Check out the Latest Articles:

Kamis, 21 April 2011

Burung Berkicau

Burung Berkicau

oleh Anthony de Mello SJ
95. MUSIK BAGI ORANG TULI

Aku dulu tuli samasekali. Pada waktu itu aku melihat orang-orang berdiri, bergerak dengan lemah gemulai, melangkah maju dan mundur, melenggok berputar-putar, bergeser ke kiri dan ke kanan. Katanya, orang-orang itu menari. Kelihatannya aneh sekali sampai pada suatu hari aku mendengar musik iringannya. Lalu aku pun mengerti. Betapa indahnya tarian itu!

Nah, sekarang kulihat tingkah-laku ganjil sementara orang suci. Tetapi aku tahu, imanku mati. Maka aku tidak mau mengadakan pernilaian sebelum imanku hidup kembali. Mungkin pada suatu waktu aku akan mengerti.

Dan aku melihat tingkah-laku yang aneh dari orang-orang yang sedang jatuh cinta. Tetapi aku tahu, hatiku mati.

Maka daripada menilai mereka, lebih baik aku berdoa agar hatiku suatu ketika hidup kembali.


96. KAYA

Suami:

'Manisku, aku akan bekerja keras supaya pada suatu saat kita akan menjadi kaya.'

Isteri:

'Kita sudah kaya, sayang, karena kita saling memiliki. Kelak mungkin kita akan mempunyai banyak uang juga.'


92. NELAYAN YANG PUAS

Usahawan kaya dari kota terkejut menjumpai nelayan di pantai sedang berbaring bermalas-malasan di samping perahunya, sambil mengisap rokok.

'Mengapa engkau tidak pergi menangkap ikan?' tanya usahawan itu.

'Karena ikan yang kutangkap telah menghasilkan cukup uang untuk makan hari ini,' jawab nelayan.

'Mengapa tidak kau tangkap lebih banyak lagi daripada yang kau perlukan?' tanya usahawan.

'Untuk apa?' nelayan balas beitanya.

'Engkau dapat mengumpulkan uang lebih banyak,' jawabnya. 'Dengan uang itu engkau dapat membeli motor tempel, sehingga engkau dapat melaut lebih jauh dan menangkap ikan lebih banyak. Kemudian engkau mempunyai cukup banyak uang untuk membeli pukat nilon. Itu akan menghasilkan ikan lebih banyak lagi, jadi juga uang lebih banyak lagi. Nah, segera uangmu cukup untuk membeli dua kapal ... bahkan mungkin sejumlah kapal. Lalu kau pun akan menjadi kaya seperti aku.'

'Selanjutnya aku mesti berbuat apa?' tanya si nelayan.

'Selanjutnya kau bisa beristirahat dan menikmati hidup,' kata si usahawan.

'Menurut pendapatmu, sekarang Ini aku sedang berbuat apa?' kata si nelayan puas.

Lebih bijaksana menjaga kemampuan untuk menikmati hidup seutuhnya daripada memupuk uang.


98. TUJUH BULI-BULI EMAS

Seorang tukang cukur sedang berjalan di bawah sebatang pohon yang angker, ketika ia mendengar suara yang berkata: 'Inginkah engkau mempunyai emas sebanyak tujuh buli-buli?' Tukang cukur itu melihat kiri kanan dan tidak tampak seorang pun. Tetapi nafsu lobanya timbul, maka dengan tak sabar ia menjawab lantang: 'Ya, aku ingin!' 'Kalau begitu, pulanglah segera ke rumah,' kata suara itu. 'Engkau akan menemukannya di sana.'

Si tukang cukur cepat-cepat berlari pulang. Sungguh, ada tujuh buli-buli penuh emas, kecuali satu yang hanya berisi setengah saja. Si tukang cukur tak bisa melepaskan pikiran, bahwa satu buli-buli hanya berisi setengah saja. Ia ingin sekali untuk segera mengisinya sampai penuh. Sebab jika tidak, ia tidak akan bahagia.

Seluruh perhiasan milik anggota keluarganya disuruhnya dilebur menjadi uang emas dan dimasukkannya dalam buli-buli yang berisi setengah itu. Tetapi buli-buli itu tetap berisi setengah seperti semula. Ini menjengkelkan! Ia menabung, menghemat dan berpuasa sampai ia sendiri dan seluruh keluarganya kelaparan. Namun demikian, sia-sia belaka. Biarpun begitu banyak emas telah dimasukkannnya ke dalamnya, buli-buli itu tetap berisi setengah saja.

Pada suatu hari ia minta kenaikan gaji kepada raja. Upahnya dilipatduakan. Sekali lagi ia berjuang untuk mengisi buli-buli itu. Bahkan ia sampai mengemis. Namun buli-buli itu tetap menelan setiap mata uang emas yang dimasukkan dan tetap berisi setengah.

Raja mulai memperhatikan, betapa tukang cukur itu tampak kurus dan menderita. 'Kau punya masalah apa?' tanya sang raja. 'Kau dulu begitu puas dan bahagia waktu gajimu kecil saja. Sekarang gajimu sudah lipat dua, namun kau begitu muram dan lesu. Barangkali kau menyimpan tujuh buli-buli emas itu?'

Tukang cukur terheran-heran. 'Siapakah yang menceritakan hal itu kepada Paduka, ya Tuanku Raja?'

Raja tertawa seraya berkata:

'Tindak-tandukmu jelas menampakkan gejala-gejala yang terdapat pada semua orang yang ditawari tujuh buli-buli emas oleh setan. Ia pernah menawarkannya juga kepadaku. Aku bertanya, apakah uang itu boleh dipergunakan atau semata-mata untuk disimpan. Namun ia terus menghilang tanpa berkata apa-apa. Uang itu tidak bisa digunakan, tetapi hanya memaksa orang supaya mau menyimpannya. Lekas kembalikanlah uang itu pada setan. Pastilah engkau akan bahagia kembali!'




104. MOHON HATI YANG DAMAI

Dewa Vishnu sudah bosan mendengarkan permohonan salah seorang penyembahnya, hingga suatu ketika ia menampakkan diri di hadapannya dan berkata: 'Sudah kuputuskan, aku akan memberikan tiga hal, apa pun yang kau minta. Sesudah itu, tidak ada sesuatu pun yang akan kuberikan kepadamu lagi.'

Penyembah itu dengan gembira langsung mengajukan permohonan yang pertama. Ia meminta, agar isterinya mati sehingga ia dapat menikah lagi dengan wanita lain yang lebih baik. Permohonannya dikabulkan dengan segera.

Tetapi ketika teman-teman dan sanak saudaranya berkumpul menghadiri pemakaman isterinya, dan mulai mengenangkan kembali semua sifat baiknya, penyembah ini sadar bahwa ia telah bertindak terlampau gegabah. Saat itu ia menyadari bahwa dulu ia buta terhadap segala kebaikan isterinya. Apakah ia masih bisa menemukan wanita lain yang sebaik dia?

Maka ia memohon kepada dewa, agar menghidupkan isterinya kembali. Kini permohonannya tinggal satu lagi. Ia bermaksud tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, karena ia sudah tidak akan sempat memperbaikinya lagi. Ia bertanya kemana-mana. Beberapa kawannya menasehatinya, agar ia minta diluputkan dari kematian. Tetapi apa gunanya tetap hidup, kata kawannya yang lain, kalau badannya tidak sehat? Dan untuk apa sehat, kalau tidak punya uang? Dan apa gunanya uang kalau tidak punya sahabat?

Tahun demi tahun telah lewat dan ia belum juga dapat memutuskan apa yang harus dimintanya: hidup, kesehatan, kekayaan, kekuasaan atau cinta. Akhirnya ia menyerah dan berkata kepada dewa: 'Berkenanlah kiranya Dewa memberi nasehat, apa yang sepantasnya saya minta?'

Melihat kebingungan orang itu, Vishnu tertawa dan berkata:

'Mintalah hati yang damai, entah apa pun yang terjadi dalam hidupmu.'


105. PASAR MALAM AGAMA

Aku dan temanku pergi ke 'Pasar malam agama.' Bukan pasar dagang. Pasar agama. Tetapi persaingannya sama sengitnya, propagandanya pun sama hebatnya.

Di kios Yahudi kami mendapat selebaran yang mengatakan bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan bahwa bangsa Yahudi adalah umat pilihanNya. Ya, bangsa Yahudi. Tidak ada bangsa lain yang terpilih seperti bangsa Yahudi.

Di kios Islam kami mendengar, bahwa Allah itu Maha Penyayang dan Muhammad ialah nabiNya. Keselamatan diperoleh dengan mendengarkan Nabi Tuhan yang satu-satunya itu.

Di kios Kristen kami menemukan, bahwa Tuhan adalah Cinta dan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan. Silahkan mengikuti Gereja Kudus jika tidak ingin mengambil risiko masuk neraka.

Di pintu keluar aku bertanya kepada temanku: 'Apakah pendapatmu tentang Tuhan?' Jawabnya: 'Rupanya Ia penipu, fanatik dan bengis.'

Sampai di rumah aku berkata kepada Tuhan: 'Bagaimana Engkau bisa tahan dengan hal seperti ini, Tuhan? Apakah Engkau tidak tahu, bahwa selama berabad-abad mereka memberi julukan jelek kepadaMu?'

Tuhan berkata: 'Bukan Aku yang mengadakan 'Pasar malam agama' itu. Aku bahkan merasa terlalu malu untuk mengunjunginya.'


106. DISKRIMINASI

Aku langsung kembali menuju ke 'Pasar malam agama.' Kali ini aku mendengar pidato imam agung agama Balakri. Kami diberitahu bahwa nabi Balakri adalah almasih yang dilahirkan pada abad kelima di 'Tanah Suci Mesambia.'

Malam itu aku menghadap Tuhan lagi. 'Engkau sungguh-sungguh melakukan diskriminasi, bukankah begitu, Tuhan? Mengapa abad kelima itu abad yang mulia, dan mengapa Mesambia harus menjadi tanah suci? Mengapa Engkau melakukan diskriminasi terhadap abad lain dan negeri lain? Apa kesalahan abadku? Dan apa kesalahan negeriku?,

Tuhan menjawab:

'Hari raya itu suci, karena menunjukkan bahwa semua hari sepanjang tahun itu suci. Dan tanah suci itu dikatakan suci, karena menunjukkan bahwa semua tanah sudah disucikan. Demikian pula Kristus dilahirkan untuk menunjukkan bahwa semua orang adalah putera-puteri Allah.'

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar