Check out the Latest Articles:

Rabu, 20 April 2011

Asal Mula Agama Buddha di Indonesia

 Asal Mula Agama Buddha di Indonesia

1.Ditemukan Prasasti dan Ruphang Buddha (Abad ke-4)

Sebuah Prasasti berasal dari abad ke-4 dekat bukit meriam di kedah, sebuah lempengan batu berwarna ditemukan di satu puing rumah bata yang diperkirakan mungkin merupakan kamar bhiksu Buddha. Lempengan batu itu berisi 2 syair Buddhist dalam bahasa Sanskerta ditulis dengan huruf abjad Pallawa tertua.


1.Ditemukan Prasasti dan Ruphang Buddha (Abad ke-4)
Sebuah Prasasti berasal dari abad ke-4 dekat bukit meriam di kedah, sebuah lempengan batu berwarna ditemukan di satu puing rumah bata yang diperkirakan mungkin merupakan kamar bhiksu Buddha. Lempengan batu itu berisi 2 syair Buddhist dalam bahasa Sanskerta ditulis dengan huruf abjad Pallawa tertua.

Tulisan yang kedua dari lempengan batu tersebut berbunyi :

" Karma bertambah banyak karena kurang pengetahuan dharma

Karma menjadi sebab tumimbal lahir

Melalui pengetahuan dharma menjadikan akibat tiada karma

Dengan tiada karma maka tiada tumibal lahir."

Bukti-bukti tertua dikatakan sekitar tahun 400 M., di Kalimantan Timur, dilembah-lembah Sungai Kapuas Mahakam dan Rata, terdapat tanda-tanda lain dari pengaruh India terlihat dalam bentuk patung Buddha dalam gaya Gupta.

Sebelum abad ke-5, di Kedah Sulawesi, Jawa Timur dan Palembang, patung-patung Buddha gaya Amaravati ditemukan (ini dihubungkan dengan tempat-tempat tertua, Amarawati di Sungai Kitsna kira-kira 80 mil dari pantai timur India, adalah negeri aliran besar patung Buddha yang berkembang dari tahun 150 sampai 250 M.), namun adanya negara Buddha di daerah-daerah itu belum ada yang mengetahui tentang kemungkinannya.

Sebuah kerajaan bernama Kan-to-li juga disebut oleh orang-orang tionghoa. Tahun 502 seorang Raja Buddha telah memerintah di sana dan tahun 519 putra raja Vijayavarman mengirim utusan ke Tiongkok. Kerajaan ini diperkirakan berada di Sumatera.

2.Keluarga Syailendra pada zaman Crivijaya (Sriwijaya)
Sekilas asal mula peranan kehidupan Agama Buddha di Indonesia, dimulai pada zaman Crivijaya di pulau Suvarnadvipa (Sumatera) oleh keluarga Syailendra pada abad ke-7. Berapa lama Crivijaya telah ada sebelum itu masih merupakan suatu terkaan. Letak kerajaan Crivijaya di Sumatera Selatan mungkin sekali di Minangatamwan di daerah pertemuan Sungai Kampar Kanan dan Kampar Kiri (sekitar Palembang).

Catatan-catatan berharga berupa prasasti-prasasti bila dikumpulkan menunjukkan adanya kerajaan kerajaan Buddha di Palembang. Prasasti-prasasti itu adalah :

Prasasti yang tertua ialah Prasasti Kedukan Bukit (dekat Palembang) yang dapat dipastikan tahun Caka (=13 April 683) menceritakan perjalanan suci Dapunta Hyang berangkat dari Minangatamwan.

Prasasti yang ke-2 ialah Prasasti Talang Tuo (dekat Palembang) yang memperingati dan pembuatan taman Criksetra (taman umum) didirikan tahun 684 atas perintah Raja Dapunta Hyang Crijayanaca sebagai kebajikan Buddha untuk kemakmuran semua makhluk. Semua harapan dan doa dalam prasasti itu jelas sekali menunjukkan sifat Agama Buddha Mahayana.

Prasasti yang ke-3 didapatkan di Telaga Batu tidak berangka tahun. Di Telaga Batu banyak didapatkan batu-batu yang bertuliskan Siddhayatra (=Perjalanan Suci yang berhasil) dan dari Bukit Siguntang di sebelah Barat Palembang ditemukan sebuah arca Buddha dari batu yang besar sekali berasal dari sekitar abad ke-6.

Prasasti ke-4 dari Kotakapur (Bangka) dan yang ke-5 dari Karang Berahi (daerah Jambi hulu), keduanya berangka tahun 686 M.

Gambaran yang paling penting dari kebudayaan zaman Syailendra adalah unsur vitalitas dan potensi Indonesianya. Di dalam kesusasteraan kecenderungan ini terlihat dalam terjemahan Jawa kuno dari karya berbahasa Sansekerta, Amaramala, diterbitkan dengan nama Jitendra tercantum di dalam awal karya ini.

3.I-Tsing dua kali datang ke Crivijaya

I-Tsing (634-713) seorang peziarah Buddha dari negeri Tiongkok yang terkenal dalam perjalanannya ke India pada tahun 671. Dia mengatakan, dia berlayar dari negeri Tiongkok ke Crivijaya dengan kapal saudagar Persia. Pelayaran selanjutnya ke India dengan kapal Raja Crivijaya. Di Crivijaya sebelum pergi ke India ia belajar bahasa Sansekerta selama 6 bulan. Ini membuktikan betapa pentingnya Crivijaya sebagai pusat untuk mempelajari Agama Buddha Mahayana pada waktu itu. Ia mengatakan di Crivijaya ada lebih dari 1000 biksu, aturan dan tata upacara mereka sama dengan di India demikian juga Agama Buddha Mahayana yang ada di negeri Tiongkok.

Tahun 685 I-Tsing setelah belajar selama 10 tahun di Universitas Buddha Nalanda di Benggala, ia kembali ke Crivijaya dan tinggal di sana sekitar 4 tahun untuk menterjemahkan teks Agama Buddha dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Mandarin. Ia juga mencatat Vinaya dari Sekte Sarvastivada. Tahun 689 karena keperluan mendesak akan alat-alat tulis dan pembantu, ia pulang ke Canton Selatan, kemudian ia kembali ke Crivijaya dengan 4 orang teman dan tinggal di sana untuk merampungkan memoirnya tentang Agama Buddha pada masanya. Memoir ini diselesaikan dan dikirim ke Tiongkok tahun 692, dan tahun 695 ia kembali ke Tiongkok. Bersamaan waktu dengan I-Tsing juga teman-temannya dari Tiongkok sebanyak 41 bhiksu yang mahasiswa datang belajar Agama Buddha Mahayana di Crivijaya.

Adalah sangat disayangkan bahwa tidak terdapat peninggalan buku-buku Agama Buddha Mahayana dari Zaman Crivijaya sebagai pusat pendidikan Agama Buddha yang bernilai internasional pada masa itu.

4.Atisa (982-1054) di Crivijaya
Karena Crivijaya menjadi pusat pendidikan Agama Buddha yang bernilai Internasional, banyak para pandita dari India juga datang ke Crivijaya untuk belajar Buddha Dharma juga disiplin ilmu lainnya, dimana Atisa, seorang bangsawan dari Benggala lahir tahun 982, datang ke Crivijaya untuk belajar filosofi dan logika Agama Buddha Mahayana selama 12 tahun di sini (1011-1023). Atisa berguru kepada Dharmakirti, pendeta tertinggi di Suvarnadvipa yang tergolong ahli terbesar pada zaman itu. Raja Dharmapala yang memerintah pada waktu itu memberikan sebuah Kitab Suci Agama Buddha kepada Atisa.

Setelah Atisa kembali ke India, dia ditunjuk sebagai Kepala di Vikramasila atau Nalanda. Bahkan UNESCO dalam usaha pemugaran kembali monumen Borobudur di Indonesia bersamaan waktu dengan peringatan 1000 tahun kelahiran Atisa. Riwayat hidup Atisa di Tibet menyebut Sumatera sebagai pusat terbesar pada masa itu. Tahun 1042 Atisa tiba di Tibet dan tinggal di sana sampai dengan beliau meninggal di Nye-Thang tahun 1054.

5.Keturunan Syailendra di Jawa

Penting untuk diketahui dalam gerakan penyebaran Agama Buddha Mahayana di seluruh Asia Tenggara, peranan apa yang dimainkan Crivijaya sebagai salah satu faktor yang menentukan pada pertengahan abad ke-8. Ini bersamaan waktu dengan naiknya dinasti Pala di Benggala dan Magadha, dan telah dikaitkan pada pengaruh Nalanda. Penyebarannya juga bersamaan dengan munculnya di Jawa dinasti Buddha Syailendra yang memakai gelar kerajaan Maharaja.

Pada tahun 775, ketika batu ligor ditemukan di Wat Semamuang. Batu Ligor itu mempunyai 2 muka, keduanya berisikan tulisan. Muka A berisi 10 syair Sansekerta yang memperingati pendirian tempat suci Agama Buddha Mahayana ileh Raja Crivijaya dan memakai tahun Caka yang sama dengan 15 April 775, ini menunjukkan perluasan kerajaan Crivijaya dan juga Agama Buddha Mahayana ke Semenanjung Melayu. Muka B Batu Ligor itu berisi tulisan yang belum selesai sebagai merayakan kemenangan seorang Raja bergelar Sri Maharaja, karena beliau dari keluarga Syailendra. Coedes dan Krom berkesimpulan menyebutkan bahwa Crivijaya juga memerintah di Jawa Tengah pada tahun yang sama yaitu tahun 775.

Bahwa kenyataannya keluarga Syailendra memerintah Crivijaya pada pertengahan abad ke-9 terlihat di dalam sebuah maklumat yang dikeluarkan oleh seorang Raja Pala dari Benggala sekitar tahun 850, maklumat itu menyatakan penyerahan lima buah desa untuk sebuah Vihara yang dibangun di Nalanda oleh Bhalaputradewa, yang menyebutkan raja Sumatera dan keturunan Syailendra di Jawa. Dikatakan beliau adalah seorang putra dari seorang raja yang bergelar Samaragriwa (artinya sama dengan Samnaratungga), 'Pahlawan Terkemuka di Perlagaan', dan cucu Syailendra, raja Jawa dan 'Pahlawan Pembunuh Musuh'. Gambaran ini umumnya diterima bahwa gelar Samaragriwa mungkin nama lain bagi Samaratungga yang disebut dalam prasasti Kedu tahun 847 dan mungkin juga dapat disamakan dengan salah seorang raja yang terdapat dalam daftar pada prasasti Balitung tahun 907. Kakek yang disebutkan dalam maklumat itu diperkirakan adalah Pancapana Panangkaran yang terdapat dalam prasasti Kalasan tahun 778.

6.Kerajaan Kuno Mataram

Prasasti Sansekerta tahun 732 di tempat suci Siva di Canggal di tenggara Borobudur. Prasasti ini menyebutkan seorang raja Sanjaya mendirikan sebuah lingga di Kunjarakunya di pulau Jawa. Kunjarakunya itu adalah nama tempat Sanjaya mendirikan tempat suci. Kini kerajaan kuno Mataram ada di Jawa Tengah dan Sanjaya sebagai rajanya sekarang disimpulan sebagai Maharaja itu adalah Syailendra. Sanjaya adalah penganut Siva, raja dari kerajaan kuno Mataram itu juga muncul dalam prasasti-prasasti berikutnya yang ditemukan oleh Stuttherheim di Kedu - Jawa Tengah. Catatan berharga itu bertahun 907 dan berisi daftar para penggantinya yang memerintah di kemudian hari, Maharaja Balitung, yang dimulai dengan Sanjaya. 8 Raja berikutnya semua memakai gelar Sri Maharaja. Hubungan antara Sanjaya dan Pancapana Panangkaran hanyalah dalam urusan ini. Sanjaya digantikan oleh Pancapana Panangkaran yang memerintah pada tahun 778 digambarkan sebagai seorang Syailendra pada prasasti Kalasan ditulis dalam huruf pra-nagari dalam bahasa Sansekerta tahun 778. Pada tahun yang sama, 778, didirikan Candi Kalasan oleh Pancapana Panangkaran sebagai tempat suci bagi Dewi Tara dalam agama Buddha Mahayana yang telah bercampur dengan Tantrayana.

Jelaslah sudah bahwa pengganti Sanjaya (beragama Hindu) adalah beragama Buddha Mahayana. Menilik candi-candi dari abad ke-8 dan ke-9 yang ada di Jawa Tengah Utara bersifat Hindu, sedangkan yang ada di Jawa Tengah Selatan bersifat Buddha. Jadi daerah kekuasaan Sanjaya adalah bagian Utara Jawa Tengah dan daerah kekuasaan Syailendra adalah bagian Selatan Jawa Tengah.

Krom berkesimpulan bahwa Samaragriwa Syailendra mengawini seorang putri raja Crivijaya, yang menjadi ibu Bhalaputradewa berarti anak yang lebih muda, dan dia berpendapat bahwa Bhalaputradewa adalah raja Syailendra pertama dari Crivijaya. Tetapi beliau tidak memerintah daerah kekuasaan Syailendra di Jawa, dan kedua kerajaan itu tidak pernah disatukan dibawah seorang raja.

Ditemukan lagi prasasti dari Klurak (Prambanan) tahun 782 yang bertuliskan pra-nagari dalam bahasa Sansekerta. Isi prasasti itu ialah mengenai pembuatan arca Bodhisattva Manjucri yang didalamnya mengandung Buddha, Dharma, dan Sangha. Rajanya ialah Indra yang mungkin bergelar Cri Sanggramadananjaya. Raja Indra mendirikan Candi Mendut pada tahun 824. Salah seorang pengganti Indra ialah Samaratungga bergelar Samaragriwa mendirikan candi Borobudur pada tahun 842 (?).

Kira-kira satu Km dari Candi Mendut dan tidak jauh dari Candi Borobudur terdapat candi Pawon yang terletak di tengah-tengah kedua candi tersebut candi Pawon yang terletak di tengah-tengah kedua candi tersebut dalam satu garis sumbu. Candi Pawon jelas adalah candi Buddha, pahatan-pahatan yang terdapat pada candi ini merupakan pendahuluan dan pengawal dari Candi Borobudur.

Samaratungga digantikan oleh adik perempuannya, Pramodawardhani, yang kawin dengan raja keluarga Sanjaya yaitu Rakai Pakitan, pengganti Rakai Garung. Pramodawardhani bergelar Cri Kahulunnan mendirikan bangunan-bangunan suci Buddha. Di Candi Plaosan yang bersifat agama Buddha Mahayana didapatkan tulisan-tulisan pendek antara lain nama Cri Kahulunnan dan Rakai Pikatan, sangat mungkin bahwa Candi Plaosan didirikan atas perintah Pramadawardhani.

Dua buah prasasti dari tahun 842, Cri Kahulunnan meresmikan pemberian tanah dan sawah untuk menjamin berlangsungnya pemeliharaan Kamulan (bangunan suci untuk memuliakan nenek moyang di Bhumisambhara). Kamulan ini tidaklah lain dari Borobudur, yang mungkin sekali didirikan oleh Samaratungga dalam tahun 842. Hal ini dapat disimpulkan dari penyebutan bangunan Kamulan itu secara samar-samar dengan istilah keagamaan dalam prasasti Karang Tengah.

Dari abad ke-8 sampai dengan abad ke-13, kerajaan kuno Mataram merupakan peranan penting bagi raja-raja di Jawa Tengah.

7.Kerajaan Singhasari


Ken Arok, tahun 1222 mendirikan keraton di Kutaraja yang dikenal sebagai Kerajaan Singhasari. Raja Wishnuwardhana tempat suci. Di Candi Mleri beliau dipuja sebagai penjelmaan Siva, sedangkan di Candi Jago sebagai Bodhisattva Amoghapasa. Candi Jago undak-undakannya dan dindingnya penuh dengan relief Kertanegara, raja terakhir Singhasari, pada tahun 1268 telah merampungkan proses penyatuan agama itu dengan pemujaan Siva Buddha. Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan rahasia Tantra yang perlu untuk memakmurkan kerajaan, maka menjadi tugasnya memerangi kekuatan roh halus yang gentayangan di dunia. Dalam syair Negarakertagama yang disusun tahun 1365 oleh Empu Prapanca, Kepala Vihara Buddha, Kertanegara digambarkan sebagai orang suci, pertapa, dan bebas dari nafsu.

Kertanegara percaya bahwa untuk menaklukkan kekuatan pemecah dari dalam di Jawa harus memerangi kutukan dan usaha pembagian kerajaan yang dilakukan oleh pertapa Bharada, yang diduga telah melakukan pembagian kerajaan Airlangga. Kemudian Kertanegara mendirikan patungnya sendiri dengan bentuk Aksobhya, yaitu Buddha yang sedang semedi di tempat Bharada tinggal. Sekarang patung itu menghiasi Taman Krusen di Surabaya yang populer disebut patung Joko Dolog, ' Bapak Gendut '. Cabang Buddha Tantrayana yang dikenal bernama Kalachakra, yang telah berkembang di Benggala sampai akhir dinasti Pala, Patung Aksobhya, simbul politik damai Kertanegara bagi Nusantara, tempat penguburan di Candi Jawi.

8.Kerajaan Majapahit (1293-1520)

Puncak kejayaan masa agama Buddha di Indonesia adalah masa kerajaan Majapahit. Raden Wijaya mendirikan keratonnya di Majapahit, tempat markas besarnya di lembah kali Brantas, menjadi pendiri dinasti besar terakhir dalam sejarah jawa.

Prasasti Negarakertagama menyatakan bahwa semua orang Jawa bergembira dengan naik tahtanya Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana dan perkawinannya dengan keempat putri Kertanegara.

Prasasti 1035 menunjukkan bahwa perkawinan itu merupakan suatu kesatuan yang misteri dengan daerah-daerah "taklukkan" oleh Kertanegara sebagai hasil pengabdiannya sebagai Buddha Bharava tahun 1275. Keempat putri itu (bukanlah putri Kertanegara menggambarkan : Bali, Melayu, madura, dan Tanjungpura.

Kertanegara mendapatkan Nusantara melalui Yoga, demikian juga Kertarajasa Jayawardhana menciptakan 'anak gadis Kertanegara' dengan upacara Bhairava.

Jelas perkawinan itu tidaklah sekaligus. Nama-nama yang diketahui hanyalah yang pertama dan keempat. Yang pertama disebut Prameswari atau Petak, putri Sumatera yang dibawa ke Jawa oleh ekspedisi Pamalayunya Kertanegara. Beliau menjadi Ibu anak Kertarajasa, Jayanegara, yang menggantikannya tahun 1309. Yang keempat dikatakan istri tersayang raja, adalah putri Cham bernama Gayatri, yang menjadi ibu dari 2 orang putri, yang tertua menggantikan Jayanegara sebagai Ratu Majapahit, tahun 1328. Negarakertagama juga menyebut prasasti-prasasti dari anak-anak Dara Petak dan Gayatri saja. Gayatri telah mengundurkan diri menjadi Bhiksuni dan dengan alasan ini memperlihatkan kerelaan untuk menyerahkan mahkota kepada putrinya tertua bernama Tribhuana.

Pemerintahan Tribhuana yang berlangsung sampai tahun 1350, beliau menyerahkan mahkota kepada putranya, Hayam Wuruk. Tahun 1350 Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih atau Perdana Menteri Majapahit. Sejak saat itu hingga mangkatnya, tahun 1364, dialah raja yang sesungguhnya dari kerajaan itu. Posisi dan pengaruh Gajah Mada (pada masa Hayam Wuruk) yang tidak pernah dipegang sebelumnya oleh menteri-menteri dalam sejarah Jawa.

Ketika Gajah Mada kembali ke Majapahit tahun 1331 setelah memadamkan pemberontakan Kuti di Jawa Timur, beliau bersumpah di hadapan para menterinya bahwa ia tidak akan menikmati Palapa sampai Nusantara disatukan. Kata 'Palapa' menimbulkan banyak dugaan dianatara para sarjana. Berg memecahkan kata itu yang penuh teka-teki, kata itu berarti pelaksanaan pembunuhan nafsu dan dipakai untuk menggambarkan upacara Buddha Bhairava.

Hanya sedikit saja yang diketahui mengenai hubungan Sumatera dengan Majapahit setelah kembalinya ekspedisi Pamalayunya Kertanegara. Tahun 1286, Kertanegara mengirimkan patung Amoghapasha kepada Raja Mauliwarmadewa di Sumatera utnuk persiapan pendirian 'persekutuan suci' guna menentang ancaman dari Mongol.

Raja Mauliwarmadewa mengirimkan dua orang putri ke Majapahit bersama kembalinya armada Pamalayu. Salah seorang diantaranya bernama Dara Petak kawin dengan Kertarajasa Jayawardhana dan menjadi Ibu Jayanegara. Yang satunya lagi bernama Dara Jingga, menurut Stuttherheim kawin dengan salah seorang keluarga keraton dan melahirkan seorang putra dengan menggantikan Mauliwarmadewa melalui upacara 'perkawinan' Bhairava dengan Kertarajasa dan setelah itu kembali ke Melayu, untuk kawin dengan Wismarupakumara, putera dan pengganti Mauliwarmadewa. Jika orang menerima versi cerita ini, maka anak mereka ialah Adityawarman yang di kemudian hari memerintah sebagian besar Sumatera, dan dengan kebajikan perkawinan ganda ibunya dianggap sebagai anak tertua dari ayahnya yang orang Sumatera pada waktu itu dan 'anak' bungsu dari Kertarajasa. Ia dibesarkan di keraton Majapahit dan bertugas sebagai komandan tentara Jawa yang mengalahkan Bali. Tahun 1343, ia mengabdikan di Candi Jago sebuah patung Manjucri.

Akhir dari kerajaan Majapahit juga diliputi kegelapan. Menurut Krom, raja terakhir bernama Peteudra yang naik tahta tahun 1516.

Istilah Pancasila telah dikenal sejak zaman Majapahit, sebagaimana terdapat dalam buku Negarakertagama dikarang oleh Empu Prapanca dan buku Sutasoma oleh Empu Tantular. Dalam buku Sutasoma istilah Pancasila (bahasa Sansekerta) berarti batu sendi yang kelima, juga berarti pelaksanaan lima kesusilaan (Pancasila Krama), yaitu tidak boleh melakukan (1) kekerasan, (2) mencuri, (3) berjiwa dengki, (4) berbohong, (5) minum minuman keras yang memabukkan.

Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit pada zaman kedua kerajaan itu dapat dijadikan tonggak sejarah bagi bangsa Indonesia. Sriwijaya dan Majapahit memenuhi persyaratan sebagai bangsa yang mempunyai negara karena berdaulat, bersatu, dan mempunyai wilayah Nusantara, dan bangsa Indonesia telah pernah mengalami masa kehidupan yang gemah-rimah loh-jinawi, tata-tentram, kerta-raharja.

9.Universitas Agama Buddha

Kita telah mengetahui bahwa di Zaman Sriwijaya di Palembang telah ada Universitas Agama Buddha yang bernilai internasional, I-Tsing pernah dua kali ke Palembang, juga 41 bhiksu semuanya mahasiswa datang belajar Agama Buddha Mahayana. Atisa dari Benggala juga datang ke Sriwijaya belajar filsafat dan logika Agama Buddha Mahayana selama 12 tahun.

Di Jawa juga ada pendidikan Agama Buddha. Seorang sarjana dari Tiongkok bernama Hwui Ning pernah belajar disini selama tiga tahun (664-667), mahagurunya bernama Janabhadra.

Perguruan Tinggi Agama Buddha selain di Palembang dan di Jawa, sudah tentu di India. Universitas Nalanda didirikan tahun 414 merupakan nomor satu di dunia pada masa itu yakni di kerajaan Magadha - India, dekat Rajagriha. Terdapat prasasti Nalanda dari sekitar tahun 850, menyebut bahwa seorang 'Maharaja Bhalaputradewa, penguasa Suvarnadvipa' telah memohon bantuan raja Dewapala dari Magadha untuk membangun sebuah asrama di Nalanda. Universitas Buddha di India pada masa itu ada banyak sekali, yaitu Rohita, Wikramapuri, Pitasila, Tamralipti, Ajanta, Chitor, Patala, Gomati, Kotiswara, Nawasangharama, Dwarawati, Rammananagara, Valabhi. Di Srilangka juga ada Universitas Anuradhapura, kekuasaan Sriwijaya juga sampai di Srilangka.

10.Candi-candi Agama Buddha Mahayana

Bekas-bekas peninggalan dari kejayaan dan kemashuran Agama Buddha Mahayana pernah ada di Indonesia ialah candi-candi antara lain : Mendut, Pawon, Borobudur, Sewu, Kalasan, Plaosan, Ngawen, Sari, Sojiwan, Lumbung, semua candi ini terdapat di Jawa Tengah bagian Selatan. Terdapat juga candi Muara Takus di Riau-Sumatera, candi Gunung Tua di Tapanuli Selatan.

10.1.Candi Mendut

Candi Mendut didirikan oleh Raja pertama dari wangsa Syailendra pada tahun 824 M., berdasarkan prasasti Karang Tengah tahun 824 M., bernama Indra dengan gelar Cri Sanggramadananjaya. Candi ini menghadap ke Barat Daya. Mendut (=Venuvana) berarti hutan bambu. Candi Mendut lebih tua daripada Borobudur, dan seringkali dipergunakan untuk upacara agama Buddha. Satu-satunya ruangan di candi ini terdapat satu altar dengan 3 arca. Arca di tengah adalah Buddha Cakyamuni dengan Dharmacakra Mudra, di sebelah kanan arca Bodhisattva Avalokitesvara dengan Buddha Amitabha di mahkotanya, dan di sebelah kiri arca Vajrapani. Jumlah stupa seluruhnya ada 48. Tinggi candi ini 26,4 m. Candi ini ditemukan kembali tahun 1836, tahun 1897-1904 candi ini diperbaiki, dan perbaikan dilanjutkan kembali dalam tahun 1908 oleh Th. Van Erp, dan tahun 1925 sejumlah stupa yang telah diperbaiki dipasang kembali. Pada dinding luar candi terdapat relief Avalokitesvara yang terlihat sangat indah, Maitreya, Vajrapani, Manjucri. Tembok ruang pintu ada relief Kalpataru bidadari, 2 relief yng melukiskan Hariti dan Atawaka (Suaka Peninggaran Sejarah dan Purbakala, Jawa Tengah).

10.2.Candi Pawon
Candi Pawon terletak di tengah-tengah antara jarak 1 km dari candi Mendut dan tidak jauh dari Candi Borobudur. Candi Pawon merupakan pendahuluan dan pengawal dari candi Borobudur, bila dilihat dari pahatan-pahatan pada dinding candi, dinding luar candi dengan gambar simbul. Candi Pawon adalah tempat pemujaan melukiskan tingkatan keduniawian terakhir membuka jalan ke tingkatan di atas duniawi dalam perjalanan Bodhisattva. Yang terakhir ini dilukiskan di Candi Borobudur. Agar mengerti hal-hal yang menjadi kaitan sebenarnya perlu memandang komplek Candi Mendut, Pawon, dan Borobudur sebagai keseluruhan. Candi Mendut, Pawon dan Borobudur terletak dalam satu garis sumbu lurus.

10.3.Candi Borobudur

Candi Borobudur adalah jelas bangunan suci Agama Buddha Mahayana. Dari prasasti tahun 842 Casparis menyimpulkan bahwa nama lengkap monumen itu adalah Bhumisambarabhuddhara, yang berarti 'Gunung Himpunan Kebajikan Pada Sepuluh Tingkatan Bodhisattva'. Sang arsiteknya Gunadharma. Tidak kurang dari 500 buku yang telah ditulis oleh para ahli Indonesia maupun orang asing mengenai candi Borobudur masih belum terdapat kesamaan pendapat yang pasti diantara para ahli itu. Candi Borobudur didirikan tahun berapa tepatnya, oleh siapa, berapa lama digunakan sebagai bangunan suci bagi agama Buddha, kapan mulai menghilang, dan bagaimana menghilangnya, apakah candi ini segaja dikubur ataukah sebab lain. Semua pertanyaan ini msih terus diteliti untuk mendapatkan jawaban yang pasti dengan dukungan bukti-bukti sejarah.

Candi Borobudur terletak di pusat jantung pulau Jawa, Borobudur termasuk dalam daerah kabupaten Magelang (Kedu) Km 41 dari Yogyakarta ke arah utara melalui jalan raya yang menuju Magelang. Candi Borobudur menjulang ke angkasa dengan dikelilingi bukit Menoreh yang membujur dari arah Timur ke Barat dan gunung-gunung berapi yang kokoh kuat: disebelah Timur terdapat gunung Merapi dan Merbabu, di sebelah Barat terdapat gunung Sumbing dan Sindoro, di sebelah Barat Laut terhampar bukit Menoreh, di sebelah Utara (lokasi Magelang) yang dikelilingi oleh gunung Telomoyo dan Unggaran, ini melambangkan kebulatan tekad dalam menyembah Ing Gusti (surat dari Dr. Beda Schramm kepada Mamoque).

Pemilihan lokasi dengan presisi yang esak adalah berkat berhasilnya rasa penyatuan diri logika penalaran dengan alam semesta. Pendekatan epigrafi didalami dari sekian puluh prasasti yang ada. Semua pihak ahli ngotot mencari benang merah jawaban tentang apa, siapa, mengapa, bilamana, dan apabila Borobudur dimunculkan di bumi ini.

Kepastian bahwa Candi Borobudur dibangun pada sekitar abad ke-8. Diperkirakan oleh para ahli bahwa candi ini dibangun selama kurang lebih lima puluh tahun. Penyelidikan terakhir menunjukkan bahwa Borobudur dibangun lebih dahulu dari Kalasan, kalau demikian adalah Pancapana, Raka dari Panangkaran, Syailendra yang pertama, pada tahun 778 oleh Pancapana Panangkaran bersamaan waktu dengan prasasti Kalasan tahun 778. Sedangkan candi Mendut didirkan lebih dahulu dari Candi Borobudur pada tahun 824 oleh Raja Indra. Menurut prasasti Karang Tengah dekat Temanggung dalam tahun 824 beliau juga mendirikan bangunan suci Wenuwana, mungkin sekali Candi Ngawen di sebelah Barat Muntilan.

Salah seorang pengganti Indra ialah Samaratungga yang merampungkan bangunan suci candi Borobudur pada tahun 842. Samaratungga digantikan oleh Pramodawardhani bergelar Cri Kahulunnan yang kawin dengan raja keluarga Sanjaya yaitu Rakai Pikatan, pengganti Rakai Garung. Pramowardhani mendirikan candi Plaosan. Menurut J.G. Casparis berdasarkan prasasti Cri Kahalunnan tahun 842, di dalam prasasti itu disebutkan terdapat kuil bernama Bhumisambhara, menurut dia masih terdapat sebuah kata 'gunung' dibelakang nya, sehingga nama seluruhnya Bhumisambharabhudira. Dari kata inilah akhirnya menjadi nama Borobudur. De Casparis mengajukan penjelasan bahwa ia menduga wafatnya Samaratungga Syailendra pada tahun 832 (?). Bhalaputradewa, anaknya masih anak-anak dan masih terlalu muda untuk naik tahta. Pramodawardhani, putrinya, terlihat dalam bukti tertulis telah kawin dengan keluarga Sanjaya. Suaminya, Rakryan Pikatan, putera Rakryan Patapan, pembuat prasasti tahun 832. 10 tahun kemudian, dalam sebuah prasasti kahulunnan dati tahun 764 Caka atau tahun 842 M menyebut penyerahan sawah-sawah untuk mempertahankan Borobudur, ia (Pramodawardhani) digambarkan sebagai Ratu. Suaminya, mungkin mengganti ayahnya tahun 838.

J.G. Casparis telah menemukan dalam dua prasasti Syailendra, di Plaosan dan Klurak. (D.G.E. Hall, Sejarah Asia Tenggara, penerbit Usaha Nasional, Surabaya, tahun 1988, diterjemahkan oleh Mustopo, hal 45-53).

Terdapat prasasti Nalanda dari sekitar tahun 850, yang menyebutkan bahwa seorang Maharaja Bhalaputradewa, penguasa Suvarnadvipa telah memohon bantuan Raja Dewapala dari Magadha untuk membangun sebuah asrama di Nalanda. Pada abad ke-7, nama Syailendra pertama kali muncul dalam prasasti yang ditemukan di desa Sojomerto, dekat Pekalongan (Jawa Tengah). Prasasti ini tidak mencantumkan tahun pembuatannya, namun berdasarkan ilmu tulisan kuno (paleograph) diperkirakan berasal dari abad ke-7. Sekitar abad ke-8, sebagai zaman keemasan dinasti Syailendra di Jawa Tengah. Kerajaan kuno Mataram yang kita kenal mempunyai hubungan sejarah yang erat sekali dengan kerajaan Sriwijaya, sebuah prasasti Kerajaan kuno Mataram ditemukan di desa Canggal (Barat Daya Magelang) yang bertulis tahun 732 M., ditulis dengan huruf Pallawa dan digubah dalam bahasa Sansekerta yang indah sekali. ٭

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar