Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Doa Sang Katak

Doa Sang Katak

oleh Anthony de Mello SJ

"SAKIT KEPALAMU PINDAH KE KEPALAKU"

Seorang  muda  yang  sedang mempersiapkan diri untuk menjadi
pastor diberitahu bahwa yang diharapkan oleh umat ialah imam
yang     dapat    mendengarkan    keluhan-keluhan    mereka.
Mendengarkan,  mendengarkan,  mendengarkan  ...  Mungkin  ia
tidak   akan   mampu   membantu,   namun   ia  selalu  dapat
mendengarkan dengan  penuh  perhatian.  Maka  ia  memutuskan
untuk  mengerjakan  itu  kalau  nanti  ia  diberi  tugas  di
parokinya yang pertama.

Betapa  pun  dirinya  memberontak,  ia  memaksa  diri  untuk
mendengarkan,   mendengarkan,  mendengarkan  ...  dan  orang
sangat menghargainya. Akan tetapi tampaknya ada sesuatu yang
tidak  berjalan  baik.  Misalnya, seorang ibu tua datang dan
mengeluh bahwa ia sakit  kepala.  Sakit  kepala  itu  sangat
nyeri.  "Coba katakan, apa yang mengganggu," kata pastor itu
ramah. Lalu ibu  tua  itu  berbicara,  berbicara,  berbicara
terus   sementara   pastor  mendengarkan,  mendengarkan  dan
mendengarkan.

Tampaknya berhasil. "Pastor, satu jam yang lalu saya  datang
kemari  dengan  kepala  sakit.  Dan  sekarang  sudah hilang,
hilang, hilang."

Dan pastor itu berpikir, "Saya mengerti, mengerti, mengerti.
Karena sekarang kepala saya yang sakit!"

  

SIAPA YANG MEMBUAT SANDWICH


Orang  yang  belum  mengalami  penerangan  batin tidak mampu
melihat  bahwa  dirinya  sendirilah  yang  merupakan   sebab
kesedihannya.

Ketika  itu  adalah  saat  makan  siang  di  pabrik. Seorang
pekerja membuka bungkusan makan siangnya dengan sedih.  "Ah,
roti keju lagi!" gerutunya dengan suara keras.

Ini  terjadi pada hari berikutnya, berikutnya dan berikutnya
lagi. Seorang pekerja  lain  yang  selalu  mendengar  gerutu
kawannya  itu  berkata,  "Kalau engkau tidak suka roti keju,
mengapa engkau tidak minta kepada istrimu  untuk  menyiapkan
makanan yang lain?"

"Karena saya tidak berkeluarga. Saya menyiapkannya sendiri."

  

SATU KAKI DIJULURKAN KELUAR LINGKARAN


... banyak yang tidak bersungguh-sungguh ...

Sepasang  pengantin  yang sedang berbulan madu sedang menuju
ke tempat tidur di  hotel  mereka  ketika  seorang  perampok
bertopeng masuk ke kamar mereka. Perampok itu membuat sebuah
lingkaran di lantai dengan  sebuah  kapur,  memberi  isyarat
kepada  sang  suami  dan berkata, "Berdiri di lingkaran ini.
Kalau engkau keluar dari lingkaran ini, saya  akan  menembak
kepalamu."

Sementara  sang  suami  berdiri  di  tempatnya, perampok itu
mengambil semua barang yang dapat ia bawa dan  memasukkannya
ke   dalam  kantong.  Ketika  ia  hendak  pergi  ia  melihat
pengantin putri yang cantik yang hanya  terbungkus  selembar
kain.   Ia   menghampirinya,   membunyikan  radio,  berdansa
dengannya,  memeluk  dan  menciuminya  -  dan  hampir   saja
memperkosanya   seandainya   pengantin   putri   itu   tidak
melawannya dengan berani.

Ketika akhirnya perampok  itu  pergi,  pengantin  putri  itu
memandang suaminya dan berteriak, "Lelaki macam apa kau! Kau
hanya diam terpaku  di  tengah-tengah  lingkaran  dan  tidak
melakukan sesuatu pun sementara saya hampir saja diperkosa!"

"Tidak  benar kalau saya tidak melakukan sesuatu," protes si
suami.

"Apa yang kaulakukan?"

"Saya menentang perintahnya.  Setiap  kali  ia  membelakangi
saya, saya mengeluarkan kaki saya dari lingkaran!"

Bahaya  yang  siap kita hadapi adalah bahaya yang dapat kita
hadapi dari jarak yang aman.

  

"SAYA BERJANJI AKAN PERCAYA"

Kebanyakan   kita   memandang   mereka    dengan    kacamata
pertimbangan-pertimbangan yang sudah terbentuk sebelumnya.

Majikan: "Engkau tampak lelah. Ada apa?"

Sekretaris:  "Ah,  saya  ... tidak, bapak tidak akan percaya
kalau saya katakan."

"Tentu saya akan percaya."

"Tidak, bapak tidak akan percaya. Saya yakin."

"Sungguh, saya akan percaya. Saya berjanji."

"Saya bekerja terlalu keras hari ini."

"Saya tidak percaya."



"SAYA KALAH DUA DOLAR"

Sepasang suami-istri pergi mengunjungi kawannya yang tinggal
di bagian lain suatu negeri dan diajak melihat pacuan  kuda.
Karena terpesona oleh kuda-kuda yang saling mengejar berlari
mengelilingi lapangan pacuan, kedua orang itu sepanjang sore
terus bertaruh sampai akhirnya mereka tinggal mempunyai uang
tidak lebih dari dua dollar.

Pada hari berikutnya si  suami  merayu  istrinya  supaya  ia
dibiarkan  pergi ke tempat pacuan sendiri. Pada pertandingan
yang pertama ada kuda yang taruhannya lima  puluh  dibanding
satu.  Ia  memasang taruhannya dan menang. Ia mempertaruhkan
seluruh  uangnya  pada  lomba  berikutnya  dan  sekali  lagi
menang. Sepanjang sore ia bertaruh dan berhasil mengumpulkan
lima puluh tujuh ribu dollar.

Dalam perjalanan pulang ke rumah ia melewati  sebuah  tempat
judi.  Suatu suara dari dalam yang kedengarannya sama dengan
suara yang telah mendorongnya untuk  memilih  kuda  taruhan,
rasanya berkata, "Berhentilah di sini dan masuklah." Maka ia
berhenti, masuk dan berdiri di depan meja rulet.  Suara  itu
berkata,  "Nomor  tiga  belas."  Orang  itu  menaruh seluruh
limapuluh tujuh ribu dollar yang ia miliki pada  nomor  tiga
belas.  Roda berputar. Bandar judi mengumumkan, "Nomor empat
belas."

Maka orang itu pulang ke rumah dengan  kantong  sama  sekali
kosong.   Istrinya   menyapanya   dari  beranda,  "Bagaimana
jadinya?"

Suaminya mengangkat bahu dan berkata, "Yang dua dollar  juga
amblas."

Coba   pikirkanlah  Engkau  tidak  pernah  kehilangan  lebih
daripada itu apa pun yang kauhilangkan.



SEANDAINYA IA MENOLAK?


Samuel  sedang tenggelam dalam kesedihan, dan tidak ada yang
dapat menyalahkan. Tuannya  telah  menyuruhnya  keluar  dari
rumahnya dan ia tidak tahu harus pergi ke mana. Tiba-tiba ia
melihat titik terang. Mungkin ia dapat  hidup  dengan  teman
baiknya,  Moshe. Pikiran ini sangat menenangkan hati Samuel,
sampai suatu pikiran lain  datang  di  benaknya:  "Apa  yang
membuatmu  begitu  yakin  bahwa  Moshe akan memperbolehkanmu
tinggal  di  tempatnya?"  "Mengapa   tidak?"   kata   Samuel
menanggapi  pikiran  itu  dengan  sedikit bernafsu. "Sayalah
yang mendapatkan tempat di mana ia sekarang tinggal; sayalah
yang  meminjaminya uang untuk membayar uang sewa selama enam
bulan   pertama.   Pastilah   sekurang-kurangnya   ia   akan
memperbolehkan  saya  tinggal  sekitar  seminggu di rumahnya
kalau saya dalam kesulitan seperti ini."

Ini menenangkan hatinya, sampai sesudah makan malam  pikiran
serupa  datang  lagi:  "Seandainya  dia menolak?" "Menolak?"
kata Samuel. "Demi Allah, mengapa ia sampai menolak?  Segala
sesuatu  yang  dimilikinya  adalah berkat jasa saya. Sayalah
yang   mencarikan   pekerjaan    baginya;    sayalah    yang
memperkenalkannya  kepada  istrinya  yang  cantik yang sudah
melahirkan tiga anak yang begitu ia  banggakan.  Akankah  ia
menolak  membiarkan  saya  tinggal  barang  satu  minggu  di
rumahnya? Tidak mungkin! "

Ini menenangkan hatinya, sampai ia pergi tidur dan  ternyata
ia  tak  dapat  memejamkan  mata  karena pikiran lain datang
lagi, "Tetapi andaikan saja, andaikan saja ia menolak.  Lalu
mau apa?" Ini sangat mengganggu Samuel. "Persetan, bagaimana
mungkin ia dapat menolak?" katanya dengan nada marah. "Orang
itu  hari  ini  masih hidup karena jasa saya. Waktu ia masih
kecil saya menyelamatkannya ketika ia mau tenggelam. Akankah
ia  menjadi  orang  yang  begitu tidak tahu terima kasih dan
membiarkan saya di jalanan dalam musim dingin seperti ini?"

Namun pikiran itu terus datang saja. "Andaikan  ..."  Samuel
yang malang itu bergulat ciengan pertanyaan itu. Akhirnya ia
bangkit dari tempat tidurnya sekitar jam dua pagi, pergi  ke
rumah Moshe dan membunyikan bel di rumahnya, panjang sekali.
Moshe yang  masih  setengah  tidur  itu  membuka  pintu  dan
berkata  setengah terkejut, "Samuel! Ada apa? Mengapa datang
kemari tengah malam seperti ini?" saat  itu  Samuel  menjadi
sangat  marah  tidak dapat menahan diri dan berteriak, "Akan
saya katakan mengapa saya pergi ke sini  pada  tengah  malam
seperti  ini!  Kalau  kaupikir  saya  mau  minta agar engkau
memperbolehkan saya tinggal barang sehari di rumahmu, engkau
keliru.  Saya tidak mau berurusan denganmu, rumahmu, istrimu
atau  keluargamu.  Persetan  dengan  semua   itu!"   Setelah
mengucapkan kata-kata itu ia berbalik dan pergi.


SEGALA SESUATU ADALAH AGAMA

Seorang  pengkhotbah  dari  Amerika  bertanya kepada seorang
pelayan restoran di Beijing arti agama bagi orang Cina.

Pelayan itu mengajaknya ke luar ke balkon dan bertanya, "Apa
yang bapak lihat?"

"Saya  melihat jalan, rumah dan orang berjalan serta bus dan
taksi mondar-mandir."

"Apa lagi?"

"Pohon-pohon."

"Apa lagi?"

"Angin yang berhembus."

Orang Cina itu merentangkan tangannya dan  berseru,  "Itulah
agama!"

Engkau  mencarinya dengan cara seseorang mencari penglihatan
dengan mata terbuka! Begitu jelas sampai sulit dilihat.

                     (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar