Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Doa Sang Katak

Doa Sang Katak

oleh Anthony de Mello SJ

KERA DAN HYENA

Seekor kera dan seekor hyena sedang berjalan melewati hutan.
Hyena  itu  berkata, "Setiap kali saya lewat semak-semak itu
seekor singa melompat dari  dalamnya  dan  menganiaya  saya.
Saya tidak tahu mengapa demikian. '

"Kali  ini  saya  akan  berjalan bersamamu," kata kera, "dan
membantumu melawan singa itu."

Maka mereka mulai berjalan melewati semak-semak. Pada  waktu
itu singa itu menerkam hyena dan menganiayanya sampai hampir
mati. Sementara itu kera mengamati peristiwa itu dari  jarak
yang aman pada sebuah pohon. Ia memanjatnya ketika singa itu
keluar dari semak-semak.

"Mengapa  engkau  tidak  melakukan  sesuatu  untuk  membantu
saya?" keluh hyena.

Jawab  kera  itu,  "Engkau begitu banyak tertawa, saya pikir
engkau menang."

   

KRISHNA DALAM DOMPOLAN


Krishna  berkata  kepada Arjuna, "Engkau mengira saya adalah
penjelmaan Allah. Akan tetapi hari ini saya ingin menyatakan
sesuatu yang istimewa kepadamu. Ikutilah saya."

Arjuna   mengikuti   Krishna  beberapa  jauh.  Lalu  Krishna
menunjuk ke suatu pohon dan berkata, "Apa yang  kaulihat  di
sana?"

Arjuna  menjawab, "Suatu batang anggur yang sangat besar dan
bertandan-tandan buah anggur tergantung padanya.

Krishna berkata, "Itu  bukan  buah  anggur.  Pergilah  lebih
dekat dan amatilah dengan teliti."

Ketika  Arjuna  melakukan  hal  itu,  hampir-hampir ia tidak
mempercayai matanya sendiri,  karena  di  hadapannya  adalah
Krishna-Krishna yang bergantungan pada Krishna.

Murid-murid minta agar sang Guru berbicara mengenai kematian
kepada mereka: "Akan seperti apa kematian itu?"

"Kematian akan seperti  selubung  yang  terbuka  dan  engkau
dalam kekaguman akan berkata 'Jadi engkau itu!"

   
"KUDAMU MENDERITA SAKIT KUNING"


Sekelompok  mahasiswa  tidak  puas  dengan  mutu  bir   yang
disajikan dalam kafetaria.

Beberapa   dari  mereka  mendapat  gagasan  cemerlang  untuk
mengambil  sedikit  bir  dari   botol,   mengirimkannya   ke
laboratorium  rumah  sakit dengan harapan menemukan yang ada
dalam bir.

Hari berikutnya mereka  menerima  catatan  yang  mengatakan:
"kuda anda menderita sakit kuning."


MANGKUK EMAS MILIK NAGARJUNA


Nagarjuna,  seorang  buddha  suci  yang  agung, ke mana-mana
pergi    hampir    telanjang    hanya    terbungkus     kain
compang-camping.  Anehnya  ia juga membawa mangkuk dari emas
yang diberikan  kepadanya  oleh  raja  yang  pernah  menjadi
muridnya untuk tempat minta-minta.

Pada  suatu  malam  ketika  ia  hendak membaringkan diri dan
tidur di antara reruntuhan sebuah biara tua, ia melihat  ada
seorang  pencuri yang bersembunyi di balik sebuah tiang. "Ke-
sini, ambillah  ini,"  kata  Nagarjuna  sambil  mengacungkan
mangkuk   yang  biasa  dipakai  untuk  minta-minta.  "Dengan
demikian engkau tidak akan mengganggu saya pada  waktu  saya
sudah tertidur."

Dengan  senang  hati  pencuri  itu  merebut  mangkuk itu dan
pergi. Esok paginya ia kembali  dengan  mangkuk  itu  dengan
suatu  permohonan.  Ia  berkata,  "Ketika  engkau melepaskan
mangkuk ini dengan hati yang begitu bebas tadi malam, engkau
membuat  saya  merasa  begitu  miskin.  Ajarilah  saya untuk
memperoleh kekayaan yang menumbuhkan  ketidakterikatan  hati
yang begitu bebas."

Tidak  seorang  pun  dapat  merebut dari padamu hal yang tak
pernah engkau rebut bagi dirimu sendiri.



MANTRA BERBAHAYA

Seorang  guru sedang mengajar di suatu kelas. Pada waktu itu
sekelompok murid-murid yang masih muda minta kepadanya untuk
memberitahukan   mantra   keramat  yang  dapat  menghidupkan
kembali orang yang sudah mati.

"Apa yang akan kalian buat dengan hal yang begitu  berbahaya
itu?" tanya sang guru.

"Tidak  untuk  apa-apa, sekedar untuk meneguhkan iman kami,"
jawab mereka.

"Pengetahuan  yang  tidak  matang  itu   sangat   berbahaya,
anak-anakku," kata orang tua itu.

"Seperti  apakah  pengetahuan yang tidak matang itu?," tanya
mereka.

"Kalau pengetahuan itu memberikan kekuasaan kepada seseorang
yang  belum  mempunyai  kebijaksanaan  yang  harus mendasari
pemakaiannya."

Murid-murid itu terus  mendesak,  sehingga  orang  suci  itu
membisikkan  mantra  keramat  itu  ke  telinga mereka sambil
berkali-kali minta agar mereka menggunakannya dengan  sangat
hati-hati dan penuh pertimbangan.

Tidak  lama sesudah itu, orang-orang muda itu berjalan-jalan
di  padang.  Mereka  melihat  setumpuk  tulang  yang   sudah
memutih.  Dengan  sikap  sembrono yang biasanya menjadi ciri
kelompok,  mereka  memutuskan  untuk  menguji  mantra,  yang
seharusnya hanya digunakan sesudah meditasi yang lama.

Segera  sesudah  mereka  mengucapkan  kata-kata keramat itu,
tulang-tulang itu  langsung  ditumbuhi  daging  dan  berubah
menjadi  serigala-serigala  yang  kelaparan,  yang  mengejar
mereka dan mencabik-cabik tubuh mereka.

   

"SAYA TAKUT ENGKAU AKAN MENCIUMKU"


Johanes dan Maria berjalan-jalan pada  sore  hari  menjelang
malam. "John, saya sangat takut," kata Maria.

"Apa yang kautakutkan?"

"Saya takut, jangan-jangan engkau mencium saya."

"Bagaimana  saya  akan  menciumnya  kalau  kedua tangan saya
membawa ember dan mengempit seekor ayam?"

"Saya takut, jangan-jangan engkau menaruh ayam itu di  bawah
ember lalu mencium saya."

Terjadi  lebih sering daripada yang kaupikirkan, yang dibuat
orang terhadap dirimu adalah yang kauminta dari mereka.



"KALAU KAUBIARKAN SAYA TERBAKAR, ENGKAU AKAN MENANGGUNG"


Seorang Gubernur kolonial berkata  kepada  seorang  pemimpin
setempat, "Saya sangat menyesalkan penindasan yang dilakukan
oleh bangsa saya terhadap bangsamu.  Engkau  harus  menolong
saya memecahkan masalahnya."

"Di mana letak masalahnya?" tanya pemimpin itu.

"Dengar  kawan. Seandainya saya mengikatmu pada sebuah tiang
dan menyalakan api di sekitarmu, engkau akan  punya  masalah
bukan?"

"Apakah  demikian?  Seandainya engkau melepaskan saya, semua
akan beres. Seandainya engkau membiarkan saya terbakar, saya
akan mati. Dan engkau akan berhadapan dengan masalah!"

   
MELANGKAH JAUH TANPA MOBIL


Seorang  wanita  saleh  sedang  meratapi ulah angkatan muda,
"Sebabnya adalah mobil! Coba  lihat,  sekarang  berapa  jauh
mereka  dapat pergi untuk berdansa dan berkencan. Pada zaman
kita dulu tidak demikian. Bukankah begitu, nenek?"

Wanita berumur delapan puluh tujuh tahun: "Yah,  pasti  dulu
kita pergi sejauh mungkin pada waktu itu."


MEMANDANGI LUBANG

Seorang  kikir  menyembunyikan  emas  di  bawah  pohon dalam
tamannya. Setiap minggu  ia  menggalinya  dan  memandanginya
berjam-jam.  Pada suatu hari seorang pencuri menggalinya dan
membawanya lari. Ketika  si  kikir  itu  datang  lagi  untuk
memandangi  harta  kekayaannya,  yang  ia  temukan  hanyalah
lubang yang kosong.

Orang  itu  mulai  meraung-raung  karena   sedih,   sehingga
tetangga-tetangganya datang berlarian untuk melihat ada apa.
Ketika mereka tahu masalahnya,  salah  seorang  dari  antara
mereka  bertanya.  "Apakah  engkau  sudah pernah menggunakan
emas itu?"

"Belum," kata si kikir.  "Saya  hanya  memandanginya  setiap
minggu."

"Baiklah, kalau demikian," kata tetangga itu, "demi kepuasan
yang sudah diberikan oleh emas itu, engkau dapat juga datang
setiap minggu untuk memandangi lubang itu."

Kita  menjadi  kaya  atau  miskin  tidak  karena uang tetapi
karena kemampuan kita untuk bergembira. Berjuang keras untuk
mencari   kekayaan   dan  tidak  mempunyai  kemampuan  untuk
bergembira sama  dengan  orang  botak  yang  berjuang  untuk
mengumpulkan sisir.

   

MEMBERITAHUKAN MANTRA KEPADA SEMUA ORANG

Seorang  magang  berlutut untuk dilantik menjadi murid. Guru
membisikkan  suatu  mantra  rahasia  ke  telinganya,  sambil
memberi peringatan kepadanya agar tidak mengatakannya kepada
orang lain.

"Apa yang akan terjadi seandainya saya mengatakannya?" sahut
magang itu.

Guru  berkata,  "Orang  yang  kauberitahu  mantra  itu  akan
dibebaskan dari belenggu  kebodohan  dan  penderitaan,  akan
tetapi  engkau sendiri akan dikucilkan dari lingkungan murid
dan menderita."

Segera sesudah ia mendengar kata-kata ini, magang  itu  lari
ke   tengah-tengah   pasar,  mengumpulkan  orang  banyak  di
sekitarnya dan  memberitahukan  mantra  rahasia  ini  kepada
semua orang.

Kemudian  para  murid memberitahukan hal itu kepada guru dan
minta supaya orang itu diusir dari  pertapaan  karena  tidak
taat.

Guru  tersenyum dan berkata, "Ia tidak perlu saya ajar lagi.
Tindakannya menunjukkan bahwa ia sendiri adalah guru."

   

MENARA TINGGI YANG GELAP

Mengenai hakikat pencarian hidup batin...

Seorang laki-laki berjalan-jalan dan sampai ke sebuah menara
yang tinggi. Ia masuk ke dalamnya dan semua gelap. Ketika ia
meraba-raba dalam kegelapan itu ia sampai pada sebuah tangga
lingkar. Terdorong oleh rasa ingin tahu yang besar sampai ke
manakah tangga itu, ia mulai menaikinya. Ketika ia naik,  ia
merasakan  kegelisahan  tumbuh  dalam hatinya. Ia menoleh ke
belakang dan menjadi sangat ketakutan karena setiap kali  ia
naik  satu  anak  tangga,  anak  tangga sebelumnya jatuh dan
hilang. Di hadapannya anak tangga terus  melingkar  ke  atas
tetapi  ia  tidak tahu sampai ke mana; sedang di belakangnya
menganga suatu kekosongan yang amat gelap.

                     (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar