Check out the Latest Articles:

Rabu, 20 April 2011

9. VASETTHA SUTTA : Definisi yang Benar tentang ‘Brahmana’

9. VASETTHA SUTTA

Vasettha
Definisi yang Benar tentang ‘Brahmana’
Demikian yang telah saya dengar: Suatu ketika Sang Buddha berdiam di hutan Icchanangala. Banyak brahmana terkenal yang tinggal juga di sana, seperti Canki, Tarukkha, Pokkharasati, Janussoni dan Todeyya — yang semuanya brahmana terkenal, terpelajar, dan kaya.
Di antara orang-orang ini ada dua brahmana muda. Yang satu bernama Vasettha dan yang lain Bharadvaja. Suatu hari, ketika kedua orang muda ini sedang berjalan-jalan, mereka bercakap-cakap mengenai faktor-faktor yang membuat seseorang menjadi brahmana.
Bharadvaja berkata: ‘Itu berhubungan dengan keluarga seseorang. Jika latar belakang keluarganya murni, dan selama tujuh generasi tidak ada perkawinan campuran dengan kasta lain, baik pada pihak ibu maupun pihak ayah, maka dia adalah seorang brahmana.’
Tetapi Vasettha berkata: ‘Jika tindakan orang itu baik dan dia menjalankan kewajiban-kewajibannya, maka dia adalah seorang brahmana.’
Bharadvaja bersikeras pada teorinya, dan Vasettha pun berpegang teguh pada teorinya sendiri. Yang satu tidak dapat menyakinkan yang lain bahwa dia benar. Jadi Vasettha menyarankan agar mereka meminta nasehat orang lain.
Vasettha berkata kepada Bharadvaja. ‘Ada seorang pertapa bernama Gotama, pangeran suku Sakya, yang telah meninggalkan kehidupan berkeluarga. Banyak orang mengatakan: “Demikianlah Sang Tathagata karena Beliau telah sempurna, sepenuhnya tercerahkan, memiliki kebijaksanaan dan perilaku yang baik, agung, pengenal semua alam, pemimpin yang tiada bandingnya bagi manusia yang harus dikendalikan, guru para dewa dan manusia, yang telah tercerahkan dan mulia.’ Setelah menyadari Kebenaran (Dhamma), Sang Buddha membabarkannya agar diketahui dunia manusia dan para dewa, termasuk para pertapa dan brahmana. Beliau mengajarkan Kebenaran yang indah di awal, di tengah dan di akhir, penuh makna, kaya dalam kata-katanya, dan sepenuhnya lengkap. Beliau mengajarkan kehidupan suci yang sempurna. Benar-benar luar biasa melihat orang-orang suci semacam ini!’
Baiklah, Bharadvaja,’ kata Vasettha, ‘Marilah kita menjumpai Gotama, dan memohon Beliau untuk menjernihkan pertanyaan ini! Kemudian kita akan menerimanya sebagaimana dijelaskan oleh pertapa Gotama.’
Bharadvaja berkata: ‘Baik. Marilah kita pergi.’ Maka kedua orang muda itu pergi mencari Sang Guru. Ketika menemukan Sang Buddha, mereka menyapa dengan sopan dan duduk di satu sisi. Kemudian Vasettha berbicara kepada Sang Guru dalam kata-kata berikut ini:
1. Tuan, kami berdua adalah siswa ajaran-ajaran ortodoks, dan kami berdua dikenal dan dianggap sebagai pakar dalam pelajaran Kitab Veda. Guru saya adalah Pokkharasati, dan teman saya ini belajar dari Tarukkha. (594)
2. Kami telah mempelajari semua Kitab Komentar dari ketiga Veda, dan kami memenuhi syarat untuk mengajarkan irama, tata bahasa, dan doa (595)
3. Walaupun demikian, Gotama, ada satu pertanyaan yang kami berdua tidak sepakat, yaitu tentang pentingnya keturunan. Bharadvaja bersikeras bahwa orang adalah brahmana karena dia dilahirkan sebagai brahmana. Namun saya yakin, bahwa yang dilakukan orang itulah yang penting. Kami harap Tuan –yang memiliki pandangan terang– mengetahui ketidaksepakatan ini. (596)
4. Karena kami berdua tidak bisa menyelesaikannya sendiri, kami datang kepada-Mu untuk menanyakan hal ini. Kami mendengar Engkau disebut Yang Sepenuhnya Tercerahkan. (597)
5. Oleh orang-orang Engkau diperlakukan dengan penuh hormat. Mereka menangkupkan tangan ketika melihat Tuan, sama halnya seperti ketika mereka menghormat rembulan yang bertambah besar. (598)
6. Engkau adalah mata dunia, Gotama, maka kami bertanya kepada-Mu untuk mempertimbangkan pertanyaan ini: ‘apakah yang membuat orang menjadi brahmana? Apakah karena kelahiran, atau karena apa yang dia lakukan? Kami tak dapat memecahkannya, Gotama, jadi jelaskan dan beritahukanlah apa brahmana itu.’ (599)
7. Sang Buddha menjawab Vasettha dengan kata-kata ini ‘Akan kujelaskan kepadamu –dalam urutan yang benar dan berdasarkan fakta– tentang berbagai macam makhluk hidup karena ada banyak spesies. (600)
8. Jika engkau memandang pohon atau rumput, walaupun mungkin tidak kau sadari, ada banyak jenis dan spesies. Ada berbagai macam yang berbeda-beda. (601)
9. Kemudian juga ada serangga, yang besar misalnya ngengat dan yang kecil misalnya semut. Pada makhluk-makhluk ini juga engkau dapat melihat bahwa mereka memiliki jenis dan macam yang berbeda. (602)
10. Dan pada binatang berkaki empat –tak peduli berapa besarnya– engkau dapat melihat bahwa mereka memiliki jenis dan spesies yang berbeda. (603)
11. Sekarang lihatlah makhluk-makhluk melata, yang berjalan di atas perut, seperti misalnya reptil dan ular engkau dapat melihat bahwa mereka memiliki jenis dan spesies yang berbeda. (604)
12-13. Pandanglah ikan dan kehidupan air — pandanglah burung dan binatang yang terbang — engkau dapat melihat bahwa mereka memiliki jenis dan spesies yang berbeda. (605-6)
14. Di antara manusia, jenis dan spesiesnya tidak sebanyak yang terdapat di antara spesies-spesies lain. (607)
15. Tidak seperti spesies-spesies lain, di antara manusia tidak ada perbedaan jenis maupun spesies sehubungan dengan mata, telinga, mulut, hidung, bibir, alis, dan bahkan rambut mereka — semuanya dari jenis yang sama. (608)
16. Dari leher sampai ke pangkal paha, dari bahu sampai ke pinggul, dari punggung sampai ke dada — untuk manusia semuanya satu jenis (609)
17. Tangan, kaki, jari, kuku, betis dan paha, semuanya standar. Begitu juga ciri-ciri suara dan warnanya. Tidak seperti makhluk lain, manusia tidak memiliki ciri-ciri yang membedakan mereka pada waktu lahir. (610)
18. Mereka tidak memiliki berbagai ciri warisan yang dimiliki makhluk lain. Sebenarnya, dalam hal manusia, perbedaan-perbedaan itu ada hanya karena kaidah atau ketentuan1. (611)
19. Misalnya, Vasettha, jika seseorang memelihara sapi dan hidup dari hasil sapi-sapi itu, kita tahu bahwa dia adalah petani. Kita tidak menyebutnya brahmana. (612)
20. Begitu juga, jika seseorang mencari nafkah lewat keterampilan, maka kita tahu bahwa dia adalah pengrajin. Kita tidak menyebutnya brahmana. (613)
21. Jika dia menopang dirinya dengan berdagang, maka kita tahu bahwa dia adalah pedagang, bukan brahmana. (614)
22. Jika seseorang memperoleh bayaran dengan melayani orang lain, maka kita menyebutnya pegawai, bukan brahmana. (615)
23. Seseorang yang hidup dengan mengambil barang-barang milik orang lain dikenal sebagai pencuri, bukan brahmana. (616)
24. Dan seorang pemanah yang menjual keterampilannya dikenal sebagai prajurit. Kita tidak menyebutnya brahmana. (617)
25. Seseorang yang pekerjaannya melakukan ritual dan upacara dikenal sebagai pendeta, bukan brahmana. (618)
26. Seseorang yang hidup dari hasil negara dan desa dikenal sebagai tuan tanah atau raja. Kita tidak menyebutnya brahmana. (619)
27. Aku tidak menyebut seseorang brahmana hanya karena ibunya atau karena keturunannya. Hanya karena seseorang berhak disebut ‘Tuan’, tidak berarti bahwa dia terbebas dari kebiasaan dan kemelekatan. Dia yang terbebas dari kemelekatan, dia yang terbebas dari ketamakan adalah orang yang kusebut brahmana. (620)
28. Jika semua rantai telah dihancurkan, jika gejolak sudah tidak lagi ada, jika orang telah membebaskan dirinya dan membuang belenggu-belenggunya — itulah orang yang kusebut brahmana. (621)
29. Dia yang telah memutus tali pengikat [ketidaktahuan] dan kendali [pandangan-pandangan salah], yang telah menghilangkan rintangan dan telah tercerahkan, adalah orang yang kusebut bahmana. (622)
30. Dia yang tanpa menjadi jengkel menerima penghinaan dan kekerasan, yang memiliki daya tahan sebagai kekuatan dan bala tentaranya, adalah orang yang kusebut brahmana. (623)
31. Tidak ada kemarahan dan tidak ada kebodohan batin. Yang ada hanyalah tenaga pengendalian diri dan kekuatan tindakan yang suci. Jadi tidak ada pengulangan kebiasaan, tidak ada tumimbal lahir. Inilah yang kusebut brahmana. (624)
32. Bagaikan tetes air di atas daun teratai, bagaikan biji mostar di ujung jarum, nafsu-nafsu indera menggelinding dan tidak meninggalkan jejak padanya. Inilah orang yang kusebut brahmana. (625)
33. Dengan menghilangkan beban dan membuang rantai –di sini, di dunia ini, dia dapat melihat bahwa bahkan penderitaan pun ada akhirnya. Inilah orang yang kusebut brahmana. (626)
34. Orang yang kaya kebijaksanaan, yang bijaksana, yang terampil mengetahui mana jalan yang benar dan mana yang salah, yang telah mencapai tujuan tertinggi, adalah orang yang kusebut brahmana. (627)
35. Tidak ada sandaran, tidak ada ketergantungan, tidak merasa perlu berkumpul dengan orang lain, baik pemilik harta maupun bhikkhu yang berkelana. Sudah cukup dengan yang sederhana; inilah arti ‘brahmana’. (628)
36. Meletakkan senjata kekerasan, berhenti membunuh makhluk apa pun, berhenti menyebabkan orang lain membunuh mahkluk apa pun; inilah arti ‘brahmana’ (629)
37. Dia yang tidak menunjukkan kemarahan terhadap mereka yang marah, yang damai terhadap mereka yang menggunakan kekerasan, yang tidak tamak di antara mereka yang cenderung tamak, adalah orang yang kusebut brahmana. (630)
38. Dia yang telah melenyapkan keinginan, kebencian, kesombongan dan keirihatian, bagaikan biji mostar yang menggelinding dari ujung jarum, adalah orang yang kusebut brahmana. (631)
39. Dia yang mengucapkan kata-kata yang tidak kasar, kata-kata yang benar serta penuh makna, kata-kata yang tidak menyebabkan kemarahan orang lain, adalah orang yang kusebut brahmana. (632)
40. Tidak memiliki kekayaan, tidak ada benda-benda yang dikumpulkan, seberapa pun besarnya, jumlahnya atau nilainya; inilah arti ‘brahmana’. (633)
41. Tidak ada yang diharapkan, tidak memiliki keinginan melekati dunia ini atau dunia lain; dia tidak terikat, telah terbebas; inilah arti ‘brahmana’. (634)
42. Tidak ada keinginan –pertanyaan dan keraguan lenyap karena adanya pengetahuan, dan dia mencebur ke dalam keadaan tanpa-kematian; inilah arti ‘brahmana’. (635)
43. Dia yang telah pergi melampaui [ketidakmurnian] perbuatan yang memberikan pahala atau tidak, yang bebas dari kesedihan dan kekotoran batin, serta telah murni; inilah arti ‘brahmana’. (636)
44. Bersifat jernih, tenang, tanpa noda, bagaikan rembulan di mana belenggu-belenggu dumadi yang terus-menerus telah terputus dan terbuang; inilah arti ‘brahmana’. (637)
45. Dia yang telah pergi melampaui jalan siklus tumimbal lahir yang kasar dan berbahaya serta telah melampaui kebodohan batin, yang telah menyeberang dan pergi ke pantai seberang, yang melaksanakan perenungan, tanpa nafsu, dan bebas dari keraguan, orang yang tenang dan tak melekat, adalah orang yang kusebut brahmana. (638)
46. Kesenangan nafsu indera telah pergi, dia membiarkannya pergi demi kehidupan seorang kelana tak-berumah. Kesenangan nafsu indera akan dumadi yang terus-menerus telah lenyap, telah terbuang; inilah arti ‘brahmana’. (639)
47. Tuntutan kemelekatan telah hilang, dia membiarkannya pergi demi kehidupan seorang kelana tak-berumah. Keinginan akan dumadi yang terus-menerus telah lenyap, telah terbuang; inilah arti ‘brahmana’. (640)
48. Beban berat di punggung manusia, beban yang bahkan memberati para dewa — semuanya telah diletakkan, dibuang dan diatasi: dia tidak lagi terikat pada kuk, telah bebas. Inilah arti ‘brahmana’. (641)
49. Menghindari rasa senang dan tidak senang, dia telah menjadi dingin dan bebas dari dasar-dasar [yang menuju tumimbal lahir]. Dia adalah seorang pahlawan yang telah mengatasi semua alam, dia adalah orang yang kusebut ‘brahmana’. (642)
50. Dia yang telah sepenuhnya memahami bagaimana terjadinya makhluk dan bagaimana makhluk-makhluk berhenti, dia yang tidak melekat, yang hidup dengan benar dan tercerahkan, adalah orang yang kusebut ‘brahmana’. (643)
51. Dia yang nasibnya tidak dapat diketahui oleh para dewa dan manusia, orang yang telah menghapus nafsu, orang yang mulia, adalah orang yang kusebut ‘brahmana’. (644)
52. Dia tak memiliki harta milik apa pun — tak satu pun di masa lalu, tak satu pun di masa depan, tak satu pun di masa kini. Dia tidak memegangi apa pun sama sekali; terbebas dari kemelekatan, inilah yang kusebut ‘brahmana’. (645)
53. Seorang pahlawan — manusia besar, yang terkemuka, yang bijaksana, manusia yang menang, yang tidak memiliki rasa takut. Tidak melekat; tercuci [dalam air kebijaksanaan]; tercerahkan. Inilah yang kusebut ‘brahmana’. (646)
54. Dia mengetahui kehidupan-kehidupan lampaunya, dia telah melihat bentuk-bentuk kehidupan yang lain, alam-alam yang menyedihkan dan alam-alam yang bahagia. Inilah pencapaiannya: sampai di akhir rantai tumimbal lahir. Inilah yang kusebut ‘brahmana’. (647)
55. Jadi apa arti gelar, nama dan ras ini? Semuanya hanyalah kaidah-kaidah duniawi saja. Itu ada karena persetujuan umum. (648)
56. Kepercayaan salah ini telah lama sekali erat terpahat di pikiran orang yang bodoh, dan [masih saja] orang-orang bodoh ini mengatakan kepada kita: ‘Orang menjadi brahmana lewat kelahiran.’ (649)
57. [Sebaliknya], tak seorang pun terlahir sebagai brahmana; tak seorang pun terlahir sebagai non-brahmana. Seorang brahmana menjadi brahmana karena apa yang dia lakukan; orang yang bukan brahmana menjadi bukan brahmana karena apa yang dia lakukan. (650)
58. Seorang petani menjadi petani karena apa yang dia lakukan, demikian pula seorang pengrajin disebut pengrajin karena apa yang dia lakukan. (651)
59. Seorang pedagang, pelayan, pencuri, prajurit, pendeta atau raja: masing-masing menjadi apa adanya karena apa yang dia lakukan. (652)
60. Demikianlah orang bijaksana melihat tindakan seperti yang telah benar-benar terjadi. Mereka terampil dalam buah-buah tindakan dan mereka dapat melihat sebab musabab yang saling bergantungan. (653)
61. Dunia ada karena tindakan-tindakan yang berpenyebab, semua hal dihasilkan karena tindakan yang berpenyebab dan semua makhluk tunduk dan terikat oleh tindakan-tindakan yang berpenyebab. Mereka terpateri bagaikan roda kereta yang menggelinding, yang tertancap oleh paku pada tangkai as rodanya. (654)
62. Brahmana adalah hasil dari penahanan diri, kehidupan yang bermanfaat dan pengendalian diri. Inilah esensi brahmana. (655)
63. Jadi, Vassettha, pahamilah hal ini dengan jelas: ada orang-orang yang bijaksana dan berpengalaman dalam ketiga bagian pengetahuan (yaitu Kitab Veda), yang tenang dan telah menyelesaikan ikatan rantai dumadi yang berulang-ulang. Orang-orang ini harus dikenali sebagai ‘Brahma atau Indra.’ (656)

Kemudian Vassettha dan Bharadvaja berkata kepada Sang Buddha: ‘Sungguh menakjubkan, Yang Mulia Gotama! Sungguh luar biasa, Yang Mulia Gotama! Sebagaimana orang menegakkan apa yang telah terjungkir balik, atau mengungkapkan apa yang tadinya tersembunyi, atau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat, atau memberikan sinar penerangan di dalam kegelapan sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat benda-benda, demikian pula Kebenaran telah dijelaskan oleh Yang Mulia Gotama dengan berbagai cara. Oleh karenanya, kami berlindung dalam Beliau, dalam Dhamma-Nya, dan SanghaNya. Semoga Yang Mulia Gotama berkenan menerima kami sebagai siswa awam yang sejak saat ini telah mengambil perlindungan dalam Dia selama hidup kami.’
Catatan
  1. Harus diingat bahwa ketika menjelaskan ciri-ciri fisik manusia, Sang Buddha hanya mengacu ke penduduk India di timur laut dan bagian tengah dari anak benua itu.Di sini Sang Buddha mengacu ke perbedaan-perbedaan yang terlihat dari pengalaman pribadinya, dan kemudian menjelaskan bahwa tindakan-tindakan (kamma) dan tingkah laku merupakan kunci menuju kesempurnaan dan pencerahan. Tetapi akibat wajar dari tumimbal lahir dapat membuat orang dilahirkan di alam-alam ‘tinggi’ atau ‘rendah’ –yaitu lingkungan yang dapat mendorong atau menghalangi pertumbuhan spiritual (atau bahkan materi). Jadi, walaupun setiap orang memiliki potensi untuk memahami, kamma menyebabkan selalu adanya hasil yang tidak sama. Maka, tidaklah relevan jika bagian bacaan ini dikutip keluar dari konteksnya dalam debat apa pun mengenai ‘kesetaraan ras’, seperti yang dilakukan oleh K. N. Jayatileke dan G.P. Malalasekera di dalam karya mereka, Buddhism and the Race Question (UNESCO, Paris, 1958; dicetak ulang oleh BPS, Kandi 1974). Untuk pendekatan Buddhis rasional mengenai hal ini, lihat Human Progress: Reality or Illusion? karya Philip Eden (BPS 1974).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar