Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Doa Sang Katak

Doa Sang Katak

oleh Anthony de Mello SJ

DILEMMA PRESIDEN TAFT

Presiden  Amerika Serikat, William Howard Taft sedang santap
malam ketika putranya yang bungsu  mengatakan  sesuatu  yang
tidak hormat mengenai ayahnya.

Semua  orang  terkejut  atas keberanian anak itu dan seluruh
ruangan menjadi sangat sepi.

"Apakah bapak tidak akan menghukumnya?," tanya nyonya Taft.

"Kalau ucapan itu ditujukan kepada saya selaku  ayah,  jelas
ia  akan  dihukum,"  jawabnya. "Akan tetapi kalau ucapan itu
ditujukan kepada saya sebagai Presiden Amerika Serikat, anak
itu mempunyai hak yang dijamin oleh undang-undang."

Mengapa  seorang  ayah  harus  dikecualikan dari kritik yang
baik untuk seorang Presiden?



NASRUDDIN MENDINAMIT PUNGGUNGNYA

Tidak  mungkin  membantu  orang  lain  tanpa  membantu  diri
sendiri, atau merugikan orang lain tanpa  merugikan  dirinya
sendiri.

Nasruddin  sedang  bersungut-sungut terhadap dirinya sendiri
ketika kawannya bertanya apa yang ia risaukan.

Nasruddin berkata, "Ahmad yang  goblok  itu  selalu  menabok
punggung  saya  setiap  kali  ia melihat saya. Maka hari ini
saya menaruh satu dinamit di bawah jaket  saya.  Kalau  kali
ini ia menabok saya ia akan kehilangan tangannya!"



NONOKO DAN PENCURI

Nonoko adalah seorang Guru Zen tua  yang  hidup  sendiri  di
salah  satu  pondok  di kaki sebuah gunung. Pada suatu malam
ketika ia sedang  bermeditasi,  masuklah  seorang  asing  ke
dalam  pondoknya  sambil  mengacungkan  pedang  ke  arahnya,
meminta  uangnya.  Nonoko  tidak  menghentikan   meditasinya
sementara  ia berkata kepada orang itu: "Semua uang saya ada
di dalam mangkuk pada rak di atas sana. Ambillah semua  yang
kauinginkan,  tetapi  sisakan  lima  yen  untuk saya. Minggu
depan saya harus membayar pajak."

Orang asing itu mengambil semua uang yang  ada  di  dalamnya
dan  mengembalikan  lagi  lima  yen  ke  dalamnya.  Ia  juga
mengambil jambangan yang sangat berharga  yang  terletak  di
rak.

"Bawalah  jambangan  itu  dengan  hati-hati,"  kata  Nonoko.
"Jambangan itu mudah pecah."

Orang asing itu sekali lagi melihat sekeliling ruangan kecil
yang kosong dan akan segera pergi.

"Engkau belum mengucapkan terima kasih," kata Nonoko.

Orang itu mengucapkan terima kasih dan pergi.

Hari  berikutnya seluruh desa ribut. Banyak orang mengatakan
bahwa mereka dirampok. Seseorang melihat jambangan tidak ada
lagi  pada rak di dalam pondok Nonoko dan bertanya apakah ia
pun menjadi kurban perampokan. "Tidak," kata  Nonoko.  "Saya
memberikan   jambangan  itu  kepada  seorang  asing,  dengan
sejumiah uang. Ia mengucapkan terima kasih kepada  saya  dan
pergi.  Ia seorang yang menyenangkan, hanya sedikit sembrono
dengan pedangnya!"

  

ORANG MATI TIDAK BICARA


Mamiya  menjadi  seorang  Guru  Zen  yang terkenal. Namun ia
harus belajar Zen melalui jalan yang sulit. Ketika ia  masih
menjadi  murid  Gurunya  minta  kepadanya  untuk menerangkan
suara satu tangan yang bertepuk.

Mamiya mengusahakan segala-galanya, sedikit makan dan  tidur
supaya  ia  dapat memberikan jawaban yang benar. Akan tetapi
Gurunya tidak pernah merasa puas. Bahkan pada suatu hari  ia
berkata kepadanya, "Engkau tidak cukup bekerja keras. Engkau
terlalu  suka  bersenang-senang;  terlalu   terikat   kepada
hal-hal  yang  baik  dalam  hidup  ini; bahkan terlalu ingin
menemukan jawaban secepat mungkin. Mungkin lebih baik  kalau
engkau mati."

Saat lain ketika menghadap Gurunya, Mamiya melakukan sesuatu
yang mentakjubkan, ketika diminta  untuk  menerangkan  suara
satu  tangan  yang bertepuk, ia menjatuhkan diri dan tinggal
diam seolah-olah ia sudah mati.

Kata Guru, "Baik. Jadi engkau mati. Tetapi bagaimana  dengan
suara satu tangan yang bertepuk?"

Sambil  membuka  matanya, Mamiya menjawab, "Saya belum dapat
memecahkan masalah yang satu itu."

Mendengar itu Gurunya berteriak marah,  "Tolol!  Orang  mati
tidak berbicara. Pergi!"

Mungkin  engkau  tidak  mengalami  penerangan  batin,  namun
sekurang-kurangnya engkau dapat konsisten.



ORANG SUCI MEMBERI MAKAN ANJING


Pada  suatu  ketika,  adalah  seorang  suci yang hidup dalam
puncak   pengalaman   batin   akan   tetapi   semua    orang
menganggapnya  gila.  Pada  suatu hari sesudah meminta-minta
makanan di desa, ia duduk di pinggir jalan dan mulai  makan.
Ketika  itu  seekor  anjing datang. Anjing itu memandanginya
dan kelihatan sangat lapar.  Orang  suci  itu  lalu  memberi
makan   anjing  itu.  Ia  makan  sepotong,  lalu  memberikan
sepotong kepada  anjing  itu,  seolah-olah  keduanya  adalah
kawan  lama.  Dalam  waktu sebentar saja orang banyak datang
mengelilingi keduanya dan melihat pemandangan yang aneh ini.

Salah seorang dari antara mereka mengejek orang suci itu. Ia
berkata kepada yang lain, "Apakah yang dapat kalian harapkan
dari orang segila ini, yang bahkan  tidak  dapat  membedakan
manusia dari anjing?"

Orang  suci  itu menjawab, "Mengapa engkau tertawa? Tidakkah
kaulihat Vishnu yang  duduk  dengan  Vishnu?  Vishnu  diberi
makan  dan  Vishnu  yang  memberi makan. Jadi mengapa engkau
tertawa, oh Vishnu?"



"PASTOR SELALU TAHU!"

Hari itu adalah hari ulang tahun pastor paroki dan anak-anak
datang membawa salam dan hadiah ulang tahun.

Pastor  menerima  hadiah  yang  terbungkus  dari  Maria  dan
berkata, "Ah, saya tahu kau bawakan aku sebuah  buku"  (Ayah
Maria mempunyai toko buku di kota).

"Ya, bagaimana pastor tahu?"

"Pastor selalu tahu!"

"Dan  kau  Tommy,  membawakan  saya sebuah baju panas," kata
pastor sambil mengambil bingkisan yang  dibawa  oleh  Tommy.
(Ayah  Tommy  adalah  pedagang  barang-barang wol) . "Benar.
Bagaimana pastor tahu?" "Ah, pastor selalu tahu."

Demikianlah seterusnya sampai pastor mengangkat  kotak  yang
dibawa  oleh  Bobby.  Kertas pembungkusnya basah (Ayah Bobby
menjual anggur dan minuman keras) maka pastor berkata, "Saya
tahu  kau  membawakan saya sebotol scotch dan menumpahkannya
sedikit!" "Salah," kata Bobby, "ini  bukan  scotch."  "kalau
begitu  sebotol  rum." "Salah lagi." Jari-jari pastor basah.
Ia menjilat salah satu jarinya,  tetapi  tetap  tidak  dapat
menebak.  "Kalau  begitu  gin?"  "Bukan,"  kata Bobby. "Saya
membawakan pastor seekor anak anjing!"

  

PEDULI [APA]

Setiap  bulan  sang  murid  dengan setia mengirimkan laporan
mengenai kemajuan rohaninya kepada sang Guru.

Pada bulan pertama ia menulis, "Saya merasakan berkembangnya
kesadaran  dan  mengalami  kesatuan  saya dengan alam." Sang
Guru melihat sekilas catatan itu dan membuangnya.

Inilah yang ia katakan pada bulan berikutnya, "Akhirnya saya
menemukan  bahwa  yang ilahi hadir di dalam segala sesuatu."
Tampaknya sang Guru kecewa.

Dalam suratnya yang ketiga murid itu dengan  penuh  semangat
menerangkan   "Rahasia  Yang  Satu  dan  yang  banyak  sudah
dinyatakan di hadapan pandangan saya yang penuh  kekaguman."
Sang Guru menguap.

Surat  berikutnya  berkata,  "Tidak  seorang pun dilahirkan,
tidak seorang pun yang hidup dan  tidak  seorang  pun  mati,
karena   diri   sejati  tidak  ada."  Sang  Guru  mengangkat
tangannya tanda kecewa.

Satu  bulan  lewat,  dua  bulan  dan  kemudian  lima  bulan,
kemudian  satu  tahun. Sang Guru berpikir, sekarang waktunya
untuk mengingatkan muridnya akan  tugasnya  memberi  laporan
mengenai  kemajuan  rohaninya.  Sang murid membalas, "Peduli
apa?" Ketika Sang Guru membaca kata-kata itu, tampak seluruh
wajahnya   diliputi   rasa  puas.  Ia  berkata,  "Syukurlah,
akhirnya ia sampai."

Bahkan keinginan yang terlalu besar  akan  kebebasan  adalah
belenggu.  Adakah engkau pernah sungguh merasa bebas, sampai
engkau tidak peduli lagi apakah  engkau  bebas  atau  tidak?
Hanya  orang-orang  yang  sudah  sampai yang sungguh-sungguh
bebas.


PELAJARAN TENTANG SEKS

"Apa yang kauterima di sekolah hari ini?" tanya seorang ayah
kepada anaknya yang sudah remaja.

"Kami mendapat pelajaran mengenai seks," jawabnya.

"Pelajaran mengenai seks? Apa yang mereka katakan kepadamu?"

"Pertama-tama ada pastur yang mengatakan kepada kami mengapa
kita tidak boleh bermain-main dengan seks. Kemudian  seorang
dokter mengajari bagaimana caranya tidak bermain-main dengan
seks. Akhirnya kepala sekolah  berbicara  mengenai  di  mana
kita tidak boleh bermain-main dengan seks."



PENCURI DAN MASJID

Sesudah pesta, seorang Muslim kaya pergi ke masjid dan harus
melepaskan sepatunya yang mahal harganya dan meninggalkannya
di luar masjid.

"Betapa  bodohnya  saya,"  katanya  kepada  dirinya sendiri.
"Dengan meninggalkan sepatu di sini, saya memberi kesempatan
kepada  orang untuk mencurinya. Saya akan dengan senang hati
memberikannya. Tetapi sekarang saya bertanggung jawab karena
menciptakan seorang pencuri."



PENERANGAN BATIN ANAND

Anand  adalah murid Buddha yang paling setia. Bertahun-tahun
sesudah  kematian  Buddha,  direncanakan   pertemuan   agung
orang-orang yang sudah mengalami penerangan batin. Satu dari
antara murid-murid pergi untuk memberitahukan hal itu kepada
Anand.

Pada  waktu  itu  Anand  sendiri  belum mengalami penerangan
batin,  meskipun  ia  telah  bekerja  sekuat  tenaga  selama
bertahun-tahun.  Maka  ia tidak berhak hadir dalam pertemuan
agung itu.

Pada sore hari ketika pertemuan dimulai, ia  belum  menerima
penerangan  batin  itu  sehingga  ia  bertekad  melatih diri
sepanjang malam dan tidak berhenti sebelum ia mencapai  yang
ia  inginkan. Namun yang terjadi hanyalah bahwa ia kehabisan
tenaga.  Kendati  usahanya  yang  begitu  besar,  ia   tidak
menunjukkan kemajuan sedikit pun.

Maka  menjelang  fajar,  ia  memutuskan  untuk  berhenti dan
sedikit beristirahat. Dalam keadaan seperti itu,  ketika  ia
sudah  tidak  serakah  lagi,  termasuk  serakah  dalam usaha
menerima penerangan  batin,  ia  meletakkan  kepalanya  pada
sebuah bantal. Dan tiba-tiba ia mengalami penerangan batin.

Kata  sungai kepada orang yang mencari: "Apakah orang memang
sungguh harus resah mengenai penerangan batin? Ke  mana  pun
saya berbelok, saya pulang menuju rumah."

                     (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar