Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Doa Sang Katak

Doa Sang Katak

oleh Anthony de Mello SJ

Renungan
   
    Pengandaian itu mempengaruhi Penelitian.
    Penelitian menghasilkan Keyakinan.
    Keyakinan menimbulkan Pengalaman.
    Pengalaman membuahkan Tindakan,
    yang, pada gilirannya, menguatkan pengandaian.

   

AHLI YANG MASIH MUDA

Sekitar tahun 1930  sebuah  perusahaan  Amerika  mengirimkan
mesin ke Jepang.

Sebulan  kemudian  perusahaan  itu  menerima telegram: MESIN
TIDAK BEKERJA. KIRIMKAN ORANG UNTUK MEMPERBAIKINYA.

Perusahaan itu mengirim  seseorang  ke  Jepang.  Sebelum  ia
mempunyai  kesempatan  untuk memeriksa mesin itu, perusahaan
itu menerima telegram yang kedua: ORANG YANG DATANG  TERLALU
MUDA, KIRIMKAN YANG LEBIH TUA.

Perusahaan  itu menjawab: LEBIH BAIK MENGGUNAKAN DIA. DIALAH
YANG MENEMUKAN MESIN.


ALLAH DAN ROTI

Ibu: "Tahukah engkau bahwa Allah ada di sana  ketika  engkau
mencuri roti dari dapur?"

"Ya"

"Dan Ia mengawasimu sepanjang waktu?"

"Ya"

"Kaupikir, apa yang Ia katakan kepadamu?"

"Ia  berkata,  'Tidak  ada  orang  lain  di sini, hanya kita
berdua - ambillah dua'."

   

ANGGOTA BADAN MELAWAN PERUT

Pada suatu ketika anggota-anggota tubuh merasa sangat berang
terhadap  perut.  Mereka  semua  iri  karena  mereka   harus
menyediakan makanan dan membawanya ke perut, sementara perut
sendiri tidak berbuat  lain  kecuali  mencerna  hasil  jerih
payah mereka.

Maka  mereka  memutuskan untuk tidak membawa lagi makanan ke
perut. Tangan tidak mau mengangkat makanan  ke  mulut.  Gigi
tidak  mau mengunyah lagi dan tenggorokan tidak mau menelan.
Ini akan memaksa perut untuk melakukan sesuatu.

Namun hasil keputusan  mereka  hanyalah  tubuh  yang  lemah,
begitu   lemah  sampai  mereka  berada  dalam  bahaya  mati.
Demikian akhirnya merekalah yang belajar bahwa dalam  saling
membantu  mereka  sebenarnya  bekerja  untuk kebaikan mereka
sendiri.

   

BAWA DIA KELUAR ATAU BANGUNKAN DIA


Alkisah, terjadilah kebakaran di suatu  rumah  di  mana  ada
seorang yang tidur sangat nyenyak.

Orang  mencoba  membawanya  keluar  melalui  jendela.  Tidak
dapat. Melalui pintu. Tidak  dapat.  Ia  terlalu  besar  dan
berat.

Orang  sudah  hampir  putus  asa  ketika  ada seseorang yang
memberi saran, "Bangunkan dia, lalu ia dapat keluar sendiri."

Hanya  penidur  dan anak-anak perlu dipelihara. Bangun! Atau
jadilah dewasa!

   

BATU AJAIB

Cobalah  perhatikan  yang  senang  mereka sebut tingkah laku
yang bebas dan bertanggung jawab, dan  mungkin  engkau  akan
menemukan  bahwa  itu  bukan  tindakan  yang sadar melainkan
gerakan seperti mesin ...

Alkisah, ketika Perpustakaan Pusat di Aleksandria  terbakar,
yang  tinggal  hanyalah  sebuah buku. Buku itu sangat biasa,
lusuh dan tidak menarik, maka dijual dengan  harga  beberapa
sen kepada seorang miskin yang hampir tidak dapat membaca.

Namun  buku  yang  tampaknya  lusuh  dan  tidak  menarik itu
mungkin merupakan buku yang paling berharga di dunia, karena
pada  bagian dalam sampul belakang tertulis beberapa kalimat
dalam huruf besar dan bulat, yang  berisi  rahasia  mengenai
Batu  Ajaib  -  sebutir batu kecil tipis yang dapat mengubah
segala sesuatu yang disentuhnya menjadi emas murni.

Tulisan itu mengatakan bahwa batu berharga itu  terdapat  di
pantai  Laut  Hitam,  di  antara beribu-ribu batu kecil yang
persis sama bentuknya. Yang  membedakan  Batu  Ajaib  dengan
batu-batu  yang  lain  hanyalah  ini:  batu-batu  lain kalau
disentuh, rasanya dingin, Batu  Ajaib  itu  rasanya  hangat,
seolah-olah  hidup. Orang itu sangat bergembira karena nasib
baik itu. Ia menjual segala sesuatu yang ia miliki, meminjam
uang  yang dapat dipakai selama satu tahun dan pergi ke Laut
Hitam. Di sana ia memasang  kemah  dan  mulai  mencari  Batu
Ajaib itu dengan saksama.

Inilah  cara  ia  bekerja: ia mengangkat sebutir batu, kalau
batu itu dingin, ia tidak melemparkannya kembali  ke  pantai
karena   kalau  demikian  mungkin  ia  akan  mengangkat  dan
merasakannya  berpuluh-puluh  kali.  Batu  dingin   itu   ia
lemparkan  ke  laut.  Demikian setiap hari selama berjam-jam
terus-menerus  dengan  tekun  ia  bertahan  dalam  usahanya:
mengangkat sebutir batu, kalau terasa dingin, melemparkannya
ke laut. Mengangkat yang lain  ...  demikian  terus  menerus
tidak pernah berhenti.

Satu  minggu  lewat,  satu  bulan, sepuluh bulan, satu tahun
penuh, ia terus bekerja. Lalu  ia  meminjam  uang  lagi  dan
bertahan  terus  sampai  dua tahun. Begitu ia terus bekerja:
mengangkat  sebutir  batu,  merasakannya  ...  kalau  terasa
dingin,    melemparkannya   ke   dalam   laut.   Berjam-jam,
berhari-hari, berminggu-minggu  ...  masih  belum  menemukan
Batu Ajaib.

Pada suatu sore ia mengambil sebutir batu dan rasanya hangat
- dan karena kekuatan  kebiasaannya,  ia  melemparkannya  ke
Laut Hitam!

   
BIARAWATI YANG MATI DENGAN PAKAIAN LAMA

Seorang biarawati tua yang  sudah  mencoba  pakaian  barunya
sedang berbicara mengenai penguburannya dengan pemimpinnya.

"Saya  ingin  dikubur  dengan mengenakan pakaian yang lama,"
katanya.

"Tentu," kata pemimpinnya, "kalau engkau merasa  lebih  enak
dengan itu!"

Kalau  diri sudah tidak ada, orang mati - dan seperti mayat,
orang merasa enak dalam apa saja.

Bagaimanapun, seseorang yang pikirannya  sudah  bulat  untuk
tenggelam,  tidak  menuntut  untuk  diberi  kain kering agar
tenggelamnya lebih menyenangkan.



BUDDHA DAN PRASANJIT

Ketika Buddha masuk ke ibu kota Raja Prasanjit, Raja sendiri
keluar untuk menyambutnya. Ia adalah sahabat ayah Buddha dan
telah mendengar tentang penyangkalan diri pemuda  itu.  Maka
ia  mencoba  untuk  membujuk Buddha supaya meninggalkan cara
hidup  sebagai  pengemis  yang  mengembara  dan  kembali  ke
istana.  Ia  berpikir dengen demikian ia berbuat baik kepada
kawan lamanya.

Buddha menatap mata Prasanjit dan  berkata,  "Jawablah  saya
dengan   jujur.   Dengan   kesenangan   lahiriahmu,   adakah
kerajaanmu  pernah  memberikan  kegembiraan  barang   sehari
kepadamu?"

Prasanjit menundukkan kepala dan diam.

Tidak  ada  kegembiraan  yang  lebih  besar  daripada  tidak
mempunyai alasan untuk bersedih;  tidak  ada  kekayaan  yang
lebih besar daripada merasa puas dengan yang engkau miliki.

   

CALVIN COOLIDGE YANG DIAM

Ketika Calvin Coolidge menjadi Presiden Amerika, setiap hari
ia  menerima  banyak  tamu.  Kebanyakan  mereka menyampaikan
keluhan ini atau itu.

Pada suatu hari  seorang  Gubernur  yang  sedang  berkunjung
mengatakan  kepada  Presiden, ia tidak mengerti bagaimana ia
dapat menerima begitu banyak tamu dalam beberapa jam saja.

"Bagaimana bapak dapat  selesai  menerima  semua  tamu  pada
waktu  makan malam," kata Gubernur, "sedang saya sering kali
harus tinggal di kantor sampai tengah malam."

"Tentu saja," kata Coolidge, "Karena bapak berbicara."

   

DINAIKKAN ATAU DITURUNKAN

Dua truk diparkir bertolak belakang  dan  seorang  pengemudi
truk sedang berjuang untuk mengangkat sebuah peti besar dari
truk yang satu ke truk yang lain.

Seorang lewat ketika melihat keadaan seperti itu menyediakan
diri  untuk  menolong.  Maka  kedua  orang  itu  bekerja dan
berusaha sekuat tenaga selama lebih dari setengah iam, tanpa
hasil.

"Saya  khawatir,  pekerjaan  kita tidak akan berhasil," kata
orang lewat itu. "Kita tidak akan pernah dapat menurunkannya
dari truk."

"Menurunkan!" seru pengemudi itu. "Masyaalah, saya tidak mau
menurunkan, saya mau menaikkan!"

   
DIOGENES DI PASAR BUDAK

Diceritakan, ketika Diogenes seorang filsuf Yunani ditangkap
dan dibawa untuk dijual di pasar budak, ia  naik  ke  tempat
juru  lelang dan berteriak keras, "Seorang Guru telah datang
ke tempat ini untuk dijual. Adakah budak  di  antara  kalian
yang ingin membelinya?"

Tidak   mungkin  menjadikan  budak  orang-orang  yang  sudah
mengalami penerangan batin, karena  mereka  sama  bahagianya
entah  dalam  keadaan  sebagai  budak  maupun  sebagai orang
merdeka.

   

DOKTER MEMERIKSA LUKISAN


Seorang pelukis besar minta agar temannya,  seorang  dokter,
datang  dan  melihat hasil karya yang ia anggap paling baik.
Dokter  itu  mengamati  lukisan   dengan   sangat   saksama,
memeriksanya   sampai  hal-hal  yang  kecil.  Sepuluh  menit
berlalu dan sang pelukis menjadi sedikit khawatir "Bagaimana
pendapatmu," tanyanya.

Dokter  itu  berkata, "Kelihatannya seperti radang paru-paru
ganda. "

   

BAGAIMANA DR.CHUNG MENYELAMATKAN

"Syukurlah  pada  waktu tamasya kami membawa seekor keledai.
Sebab ketika salah  seorang  dari  anak-anak  terluka,  kami
menggunakan keledai itu untuk membawanya pulang." "Bagaimana
dia sampai dapat terluka?" "Disepak oleh keledai itu!"

"Dapatkah engkau menyarankan seorang dokter yang baik?"

"Saya sarankan  Dr.  Chung.  Ia  telah  menyelamatkan  hidup
saya."

"Bagaimana itu terjadi?"

"Begini,  saya  menderita  penyakit  berat  dan pergi ke Dr.
Ching. Saya makan obat yang ia  berikan,  dan  keadaan  saya
semakin  buruk.  Maka saya memeriksakan diri pada Dr. Chang.
Saya makan obat yang ia berikan, dan saya hampir mati.  Maka
akhirnya saya pergi ke Dr. Chung - dan ia tidak ada."


DUA BINTANG DIATAS GUNUNG


Pada   suatu   ketika   ada  seorang  yang  hidupnya  sangat
bermatiraga. Ia tidak mau makan atau minum  meskipun  berada
di  bawah  panas  terik  matahari.  Tampaknya  cara hidupnya
mendapat restu dari surga karena  ada  sebuah  bintang  yang
sangat cemerlang bersinar di atas gunung yang terletak dekat
dengan tempat itu. Bintang  itu  dapat  dilihat  oleh  semua
orang  bahkan di siang hari bolong, meskipun tidak ada orang
tahu mengapa ada bintang seperti itu.

Pada suatu hari orang itu memutuskan untuk  mendaki  gunung.
Seorang  gadis  kecil  dari  desa  itu  memaksa  untuk pergi
bersamanya. Hari itu panas dan segera  saja  dua  orang  itu
merasa  haus. Ia menyuruh gadis itu untuk minum. Namun gadis
itu berkata, ia tidak mau minum kalau sendirian.  Orang  itu
bingung.  Ia  tidak  suka  membatalkan puasanya, tetapi juga
tidak senang melihat gadis kecil itu kehausan.  Akhirnya  ia
minum bersama dengan gadis kecil itu.

Lama  ia  tidak  berani  memandang  ke  atas karena ia takut
jangan-jangan  bintang  tadi  telah  menghilang.   Bayangkan
betapa  ia  terkejut  karena  ketika  ia melihat ke atas, ia
melihat dua bintang bersinar cemerlang di atas gunung.

                     (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar