Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Doa Sang Katak



Doa Sang Katak

oleh Anthony de Mello SJ

 
JANGAN MELIHAT KALAU DIA SEDANG MENYUMPAHI

Dua  penghuni  lembaga  bisu-tuli bertengkar. Ketika seorang
petugas datang untuk menjernihkan masalah mereka, salah satu
dari  orang  itu  berdiri membelakangi yang lain dan tertawa
terbahak-bahak.

"Apa yang lucu? Mengapa kawanmu ini  tampak  begitu  marah?"
tanya petugas itu dengan bahasa isyarat.

Si bisu itu menjawab, juga dengan bahasa isyarat, "Karena ia
mau menyumpahi saya, tetapi saya tidak mau melihatnya! "

   

JOHN BERKATA YA


... atau bagaimana?

Seorang anak petani begitu pendiam, sampai pacarnya  sesudah
lima  tahun  berpacaran  yakin  bahwa  ia  tidak akan pernah
mengajukan suatu usul  pun  kepada  dirinya  dan  bahwa  dia
sendirilah yang harus mulai.

Pada  suatu  hari  ketika  mereka hanya berdua saja duduk di
kebun, gadis itu  berkata  kepadanya,  "John,  marilah  kita
nikah. Apakah kita mau menikah John?"

Mereka diam lama. Akhirnya John berkata, "Ya."

Diam lagi lama. Akhirnya gadis itu berkata, "Katakan sesuatu
John. Mengapa engkau tidak mengatakan sesuatu?"

"Saya khawatir, saya sudah berbicara terlalu banyak!"



JUNAID MENOLAK MATA UANG EMAS


Salah   seorang  pengikut  Junaid  datang  kepadanya  dengan
kantong yang penuh dengan mata uang emas.

"Apakah engkau masih  punya  lebih  banyak  mata  uang  emas
lagi?" tanya Junaid.

"Ya, masih banyak lagi."

"Dan engkau lekat padanya?"

"Ya."

"Kalau  demikian  engkau harus membawa uang ini juga, karena
kebutuhanmu lebih besar daripada  kebutuhanku.  Karena  saya
tidak mempunyai apa-apa dan tidak menginginkan apa-apa, saya
jauh lebih kaya daripadamu."

Hati orang yang sudah mengalami penerangan batin itu seperti
kaca:  tidak  merenggut  atau  menolak sesuatu pun; menerima
tetapi tidak memiliki.



KALAU TEKNIK TIDAK BEKERJA


...  dan  menghindarkan  untuk  mengambil  keputusan sebelum
waktunya mengenai yang dibicarakan oleh orang lain ...

Pada suatu kesempatan  makan  malam,  seorang  anak  berumur
empat belas tahun mengatakan bahwa ia dipilih untuk mengajar
di  kelasnya  pada  hari  berikutnya.  Ayahnya  yang  adalah
seorang   yang   berpengalaman  dalam  bidang  Metode-metode
Instruksional kemiliteran, melihat kesempatan ini baik untuk
memberikan kepandaian dan pengalamannya kepada anaknya.

Ia  berkata  kepada  anaknya,  "Begini kami melaksanakan hal
seperti  itu  di  lingkungan  militer.   Pertama-tama   kami
menentukan  sasaran  yang terdiri dari tindakan, keadaan dan
tingkat pelaksanaan. Putuskan lebih dulu TINDAKAN macam  apa
yang kauinginkan agar dilaksanakan oleh murid-muridmu, dalam
KEADAAN macam apa tindakan itu harus mereka  laksanakan  dan
akhirnya SEBAIK APA mereka harus melaksanakannya. Dan ingat,
seluruh  pendidikan  harus  diarahkan  kepada   pelaksanaan,
pelaksanaan, pelaksanaan.

Anak  itu  tidak terkesan. Yang dikatakan hanyalah ini, "Itu
tidak akan jalan, ayah."

"Pasti akan  berjalan.  Selalu  demikian.  Mengapa  sekarang
tidak akan jalan?"

Kata anak itu, "Karena saya harus mengajar tentang seks."

... dan yang diinginkan oleh orang lain ...



KAPAN RAJA PYRRHUS PUAS?

Raja Pyrrhus dari Epirus  didatangi  oleh  seorang  kawannya
yang   bernama   Cyneas   dan   ditanya,   "Seandainya  raja
mengalahkan   Roma,   apakah   yang   akan   raja   kerjakan
selanjutnya?"

Pyrrhus   menjawab,  "Sisilia  berdekatan  dan  mudah  untuk
direbut."

"Dan apa yang akan raja lakukan setelah Sisilia direbut?"

"Kita akan bergerak ke Afrika dan menduduki Kartago."

"Dan sesudah Kartago?"

"Giliran Yunani akan kita taklukkan."

"Bolehkah saya bertanya, apakah buah dari kemenangan-
kemenangan ini?"

"Yah, kita dapat duduk dan bersenang-senang." jawab Pyrrhus.

Cyneas    berkata,    "Tidak    dapatkah    sekarang    kita
bersenang-senang?"

Orang miskin  berpikir  mereka  akan  bahagia  kalau  mereka
menjadi  kaya. Orang kaya berpikir mereka akan bahagia kalau
mereka dibebaskan dari borok-borok mereka.

   

KASIH DAN TERIMA KASIH


Pada suatu ketika Allah menjamu semua keutamaan,  baik  yang
kecil  maupun  yang  besar, yang sederhana maupun yang gagah
berani.  Mereka semua berkumpul  di  suatu  ruangan  surgawi
yang dihias  sangat  meriah.   Segera saja mereka bergembira
ria karena mereka sudah saling mengenal dengan baik.  Bahkan
beberapa sangat dekat berhubungan.

Tiba-tiba  Allah  melihat  dua  keutamaan  yang  cantik yang
tampaknya sama sekali tidak saling mengenal dan tidak senang
duduk bersama.  Maka Allah menggandeng tangan salah satu dan
memperkenalkannya  kepada  yang  lain  secara  resmi.  "Rasa
terima kasih," kata-Nya, "Inilah Kasih."

Namun  sebelum  Allah  berbalik, mereka sudah saling menjauh
lagi.  Dan  tersebarlah  kisah,  bahkan  Allah  tidak  dapat
membawa "Rasa terima kasih" ketempat dimana ada "Kasih."

   

KATINKA

Pada suatu kali seorang wanita datang  kepada  rabbi  Israel
dan  menceritakan  kepadanya  kepedihan  hatinya:  sudah dua
puluh tahun ia menikah tetapi belum  juga  dikaruniai  anak.
"Sama,"  kata  rabbi. "Persis sama dengan ibuku." Dan inilah
cerita yang ia sampaikan kepada wanita itu:

Selama dua puluh tahun ibunya  tidak  mempunyai  anak.  Pada
suatu  hari  ia  mendengar  bahwa Bal Shem Tov yang suci itu
berada di kota dan ia segera pergi menemui  orang  suci  itu
serta  mohon  agar ia mendoakannya supaya ia dapat mempunyai
anak. "Untuk keperluan itu engkau bersedia  melakukan  apa?"
tanya  orang  suci itu. "Apa yang dapat saya lakukan?" tanya
wanita itu. "Suamiku adalah miskin, bekerja di perpustakaan,
tetapi saya mempunyai sesuatu yang dapat saya berikan kepada
rabbi." Lalu  ia  cepat-cepat  pulang  ke  rumah,  mengambil
katinka  dari  almari  di  mana  katinka  itu  dengan cermat
disimpan dan lari kembali untuk memberikannya kepada  rabbi.
Katinka  -  semua  orang tahu - adalah mantol yang dikenakan
pengantin  pada  hari  pernikahannya,  suatu  harta   pusaka
berharga  yang  diwariskan  turun temurun. Ketika wanita itu
sampai,  rabbi  sudah  berangkat  ke  kota  lain.  Maka   ia
menyusulnya.  Karena  miskin, ia harus berjalan kaki. Ketika
ia sampai di kota itu, rabbi  sudah  pergi  lagi  ke  tempat
lain.  Enam  minggu ia menyusul sang rabbi dari kota ke kota
sampai akhirnya dapat bertemu. Rabbi  menerima  katinka  itu
dan menyerahkannya kepada sinagoga setempat.

Rabbi  Israel  menutup ceritanya, "Ibu saya berjalan pulang.
Setahun kemudian, saya lahir."

"Sungguh, persis sama," seru wanita itu. "Saya pun mempunyai
katinka  di  rumah. Saya akan segera membawanya kepada rabbi
dan kalau  rabbi  memberikannya  kepada  sinagoga  setempat,
Allah akan memberikan seorang anak kepada saya."

"Ah,   tidak   demikian,"   kata  rabbi  itu  dengan  sedih,
"Perbedaan antara ibu saya dan  engkau  adalah  ini:  engkau
mendengar  kisahnya;  ia  dulu  tidak punya kisah yang dapat
dijadikan pegangan."

Sesudah digunakan oleh seorang suci tangga itu  dibuang  dan
tidak dapat digunakan lagi.

   

KEBENARAN DI RUMAH SENDIRI
 

Seorang  muda  dihantui  oleh kerinduan hati akan kebenaran.
Maka  ia  meninggalkan   keluarganya,   kawan-kawannya   dan
berangkat  untuk  mencari  Kebenaran  itu.  Ia mengembara di
banyak negeri, berlayar menyeberang banyak  lautan,  mendaki
banyak  gunung  dan  dalam  semuanya itu ia mengalami banyak
penderitaan dan kesengsaraan.

Pada suatu hari ia bangun dan menyadari bahwa usianya  sudah
tujuh  puluh  lima  tahun dan belum juga menemukan Kebenaran
yang  selama  ini  ia  cari.  Maka  dengan  sedih  hati   ia
memutuskan untuk menghentikan usahanya dan kembali ke rumah.

Karena  ia  sudah  tua,  ia membutuhkan berbulan-bulan untuk
kembali ke kampung halamannya. Sesampai di rumah, ia membuka
pintu  rumahnya  -  dan  di sana ia menemukan Kebenaran yang
selama bertahun-tahun dengan sabar menunggunya.

Pertanyaan:  Apakah  pengembaraannya  membantu   dia   untuk
menemukan kebenaran?

Jawab:  Tidak,  namun  pengembaraan itu menyiapkan dia untuk
mengenalnya.

   

KEBIJAKSANAAN TUKANG RODA

Sementara  tukang  roda  sedang  membuat  roda di salah satu
ujung ruangan, Pangeran Huan dari Chi rnembaca buku di ujung
yang lain.

Setelah  meletakkan  alat-alat  kerjanya,  tukang  roda  itu
mendatangi Pangeran itu dan bertanya buku apa yang sedang ia
baca.

"Buku yang menyimpan kata-kata orang bijak," kata Pangeran.

"Apakah  orang-orang  bijak  itu  masih hidup?" tanya tukang
roda.

"Tidak," kata Pangeran, "mereka semua sudah mati."

"Kalau begitu yang Pangeran baca tidak lebih dari sampah dan
sisa orang-orang yang sudah mati," kata tukang roda itu.

"Berani benar kau tukang roda sampai berani menjelekkan buku
yang sedang saya baca!  Pertanggungjawabkanlah  perkataanmu,
kalau tidak kamu harus mati."

"Baiklah,"  kata  tukang  roda  itu,  "Saya  akan  berbicara
sebagai tukang roda. Beginilah  saya  melihat  persoalannya:
kalau  saya  sedang membentuk suatu roda, seandainya gerakan
saya terlalu lambat, gerakan itu akan mengores dalam  tetapi
tidak  tetap.  Kalau gerakan saya terlalu cepat, gerakan itu
tetap  tetapi  tidak  menggores  dalam.  Irama  yang  tepat,
artinya  tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, tidak
akan tercapai kalau tidak keluar dari dalam hati. Ini adalah
sesuatu  yang  tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ada
suatu seni di  dalamnya,  yang  tidak  dapat  saya  wariskan
kepada   anak   saya.   Itulah  sebabnya  saya  tidak  dapat
membiarkannya mengambil-alih rekerjaan saya. Maka saya  yang
sekarang  sudah  berumur  tujuh puluh lima tahun masih terus
membuat roda.  Menurut  pendapat  saya  halnya  sama  dengan
orang-orang  yang  sudah  mendahului kita. Semua yang pantas
diwariskan mati bersama dengan kematiannya;  sisanya  mereka
tuliskan   dalam  buku-buku  mereka.  Itulah  sebabnya  saya
berkata bahwa yang sedang Pangeran baca  adalah  sampah  dan
sisa orang-orang yang sudah mati."

   
KEBINGUNGAN MUSA

Diceritakan bahwa  sebelum  memimpin  bangsanya  dari  tanah
Mesir,   Musa   belajar   pada   seorang  Guru  besar  untuk
mempersiapkan diri menjadi seorang  nabi.  Disiplin  pertama
yang  diwajibkan  oleh  sang Guru kepada Musa adalah "diam."
Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan dan Musa begitu
terpesona  oleh keindahan alam, sehingga mudah baginya untuk
diam. Akan tetapi ketika mereka sampai pada  tebing  sungai,
ia melihat seorang anak yang tenggelam di tepi yang lain dan
ibunya berteriak-teriak minta tolong.

Musa tidak dapat tetap diam melihat hal seperti itu. "Guru,"
katanya,   "tidak  dapatkah  Guru  melakukan  sesuatu  untuk
menyelamatkan anak itu?" "Diam!" kata Gurunya. Musa  menahan
nafas.

Akan  tetapi  hatinya terusik. Ia berpikir, "Sungguhkah Guru
saya ini orang yang berhati  keras,  tidak  punya  perasaan?
Tidak kuasakah ia menolong orang-orang yang membutuhkan?" Ia
takut mempunyai pikiran yang tidak  baik  mengenai  Gurunya,
tetapi ia juga tidak dapat mengusirnya.

Dalam  perjalanan  itu  mereka  sampai  ke  pantai  laut dan
melihat  sebuah  perahu  tenggelam  bersama  dengan  seluruh
awaknya.  Musa berkata, "Guru, lihat! Perahu itu tenggelam!"
Sekali lagi  Gurunya  menyuruhnya  untuk  memegang  disiplin
diam. Maka Musa tidak berbicara lagi.

Namun  hatinya  sangat  tidak tenang, sehingga ketika mereka
sampai ke rumah kembali, Musa membicarakan  hal  itu  dengan
Allah  yang berkata kepadanya, "Gurumu benar. Anak yang tadi
tenggelam  adalah  anak  yang  akan  menyebabkan  kebinasaan
beratus-ratus  ribu orang. Malapetaka ini dihindarkan dengan
tenggelamnya.  Perahu  yang  tenggelam  itu   diawaki   oleh
bajak-bajak laut yang merencanakan untuk pergi ke suatu kota
di pinggir pantai untuk menjarah dan merampas serta membunuh
orang-orang yang tak bersalah dan cinta damai."

Pelayanan  merupakan  suatu  kebajikan  hanya kalau disertai
kebijaksanaan.

   

SUNGAI DI GURUN
 

Bahan  dasar  dalam  mencapai  kebebasan:  penderitaan  yang
membawa kesadaran.

Seorang  pengembara  yang  tersesat  di  gurun  sudah  tidak
mempunyai harapan lagi untuk menemukan air. Ia berusaha naik
ke  bukit  yang  satu, kemudian yang lain dan yang lain lagi
dengan harapan dapat melihat aliran air. Ia terus melihat ke
mana-mana, namun tidak berhasil.

Ketika  ia  berjalan  maju  tertatih-tatih, kakinya terjerat
pada suatu semak kering. Ia  jatuh  ke  tanah.  Di  sana  ia
terbaring,  tanpa  tenaga untuk bangkit lagi tanpa keinginan
untuk meneruskan usahanya dan tanpa harapan akan dapat lepas
dari siksaan ini.

Ketika  ia  terbaring,  tanpa  ada  yang  menolong dan tanpa
harapan, tiba-tiba ia menjadi sadar akan  keheningan  gurun.
Di  setiap  penjuru  yang  ada  adalah  ketenangan  yang tak
terganggu  oleh  suara  sehalus  apa   pun.   Tiba-tiba   ia
mengangkat  kepalanya.  Ia  mendengar  sesuatu. Sesuatu yang
begitu lembut yang hanya dapat didengar  oleh  telinga  yang
sangat  tajam  dalam keheningan yang sangat dalam: suara air
yang mengalir.

Didorong oleh harapan bahwa suara itu muncul dalam  dirinya,
ia bangkit dan terus bergerak sampai ia tiba di suatu aliran
sungai yang airnya segar dan sejuk.

                     (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar