Check out the Latest Articles:

Rabu, 20 April 2011

16. SARIPUTTA SUTTA : Praktek latihan seorang bhikkhu

16. SARIPUTTA SUTTA

Sariputta
Praktek latihan seorang bhikkhu

Yang Mulia Sariputta berkata:
1. Belum pernah kulihat, belum pernah pula orang mendengar ada Guru dengan tutur manis semacam ini turun dari surga Tusita ke tengah banyak orang. (955)
2. Manusia yang memiliki visi, kemudian muncul — sebagaimana dia sebenarnya — bagi alam manusia dan dewa. Dan setelah menguak semua kegelapan, ia sendiri mencapai kebahagiaan. (956)
3. Di sini, di antara orang banyak, saya datang memohon, untuk bertanya kepada Sang Buddha yang tidak memiliki kemelekatan, seorang guru tanpa tipu muslihat yang telah datang ke dunia. (957)
4-5. Bhikkhu yang tidak tertarik pada dunia akan mencari tempat tinggal yang sunyi di bawah, pohon, di gua-gua di gunung; bahaya apakah yang ada bagi dia yang bersuka cita dalam berbagai tempat tinggal seperti ini? Bhikkhu itu tidak akan gentar di tempat kediamannya yang tenang. (938-9)
6. Berapa banyakkah bahaya di dunia ini yang harus diatasi oleh bhikkhu yang berdiam sendirian, yang menapak menuju alam tanpa kematian? (960)
7. Apakah kata-kata, apakah obyek-obyek di dunia ini, apakah kebajikan dan praktek seorang bhikkhu yang penuh semangat? (961)
8. Dengan terkonsentrasi, bijaksana dan penuh kewaspadaan, pelatihan apakah yang harus dia jalani agar dia dapat menghilangkan ketidakmurniannya sendiri bagaikan seorang pandai perak menghilangkan zat tak berguna dari peraknya? (962)

Sang Buddha berkata:
9. O, Sariputta, kepadamu yang muak dengan dunia, yang bergembira dalam kesendirian, dan menginginkan pencerahan sempurna sesuai dengan Kebenaran, akan kuberitahukan apa yang telah kuwujudkan. (963)
10. Bhikkhu yang bijaksana, penuh perhatian dan berkelana dalam keterbatasan,1 tidak takut akan lima bahaya, [yaitu] lalat pengganggu dan semua lalat lain, ular, manusia yang memiliki niat jahat atau binatang. (964)
11. Dia tidak takut kepada orang bida’ah, bahkan ketika dia telah melihat bahayanya. Selain itu, dia yang mencari kebaikan, akan menaklukkan bahaya-bahaya lain juga. (965)
12. Dia bisa bertahan terhadap rasa dingin dan panas yang berlebihan, bahkan jika dia harus menanggung rasa sakit dan kelaparan. Karena acap kali terkena hal-hal demikian, dan karena tak-berumah, maka berusahalah sekuat mungkin ! (966)
13. Hendaknya dia tidak mencuri, hendaknya dia tidak berbicara bohong, hendaknya dia dengan kasih sayang menyentuh mereka yang lemah atau kuat. Ketika dia menyadari bahwa pikirannya gelisah, hendaknya kegelisahan itu dihalau pergi dengan pengetahuan bahwa kegelisahan termasuk di bagian yang rendah. (967)
14. Hendaknya dia tidak terjatuh ke dalam pengaruh kemarahan atau kecongkakan; hendaknya dia tetap demikian setelah mencabut akar-akar kemarahan dan kecongkakan; dan hendaknya dia mengatasi apa yang menyenangkan serta apa yang tidak menyenangkan. (968)
15. Dibimbing oleh kebijaksanaan, dengan suka cita yang agung, setelah menanggulangi bahaya, hendaknya dia menghalau ketidakpuasan dalam kesendiriannya di tempat yang jauh. Hendaknya dia mengatasi empat macam penyesalan: (969)
16. ‘Apa yang akan kumakan, atau di mana aku akan makan? Tidurku [tadi malam] amat tidak nyaman; di manakah aku akan tidur malam ini?’ Hendaknya para aspiran (calon) yang berkelana tanpa-rumah meredakan pikiran-pikiran yang penuh ratapan ini. (970)
17. Setelah menerima makanan, pakaian dan jubah pada waktunya, dia bersikap tak berlebihan dalam hal-hal duniawi sehingga dia dapat merasa puas. Waspada dalam hal-hal ini dan menahan diri sementara berkelana di desa sekalipun orang-orang menyakiti hatinya, dia tidak pernah mengucapkan kata yang kasar. (971)
18. Dia yang berkelana dengan mata tertuju ke bawah, tidak berkeliaran, tekun bermeditasi, haruslah sangat waspada. Setelah mendapatkan ketenang-seimbangan, dengan pikiran yang mantap dia harus memutus buah-buah pikir yang rendah dan tak keruan, serta penyesalan yang dalam. (972)
19. Hendaknya dia menerima kata-kata teguran dengan penuh perhatian. Lewat kata-kata teguran, hendaknya dia mematahkan sikap keras-kepala pada diri sesama bhikkhu. Hendaknya dia mengucapkan kata-kata bijaksana pada saat yang tepat. Hendaknya dia tidak berpikir mengecilkan arti orang-orang yang tidak sopan. (973)
20. Kemudian dengan penuh perhatian hendaknya dia berlatih untuk mendisiplinkan lima macam polusi di dunia, [yaitu] nafsu terhadap bentuk, suara, citarasa, bau, dan sentuhan. (974)
21. Hendaknya bhikkhu yang penuh perhatian ini –dengan pikiran yang telah terbebas– menaklukkan nafsu terhadap hal-hal ini. Kemudian, dengan menyelidiki Kebenaran secara menyeluruh dan dengan konsentrasi, dia akan menghancurkan kegelapan [ketidaktahuan]. (975)
Catatan
  1. Empat pembatasan (pariyanta) adalah pengendalian diri secara moral (silasamvara), pengendalian indera (indriyasamvara), sikap tak berlebihan dalam makanan (bhojanamattannuta), dan penerapan kewaspadaan (jagiriyanuyoga).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar