Check out the Latest Articles:

Rabu, 20 April 2011

7. TISSAMETTEYYA SUTTA : Sang Buddha menjelaskan jenis-jenis akibat yang tidak dikehendaki yang muncul dari kontak-kontak hawa nafsu

7. TISSAMETTEYYA SUTTA

Tissametteyya
Puji-pujian terhadap kehidupan selibat

Tissametteyya:
1. O, Guru yang agung, beritahukanlah apa salahnya manusia terbiasa melakukan hubungan seksual. Dengan mempelajari peringatan Guru, kami akan melatih diri dalam kesendirian. (814)

Sang Buddha:
2. Di dalam diri manusia yang terbiasa melakukan hubungan seksual tidak lagi terdapat praktek Ajaran dan dia tidak lagi belajar. Dia menggunakan dirinya secara salah. Itulah yang tercela di dalam dirinya. (815)
3. Bagi manusia yang pada mulanya bisa berjalan sendirian tetapi kini memiliki kebiasaan melakukan hubungan seksual, para bijaksana menyebut manusia tak-terkendali seperti itu makhluk biasa yang rendah, seperti kereta sempoyongan. (816)
4. Kemasyhuran dan nama baik yang sebelumnya dimilikinya lenyaplah sudah. Karena melihat hal ini, sudah seharusnya dia berlatih meninggalkan hubungan seksual. (817)
5. Dia yang dikuasai oleh buah-pikir akan terus-menerus memikirkan hal itu bagaikan manusia sengsara. Dan setelah mendengar celaan manusia lain, dia menjadi tertekan. (818)
6. Karena tersiksa oleh kata-kata orang lain, dia menghancurkan hidupnya sendiri dengan tindakan-tindakan yang salah. Dia menjadi melekat dan tenggelam di dalam kepalsuan. (819)
7. Pada mulanya, ketika dia menjalani kehidupan kesendirian, para bijaksana menganggapnya ‘manusia bijaksana’, tetapi semenjak dia memanjakan diri di dalam hubungan seksual, mereka menyebutnya ‘manusia tolol!’ (820)
8. Karena menyadari bahaya di dunia ini dari awal sampai akhirnya, secara ketat manusia bijaksana menjaga kehidupan kesendiriannya. Dia tidak menyerahkan diri pada hubungan seksual. (821)
9. Hendaknya dia berlatih di dalam kehidupan kesendirian, karena itulah kehidupan yang suci. Karena itu dia tidak boleh menganggap dirinya yang terbaik. Sesungguhnya, dia adalah manusia yang berada di ambang pembebasan [Nibbana]. (822)
10. Manusia bijaksana yang tenang dan hidup sendirian ini tetap bebas dari nafsu-nafsu indera dan telah menyeberangi arus kecenderungan-kecenderungan semacam itu. Mereka yang terbelenggu oleh ikatan-ikatan seksual benar-benar iri kepadanya. (823)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar