Check out the Latest Articles:

Rabu, 20 April 2011

7. SELA SUTTA : Sang Buddha meyakinkan Sela dan teman-temannya mengenai pencerahanNya

7. SELA SUTTA

Sela
Sang Buddha meyakinkan Sela dan teman-temannya mengenai pencerahanNya
Demikian yang telah saya dengar: Suatu ketika Sang Buddha berkelana dengan lebih dari 1250 bhikkhu dan sampai di kota pasar yang disebut Apana di Anguttarapa.
Seorang pertapa dengan rambut kumal yang bernama Keniya mendengar: bahwa Yang Mulia Gotama, keturunan suku Sakya yang telah meninggalkan keluarganya, telah tiba di Apana. Dan dia juga mendengar kata-kata pujian: ‘Demikianlah adanya Yang Tercerahkan. Beliau sempurna, sepenuhnya tercerahkan, memiliki kebijaksanaan dan perilaku yang baik, agung, mengetahui semua alam, pemimpin yang tiada bandingnya bagi manusia yang harus dikendalikan, guru para dewa dan manusia, tercerahkan dan mulia.’ Sang Buddha sendiri –setelah mewujudkan Kebenaran (Dhamma)– membabarkannya kepada alam manusia dan dewa, termasuk para pertapa dan brahmana. Beliau mengajarkan Kebenaran yang indah pada awalnya, pada pertengahannya maupun pada akhirnya, yang penuh dengan makna, kaya dalam kata-kata dan lengkap seutuhnya. Beliau mengajarkan kehidupan yang suci dan sempurna. Sungguh amat indah memandang orang suci seperti ini!
Maka pertapa Keniya pun pergi menemui Sang Buddha. Setelah bertukar salam, dia duduk di satu sisi. Sang Buddha membuatnya sangat bahagia dengan memberikan khotbah, sehingga Keniya mengundang Sang Buddha bersama dengan kelompok para bhikkhu untuk makan siang pada hari berikutnya. Sang Buddha mengingatkan bahwa ada amat banyak bhikkhu yang menyertainya, dan menyinggung eratnya persahabatan Keniya dengan para brahmana. Karena telah bulat tekadnya, Keniya bersikeras dengan undangannya. Setelah tiga kali memohon, Sang Buddha mengabulkan permintaannya dengan cara berdiam diri. Maka Keniya pun kembali ke pertapaannya dan meminta bantuan kawan-kawan, pelayan dan sanak keluarganya untuk mengatur pemberian makan. Mereka semua bekerja sesuai kemampuan, sedangkan Keniya sendiri mendirikan paviliun bundar.
Pada saat itu seorang brahmana yang bernama Sela hidup di Apana. Dia menguasai tiga Veda, kosakata, ilmu persajakan, pidato, etimologi, sejarah, ahli pantun dan irama, ahli tata bahasa, ahli perdebatan populer dan ilmu membaca ciri wajah. Dia mengajar 300 pria muda. Karena berteman baik dengan Keniya, dia mengunjungi pertapaannya bersama dengan murid-muridnya. Ketika melihat persiapan-persiapan mendesak di sana, dia bertanya kepada Keniya: ‘Apakah akan ada pesta perkawinan untuk anakmu? Apakah akan ada persembahan kurban? Ataukah Raja Bimbisara dari Magadha diundang untuk makan siang besok bersama dengan bala tentaranya?’
Keniya menjawab: ‘Bukan semua itu. Tetapi akan tiba pengorbanan yang sangat besar dariku. Pertapa Gotama, Sang Buddha, dengan murid-muridnya telah kuundang untuk makan siang besok.’ ‘Apakah kamu mengatakan bahwa dia seorang Buddha?’ ‘Ya.’
Kemudian pikiran ini muncul di dalam benak Sela: ‘Kata “Buddha” amat langka. Di dalam kitab Veda kami, memang tertulis tiga puluh dua tanda seorang manusia agung. Tetapi hanya ada 2 kondisi bagi manusia seperti itu, tidak ada yang lain: Jika menjalani kehidupan perumah tangga, dia akan menjadi seorang raja, kaisar, penguasa yang adil. Tetapi jika dia meninggalkan kehidupan perumah tangga untuk menjalani kehidupan tak-berumah, dia akan menjadi orang suci, orang yang sepenuhnya tercerahkan, orang yang telah menghapus selimut kekotoran batin.’ ‘O Keniya, berdiam di manakah Sang Buddha sekarang?’ ‘O Sela, di mana terletak batas hutan.’
Kemudian bersama 300 muridnya, Sela datang menemui Sang Buddha. Ketika melihat tanda-tanda manusia agung di tubuh-Nya, Sela melontarkan puji-pujian dengan ucapan-ucapan yang pantas:
1. O, Buddha, Engkau memiliki tubuh yang sempurna, Engkau bersinar, terlahir sempurna, tampan, berkilau keemasan. Engkau memiliki gigi yang putih, dan Engkau penuh energi. (548)
2. Jika ada tanda-tanda manusia yang terlahir sempurna, semua tanda-tanda manusia besar itu ada di tubuhmu. (549)
3. Engkau memiliki mata yang bersinar, air muka yang tampan; Engkau agung, tegap, megah. Di tengah kelompok para bhikkhu, Engkau bersinar bagaikan mentari. (550)
4. Engkau adalah seorang bhikkhu dengan penampilan yang elok; Engkau mempunyai kulit bagaikan emas; keuntungan apakah yang Engkau peroleh dengan menjadi pertapa bila Engkau memiliki ciri-ciri luar biasa seperti ini? (551)
5. Engkau pantas menjadi raja, seorang kaisar, raja kereta yang dapat menaklukkan 4 lautan, raja hutan Jambu [yaitu India]. (552)
6. Para prajurit yang berani dan raja-raja yang kaya berbakti padamu; O, Gotama, gunakanlah kekuatanmu sebagai raja diraja, pemimpin manusia! (553)

Sang Buddha:
7. O, Sela, aku seorang Raja, Raja Besar dari Ajaran Kebenaran; aku memutar roda dengan sarana yang murni. Roda ini tak tertahankan. (554)

Sela:
8. Engkau bersikeras telah sepenuhnya tercerahkan, seorang raja Kebenaran; O, Gotama, Engkau mengatakan, ‘Aku memutar roda dengan sarana yang murni.’ (555)
9. Siapakah jenderalmu, siapakah muridmu? Siapakah pengikut sang guru? Siapa yang kemudian akan memutar roda Kebenaran yang telah Kau putar? (556)

Sang Buddha:
10. O, Sela, setelah ini Sariputta akan memutar roda Kebenaran yang tak ada bandingnya, yang telah diputar olehku; dia berjalan di belakang Sang Tathagata. (557)
11. Apa yang harus diketahui telah diketahui olehku; apa yang harus dikembangkan telah dikembangkan olehku; apa yang harus dihancurkan telah dihancurkan olehku. Oleh karenanya, o, brahmana, aku adalah Buddha. (558)
12. O, brahmana, hilangkanlah keraguanmu tentang aku, milikilah keyakinan pada diriku! Sungguh amat langka bisa melihat orang yang telah sepenuhnya tercerahkan. (559)
13. O, brahmana, dari mereka yang wujudnya jarang bisa kaulihat, aku adalah wakilnya, tabib yang tak ada bandingnya. (560)
14. Sangat unggul, tak tertandingi, penakluk Mara dan bala tentaranya, setelah menaklukkan semua musuh aku bersuka cita, aman dari segala penjuru. (561)

Sela:
15. O, kawan-kawan, perhatikanlah apa yang dikatakan oleh Beliau yang melihat! Beliau adalah tabib, pahlawan besar. Beliau mengaum bagaikan singa di hutan. (562)
16. Setelah melihat beliau, yang sangat unggul, tak tertandingi, penakluk Mara dan bala tentaranya, siapa yang tak dapat ditaklukkan, sekalipun seandainya dia berasal dari turunan hitam?1 (563)
17. Bagi yang ingin, biarlah dia mengikutiku; bagi yang tak ingin, biarlah ia pergi, karena sekarang aku akan memasuki Sangha di bawah orang bijaksana yang luar biasa ini. (564)

Para pengikut Sela:
18. Jika Ajaran dari Yang Telah Sepenuhnya Tercerahkan menggembirakan hati guru, kami pun akan memasuki Sangha di bawah orang bijaksana yang luar biasa ini. (565)
19. Maka 300 brahmana ini berkata dengan tangan terkatup: ‘Kami akan mempraktekkan kehidupan suci di bawah Beliau yang telah mantap.’ (566)

Sang Buddha:
20. O, Sela, kehidupan suci telah dinyatakan dengan baik olehku: dapat dilihat di sini dan kini; langsung memberikan hasil tanpa tertunda; tidaklah sia-sia bahwa orang menjadi bhikkhu karena di situ dia bisa melatih diri dengan rajin. (567)

Kemudian brahmana Sela bersama dengan kelompoknya memasuki Sangha dan menerima pentahbisan yang lebih tinggi di bawah Sang Buddha.Sementara itu, pertapa Keniya memberitahu Sang Buddha bahwa makan siang telah siap. Maka Sang Buddha pun pergi ke pertapaan Keniya bersama dengan kelompok bhikkhu. Di situ mereka dilayani dengan makanan yang mewah. Ketika selesai makan, Sang Buddha membuat Keniya gembira dengan kata-kata ini:
21. ‘Bahan utama di dalam pengorbanan adalah api; tokoh utama di dalam puji-pujian adalah Savitri; rajalah yang utama di antara manusia; sedangkan di antara sungai, lautlah yang utama. (568)
22. Di antara planet, rembulanlah yang utama; di antara obyek yang membakar, mataharilah yang utama; di antara mereka yang memberikan persembahan dan menginginkan jasa, komunitas bhikkhulah yang utama. (569)

Setelah membuat Keniya gembira dengan kata-kata ini, Sang Buddha pergi. Kemudian bhikkhu Sela, bersama dengan kelompoknya, pergi ke suatu tempat yang sunyi. Karena menjalani kehidupan dengan penuh semangat, berusaha keras dan sangat rajin. Maka dalam waktu pendek, di dalam kehidupan ini juga, dengan pemahamannya sendiri, mereka memastikan dan memiliki kesempurnaan tertinggi dari kehidupan suci, yang membuat para putra dari keluarga baik-baik meninggalkan rumah menuju kehidupan tak-berumah. Dumadi telah dihancurkan; kehidupan suci telah dijalani; apa yang harus dilakukan telah dilakukan dan tidak ada hal lain yang harus dilakukan di dalam kehidupan ini. Demikianlah Yang Mulia Sela bersama dengan kelompoknya menjadi Arahat. Setelah itu, mereka pergi menghadap Sang Buddha. Setelah memberi hormat, mereka berkata dengan kata-kata ini:
23. Delapan hari yang lalu kami berlindung pada-Mu, o, Bhante, dan dalam waktu tujuh malam kami telah terlatih dalam Ajaran-Mu. (570)
24. Bhante adalah Sang Buddha; Bhante adalah Guru. Bhante adalah muni yang mengalahkan Mara. Setelah mematahkan kecenderungan-kesenderungan laten, Bhante menyeberangi arus kehidupan dan membawa makhluk-makhluk ini ke pantai seberang. (571)
25. Obyek-obyek kemelekatan telah diatasi oleh-Mu; gelombang-gelombang telah dihancurkan oleh-Mu: Bhante adalah singa yang tidak mencengkeram ‘kemelekatan’; Bhante telah meninggalkan rasa takut dan teror. (572)
26. 300 bhikkhu ini berdiri dengan tangan berkatup. O, Pahlawan, julurkanlah kakimu dan biarlah para Naga2 memuja kaki Sang guru!’ (573)
Catatan
  1. Pernyataan brahmana itu adalah bahwa hanya dia sendirilah yang memiliki warna cerah (varna), sedangkan tiga kelompok lain (dalam Hindu) yaitu prajurit (ksatria), pedagang (vaisya) dan pekerja (sudra) memiliki warm Wit yang hitam. Sang Buddha dilahirkan dalam kasta ksatria sehingga dikatakan ‘keturunan hitam’ (kanabhijaliko)
  2. Sejenis raksasa yang memiliki kekuatan yang menciptakan mukjizat. Di sini istilah ini digunakan secara kiasan dalam arti ‘ orang suci’ , ‘pemimpin’ atau ‘yang terbebas.’

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar