Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Doa Sang Katak

Doa Sang Katak

oleh Anthony de Mello SJ

HUKUMAN BAGI ORANG SELIBAT

Ada seorang pertapa, yang hidup wadat dan  menganggap  suatu
tugas dalam hidupnya berjuang melawan seks dalam dirinya dan
orang lain.

Pada waktunya ia meninggal. Dan muridnya, yang  tidak  dapat
tahan  karena  terkejutnya,  meninggal  tidak lama kemudian.
Ketika murid sampai di dunia seberang sana, ia tidak percaya
apa  yang  ia  lihat,  di  sana Gurunya yang tercinta dengan
wanita cantik sungguh luar biasa duduk di pangkuannya!

Rasa terkejut menyingkir, ketika ia  mulai  berpikir,  bahwa
Gurunya  itu menerima pahala karena taraknya menolak seks di
dunia. Ia mendekatinya dan  berkata,  "Guru  yang  tercinta,
sekarang  aku tahu Tuhan itu adil, karena engkau diganjar di
surga oleh karena kekerasanmu di dunia."

Guru nampaknya gusar. "Dungu," katanya,  "ini  bukan  surga,
dan  aku  tidak  sedang  diganjar  - Ia ini sedang menjalani
hukuman."

                             --o000o--

Kalau sepatu cocok,  kaki  dilupakan;  Kalau  ikat  pinggang
cocok,  pinggang  dilupakan;  Kalau  semua  selaras,  si aku
dilupakan. Lalu apa guna semua kekerasanmu itu?

   

JAWABAN DEWI LAKSMI YANG TERTUNDA


Tidak ada gunanya doa kita dikabulkan kalau tidak dikabulkan
pada waktu yang tepat:

Di  zaman  India kuno banyak tenaga dicurahkan untuk upacara
Yeda yang  dikatakan  begitu  ilmiah  dalam  pelaksanaannya,
hingga  kalau  para  orang  suci  berdoa  mohon hujan, tidak
pernah ada  kekeringan.  Demikianlah  seseorang  mencurahkan
usaha  mau  berdoa,  sesuai  dengan  upacaranya, kepada dewi
kekayaan, Laksmi, dan mohon supaya dijadikan kaya.

Ia berdoa  tanpa  hasil  sepanjang  sepuluh  tahun  lamanya.
Sesudahnya setelah waktu berlalu, ia tiba-tiba melihat sifat
tipuan pada kekayaan itu dan memilih hidup sebagai petapa di
pegunungan Himalaya.

Ia  duduk bermeditasi pada suatu hari, dan ketika ia membuka
matanya ia melihat di depannya  luar  biasa  seorang  wanita
cantik,  gemilang dan gemerlapan seakan-akan ia terbuat dari
emas.

"Siapa engkau itu dan engkau berbuat apa di sini?" tanyanya.

"Aku ini dewi  Laksmi,  yang  kau  hormati  dengan  mendaras
kidung  nyanyian  selama  duabelas tahun," kata sang wanita,
"Aku ini menampakkan diri untuk mengabulkan keinginanmu."

 "Ah, sang dewi tercinta," seru  orang  itu.  "Aku  sekarang
sudah mendapat berkat bermeditasi dan kehilangan keinginanku
akan kekayaan. Engkau  datang  terlambat.  Katakan,  mengapa
engkau datang begitu lambat?"

"Untuk  berkata kepadamu sebenarnya," jawab sang dewi, "Jika
ingat akan  sifat  upacara  yang  kaulakukan  begitu  setia,
engkau   sepenuhnya  pantas  menjadi  kaya.  Tetapi,  karena
cintaku kepadamu dan keinginanku akan kesejahteraanmu,  maka
kutahan dulu."

Jika  anda  boleh  pilih, maka yang anda utamakan pengabulan
permohonan  anda  atau  rahmat  tetap  berdamai  entah   doa
dikabulkan atau tidak?

   

KEKURANGAN SANG ILMUWAN


Dulu   ada   seorang  ilmuwan,  yang  menemukan  seni  untuk
menciptakan kembaran dirinya begitu sempurna,  hingga  tidak
mungkin  orang  membedakan yang ciptaan dari pada yang asli.
Pada suatu hari ia mendengar, bahwa  malaikat  maut  mencari
dia.  Maka  ia  menciptakan  selusin  kembaran dari dirinya.
Malaikat bingung, tak bisa mengetahui, mana  dari  tigabelas
sosok di mukanya itu yang sang ilmuwan. Maka ia meninggalkan
mereka semua dan pulang ke surga.

Tetapi tidak lama, karena ia kenal kodrat manusia,  Malaikat
kembali dengan akal pandai. Ia berkata, "Tuan memang seorang
genius,  bisa  berhasil  menciptakan  tiruan-tiruan   dirimu
begitu  sempurna.  Namun aku menemukan suatu kesalahan dalam
karyamu, perkara kecil saja."

Ilmuwan segera muncul keluar dan berteriak: "Tidak  mungkin.
Mana kesalahannya?"

"Tepat  di  sini,"  kata  malaikat,  dan  ia  mengambil sang
ilmuwan dari antara tiruannya dan dibawa pergi.

   

LAILA DAN RAMA

Laila dan Rama saling mengasihi, tetapi terlalu miskin untuk
menikah sekarang. Mereka diam di berbagai desa terpisah oleh
sungai besar, yang didiami banyak buaya.

Pada  suatu  hari  Laila  mendengar,  bahwa Rama sakit keras
tanpa ada yang merawat.  Ia  bergegas  ke  tepi  sungai  dan
mendesak tukang perahu, agar menyeberangkan dia, meskipun ia
tidak punya uang untuk membayarnya.

Tetapi tukang perahu jahat itu menolak, kalau ia  tidak  mau
tidur  dengan  dia  malam itu. Wanita celaka ini memohon dan
mendesak, tetapi tidak berdaya.  Maka  karena  putus-asa  ia
setuju dengan syarat si tukang perahu.

Ketika  ia  akhirnya  sampai ke tempat Rama, ia menemukannya
hampir mati. Tetapi ia tinggal bersama dia sebulan  lamanya,
dan  merawatnya  sampai sembuh kembali. Pada suatu hari Rama
bertanya, bagaimana ia  dapat  menyeberangi  sungai.  Karena
tidak  bisa berbohong kepada kekasihnya, ia menceritakan apa
nyatanya.

Ketika Rama mendengar ceritanya, ia  menjadi  marah  sekali,
karena  ia menilai keutamaan melebihi hidup. Ia mengusir dia
dari rumahnya dan tidak sudi melihat dia lagi.

   

"LOBAK ITU KEPUNYAANKU!"

Seorang perempuan tua meninggal dan dibawa ke Takhta  Hakim
oleh para malaikat. Namun ketika Hakim memeriksa catatan, ia
tidak dapat menemukan  tindakan  cintakasih  satu  pun  yang
dilakukannya  kecuali sebuah lobak, yang pernah diberikannya
kepada pengemis kelaparan.

Tetapi demikian besar kekuatan satu tindakan  cinta,  hingga
lalu  diputuskan, bahwa ia diangkat ke surga dengan kekuatan
lobak itu. Lobak itu dibawa  ke  muka  hakim  dan  diberikan
kepadanya.  Pada  saat  ia  menyentuhnya  lobak  mulai  naik
seperti ditarik oleh  penggerak  tak  kelihatan,  mengangkat
perempuan itu ke surga.

Datanglah seorang pengemis. Ia memegang pinggiran pakaiannya
dan diangkat bersama dia; orang ketiga berpegang  pada  kaki
pengemis  itu  dan  ikut diangkat juga. Tidak lama sudah ada
deretan panjang orang-orang terangkat ke  surga  oleh  lobak
itu.  Dan mungkin aneh nampaknya, perempuan itu tidak merasa
beratnya  orang  itu  semua,  yang  berpegangan  pada   dia;
nyatanya,  karena  ia  memandang  ke surga, ia tidak melihat
mereka.

Mereka  meningkat  semakin  tinggi  sampai   mereka   hampir
mendekati pintu gerbang surga. Pada waktu itu perempuan tadi
melihat ke bawah untuk terakhir kali melintaskan  pandangnya
ke dunia dan melihat deretan orang di belakangnya.

Ia  menjadi  marah. Ia memerintahkan denqgan lambaian tangan
dan  berteriak.  "Pergi,  pergi  semua   kamu.   Lobak   ini
kepunyaanku."

Karena  melambaikan tangan itulah ia melepaskan lobak sesaat
saja - dan ia jatuh ke bawah membawa seluruh rombongan.

Hanya ada satu penyebab dari setiap kejahatan di dunia. "Itu
kepunyaanku."

   

UPACARA PEMAKAMAN BAGI SI KURA-KURA

Anak  kecil  patah  hati menemukan kura-kuranya berbaring di
atas punggungnya, diam tanpa gerak, di dekat kolam.

Ayahnya berusaha menghiburnya. "Jangan menangis,  nak.  Kami
akan  mengatur pemakaman indah untuk si kura-kura. Kami akan
membuat  peti  kecil,  dipelipit  dengan  kain  sutera   dan
menyuruh  tukang  untuk  membuat nisan bagi makamnya, dengan
nama  kura-kura  diukir  di   dalamnya.   Lalu   kami   akan
menempatkan  bunga-bunga  segar di atas makamnya setiap hari
dan pagar jeruji di sekelilingnya."

Si anak kecil mengusap air-matanya dan menjadi senang sekali
dengan  rencana  itu.  Ketika semua sudah selesai, perarakan
dibentuk - ayah, ibu, pembantu  dan  anak  pemimpin  upacara
pemakaman  -  lalu  mulai bergerak anggun menuju kolam untuk
mengambil kura-kura. Tetapi kura-kura itu hilang.

Tiba-tiba mereka melihat si kura-kura muncul dari  kedalaman
kolam  dan  berenang  keliling  dengan  gembira.  Anak kecil
memandang sahabatnya itu penuh kecewa, lalu berkata:  "Mari,
kita bunuh."

Sebetulnya  bukan  engkau,  yang  menarik perhatianku tetapi
sensasi, yang kuperoleh dengan mencintai engkau.


MEMBELI KUPON LOTRE
 

Orang  beragama  saleh  mengalami  masa sulit. Maka ia mulai
berdoa cara berikut: "Tuhan, ingatlah tahun-tahun yang sudah
lewat  aku  mengabdi-Mu  sebaik mungkin, tidak minta apa-apa
sebagai balasan. Sekarang  aku  sudah  tua,  bangkrut  lagi.
Sekarang  aku  akan mohon kebajikan-Mu untuk pertama kalinya
di dalam hidup, dan aku  yakin  Engkau  tidak  akan  berkata
Tidak: Biarlah aku putus lotre."

Hari  -  lewat- lalu minggu - lalu bulan. Tetapi tak terjadi
sesuatu. Akhirnya, hampir-hampir  putus  asa,  ia  berteriak
pada  suatu  malam.  "Mengapa  aku  tak  Kauberi kesempatan,
Tuhan?"

Ia tiba-tiba mendengar suara Tuhan  menjawab,  "Berilah  aku
kesempatan dulu! Mengapa engkau tidak membeli kupon lotre?"

   

NELAYAN MENJADI ORANG SUCI

Pada suatu malam seorang nelayan menyelinap di  kebun  orang
kaya  dan  menebarkan  jalanya  dalam  kolam  penuh ikan. Si
pemilik mendengarnya dan menyuruh peronda mengejar dia.

Ketika melihat orang banyak mencari dia ke mana-mana  dengan
obor  menyala,  si  nelayan  cepat-cepat  melumasi  tubuhnya
dengan debu dan duduk  di  bawah  pohon,  seperti  kebiasaan
orang-orang suci di India.

Pemilik dengan para perondanya tidak bisa menemukan pencuri,
meskipun dicari sampai lama. Yang  ditemukan  hanya  seorang
suci,  berlumuran  debu duduk di bawah pohon tenggelam dalam
renungan.

Hari berikutnya tersiar kabar di  mana-mana,  bahwa  seorang
bijak  agung bermaksud tinggal menetap di halaman orang kaya
tadi. Orang berdatangan membawa bunga  dan  buah-buahan  dan
makanan,  dan  bahkan  banyak uang untuk menyampaikan hormat
bakti, karena ada kepercayaan bahwa  derma,  yang  diberikan
kepada orang suci, menurunkan berkat Tuhan kepada pemberi.

Si  nelayan  jadi  orang bijaksana, heran akan nasibnya yang
baik.  "Lebih   gampang   cari   nafkah   dari   kepercayaan
orang-orang  ini  daripada  bekerja  tangan," katanya kepada
dirinya. Maka  ia  terus  merenung-renung  dan  tidak  ingin
kembali bekerja lagi.

   

OOM YORIS?

Lagi-lagi pengandaian:

Sepasang suami-istri pulang dari pemakaman Oom  Yoris,  yang
hidup  bersama  mereka  duapuluh tahun lamanya dan merupakan
beban  begitu  rupa  hingga  hampir  berakhir  menghancurkan
perkawinan mereka.

"Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu, bu," kata suami,
"Jika tidak demi cintaku kepadamu,  aku  tidak  mau  tinggal
bersama Oom Yorismu satu hari saja."

"Aku  punya  Oom  Yoris!"  teriaknya gemetar, "Aku kira, Oom
Yoris itu punyamu!"

   

PENDAPATAN DAN PELEPASAN


Dua  rahib  mengadakan  perjalanan.  Yang   satu   mengikuti
spiritualitas  "pendapatan,"  yang  lain  lebih percaya akan
"pelepasan."  Sepanjang  hari  mereka   berdiskusi   tentang
spiritualitas  masing-masing,  sampai  malam  mereka tiba di
pinggir sungai.

Kini yang percaya akan "pelepasan" tidak  membawa  uang,  Ia
berkata:  "Kami  tidak  bisa  membayar  tukang  perahu untuk
menyeberangkan kami, tetapi mengapa memikirkan  tubuh.  Kami
bermalam  di sini menyanyikan kemuliaan Tuhan, dan esok kami
pasti menemukan orang baik hati, yang akan  membayar  ongkos
penyeberangan kami..'

Yang lain berkata: "Di sisi sungai ini tidak ada desa, tidak
ada dukuh, gubug atau pondok.  Kami  akan  ditelan  binatang
buas  atau digigit ular atau mati kedinginan. Di sisi sungai
lain kami akan bisa bermalam aman dan enak. Aku  punya  uang
untuk membayar tukang perahu."

Setelah  mereka  aman di sisi sungai lainnya, ia membuktikan
kepada temannya: "Tahu engkau, nilainya menyimpan uang?  Aku
dapat  menyelamatkan  hidupmu  dan hidupku. Apa yang terjadi
pada kita, seandainya aku  ini  orang  pengikut  "pelepasan"
seperti engkau."

Yang  lain  menjawab:  "Karena  engkau  ikut pelepasan, maka
itulah yang menyeberangkan  dan  menyelamatkan  kita,  sebab
engkau  membagi  uangmu untuk membayar tukang perahu, bukan?
Apalagi karena tidak punya uang dalam  kantongku,  kantongmu
menjadi  kepunyaanku  Kulihat,  aku tidak pernah kekurangan,
aku selalu dicukupi."

                   (DOA  SANG  KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar