Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Doa Sang Katak

Doa Sang Katak


oleh Anthony de Mello SJ

JARINGAN LABA-LABA DI SERBAN

Dulu   ada   seorang   hakim   Arab,  yang  terkenal  karena
kebijaksanaannya.  Pada  suatu  hari  seorang  pemilik  toko
datang melapor, bahwa ada barang dicuri dari tokonya, tetapi
ia tidak dapat menangkap pencurinya.

Hakim memerintahkan agar pintu toko dilepas dari  engselnya,
dibawa  ke tengah pasar dan dicambuki limapuluh kali, karena
tidak melakukan kewajibannya menahan pencuri masuk toko.

Banyak orang berkumpul  melihat  hukuman  aneh  yang  sedang
berjalan. Ketika cambukan sudah dijalankan, hakim membungkuk
dan  bertanya  kepada  pintu,  siapa  pencurinya.  Lalu   ia
menempelkan  telinganya ke pintu, untuk mendengar lebih baik
apa yang dikatakan pintu.

Ketika ia berdiri ia mengumumkan.  "Pintu  menyatakan  bahwa
pencurian  itu dilakukan oleh seseorang, yang membawa sarang
laba-laba di puncak serbannya." Segera tangan orang tertentu
di tengah massa itu meraba serbannya. Rumahnya diperiksa dan
barang-barang curian ditemukan.

Yang diperlukan hanya kata yang menyanjung atau celaan untuk
membuka si aku.


LUKA BAKAR PADA TELINGA PEMABUK

Seorang pemabuk muncul di jalanan dengan luka-bakar pada dua
telinganya. Seorang teman  bertanya,  apa  yang  menyebabkan
luka-bakar tadi.

"Istriku  meninggalkan  setrika  masih  panas,  maka  ketika
tilpun berbunyi aku keliru mengangkat setrika."

"Ya, tetapi telinga satunya itu?"

"Si tolol itu menelepon lagi!"


BAHARUDIN MENYEMBUNYIKAN MUKJIZAT-MUKJIZATNYA

Pada  suatu ketika orang menemui murid seorang Muslim mistik
Baharudin Naqshband dan berkata, "Jelaskan,  mengapa  gurumu
menyembunyikan     mukjizat-mukjizatnya.     Aku     sendiri
mengumpulkan peristiwa-peristiwa, yang membuktikan tak dapat
disangsikan lagi, bahwa ia hadir pada lebih dari satu tempat
pada waktu yang sama, bahwa  ia  menyembuhkan  orang  dengan
kekuatan  doanya, tetapi ia berkata, bahwa itu karya kodrat,
bahwa ia membantu orang dalam  kesusahannya  dan  mengatakan
itu sebagai keuntungan mereka. Mengapa ia berbuat demikian?"

"Aku tahu betul apa yang kamu maksud" kata murid, "Sebab aku
sendiri  mengamati  hal-hal  itu.  Dan  kukira,  aku   dapat
menjawab pertanyaanmu itu. Pertama, Guru itu menolak menjadi
pusat perhatian orang banyak. Dan kedua, ia yakin bahwa jika
orang  sudah  menaruh  perhatian pada mukjizat, mereka tidak
berminat lagi belajar sesuatu yang bernilai rohani."

   

SIAPAKAH MARUF KARKHI ITU?

Seorang   murid  menemui  Maruf  Karkhi,  Guru  Muslim  dan
berkata: "Aku berbicara  dengan  orang  tentang  diri  tuan.
Orang  Yahudi  berkata,  Tuan  itu  kepunyaan  mereka. Orang
Kristen menganggap tuan salah satu santo mereka.  Dan  orang
Muslim memandang tuan sebagai kemashuran Islam."

Maruf menjawab, "Itu yang mereka katakan di sini, di Bagdad.
Ketika aku hidup di Yerusalem, orang  Yahudi  menamakan  aku
Kristen; orang Kristen Muslim, dan orang Muslim: Yahudi."

"Lalu kami harus berpikir apa tentang tuan?"

"Pikirkanlah  aku sebagai orang, yang mengetahui ini tentang
dirinya: "Mereka yang tidak mengerti aku,  menghormati  aku.
Mereka yang menjelekkan aku, tidak mengerti aku juga."

Jika  engkau  mengira, engkau itu adalah apa yang dipikirkan
sahabat atau musuhmu, engkau jelas belum mengenal dirimu.



ORANG TERPIDANA DAN SELIMUT

Orang terpidana hidup dalam tutupan bertahun-tahun. Ia tidak
melihat,   tidak   bicara   dengan   orang,  dan  makanannya
disorongkan melalui lubang di dalam dinding.

Pada suatu hari seekor semut  masuk  dalam  biliknya.  Orang
tadi  memperhatikan  terpesona,  ketika  semut  itu  kakinya
merayap di  ruang  itu.  Semut  itu  diletakkan  di  telapak
tangan,  untuk  diamati  lebih dekat, diberi dua butir nasi,
dan disimpan di bawah cangkirnya di waktu malam.

Pada suatu ketika ia merasa tersentuh, karena perlu  sepuluh
tahun  dalam tutupan untuk membuka matanya melihat keindahan
seekor semut. Gelap Menurut El Greco

Ketika pelukis Spanyol El  Greco  dikunjungi  sahabatnya  di
rumah  sore  hari cerah di musim semi, ia ditemukan duduk di
kamar kelambu tertutup rapat.

"Mari keluar di sinar matahari," kata sahabatnya.

"Tidak sekarang"  jawab  El  Greco:  "Ini  akan  mengacaukan
terang yang bersinar di dalam hatiku."

   

UCAPAN PENOLAKAN ORANG CINA

Kejelasan tidak berkurang karena sikap sopan-santun...

Ucapan   penolakan   dari   sebuah  penerbit  di  Cina  yang
mengembalikan naskah kepada pengarangnya:

"Kami telah membaca dengan teliti naskah Anda dengan  senang
sekali.   Namun   demikian   kami  takut,  bahwa  jika  kami
menerbitkan  naskah  Anda  yang  terkenal  ini,  kami  tidak
mungkin  lagi  untuk  menerbitkan  naskah  lain  yang  tidak
mencapai mutu yang sama. Dan kami tidak  dapat  membayangkan
bagaimana  naskah-naskah  lain  akan mencapai mutu yang sama
selama kurun waktu seratus tahun yang  akan  datang.  Karena
itu,  dengan  sangat  menyesal,  kami terpaksa mengembalikan
karangan Anda yang luar biasa ini. Dan kami mohon  kesediaan
Anda    untuk    memaafkan    kedangkalan    pandangan   dan
ketidakberanian kami."


PERINTIS ILMU
   
    Sesudah  bertahun-tahun  bekerja,  seorang   perintis   ilmu
    menemukan  seni  membuat api. Ia membawa alat-alatnya menuju
    ke daerah utara yang penuh salju dan mengajar kepada suku di
    sana  seni  membuat  api  itu-dan  keuntungan-keuntungannya.
    Orang menjadi begitu senang akan hal baru ini, hingga mereka
    tidak  berpikir  untuk berterimakasih kepada si penemu, yang
    pada suatu hari dengan diam-diam pergi.
   
    Karena ia  itu  salah  satu  orang  istimewa  yang  memiliki
    kebesaran,  maka  ia  tidak punya keinginan diperingati atau
    dihormati. Yang dicari melulu kepuasan karena tahu bahwa ada
    orang yang diuntungkan oleh penemuannya.
   
    Suku kedua yang dikunjunginya, sama besar keinginannya untuk
    belajar seperti suku yang pertama. Tetapi imam-imam setempat
    karena  iri  hati  terhadap  orang baru yang menguasai umat,
    telah membunuh dia. Untuk menyingkirkan semua dugaan tentang
    kejahatan itu, mereka membuat gambar Sang Penemu Agung, yang
    di pasang pada altar besar di  dalam  kuil,  dan  ditetapkan
    suatu upacara, hingga namanya akan dihormati dan kenangannya
    tetap hidup. Perhatian besar  dicurahkan,  agar  tidak  satu
    peraturan  upacara  pun  akan  diubah  atau dilewatkan. Alat
    untuk membuat api disimpan dalam peti dan dikatakan  memberi
    kesembuhan  kepada  semua  yang  menyentuhnya  dengan  penuh
    kepercayaan.
   
    Imam Agung sendiri mengambil  tugas  untuk  menyusun  sebuah
    buku  tentang riwayat Hidup Sang Penemu. Dalam buku suci ini
    kelembutannya yang penuh  cinta  disajikan  sebagai  teladan
    untuk   ditiru   oleh  semua,  perbuatan-perbuatan  agungnya
    dipuji, kodratnya yang melebihi manusia  dijadikan  syahadat
    iman.  Para  imam  menjaga, agar Buku suci diwariskan kepada
    generasi mendatang, sedang  dengan  kuasa  ditafsirkan  arti
    kata-kata  dan  makna  hidup dan perbuatannya yang suci. Dan
    tanpa ampun mereka menghukum  mati  atau  mengucilkan  orang
    yang   menyimpang   dari   ajaran  mereka.  Terpancang  pada
    tugas-tugas agama tadi, rakyat pun  lupa  sama  sekali  akan
    seni membuat api.


PUTRA SEORANG RABBI MENJADI KRISTEN

Rabbi  Abraham  hidup  sebagai  teladan.  Dan  ketika   tiba
waktunya,  ia  meninggalkan  dunia ini, diiringi puji berkat
jemaahnya, yang telah menganggap dia sebagai orang suci  dan
sumber  penyebab utama semua berkat, yang mereka terima dari
Tuhan.

Tidak lain di seberang sana, sebab  para  malaikat  keluarga
menyongsong  dia  dengan  sambutan puji-pujian. Selama pesta
itu rabbi nampak menunduk dan sedih. Ia memegang  kepala  di
tangannya  dan  tidak  mau  dihibur.  Ia  akhirnya dibawa di
hadapan  Tahta  Pengadilan,  di  mana  ia  merasa   diliputi
Cintakasih  agung  yang  tanpa  batas dan ia mendengar Suara
lembut-mesra tiada taranya  berkata,  "Apakah  yang  membuat
engkau sedih, putraku?"

"Tuhan  Yang  Tersuci,"  jawab  rabbi, "Aku tidak layak akan
semua kehormatan, yang dilimpahkan  padaku  ini.  Meski  aku
dianggap teladan bagi umat, tentu ada sesuatu yang keliru di
dalam hidupku, sebab anakku tunggal, tak perduli teladan dan
ajaranku,  meninggakan  kepercayaan kami dan menjadi seorang
Kristen."

"Jangan  ini  merisaukan  engkau,  anakku.  Aku  tahu  betul
bagaimana perasaanmu, sebab aku punya anak, yang berbuat hal
yang sama."


   
RABBI YANG MELAYANI SECARA SEMBUNYI-SEMBUNYI

Inilah  intrik  jemaah  untuk   mengetahui   ketidakmunculan
rabbinya  setiap  minggu  pada malam sabat. Mereka menyangka
bahwa  rabbi  sedang  mengadakan   pertemuan   dengan   Yang
Mahakuasa    secara   sembunyi-sembunyi,   sehingga   mereka
menugaskan salah seorang dari mereka untuk mengikutinya.

Inilah yang dilihat petugas itu: sang rabbi menyamar  dengan
pakaian petani dan melayani seorang wanita kafir yang lumpuh
di  rumahnya,  membersihkan  kamar  dan  menyiapkan  makanan
untuknya di hari sabat.

Ketika  mata-mata  itu  kembali,  jemaah  bertanya, "Ke mana
rabbi pergi? Apakah dia naik ke surga?"

"Tidak," jawab orang itu, "Ia pergi bahkan lebih tinggi."

                   (DOA  SANG  KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar