Check out the Latest Articles:

Selasa, 19 April 2011

PERSEMBAHAN (PUJA) - Terjemahan buku Wisdom of Silence - Ajahn Brahm

PERSEMBAHAN (PUJA)

Persembahan lilin, bunga, buah, sari buah, dupa dan sebagainya untuk memuja Buddha adalah praktik lain, yang maknanya mungkin tidak diketahui oleh sebagian orang. Persembahan benda demikian kepada seorang suci sebenarnya merupakan kebiasaan dunia timur. Bahkan pada masa kehidupan Buddha, telah ada kebiasaan orang India membawa bunga ketika mereka mengunjungi orang suci. Ini dilakukan sebagai lambang penghormatan. Buddhis yang berbakti juga melakukan persembahan dengan memuja Buddha, Dhamma dan Sangha. Perbuatan simbolis ini memberikan mereka rasa bahagia, damai dan lega.

Pada saat yang sama, Buddhis yang paham sering memakai persembahan yang sama sebagai objek meditasi mereka. Mereka sepenuhnya sadar terhadap objek-objek fisik ini sebagai sajian sederhana atas benda benda spiritual. Nyala lilin atau pelita dan bunga bisa diibaratkan dengan kehidupan badan jasmani. Persembahan lilin merupakan lambang lenyapnya kegelapan atau kebodohan melalui cahaya yang dipancarkannya. Keberadaan nyala dan terangnya cahaya, keindahan bunga, wangi dupa dan sentuhan akhir dari kebinaran dan keindahannya hanya untuk mewujudkan ketidakkekalan, maka semua fenomena alam ini bisa diambil sebagai objek meditasi yang sesuai. Bunga-bunga di altar melambangkan salah satu dari yang paling indah dan juga salah satu bentuk alami yang paling sementara sifatnya.

Persembahan-persembahan demikian melambangkan kebajikan-kebajikan karena menghasilkan kondisi mental yang sehat dan penuh bakti. Oleh karena itu waktu yang dihabiskan untuk persembahan barang-barang ini dan melantunkan paritta di sebuah ruang suci itu sama sekali bukanlah pemborosan. Perbuatan berbakti seseorang menghasilkan efek menyenangkan diri mereka sendiri dan menenangkan batin. Sebaiknya setiap hari sebelum mulai bekerja, merupakan hal yang baik untuk melakukan persembahan benda-benda ini kepada Buddha sebagai lambang penghormatan kepada Buddha yang suci, yang telah menunjukkan jalan yang benar kepada kita demi ketenangan, kebahagiaan dan keselamatan.

Akan tetapi, umat Buddha seharusnya tidak merasa puas dengan hanya mempersembahkan sesuatu untuk memuja Buddha, melantunkan syair atau Sutta “gaya beo” dengan berpikir bahwa tugas mereka telah selesai. Untuk menjadi umat Buddha yang baik, mereka harus melakukan sesuatu yang lebih, mereka harus mengoreksi diri mereka dengan mengikuti anjuran Buddha. Cobalah untuk memperoleh lebih banyak pengetahuan dan pemahaman melalui ajaran-ajaran-Nya. Seseorang tidak seharusnya berpikir bahwa dengan hanya mempersembahkan sesuatu kepada Buddha, perbuatan jahat seseorang bisa terhapuskan.


Semoga Semua Makhluk Berbahagia,
Elin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar