Check out the Latest Articles:

Jumat, 22 April 2011

Doa Sang Katak

Doa Sang Katak

oleh Anthony de Mello SJ


DOKTER TAHU LEBIH BAIK
 

Percaya kepada kekuasaan membahayakan pemahaman:

Seorang dokter membungkuk  memeriksa  tubuh  yang  terbaring
lemas  di  tempat  tidur.  Kemudian  ia  tegak  berdiri  dan
berkata, "Maaf, saya terpaksa mengatakan bahwa suamimu sudah
tidak ada lagi."

Suara protes lemah terdengar dari tubuh lemas yang terbaring
di tempat tidur itu. "Tidak, saya masih hidup."

"Diam," kata istrinya. "Dokter lebih tahu daripada engkau."


DUA JAGO TEMBAK


Dua orang jago tembak akan berduel, untuk  itu  disiapkanlah
tempat  di  kedai  minum.  Salah  satu  dari mereka berbadan
kecil,  tidak  mengesankan,  namun  ia  adalah  jago  tembak
profesional.  Yang lain yang besar dan gagah protes, "Tunggu
sebentar. Ini tidak adil. Sasaran dia lebih besar."

Yang kecil  cepat  saja  mengajukan  usul.  Sambil  berbalik
kepada  memilik  kedai  minum  itu berkata, "Tandailah badan
orang itu dengan garis  sebesar  ukuran  badan  saya.  Semua
peluru  saya  yang  kena  pada  bagian  di  luar garis tidak
dihitung."

Orang yang sudah mengalami penerangan batin lebih memikirkan
hidup daripada kemenangan.

   
GEMBALA SUKA SEGALA CUACA

Orang bepergian: "Akan seperti apa cuaca hari ini?"

Gembala: "Cuaca yang saya sukai."

"Bagaimana engkau tahu cuaca akan seperti yang kausukai? "

"Tuan, karena saya sudah mengalami bahwa saya  tidak  selalu
memperoleh  yang  saya  inginkan,  saya  sudah belajar untuk
selalu menyukai yang saya dapatkan. Maka  saya  yakin  bahwa
cuaca hari ini akan seperti yang saya sukai."

Kegembraan  dan  tidak adanya kegembiraan terletak pada cara
kita  menghadapi  kejadian-kejadian,  tidak   pada   hakikat
kejadian-kejadian itu sendiri.

   

GIPSI

Di  sebuah kota di daerah perbatasan, ada seorang lelaki tua
yang sudah lima puluh tahun tinggal di rumah yang sama.

Pada suatu hari ia membuat semua orang  terkejut  karena  ia
berpindah  ke  rumah  sebelah. Wartawan surat kabar setempat
menemuinya dan bertanya mengapa ia pindah.

Ia menjawab dengan tersenyum puas, "Saya  kira  gipsi  dalam
diri saya yang melakukannya."

Apakah   pernah  kamu  dengar  mengenai  orangyang  menemani
Kristoforus Kolumbus dalam ekspedisinya ke  Dunia  Baru?  Ia
selalu   cemas  karena  mungkin  tidak  dapat  kembali  pada
waktunya untuk menggantikan pekeryaan  penjahit  yang  sudah
tua  di  desanya  sehingga mungkin orang lain akan mengambil
pekerjaan itu.

Agar berhasil dalam  pencarian  yang  disebut  hidup  batin,
orang  harus  memusatkan perhatian untuk memperoleh hal yang
paling bernilai dalam hidup. Kebanyakan orang  tergiur  oleh
hal-hal  yang sepele seperti kekayaan, nama baik, kenikmatan
dan persahabatan manusiawi.

Ada orang yang begitu tergila-gila oleh  kemasyhuran  sampai
siap  untuk  mati  di  tiang  gantungan kalau dengan begitu
namanya akan  terpasang  pada  berita-berita  utama.  Apakah
sungguh ada perbedaan antara dia dan kebanyakan usahawan dan
orang-orang  politik?  (Belum  lagi  di  antara  kita   yang
mengagungkan hal seperti itu lewat pendapat umum).


GULA-GULA BERBENTUK BINATANG

Pada suatu ketika  adalah  seorang  pembuat  gula-gula  yang
membuat  gula-gula  dalam berbagai macam bentuk binatang dan
burung dengan berbagai macam  warna  dan  ukuran.  Kalau  ia
menjual   gula-gula   kepada   anak-anak,   mereka  biasanya
bertengkar dengan kata-kata seperti  ini:  "Kelinciku  lebih
baik   daripada  singamu  ...  Tupaiku  memang  lebih  kecil
daripada gajahmu, tetapi lebih enak ..."

Pembuat gula-gula itu akan menertawakan pikiran  orang-orang
dewasa  yang  tidak  kurang  bodoh  daripada anak-anak kalau
mereka berpikir bahwa pribadi yang satu lebih baik  daripada
yang lain.

Penerangan  batin  tahu  bahwa  yang  memisah-misahkan  kita
bukanlah kodrat kita  melainkan  kebudayaan  dan  lingkungan
kita.

   

GURU DAN MUTIARA

Seorang  guru  sedang  bermeditasi  di  tepi  sungai  ketika
seorang  murid  membungkuk  dan meletakkan dua butir mutiara
indah di depan kakinya, sebagai tanda hormat dan baleti.

Guru  itu  membuka  matanya,  mengangkat  salah  satu  butir
mutiara itu dan memegangnya sembarangan sehingga mutiara itu
jatuh dan menggelinding masuk ke dalam sungai.

Murid itu menjadi cemas dan segera meloncat masuk  ke  dalam
sungai. Akan tetapi meskipun ia berkali-kali menyelam sampai
malam, ia tidak berhasil.

Akhirnya dengan pakaian basah  kuyup  dan  badan  lelah,  ia
membangunkan  guru  dari  meditasinya,  "Guru  tahu  di mana
mutiara itu jatuh. Tunjukkanlah tempatnya supaya saya  dapat
mengambilnya lagi dan mengembalikannya kepada guru."

Guru  itu  mengangkat  mutiara  yang lain, melemparkannya ke
dalam sungai dan berkata, "Di situ!"

Janganlah mencoba memiliki benda karena  benda  tidak  dapat
sungguh-sungguh  dimiliki.  Hanya  pastikanlah  bahwa engkau
tidak dimiliki oleh benda-benda itu, dan engkau akan menjadi
penguasa ciptaan.



GURU KEHILANGAN PENGECAM

Pada  suatu ketika adalah seorang rabbi yang dihormati orang
sebagai  seorang  yang  dekat  dengan  Allah.  Setiap   hari
sekelompok  orang  berdiri  di  depan  pintu  rumahnya untuk
mencari nasihat, mengharapkan penyembuhan atau  berkat  dari
orang suci itu. Dan setiap kali rabbi berbicara, orang-orang
itu akan mematuhi ucapannya dan menelan semua kata-katanya.

Namun di antara pendengarnya itu ada orang yang  tidak  baik
yang selalu mencari kesempatan untuk menentang sang Guru. Ia
mencari   kelemahan-kelemahan   rabbi    dan    menertawakan
kekurangan-kekuranqgan  itu.  Murid-murid rabbi tidak senang
akan dia dan mulai menganggapnya sebagai jelmaan setan.

Pada suatu hari "setan" itu  jatuh  sakit  dan  mati.  Semua
orang   merasa   lega.   Secara  lahiriah  mereka  kelihatan
berdukacita, akan tetapi dalam  hati  mereka  senang  karena
kata-kata  Guru  yang  begitu inspiratif tidak akan diganggu
lagi dan tingkah-lakunya yang mengandung kecaman tidak  akan
dikritik lagi oleh orang yang tidak sopan itu.

Orang-orang  terkejut  melihat  sang  Guru  tenggelam  dalam
dukacita sejati yang mendalam pada saat penguburan. Kemudian
ketika ditanya oleh seorang murid apakah ia berdukacita atas
nasib kekal orang yang mati itu, ia berkata, "Tidak,  tidak.
Mengapa saya harus berdukacita atas teman kita yang sekarang
ada di surga? Saya  berdukacita  untuk  diri  saya  sendiri.
Orang  itu  adalah  satu-satunya  kawan  saya.  Di sini saya
dikelilingi oleh orangorang yang menghormati saya. Ia adalah
satu-satunya   yang   menantang  saya.  Saya  takut  sesudah
kepergiannya, saya tidak berkembang lagi." Dan  ketika  Guru
itu mengucapkan kata-kata ini, ia menangis tersedu-sedu.


BERAPA HARGA PERDAMAIAN?

"Hari ini engkau tampak lelah Jack, ada apa?"

"Ah,  saya  baru pulang ke rumah pagi-pagi sekali dan ketika
saya  sedang  berganti  pakaian  istri  saya  terbangun  dan
berkata,  'Apakah  engkau  tidak  bangun terlalu pagi Jack?'
Maka untuk menghindari pertengkaran, saya mengenakan pakaian
saya dan kembali bekerja lagi."

Berapa harga sebuah perdamaian?


HARTA DALAM DAPUR SENDIRI

[Suatu] kisah orang-orang Hasidim:

Pada  suatu  malam dalam mimpi, rabbi Iskak diberitahu untuk
pergi jauh ke Praha dan di sana menggali  harta  tersembunyi
di   bawah  jembatan  yang  menuju  istana  raja.  Ia  tidak
memikirkan mimpi itu  sungguh-sungguh.  Akan  tetapi  ketika
mimpi  itu terjadi empat atau lima kali, ia memutuskan untuk
pergi mencari harta itu.

Ketika ia sampai ke jembatan.  ia  terkejut  karena  melihat
bahwa  jembatan  itu  dijaga ketat siang malam oleh serdadu.
Satu-satunya yang dapat ia lakukan adalah  melihat  jembatan
itu  dari  jauh.  Akan tetapi karena ia pergi ke sana setiap
pagi, pemimpin penjaga itu pada suatu hari menemuinya  untuk
bertanya  mengapa.  Rabbi  Iskak  yang sebenarnya malu untuk
menceritakan  mimpinya  kepada  orang   lain,   menceritakan
segala-galanya karena ia senang dengan sikap dan watak orang
Kristen yang baik ini.  Pemimpin  itu  tertawa  meledak  dan
berkata.  "Astaga.  Engkau seorang rabbi  dan engkau percaya
kepada mimpi? Seandainya saya tolol dan bertindak atas dasar
mimpi   saya   sendiri,  sekarang  saya  sudah  berkelililig
Polandia. Coba saya ceritakan salah  satu  mimpi  saya  tadi
malam yang terus kembali: suatu suara mengatakan kepada saya
unruk pergi ke Krakow dan  menggali  harta  di  pojok  dapur
seorang yang bernama Iskak, anak Yeheskiel! Bukankah sesuatu
yang paling tolol di seluruh dunia untuk mencari di  seluruh
Krakow  seorang  yang  bernama  Iskak  dan  orang  lain yang
bernama Yeheskiel kalau separoh dari seluruh  penduduk  pria
mungkin bernama Iskak dan separoh yang lain Yeheskiel?"

Rabbi  itu  tertegun.  Ia  mengucapkan  terima  kasih kepada
pemimpin itu atas nasihatnya, segera pulang, menggali  pojok
dapurnya  dan  menemukan  harta  berlimpah  yang cukup untuk
hidup bahagia sampai hari kematiannya.

Pencarian rohani adalah suatu perjalanan tanpa jarak. Engkau
berjalan  dari  tempat  sekarang  engkau berada ke tempat di
mana  engkau  selalu  berada.  Dari   ketidaktahuan   menuju
pemahaman,  karena  semua yang engkau lakukan adalah melihat
untuk pertama kali hal yang sudah selalu engkau pandang.

Siapa yang pernah mendengar tentang suatu jalan yang membawa
engkau  kepada  dirimu sendiri, atau suatu cara yang membuat
engkau  menjadi  sebagaimana  engkau   selalu?   Sebenarnya,
kerohanian   hanyalah  masalah  menjadi  sebagaimana  engkau
sesungguhnya.

   

HARTA DALAM GUNUNG YANG MENGHILANG

Inilah  kisah  yang  diceritakan  oleh  seorang  Guru kepada
murid-muridnya  untuk  menunjukkan   kerugian   yang   dapat
diakibatkan  oleh  keterikatan  akan  satu  hal yang sepele,
dalam diri orang-orang yang telah kaya  dalam  rahmat  hidup
batin:

Pada  suatu ketika seorang desa berjalan melewati sebuah gua
di pegunungan, persis pada waktu gua itu  menampakkan  salah
satu  dari keajaiban-keajaibannya yang jarang tampak, kepada
semua orang yang ingin memperkaya diri mereka  dengan  harta
yang  ada  di  dalamnya.  Ia  masuk  ke dalamnya dan melihat
gunung emas dan batu-batu berharga. Dengan  tergesa-gesa  ia
memasukkannya   ke   dalam  kantung  yang  ada  di  punggung
keledainya, karena ia tahu dari legenda bahwa gua itu  hanya
terbuka  dalam jangka waktu yang sangat terbatas. Maka harta
itu harus diambil dengan tergesa-gesa.

Keledai itu penuh muatan dan ia kembali  dengan  kegembiraan
besar  karena nasibnya yang begitu baik. ketika itu ia ingat
bahwa tongkatnya ketinggalan di gua. Ia  kembali  dan  cepat
masuk  ke dalam gua. Tibalah waktu bagi gua untuk menghilang
dan dengan demikian orang itu hilang bersama gua  itu  tanpa
pernah muncul lagi.

Sesudah  menunggunya  satu  atau dua tahun, orang-orang desa
menjual harta  yang  mereka  temukan  di  atas  keledai  dan
memperoleh  keberuntungan  dari nasib baik orang yang malang
itu.

Kalau burung pipit membuat sarangnya di  hutan,  sarang  itu
menempati sebuah ranting. Kalau rusa memuaskan dahaganya, di
sungai ia minum tidak lebih daripada  yang  dapat  ditampung
oleh perutnya .

Kita mengumpulkan barang karena hati kita kosong.

   

HATI

... karena yang paling hakiki tidak ada.

Menurut suatu dongeng India  kuno,  ada  seekor  tikus  yang
selalu  tertekan  karena takut kepada seekor kucing. Seorang
tukang sihir  merasa  kasihan  kepadanya  lalu  menqgubahnya
menjadi  seekor  kucing.  Tetapi  kemudian  ia menjadi takut
kepada anjing. Maka tukang  sihir  itu  mengubahnya  menjadi
anjing.  Tetapi  ia  mulai takut kepada harimau. Maka tukang
sihir itu mengubahnya menjadi  harimau,  yang  merasa  takut
kepada  pemburu.  Pada  saat  itu  tukang sihir menyerah. Ia
mengubahnya menjadi seekor tikus lagi dan berkata, "Apa  pun
yang  saya  lakukan  tidak  akan  membantumu  karena  engkau
mempunyai hati seekor tikus."

   

BAGAIMANA BUDDHA MENEMUKAN JALAN TENGAH

Ketika  Buddha  pertama  kali  mulai pencarian batinnya, ia
melakukan banyak matiraga.

Ia duduk bermeditasi di bawah pohon.  Pada  suatu  hari  dua
orang  pemain  musik lewat dekat pohon itu. Yang satu sedang
berbicara dengan yang lain, "Jangan menyetel  senar  sitermu
terlalu  kuat,  nanti putus. Jangan juga memasangnya terlalu
lembek, nanti tidak dapat berbunyi.  Setellah dengan  ukuran
tengah-tengah."

Kata-kata  itu  sangat  kuat  menyentuh  hati Buddha, sampai
mengubah seluruh cara pendekatan hidup  batinnya.  Ia  yakin
bahwa  kata-kata  itu ditujukan kepadanya. Sejak saat itu ia
berhenti dari matiraganya yang  keras  dan  mulai  mengikuti
jalan  yang  mudah  dan  ringan,  yaitu  jalan  keugaharian.
Pendekatannya ke arah penerangan batin disebut Jalan Tengah.



RAJA JANAKA DAN ASHTAVAKRA

Tidak ada dunia yang lain kecuali yang satu ini. Akan tetapi
ada dua cara untuk memandangnya.

Pada zaman  dulu  di  India,  adalah  seorang  raja  bernama
Janaka.  Ia  adalah  juga seorang bijaksana. Pada suatu hari
Janaka sedang mengaso di  tempat  tidurnya  yang  bertaburan
dengan  bunga.  Hambanya  mengipasinya  dan  serdadu-serdadu
menjaganya di luar pintu. Ketika ia terlelap,  ia  bermimpi.
Raja  dari  negara  tetangga mengalahkannya dalam perang. Ia
dijadikan tawanan dan disiksa. Ketika penyiksaan itu  mulai,
Janaka   bangun  dan  terkejut  karena  ternyata  ia  sedang
berbaring di tempat tidurnya yang bertaburan  bunga,  dengan
hamba-hamba   yang  mengipasinya  dan  serdadu-serdadu  yang
menjaganya.

Sekali lagi ia terlelap dan bermimpi  yang  sama  lagi.  Dan
sekali  lagi ia bangun dan sadar bahwa ia aman dan nyaman di
istananya.

Kemudian Janaka diganggu oleh suatu  pikiran:  sementara  ia
tidur dunia mimpi-mimpinya tampak begitu nyata. Dan sekarang
ketika ia terjaga dunia sadarnya tampak nyata. Manakah  dari
keduanya yang sungguh-sungguh nyata? Ia ingin tahu.

Tidak  seorang  filsuf,  cendekiawan dan pelihat pun yang ia
tanyai dapat memberikan jawaban. Dan  selama  bertahun-tahun
ia  sia-sia  mencari,  sampai  pada  suatu hari seorang yang
bernama Ashtavakra mengetuk pintu istana. Astavakra  berarti
berbentuk  jelek,  buruk  rupa.  Ia menerima nama itu karena
memang demikianlah dirinya sejak lahir.

Pertama-tama   raja   tidak   mau   memandang   orang    ini
sungguh-sungguh.  "Bagaimana  seorang  reot  semacam  engkau
dapat menjadi pembawa kebijaksanaan yang tidak dipunyai oleh
para ilmuwan dan pelihatku?" tanyanya.

"Sejak  masa  kanak-kanakku,  semua sumber tertutup bagiku -
maka   dengan   sangat   bersemangat   saya   meniti   Jalan
kebijaksanaan," jawab Ashtavakra.

"Kalau begitu, bicaralah," kata raja.

Inilah yang dikatakan oleh Ashtavakra, "Oh raja baik keadaan
terjaga maupun mimpi tidaklah  nyata.  Kalau  raja  terjaga,
dunia  mimpi  tidak  ada dan kalau raja bermimpi dunia sadar
tidak ada. Oleh sebab itu tidak satu pun nyata."

"Kalau baik  keadaan  terjaga  maupun  keadaan  mimpi  tidak
nyata, lalu apa yang nyata?" tanya raja.

"Ada  keadaan  yanqg  melampaui keduanya. Carilah itu. Hanya
itu sajalah yang nyata."

Orang yang sudah mengalami penerangan batin menganggap  diri
mereka   terjaga   maka   dalam   kebodohan  mereka,  mereka
menganggap beberapa orang baik dan yang lain buruk, beberapa
peristiwa menggembirakan dan yang lain menyedihkan.

Orang-orang   yang  sadar  tidak  lagi  berada  dalam  kuasa
kehidupan  dan  kematian,   perkembangan   dan   kehancuran,
keberhasilan   dan   kegagalan,   kemiskinan  dan  kekayaan,
kehormatan dan penghinaan. Bagi  mereka,  bahkan  kelaparan,
kehausan,   panas  dan  dingin  yang  dialami  sebagai  yang
sementara dalam aliran arus kehidupan tidak  lagi  mempunyai
kuasa  atas  diri mereka. Mereka sudah sampai pada kesadaran
bahwa tidak pernah ada keperluan  untuk  mengubah  apa  yang
mereka lihat - hanya cara melihatnya.

Maka  mereka  lalu  menjadi  seperti  air, lembut dan lentur
namun kekuatannya tidak tertahankan; tidak  memaksakan  akan
tetapi  menjadi  berkat  bagi semua makhluk. Dengan tindakan
mereka  yang  tanpa  pamrih,  orang  lain   diubah;   karena
ketidakterikatan mereka, seluruh dunia menjadi subur; karena
mereka bebas dari nafsu, orang lain dibiarkan tak tercemar.

Air dialirkan keluar dari sungai untuk mengairi  sawah.  Air
tidak  pernah  meributkan apakah ia berada di sungai atau di
sawah. Demikianlah orang  yang  sudah  mendalami  penerangan
batin  bertindak  dan  hidup dengan lembut sekaligus perkasa
sesuai dengan tujuan hidupnya.

Inilah orang-orang yang menjadi musuh laknat masyarakat yang
tidak  suka akan hidup yang lentur dan mengandalkan latihan,
perintah, rutin, ortodoksi dan konformitas.

                     (DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
                        Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1990)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar