Check out the Latest Articles:

Kamis, 21 April 2011

Burung Berkicau

Burung Berkicau

oleh Anthony de Mello SJ
65. KIOS KEBENARAN

Ketika aku melihat papan nama pada kios itu, hampir-hampir aku tidak percaya pada apa yang kubaca: KIOS KEBENARAN. Mereka menjual kebenaran di sana!

Gadis penjaga kios bertanya dengan amat sopan: kebenaran macam apa yang ingin kubeli, sebagian kebenaran atau seluruh kebenaran? Tentu saja seluruh kebenaran! Aku tidak perlu menipu diri, mengadakan pembelaan diri atau rasionalisasi lagi. Aku menginginkan kebenaranku: terang, terbuka, penuh dan utuh. Ia memberi isyarat, agar aku menuju bagian lain dalam kios itu, yang menjual kebenaran yang utuh.

Pemuda penjaga kios yang ada di sana memandangku dengan rasa kasihan dan menunjuk kepada daftar harga. 'Harganya amat tinggi Tuan,' katanya. 'Berapa?' tanyaku mantap, karena ingin mendapat seluruh kebenaran, berapapun harganya. 'Kalau Tuan membelinya,' katanya. 'Tuan akan membayarnya dengan kehilangan semua ketenangan dalam seluruh sisa hidup Tuan.'

Aku keluar dari kios itu dengan rasa sedih. Aku mengira bahwa aku dapat memperoleh seluruh kebenaran dengan harga murah. Aku masih belum siap menerima kebenaran. Kadang-kadang aku mendambakan damai dan ketenangan. Aku masih perlu sedikit menipu diri dengan membela dan membenarkan diri. Aku masih ingin berlindung di balik kepercayaan-kepercayaanku yang tak boleh dipertanyakan.


66. JALAN SEMPIT

Sekali peristiwa. Tuhan memperingatkan rakyat mengenai datangnya gempa bumi, yang akan menghabiskan seluruh air yang ada di negeri ini.

Air yang kemudian datang mengganti, akan membuat setiap orang menjadi gila.

Hanya nabilah yang menanggapi Tuhan dengan serius, ia mengusung air banyak-banyak ke guanya di gunung, sehingga cukup kiranya sampai hari kematiannya.

Ternyata benar, gempa bumi sungguh terjadi. Air menghilang dan air yang baru mengisi parit, danau, sungai serta kolam. Beberapa bulan kemudian nabi turun ke lembah untuk melihat apa yang telah terjadi. Memang, semua orang telah menjadi gila. Mereka menyerang dan tidak mempedulikannya. Mereka semua yakin justru dialah yang sudah menjadi gila.

Maka nabi pulang ke guanya di gunung. Ia senang, bahwa ia masih menyimpan banyak air. Tetapi lama-kelamaan ia merasakan kesepian yang tak tertahankan lagi. Ia ingin sekali bergaul dengan sesama manusia. Maka ia turun kebawah lagi. Sekali lagi ia diusir oleh orang banyak, karena ia begitu berbeda dari mereka semua.

Nabi lalu mengambil keputusan. Ia membuang seluruh air yang disimpannya, minum air baru dan bergabung dengan orang-orang lainnya sehingga sama-sama menjadi gila.

Jika engkau mencari kebenaran, engkau berjalan sendirian. Jalan ini terlalu sempit untuk kawan seperjalanan. Siapakah yang dapat tahan dalam kesendirian itu?


67. MUNAFIK

Sebuah ruangan penuh sesak dengan wanita-wanita tua. Rupanya ada semacam agama atau sekte baru. Seseorang hanya mengenakan serban dan cawat saja maju ke depan. Ia berbicara dengan penuh semangat tentang kuasa budi atas materi, jiwa atas raga.

Semua orang mendengarkan dengan terpukau. Pembicara itu lalu kembali ke tempatnya persis di hadapanku. Orang yang duduk di sampingnya berpaling sambil bertanya cukup keras: 'Apakah Saudara sungguh percaya akan apa yang Saudara katakan tadi, yakni bahwa badan samasekali tidak merasakan apa-apa, bahwa semua itu hanya pikiran saja dan bahwa pikiran dapat dipengaruhi secara sadar oleh kehendak?'

Si munafik menjawab dengan yakin: 'Tentu saja aku percaya.'

'Kalau begitu,' kata orang disisinya, 'maukah Saudara bertukar tempat dengan saya? Saya masuk angin duduk di sini!'

Kerap kali aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk mempraktekkan apa yang aku khotbahkan.

Seandainya aku membatasi diri dan hanya mengkhotbahkan apa yang kupraktekkan, maka aku tidak begitu munafik lagi.


69. BAIKLAH, BAIKLAH

Seorang gadis di kampung nelayan hamil di luar nikah, Setelah berkali-kali dipukuli, akhirnya ia mengaku bahwa bapak dari anak yang dikandungnya adalah Guru Zen yang merenung sepanjang hari di dalam kuil di luar desa.

Orangtua si gadis bersama banyak penduduk desa beramai-ramai menuju kuil. Dengan kasar mereka menyerbu Guru yang sedang berdoa. Mereka menghajarnya karena kemunafikannya dan menuntut bahwa ia sebagai bapak anak itu wajib menanggung biaya untuk membesarkannya. Jawaban Guru itu hanyalah, 'Baiklah, baiklah.'

Setelah orang banyak pergi meninggalkannya, ia memungut bayi itu dari lantai. Ia minta supaya seorang ibu dari desa memberi anak itu makan dan pakaian serta merawatnya atas tanggungannya.

Guru itu jatuh namanya. Tidak ada lagi orang yang datang untuk meminta wejangannya.

Ketika peristiwa itu sudah berlalu satu tahun lamanya, gadis yang melahirkan anak itu tidak kuat menyimpan rahasianya lebih lama lagi. Akhirnya ia mengaku, bahwa ia telah berdusta. Ayah anak itu sebetulnya adalah pemuda di sebelah rumahnya. Orangtua si gadis dan para penduduk kampung amat menyesal. Mereka bersembah sujud di kaki Guru untuk mohon maaf dan meminta kembali anak tadi. Guru mengembalikannya dan yang dikatakannya hanyalah: 'Baiklah. Baiklah!'

Orang yang sungguh-sungguh sadar!

Kehilangan nama? Tidak banyak berbeda dengan kehilangan kontrak yang mau ditandatangani dalam mimpi.


73. BONEKA GARAM


Sebuah boneka garam berjalan beribu-ribu kilometer menjelajahi daratan, sampai akhirnya ia tiba di tepi laut.

Ia amat terpesona oleh pemandangan baru, massa yang bergerak-gerak, berbeda dengan segala sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya.

'Siapakah kau?' tanya boneka garam kepada laut.

Sambil tersenyum laut menjawab:

'Masuk dan lihatlah!'

Maka boneka garam itu menceburkan diri ke laut. Semakin jauh masuk ke dalam laut, ia semakin larut, sampai hanya tinggal segumpal kecil saja. Sebelum gumpalan terakhir larut, boneka itu berteriak bahagia: 'Sekarang aku tahu, siapakah aku!'


74. SIAPAKAH AKU?
Attar dari Neishapur bercerita:

Seseorang yang sedang jatuh cinta mengetuk pintu rumah kekasihnya. 'Siapa?' tanya sang kekasih dari dalam. 'Aku,' kata orang itu, 'Pergi sajalah! Rumah ini tidak akan muat untuk kau dan aku.'

Orang yang cintanya ditolak ini pergi ke padang gurun. Di sana ia merenung selama berbulan-bulan, memikir-mikirkan kata-kata kekasihnya. Akhirnya, ia kembali dan mengetuk pintu rumah kekasihnya lagi.

Siapa yang mengetuk itu?, 'Engkau!'

Segera pintu dibukakan.


75. PEMUDA YANG BANYAK BICARA
Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta berusaha selama berbulan-bulan untuk mengambil hati pujaannya, namun gagal. Ia merasa sakit hati karena ditolak. Namun akhirnya si jantung-hati menyerah. 'Datanglah di tempat anu pada jam anu,' katanya.

Pada waktu dan di tempat anu tersebut, akhirnya si pemuda sungguh jadi duduk bersanding dengan jantung-hatinya. Lalu ia merogoh saku dan mengeluarkan seberkas surat-surat cinta, yang telah ia tulis selama berbulan-bulan, sejak ia mengenal si jantung-hati. Surat-surat itu penuh kata-kata asmara, mengungkapkan kerinduan hatinya dan hasratnya yang membara untuk mengalami kebahagiaan karena dipersatukan dalam cinta. Ia mulai membacakan semua suratnya itu untuk jantung hatinya. Berjam-jam telah lewat, namun ia masih juga terus membaca.

Akhirnya si jantung hati berkata:

'Betapa bodoh kau! Semua suratmu hanya tentang aku dan rindumu padaku. Sekarang aku disini, bahkan duduk disampingmu. Dan kamu masih juga membacakan surat-suratmu yang membosankan itu!'

'Inilah aku, duduk di sampingmu,' sabda Tuhan kepada penyembahnya, 'dan engkau masih juga berpikir-pikir tentang Aku di dalam benakmu, berbicara tentang Aku dengan mulutmu, dan membaca tentang Aku dalam buku-bukumu. Kapankah engkau akan diam dan mulai menghayati kehadiranKu?'


76. MENANGGALKAN SI 'AKU'

Murid:

Aku datang untuk mengabdimu.

Guru:

Seandainya engkau melepaskan si 'aku', pengabdian akan terjadi dengan sendirinya.

Engkau dapat merelakan semua harta bendamu bagi kaum miskin dan bahkan merelakan dirimu dibakar, namun belum tentu engkau mempunyai cinta samasekali.

Simpanlah hartamu dan tinggalkan si 'aku'. Jangan membakar tubuhmu, bakarlah 'ego'mu! Cinta akan muncul dengan sendirinya.


77. BUANGLAH KEHAMPAANMU!

Ia mengira sungguh amat penting menjadi miskin dan hidup bermatiraga. Tidak pernah ia menyangka bahwa yang paling penting ialah melepaskan 'ego'nya. Ego dapat menjadi-jadi karena kesucian maupun karena keduniawian, karena kemiskinan maupun karena kekayaan, karena bermatiraga maupun karena hidup mewah. Tidak ada sesuatu pun yang tidak digunakan oleh 'ego' untuk melambungkan diri.

Murid:

Aku datang kepadamu dengan tangan hampa.

Guru:

Buanglah kehampaan itu sekarang juga!

Murid:

Bagaimana aku dapat membuangnya? Hanya kehampaan belaka.

Guru:

Kalau begitu, bawalah serta ke mana saja engkau pergi.

Engkau dapat membuat kehampaan menjadi milikmu. Dan membawa serta matiragamu bagaikan sebuah piala penghargaan. Jangan membuang milikmu. Buanglah 'ego'mu!


78. GURU ZEN DAN SEORANG KRISTEN
Seorang Kristen suatu hari mengunjungi seorang Guru Zen dan berkata:

'Bolehkah aku membacakan beberapa kalimat dari Khotbah di Bukit?'

'Silahkan, dengan senang hati aku akan mendengarkannya,' kata Guru Zen itu.

Orang Kristen itu membaca beberapa kalimat, lalu berhenti sejenak dan melihat Guru. Guru tersenyum dan berkata: 'Siapa pun yang pernah mengucapkan kalimat-kalimat ini, pastilah sudah mendapatkan penerangan budi.'

Orang Kristen senang. Ia meneruskan membaca. Sang Guru menyela dan berkata: 'Orang yang mengucapkan ajaran ini, sungguh dapat disebut Penyelamat dunia!'

Orang Kristen itu gembira ria. Ia terus membaca sampai habis. Lalu sang Guru berkata: 'Khotbah itu disampaikan oleh Seorang yang memancarkan cahaya ilahi.'

Sukacita orang Kristen itu meluap-luap tanpa batas. Ia minta diri dan bermaksud kembali untuk meyakinkan Guru Zen itu, agar ia sendiri sepantasnya menjadi seorang Kristen juga.

Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, ia berjumpa dengan Kristus di pinggir jalan. 'Tuhan,' serunya dengan penuh semangat, 'Saya berhasil membuat orang itu mengaku bahwa Engkau adalah Tuhan.'

Jesus tersenyum dan berkata: 'Apa gunanya hal itu bagimu, selain membesarkan ego, Kristenmu?'


82. SERANGAN JANTUNG ROHANI
Paman Tom mengidap penyakit jantung. Para dokter telah memperingatkannya supaya berhati-hati. Oleh karena itu ketika sanak-keluarganya mendengar, bahwa ia mendapat warisan satu milyar dollar dari salah seorang saudaranya yang telah meninggal, mereka takut menyampaikan kabar itu kepadanya. Jangan-jangan ia nanti mendapat serangan jantung.

Maka mereka minta bantuan kepada pastor setempat, yang meyakinkan mereka, bahwa ia pasti menemukan jalan keluar. 'Begini, Tom,' kata pastor paroki kepada orang yang sakit jantung itu. 'Seandainya Tuhan bermurah hati menghadiahkan satu milyar dollar kepadamu, akan kau apakan uang sebanyak itu?'

Paman Tom berpikir sebentar, lalu tanpa ragu berkata: 'Setengahnya akan kuberikan kepada Gereja, Pastor!'

Ketika mendengar perkataan itu, pastor paroki mendapat serangan jantung.
--o000o--

Waktu pengusaha mendapat serangan jantung karena terus berusaha memperbesar perusahaannya, gampang orang menuduhnya serakah dan mementingkan dirinya sendiri. Waktu pastor paroki mendapat serangan jantung karena berusaha memperbesar Kerajaan Allah, tidak mudah orang menuduh bahwa ia juga serakah dan mementingkan diri sendiri, biarpun dalam bentuk yang lebih halal tampaknya. Sungguhkah ia memperkembangkan Kerajaan Allah atau dirinya sendiri? Kerajaan Allah dapat berkembang sendiri tanpa usaha dan kecemasan kita. Waspadalah terhadap kecemasanmu! Itu menunjukkan kepentingan-mu sendiri, bukan?


85. TELUR EMAS

Bacaan dari sebuah kitab suci:

Inilah sabda dan Yang Mahatinggi:

Pada jaman dahulukala adalah seekor angsa yang setiap hari bertelur sebutir telur emas. Isteri petani yang memllik angsa itu sangat gembira karena telur-telur itu membuatnya kaya-raya. Namun ia seorang wanita yang loba. Ia tidak dapat menunggu dengan sabar sebutir telur sehari. Ia bermaksud menyembelih angsa itu dan sekaligus mendapatkan semua telurnya. Maka akhirnya ia menyembelih angsa itu. Namun yang didapatkannya tidak lain daripada telur setengah jadi dan angsa mati yang tidak dapat bertelur lagi.

Demikianlah sabda dari Yang Mahatinggi:

Seorang ateis yang mendengar kisah dari kitab suci ini mencemooh: 'Dongeng seperti itu kau namakan sabda dari Yang Mahatinggi. Masakan seekor angsa bertelur emas! Nah terbukti. berapa jauh seseorang dapat percaya akan apa yang disebut Tuhan Yang Mahatinggi.'

Seorang cendekiawan saleh yang membaca naskah itu menanggapi demikian: 'Tuhan jelas mengatakan kepada kita bahwa dahulu kala ada seekor angsa yang bertelur emas. Jika Tuhan mengatakan hal ini, tentulah harus benar-benar terjadi, meskipun tampaknya sulit diterima oleh akal sehat manusia. Penyelidikan arkeologi samar-samar menunjukkan, bahwa dalam sejarah kuno sungguh pernah hidup seekor angsa ajaib yang betul-betul bertelur emas.' Nah, orang akan bertanya, dan masuk akal bertanya demikian: 'Bagaimana mungkin sebutir telur tanpa kehilangan sifat telurnya, sekaligus terdiri dari emas?' Hal ini tentu saja tidak dapat dijawab. Berbagai macam mazhab berusaha menafsirkannya dengan cara yang berbeda-beda. Tetapi yang pada akhirnya dituntut adalah iman kuat terhadap rahasia yang menakjubkan bagi akal budi manusia ini.

Bahkan ada seorang pengkhotbah yang sesudah membaca kisah itu menjelajah semua kota dan desa. Tak bosan-bosannya ia mendesak orang supaya percaya, bahwa Tuhan pernah menciptakan telur-telur emas pada suatu saat dalam sejarah manusia.

Bukankah lebih berguna, jika ia menggunakan waktunya untuk mengajar orang tentang buruknya sifat tamak daripada untuk mengembangkan kepercayaan akan telur emas? Sebab, bukankah jauh lebih penting melakukan kehendak Bapa Yang ada di surga daripada hanya menyebut-nyebut 'Tuhan, Tuhan!'


86. KABAR GEMBIRA

Inilah Kabar Gembira yang diwartakan oleh Tuhan kita Jesus Kristus kepada para muridNya dalam bentuk perumpamaan:

Kerajaan surga itu bagaikan dua orang bersaudara yang hidup bahagia dan puas, sampai kedua-duanya dipanggil Tuhan untuk menjadi muridNya.

Yang lebih tua menanggapi panggilan itu dengan sukarela, meskipun ia harus meninggalkan orangtua serta gadis yang dicintainya dan diimpikan menjadi isterinya. Ia lalu pergi ke sebuah negeri yang jauh. Di sana ia mencurahkan seluruh hidupnya untuk melayani orang-orang yang sangat miskin. Penganiayaan timbul di negeri itu. Ia di tangkap atas dasar tuduhan palsu, kemudian disiksa dan dibunuh.

Dan Tuhan berkata kepadanya:

'Baik, hamba yang jujur dan setia! Engkau memberiku pengabdian seharga seribu talenta. Sekarang akan kuberikan kepadamu semilyar, semilyar talenta sebagai ganjaranmu. Masuklah dalam sukacita Tuhanmu!'

Tanggapan adiknya atas panggilan Tuhan kurang begitu rela. Ia ingin melalaikannya supaya dapat meneruskan rencananya serta menikah dengan gadis yang dicintainya. Ia menikmati kebahagiaan hidup berkeluarga, usahanya berkembang pesat. Ia menjadi terkenal dan kaya. Kadangkala ia memberi sedekah kepada pengemis, bersikap ramah terhadap isteri dan anak-anaknya. Sesekali ia juga mengirim sedikit uang untuk kakaknya yang tinggal di negeri yang jauh. Uang ini mungkin bisa membantu karyamu di tengah orang miskin itu tulisnya di dalam surat.

Pada saat ia meninggal, Tuhan berkata kepadanya:

'Baik. hamba yang jujur dan setia! Engkau memberiku pelayanan seharga sepuluh talenta. Sekarang akan kuberikan ganjaran kepadamu sebesar semilyar, semilyar talenta. Masuklah ke dalam sukacita Tuhanmu!

Kakaknya tercengang-cengang ketika mendengar bahwa adiknya mendapatkan ganjaran yang sama dengannya. Dan ia senang. Katanya: 'Tuhan, setelah melihat semua ini, seandainya saya harus lahir dan hidup kembali, saya masih akan melakukan hal yang persis sama dengan yang telah saya perbuat bagiMu.'

Ini sungguh kabar gembira: Tuhan sungguh Mahamurah dan seorang murid mengabdi kepadaNya hanya karena gembira saja. Kegembiraan itu diterakan pada pengabdian oleh cinta


87. JONEYED DAN TUKANG CUKUR

Seorang suci bernama Joneyed pergi ke Mekah dengan berpakaian pengemis. Di sana ia melihat seorang tukang sedang mencukur seorang kaya. Ketika ia minta supaya dicukur juga, tukang cukur itu segera meninggalkan orang kaya dan mencukur Joneyed. Ia tidak memungut biaya dari Joneyed. Malah sebaliknya, Joneyed diberinya uang sedekah.

Joneyed begitu terharu sehingga ia berniat untuk memberikan semua sedekah yang akan diterimanya pada hari itu pada si tukang cukur.

Tidak disangka, seorang peziarah yang kaya memberi Joneyed sekarung emas. Joneyed pergi ke kios tukang cukur pada malam itu juga dan menyerahkan sekarung emas itu kepadanya.

Tukang cukur itu mengejeknya:

'Anda ini orang suci macam apa? Tidak malukah Anda membayar sebuah pengabdian cinta?'

Kadang-kadang terdengar orang berkata: 'Tuhan, kami ini sudah berbuat begitu banyak bagimu. Apa ganjaran kami sekarang?'

Kalau ganjaran ditawarkan atau dicari; cinta menjadi barang dagangan.

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar