Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Burung Berkicau

Burung Berkicau

oleh Anthony de Mello SJ
1. KUNYAHLAH BUAHMU SENDIRI

Seorang murid mengeluh kepada Gurunya:

    'Bapak menuturkan banyak cerita, tetapi tidak pernah menerangkan maknanya kepada kami.'

Jawab sang Guru:

    'Bagaimana pendapatmu, Nak, andaikata seseorang menawarkan buah kepadamu, namun mengunyahkannya dahulu kepadamu?'

Tak seorang pun dapat menemukan pengertian yang paling tepat bagi dirimu sendiri. Sang Guru pun tidak mampu.

   
2. PERBEDAAN MUTLAK

Uwais, seorang Sufi, pernah ditanya:

    'Apakah makna rahmat bagi Anda?'

Jawabnya:

    'Setiap kali bangun pagi, aku merasa cemas, apakah aku masih akan hidup petang nanti.'

Kata si penanya:

    'Tetapi bukankah semua orang tahu akan hal itu?'

Jawab Uwais:

    'Mereka memang tahu. Tetapi tidak semua merasakannya.'

Tidak pernah seorang menjadi mabuk hanya karena mengetahui arti kata 'anggur'
(bandingkan dengan cerita AKU MEMOTONG KAYU ,dibawah cerita ini)

13. AKU MEMOTONG KAYU

Ketika seorang guru Zen mencapai penerangan budi, ia menulis baris-baris berikut ini untuk memperingatinya:

    'Wahai, keajaiban yang mengagumkan:
    Aku memotong kayu!
    Aku menimba air dari sumur!'

Bagi kebanyakan orang, tidak ada sesuatu yang mengagumkan dalam perbuatan sehari-hari seperti menimba air dari sumur atau memotong kayu. Sesudah penerangan budi, sebetulnya tidak ada sesuatu yang berubah. Segala sesuatu tetap sama. Hanya saja saat itu hatimu penuh rasa kagum. Pohon masih tetap pohon. Orang-orang masih tetap sama seperti dahulu, demikian juga engkau. Kehidupan berjalan terus, tiada bedanya. Mungkin kamu masih pemurung atau pemarah, penuh pertimbangan atau gegabah, sama seperti sebelumnya. Tetapi ada satu perbedaan besar: Sekarang semuanya itu kau lihat dengan mata yang berbeda. Engkau semakin terlepas dari semuanya. Dan hatimu penuh dengan rasa kagum.

Inilah inti dari kontemplasi: ada rasa kagum.

Kontemplasi berbeda dengan ekstase, karena ekstase membuat orang mengasingkan diri. Seorang kontemplatif yang telah mendapat penerangan budi tetap akan memotong kayu dan menimba air dari sumur. Kontemplasi berbeda dengan menikmati keindahan, karena menikmati keindahan (sebuah lukisan atau matahari) menimbulkan kepuasan estetis, sedangkan kontemplasi menimbulkan rasa kagum --entah apa yang dilihat, matahari terbenam atau sebongkah batu saja.

Inilah keistimewaan yang terdapat pada anak kecil: Sering ia merasa kagum. Maka selayaknya ia masuk ke dalam Surga.


3. KICAUAN BURUNG


Benak para murid dipenuhi macam-macam pertanyaan tentang Tuhan.

Kata sang Guru:

    'Tuhan adalah Yang-Tak-dikenal bahkan Yang-Tidak-dapat-dikenal. Setiap pernyataan tentang Dia, seperti pula setiap jawaban terhadap pertanyaanmu, hanyalah mengacaukan Kebenaran.'

Para murid bingung. 'Lalu mengapa anda masih juga berbicara tentang Dia?'

'Mengapa burung berkicau?' tangkis sang Guru.



Kerohanian Sejati


Sang Guru ditanya: 'Apakah kerohanian itu?'

Jawabnya: 'Kerohanian yang sejati adalah kerohanian yang yang berhasil membuat orang melakukan perubahan hati.'

    'Tetapi kalau saya memakai cara lama yang diwariskan para Guru terdahulu, bukankah itu kerohanian juga?'

'Bukan kerohanian kalau tidak berfungsi mengubah dirimu. Selimut sudah bukan selimut lagi kalau tidak menghangatkan tubuhmu.'

'Jadi, kerohanian itu berubah?'

'Manusia berubah, demikian pula kebutuhannya. Maka apa yang dulu dianggap kerohanian suatu ketika bukan kerohanian lagi. Apa yang disebut kerohanian tidak lain daripada cerita tentang metode masa lampau.'

Potonglah pakaian sesuai dengan pemakainya. Jangan memotong orang sesuai dengan pakaiannya.



Ikan Kecil


'Maaf, kawan,' kata seekor ikan laut kepada seekor ikan lain. 'Anda lebih tua dan lebih berpengalaman daripada saya. Di manakah saya dapat menemukan laut? Saya sudah mencarinya di mana-mana, tetapi sia-sia saja!'

'Laut,' kata ikan yang lebih tua, 'adalah tempat engkau berenang sekarang ini.'

'Ha? Ini hanya air saja! Yang kucari adalah laut,' sangkal ikan yang muda. Dengan perasaan sangat kecewa ia pergi mencarinya di tempat lain.

Ia datang menghadap sang Guru dengan mengenakan jubah sanyasi.[01] Ia pun berbicara dalam bahasa sanyasi: 'Sudah bertahun-tahun lamanya aku mencari Tuhan. Telah kutinggalkan rumahku dan telah kucari Dia di mana pun Dia berada. Kata orang, Dia ada di puncak-puncak gunung, di tengah-tengah padang gurun, dalam keheningan biara-biara dan di dalam gubuk-gubuk kaum miskin.'

'Apakah engkau telah menemukanNya?' tanya sang Guru.

'Aku menipu diri, aku pendusta, kalau aku menjawab 'Ya'. Belum, aku belum menemukanNya. Bapak sudah?'

Apa yang dikatakan sang Guru kepadanya?

Cahaya keemasan matahari senja menembus celah-celah kamar. Ratusan burung gereja beterbangan dari sebuah pohon beringin di luar sambil berkicau riang. Samar-samar terdengar deru kendaraan di jalan raya. Seekor nyamuk berdengung di dekat telinga, memberi pertanda siap menggigit ... Namun demikian, orang itu masih tetap duduk tepekur dan berkata, bahwa ia belum menemukan Tuhan dan masih mencari-cariNya.

Sesudah menunggu sejenak, ia pun meninggalkan sang Guru dengan perasaan kecewa. Ia pergi mencariNya di tempat lain.
***

Ikan kecil, berhentilah mencari! Tidak ada yang perlu dicari. Heninglah sebentar, bukalah matamu dan lihatlah! Engkau tak mungkin lagi keliru.

Catatan:
    01: Sanyasi = seorang Hindu yang telah meninggalkan segala urusan dunia (sanyasa, Hindu) untuk mencari Yang-Ilahi saja.



Ideologi


Sungguh pedih membaca tentang kebengisan manusia terhadap sesamanya. Inilah sebuah laporan suratkabar tentang penyiksaan yang dilakukan di penjara-penjara modern.

    Korban diikat pada kursi besi.
    Arus listrik dialirkan dalam tubuhnya,
    semakin lama semakain kuat
    sampai akhirnya ia mengaku.

    Algojo mengepalkan tinjunya dan
    menghantam telinga si korban bertubi-tubi,
    sampai gendang telinganya pecah.

    Seorang tahanan didudukkan di kursi dokter gigi.
    Kemudian dokter mengebor giginya sampai
    menyentuh syaraf. Pengeboran berjalan terus,
    sampai akhirnya si korban menyerah.

Manusia pada hakekatnya bukan makhluk yang bengis. Ia menjadi bengis, kalau ia merasa tidak bahagia atau --kalau ia menganut suatu ideologi. Satu ideologi melawan ideologi yang lain; satu sistem melawan sistem yang lain; satu agama melawan agama yang lain. Dan manusia terhimpit di antaranya.

Orang-orang yang menyalib Yesus itu barangkali bukan orang yang kejam. Mungkin sekali mereka itu suami yang penuh pengertian dan ayah yang mencintai anak-anaknya. Mereka bisa menjadi kejam begitu demi mempertahankan suatu sistem, ideologi atau agama.

Seandainya orang-orang beragama itu selalu lebih mengikuti suara hati mereka daripada logika agamanya, kita tidak perlu menyaksikan pengikut-pengikut bidaah dibakar, janda-janda terjun dalam api pembakaran jenasah suaminya dan jutaan manusia yang tidak berdosa dibantai dalam peperangan-peperangan yang dilancarkan atas nama agama dan Allah.

Kesimpulannya: Jika engkau harus memilih antara suara yang penuh belaskasih dan tuntutan ideologi, tolaklah ideologi tanpa ragu-ragu. Belaskasih tidak bersifat ideologis.


(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar