Check out the Latest Articles:

Selasa, 19 April 2011

Ketika Badan Jasmani Menghilang - Terjemahan buku Wisdom of Silence - Ajahn Brahm

Ketika Badan Jasmani Menghilang

Ingatlah baik “pria penipu” maupun “wanita penipu” dapat menjual apapun kepadamu! Ada satu yang tinggal dalam pikiranmu saat ini, dan kamu mempercayai setiap perkataan yang dikatakannya! Namanya adalah Pemikiran. Pada saat kamu melepaskan pembicaraan yang terjadi dalam dirimu dan mengheningkan diri, kamu akan merasa bahagia. Kemudian ketika kamu melepaskan gejolak dalam pikiran dan memperhatikan napas, kamu bahkan akan merasa lebih bahagia lagi. Ketika kamu melepaskan badan jasmanimu, kelima indra pun lenyap dan kamu akan merasakan kebahagiaan tertinggi. Inilah ajaran Buddha yang sebenarnya. Penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan sentuhan sepenuhnya lenyap. Seolah berada dalam sebuah ruangan yang kedap akan indriawi, bahkan lebih baik. Tetapi ini bukanlah keheningan, kamu hanya tidak mendengar apapun. Bukanlah kegelapan, kamu hanya tidak melihat apapun. Bukanlah perasaan yang nyaman pada badan jasmani, melainkan tidak ada badan jasmani sama sekali.

Ketika badan jasmani menghilang, hal itu mulai terasa menyenangkan. Apakah kamu mengenal orang orang yang pernah merasakan hilangnya badan jasmani? Saat badan jasmani mati, setiap orang mengalami hal tersebut, mereka akan keluar dari tubuhnya. Dan satu hal yang selalu mereka katakan adalah bahwa hal ini sangat damai, sangat indah dan sangat bahagia. Demikian pula pada saat bermeditasi, ketika badan jasmani menghilang, sungguh terasa damai, indah, dan bahagia rasanya terbebaskan dari badan jasmanimu. Apakah yang tersisa? Tidak ada lagi penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan maupun sentuhan. Inilah yang disebutkan Buddha sebagai kondisi pikiran pada meditasi yang mendalam. Sesuatu yang tersisa dalam batin, ketika badan jasmani menghilang.

Pada malam lainnya, saya memberikan sebuah perumpamaan kepada seorang Bhikkhu. Bayangkan seorang kaisar yang mengenakan celana panjang dan baju kebesarannya. Dia memakai sepatu, memakai syal di sekeliling lehernya dan memakai topi di kepalanya. Kamu sama sekali tidak bisa melihatnya, karena ia seutuhnya ditutupi oleh kelima pakaian tersebut. Demikian pula halnya dengan pikiran. Ia seutuhnya ditutupi oleh penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan sentuhan. Jadi orang tidak dapat mengenali pikiran. Mereka hanya mengenali pakaiannya. Ketika mereka berjumpa dengan kaisar, mereka hanya melihat jubah dan pakaiannya. Mereka tidak tahu siapa yang tinggal di dalamnya. Tidak heran mereka bingung mengenai apa itu hidup, apa itu pikiran, siapa yang berada di dalamnya, darimana saya datang? Mengapa? Apa yang seharusnya saya lakukan dalam kehidupan ini? Pada saat lima indra menghilang, hal ini bagaikan kaisar yang menanggalkan pakaiannya dan menjadi jelas apa yang sebenarnya ada di dalamnya, apa yang memainkan peranan, siapa yang mendengarkan kata-kata ini, siapa yang melihat, siapa yang merasakan hidup, siapakah ini. Ketika kelima indra lenyap, maka kamu akan semakin dekat dengan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Apa yang kamu lihat dalam meditasi yang begitu mendalam adalah apa yang kita sebut “pikiran” (citta). Buddha menggunakan perumpamaan yang indah ini. Ketika ada bulan purnama pada malam berawan, kendatipun bulan tersebut adalah bulan penuh, akan sulit bagi kamu untuk melihatnya. Kadang kala saat awan menipis, kamu bisa melihat bentuk samar-samar yang menyinari. Kamu tahu ada sesuatu di sana. Ini seperti meditasi sebelum kamu masuk ke tahap yang mendalam. Kamu tahu ada sesuatu di sana, tetapi kamu tidak dapat berhenti bertanya-tanya apakah itu gerangan. Masih ada “pakaian” yang tertinggal. Kamu masih berpikir dan melakukan, merasakan badan jasmani atau mendengar suara. Tetapi ketika tiba saatnya, inilah perumpamaan Buddha, ketika bulan terbebaskan dari awan dan kamu bisa melihat bulan purnama yang indah bersinar dengan terang di langit pada malam yang cerah, kamu pun mengetahui bahwa itu adalah bulan. Di sanalah bulan, bulan itu nyata dan bukanlah berbagai efek yang dihasilkan oleh awan. Inilah yang terjadi pada saat bermeditasi ketika kamu melihat ke dalam pikiran. Kamu melihat dengan jelas bahwa pikiran bukanlah sejumlah efek yang dihasilkan oleh otak. Kamu melihat pikiran itu dan kamu tahu pikiran tersebut. Buddha berkata bahwa pikiran yang terbebaskan itu indah, brilian, dan cemerlang. Jadi hal ini bukan hanya pengalaman yang membahagiakan, tetapi juga merupakan pengalaman yang sangat bermakna.

Berapa banyak orang yang mungkin pernah mendengar mengenai kelahiran kembali tetapi masih saja belum benar-benar mempercayainya? Bagaimana kelahiran kembali bisa terjadi? Tentu saja badan jasmani tidak akan terlahir kembali. Itulah sebabnya ketika orang orang menanyakan saya ke mana kamu akan pergi setelah kamu meninggal, “salah satu dari dua tempat” saya berkata badan jasmani saya akan pergi “Fremantle atau Karrakatta”! [Freemantle dan Karrakatta adalah dua kuburan/krematorium utama yang melayani di seluruh Perth]. Tetapi apakah ke sana arah pikiran itu? Kadang kala orang-orang di dunia ini begitu bodoh, mereka berpikir hanya tubuh yang mereka miliki, tidak ada pikiran. Jadi ketika kamu dikremasi atau dikubur, maka selesai sudah, segalanya telah berakhir. Satu-satunya jalan untuk membuktikan pandangan ini adalah dengan mengembangkan meditasi seperti yang dicapai Buddha di bawah pohon Bodhi. Kemudian kamu bisa melihat pikiranmu sendiri dengan kesadaran yang murni – bukan dalam kondisi mental yang terhipnotis, bukan dalam ketumpulan – melainkan di dalam kesadaran yang murni. Inilah proses mengenali pikiran.


Mengenal Pikiran

Ketika kamu mengenali pikiran, ketika kamu melihatnya sendiri, salah satu hasil yang akan timbul adalah pengetahuan bahwa pikiran itu tidak tergantung pada badan jasmani ini. Tidak tergantung berarti bahwa ketika tubuh ini lapuk dan mati, ketika dikremasi atau dikuburkan, atau bagaimanapun badan jasmani itu hancur setelah kematian, semua hal ini tidak akan mempengaruhi pikiran. Kamu mengetahuinya karena kamu melihat sifat alami dari pikiran. Pikiran yang kamu lihat ini akan membawamu pada perenungan atas kematian badan jasmani. Hal pertama yang akan kamu lihat sendiri adalah bahwa pengetahuan itu sejelas hidung di wajahmu, apakah ada sesuatu yang lebih daripada badan jasmani yang kita anggap sebagai diri untuk ditempati? Kedua, kamu bisa mengenali pikiran tersebut, yang pada dasarnya tidak berbeda dengan proses kesadaran semua makhluk. Baik manusia atau binatang atau bahkan serangga, dengan jenis kelamin, usia atau ras apapun, kamu tahu bahwa apa yang lazim untuk semua kehidupan adalah pikiran ini, kesadaran ini, sumber dari perbuatan.

Pada saat kamu melihat hal ini kamu akan semakin menghormati orang-orang. Tidak hanya sekadar hormat kepada rasmu, sukumu atau agamamu, bukan hanya sekadar untuk manusia, tetapi untuk semua makhluk. Ini adalah gagasan mulia yang luar biasa. “Semoga semua makhluk sehat dan berbahagia, dan semoga kita menghormati semua bangsa, semua orang, bahkan semua makhluk.” Akan tetapi inilah cara kamu mencapainya! Kamu akan benar-benar merasakan kasih sayang hanya ketika kamu melihat bahwa pada dasarnya setiap orang sama seperti diri kita. Jika kamu berpikir bahwa sapi sama sekali berbeda denganmu, bahwa sapi tidak berpikir seperti manusia, maka mudah bagi kamu untuk memakannya. Tetapi bisakah kamu memakan nenekmu? Ia terlalu mirip denganmu. Bisakah kamu memakan semut? Mungkin kamu akan membunuh semut, karena menurutmu semut itu tidak sama denganmu. Tetapi jika kamu memperhatikan semut dengan saksama, maka tidak terdapat perbedaan. Jika kamu tinggal di vihara hutan, dekat dengan semak semak, dekat dengan alam, maka kamu akan menjadi sangat yakin bahwa binatang mempunyai emosi, terutama dapat merasakan sakit. Kamu mulai mengenal kepribadian binatang-binatang, burung kookaburra (Australia), tikus, semut dan laba-laba. Setiap laba-laba juga memiliki pikiran selayaknya dirimu. Suatu ketika kamu akan mengerti bahwa kasih sayang Buddha ditujukan kepada semua makhluk. Kamu juga akan mengerti bagaimana kelahiran kembali dapat terjadi pada semua jenis makhluk – bukan hanya manusia, tetapi juga binatang menjadi manusia, manusia menjadi binatang. Kamu juga bisa memahami bagaimana pikiran menjadi sumber dari semua hal ini.

Di alam setan dan alam dewa, pikiran bahkan bisa ada tanpa badan jasmani. Jadi, jelaslah bagi kamu bagaimana mereka ada, mengapa mereka ada, apa mereka sebenarnya. Pengetahuan dan pemahaman ini didapat dari meditasi secara mendalam. Tetapi lebih daripada itu, ketika kamu mengetahui sifat pikiran, maka kamu akan mengetahui sifat kesadaran. Kamu akan mengetahui sifat keheningan. Kamu akan mengetahui sifat kehidupan. Kamu memahami apa yang menyebabkan pikiran ini terus berkeliaran, dan berkeliaran, dan berkeliaran; memahami apa yang menyebabkan pikiran mencari kelahiran kembali. Kamu pun memahami hukum Kamma.


Tiga pengetahuan

Pengetahuan pertama – menurut tradisi, ketika Buddha duduk di bawah pohon Bodhi, beliau mencapai tiga pengetahuan. Pengetahuan pertama adalah mengenai ingatan kehidupan masa lampau. Ketika kamu dekat dengan pikiran, ada sejenis kekuatan tertentu yang muncul bersama pengalaman itu. Kekuatan itu tidak lain adalah sebuah kemampuan, kecerdasan mengelola pikiran. Hal ini seperti perbedaan antara seekor anjing liar dengan seekor anjing yang telah terlatih. Kamu bisa memerintahkan anjing yang telah terlatih untuk berlari dan mengambil koran. Ia akan menggoyang-goyangkan ekornya kemudian mengambilkan koran tersebut untukmu. Sebagian orang bahkan melatih anjingnya dengan baik sampai mereka bisa mengangkat telepon. Jangan-jangan mereka juga bisa menjawab telepon, sehingga menghemat banyak waktumu.

Ketika kamu sering mengarah pada kondisi meditasi yang mendalam ini, pikiran menjadi terlatih dengan baik. Salah satu hal yang dilakukan Buddha (dan yang dapat kamu lakukan ketika kamu mengarah pada meditasi mendalam) adalah mengarahkan pikiran kembali ke masa lalu. Apakah ingatanmu yang paling awal. Kembalilah lebih jauh, lebih jauh lagi dan lebih jauh lagi. Para bhikkhu yang melakukan hal ini dapat mengingat kembali fase awal masa kecil mereka. Mereka bahkan dapat mengingat momen pada saat mereka dilahirkan.
Kadang kala orang menganggap bahwa ketika kamu dilahirkan, kamu tidak memiliki kesadaran karena sel saraf otak belum berkembang atau semacam itulah. Tetapi ketika kamu mengalami kembali kelahiranmu, kamu tahu bahwa hal ini tidaklah benar. Ketika ingatan akan kelahiranmu muncul, kamu seolah-olah berada disana, mengalami semua perasaan pada proses kelahiran itu. Kemudian kamu dapat bertanya pada dirimu sendiri, bahkan mengenai ingatan yang lebih awal dan kemudian kamu dapat kembali ke dalam kehidupan lampaumu. Itulah yang dilakukan Buddha di bawah pohon Bodhi. Melalui meditasi kamu mengetahui kelahiran kembali, kamu mengetahui kehidupan lampaumu. Inilah yang terjadi dengan pikiran dan kamu tahu bagaimana ini dapat terjadi. Itulah pengetahuan pertama yang dimiliki Buddha.

Pengetahuan kedua – pengetahuan kedua adalah mengetahui bagaimana kamu dilahirkan kembali. Mengapa kamu dilahirkan kembali. Dimana kamu dilahirkan kembali. Ini adalah Hukum Kamma. Seseorang menunjukkan sebuah buku kepada saya hari ini, yang walaupun dibagikan secara gratis, namun sayang sekali saya belum pernah melihatnya. Buku itu berisi gagasan yang sangat aneh mengenai hukum Kamma. Menurut saya, apa yang disampaikan buku itu adalah jika kamu membaca salah satu sutta (ceramah) sambil berbaring di lantai, kamu akan terlahir kembali dengan punggung bungkuk atau sejenisnya. Benar-benar gagasan yang bodoh. Kamma jauh lebih rumit daripada hal itu dan kamma terutama tergantung pada kualitas niat kamu. Pergerakan pikiran itu sendirilah yang menentukan Kamma, bukan hanya sekadar tindakannya, tetapi juga sebab dan asal niat tersebut. Kamu dapat melihat hal ini dalam meditasi, kamu juga dapat melihat bagaimana pikiran menjadi terbebaskan sepenuhnya.

Pengetahuan ketiga – pengetahuan ketiga adalah akhir dari penderitaan. Dengan memahami Empat Kebenaran Mulia, kamu akan mengetahui jalannya dan apa makna pencerahan sebenarnya. Pencerahan berarti kebebasan! Pikiran menjadi terbebas, terutama terbebas dari badan jasmani, tidak sekadar terbebas dari penderitaan badan jasmani melainkan juga terbebas dari kebahagiaan badan jasmani. Artinya tidak ada lagi hal yang mengarah pada seksualitas, tidak ada lagi ketakutan akan rasa sakit, tidak ada lagi kesedihan karena pelapukan badan jasmani, tidak ada lagi sakit hati dan rasa takut terhadap kritikan. Mengapa orang-orang cemas terhadap ucapan buruk yang dilontarkan? Hanya karena ego. Mereka menganggap sesuatu sebagai diri mereka. Bayangkanlah sebuah momen bagaimana rasanya terbebas dari semua hal-hal demikian. Seperti apakah rasanya bila tidak ada ketakutan, tidak ada nafsu, tidak perlu beringsut dari momen ini – dengan kata lain tidak ada sesuatu yang hilang dan tidak ada lagi sesuatu yang perlu dilakukan, tidak ada lagi tempat untuk dituju karena kamu sepenuhnya bahagia di sini, tidak peduli apapun yang terjadi! Inilah yang kita maksudkan dengan pencerahan. Meditasi ini adalah sumber pencerahan Buddha, juga merupakan sumber pencerahan bagi setiap orang.

Tidak akan ada pencerahan tanpa meditasi. Inilah alasan mengapa ajaran Buddha lebih dari sekadar sebuah psikoterapi. Lebih dari sekadar sebuah filosofi. Lebih dari sekadar sebuah agama. Ajaran Buddha terpendam dalam sifat alami setiap makhluk dan dapat diakses oleh setiap orang. Kamu tahu caranya bermeditasi. Para guru memberikan instruksinya secara cuma-cuma dan tanpa memungut bayaran apapun. Apakah kamu akan melakukannya? Biasanya jawaban untuk pertanyaan ini adalah, “Mungkin besok, yang pasti bukan hari ini.” Walaupun demikian, karena benih-benih telah ditanamkan dalam pikiran, karena meditasi telah dimulai, maka ada ketertarikan. Sudah ada suatu pengertian pencerahan, suatu kekaguman atas kedamaian, kamu tidak akan mampu berpaling lagi dari jalan itu. Kamu bisa saja berniat untuk menundanya sementara waktu, mungkin sepanjang hidup, tetapi tidakkah terasa aneh, seperti yang dikatakan seseorang kepada saya bertahun-tahun yang lalu, “Ketika kamu telah mendengarkan ajaran ini, kamu tidak akan mampu mengabaikannya begitu saja.” Kamu tidak akan bisa melupakannya. Ajaran Buddha tidak memberitahumu apa yang harus dipercaya. Tidak semata-mata menyuguhkan sebuah teori yang rasional. Tetapi ajaran membimbingmu kepada sesuatu yang dapat kamu pahami dan kamu alami secara langsung, sehingga kamu bisa mendapatkan intuisi dari pendalaman yang kamu lakukan.

Buddha adalah sosok yang sangat luar biasa, kedamaian-Nya, kasih sayang dan kebijaksanaan-Nya, sangatlah legendaris. Ada sesuatu yang sangat menarik mengenai pencerahan. Dengan jalan yang sama, ada sesuatu yang berkenaan dengan kebebasan yang tidak dapat kamu abaikan. Inilah sebabnya sedikit demi sedikit, kamu akan memahami mengenai apa sebenarnya ajaran Buddha itu. Kamu tidak akan memahami ajaran Buddha melalui buku-buku maupun dari apa yang saya katakan. Kamu hanya akan mengerti ajaran Buddha melalui pengalamanmu sendiri dalam meditasi yang damai. Disitulah ajaran Buddha diajarkan. Jadi nikmatilah meditasimu dan tidak perlu takut akan pencerahan. Masuklah ke dalamnya, nikmatilah dan kamu tidak akan menyesal.

Itulah ajaran Buddha. Itulah intinya – meditasi dan pencerahan. Itulah makna ajaran Buddha. Saya berharap kamu bisa mengerti hal ini. Sehubungan dengan batas waktu yang ditentukan, saya tidak dapat berbicara panjang lebar lagi. Saya akhiri ceramah saya sekarang.


Semoga Semua Makhluk Berbahagia,
Elin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar