Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Doa Sang Katak

Doa Sang Katak

oleh Anthony de Mello SJ

SETAN MENGORGANISASI PENCIPTAAN

Menurut  suatu  kisah,  ketika  Tuhan  menciptakan dunia dan
mengagumi  keindahannya,  Setan  juga  ikut  kagum,   dengan
caranya sendiri, tentu saja, sebab sambil melihat yang ajaib
ganti ajaib, ia terus  berseru:  "Alangkah  indahnya!  Mari,
nanti diorganisasi!"

"Diambil semua senangnya!"

Apakah  anda  pernah  mencoba mengorganisasi sesuatu seperti
damai? Pada saat anda melakukannya, anda menghadapi  konflik
kuasa    dan    perang  antar kelompok   dalam   organisasi.
Satu-satunya  jalan   untuk   berdamai   itu   membiarkannya
bertumbuh liar.

   
TANDA SALIB ATAU CINTA

Seorang  uskup  memeriksa  kelayakan  kelompok  calon  untuk
dibaptis.

"Dengan tanda apa orang bisa mengenal anda sebagai Katolik?"
tanyanya.

Tidak ada jawab. Jelas tidak ada yang menantikan  pertanyaan
itu.  Uskup  mengulangi pertanyaannya. Lalu ia mengatakannya
sekali lagi, kali ini  dengan  membuat  Tanda  Salib,  untuk
menunjukkan kepada yang lain jawaban yang benar.

Tiba-tiba salah satu calon menangkapnya. "Cinta" katanya.

Uskup  agak  kecewa. Hampir saja ia berkata, "Salah," tetapi
tepat waktu ia masih menguasai dirinya.

   

UJIAN BAGI AHLI BEDAH DI WINA


Seorang ahli bedah di Wina menyatakan kepada para mahasiswa,
bahwa ahli bedah membutuhkan dua hal: bebas  rasa  muak  dan
kemampuan mengamati.

Lalu  ia  mencelupkan  jari  dalam cairan yang memuakkan dan
menjilatnya,  lalu  mempersilakan  setiap  mahasiswa   untuk
berbuat   yang  sama.  Semua  mereka  mengeraskan  diri  dan
berhasil melakukan hal sama tanpa berkedip.

Lalu dengan  senyum  ahli  bedah  berkata:  "Saudara-saudara
kuucapkan   selamat,  karena  lulus  ujian  pertama.  Tetapi
sayang, belum yang kedua, sebab tidak satu pun  dari  kalian
memperhatikan,  bahwa jari yang kujilat tadi bukan jari yang
kumasukkan dalam cairan."



PENYELENGGARAAN ILAHI DALAM TIGA PERAHU PENYELAMAT

Seorang  imam  duduk  di  muka meja dekat jendela menyiapkan
khotbah tentang Penyelenggaraan Tuhan, ketika  ia  mendengar
sesuatu seperti ledakan. Segera ia melihat orang lalu-lalang
berlari-lari dalam kepanikan dan menemukan, bahwa  bendungan
telah meledak, sungai meluap dan rakyat sedang diungsikan.

Imam  melihat air semakin tinggi di jalanan bawah. Ia merasa
sedikit sulit menekan rasa panik yang mencengkam, tetapi  ia
berkata:  "Di  sini  aku  sedang  menyiapkan khotbah tentang
Penyelenggaraan Tuhan, dan  aku  mendapat  kesempatan  untuk
mempraktekkan   khotbahku.   Aku  tidak  akan  lari  seperti
lainnya. Aku akan tetap tinggal di  sini  dan  percaya  akan
penyelenggaraan ilahi untuk menolong aku."

Ketika  air  sudah  sampai  di  jendela,  perahu penuh orang
lewat. "Naiklah, pastor" teriak  mereka.  "Ah  tidak  anak,"
kata  Pastor  penuh  percaya.  "Aku  percaya Penyelenggaraan
Tuhan akan menolong aku."

Pastor memang betul naik ke atap, tetapi ketika  air  sampai
di  sana,  seperangkat  orang  dalam  perahu lewat, mendesak
pastor agar naik, sekali lagi ia menolak.

Kali ini ia naik ke puncak menara lonceng. Ketika air sampai
di  lututnya,  seorang  petugas  dalam  perahu motor dikirim
untuk  menolongnya.  "Terimakasih,  saudara,"  kata   Pastor
dengan  senyum  tenang.  "Aku percaya kepada Tuhan. Ia tidak
akan meninggalkan aku."

Ketika pastor tenggelam dan naik ke surga, pertama-tama yang
ia   lakukan  ialah  mengeluh  kepada  Tuhan.  "Aku  percaya
kepada-Mu.  Mengapa  Engkau  tidak  berbuat  apa-apa   untuk
menolong aku."

"Ah," kata Tuhan. "Aku sudah mengirim perahu tiga kali."



TUHAN AKAN MEMELIHARA SANG MESIAS

Seorang  petani  kaya  lari  masuk  rumah  di suatu hari dan
berteriak   dengan   suara   takut,   "Rebeka,   ada   kabar
menggemparkan di kota - Mesias ada di sini!"

"Apa  yang menggemparkan?,' tanya istrinya. "Aku berpendapat
itu luar biasa. Engkau terkesima karena apa?"

"Terkesima   karena   apa?"   seru   si   suami.    "Setelah
bertahun-tahun  berjerih  payah,  kami akhirnya bisa makmur.
Kami punya seribu ekor ternak, lumbung  kami  limpah  gandum
dan  pohon-pohon penuh buah. Sekarang kami harus meninggakan
ini semua dan ikut dia."

"Tenang dulu," kata istrinya menghibur,  "Tuhan  Allah  kita
itu  baik.  Ia  tahu, betapa banyak kami orang Yahudi selalu
harus menderita. Kami  menghadapi  Firaun,  ada  Haman,  ada
Hitler,  selalu  ada saja. Tetapi Tuhan yang baik tahu jalan
untuk  menangani  mereka  semua,  bukan?  Hanya   percayalah
suamiku  tercinta.  Ia  akan tahu jalan menangani Mesias ini
juga."



YEREMIA DAN BANGKU LANDASAN

Yeremia  jatuh  cinta  pada  seorang wanita jangkung. Setiap
malam sepulang kerja ia datang ke rumahnya, dan setiap malam
ia   ingin   sekali  menciumnya  tetapi  sangat  malu  untuk
memintanya.

Pada  suatu  malam  ia  memberanikan  diri.  "Bolehkah  saya
menciummu?" Ia bersedia. Tetapi Yeremia terlalu pendek, maka
mereka  mencari  sesuatu  yang  dapat  ia  gunakan   sebagai
landasan  untuk  berdiri.  Mereka  menemukan  sebuah  bangku
landasan pandai besi yang tertinggal, yang  membuat  Yeremia
setinggi yang diperlukan.

Setelah  mereka  berjalan  lagi  sejauh  kira-kira  setengah
kilometer  atau  lebih,  Yeremia  berkata,  "Bolehkah   saya
mencium sekali lagi, sayang?"

"Tidak,"  kata  si  wanita.  "Saya sudah memberimu satu. Itu
cukup untuk malam ini."

Yeremia  berkata,  "Tetapi  mengapa  kamu  membiarkan   saya
membawa terus bangku celaka ini?"

Cinta menanggung beban dan merasa tidak ada beban!

   

"SALAH SATU DIANTARA KAMU ADALAH MESIAS"


Seorang Guru sedang bermeditasi di dalam gua di Himalaya. Ia
membuka   matanya,   dan   melihat    seorang    tamu    tak
disangka-sangka  duduk  di  hadapannya,  yakni seorang abbas
dari sebuah pertapaan terkenal.

"Anda mencari apa?" tanya sang Guru.

Abbas menceritakan sebuah kisah  sedih.  Pada  suatu  ketika
pertapaannya   itu   termashur   di   seluruh  dunia  Barat.
Kamar-kamar pertapaannya penuh dengan para aspiran muda  dan
gerejanya  menggema  karena  nyanyian  para rahibnya. Tetapi
masa-masa berat telah menimpa  pertapaan.  Umat  tidak  lagi
berbondong-bondong  datang  untuk  menyegarkan jiwanya, arus
aspiran muda mengering, dan gereja pun tinggal  diam.  Masih
ada  segelintir  rahib  bertahan  dan  mereka  ini melakukan
tugasnya dengan berat hati.

Inilah yang bapa abbas ingin tahu.  "Apakah  ini  disebabkan
oleh  dosa-dosa kami, bahwa pertapaan merosot sampai keadaan
sekarang ini?"

"Ya" kata sang Guru, "dosa ketidaktahuan."

"Dan dosa bagaimana itu kiranya?"

"Seorang dari antaramu itu sang  Mesias  menyamar  dan  kamu
tidak  tahu  akan hal ini." Sesudah berkata itu Guru menutup
matanya dan kembali bermeditasi lagi.

Selama perjalanan  sulit  pulang  kembali  ke  pertapaannya,
jantung  abbas  berdebar  cepat karena memikirkan bahwasanya
Mesias -- ya sang Mesias sendiri -- sudah kembali ke  dunia,
dan  ada  di pertapaan itu juga. Bagaimana mungkin ia khilaf
tidak mengenalinya? Dan siapa gerangan ia itu? Bruder  koki?
Bruder koster? Bruder ekonom? Bruder Prior? Bukan, dan bukan
dia, kekurangannya terlalu  menyolok,  sayang!  Tetapi  sang
Guru   mengatakan,  bahwa  ia  menyamar.  Apakah  cacat  itu
penyamarannya?  Kalau  memikirkan  itu,  setiap   orang   di
pertapaan  punya  cacat.  Dan  salah satu dari mereka itulah
Mesias!

Kembali  dalam  biara  ia  mengumpulkan   para   rahib   dan
menceritakan,  apa  yang  sudah  ia  temukan.  Mereka saling
memandang  tidak  percaya.  Mesias?  Di  sini?   Tak   dapat
dipercaya.  Tetapi  ia  diandaikan ada di sini menyamar. Ya,
mungkin. Bagaimana seandainya itu si anu? Atau orang lain di
sana itu? Atau ...

Satu  hal  yang  menjadi  pasti:  Kalau  Mesias  ada di sana
menyamar, tentu mereka tidak bakal mengenalnya. Maka  mereka
berusaha   memperlakukan  setiap  orang  dengan  hormat  dan
tanggapan baik. "Kamu tidak pernah tahu," kata mereka kepada
diri  mereka sendiri, bilamana mereka bergaul satu sama lain
di antara mereka, "barangkali inilah orangnya."

Akibat  semua  ini,  suasana  di  pertapaan  menjadi   penuh
semangat   kegembiraan.  Segera  sesudahnya,  berpuluh-puluh
aspiran ingin masuk menjadi anggota Ordo -- dan sekali  lagi
gereja  kembali  hingar bingar oleh karena nyanyian suci dan
riang  dari  para  rahib   yang   mengumandangkan   semangat
cintakasih.

Apakah gunanya memiliki mata, bilamana hati menjadi buta?



BELI BIBIT JANGAN BUAH

Seorang wanita bermimpi masuk ke sebuah toko baru di  pasar,
dan terkejut, menemukan Tuhan di belakang toko.

"Engkau menjual apa di sini?" ia bertanya.

"Apa saja yang menjadi keinginan hatimu," kata Tuhan.

Hampir  tak  berani percaya apa yang didengarnya, wanita itu
memutuskan minta hal-hal paling baik, yang dapat  diinginkan
seorang  manusia. "Aku minta ketenteraman hati dan cinta dan
bahagia dan bijaksana dan bebas dari sakit."  katanya,  lalu
sebagai  pikiran  kemudian  ditambahkan,  "Tidak hanya untuk
saya. Untuk semua orang di dunia."

Tuhan tersenyum.  "Kukira,  engkau  menafsirkan  aku  salah,
nak,"  kata-Nya.  "Kami  tidak  menjual  buah di sini. Hanya
benih."


GEREJA HUTAN
   
    Pada suatu waktu dulu,  ada  hutan,  di  mana  burung-burung
    bernyanyi  di  waktu  siang,  dan  serangga  di waktu malam.
    Pepohonan tumbuh segar dan bunga-bunga berkembang dan segala
    macam mahkluk berkeliaran dalam kebebasan.
   
    Dan  semua  orang,  yang  masuk  di  dalamnya,  masuk  dalam
    kesunyian, tempat  kediaman  Tuhan,  yang  bersemayam  dalam
    keheningan dan keindahan alam.
   
    Tetapi  kemudian  tiba  masa ketidak-sadaran, ketika menjadi
    mungkin  bagi  orang  untuk  membangun  gedung  seribu  kaki
    tingginya  dan  merusak  sungai  dan  hutan dan gunung dalam
    sebulan. Lalu rumah-rumah  ibadat  dibangun  dari  kayu-kayu
    hutan dan dari batu-batu di bawah tanah hutan. Kubah, menara
    dan puncak menara menjulang tinggi di  langit.  Udara  penuh
    dengan  suara  dan  lonceng,  dengan  doa  dan  nyanyian dan
    khotbah.
   
    Dan Tuhan tiba-tiba tak punya rumah.

 
BUDDHA DENGAN HIDUNG HITAM JELEK

Seorang  petapa  putri  mencari  penerangan budi dan membuat
patung Budha dari kayu dan  menutupinya  dengan  lapis  emas
indah. Bentuknya menarik sekali dan ke mana pun ia pergi, ia
membawanya serta.

Tahun-tahun sudah lewat, dan  masih  terus  membawa  patung,
petapa  putri  itu menetap di salah satu kuil kecil, di mana
ada banyak  patung  Budha,  setiap  patung  dengan  altarnya
sendiri.

Ia mulai membakar kemenyan di muka Budha emasnya setiap hari
tetapi ia menemukan dengan kecewa,  bahwa  sebagian  asapnya
menyeleweng ke altar-altar tetangga.

Maka  ia  membuat  cerobong kertas, lewat mana asap langsung
akan naik menuju ke Budha. Ini membuat  hidung  pada  patung
emas itu menjadi hitam dan jelek sekali. 

   
KAMU BOLEH MENANGIS HANYA DI PAROKIMU SENDIRI

Pengkhotbah memang lebih dari  biasa  pandai  berbicara  dan
semua  saja,  tetapi  juga semua, mencucurkan airmata. Namun
tidak sungguh semua, sebab di bangku depan, ada seorang pria
memandang lurus ke depan, tidak tersentuh oleh khotbah.

Setelah   selesai   kebaktian,   ada  orang  bertanya  "Anda
mendengar khotbahnya, bukan?"

"Tentu saja" kata pria tadi kaku. "Aku tidak tuli!"

"Bagaimana pendapat anda?"

"Kupikir, bagiku mengharukan, aku bisa menangis."

"Dan mengapa, kalau boleh tanya, anda tidak menangis."

"Karena" kata pria tadi. "Aku tidak termasuk paroki ini."


 Renungan (Pembelah Kayu)
   
    Ada seorang pembelah kayu, yang terus-menerus menyia-nyiakan
    waktu  dan tenaga membelahi kayu dengan kapak tumpul, sebab
    ia tidak punya waktu untuk berhenti dan mengasah kapak itu.
   
    (DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ,  Penerbit  Kanisius,
    Cetakan 12, 1996)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar