginan untuk menukarkan kejengkelan atau bahkan pengalaman lima indriawi yang menyedihkan dengan pengalaman yang menyenangkan, yaitu keinginan akan kenyamanan indriawi.

Buddha mempersamakan nafsu keinginan dengan berhutang. Kesenangan apapun melalui lima indra yang dialami seseorang harus dibayar dengan ketidaksenangan yang memburunya tanpa menaruh kasihan berupa perpisahan, kehilangan atau kelaparan dan kekosongan pada saat kesenangan itu berakhir. Sedangkan hutang, selalu berhubungan dengan bunga, maka hal ini seperti yang dikatakan Buddha, kesenangan yang diperoleh lebih sedikit dibandingkan dengan penderitaan yang harus dibayar.

Dalam meditasi, seseorang menaklukkan nafsu keinginan dalam kurun waktu tertentu dengan melepaskan kepeduliannya terhadap badan jasmani dan aktivitas lima indranya. Sebagian orang beranggapan bahwa lima indra itu ada untuk melayani dan melindungi badan jasmani, tetapi pada kenyataannya badan jasmanilah yang melayani kelima indra dalam memainkan peranannya di dunia ini untuk pencarian kesenangan. Demikianlah, Buddha pernah berkata, “Kelima indra adalah dunia” dan untuk meninggalkan dunia ini demi menikmati kebahagiaan lain berupa Jhana, ada saatnya seseorang harus menghentikan SEMUA bentuk kepeduliannya terhadap badan jasmani dan lima indra.

Ketika nafsu keinginan telah ditaklukkan, di dalam batin meditator tidak lagi terdapat ketertarikan terhadap iming-iming kesenangan atau bahkan terhadap kenyamanan badan jasmani. Badan jasmani telah lenyap dan kelima indra telah dinon-aktifkan. Pikiran menjadi tenang dan bebas untuk melihat ke dalam. Perbedaan antara aktivitas kelima indra dan penaklukkannya, sama dengan perbedaan antara melihat keluar jendela dan melihat ke dalam cermin. Pikiran yang terbebas dari aktivitas lima indra dapat benar-benar melihat ke dalam dan menilik sifat alami sejatinya. Hanya dari sanalah kebijaksanaan kita mengenai, seperti “siapakah kita, dari mana dan mengapa” dapat berkembang.


2. Kemauan Jahat
Merujuk kepada keinginan untuk menghukum, menyakiti atau menghancurkan. Hal ini semata-mata mencakup kebencian seseorang, atau bahkan suatusituasi, dan ia bisa membangkitkan banyak energi yang sangat menggiurkan dan menyebabkan kecanduan. Pada awalnya, kekuatan niat jahat selalu membenarkan semua hal, sehingga dengan mudahnya merusak kemampuan kita untuk menilai secara adil. Ini juga termasuk niat jahat terhadap seseorang, atau dengan kata lain dikenal sebagai kesalahan, yang menampik segala kemungkinan kebahagiaan seseorang. Dalam meditasi, niat jahat muncul dalam bentuk kebencian terhadap objek meditasi, menolak untuk menerimanya sehingga perhatian seseorang dipaksa mengembara
kemana-mana.

Buddha mempersamakan niat jahat dengan jatuh sakit. Sama seperti penyakit yang merenggut kebebasan dan kebahagiaan kesehatan seseorang, maka niat jahat merenggut kebebasan dan kebahagiaan kedamaian seseorang.

Niat jahat dapat diatasi dengan mengembangkan Metta, cinta kasih. Ketika timbul niat jahat terhadap seseorang, Metta mengajarkan seseorang untuk memahami seseorang lebih mendalam daripada semua hal yang melukaimu, untuk memahami mengapa seseorang melukaimu (sering karena mereka melukai diri sendiri dengan hebatnya) dan mendorongnya untuk mengesampingkan kepedihan yang dirasakannya dengan memancarkan kasih sayang kepada sesama. Tetapi jika hal ini melampaui batas kemampuan seseorang, Metta mengarahkan seseorang agar tidak terus menerus berkeinginan jahat pada orang itu, sehingga kenangan atas perbuatan-perbuatan mereka tidak menyakitimu lebih dalam lagi. Sama halnya jika niat jahat itu tertuju kepada diri sendiri, dengan metta kita tidak sekadar melihat kesalahan seseorang, kita bisa memahami kesalahan seseorang, dan menimbulkan keberanian untuk memaafkan mereka, belajar dari hal itu, dan melepaskannya, kemudian, jika niat jahat ditujukan terhadap objek meditasi (biasanya ini adalah alasan mengapa seorang meditator tidak bisa merasa damai), Metta merangkul objek meditasi dengan perhatian dan kesenangan. Sebagai contoh, bagaikan seorang ibu yang memancarkan sifat alami Metta kepada anaknya, demikian pula seorang meditator bisa memperhatikan nafasnya, katakanlah, dengan kualitas perhatian pengamatan yang sama. Maka ini akan seperti ketidakmungkinan hilangnya perhatian pada nafas karena kelengahan, seperti halnya ketidakmungkinan seorang ibu melupakan bayinya di sebuah pusat perbelanjaan, dan ini juga akan seperti ketidakmungkinan meninggalkan perhatian pada nafas untuk mengalihkan pikiran seperti halnya ketika seorang ibu yang sedang kebingungan menghilangkan bayinya! Ketika niat jahat telah diatasi, maka akan terbentuk hubungan langgeng dengan orang lain, dengan diri sendiri, dan dalam meditasi, sebuah hubungan langgeng dengan objek meditasi yang menyenangkan akan menyebabkan seseorang menjadi matang ke dalam penyerapan perhatian penuh.


3. Kemalasan dan Kelambanan
Merujuk kepada kondisi beratnya badan jasmani dan ketumpulan pikiran yang menarik seseorang kedalam kelambanan yang melumpuhkan dan depresi berat. Buddha mempersamakannya dengan terpenjara didalam sebuah sel gelap yang penuh sesak, tidak bisa dengan bebas menghirup udara dan menikmati cahaya sinar matahari. Dalam meditasi, hal ini menyebabkan perhatian yang lemah dan terputus-putus, yang bahkan bisa menyebabkan seseorang terlelap saat bermeditasi bahkan tanpa menyadarinya!

Kemalasan dan kelambanan dapat diatasi dengan membangkitkan energi. Energi selalu ada tetapi hanya sedikit yang tahu bagaimana mengaktifkannya, sebagaimana halnya energi itu dapat diaktifkan. Dengan menetapkan tujuan, tujuan yang logis, merupakan cara yang efektif dan bijaksana untuk membangkitkan energi, karena dengan bebas akan mengembangkan ketertarikan untuk melakukan tugas yang ada. Seorang anak kecil mempunyai ketertarikan yang alami dan energi dari ketertarikan tersebut, karena dunianya begitu baru. Maka, jika seseorang dapat belajar melihat kehidupan seseorang atau meditasi seseorang dengan “pikiran seorang pemula”, seseorang bahkan bisa melihat sudut sudut baru dan kemungkinan-kemungkinan yang menyegarkan, yang menjauhi seseorang dari kemalasan dan kelambanan, tetap aktif dan energik. Dengan kata lain, seseorang dapat mengembangkan kegembiraannya dalam hal apapun yang dilakukannya dengan melatih pencerapan untuk melihat keindahan dalam hal-hal yang biasa, dengan demikian dapat membangkitkan ketertarikan untuk menghindari keletihan yang teramat sangat, yaitu kemalasan dan kelambanan.

Pikiran mempunyai dua fungsi utama, “melakukan” dan “mengenali”. Cara bermeditasi adalah untuk menenangkan fungsi “melakukan” untuk sepenuhnya tenang ketika mempertahankan fungsi “mengenali”. Kemalasan dan kelambanan muncul ketika seseorang dengan cerobohnya menenangkan kedua fungsi ini baik “melakukan” maupun “mengenali”, karena tidak dapat membedakan keduanya. Kemalasan dan kelambanan adalah sebuah masalah umum yang memperlambat dan menghambat seseorang dalam latihannya. Seorang meditator yang terampil akan terus mengamati petanda awal kemalasan dan kelambanan dengan tajam, dengan demikian ia dapat menyadari kedatangannya dan mengelak sebelum terlambat. Seperti saat tiba di persimpangan jalan, seseorang dapat memilih jalan yang jauh dari kemalasan dan kelambanan.

Kemalasan dan kelambanan adalah suatu kondisi badan jasmani dan batin yang tidak menyenangkan, yang terlalu kaku untuk mencapai kebahagiaan Jhana dan terlalu buta untuk menyadari pengetahuan apapun. Pendeknya, hal ini adalah suatu pemborosan waktu yang berharga.


4. Kegelisahan
Merujuk pada batin yang seperti seekor monyet, selalu berayun dari satu dahan ke dahan lainnya, tanpa pernah dapat berdiam lama dalam segala hal. Hal ini dikarenakan kondisi batin yang selalu mencari kesalahan, tidak bisa puas dengan segala hal yang ada, maka harus terus berpindah untuk mencari sesuatu yang lebih baik, selamanya.

Buddha mempersamakan kegelisahan dengan budak, yang terus menerus mengikuti perintah atasan tiran, yang mendambakan kesempurnaan dan tidak pernah membiarkan seseorang berhenti.

Kegelisahan dapat diatasi dengan mengembangkan rasa puas, yaitu lawan kata dari mencari kesalahan. Seseorang belajar hidup bahagia dalam kesederhanaan, puas dengan sedikit memiliki, daripada selalu menginginkan lebih. Seseorang yang bersyukur pada saat ini lebih baik daripada selalu memikirkan kekurangan yang ada. Sebagai contoh, dalam meditasi, kegelisahan sering berupa ketidaksabaran untuk bergerak cepat ke tataran berikutnya. Kemajuan tercepat, malah dicapai oleh mereka yang puas dengan tataran mereka sekarang. Ini adalah kepuasan yang mendalam yang mematangkan sampai pada tataran selanjutnya. Jadi berhati-hatilah dalam “menginginkan sesuatu” dan sebaliknya belajarlah bagaimana beristirahat dalam rasa puas yang penuh perasaan menghargai. Demikianlah, fungsi “melakukan” itu menghilang dan meditasipun berkembang.

Penyesalan merujuk kepada suatu kegelisahan tertentu, yang diakibatkan oleh efek kamma dari perbuatan jahat seseorang. Satu-satunya jalan untuk mengatasi rasa penyesalan, kegelisahan akibat hati nurani yang tidak baik adalah dengan memurnikan kebajikan seseorang dan menjadi bijaksana dan baik. Pada hakikatnya, tidaklah mungkin bagi seseorang yang tidak bermoral atau yang suka memanjakan diri untuk maju dan berkembang pesat dalam meditasi.


5. Keragu-raguan
Keragu-raguan merujuk pada pertanyaanpertanyaan mengganggu yang timbul dalam batin pada saat seseorang seharusnya bergerak lebih jauh dalam keheningan. Keragu-raguan bisa berupa mempertanyakan kemampuan seseorang, “Bisakah saya melakukan ini?” atau mempertanyakan cara “Apakah jalan yang kutempuh sudah benar?” atau bahkan mempertanyakan makna “Apakah ini ?”. Hal yang harus diingat bahwa pertanyaan demikian adalah halangan halangan dalam bermeditasi karena mereka ditanyakan pada waktu yang salah, sehingga menjadi suatu gangguan, yang mengaburkan pandangan jelas seseorang.

Buddha mempersamakan keragu-raguan dengan tersesat di padang pasir, tanpa tahu petunjuk jalan. Keragu-raguan semacam itu dapat diatasi dengan mengumpulkan instruksi yang jelas, memiliki peta yang bagus, sehingga seseorang bisa mengenali petunjuk yang halus di daerah asing ketika bermeditasi secara mendalam dan mengetahui kemana jalan yang akan ditempuh. Keraguan-raguan akan kemampuan dapat diatasi dengan mencari seorang guru yang mahir untuk membimbingnya mengembangkan kepercayaan dirinya. Seorang guru meditasi seperti seorang pelatih yang meyakinkan tim olahraganya bahwa mereka akan berhasil. Buddha menyatakan bahwa seseorang bisa dan akan mencapai Jhana dan Pencerahan jika ia dengan sungguh-sungguh dan penuh kesabaran mengikuti instruksi yang diberikan. Satu-satunya ketidakpastian adalah “kapan”! Pengalaman juga mengatasi keraguraguan seseorang atas kemampuannya dan juga keragu keraguan apakah ia berada di jalan yang benar. Ketika seseorang menyadari tingkatan jalan yang indah, maka ia mengetahui bahwa seseorang itu benar-benar mempunyai kemampuan untuk mencapai yang tertinggi, maka inilah jalan yang menuntun orang ke sana.

Keragu-raguan berupa dugaan terus menerus, “Apakah ini jhana?”, “Bagaimana jalannya?” dapat diatasi dengan menyadari pertanyaan-pertanyaan demikian, paling baik disingkirkan jauh-jauh ke belakang, sampai pada menit-menit terakhir meditasi. Dewan juri hanya memberikan penilaian pada akhir sidang, ketika semua bukti telah diajukan. Dengan kata lain, seorang meditator yang terampil mengejar serangkaian bukti-bukti yang tenang, memeriksanya hanya pada akhir untuk menemukan maknanya.

Akhir dari keragu-raguan dalam meditasi dijelaskan dengan sebuah pikiran yang telah sepenuhnya percaya dalam keheningan sehingga tidak akan ikut campur dalam suara batin. Seperti memiliki seorang supir yang baik, ia duduk dengan tenang dalam perjalanannya sebagai wujud kepercayaaannya terhadap supir tersebut.

Permasalahan apapun yang timbul dalam meditasi akan menjadi salah satu dari Lima Rintangan atau kombinasinya. Jadi, jika seseorang mengalami kesulitan, gunakan skema Lima Rintangan ini sebagai “daftar periksa” untuk mengidentifikasikan masalah utamanya. Barulah kamu akan tahu pengobatan yang sesuai, terapkan dengan sungguh-sungguh dan melampaui rintangan menuju meditasi yang lebih mendalam.

Ketika Lima Rintangan telah sepenuhnya diatasi, tidak ada penghalang antara meditator dengan kebahagiaan Jhana. Maka, lulus ujian tertentu dari Lima Rintangan merupakan kemampuan untuk memasuki Jhana.


Semoga Semua Makhluk Berbahagia,
Elin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar