Check out the Latest Articles:

Kamis, 21 April 2011

Burung Berkicau

Burung Berkicau

oleh Anthony de Mello SJ
88. ANAK YANG SULUNG

Tema khotbahnya adalah 'Anak yang hilang.' Pengkhotbah dengan penuh semangat berbicara tentang cinta Bapa yang tiada bandingannya. Tetapi apakah yang istimewa pada cinta Bapa? Ada ribuan bapa manusia yang dapat menyamai cinta itu. Dan lebih mungkin lagi, ribuan ibu manusia.

Perumpamaan ini sungguh-sungguh dimaksudkan untuk menyindir orang Farisi:

Para pemungut pajak dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkanNya. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Kata mereka: 'Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.' Lalu Jesus menceritakan perumpamaan ini kepada mereka ... (Injil Lukas, Bab 15, ayat 1-2)

Orang yang bersungut-sungut! Orang Farisi! Anak sulung! Inilah inti perumpamaan.

Pada suatu hari waktu Tuhan masuk ke dalam surga, Ia heran bahwa semua orang sudah berada di sana. Tak seorang pun dimasukkan ke dalam neraka. Ini merisaukanNya, karena bukankah Tuhan harus adil? Dan untuk apa neraka diciptakan, jika tidak dipakai?

Maka Ia berkata kepada Malaikat Gabriel:

'Panggil semua orang ke hadapan tahtaKu dan bacakan Sepuluh PerintahKu!'

Semua orang dipanggil. Malaikat Gabriel membaca perintah yang pertama. Lalu Tuhan bersabda:

'Semua yang pernah berdosa melawan perintah ini, harus segera turun ke neraka!' Sejumlah orang mengundurkan diri dan dengan sedih pergi ke neraka.

Hal yang sama terjadi pula sesudah perintah yang kedua dibaca ... begitu pula dengan yang ketiga ... keempat ... kelima ... Pada waktu itu penghuni surga sudah jauh berkurang. Sesudah perintah keenam dibaca, semua orang telah pergi ke neraka kecuali seorang pertapa yang gemuk, tua dan botak.

Tuhan melihatnya dan berkata kepada Malaikat Gabriel:

'Inikah satu-satunya yang masih tinggal di surga?'

'Ya,' sembah Malaikat Gabriel.

'Wah,' kata Tuhan, 'suasana di sini menjadi agak sepi, bukan? Suruhlah mereka semua kembali ke surga!'

Ketika pertapa yang gemuk, tua dan botak itu mendengar bahwa semua orang akan mendapat pengampunan, ia naik pitam. Dan ia menggugat Tuhan:

'Ini tidak adil! Mengapa dulu hal ini tidak Tuhan katakan kepadaku?'

Nah, ketahuan masih ada seorang Farisi lain lagi yang tersembunyi. 'Anak sulung' yang lain. Orang yang percaya akan ganjaran dan hukuman serta berpegang teguh pada keadilan mutlak.


89. AGAMA SEORANG IBU TUA

Seorang ibu tua yang terlalu saleh, kurang puas dengan semua agama yang ada. Maka ia mendirikan agamanya sendiri.

Pada suatu hari seorang wartawan, yang secara tulus ingin mengetahui keyakinan dan pendiriannya, bertanya:

Apakah Ibu betul-betul percaya, seperti dikatakan banyak orang, bahwa tidak ada orang yang masuk surga kecuali Ibu dan pembantu Ibu?'

Ibu tua itu menimbang-nimbang sejenak, lalu menjawab:

'Mengenai pembantuku Minah, saya kurang begitu yakin.'


90. CINTA ITU MELUPAKAN.
'Mengapa engkau selalu mengungkit-ungkit kesalahanku di masa lalu?' tanya sang suami. 'Kupikir, kau telah melupakannya!'

'Memang aku sudah mengampuni dan melupakannya!' jawab sang isteri. 'Tetapi aku ingin meyakinkanmu, agar engkau tidak lupa bahwa aku sudah mengampuni dan melupakannya.'

Sebuah wawancara:

Murid:

'Jangan ingat lagi akan dosa-dosaku, ya Tuhan!'

Tuhan:

'Dosa? Dosa apa? Engkau harus menyegarkan ingatanku. Aku sudah melupakannya berabad-abad yang lalu.'

Cinta itu tidak mengingat-ingat kesalahan.



91. BUNGA TERATAI

Aku sangat mengagumi temanku. Ia bermaksud menunjukkan kepada tetangganya, betapa sucinya ia. Bahkan untuk itu sampai-sampai ia mengenakan pakaian khusus. Aku selalu menyangka, bahwa jika orang sungguh-sungguh suci, kesucian itu akan terlihat oleh orang lain tanpa usaha apa pun darinya. Tetapi temanku ini berusaha agar kesuciannya dapat terlihat tetangganya. Ia bahkan mengumpulkan sejumlah murid dengan maksud agar mereka ini menunjukkan kesucian yang mereka miliki. Mereka menyebut hal ini 'memberi kesaksian.'

Ketika melewati sebuah kolam, aku melihat sekuntum bunga teratai yang sedang mekar. Tanpa pikir panjang kukatakan kepadanya:

'Alangkah indahnya kau, bungaku! Dan betapa jauh lebih indahnya Tuhan yang telah menciptakanmu!'

Ia menjadi tersipu-sipu karena ia samasekali tidak menyadari keindahannya yang menakjubkan itu. Dan ia senang karena Tuhanlah yang dimuliakan.

Ia menjadi jauh lebih indah justru karena tidak menyadari keindahannya. Dan ia menarik perhatianku, justru karena tidak berusaha untuk memikatku.

Tidak jauh dari situ ada kolam lain. Di sana kulihat teratai lain yang menjulurkan daun-daunnya kepadaku dan dengan malu-malu berkata: 'Lihatlah keindahanku dan muliakanlah Penciptaku!'

Aku pergi meninggalkannya dengan rasa muak.

Kalau aku mulai berusaha memberi teladan yang baik, aku ingin memberi kesan bagi orang lain. Berhati-hatilah terhadap orang Farisi yang bermaksud baik!


92. KURA-KURA

Ia memimpin sebuah kelompok beriman. Semacam guru. Disegani, dihormati, bahkan disayangi. Tetapi ia mengeluh kepadaku, bahwa ia tidak mendapatkan kehangatan dalam persahabatan dengan sesamanya. Orang mencarinya untuk mohon bantuan dan minta nasehat. Mereka tidak mendekatinya sebagai seorang manusia biasa. Mereka tidak dapat bersantai bersamanya.

Bagaimana mungkin? Aku memandangnya: selalu seimbang, menguasai diri, anggun, sempurna. Maka aku berkata kepadanya: 'Engkau harus membuat pilihan berat: hidup lumrah penuh gairah dan menjadi menarik atau hidup seimbang dan terus dihormati. Engkau tidak dapat menempuh kedua-keduanya.' Ia pergi dengan sedih. Kedudukannya, katanya, tidak mengijinkannya untuk hidup lumrah penuh gairah, untuk menjadi dirinya sendiri. Ia harus memainkan sebuah peranan dan dihormati.

Jesus rupanya telah hidup lumrah, penuh gairah dan bebas. Tidak seimbang dan tidak dihormati. Pastilah perkataan dan perbuatanNya mengejutkan banyak orang terhormat.
--o000o--

Seorang kaisar dari Tiongkok mendengar tentang kebijaksanaan seorang pertapa yang hidup di pegunungan utara. Dikirimnya utusan-utusan ke sana untuk menawarkan jabatan Perdana Menteri Kerajaan kepadanya.

Sesudah berjalan berhari-hari, sampailah para utusan itu di pertapaan. Mereka menemukan sang pertapa sedang duduk di atas batu karang, setengah telanjang, sambil mengail ikan. Mula-mula mereka sangsi. Inikah orang yang oleh Kaisar dihargai begitu tinggi? Tetapi setelah ditanyakan di desa sekitar, ternyata memang dialah orangnya. Maka mereka berdiri di pinggir sungai dan dengan hormat memanggilnya.

Sang pertapa menyeberang sampai ke pinggir sungai, menerima hadiah-hadiah dari para utusan dan mendengar permintaan mereka yang aneh. Ketika ia mulai mengerti bahwa Kaisar menginginkan dia, sang pertapa itu, untuk menjadi Perdana Menteri Kerajaan, maka ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan tertawa terkekeh-kekeh. Ketika ketawanya telah berhenti, ia berkata kepada para utusan yang keheran-heranan: 'Kamu lihat kura-kura yang sedang mengibas-ngibaskan ekornya di dalam lumpur itu?'

'Ya, Tuanku,' kata para utusan.

'Nah, jawablah: Apakah benar bahwa setiap hari seluruh hamba istana berkumpul di kuil istana dan menyembah seekor kura-kura mati yang badannya disumpal kapuk dan ditempatkan di mesbah utama; seekor kura-kura dewata yang kulitnya dihiasi intan permata, mirah serta ratna mutu manikam?'

'Memang benar, Tuanku,' jawab para utusan.

'Nah, apakah kiranya binatang kecil, yang mengibas-ngibaskan ekornya di lumpur itu mau berganti tempat dengan kura-kura dewata?'

'Tidak, Tuanku,' kata para utusan.

'Nah, pulanglah dan katakan kepada Kaisar, bahwa aku juga tidak mau. Aku lebih senang hidup di pegunungan ini daripada mati di dalam istana. Sebab, tak seorang pun dapat hidup dalam istana dan tetap sungguh-sungguh hidup lumrah penuh gairah.'


93. BAYAZID MELANGGAR ATURAN.

Bayazid, seorang Muslim yang suci, kadang-kadang dengan sengaja melanggar bentuk-bentuk lahir dan upacara agamanya.

Pada suatu hari, ketika ia pulang dari Mekah, ia singgah di kota Rey di Iran. Penduduk kota yang sangat menaruh hormat padanya, keluar mengelu-elukannya sampai seluruh kota menjadi gempar. Bayazid, yang sudah jenuh akan pendewaan serupa itu, menunggu hingga ia sampai di pinggir pasar. Di sana ia membeli sepotong roti, lalu mulai memakannya di muka umum. Padahal waktu itu bulan puasa. Akan tetapi Bayazid yakin, bahwa dalam perjalanan ia tidak terikat pada peraturan-peraturan agama.

Tetapi para pengikutnya tidak berpikir demikian. Maka mereka begitu dikecewakan oleh perbuatan itu, sehingga mereka semua segera meninggalkannya dan pulang. Bayazid dengan rasa puas berkata kepada salah seorang muridnya: 'Lihat, begitu aku berbuat sesuatu yang berlawanan dengan harapan mereka, rasa hormat mereka terhadapku hilang lenyap.'

Jesus kerapkali sangat mengejutkan para pengikutnya dengan bertindak seperti itu juga.

Kebanyakan orang memerlukan seorang suci untuk disembah dan seorang guru untuk dimintai nasehat. Ada persetujuan diam-diam: 'Engkau harus hidup sesuai dengan harapan kami, dan sebagai gantinya kami akan menghormatimu.' 'Permainan' kesucian!




94. ORANG YANG BERWARNA LORENG-LORENG

Kita biasa menggolongkan manusia dalam dua kategori: orang suci dan orang berdosa. Penggolongan itu dilakukan atas dasar angan-angan saja. Sebab, di satu pihak, tidak seorang pun betul-betul tahu, siapa saja yang suci dan siapa saja yang pendosa: kesan lahiriah mudah menipu. Di lain pihak, kita semua, baik yang suci maupun yang berdosa, adalah pendosa.

Seorang pendeta mengajukan pertanyaan ini dalam sebuah kelas: 'Anak-anak, seandainya semua orang baik itu putih dan semua orang jahat itu hitam, kamu akan berwarna apa?'

Si kecil Maria-Yoana menjawab: 'Aku akan menjadi orang yang berwarna loreng-loreng, Pak!'

Begitu juga semua guru, pastor, kiai, haji, bhiksu ... Begitu juga para mahatma, para paus dan santo-santa yang mulia ...
--o000o--

Seseorang mencari gereja yang baik untuk ikut serta beribadat. Kebetulan ia masuk ke sebuah gereja tempat jemaat bersama pendetanya sedang berdoa. Mereka membaca dari sebuah buku doa: 'Kami melalaikan hal-hal yang sebenarnya harus kami lakukan, dan kami melakukan hal-hal yang seharusnya tidak boleh kami lakukan.'

Orang itu langsung ikut duduk di situ dan berkata kepada dirinya sendiri dengan perasaan lega: 'Syukur kepada Tuhan! Akhirnya aku menemukan juga kelompok orang yang sama seperti diriku!'

Usaha-usaha untuk menyembunyikan loreng-loreng yang ada pada orang suci kita kadang-kadang berhasil, tetapi usaha itu selalu kurang jujur.

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar