Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

KETUHANAN YANG MAHAESA DALAM AGAMA BUDDHA

Oleh : Corneles Wowor, M.A.

"Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma,
Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak.
Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang
Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran,
penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.
Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak
Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan,
pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu."
Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Sang Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII :
3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa
dalam bahasa Pali adalah "Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang" yang artinya "Suatu Yang
Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak".
Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Mahaesa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat
dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang
Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai
kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.
Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Mahaesa ini, kita dapat melihat bahwa konsep Ketuhanan
dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain.
Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang
mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut
agama-agama lain. Sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam
agama Buddha adalah sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain. Hal inilah yang menjadi
dasar penulisan ini.
Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tripitaka, maka
bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak
konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep
dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang : Alam Semesta, Kejadian Bumi dan Manusia,
Kehidupan Manusia di Alam Semesta, Kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.
ALAM SEMESTA
Menurut pandangan Buddhis, alam semesta ini luas sekali. Dalam alam semesta terdapat banyak tata
surya yang jumlahnya tidak dapat dihitung. Hal ini diterangkan oleh Sang Buddha sebagai jawaban atas
pertanyaan bhikkhu Ananda dalam Anguttara Nikaya sebagai berikut :
Ananda apakah kau pernah mendengar tentang seribu Culanika loka dhatu (tata surya kecil) ? .......
Ananda, sejauh matahari dan bulan berotasi pada garis orbitnya, dan sejauh pancaran sinar matahari
Ketuhanan dalam Agama Buddha hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id
2
dan bulan di angkasa, sejauh itulah luas seribu tata surya. Di dalam seribu tata surya terdapat seribu
matahari, seribu bulan, seribu Sineru, seribu jambudipa, seribu Aparayojana, seribu Uttarakuru, seribu
Pubbavidehana ....... Inilah, Ananda, yang dinamakan seribu tata surya kecil (sahassi culanika
lokadhatu). *
Ananda, seribu kali sahassi culanika lokadhatu dinamakan "Dvisahassi majjhimanika lokadhatu".
Ananda, seribu kali Dvisahassi majjhimanika lokadhatu dinamakan "Tisahassi Mahasahassi
Lokadhatu".
Ananda, bilamana Sang Tathagata mau, maka ia dapat memperdengarkan suara-Nya sampai terdengar
di Tisahassi mahasahassi lokadhatu, ataupun melebihi itu lagi.
Sesuai dengan kutipan di atas dalam sebuah Dvisahassi Majjhimanika lokadhatu terdapat 1.000 x 1.000
= 1.000.000 tata surya. Sedangkan dalam Tisahassi Mahasahassi lokadhatu terdapat 1.000.000 x 1.000 =
1.000.000.000 tata surya. Alam semesta bukan hanya terbatas pada satu milyard tata surya saja, tetapi
masih melampauinya lagi.
Catatan
Buku Peringatan WAISAK 2528/1984 Yayasan Maha Bodhi Indonesia, Jakarta, 1984, hal. 53. Dikutip
dari Anguttara Nikaya, Ananda Vagga.
Jambudipa adalah belahan bumi bagian selatan.
Aparayojana adalah belahan bumi bagian barat.
Uttarakuru adalah belahan bumi bagian utara.
Pubbavideha adalah belahan bumi bagian timur.
KEJADIAN BUMI DAN MANUSIA
Terjadinya bumi dan manusia merupakan konsep yang unik pula dalam agama Buddha, khususnya
tentang manusia pertama yang muncul di bumi kita ini bukanlah hanya seorang atau dua orang, tetapi
banyak. Kejadian bumi dan manusia pertama di bumi ini diuraikan oleh Sang Buddha dalam Digha
Nikaya, Agganna Sutta dan Brahmajala Sutta. Tetapi di bawah ini hanya uraian dari Agganna Sutta yang
akan diterangkan.
Vasettha, terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama sekali, ketika dunia ini
hancur. Dan ketika hal ini terjadi, umumnya mahluk-mahluk terlahir kembali di Abhassara (alam
cahaya); di sana mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki tubuh yang
bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam kemegahan. Mereka hidup demikian dalam masa
yang lama sekali.
Pada waktu itu (bumi kita ini) semuanya terdiri dari air, gelap gulita. Tidak ada matahari atau bulan
yang nampak, tidak ada bintang-bintang maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan; siang maupun
malam belum ada, ..... laki-laki maupun wanita belum ada. Mahluk-mahluk hanya dikenal sebagai
mahluk-mahluk saja.
Vasettha, cepat atau lambat setelah suatu masa yang lama sekali bagi mahluk-mahluk tersebut, tanah
dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk buih (busa) di permukaan
nasi susu masak yang mendingin, demikianlah munculnya tanah itu. Tanah itu memiliki warna, bau
Ketuhanan dalam Agama Buddha hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id
3
dan rasa. Sama seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warna tanah itu; sama seperti madu
tawon murni, demikianlah manis tanah itu. Kemudian Vasettha, di antara mahluk-mahluk yang
memiliki sifat serakah (lolajatiko) berkata : 'O apakah ini? Dan mencicipi sari tanah itu dengan jarinya.
Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, dan nafsu keinginan masuk dalam dirinya.
Mahluk-mahluk lainnya mengikuti contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu dengan jari-jari .....
mahluk-mahluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan sari tanah tersebut
dengan tangan mereka. Dan dengan melakukan hal ini, cahaya tubuh mahluk-mahluk itu lenyap.
Dengan lenyapnya cahaya tubuh mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasikonstelasi
nampak ..... siang dan malam ..... terjadi.
Demikianlah, Vasettha, sejauh itu bumi terbentuk kembali.
Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup dengannya, dan
berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu,
maka tubuh mereka menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian mahluk
memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian mahluk memiliki tubuh yang buruk. Dan karena
keadaan ini, mereka yang memiliki bentuk tubuh yang indah memandang rendah mereka yang
memiliki bentuk tubuh yang buruk ..... maka sari tanah itupun lenyap ..... ketika sari tanah lenyap .....
muncullah tumbuhan dari tanah (bhumipappatiko). Cara tumbuhnya seperti cendawan ..... Mereka
menikmati, mendapatkan makanan, hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal
ini berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali ..... (seperti di atas). Sementara mereka bangga
akan keindahan diri mereka, mereka menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul
dari tanah itu pun lenyap. Selanjutnya tumbuhan menjalar (badalata) muncul ..... warnanya seperti dadi
susu atau mentega murni, manisnya seperti madu tawon murni .....
Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup dengan tumbuhan menjalar itu ..... maka tubuh
mereka menjadi lebih padat; dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian nampak
indah dan sebagian nampak buruk. Dan karena keadaan ini, maka mereka yang memiliki bentuk tubuh
indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh buruk ..... Sementara mereka bangga
akan keindahan tubuh mereka sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan menjalar itu
pun lenyap.
Kemudian, Vasettha, ketika tumbuhan menjalar lenyap ..... muncullah tumbuhan padi (sali) yang
masak di alam terbuka, tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih. Pada sore hari
mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam, pada keesokkan paginya padi itu telah
tumbuh dan masak kembali. Bila pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk
makan siang, maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali, demikian terus
menerus padi itu muncul.
Vasettha, selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati padi (masak) dari alam terbuka, mendapatkan
makanan dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung demikian dalam masa
yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka
tumbuh lebih padat, dan perbedaan bentuk mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas
kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak jelas kelaki-lakiannya (purisalinga). Kemudian
wanita sangat memperhatikan tentang keadaan laki-laki, dan laki-laki pun sangat memperhatikan
keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu sama lain terlalu banyak,
maka timbullah nafsu indriya yang membakar tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indriya
tersebut, mereka melakukan hubungan kelamin.
Ketuhanan dalam Agama Buddha hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id
4
Vasettha, ketika mahluk-mahluk lain melihat mereka melakukan hubungan kelamin .........
Catatan
Sutta Pitaka, Digha Nikaya. Departemen Agama RI Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu
dan Buddha. Proyek Pengadaan Kitab Suci Buddha, 1983, hal. 19 - 22. Kata-kata yang bergaris bawah
adalah dari saya. Abhassara adalah sebuah alam dari 31 alam kehidupan menurut agama Buddha.
Untuk ini lihat TABEL Alam-alam kehidupan di bagian akhir dari penulisan ini. Kehidupan di alam
Abhassara dapat dicapai oleh mereka yang melaksanakan meditasi ketenangan batin (samatha) hingga
mencapai tingkat samadhi yang disebut Jhãna II. Bila orang yang telah mencapai tingkat Jhãna II ini
meninggal dunia pada waktu ia berada dalam keadaan samadhi pada tingkat Jhãna II, maka ia otomatis
akan terlahir kembali sebagai dewa brahma di alam Abhassara.
KEHIDUPAN MANUSIA DI ALAM SEMESTA
Di kalangan masyarakat dan karena pengaruh pandangan atau ajaran dari agama-agama lain, banyak
orang menganggap bahwa kehidupan manusia di dunia ini hanya sekali saja. Pandangan ini berbeda sekali
dengan agama Buddha, karena dalam Digha Nikaya, Brahmajala Sutta, Sang Buddha menerangkan
tentang kehidupan manusia yang telah hidup berulang-ulang kali yang diingat berdasarkan pada
kemampuan batin yang dihasilkan oleh meditasi. Sang Buddha mengatakan bahwa :
..... ada beberapa pertapa dan brahmana yang disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan
kewaspadaan bermeditasi, ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya, menjadi tenang, ia dapat
mengingat alam-alam kehidupannya yang lampau pada 1, 2, 3, 4, 5, 10, 20, 30, 40, 50, 100, 1000,
beberapa ribu atau puluhan ribu kehidupan yang lampau ..... 1, 2, 3, 4, 5, 10, kali masa bumi berevolusi
(bumi terjadi dan bumi hancur, bumi terjadi kembali dan hancur kembali ..... dst.). ..... 20, 30, sampai
40 kali masa bumi berevolusi ..... (tetapi) Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang
lebih jauh daripada jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut .....
Telah kita ikuti di atas bahwa menurut pandangan Buddhis, kehidupan atau kelahiran manusia bukan
baru sekali saja tetapi telah berulang-ulang kali hidup di bumi ini dan juga hidup di bumi-bumi yang lain.
Manusia atau mahluk hidup berpindah-pindah dari sebuah bumi ke bumi yang lain. Perpindahan
kehidupan manusia dari sebuah bumi ke bumi yang lain disebabkan karena bumi yang dihuninya telah
hancur lebur atau kiamat, maka setelah kematiannya di bumi tersebut ia terlahir di alam Abhassara (alam
cahaya). Kelahiran di alam Abhassara ini dapat dicapai oleh orang yang melakukan meditasi ketenangan
batin (samatha bhãvana). Alam Abhassara adalah sebuah alam dari 31 alam kehidupan menurut kosmologi
alam kehidupan Buddhis. Tentang 31 alam ini lihatlah TABEL ALAM-ALAM KEHIDUPAN. Bila
seseorang bermeditasi samatha bhãvana hingga mencapai tingkat Jhãna II, dan kalau orang tersebut
meninggal dunia dalam kondisi meditasi pada Jhãna II tersebut maka ia akan terlahir sebagai Brahma di
alam Abhassara dan hidup dengan masa usia yang lama sekali.
Dari ke 31 alam, kecuali lima alam Suddhavasa yaitu alam Aviha, Atappa, Sudassa, Sudassi dan
Akanittha, adalah alam lokuttara (transenden) tempat kelahiran para Anagami*. Anagami adalah manusia
atau mahluk yang telah melenyapkan 5 belenggu (samyojana)** dari 10 belenggu yang mengikat manusia.
Ketuhanan dalam Agama Buddha hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id
5
Anagami adalah manusia atau mahluk suci (ariya pugala) dari empat macam manusia suci menurut agama
Buddha, yaitu : Sotapanna, Sakadagami, Anagami dan Arahat. Anagami akan mencapi tingkat kesucian
tertinggi (arahat) di salah satu alam Suddhavasa ini, dan ia parinibbana sebagai arahat di alam ini pula.
Manusia pada umumnya telah berulang-ulang kali masuk keluar hidup di 26 alam kehidupan. Kelahiran
manusia di salah sebuah alam tergantung pada amal perbuatannya semasa hidupnya di sebuah alam.
Catatan
*) Manusia suci menurut pandangan Buddhis ada empat yaitu :
1. Sotapanna, orang suci yang paling banyak akan terlahir tujuh kali lagi.
2. Sakadagami, orang suci yang paling banyak akan terlahir sekali lagi.
3. Anagami, orang suci yang tidak akan terlahir lagi di alam manusia, tetapi langsung terlahir kembali
di salah sebuah dari lima alam Suddhavasa.
Dari salah sebuah alam Suddhavasa ini Anagami itu akan mencapai tingkat kesucian tertinggi
sebagai Arahat dan akhirnya ia mencapai parinibbana.
4. Arahat, orang suci yang telah menyelesaikan semua usahanya untuk melenyapkan semua belenggu
yang mengikatnya. Bila ia meninggal dunia, ia tidak akan terlahir di alam mana pun. Ia akan
parinibbana.
**) Ada sepuluh macam belenggu (samyojana) yaitu :
1. Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal (sakkaya-ditthi).
2. Keragu-raguan yang skeptis pada Buddha, Dhamma, Sangha, dan tentang kehidupan yang lampau
dan kehidupan yang akan datang, juga tentang hukum sebab akibat (vicikicchã).
3. Kemelekatan pada suatu kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan aturan-aturan dan
upacara keagamaan seseorang dapat mencapai kebebasan (silabbata-parãmãsa).
4. Nafsu indriya (kãma-rãga).
5. Dendam atau dengki (vyãpãda).
6. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk (rüpa-rãga). Alam bentuk (rüpa-rãga)
dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi dan telah mencapai
Jhãna I, Jhãna II, Jhãna III atau Jhãna IV (lihat TABEL).
7. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk (arüpa-rãga). Alam tanpa bentuk
(arüpa-rãga) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi dan telah
mencapai Arüpa Jhãna I, Arüpa Jhãna II, Arüpa Jhãna III atau Arüpa Jhãna IV (lihat TABEL).
8. Perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain (mãna).
9. Kegelisahan (uddhacca). Suatu kondisi batin yang haus sekali karena yang bersangkutan belum
mencapai tingkat kebebasan sempurna (arahat).
10. Kebodohan atau ketidak-tahuan (avijjã).
Sotãpanna telah melenyapkan tiga belenggu (samyojana),
yaitu (1) sakkaya-ditthi, (2) vicikicchã, dan (3) silabbata-parãmãsa.
Ketuhanan dalam Agama Buddha hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id
6
Sakadagami telah melenyapkan tiga belenggu (samyojana)
yaitu (1) sakkaya-ditthi, (2) vicikicchã, dan (3) silabbata-parãmãsa dan telah melemahkan belenggu (4)
kãma-rãga dan (5) vyãpãda.
Anãgami telah melenyapkan lima belenggu (samyojana)
yaitu (1) sampai dengan (5).
Lima samyojana (1 - 5) dikenal sebagai lima belenggu rendah atau Orambhãgiya-samyojana.
Arahat telah melenyapkan sepuluh belenggu (1 - 10).
Lima samyojana berikut yaitu samyojana 6 - 10 dikenal pula dengan nama belenggu tinggi atau
Uddhambhãgiya-samyojana.
Orambhãgiya-samyojana dan Uddhambhãgiya-samyojana telah dimusnahkan oleh Arahat.
KIAMAT
Pada suatu ketika bumi kita ini akan hancur lebur dan tidak ada. Tapi hancur leburnya bumi kita ini
atau kiamat bukanlah merupakan akhir dari kehidupan kita. Sebab seperti apa yang telah diuraikan di
halaman terdahulu, bahwa di alam semesta ini tetap berlangsung pula evolusi terjadinya bumi. Lagi pula,
bumi kehidupan manusia bukan hanya bumi kita ini saja tetapi ada banyak bumi lain yang terdapat dalam
tata surya - tata surya yang tersebar di alam semesta ini.
Kiamat atau hancur leburnya bumi kita ini menurut Anguttara Nikaya, Sattakanipata diakibatkan oleh
terjadinya musim kemarau yang lama sekali. Selanjutnya dengan berlangsungnya musim kemarau yang
panjang ini muncullah matahari yang kedua, lalu dengan berselangnya suatu masa yang lama matahari
ketiga muncul, matahari keempat, matahari kelima, matahari keenam dan akhirnya muncul matahari
ketujuh. Pada waktu matahari ketujuh muncul, bumi kita terbakar hingga menjadi debu dan lenyap
bertebaran di alam semesta.
Pemunculan matahari kedua, ketiga dan lain-lain bukan berarti matahari-matahari itu tiba-tiba terjadi
dan muncul di angkasa, tetapi matahari-matahari tersebut telah ada di alam semesta kita ini. Dalam setiap
tata surya terdapat matahari pula.
Menurut ilmu pengetahuan bahwa setiap planet, tata surya, dan galaxi beredar menurut garis orbitnya
masing-masing. Tetapi kita sadari pula, karena banyaknya tata surya di alam semesta kita ini, maka pada
suatu masa garis edar tata surya kita akan bersilangan dengan garis orbit tata surya lain, sehingga setelah
masa yang lama ada tata surya yang lain lagi yang bersilangan orbitnya dengan tata surya kita. Akhirnya
tata surya ketujuh menyilangi garis orbit tata surya kita, sehingga tujuh buah matahari menyinari bumi
kita ini. Baiklah kita ikuti uraian tentang kiamat yang dikhotbahkan oleh Sang Buddha kepada para
bhikkhu :
Bhikkhu, akan tiba suatu masa setelah bertahun-tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, atau ratusan ribu
tahun, tidak ada hujan. Ketika tidak ada hujan, maka semua bibit tanaman seperti bibit sayuran, pohon
penghasil obat-obatan, pohon-pohon palem dan pohon-pohon besar di hutan menjadi layu, kering dan
mati .....
Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kedua
muncul. Ketika matahari kedua muncul, maka semua sungai kecil dan danau kecil surut, kering dan
tiada .....
Ketuhanan dalam Agama Buddha hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id
7
Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari ketiga
muncul. Ketika matahari ketiga muncul, maka semua sungai besar, yaitu sungai Gangga, Yamuna,
Aciravati, Sarabhu dan Mahi surut, kering dan tiada .....
Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari
keempat muncul. Ketika matahari keempat muncul, maka semua danau besar tempat bermuaranya
sungai-sungai besar, yaitu danau Anotatta, Sihapapata, Rathakara, Kannamunda, Kunala, Chaddanta,
dan Mandakini surut, kering dan tiada .....
Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kelima
muncul. Ketika matahari kelima muncul, maka air maha samudra surut 100 yojana*, lalu surut 200
yojana, 300 yojana, 400 yojana, 500 yojana, 600 yojana dan surut 700 yojana. Air maha samudra
tersisa sedalam tujuh pohon palem, enam, lima, empat, tiga, dua pohon palem, dan hanya sedalam
sebatang pohon palem. Selanjutnya, air maha samudra tersisa sedalam tinggi tujuh orang, enam, lima,
empat, tiga, dua dan hanya sedalam tinggi seorang saja, lalu dalam airnya setinggi pinggang, setinggi
lutut, hingga airnya surut sampai sedalam tinggi mata kaki.
Para bhikkhu, bagaikan di musim rontok, ketika terjadi hujan dengan tetes air hujan yang besar,
mengakibatkan ada lumpur di bekas tapak-tapak kaki sapi, demikianlah dimana-mana air yang tersisa
dari maha samudra hanya bagaikan lumpur yang ada di bekas tapak-tapak kaki sapi.
Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari
keenam muncul. Ketika matahari keenam muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja
gunung-gunung, mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap. Para bhikkhu, bagaikan
tungku pembakaran periuk yang mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap, begitulah
yang terjadi dengan bumi ini.
Demikianlah, para bhikkhu, semua bentuk (sangkhara) apa pun adalah tidak kekal, tidak abadi atau
tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikkan, bebaskanlah diri
kamu dari semua hal.
Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari
ketujuh muncul. Ketika matahari ketujuh muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja
gunung-gunung terbakar, menyala berkobar-kobar, dan menjadi seperti bola api yang berpijar. Cahaya
nyala kebakaran sampai terlihat di alam Brahma, demikian pula dengan debu asap dari bumi dengan
gunung Sineru tertiup angin sampai ke alam Brahma.
Bagian-bagian dari puncak gunung Sineru setinggi 1, 2, 3, 4, 5 ratus yojana terbakar dan menyala
ditaklukkan oleh amukan nyala yang berkobar-kobar, hancur lebur. Disebabkan oleh nyala yang
berkobar-kobar bumi dengan gunung Sineru hangus total tanpa ada bara maupun abu yang tersisa.
Bagaikan mentega atau minyak yang terbakar hangus tanpa sisa. Demikian pula bumi maupun debu
tidak tersisa sama sekali.
Catatan
Ketuhanan dalam Agama Buddha hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id
8
*) Yojana adalah semacam ukuran yang ada di masa Sang Buddha yang jauhnya kira-kira 7 mil.
KESELAMATAN ATAU KEBEBASAN
Konsep ini pun sangat penting diperhatikan karena salah sebuah ajaran yang terpenting dari agama
adalah tentang keselamatan atau kebebasan. Keselamatan atau kebebasan merupakan tujuan dari semua
agama. Ada agama yang menjanjikan keselamatan bagi pengikutnya yang akan didapatnya setelah berbuat
kebaikan selama hidupnya dan bila pengikut itu meninggal dunia maka di akhirat ia akan mendapat
pahalanya hidup di alam surga untuk selama-lamanya dan menikmati kebahagiaan yang tiada taranya.
Tetapi bila orang melakukan perbuatan-perbuatan yang salah, buruk dan tidak terpuji, maka sesudah ia
meninggal dunia maka orang tersebut akan mendapat ganjaran yang menyedihkan di dalam neraka.
Demikianlah ajaran yang umum diketahui oleh masyarakat termasuk umat Buddha.
Menurut pandangan agama Buddha pandangan yang menyatakan keselamatan yang dapat dinikmati
setelah kematian adalah suatu pandangan yang spekulatif. Keselamatan menurut pandangan agama
Buddha harus didasarkan pada akal dan pengalaman, seperti apa yang dikatakan oleh G.P. Malalasekera
bahwa :
"Agama Buddha adalah ajaran empiris dan antimetafisika, dan tidak dapat menerima sesuatu yang tak
dapat dialami oleh akal atau pancaindera".
Keselamatan atau kebebasan dapat dicapai dalam masa kehidupan kita sebagai manusia, dan kebebasan
ini pun diketahui oleh orang bersangkutan pula, seperti apa yang disabdakan oleh Sang Buddha dalam
Parinibbana Sutta :
Mengenai Bhikkhu Salba, O, Ananda, dengan melenyapkan kekotoran-kekotoran batinnya selama
hidupnya itu, maka ia telah memperoleh kebebasan batiniah dari noda, telah mendapatkan kebebasan
melalui kebijaksanaan, dan hal itu telah dipahami dan disadarinya sendiri.
Untuk mencapai kebebasan atau keselamatan, Sang Buddha telah menunjukkan jalan yang dapat
dilaksanakan oleh setiap orang. Dengan mengikuti jalan yang telah ditunjukkan ini kita dapat mencapai
kesucian pada kehidupan sekarang ini juga, seperti apa yang diuraikan Beliau dalam Satipatthana Sutta,
Digha Nikaya dan Majjhima Nikaya sebagai berikut :
Para bhikkhu, ini adalah satu-satunya jalan untuk mensucikan mahluk-mahluk, untuk mengatasi
penderitaan duka nestapa, untuk menghancurkan kesusahan dan kesedihan, untuk mencapai jalan
kebenaran, untuk mencapai Nibbana (nirvana), jalan itu adalah Empat Perkembangan Perhatian .....
..... Para bhikkhu, bilamana seseorang melaksanakan dengan sungguh-sungguh Empat Perkembangan
Perhatian seperti ini selama tujuh tahun, maka salah sebuah dari dua hasil yang dapat dicapainya
Pengetahuan (Kesuciannya) pada kehidupan sekarang ini, atau jika masih ada bentuk ikatan tertentu
ia mencapai tingkat kesucian Anagami.
Empat Perkembangan Perhatian tidak dapat diuraikan secara terperinci di sini, bila ada yang mau
mempelajari dan melaksanakannya dapat melihat langsung pada Satipatthana Sutta atau dalam Visuddhi
Magga (The Path of Purification). Empat Perkembangan Perhatian ini merupakan dasar dari meditasi
Vipassana didasarkan pada segala sesuatu yang bersyarat adalah tidak kekal (anicca), segala sesuatu yang
bersyarat adalah tidak menyenangkan (dukkha), dan segala sesuatu yang bersyarat maupun tidak bersyarat
adalah tanpa aku atau jiwa yang kekal (anatta).
Ketuhanan dalam Agama Buddha hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id
9
Demikianlah beberapa pokok pembicaraan tentang konsep-konsep agama Buddha yang berbeda dengan
konsep-konsep dari agama lain. Tetapi sesungguhnya masih banyak hal lagi yang perlu dibicarakan
tentang perbedaan pandangan agama Buddha dengan agama-agama lain maupun persamaan-persamaan
agama Buddha dengan agama lain, tapi hal ini nanti dibahas pada kesempatan yang akan datang.
Selanjutnya ada sebuah pokok uraian dalam ajaran agama Buddha yang telah menyesatkan banyak
penulis *, sehingga agama Buddha dianggap oleh mereka sebagai agama non-theis. Pandangan yang salah
ini didasarkan pada pernyataan Sang Buddha sendiri dalam Brahmajala Sutta, di mana Sang Buddha
menolak Maha Brahma sebagai Tuhan, Pencipta, Maha Kuasa dan seterusnya. Bilamana kita mengkaji
secara cermat apa yang dinyatakan oleh Sang Buddha itu, maka kita akan mengerti apa yang dimaksudkan
oleh Beliau, sebab Maha Brahma yang dimaksud dalam Brahmajala Sutta adalah dewa brahma yang salah
mengerti tentang dirinya sendiri. Pernyataan Sang Buddha tersebut adalah sebagai berikut :
Para bhikkhu, pada suatu masa yang lampau, setelah berlangsungnya suatu masa yang lama sekali,
'bumi ini belum ada'. Ketika itu umumnya mahluk-mahluk hidup di alam dewa Abhassara, di situ
mereka hidup ditunjang oleh kekuatan pikiran, diliputi kegiuran, dengan tubuh yang bercahaya dan
melayang-layang di angkasa hidup diliputi kemegahan, mereka hidup demikian dalam masa yang
lama sekali.
Demikianlah pada suatu waktu yang lampau ketika berakhirnya suatu masa yang lama sekali, bumi
ini mulai ber-evolusi dalam pembentukan, ketika hal ini terjadi alam Brahma kelihatan dan masih
kosong. Ada mahluk dari alam dewa Abhassara yang 'masa hidupnya' atau 'pahala kamma baiknya'
untuk hidup di alam itu telah habis, ia meninggal dari alam Abhassara itu dan terlahir kembali di alam
Brahma. Di sini, ia hidup ditunjang pula oleh kekuatan pikirannya diliputi kegiuran, dengan tubuh
yang bercahaya-cahaya dan melayang-layang di angkasa, hidup diliputi kemegahan, ia hidup
demikian dalam masa yang lama sekali.
Karena terlalu lama ia hidup sendirian disitu, maka dalam dirinya muncullah rasa ketidakpuasan, juga
muncul suatu keinginan, 'O semoga ada mahluk lain yang datang dan hidup bersama saya di sini!'.
Pada saat itu ada mahluk lain yang disebabkan oleh masa usianya atau pahala kamma baiknya telah
habis, mereka meninggal di alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma sebagai
pengikutnya, tetapi dalam banyak hal sama dengan dia.
Para bhikkhu, berdasarkan itu, maka mahluk pertama yang terlahir di alam Brahma berpendapat :
"Saya Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Maha Tahu, Penguasa, Tuan Dari Semua,
Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua mahluk, asal mula kehidupan, Bapa dari
ynag telah ada dan yang akan ada. Semua mahluk ini adalah ciptaanku". Mengapa demikian? Baru
saja terpikir, semoga mereka datang', dan berdasarkan pada keinginanku itu maka mahluk-mahluk ini
muncul. Mahluk-mahluk itu pun berpikir,'dia Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa,
Maha Tahu, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi
semua mahluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang telah ada dan yang akan ada. Kita semua adalah
ciptaannya. mengapa? Sebab, kita muncul sesudahnya.
Para bhikkhu, dalam hal ini mahluk pertama yang berada di situ memiliki usia yang lebih panjang,
lebih mulia, lebih berkuasa daripada mahluk-mahluk yang datang sesudahnya.
Para bhikkhu, selanjutnya ada beberapa mahluk yang meninggal di alam tersebut dan terlahir kembali
di bumi. Setelah berada di bumi ia meninggalkan kehidupan berumah-tangga dan menjadi pertapa.
Karena hidup sebagai pertapa, maka dengan bersemangat, tekad, waspada dan kesungguhan
bermeditasi, pikirannya terpusat, batinnya menjadi tenang dan memiliki kemampuan untuk mengingat
Ketuhanan dalam Agama Buddha hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id
10
kembali satu kehidupannya yang lampau, tetapi tidak lebih dari itu. Mereka berkata : "Dia Brahma,
Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha
Tinggi, Penentu tempat bagi semua mahluk, asal mula kehidupan, Bapa dari yang ada dan yang akan
ada. Dialah yang menciptakan kami, ia tetap kekal keadaannya tidak berubah, ia akan tetap kekal
selamanya, tetapi kami yang diciptakannya dan datang ke sini adalah tidak kekal, berubah dan
memiliki usia yang terbatas." **
Dengan mengikuti uraian tentang Maha Brahma dengan segala sifat yang dimilikinya, kita mengerti
bahwa wajar dan tepatlah tindakan Sang Buddha menolak paham Maha Brahma ini sebagai Tuhan
Pencipta. Paham Maha Brahma sebagai pencipta ini dengan segala sifatnya diklasifikasikan sebagai salah
sebuah pandangan sesat dari 62 pandangan sesat yang diuraikan dalam Brahmajala Sutta.
Setelah mengikuti uraian tentang konsep-konsep ajaran agama Buddha yang berbeda dengan konsepkonsep
dari agama lain, maka nampak bahwa dasar-dasar pemikiran Buddhis adalah unik dan spesifik
Buddhis. Berdasarkan pada dasar-dasar pemikiran itulah maka konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam
Agama Buddha pun berbeda dengan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dari agama-agama lain.
Catatan
*) Mereka antara lain :
1. Helmut von Glasenapp, Buddhism, A Non-Theistic Religion, lihat Bab II.
2. Douglas M. Burns, M.D., Buddhism, Science and Atheism.
Kedua penulis ini menitikberatkan pengertian atau konsep Ketuhanan seperti konsep Ketuhanan yang
ada pada agama lain di luar agama Buddha. Mereka menanggapi dengan serius tentang Maha Brahma
sebagai pencipta yang ditolak oleh Sang Buddha. Bila Maha Brahma dilegitimasikan sebagai atau
sama dengan Ketuhanan dalam agama tersebut, ini berarti bahwa Ketuhanan dalam agama tersebut
pun turun derajatnya menjadi dewa atau manusia! Jelas pandangan seperti ini adalah keliru.
Menurut pandangan Buddhis, Maha Brahma yang disebutkan dalam Brahmajala Sutta adalah mahluk
yang belum mencapi tingkat kesucian, dan pada suatu waktu kelak bila karma baik Maha Brahma
tersebut untuk hidup di alam Maha Brahma itu telah habis, maka Maha Brahma itu akan terlahir di
alam yang lebih rendah yaitu di alam para dewa (devaloka) atau terlahir sebagai manusia.
Banyak penulis yang berpandangan seperti di atas, tapi karena terbatasnya waktu maka cukup dua
penulis itu yang disinggung di sini.
**) Sutta Pitaka, Digha Nikaya I, Proyek Pengadaan Kitab Suci Buddha hal 22-24
Kecuali alam Suddhavasa (Aviha, Atappa, Sudassa, Sudassi dan Akahittha) dari 31 alam ini yaitu 26
alam pernah menjadi tempat kelahiran dari mahluk yang telah menjadi manusia sekarang. Dengan kata
lain kita dapat terlahir di 26 alam tersebut, tapi selama kita belum mencapai kesucian atau kebebasan
mutlak maka alam kehidupan kita berubah terus. Terlahir kembali menurut pandangan Buddhis yaitu
kelahiran seseorang di antara 31 alam kehidupan tersebut. Dalam ungkapan "Bila seorang meninggal
dunia maka ia akan langsung terlahir kembali" ini berarti orang tersebut langsung terlahir kembali di salah
satu alam dari 31 alam, dan kelahiran ini tergantung dari amal perbuatan selama hidup juga sampai di
mana kematangan batinnya. Lima alam Suddhavasa adalah khusus tempat kelahiran para anagami dan
dari alam-akam Suddhavasa ini mereka akan parinibbana yang berarti tidak akan terlahir lagi sebagai
Ketuhanan dalam Agama Buddha hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id
11
mahluk di alam mana pun. Nibbana (nirvana) bukan alam tetapi sesuatu keadaan batin yang bebas dari
belenggu.
Satu hari di alam Catummaharajika sama dengan 25 tahun di alam manusia.
Kappa atau kalpa sama dengan satu mil kubik berisi biji sesawi dikali 100 tahun untuk setiap biji
sesawi tersebut.
Karena hidup di alam surga (dewa) maupun di alam rüpa lama sekali maka banyak mahluk di alamalam
itu salah mengerti dan berpendapat bahwa mereka itu kekal. padahal kehidupan di alam-alam itu
tidak kekal.
TABEL ALAM-ALAM KEHIDUPAN
ALAM - ALAM KEHIDUPAN Batas Umur
(4)
ARUPA LOKA
Alam
Tanpa Bentuk
4. N'eva Saññã N'ãsaññãyatana
3. Akiñcaññãyatana
2. Viññãnañcãyatana
1. Ãkãsãnañcãyatana
84.000 M.K.
60.000 M.K.
40.000 M.K.
20.000 M.K.
Catuttha Jhãna Bhümi
Alam Jhãna IV Suddhavassa
Akanittha
Sudassi
Sudassa
Atappa
Aviha
Asaññasatta
Vehapphala
16.000 M.K.
8.000 M.K.
4.000 M.K.
2.000 M.K.
1.000 M.K.
500 M.K.
500 M.K.
Tatiya Jhãna Bhümi
Alam Jhãna III
Subhakinha
Appamãnasubha
Parittasubha
64 M.K.
32 M.K.
16 M.K.
Dutiya Jhãna Bhümi
Alam Jhãna II
Abhassara
Appamãnabha
Parittabha
8 M.K.
4 M.K.
2 M.K.
(16)
RUPALOKA
Alam Bentuk
Pathama Jhãna Bhümi
Alam Jhãna I
Maha Brahma
Brahma Purohita
Brahma Parisajja
1 A.K.
1/2 A.K.
1/3 A.K.
(6)
Devaloka
Alam Surga
Paranimmitavasavatti
Nimmãnarati
Tusita
Yãma
Tãvatimsa
Cãtummahãrãjika
16.000 T.S.
8.000 T.S.
4.000 T.S.
2.000 T.S.
1.000 T.S.
500 T.S.
(7)
Sugati
Alam Bahagia
Manussa - Alam Manusia Tak Terbatas
(11)
KÃMALOKA
Alam Nafsu
(4)
Dugati
Alam Menderita
Asurayoni
Petayoni
Tiracchãnayoni
Niraya
Tak Terbatas
Tak Terbatas
Tak Terbatas
Tak Terbatas


Ketuhanan dalam Agama Buddha hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi-phala.or.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar