Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Kaka Jataka

"Dalam ketakutan yang tiada henti..." - Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, mengenai seorang penasehat yang bijaksana. Peristiwa-peristiwa ini sambungan dari Bhaddasala-jataka.

Pada suatu masa ketika Brahmadatta memerintah di Benares, Bodhisatva terlahir kembali sebagai seekor burung gagak.
Pada suatu hari, pendeta raja pergi ke luar kota dan menuju sungai. Ia mandi disana. Dan setelah mengharumkan dan mewangikan dirinya, ia mengenakan pakaiannya dan kembali ke kota. Pada terowongan jalan yang terletak di pintu gerbang kota terdapat dua ekor burung gagak dan diantaranya mereka berkata kepada rekannya. "Saya bermaksud mengotori kepala brahmana ini"."Oh, jangan lakukan hal demikian, sesungguhnya brahmana ini adalah orang yang agung, dan perbuatan yang jahat itu akan menimbulkan kebencian yang sangat besar. Seandainya anda marah kepadanya, ia dapat menghancurkan seluruh bangsa kita", kata burung gagak yang lainnya . "Saya harus melakukannya", kata burung gagak yang pertama.

"Baiklah, anda harus berjaga-jaga", dan burung gagak yang lainnya pergi terbang dengan segera. Pada saat ketika brahmana itu berada dibawah benteng pertahanan, burung gagak itu menjatuhkan kotoran. Dalam kemarahan besar, brahmana itu dengan segera menaruh kebencian terhadap seluruh burung gagak.

Pada saat itu pula, seorang pembantu wanita bertugas menyebarkan beras di depan pintu lumbung beras pada saat matahari terik dan ia duduk di sana untuk mengawasi, kemudian ia jatuh tertidur. Kemudian muncul seekor kambing berbulu kasar dan mulai memakan beras itu sampai wanita itu terbangun dan mengusirnya. Segera setelah wanita itu jatuh tertidur, dua atau tiga kali kambing itu datang kembali dan memakan beras. Maka ketika wanita itu telah mengusir kambing untuk ketiga kali, maka ia berpikir bahwa kedatangan kambing yang terus menerus itu akan memakan sebagian dari persediaan berasnya dan langkah-langkah tertentu harus dijalankan untuk menakuti dan mengusir binatang, demi kebaikannya dan dapat menyelamatkannya dari kerugian yang besar. Maka ia mengambil obor yang menyala, duduk, dan pura-pura jatuh tertidur seperti biasanya.

Dan ketika kambing itu mulai makan, wanita itu secara tiba-tiba muncul dan menyerang punggung kambing berbulu kasar itu dengan obornya. Dengan seketika bulu-bulu kasar pada kambing itu menyala, dan untuk meredam penderitaannya, ia berlari menuju lumbung rumput yang berada dekat kandang gajah dan berguling-guling di rumput. Maka lumbung itu terperangkap oleh api dan nyala api menyebar menuju kandang-kandang. Selagi kandang-kandang terperangkap api, gajah-gajah mulai menderita, dan banyak diantara mereka yang terbakar secara menyedihkan, sehingga dokter-dokter binatang tidak sanggup untuk menyembuhkannya.

Ketika kejadian ini dilaporkan ke raja, ia bertanya kepada pendetanya apakah tahu obat yang dapat menyembuhkan gajah-gajah. "Saya sudah pasti tahu, baginda" jawab pendeta, dan menjelaskan bahwa obatnya adalah lemak dari burung-burung gagak.
Kemudian raja memerintahkan untuk membunuh burung-burung gagak dan diambil lemaknya. Dan dengan segera terjadi pembunuhan burung-burung gagak secara besar-besaran. tetapi tidak terdapat lemak yang didapatkan dalam tubuh mereka, jadi mereka terus membunuh sampai burung-burung gagak yang telah mati berada dalam banyak gundukan dimana-mana. Dan ketakutan yang hebat mencekam seluruh burung-burung gagak.

Pada saat itu Bodhisatva berdiam di dalam suatu biara yang besar, dan ia adalah pemimpin dari delapan puluh ribu burung gagak. Satu diantara mereka membawa berita kepadanya mengenai ketakutan yang hebat mencekam seluruh burung-burung gagak. Dan karena merasakan bahwa tidak ada satupun diantara kaumnya yang dapat mencoba tugas itu, maka Bodhisatva memutuskan untuk melepaskan kaumnya dari ketakutan yang hebat. Setelah mempertimbangkan Dasa Paramita (Sepuluh Kesempurnaan), dan memilih Metta (Cinta Kasih) sebagai pembimbingnya, ia terbang dengan pasti dan tanpa henti menuju istana raja , dan masuk melalui jendela yang terbuka, kemudian hinggap di singgasana raja.

Saat itu juga para pelayan berusaha untuk menangkap burung, tetapi raja memasuki ruangan dan melarang untuk menangkapnya. Melihat dirinya memperoleh kesempatan, seraya mengingat akan Metta, Mahluk Agung maju mendekat dari arah bawah singgasana raja dan berkata kepada raja demikian, "Baginda, seorang raja seharusnya mengingat peribahasa yang mengatakan bahwa para raja diharuskan untuk tidak bertindak menuruti nafsu dan keinginan-keinginan jahat lainnya dalam memerintah kerajaan mereka. Sebelum melakukan suatu tindakan, yang pantas untuk pertama kali dilakukan adalah memeriksa dan mengerti keseluruhan permasalahan, dan kemudian hanya melakukan perbuatan yang bermanfaat atas permasalahan tersebut. Seandainya para raja melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat, maka mereka akan membuat ketakutan yang hebat dan juga ketakutan akan kematian terhadap ribuan makhluk hidup. Dan dalam penulisan resep obat yang berdasarkan lemak dari burung-burung gagak, pendeta anda telah terdorong untuk membalas dendam dengan jalan berbohong. Sesungguhnya burung-burung gagak tidak mempunyai lemak."

Karena perkataan ini maka hati raja terpikat,dan ia meminta kepada Bodhisatva untuk duduk di atas singgasana emas dan memerciki dengan minyak-minyak pilihan pada bagian bawah sayap dan melayani dengan bejana keemasan dengan daging-daging dan minuman raja sendiri. kemudian ketika Makhluk Agung telah makan dan tenang. Raja berkata, "Guru, anda berkata bahwa burung-burung gagak tidak mempunyai lemak. Bagaimana mereka tidak bisa mempunyai lemak ?"

"Begini kejadiannya", jawab Bodhisatva dengan suara yang memenuhi istana, dan ia menyatakan Dhamma dalam syair ini:

Dalam ketakutan yang tiada henti, dengan seluruh kaum manusia yang menjadi musuh musuhnya, Kehidupan mereka berakhir dan karena itu burung-burung gagak tidak mempunya lemak.

Setelah penjelasan diberikan, Makhluk Agung mengajarkan kepada raja, dengan berkata, "Baginda, raja-raja seharusnya melakukan sesuatu dengan memeriksa dan mengetahui seluruh permasalahan terlebih dahulu." Dengan hati yang gembira, raja menempatkan mahkotanya pada kaki Bodhisatva, tetapi Bodhisatva mengembalikan kepada raja, memohon kepada raja untuk melindungi seluruh makhluk hidup dari kejahatan. Dan raja tergerak dengan perkataan ini, kemudian memberikan banyak kebebasan yang berlimpah-limpah kepada burung-burung gagak. Setiap hari raja menyiapkan enam gantang beras yang telah dimasak dan makanan-makanan yang lembut untuk burung-burung gagak.
Tetapi Makhluk Agung telah diberikan makanan yang serupa dengan makanan raja sendiri.

Pelajaran Beliau berakhir disini, Sang Guru mengenali kelahiran kembali dengan berkata, "Ananda adalah raja dari Benares pada masa itu, dan saya sendiri adalah raja dari burung-burung gagak"

(Dikutip dari Majalah Dhamamcakka)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar