Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Doa Sang Katak

Doa Sang Katak


oleh Anthony de Mello SJ

PENJAGA YANG BERANI
 

Seorang calon perwira diserahi  tugas  untuk  menjaga  jalan
masuk  ke  tangsi dan diberi perintah untuk tidak membiarkan
mobil masuk, kalau mobil itu tidak membawa tanda khusus.

Ia menghentikan mobil yang ditumpangi oleh  seorang  jendral
yang  mengatakan  kepada  sopirnya  untuk tidak mempedulikan
penjaga dan terus melarikan mobilnya. Karena itu tentara itu
maju  dengan  senjata  siap  ditembakkan  dan  dengan tenang
berkata, "Maaf bapak, ini baru bagi saya.  Siapa  yang  saya
tembak? Bapak atau sopir?"

Engkau mencapai kebesaran kalau engkau tidak dirisaukan oleh
kedudukan orang-orang yang ada di atasmu  dan  kalau  engkau
membuat  orang-orang yang berada di bawahmu tidak merisaukan
kedudukanmu. Kalau engkau tidak sombong terhadap orang-orang
yang   rendah  dan  tidak  rendah  dengan  orang-orang  yang
sombong.



PERBEDAAN DALAM TULANG

Plutaricus menceritakan kisah Aleksander Agung yang berjumpa
dengan Diogenes yang sedang  memperhatikan  setumpuk  tulang
manusia.

"Apa yang sedang kau amati," tanya Aleksander.

"Sesuatu yang tidak dapat saya temukan," jawab filsuf itu.

"Apa itu?"

"Perbedaan antara tulang ayahmu dan tulang budak-budaknya. "

Hal-hal  ini sama tidak-terbedakannya: tulang Katolik dengan
tulang Protestan. Tulang Hindu dan tulang Islam. Tulang Arab
dan tulang Israel, tulang Rusia dan tulang Amerika.

Orang-orang  yang  menerima  penerangan  batin tidak melihat
perbedaannya bahkan kalau tulang-tulang itu ada dagingnya.


MEMPERCAYAI KELEDAI

Seorang tetangga datang untuk meminjam keledai Nasruddin.

"Keledai sedang dipinjam," kata Nasruddin.

Pada  saat  itu  binatang  itu  meringkik  dari  kandangnya.
"Tetapi saya dengar ringkikannya," kata tetangga itu.  "Jadi
siapa yang kaupercaya, keledai atau saya?"

   

PERLOMBAAN KERETA


Beberapa  serdadu  di  India  selatan sedang pulang ke rumah
naik kereta. Di depan mereka melihat kereta lain  ditumpangi
beberapa pelaut.

Dalam  beberapa  saat  saja  persaingan  antara  kedua pihak
berubah menjadi  balapan  kereta.  Pada  mulanya  pengendali
kereta yang ditumpangi menang.

Ketika   sedang   melihat   ke   belakang  untuk  memastikan
kemenangan,  mereka  terkejut  karena  melihat  bahwa  musuh
mereka   mendahului  mereka  dengan  kencang.  Mereka  lebih
terkejut lagi ketika melihat bahwa pengendali kereta  mereka
duduk  dan  bersorak keras untuk pengendali kereta lain yang
telah mendahuluinya.

Orang-orang yang  sudah  mengalami  penerangan  batin  lebih
senang merasa bahagia daripada menang

   

PERUBAHAN DALAM UNDANGAN PERKAWINAN

Seorang  wanita muda menilpun suatu percetakan. "Apakah anda
ingat kartu pernikahan yang saya  pesan  minggu  yang  lalu.
Saya  tidak  tahu  apakah  sekarang  sudah  terlambat  untuk
membuat beberapa perubahan."

"Katakan  perubahan-perubahan  itu  nona,  dan   saya   akan
melihatnya," kata pemilik percetakan itu.

"Baiklah.  Waktunya  lain,  gerejanya lain, calon suami juga
lain."

Sungguh mustahil dapat bahagia menikah  dengan  orang  lain,
kalau ia tidak pertama-tama bercerai dengan dirinya sendiri.

   

PETAPA DAN GAJAH

Pada  suatu  ketika  adalah  seorang  raja  di  India   yang
mempunyai  seekor gajah yang mengamuk. Gajah itu berkeliaran
dari desa ke desa sambil menghancurkan segala  sesuatu  yang
ia jumpai dan tidak seorang pun berani mengganggunya, karena
gajah itu milik raja.

Pada suatu hari  seorang  yang  menyebut  diri  petapa  akan
berangkat   dari   suatu   desa.  Orang-orang  di  desa  itu
mencegahnya karena gajah itu tampak di jalan  dan  menyerang
orang-orang yang lewat.

Orang  itu bergembira karena sekarang ia mendapat kesempatan
untuk menunjukkan kebijaksanaannya yang lebih unggul, karena
ia  baru  saja  kembali  dari belajar pada seorang guru yang
mengajarnya untuk melihat Rama dalam  segala  sesuatu.  "Oh,
kalian  orang  bodoh  yang  malang!" katanya, "Apakah kalian
sama  sekali  tidak  mempunyai  pemahaman  mengenai  hal-hal
rohani?  Belum  pernahkah kalian diberitahu bahwa kita harus
melihat Rama dalam setiap orang dan dalam segala sesuatu dan
bahwa   semua   yang   berbuat   demikian   akan  memperoleh
perlindungan dari Rama? Biarlah saya pergi. Saya tidak takut
akan gajah."

Orang-orang  berpikir  bahwa  orang  ini  rohani begitu sama
seperti gajah itu - begitu  gila.  Mereka  tahu,  tidak  ada
gunanya  berbantah  dengan  seorang  suci.  Maka  ia  mereka
biarkan pergi. Ia belum sampai ke  jalan  ketika  gajah  itu
lari   ke   arahnya,  mengangkatnya  dengan  belalainya  dan
memukulkannya pada sebatang pohon. Orang itu mulai berteriak
kesakitan.    Untunglah   pada   saat   yang   genting   itu
pengawal-pengawal raja datang, menangkap gajah  itu  sebelum
ia membunuh petapa yang dipermalukan itu.

Orang itu sembuh sesudah waktu yang lama. Ia mulai bepergian
lagi. Ia langsung menjumpai gurunya dan berkata, "Pengajaran
yang  engkau  berikan  kepadaku keliru. Engkau menyuruh saya
untuk melihat segala  sesuatu  diresapi  oleh  Rama.  Persis
itulah yang saya lakukan dan engkau lihat apa yang terjadi?"

Guru itu berkata, "Engkau begitu bodoh! Mengapa engkau tidak
melihat Rama dalam diri orang-orang desa yang mengingatkanmu
akan gajah yang berbahaya itu?"

   

KEMATIAN SEORANG PILOT KAMIKAZE

Kenji  adalah  seorang  pilot kamikaze Jepang. Ia sudah siap
mati demi tanah airnya. Akan tetapi  perang  berhenti  lebih
cepat  daripada yang diperkirakan sehingga ia tidak mendapat
kesempatan untuk mati  secara  mulia.  Oleh  karena  itu  ia
menjadi  tertekan.  Semangat hidupnya hilang sama sekali dan
ia berjalan mengelilingi kota tanpa gairah  dan  tanpa  tahu
apa yang akan dibuatnya.

Pada  suatu  hari  ia  diberitahu bahwa ada seorang penjahat
yang menyandera seorang  wanita  tua  di  apartemennya  yang
terletak  pada  tingkat dua suatu gedung. Polisi takut untuk
masuk ke dalam karena penjahat itu  bersenjata  dan  dikenal
berbahaya.

Kenji  menerobos  masuk  ke  dalam  gedung  itu dan menyuruh
penjahat  itu  melepaskan  wanita   sanderanya.   Terjadilah
perkelahian  dengan  pisau. Kenji berhasil membunuh penjahat
itu akan tetapi ia sendiri menderita  luka  parah.  Beberapa
waktu  kemudian  ia  meninggal  di rumah sakit dengan senyum
bangga di bibirnya. Keinginannya untuk mati  secara  berguna
sudah dikabulkan.

Hanya  orang-orang  yang  melakukan  Yang  Baik  yang  tidak
mempunyai lagi rasa takut untuk mati.

   

POLISI DAN RABBI

Pada  suatu  ketika adalah seorang rabbi yang hidup di suatu
desa di padang Rusia. Setiap pagi, selama dua  puluh  tahun,
ia  menyeberangi  lapangan desa untuk berdoa di sinagoga dan
setiap  pagi  ia  diamat-amati  oleh  seorang  polisi   yang
membenci orang-orang Yahudi.

Akhirnya,  pada  suatu  pagi polisi itu mendatangi rabbi dan
bertanya ke mana ia akan pergi.

"Saya tidak tahu," jawab rabbi itu.

"Apa maksudmu? Engkau tidak tahu ke mana engkau  mau  pergi?
Selama  dua  puluh  tahun  saya  selalu  melihatmu  pergi ke
sinagoga di  seberang  lapangan  itu,  dan  sekarang  engkau
mengatakan  tidak  tahu mau pergi ke mane? Saya akan memberi
pelajaran kepadamu!"

Rabbi tua itu ditarik jenggotnya  dan  diseret  ke  penjara.
Ketika  polisi itu mau mengunci pintu sel penjara, rabbi itu
memandangnya dan dengan mata bersinar, "Lihat, apa yang saya
maksudkan ketika saya tadi berkata 'saya tidak tahu'?"

   
POLITIK BURUNG HANTU

Seekor  kelabang  minta  nasihat burung hantu mengenai sakit
yang dirasakan pada kakinya.

Kata si burung hantu,  "Kakimu  terlalu  banyak!  Seandainya
engkau  menjadi  seekor  tikus, engkau hanya mempunyai empat
kaki   dan rasa sakitnya hanya seperdua puluh empat."

"Gagasan yang baik sekali,"  kata  si  kelabang.  "Tunjukkan
kepada saya cara untuk menjadi tikus."

"Jangan  merepotkan  saya dengan detail-detail pelaksanaan,"
kata burung hantu itu. "Saya hanya membuat kebijaksanaan  di
sini."

   

PUTERA MAHKOTA YANG PANDIR

Karena  Putra  Mahkota  kurang  pandai,  Raja  mempekerjakan
seorang  guru  pribadi  yang khusus buatnya. Pelajaran mulai
dengan penjelasan yang teliti mengenai dalil pertama Euclid.

"Apakah sudah jelas, Sri Paduka?" tanya sang guru.

"Belum," kata Putra Mahkota.

Lalu  sang  guru  mengulangi  lagi  menjelaskan  dalil  itu.
"Apakah sekarang sudah jelas?"

"Belum," kata Putra Mahkota.

Sekali  lagi sang guru menjelaskan dalil tadi - tanpa hasil.
Sesudah sepuluh kali ia menjelaskan dan  Putra  Mahkota  itu
tetap  saja  belum menangkap dalil itu, guru yang malang itu
menangis. "Percayalah pada saya Baginda," tangisnya,  "Dalil
ini benar dan inilah cara dalil itu dibuktikan. "

Mendengar  itu  Putra  Mahkota  berdiri  dan  berkata sambil
membungkuk hormat, "Guru, saya percaya penuh akan yang  anda
katakan.  Maka kalau anda menjelaskan bahwa dalil itu benar,
dengan sepenuh hati saya menerimanya. Satu-satunya yang saya
sesalkan,  anda  tidak meyakinkan saya lebih cepat, sehingga
kita dapat meneruskan dengan dalil yang kedua tanpa membuang
banyak waktu."

   

RABBI TIDAK MENCONTOH SIAPA PUN

Ketika  seorang  rabbi (= guru Yahudi) menggantikan ayahnya,
semua orang mulai mengatakan bahwa ia sama sekali tidak sama
dengan ayahnya dulu.

"Sebaliknya,"  kata rabbi muda itu. "Saya persis sama dengan
ayah saya. Ia tidak pernah  meniru  siapa  pun.  Saya  tidak
meniru siapa pun."

Jadilah dirimu sendiri!

Berhati-hatilah  kalau meniru tingkah laku orang besar kalau
engkau tidak mempunyai sikap batin yang  mendorongnya  untuk
bertindak.



RAJAWALI DAN AYAM


Karena  satu  dan  lain  hal  sebutir  telor burung rajawali
akhirnya sampai ke pojok suatu  gudang  tempat  seekor  ayam
sedang  mengerami telur-telurnya. Pada waktunya telur burung
rajawali itu menetas bersama telur-telur ayam.

Waktu berlalu, anak rajawali  itu  dengan  sendirinya  mulai
mengalami   kerinduan  untuk  terbang,  dan  berkata  kepada
ibunya, sang ayam, "Kapan saya boleh belajar terbang?"

Ayam betina yang malang itu menyadari bahwa ia  tidak  dapat
terbang  dan  sama  sekali tidak mempunyai gambaran mengenai
yang dilakukan  oleh  burung-burung  dalam  melatih  terbang
anak-anak  mereka. Namun ia malu mengakui ketidakmampuannya,
dan berkata, "Belum waktunya anakku. Saya  akan  mengajarimu
kalau engkau sudah siap."

Bulan  demi bulan berlalu dan burung rajawali muda itu mulai
curiga, ibunya tidak dapat terbang.  Namun  ia  tidak  dapat
merasa  bebas  dan terbang sendiri, karena kerinduannya yang
besar untuk terbang sudah tercampur dengan rasa terima kasih
terhadap burung yang telah menetaskannya.

   

RYONEN SEORANG PETAPA BUDDHA

Ryonen, seorang petapa Buddha dilahirkan pada tahun 1779. Ia
adalah cucu Shingen, seorang prajurit terkenal.  Ia dianggap
sebagai  seorang yang tercantik di seluruh Jepang, sekaligus
seorang penyair berbakat besar.  Maka sejak usia tujuh belas
tahun ia  telah  dipilih  menjadi  pelayan  istana.  Di situ
tumbuh dengan hangat rasa cintanya yang mendalam kepada Ratu
Putri.  Ternyata  Ratu  Putri wafat secara mendadak.  Ryonen
memperoleh pengalaman batin yang sangat mendalam: ia menjadi
benar-benar sadar  bahwa  segala sesuatu akan berlalu.  Pada
saat itulah ia memutuskan untuk mempelajari Zen.

Akan tetapi keluarganya tidak  mau  tahu.    Mereka  memaksa
untuk  menikah.  Namun Ryonen menuntut agar mereka dan calon
suaminya berjanji, sesudah  ia  melahirkan  tiga  anak  bagi
suaminya, ia   bebas  untuk  menjadi  petapa.    Syarat  ini
dipenuhi ketika ia berusia dua puluh lima tahun.  Pada waktu
itu  baik  bujukan  suaminya  maupun semua hal lain di dunia
tidak  dapat  menghalanginya  untuk  melaksanakan  ketetapan
hatinya.  Ia mencukur rambutnya, mengambil nama Ryonen (yang
artinya memahami dengan jelas) dan mulai pencariannya.

Ia sampai ke kota Edo dan memohon kepada Guru Tetsugyu untuk
menjadi   muridnya.   Guru   itu  memandangnya  sekilas  dan
menolaknya karena ia terlalu cantik. Maka ia pergi  ke  Guru
yang  lain yang bernama Hakuo. Ia ditolak dengan alasan yang
sama: kecantikannya,  kata  Guru  itu,  hanya  akan  menjadi
sumber  masalah.  Maka  Ryonen membakar wajahnya dengan besi
panas dan dengan demikian  merusakkan  kecantikannya  seumur
hidupnya.  Ketika  ia  kembali  menghadap  Hakuo ia diterima
sebagai murid.

Untuk mengenang pengalaman itu Ryonen menulis  sebuah  puisi
di balik sebuah kaca kecil:

Sebagai hamba Ratu Putri
  aku membakar dupa
  untuk mengharumkan pakaianku yang indah
Sekarang sebagai pengemis tak berumah
  aku membakar wajahku
  untuk memasuki dunia Zen.

Ketika   ia   menyadari   bahwa  saatnya  telah  tiba  untuk
meninggalkan dunia ini ia menulis puisi lagi:

Enam puluh kali mata ini telah memandang
  keindahan musim gugur ...
Tak usahlah menginginkan lebih daripada itu.
Hanya dengarlah suara gemerisik
  pohon-pohon cemara
  saat angin tak berhembus.

                     (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar