Check out the Latest Articles:

Rabu, 20 April 2011

13. SAMMAPARIBBAJANIYA SUTTA : Kehidupan Tak-berumah yang Benar

13. SAMMAPARIBBAJANIYA SUTTA

Kehidupan Tak-berumah yang Benar

Penanya:
1. Saya bertanya kepada pertapa yang memiliki kebijaksanaan agung, yang telah menyeberangi [banjir keberadaan] dan telah sampai di pantai seberang, yang telah mencapai Nibbana dan telah mantap: Setelah meninggalkan kehidupan berumah tangga dan setelah mengalahkan nafsu-nafsu indera, bagaimanakah seharusnya seorang bhikkhu menjalani kehidupan tak-berumah secara benar? (359)

Sang Buddha:
2. Di dalam dirinya telah musnah kepercayaan pada pertanda –seperti misalnya bintang jatuh, impian dan tanda-tanda lain. Bhikkhu yang telah menghindari akibat-akibat yang dihasilkan akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar. (360)
3. Hendaklah bhikkhu itu meninggalkan nafsu terhadap kenikmatan indera, baik yang duniawi maupun surgawi. Dan setelah melampaui eksistensi dan memahami Ajaran, dia akan ….1 (361)
4. Hendaklah bhikkhu itu menghindari fitnah dan meninggalkan kemarahan dan keserakahan. Dan setelah terbebas dari ketertarikan dan penolakan, dia akan …. (362)
5. Setelah meninggalkan apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, tidak melekati apa pun juga, serta tidak bergantung pada apa pun juga, terbebas dari belenggu-belenggu, dia akan …. (363)
6. Tidak melihat nilai apa pun pada harta materi, dengan menghilangkan nafsu untuk melekati obyek, dan menjadi orang yang tidak melekat dan tidak dipengaruhi yang lain, dia akan …. (364)
7. Menjadi orang yang tidak memusuhi siapa pun, yang baik lewat kata-kata, pikiran maupun perbuatan, yang memahami Ajaran dengan benar, yang bercita-cita mencapai keadaan Nibbana, dia akan …. (365)
8. Bhikkhu yang hatinya tidak berbunga-bunga karena berpikir: ‘orang-orang menghormatiku’, dan tidak memiliki niat jahat jika dicaci maki; yang tidak merasa amat gembira bila menerima makanan dari orang lain, dia akan …. (366)
9. Bhikkhu yang setelah meninggalkan nafsu dan dumadi, menjauhkan diri dari perbuatan yang merugikan dan menjegal orang lain, serta yang telah mengatasi keraguan dan mencabut anak panah [nafsu], dia akan …. (367)
10. Bhikkhu yang tahu apa yang cocok bagi dirinya, dan tidak menyakiti siapa pun di dunia ini; karena menyadari Ajaran sebagaimana adanya, dia akan …. (368)
11. Orang yang tidak lagi memiliki kecenderungan jahat laten apa pun di dalam dirinya, dan semua akar kejahatan telah dihancurkan; dengan mengatasi nafsu dan setelah membebaskan dirinya dari nafsu-nafsu itu, dia akan …. (369)
12. Orang yang telah menghancurkan kebejatan moralnya, yang telah meninggalkan egoisme, yang telah sepenuhnya lolos dari jalur nafsu yang kuat, yang terkendali, terbebas dan mantap, dia akan …. (370)
13. Orang yang percaya diri, berpengetahuan, dan melihat Sang Jalan ke Nibbana, orang bijaksana yang tidak memihak sekte-sekte yang berseteru; yang telah menghilangkan keserakahan, kemarahan dan niat jahat, dia akan …. (371)
14. Dia yang telah menaklukkan kekotoran batin, yang telah mencabik-cabik kerudung kejahatan, yang amat berdisiplin dalam Ajaran, yang telah mencapai pantai seberang [Nibbana], yang kokoh dan terampil dalam pengetahuan tentang hancurnya kecenderungan yang menghasilkan kamma, dia akan …. (372)
15. Orang yang telah meninggalkan pikiran-pikiran yang egois berkenaan dengan masa lampau dan masa depan, yang memiliki kebijaksanaan yang amat jernih, yang terbebas dari semua obyek sensual, dia akan …. (373)
16. Setelah direalisasikan Kebenaran, memahami Ajaran dan melihat dengan jelas hancurnya kebejatan moral, dengan hilangnya semua kemelekatan, dia akan…. (374)

Penanya:
17. Yang Mulia, memang demikianlah adanya. Bhikkhu yang hidup seperti itu, yang terkendali dan telah mengatasi semua belenggu, akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar. (375)
Catatan
  1. Dari 3 – 16, setiap bait berakhir dengan pengulangan, ‘dia akan menjalani kehidupan tak-berumah secara benar.’

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar