Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Doa Sang Katak

Doa Sang Katak

oleh Anthony de Mello SJ

PAUS MENGADAKAN PANTOMIM
   
    Lama, beratus-ratus tahun yang lalu, di zaman Abad  Tengahan
    Sri Paus didesak oleh para penasihatnya untuk mengusir orang
    Yahudi dari  Roma.  Tidak  selayaknya,  kata  mereka,  bahwa
    orang-orang  ini  hidup  tak terganggu di tengah pusat Agama
    Katolik.  Ketentuan  tentang   Pengusiran   diputuskan   dan
    diumumkan,  menjadi  keresahan  bagi  orang Yahudi yang tahu
    bahwa  bagaimanapun  juga,  mereka   hanya   bisa   mendapat
    perlakuan  lebih  jelek  dari  yang  diterima  di Roma. Maka
    mereka mohon kepada Paus, untuk meninjau  kembali  keputusan
    itu. Paus, orang berpikiran luas, menawarkan suatu usul yang
    menarik.  Silakan  golongan  Yahudi  menunjuk   orang   yang
    berdebat   dengan   dia   tanpa  berbicara,  pantomim.  Jika
    jurubicara mereka menang, mereka boleh tinggal.
   
    Orang  Yahudi  bertemu  merenungkan  usul  ini.   Menolaknya
    berarti   diusir   dari  Roma.  Menerimanya  itu  mengundang
    kekalahan total, sebab siapa menang  dalam  debat,  di  mana
    Paus  menjadi  peserta  dan  wasitnya? Namun tidak ada jalan
    lain kecuali menerima. Hanya, barang tidak mungkin menemukan
    seorang  sukarelawan untuk tugas berdebat dengan Paus. Beban
    memikul nasib seluruh kelompok  Yahudi  di  punggungnya  itu
    lebih daripada yang dapat ditanggung oleh seseorang.
   
    Ketika  tukang  pintu  sinagoga  mendengar  apa  yang sedang
    terjadi, ia menghadap rabbi Tertinggi  dan  menawarkan  diri
    untuk  mewakili  bangsanya dalam debat. "Tukang pintu?" kata
    rabbi lainnya, ketika mendengar itu. "Tidak mungkin!"
   
    "Sudah," kata rabbi Tertinggi, "kita  tidak  ada  yang  mau.
    Tinggal  ini; si tukang pintu atau debat batal." Maka karena
    tidak ada orang lain, tukang pintu ditunjuk  untuk  berdebat
    dengan Paus.
   
    Ketika  hari  besar  datang,  Paus  duduk  di  atas tahta di
    alun-alun  St.  Petrus,  dikelilingi  oleh  para   Kardinal,
    menghadapi  rombongan  besar para uskup, imam dan umat. Kini
    rombongan kecil utusan Yahudi datang dengan jubah hitam  dan
    janggut melambai, serta tukang-pintu di tengah mereka.
   
    Paus  berpaling menghadap si tukang-pintu dan debat dimulai.
    Paus resmi mengangkat satu jari dan menggariskannya melintas
    di  langit.  Tukang  pintu  segera  menunjuk dengan tegas ke
    tanah. Paus rupanya sedikit mundur. Lebih anggun  dan  resmi
    ia   mengangkat   jari  lagi,  tegas-tegas  dihadapkan  pada
    tukang-pintu itu di mukanya.  Tukang-pintu  mengangkat  tiga
    jari   menunjukkan  sama  tegasnya  di  hadapan  Paus,  yang
    rupa-rupanya heran akan gerakan ini.  Lalu  Paus  memasukkan
    tangan  dalam  kantongnya dan mengambil sebuah apel. Di situ
    tukang-pintu memasukkan  tangan  dalam  kantong  kertas  dan
    mengambil  matzo,  selempeng  roti.  Di sini Paus menyatakan
    dengan suara  nyaring:  "Wakil  orang  Yahudi  menang  dalam
    debat. Keputusan pengusiran dengan ini ditarik kembali."
   
    Para  pemimpin  Yahudi  mengelilingi tukang-pintu dan dibawa
    pergi.    Para    kardinal    berkerumun    sekitar     Paus
    keheran-heranan.   "Apa  yang  terjadi,  Bapa  Suci?"  tanya
    mereka. "Tidak mungkin kami mengikuti  debat  yang  berjalan
    begitu cepat." Paus mengusap peluh dari dahinya dan berkata:
    "Orang ini teolog  cemerlang,  menguasai  debat.  Aku  mulai
    dengan  menggariskan  tanganku  di  langit untuk menunjukkan
    bahwa seluruh alam raya itu milik Tuhan. Ia langsung  dengan
    jari  ke  bawah  mengingatkan  aku,  bahwa  ada  tempat yang
    disebut Neraka,  di  mana  setan  yang  berkuasa.  Aku  lalu
    mengangkat  jari  untuk  menyatakan bahwa Tuhan itu esa. Aku
    membayangkan heran, ketika ia  mengangkat  tiga  jari  untuk
    menyatakan  bahwa  Tuhan  yang satu itu juga menyatakan diri
    dalam  tiga  pribadi,  dan  demikian  meyakini  ajaran  kita
    sendiri  tentang  Tritunggal! Tahu bahwa tidak mungkin untuk
    menang di bidang teologi, aku akhirnya mengarahkan debat  ke
    bidang  lain.  Aku  mengambil sebuah apel, menyatakan, bahwa
    menurut sementara pendapat baru bumi ini bulat. Ia  langsung
    mengeluarkan  selempeng  roti  tak beragi untuk mengingatkan
    saya bahwa, menurut Kitab Suci, bumi itu datar.  Maka  tidak
    ada jalan lain daripada mengakui kemenangannya."
   
    Nah,  sekarang kelompok Yahudi sampai di sinagoga. "Apa yang
    terjadi   tadi,"   tanya    mereka    kepada    tukang-pintu
    terbengong-bengong. Tukang-pintu sedikit gusar. "Semua hanya
    soal  latah,"  katanya.  "Ini.  Pertama,  Paus  menggerakkan
    tangannya seperti menyatakan, bahwa semua orang Yahudi harus
    meninggalkan  Roma.  Maka  aku  menunjuk  ke   bawah   untuk
    menjelaskan  kepadanya, bahwa kita tidak akan beranjak. Lalu
    ia  menunjukkan  jarinya  kepadaku  dan   mengancam   seakan
    berkata:  Jangan main-main dengan saya. Maka aku menunjukkan
    tiga jari untuk mengatakan kepadanya ia tiga kali  main-main
    dengan   kami,   kalau   ia  sewenang-wenang  menyuruh  kami
    meninggalkan Roma. Berikutnya. Aku melihat dia  mengeluarkan
    bekal makanannya. Lalu aku mengeluarkan bekalku juga."

    (baca cerita sejenis dari tradisi Islam dan Zen Buddha)



AKHIRNYA PASTOR MENGERTI


Dongeng Ramakrishna, seorang mistik di Calcutta

Ada  seorang  raja  yang  setiap  hari  mendengarkan   kisah
Bhagavad  Gita  yang  dibawakan  oleh  seorang imam. Setelah
menjelaskan isinya imam  itu  biasanya  bertanya,  "Sudahkah
Baginda memahami yang saya katakan?"

Sang  Raja  tidak  pernah mengatakan Ya atau Tidak. Ia hanya
berkata, "Sebaiknya engkau sendiri memahaminya lebih dulu."

Jawaban ini selalu membuat  sedih  imam  yang  malang,  yang
setiap  hari  menghabiskan  banyak waktu untuk mempersiapkan
pengajaran bagi Raja. Ia sendiri yakin  bahwa  pengajarannya
jelas dan terang.

Imam  itu adalah seorang pencari Kebenaran yang tulus. Suatu
hari ketika ia  sedang  bermeditasi,  tiba-tiba  ia  melihat
sifat  semu  -  kenyataan  yang nisbi - dari segala sesuatu,
rumah, saudara, kekayaan, sahabat, kehormatan, nama baik dan
semua  yang lain. Begitu jelas ia melihatnya, sehingga semua
keinginan  akan  hal-hal  itu  lenyap   dari   hatinya.   Ia
memutuskan  untuk  meninggalkan  rumah  dan  menjadi seorang
petapa pengembara.

Sebelum meninggalkan rumahnya, ia mengirimkan  pesan  kepada
sang Raja, "Baginda Raja! Akhirnya saya memahami."

   

PERUMPAMAAN TENTANG ALAT PENOPANG


Karena suatu kecelakaan, seorang  kepala  desa  tidak  dapat
lagi  menggunakan  kakinya.  Maka  ia  berjalan  dengan alat
penopang. Lama kelamaan ia dapat  berjalan  dengan  cepat  -
bahkan   ia   dapat  berdansa  dan  melingkar-lingkar  untuk
menghibur tetangga-tetangganya.

Lalu  ia  mendapat  gagasan   untuk   melatih   anak-anaknya
menggunakan  alat  penopang.  Dalam  waktu  singkat berjalan
dengan penopang menjadi lambang  kedudukan  yang  tinggi  di
desa itu dan semua orang menggunakannya.

Sampai  pada keturunan keempat tidak seorang pun di desa itu
dapat  berjalan  tanpa  penopang.  Sekolah   di   desa   itu
memasukkan  pelajaran  "Alat  penopang  -  Teori  - Praktek"
matapelajarannya,  dan  tukang  kayu  di  desa  itu  menjadi
terkenal  karena  mutu  alat  penopang yang mereka hasilkan.
Bahkan  dibicarakan  kemungkinan  untuk  mengembangkan  alat
penopang listrik, yang digerakkan baterei.

Pada  suatu hari seorang pemuda Turki menghadap para penatua
desa dan bertanya mengapa semua orang harus berjalan  dengan
penopang  padahal Allah telah memberikan kaki kepada manusia
untuk berjalan. Para penatua desa  itu  merasa  geli  karena
orang  baru ini merasa lebih bijaksana daripada mereka. Maka
mereka memutuskan untuk memberi pelajaran kepadanya.  Mereka
berkata,  "Mengapa  engkau  tidak menunjukkan caranya kepada
kami?"

"Baik," kata pemuda itu.

Acara pertunjukan ditentukan akan diadakan  pada  jam  10.00
hari  Minggu  berikutnya di lapangan desa. Ketika pemuda itu
berjalan terpincang-pincang dengan alat penopang  ke  tengah
lapangan,  semua  orang  berada di sana. Dan ketika jam desa
menunjukkan pukul sepuluh,  pemuda  itu  berdiri  tegak  dan
menanggalkan  alat penopangnya. Gerombolan orang itu terdiam
ketika  ia  melangkah  maju  dengan  berani  -   dan   jatuh
tertelungkup.

Dengan  itu  semua  orang  semakin  diyakinkan bahwa sungguh
tidak mungkin berjalan tanpa bantuan alat penopang.


ARTI GENDERANG


Sekelompok misionaris yang baru saja tiba,  meminta  seorang
penduduk  asli  untuk  membawa  mereka dalam rakit di sungai
Kongo.

Sesudah beberapa  saat  mereka  mendengar  dentaman  gendang
hutan yang  tetap.  Sepanjang perjalanan, dalam selang waktu
yang tetap, suara itu diulang-ulang.

"Apa  arti  dentaman  gendang  itu?"  tanya  salah   seorang
misionaris dengan rasa takut.

"Penduduk  asli itu mendengarkan gendang dan mengartikannya:
'Gendang itu berkata: tiga orang kulit putih.  Sangat  kaya.
Naikkan harga-harga.'"

Saadi  dari  Shiraj  biasa  berkata, "Tidak seorang pun yang
belajar  memanah  dari  saya,  yang  pada   akhirnya   tidak
menjadikan saya sasaran bidikannya."


ASAL-USUL SEPATU

Seorang maharaja yang bodoh mengeluh karena jalan yang kasar
membuat kakinya sakit. Maka ia  memerintahkan  agar  seluruh
negeri diberi alas kulit sapi.

Pegawai istana tertawa ketika raja menyampaikan perintah itu
kepadanya. "Yang Mulia, itu adalah suatu gagasan yang gila,"
serunya.  "Mengapa harus mengeluarkan biaya yang sama sekali
tidak perlu? Potong saja dua alas  kecil  kulit  sapi  untuk
melindungi kaki Yang Mulia!"

Itulah  yang dikerjakan oleh maharaja. Dan demikianlah lahir
gagasan mengenai sepatu.

Orang yang sudah mengalami penerangan batin tahu bahwa untuk
membuat  dunia  tempat  yang  bahagia. engkau perlu mengubah
hatimu - dan bukan dunia.

   

BAGAIMANA MEMENANGKAN TARUHAN
 

Orang yang belum mengalami  penerangan  batin  akan  menjual
jiwanya untuk membuktikan bahwa ia benar.

"Sebelum  saya  keluar rumah sore hari, saya bertaruh dengan
istri saya sepuluh ribu rupiah.  Kalau  saya  tidak  kembali
sebelum tengah malam, ia menang."

"Lalu?"

"Lalu saya biarkan istri saya menang."


BURUNG BEO YANG BATUK

Seorang  pelaut  tua  berhenti  merokok  ketika  burung  beo
kesayangannya   menderita   batuk   menahun.   Ia   khawatir
jangan-jangan asap pipa yang sering kali  memenuhi  kamarnya
merusak kesehatan burung beo itu.

Ia  memanggil  seorang  dokter  hewan untuk memeriksa burung
itu.   Sesudah   pemeriksaan   yang   teliti,   dokter   itu
menyimpulkan  bahwa  burung  itu  tidak menderita psitakosis
atau pun pneumonia. Burung itu hanya menirukan batuk tuannya
si pengisap pipa itu.

   

BOTOL COKLAT KARENA TULISAN TIDAK TERBACA

Bahaya-bahaya mempercayai ahli:

Seseorang  menerima  catatan  dari  temannya  dalam  tulisan
tangan yang  tidak  dapat  dibaca.  Setelah  berusaha  untuk
mengerti  maksudnya,  ia mendapat gagasan untuk minta tolong
ahli obat setempat.

Orang yang ada di toko obat itu  mengamati  sunggguh-sungguh
catatan  tersebut separuh menit, lalu mengambil sebuah botol
coklat dari rak, memberikannya  kepada  kasir  dan  berkata,
"Dua dollar."

   

BUDDHA YANG TAK TERGANGGU


Tampaknya   Buddha   tidak   terganggu  oleh  cemoohan  yang
dilontarkan  kepadanya  oleh  seorang   pengunjung.   Ketika
murid-muridnya   bertanya  mengenai  rahasia  sikapnya  yang
tenang itu, ia menjawab:

"Coba bayangkanlah apa  yang  akan  terjadi  bila  seseorang
membawa   persembahan   ke   hadapanmu   dan   engkau  tidak
mengambilnya.  Atau  kalau   seseorang   mengirimkan   surat
kepadamu  dan engkau tidak mau membukanya; engkau tidak akan
dipengaruhi oleh isinya bukan? Lakukanlah  ini  setiap  kali
engkau  diperlakukan  dengan  kasar,  maka engkau tidak akan
kehilangan ketenangan hatimu."

Satu-satunya martabat yang sejati adalah martabat yang tidak
terendahkan  oleh sikap tidak hormat orang lain Engkau tidak
mengurangi keagungan air terjun Niagara dengan meludahinya.

   

DARWIS DAN RAJA

Seorang raja pergi  menemui  seorang  darwis.  Menurut  adat
istiadat  Timur  kalau  seorang  raja  menemui rakyatnya, ia
berkata, "Mintalah suatu jasa."

Darwis itu menjawab, "Tidak patut bagi saya untuk minta jasa
kepada salah seorang budak saya."

Seorang  pengawal  berkata,  "Engkau  berani  berkata begitu
tidak hormat kepada raja! Katakan siapa engkau, atau  engkau
akan mati."

Darwis  itu  berkata, "Saya mempunyai budak yang adalah tuan
bagi rajamu."

"Siapa?"

"Rasa takut," kata darwis itu.

Kalau tubuh binasa, tidak ada hidup lagi. Dari  sana  muncul
kesimpulan  keliru,  mempertahankan  tubuh  tetap hidup sama
dengan hidup.

Masuklah ke tempat  di  mana  peluru  pembunuh  tidak  dapat
merenggut  hidup;  dan ditambah panjangnya hidup tidak dapat
memperpanjang lamanya keberadaan seseorang.



BAHKAN DIRIMU BUKAN MILIKMU


Dan Buddha berkata:

"Tanah ini milik saya, anak-anak ini milik saya"      itulah
kata-kata  seorang  bodoh yang tidak mengerti bahkan dirinya
bukanlah miliknya sendiri.

Engkau  tidak   pernah   memiliki   sesuatu   Engkau   hanya
memegangnya    sebentar.    Kalau    engkau    tidak   dapat
melepaskannya, engkau terbelenggu olehnya.

Apa saja hartamu harta itu harus kaupegang  dengan  tanganmu
seperti engkau menggenggam air.

Genggamlah erat-erat dan harta itu lepas.

Akulah   itu   sebagai  milikmu  dan  engkau  mencemarkannya
Lepaskanlah dan semua itu menjadi milikmu selama-lamanya.

                     (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar