Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Doa Sang Katak

Doa Sang Katak


oleh Anthony de Mello SJ

BERHATI-HATILAH

Imam mengumumkan, bahwa Yesus Kristus sendiri akan datang di
Gereja Minggu  berikutnya.  Umat  datang  berbondong-bondong
untuk   melihat  Dia.  Setiap  orang  mengharapkan  Ia  akan
berkhotbah, tetapi Ia hanya tersenyum, ketika  diperkenalkan
dan  berkata: "Selamat." Setiap orang mau menerima-Nya untuk
bermalam, khususnya imam, tetapi Ia menolak dengan sopan. Ia
berkata,  Ia  semalam  mau  tinggal di gereja. Memang wajar,
pikir mereka semua.

Ia menghilang esok harinya,  sebelum  pintu  gereja  dibuka.
Dan,   ngeri   rasanya,   imam  dan  umat  menemukan  gereja
porak-poranda. Tertulis di mana-mana pada dinding satu  kata
WASPADA.  Tak  ada bagian gereja yang terlewatkan, pintu dan
jendela, pilar dan mimbar, altar. Bahkan pada Kitab Suci  di
atas  standar:  WASPADA.  Coret-coret dengan huruf besar dan
kecil, dengan pensil dan pena dan cat dalam berbagai  warna.
Ke  mana  mata  memandang,  orang  bisa  membaca. "WASPADA,"
waspada. Waspada, WASPADA, waspada, waspada.

Menjengkelkan.   Buat    marah.    Mengacau.    Menggelitik.
Menakutkan.  Mereka  diandaikan harus waspada apa? Itu tidak
dikata. Hanya dikatakan, WASPADA. Dorongan pertama umat  mau
menghapus tiap bekas pengotoran ini, ini penghojatan. Mereka
tertahan berbuat begitu, hanya karena pemikiran, bahwa Yesus
sendiri yang melakukan perbuatan itu.

Kini  kata  misterius  WASPADA mulai meresap dalam pemikiran
umat, setiap kali mereka masuk gereja. Mereka mulai  waspada
terhadap  Kitab  Suci,  hingga mereka bisa mengambil manfaat
dari Kitab, tanpa jadi fanatik. Mereka jadi waspada terhadap
sakramen,   jadi   mereka   disucikan   tanpa   jatuh  dalam
kesia-siaan. Imam mulai waspada terhadap  kekuasaannya  atas
umat,  maka  ia  bisa  menolong  tanpa menguasai. Dan setiap
orang jadi waspada terhadap agama, yang membuat orang  tanpa
sadar  menjadi  munafik.  Mereka jadi waspada terhadap Hukum
Gereja, lalu jadi patuh  pada  hukum,  tetapi  berbelaskasih
terhadap si lemah. Mereka mulai waspada terhadap doa, hingga
mereka berhenti mengandalkan  diri  sendiri.  Mereka  bahkan
waspada  terhadap  pengertian  mereka  tentang  Allah,  maka
mereka mengenali-Nya juga  di  luar  batas-batas  kesempitan
Gereja sendiri.

Sekarang  mereka  malah menuliskan kata haram itu pada pintu
masuk gereja dan kalau  anda  lewat  di  waktu  malam.  Anda
melihatnya gemerlapan di atas gereja dalam terang lampu neon
berwarna-warni.

KEHENDAK RAMA

Di suatu desa di India, hiduplah seorang penenun yang sangat
saleh. Sepanjang hari ia mengucapkan nama Allah, dan  secara
diam-diam   orang   percaya  kepadanya.  Setiap  kali  hasil
tenunannya sudah cukup  banyak,  ia  pergi  ke  pasar  untuk
menjualnya.  Kalau  di  pasar  ia  ditanya  mengenai  harga
sehelai kain, ia menjawabnya begini:  "Atas  kehendak  Rama,
harga  benang  35 sen; ongkos kerja 10 sen; keuntungan, atas
kehendak Rama, 4 sen. Jadi atas kehendak Rama, harga kain 49
sen."  Orang begitu percaya kepadanya, sehingga mereka tidak
pernah tawar-menawar dengannya. Mereka membayar  saja  harga
yang dimintanya dan mengambil barangnya.

Penenun  itu  mempunyai kebiasaan, kalau malam pergi ke kuil
desa, untuk mengidungkan pujian bagi  Allah  dan  memuliakan
nama-Nya.  Pada  suatu  malam, ketika ia sedang mengidungkan
pujian,  segerombolan  perampok  masuk.  Mereka  membutuhkan
seseorang   untuk   membawakan  barang-barang  hasil  curian
mereka,  maka  mereka  berkata,  "Mari,  ikut  kami."  Tanpa
melawan   penenun   itu   mengikuti  mereka  sambil  membawa
barang-barang di atas kepalanya. Namun  segera  saja  polisi
mengejar mereka, dan para perampok itu pun lari. Penenun itu
juga lari, akan tetapi karena  ia  sudah  tua,  dalam  waktu
singkat  polisi  menyusulnya  dan  karena  mereka  menemukan
barang-barang  rampokan  padanya,  mereka  menangkapnya  dan
memasukkannya ke dalam penjara.

Pagi  berikutnya,  ia  dihadapkan  kepada  hakim dan didakwa
merampok. Ketika hakim menanyakan kepadanya apa yang Akan ia
katakan,  ia menjawab, "Yang Mulia, atas kehendak Rama, tadi
malam saya selesai makan malam,  atas  kehendak  Rama,  saya
pergi ke kuil, untuk menyanyikan pujian baginya. ketika itu,
atas kehendak Rama, segerombolan perampok  masuk  dan,  atas
kehendak  Rama,  meminta saya untuk membawakan barang-barang
mereka. Mereka menumpangkan beban yang begitu berat di  atas
kepala  saya, sehingga ketika polisi mengejar, atas kehendak
Rama dengan mudah saya ditangkap. Lalu, atas kehendak  Rama,
saya  ditahan dan dimasukkan ke dalam penjara. Dan pagi ini,
saya berdiri di hadapan Yang Mulia, atas kehendak Rama."

Hakim berkata kepada polisi, "Biarkanlah  orang  ini  pergi.
Jelas ia tidak waras."

Sesampai  di  rumah,  ketika ditanya mengenai apa yang telah
terjadi, penenun saleh itu  berkata,  "Atas  kehendak  Rama,
saya  ditahan  dan  diadili di pengadilan. Dan atas kehendak
Rama, saya dibebaskan."


  


TIGA PULUH TAHUN UNTUK PENERANGAN BATIN

Seorang  muda  datang  kepada  seorang  Guru  dan  bertanya,
"Kira-kira saya membutuhkan berapa  waktu  untuk  memperoleh
penerangan batin?"

Kata Guru itu, "Sepuluh tahun."

Orang  muda  itu  terkejut.  "Begitu  lama?"  tanyanya tidak
percaya.

Kata Guru itu, "Tidak, saya keliru. Engkau  membutuhkan  dua
puluh tahun."

Orang muda itu bertanya, "Mengapa Guru lipatkan dua?"

Guru  itu  berkata,  "Coba  pikirkan,  dalam hal ini mungkin
engkau membutuhkan tiga puluh tahun."

Beberapa orang tidak pernah belajar  sesuatu  karena  mereka
menggenggam  segala  sesuatu  terlalu  cepat.  Kebijaksanaan
bukanlah suatu titik sampai akan tetapi suatu cara berjalan.
Kalau  engkau  berjalan  terlalu  cepat,  engkau  tidak akan
melihat pemandangan yang indah.

Dengan tepat mengerti ke mana engkau menuju  mungkin  adalah
cara  yang  paling  tepat  untuk tersesat. Tidak semua orang
bergelandangan tersesat.



  DUA MACAM HARI SABAT

Di antara orang Yahudi penyucian hari Sabat, hari Tuhan, itu
pada mulanya suatu kegembiraan, tetapi terlalu banyak  rabbi
terus  memasukkan  tambahan  satu  demi  satu, bagaimana itu
harus dilakukan secara tepat, tindakan apa  yang  diizinkan,
hingga  sementara  orang  merasa  hampir tidak bisa bergerak
sepanjang Sabat, kalau salah  satu  peraturan  mungkin  bisa
dilanggar.

Baal  Shem,  putra  Eliezer, banyak memikirkan hal ini. Pada
suatu malam ia bermimpi. Seorang  malaikat  membawa  dia  ke
surga   dan   menunjukkan   dua  takhta  ditempatkan  tinggi
mengatasi lainnya.

"Bagi siapa itu diperuntukkan?" ia bertanya.

"Untuk   engkau,"   jawabnya,   "jika   engkau   menggunakan
akal-budimu,  dan  untuk  orang,  yang  nama serta alamatnya
sedang ditulis dan akan diberikan kepadamu."

Lalu  ia  dibawa  ke  tempat  paling  dalam  di  neraka  dan
ditunjukkan  dua tempat kosong. "Ini disiapkan untuk siapa?"
ia bertanya.

"Untuk engkau," jawabnya,  "jika  engkau  tidak  menggunakan
akal-budimu: dan untuk orang, yang nama dan alamatnya sedang
ditulis untuk engkau."

Di dalam  mimpi  Baal  Shem  mengunjungi  orang,  yang  akan
menjadi  temannya  di  firdaus. Ia menemukan dia bermukim di
tengah orang kafir, tak tahu menahu tentang adat Yahudi, dan
pada hari Sabat, ia mengadakan perjamuan dengan banyak acara
gembira, dan di situ  semua  tetangga  kafir  diundang.  Dan
ketika  Baal  Shem bertanya, mengapa ia mengadakan perjamuan
itu, ia dijawab: "Aku ingat, bahwa waktu  kecil  aku  diajar
orangtuaku,   bahwa   hari   Sabat  itu  untuk  mengaso  dan
bergembira, maka pada hari  Sabtu  ibuku  itu  menghidangkan
makanan  paling  mewah:  di  situ kami bernyanyi, menari dan
bergembira. Aku berbuat yang sama pada hari ini."

Baal Shem mencoba mengajar orang itu tentang cara menghayati
agamanya, sebab ia lahir Yahudi, tetapi ternyata sama sekali
tidak tahu tentang peraturan para rabbi. Tetapi  ia  terdiam
kelu,  ketika  menyadari,  bahwa kegembiraan orang tadi pada
hari  Sabat  akan  terganggu,  jika   ia   disadarkan   akan
kekurangannya.

Baal  Shem,  masih  dalam  mimpinya,  lalu  pergi  ke  rumah
temannya di neraka. Ia menemukan orang itu sebagai  penganut
Hukum  ketat,  selalu  waspada,  jangan ada tindakannya yang
tidak tertib. Orang  celaka  itu  setiap  hari  Sabat  hidup
kalut,  seakan-akan  ia  duduk atas api membara. Ketika Baal
Shem  mau  memperingatkan   dia   akan   perbudakan   Hukum,
kemampuannya  untuk berbicara hilang, karena ia sadar, bahwa
orang itu tidak akan mengerti, bahwa ia bisa  berbuat  salah
dengan menepati peraturan agama.

Berkat  pewahyuan yang diberikan kepadanya lewat mimpi, Baal
Shem Tor mengembangkan cara baru untuk  kebaktian,  di  mana
Tuhan disembah dengan gembira, yang datang dari hati.

Jika  orang  bersukacita  ia selalu baik, tetapi bila mereka
baik, mereka jarang bersukacita.


ENGKAU ITU SIAPA?

Wanita  dalam  sakratulmaut menghadapi ajalnya. Ia tiba-tiba
merasa, bahwa ia dibawa ke surga dan berdiri di muka  Takhta
Pengadilan.

"Siapa  engkau  itu?"  kata  suara kepadanya. "Aku ini istri
lurah," jawabnya. "Aku tidak bertanya kepadamu, engkau istri
siapa,  tetapi  engkau  itu siapa?" "Aku ini ibu empat orang
anak." "Aku tidak  bertanya,  engkau  ibunya  siapa,  tetapi
siapa  engkau  itu?"  "Aku  ini guru di sekolah." "Aku tidak
menanyakan pekerjaanmu, tetapi siapa engkau itu."

Dan demikianlah seterusnya. Tidak peduli  apa  yang  menjadi
jawabannya,   rupanya   itu  bukan  jawaban  yang  memuaskan
terhadap pertanyaan: "Engkau itu siapa?"

"Aku ini seorang Kristen." "Aku  tidak  menanyakan  agamamu,
tetapi engkau itu siapa." "Aku ini seseorang, yang tiap hari
pergi ke gereja dan selalu membantu orang miskin  dan  orang
dalam  kesulitan." "Aku tidak menanyakan perbuatanmu, tetapi
siapa engkau itu."

Ia jelas gagal dalam  ujian,  oleh  karena  itu  ia  dikirim
kembali ke  dunia.    Ketika sembuh dari sakitnya ia berniat
menemukan siapa  dia.  Dan  itulah  yang  membuat  segalanya
berbeda sama sekali.

Tugasmu itu  berada.    Tidak  menjadi  seseorang atau bukan
apa-apa - sebab disitu ada keserakahan dan  ambisi  -  tidak
menjadi  ini  dan itu; - dengan demikian menjadi bersyarat -
tetapi hanya ada saja.



HADIAH UNTUK IBU YANG MENGELUH

Ketika seorang gadis kecil berumur delapan tahunan mengambil
uang  sakunya  untuk membelikan ibunya hadiah, ibunya sangat
berterimakasih dan bahagia, karena ibu dan ibu rumah  tangga
pada umumnya banyak bekerja, tetapi sedikit penghargaan.

Gadis  kecil  itu nampaknya telah memahami hal ini karena ia
berkata, "Itu karena ibu bekerja keras, dan tak seorang  pun
menghargainya."

Wanita itu berkata, "Bapakmu bekerja keras juga."

Kata gadis kecil, "Ya, tapi ia tidak peduli akan hal itu."




"HATIKU TELAH MENCAPAI GUNUNG TERLEBIH DAHULU"

Seorang  pengembara  tua  sedang  dalam  perjalanan   menuju
pegunungan  Himalaya  pada  musim dingin yang menggigit saat
mulai hujan.

Seorang  pengurus  rumah   penginapan   berkata   kepadanya.
"Bagaimana  engkau  dapat sampai di sana dalam cuaca seperti
ini, saudaraku?"

Pengembara tua itu menjawab dengan  gembira:  "Hatiku  sudah
lebih  dulu  sampai  di  sana, sehingga mudah bagi saya yang
tersisa ini kemudian mengikutinya."



JANGAN SAMPAI KUDAPATI ENGKAU SEDANG BERDOA

Gereja atau Sinagoga itu harus mengumpulkan dana untuk  bisa
berjalan.  Nah,  ada  sebuah  sinagoga  Yahudi di mana orang
tidak  mengedarkan  peti  dana  seperti   di   gereja-gereja
Kristen.  Cara  mereka  mencari  dana  dengan menjual karcis
tempat pada hari Pesta-pesta besar,  sebab  di  situ  jemaat
yang datang banyak dan orang bersikap murah hati.

Pada  hari  seperti  itu anak kecil datang ke Sinagoga untuk
mencari ayahnya, tetapi petugas tidak mengizinkannya  masuk,
karena ia tidak punya karcis.

"Tetapi," kata si anak, "ini perkara penting sekali."

"Semua berkata begitu," jawab petugas, tak tergerakkan.

Anak jadi putus-asa dan mulai mendesah: "Maaf tuan, biar aku
masuk. Ini soal hidup atau mati. Hanya satu menit saja."

Petugas  melunak!  "Yah,  sudah,  kalau   penting   sekali,"
katanya. "Tetapi awas, kalau kutemukan engkau berdoa."

Agama teratur tertib, sayangnya punya banyak kelemahan juga.



  
KABAR ANGIN MENCIPTAKAN KELAPARAN

Pada  musim panas 1946 desas-desus tentang kelaparan melanda
sebuah provinsi di negara Amerika Latin.  Pada  hal  tanaman
tumbuh  dengan  baik, dan cuaca pun sempurna, menunggu panen
raya. Tetapi karena daya sas-sus  itu  20.000  petani  gurem
meninggalkan  sawah-ladangnya  dan lari ke kota-kota. Karena
perbuatan mereka panen gagal,  ribuan  orang  meninggal  dan
isyu kelaparan terbukti nyata.

                   (DOA  SANG  KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar