Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Mittamitta-Jataka

"Bila orang bijaksana,..." dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana mengenai pelayan istana Raja Kosala yang jujur.

Orang-orang mengatakan bahwa pelayan tersebut sangat berguna bagi raja dan raja menganugerahkan penghargaan yang luar biasa kepadanya. Para pelayan istana yang lain tidak bisa menerima keberadaan pelayan yang jujur itu. Mereka menyalahkannya dihadapa raja dengan tuduhan telah melakukan hal-hal yang menyakiti raja. Raja bertanya kepadanya, dan ia tidak menemukan kesalahan dalam diri pelayan yang jujur itu. Raja berpikir, "Saya tidak menemukan kesalahan dalam diri orang ini, tetapi bagaimana saya bisa mengetahui apakah ia adalah sahabat atau musuh saya?" Kemudian ia berpikir, "Tidak ada seorangpun yang dapat memutuskan jawaban dari pertanyaan ini kalau bukan Sang Tathagata, saya akan pergi dan bertanya kepada Beliau."

Kemudian setelah santap siang, raha pergi mengunjungi Sang Guru dan berkata, "Bhante bagaimana seseorang bisa membedakan orang lain, apakah dia sahabat atau musuh?" Kemudian Sang Guru menjawab, "Orang-orang bijaksana di masa lampau, Oh raja, telah memikirkan masalah ini, dan telah mennayakan kepada orang-orang bijaksana tentang masalah ini, dengan mengikuti nasehatnya, mereka telah menemukan Dhamma (kebenaran), dan setelah meninggalkan musuh-musuhnya, mereka memberikan perhatian terhadap sahabat-sahabatnya." Dalam hal ini, atas permintaan raja, Sang Guru menceritakan sebuah kisah masa lampau.

Pada suatu saat, ketika Bhramadatta menjadi raja di Benares, Bodhisattva adalah seorang pelayan istana yang memberikan nasehat kepada raja mengenai ha;-hal keagamaan dan hal-hal keduniawian. Pada saat itu, para pelayan yang lain menfitnah seorang pelayan istana yang jujur. Raja tidak menemukan kesalahan dalam diri pelayan itu, bertanya kepada Makhluk Agung, "Bagaimana seseorang bisa mengenal sahabat atau musuh?". Dengan mengulangi ayat (gatha) yang pertama:

"Bagimana orang bijaksana, yang selalu hati-hati, harus berusaha keras, sehingga bisa menangkap dan mengerti dengan jelas perbuatan-perbuatan apa (yang dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga) yang dilakukan oleh orang yang menyebabkan orang tersebut sebagai musuh?"

Kemudian Makhluk Agung itu mengulangi lima ayat dibawah ini untuk menjelaskan tanda-tanda orang bisa disebut sebagai musuh:

“Ia tidak tersenyum ketika anda menjumpainya, tidak ada sambutan yang akan ia tunjukkan, Ia tidak akan menoleh dengan berbuat begitu, dan menyahut anda.

Ia menghormati musuh-musuh anda, ia tidak memperhatikan sahabat-sahabat anda, Ia akan diam dengan mereka yang memuji kemuliaan anda, namun justru dia akan memuji mereka yang menfitnah anda.

Ia tidak akan menceritakan rahasiannya kepada anda, namun ia akan membuka rahasia anda, Ia tidak pernah berkata baik tentang apa yang anda lakukan, kebijaksanaan anda tidak akan dipuji.

Ia tidak bergembira atas kesejahteraan anda, tetapi bergembira atas kemalangan anda. Kalau ia menerima sesuatu yang khusus, ia tidak ingat dengan anda, Ia tidak merasa kasihan kepada anda, dan juta tidak berseru, “Semoga sahabat saya mendapatkan sesuatu yang sama.

Inilah enam belas tanda dari mana anda bisa tahu seseorang itu adalah musuh. Demikianlah jika seorang yang bijaksana melihat dan mendengar, ia bisa tahu siapa musuh-musuhnya."

"Bagaimana orang bijakasna, yang selalu hati-hati, harus berusaha keras, sehingga akan mengembangkan dengan tulus, perbuatan-perbuatan apa (yang dilihat leh mata dan didengar oleh telinga) yang dilakukan oleh orang, menyebabkan orang itu disebut sebagai sahabat?"

Tentang hal-hal yang lain demikianlah ditanyakan pada baris-baris tersebut, kemudian diulangilah bait-bait yang tersisa:

"Ia ingat jika anda tidak hadir, ia bergembira jika anda telah kembali; kemudian dalam puncak kegembiraanya, ia mengucapkan selamat kepada anda dengan suara ucapannya,

Ia tidak pernah memberikan penghormatan kepada musuh-musuh anda, ia suka melayani sahabat-sahabat anda, Ia akan diam dengan mereka yang menfitnah anda, namun akan memuji mereka yang menghargai anda.

Ia memberitahukan rahasiannya kepada anda, rahasia anda tidak pernah dibukanya, ia selalu mengatakan dengan baik atas apa yang anda lakukan, Ia suka kalau kebijaksanaan anda suka dipuji.

Ia gembira mendengar keadaan anda sejahtera, tetapi sedih dengan berita atas kemalangan anda, Kalau ia menerima sesuatu yang khusus, ia langsung ingat pada anda, Ia merasa kasihan kepada anda, dan juga berseru “Semoga sahabat saya mendapatkan sesuatu yang sama!

Inilah enam belas tanda dari sahabat-sahabat yang telah dinyatakan dengan jelas, yang mana kalau seorang yang bijaksana melihat dan mendengar, ia bisa tahu siapa sahabat yang sebenarnya."

Raja bergembira dengan uraian dari Makhluk Agung itu, memberikan penghormatan tertinggi kepadanya.

Setelah mengakhiri khotbah ini, Sang Guru berkata, "Raja yang agung, demikianlah pertanyaan yang muncul pada masa yang lampau sama seperti pada saat sekarang ini, dan para bijaksana mengungkapkan kata-katanya; dengan tiga puluh dua tanda ini seseorang yang menjadi musuh atau sahabat dapat diketahui."Dengan kata-kata tersebut Beliau mengenal Kelahiran itu: "Pada saat ini, Ananda adalah raja, dan saya sendiri adalah pelayan yang bijaksana."

(Dikutip dari Majalah Dhammacakka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar