Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Berbasa-basi Sejenak


Berbasa-basi Sejenak

oleh Anthony de Mello SJ


PERCAYA?

Pada hari berikutnya Sang Guru bercerita. Ada seorang
perampok yang menemukan sebuah pesan pada pintu besi yang
hendak dibobolnya:

"TOLONG, JANGAN MENGGUNAKAN DINAMIT. PINTU BESI INI TIDAK
DIKUNCI. PENCET SAJA TOMBOLNYA."

Ketika ia memencet tombol itu, sekarung pasir jatuh
menimpanya. Seketika tempat itu jadi terang benderang dan
suara sirene membangunkan seluruh tetangga.

Ketika Sang Guru mengunjungi orang itu di penjara, ia
sungguh memelas: "Bagaimana saya akan dapat mempercayai
orang lain lagi?"

   

CUCI PIRING

Ketika seorang tamu dengan sukarela mau mencuci piring, Sang
Guru berkata, "Apakah Anda yakin bahwa Anda mengetahui
bagaimana mencuci piring?"

Orang itu berkata bahwa ia telah melakukannya selama
hidupnya. Kata Sang Guru, "O... saya tidak meragukan
kemampuan Anda membuat piring-piring itu bersih. Saya hanya
meragukan kemampuan Anda mencuci piring-piring itu."

Inilah penjelasan yang ia berikan kepada para muridnya
kemudian. "Ada dua cara mencuci piring. Pertama, mencuci
untuk membuat piring-piring itu bersih; kedua, mencuci untuk
mencuci saja."

Keterangan itu masih belum begitu jelas. Maka ia
menambahkan: "Tindakan pertama itu mati karena sementara
badanmu mencuci, pikiranmu terpaku pada tujuan membersihkan
piring-piring itu. Yang kedua itu hidup karena dimana
pikiranmu ada, di situ tubuhmu berada."

   

PENCERAHAN

"Pencerahan," kata Sang Guru, "berarti mengetahui secara
persis di mana kamu berada setiap saat. Itu bukan tugas yang
mudah sama sekali."

Lalu ia menceritakan tentang seorang temannya yang terkenal,
yang bahkan dalam umurnya yang sudah mencapai 80-an ditawari
banyak jabatan. Suatu ketika ia kelihatan di suatu pesta dan
ditanya berapa banyak pesta yang harus dihadirinya pada
malam itu.

"Enam," kata bapak tua itu tanpa melepaskan matanya dari
buku agendanya.

"Apa yang sedang Anda lakukan? Melihat jadwal ke mana Anda
harus pergi lagi?" tanya mereka.

"Tidak," katanya, justru saya ingin tahu di mana saya berada
sekarang. "

   

IDEOLOGI

Sang Guru alergi terhadap ideologi.

"Dalam sebuah perang ide-ide," katanya, "rakyatlah yang
menjadi korban."

Kemudian ia menambahkan, "Orang membunuh demi uang atau
kuasa. Tetapi pembunuh yang paling bengis adalah mereka yang
membunuh demi ide-ide mereka."

   

MENEMUKAN ALLAH


Waktu itu waktu ceramah. Sang Guru berkata, "Kehebatan
seorang komponis diketahui lewat nada-nada musiknya, tetapi
menganalisis nada-nada saja tidak akan mengungkapkan
kehebatannya. Keagungan penyair termuat dalam kata-katanya,
namun mempelajari kata-katanya tidak akan mengungkapkan
inspirasi. Tuhan mewahyukan diri-Nya dalam ciptaan, tetapi
dengan meneliti ciptaan secermat apa pun kamu tidak akan
menemukan Allah; demikian juga bila kamu ingin menemukan
jiwa melalui pemeriksaan cermat terhadap tubuhmu."

Pada waktu tanya jawab, seseorang bertanya, "Kalau begitu,
bagaimana kami akan menemukan Allah?"

"Dengan melihat ciptaan, tapi bukan dengan menganalisisnya."

"Dan bagaimana seseorang harus melihat?"

"Seorang petani keluar untuk melihat keindahan pada waktu
matahari terbenam, tetapi yang ia saksikan hanyalah
matahari, awan, langit, dan cakrawala - sampai ia memahami
bahwa keindahan bukan 'sesuatu,' melainkan cara khusus
melihat.

Kamu akan sia-sia mencari Allah sampai kamu memahami bahwa
Allah tidak bisa dilihat sebagai sesuatu. Yang diperlukan
ialah cara khusus untuk melihat - mirip seperti cara seorang
anak kecil yang pandangannya tidak diganggu oleh pelbagai
ajaran dan keyakinan yang telah dibentuk sebelumnya."

   

DI RUANG CERAMAH

Ayah seorang murid merasa geram dan memasuki ruang ceramah.
Di situ Sang Guru sedang berbicara.

Tanpa peduli akan setiap orang yang hadir, sang bapak
berkata kepada anak perempuannya, "Kamu telah menyia-nyiakan
karier universitas hanya untuk duduk di kaki orang tolol
ini! Apa memangnya yang telah ia ajarkan kepadamu?"

Si anak berdiri; dengan tenang ia mengajak keluar ayahnya
dan berkata, "Berada bersama dia telah mengajari saya apa
yang tidak dapat didapatkan di universitas - yaitu untuk
tidak takut pada Ayah dan tidak merasa malu atas tingkah
laku Ayah yang jelek."

   

APAKAH ITU?

"Apa yang diperlukan agar seseorang mendapatkan pencerahan?"
tanya para murid.

Kata Sang Guru, "Kamu harus menemukan apa itu yang jatuh
dalam air dan tidak menimbulkan riak; menerobos pepohonan
dan tidak menimbulkan suara memasuki kebun dan tidak
menggoyangkan seujung rumput pun."

Setelah berminggu-minggu direnungkan tanpa hasil, para murid
berkata, "Apakah sesuatu itu?"

"Sesuatu?" kata Sang Guru. "Tetapi itu bukan sesuatu sama
sekali."

"Kalau begitu, bukan apa-apa?"

"Bisa dikatakan demikian."

"Lalu bagaimana kami harus mencarinya?"

"Apakah saya menyuruhmu mencarinya? Itu dapat ditemukan,
tetapi jangan pernah dicari. Carilah dan kamu akan
kehilangan."

   

SEDIKIT AKAN SEGALA


Sang Guru mendengar seorang aktris asyik berdiskusi tentang
ramalan bintang pada waktu makan malam.

Ia mendekatinya dan berkata, "Kamu tidak percaya pada
astrologi, bukan?"

"Oh," jawab perempuan itu, "saya percaya sedikit akan segala
sesuatu."

   

KEBERUNTUNGAN
 

Ada orang yang bertanya kepada Sang Guru, apakah Sang Guru
percaya pada keberuntungan.

"Tentu," jawab Sang Guru sambil mengerdipkan matanya.
"Dengan cara apa lagi kita dapat menjelaskan keberhasilan
orang lain yang tidak kita senangi?"

   

DISAKITI

Sang Guru tidak suka akan orang-orang yang terus-menerus
larut dalam kesedihan atau kemarahan.

"Disakiti itu tidak jadi masalah jika kamu tidak memaksa
mengingatnya," katanya.

   

PEMERKOSA

Pada suatu saat Sang Guru bercerita tentang seorang wanita
yang melaporkan kepada polisi bahwa ia telah diperkosa.

"Gambarkanlah laki-laki itu," kata petugas.

"Ya, pertama-tama, ia adalah seorang idiot."

"Seorang idiot?"

"Ya. Ia tidak tahu apa-apa sehingga saya harus membantunya!"

Pernyataan itu kurang lucu maka Sang Guru menambahkan,
"Ketika kamu disakiti, cermatilah bagaimana kamu menolong
orang yang menyakiti itu."

Pernyataannya diprotes banyak orang. Maka ia menambahkan,
"Dapatkah seseorang menyakitimu jika kamu menolak untuk
disakiti?"

   

KITAB SUCI

Ketika ditanya bagaimana Kitab Suci seharusnya digunakan,
Sang Guru menceritakan pengalaman waktu ia menjadi guru di
sebuah sekolah dan melontarkan pertanyaan ini kepada para
murid, "Bagaimana kamu menentukan tinggi sebuah bangunan
dengan menggunakan alat barometer?"

Salah seorang anak yang cerdas menjawab,

Saya akan menurunkan barometer dengan tali dan kemudian
mengukur panjang tali itu."

"Banyak akal dalam ketidaktahuannya," komentar Sang Guru.

Kemudian ia menambahkan, "Begitulah akal dan ketidaktahuan
orang-orang yang menggunakan otak mereka untuk memahami
Kitab Suci, sama dengan mereka yang mencoba memahami
matahari terbenam atau samudra atau desiran angin malam di
pepohonan dengan menggunakan otak mereka."

   

EMOSI NEGATIF

"Orang tidak ingin membuang rasa iri hati, rasa cemas, rasa
marah, dan rasa salah karena emosi-emosi negatif itu
memberikan kepada mereka sensasi, perasaan sungguh-sungguh
hidup," kata Sang Guru.

Dan beginilah ia memberikan ilustrasi.

Seorang tukang pos mengambil jalan pintas melalui rerumputan
dengan naik sepedanya. Sampai di tengah, seekor sapi jantan
melihatnya dan mengejarnya. Orang yang malang itu hampir
saja kena tanduk.

"Nyaris kena, ya?" kata Sang Guru yang menyaksikan peristiwa
itu.

"Ya," kata orang tua itu terengah-engah. "selalu begitulah
selama ini."

                    (Berbasa-basi Sejenak, Anthony de Mello,
                         Penerbit Kanisius, Cetakan 1, 1997)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar