Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha 13

Ringkasan Milinda Panha 13

Bagian Tiga Belas

52. Dua Buddha Tidak Dapat Muncul Bersama

"Sang Buddha bersabda:

'Dalam dunia ini, tidak mungkin dua Buddha yang telah mencapai Penerangan Sempurna ada bersamaan'. (M.iii.65; A.i.27; Vbh.336)

Tetapi, Yang Mulia Nagasena. Jika semua Tathagata mengajarkan ajaran yang sama, mengapa mereka tidak boleh ada bersama? Jika ada dua Buddha, mereka akan dapat mengajar lebih santai dan dunia ini akan lebih mendapat penerangan".

"O Baginda. Seandainya ada dua Buddha muncul sekaligus, bumi ini tidak akan mampu menahan beban kebajikan mereka berdua. Bumi akan bergetar, bergoncang dan hancur. Misalnya, O Baginda. Ada orang yang telah makan begitu banyak sehingga tidak ada lagi tempat yang tersisa di perutnya. Jika ia harus makan sebanyak itu lagi, apakah ia akan merasa nyaman?"

"Tentu saja tidak, Yang Mulia. Jika ia makan lagi, ia akan mati".

"Demikian juga halnya, O Baginda raja. Bumi ini tidak akan dapat tahan kalau terdapat satu Tathagata lagi. Sama halnya seperti orang yang tidak akan dapat tahan kalau harus makan lagi. Dan jika ada dua Buddha, maka akan timbul persengketaan di antara para pengikutNya. Lagipula, pernyataan bahwa Sang Buddha adalah yang utama dan tidak ada bandingannya akan menjadi salah".

'Dengan baik sekali dilema ini telah dijelaskan. Bahkan orang yang tidak pandai pun akan merasa puas, apalagi orang yang bijaksana. Bagus sekali, Yang Mulia Nagasena. Aku menerimanya seperti yang telah Bhante katakan".



53. Persembahan Bagi Sangha

"Ketika Mahapajapati Gotami mempersembahkan jubah mandi bagi Sang Buddha, Beliau bersabda padanya:

'Berikanlah pada Sangha, Gotami. Jika kau berikan pada Sangha, Aku akan merasa dihormati. Demikian juga Sangha'.

Apakah itu karena Sangha lebih penting dari pada Sang Buddha?"

"O Baginda. Bukan berarti bahwa persembahan bagi Sang Buddha tidak akan memberikan manfaat yang besar. Itu dimaksudkan untuk menunjukkan kebesaran Sangha sehingga pada waktunya nanti Sangha akan dijunjung tinggi. Seperti halnya, Baginda tuan, seorang ayah memuji anaknya di pengadilan kerajaan dengan pikiran, "Jikalau ia mendapat nama baik di sini sekarang, maka dia akan dihormati juga setelah aku tiada'. Atau misalkan, O Baginda. Seseorang mempersembahkan suatu hadiah pada raja, dan kemudian raja memberikan hadiah itu kepada orang lain —prajurit atau pesuruh. Apakah orang itu lalu menjadi lebih tinggi dibandingkan raja?"

"Tentu saja tidak, Yang Mulia. Orang itu menerima gajinya dari sang raja, dan rajalah yang menempatkannya pada kedudukan itu".

"Demikian juga, O Baginda. Sangha tidak menjadi lebih tinggi dibandingkan Sang Tathagata hanya karena suatu persembahan. Dan tidak ada, O Raja. Makhluk apapun yang lebih pantas menerima persembahan dari pada Sang Tathagata (M.iii.253). Hal ini telah disabdakan oleh Sang Buddha sendiri:

'Ada satu makhluk, O para bhikkhu, yang dilahirkan di dunia ini demi kebaikan dan manfaat banyak pihak, karena rasa welas asihnya pada dunia, serta demi kebaikan dan manfaat para dewa dan manusia. Dan siapakah makhluk itu? Seorang Tathagata, seorang Arahat, Buddha Yang Utama". (A.i.20)



54. Manfaat Hidup Sebagai Pertapa

"Sang Buddha bersabda:

'Aku akan memuji umat awam ataupun bhikkhu yang telah berlatih dengan benar dan mendapatkan cara yang benar'. (M.ii.197; A.i.69)

Jika seorang umat awam, yang menikmati kenikmatan indria, hidup dengan istri serta anak-anaknya, menggunakan wewangian serta menerima emas dan perak, dapat mencapai tingkat Arahat, lalu apa gunanya menjadi seorang bhikkhu dengan kepala tercukur, makan tergantung pada pemberian umat, memenuhi 150 aturan dan menjalani tiga belas latihan pertapa? Bhikkhu menahan diri tidak ada hasilnya, bhikkhu meninggalkan keduniawian tidak ada gunanya, bhikkhu memperhatikan peraturan itu sia-sia belaka, dan bhikkhu mengucapkan tekad lainnya pun tidak ada artinya. Apa gunanya menyusahkan diri sendiri dengan kesulitan, jika dengan kenyamanan pun kebahagiaan itu dapat dicapai?"

"Memang benar adanya jika dikatakan bahwa orang yang berlatih dengan benar adalah orang yang terbaik, tak peduli apakah dia seorang bhikkhu ataupun umat awam. Jika seorang pertapa yang berpikir, 'Aku adalah seorang pertapa' tidak berlatih dengan benar, maka ia jauh dari kehidupan pertapa. Apalagi perumah tangga yang mengenakan pakaian umat awam! Tetapi walaupun demikian, keuntungan yang didapat sebagai seorang pertapa itu terlalu banyak untuk bisa diukur. Karena hanya mempunyai sedikit keinginan, maka ia mudah puas. Ia menjauhkan diri dari masyarakat. Dengan bersungguh hati, tidak berumah-tangga, ia menjalani peraturan, ia teguh dan trampil dalam latihan menyingkirkan kekotoran batin. Karena itulah ia dapat dengan tepat menyelesaikan tugas yag dijalaninya. Seperti halnya, O Baginda. Tombak Baginda, karena halus dan lurus ia dapat dengan cepat mencapai sasaran".



55. Praktek Penahanan Diri

"Ketika Sang Bodhisatta sedang mempraktekkan penahanan diri dengan begitu kerasnya, Beliau tidak dapat mencapai tujuannya. Maka kemudian Beliau meninggalkan praktek tersebut dan berpikir, 'Tak mungkinkah ada jalan lain menuju kebebasan?' (M.i.246). Tetapi ketika menyuruh para muridNya, Beliau bersabda:

'Ambillah tindakan, tinggalkan kehidupan duniawi; Paksakanlah diri kalian dalam ajaranKu; Dan hancurkanlah pasukan kematian; Bagaikan gajah menghancurkan rumah buluh'. (S.i.156, Kvu.203, Thag.256)

Mengapa Sang Tathagata menyuruh para muridNya mengikuti latihan yang oleh Beliau sendiri telah ditinggalkan?"

"Karena pada saat itu, O Baginda, dan masih sampai saat ini juga, hanya itulah satu-satunya jalan. Dan lewat jalan itulah Sang Bodhisatta mencapai ke-Buddha-an. Sang Bodhisatta, yang memaksakan dirinya dengan amat sangat, mengurangi makanan yang dimakannya sampai kemudian tidak makan sama sekali. Karena kurang makan, Beliau lalu menjadi lemah. Akan tetapi ketika Beliau kemudian mulai makan makanan padat, lewat pemaksaan diri jugalah Beliau mencapai ke-Buddha-an. Tidak ada yang salah dalam pemaksaan diri itu. Hanya karena kurang makananlah maka pemaksaan diri itu tidak membawa hasil. Ibarat orang yang dapat meneruskan lagi, bukanlah kesalahan bumi ini maka ia terjatuh. Kesalahannya terletak pada pemaksaan dirinya yang keterlaluan. Seperti halnya, O Baginda. Bila ada orang yang memakai jubah tetapi tidak pernah mencucinya, kesalahannya tidak terletak pada airnya, melainkan pada orang itu. Itulah sebabnya Sang Tathagata mendorong dan memimpin para muridNya di sepanjang jalan itu, Karena Jalan itu selalu siap, dan selalu benar".



56. Kembali Pada Kehidupan Awam

"Apakah benar memperbolehkan umat awam masuk ke dalam Sangha sebelum mereka mencapai Sotapanna Magga? Jika orang seperti itu lalu meninggalkan kehidupan kebhikkhuan, orang-orang mungkin akan berpikir bahwa agama tidak memberikan manfaat".

"Jika, O Baginda. Ada kolam yang airnya sangat bersih dan ada orang yang ingin mandi pergi ke sana, tetapi kemudian dia berbalik pergi lagi tanpa mandi, apakah orang-orang akan menyalahkan orang itu tadi atau kolamnya?"

"Mereka akan menyalahkan orang itu".

"Demikian juga, O Baginda. Sang Tathagata telah membangun kolam yang penuh dengan ajaran Dhamma yang murni. Sang Buddha berpikir, 'Mereka yag mempunyai kekotoran batin tetapi pandai dapat menghilangkan kekotoran mereka di sini'. Tetapi jika ada orang yang kembali ke kehidupan awam tanpa membersihkan kekotoran batinnya, maka yang bersalah adalah orang itu. Tidak ada alasan untuk mencari kesalahan dalam Ajaran. Sebaliknya, mereka yang kembali pada kehidupan berumah-tangga menunjukkan 5 sifat khusus Ajaran Sang Penakluk:



1. betapa mulianya Ajaran itu;

2. betapa murninya Ajaran itu;

3. betapa Ajaran itu terbebas dari segala kejahatan;

4. betapa sulitnya untuk menembus Dhamma; dan

5. betapa banyaknya kontrol diri dalam kehidupan suci.

"Dan bagaimana mereka menunjukkan kemuliaan kehidupan suci itu? Sama halnya, O Baginda. Bila ada orang yang dilahirkan di kasta rendah, miskin dan tidak pandai. Jika ia mendapat kekayaan kerajaan yang agung, tidak lama kemudian ia akan terguling dan terlepas dari kemuliaan. Demikian juga orang yang tidak mempunyai kebijaksanaan dan hanya mempunyai sedikit kebajikan. Bila ia meninggalkan kehidupan duniawi, ia tidak akan mampu melaksanakan Ajaran Sang Penakluk dan akan kembali ke tingkat yang lebih rendah.

Dan bagaimana mereka menunjukkan kemurniannya? Seperti halnya, O Baginda. Bila air jatuh pada bunga teratai, air itu akan bergulir dan tidak melekat pada teratai itu. Demikian juga mereka yang bersifat tidak murni, yang melekat pada pandangan salah. Ketika mereka masuk ke dalam agama Sang Penakluk, tidak lama kemudian mereka akan terlepas dari agama yang murni tanpa kesalahan itu, karena mereka tidak dapat melekat padanya.

Dan bagaimana mereka menunjukkan kebebasannya dari segala tindakan jahat? Seperti samudra yang tidak mau menerima mayat dan dengan cepat menggulungnya ke pantai dan melemparnya ke tanah kering; demikian juga, O Raja. Mereka yang berpikiran jahat dan malas tidak akan dapat bertahan di dalam Sangha dan berhubungan dengan para Arahat yang bebas dari noda.

Dan bagaimana mereka menunjukkan sulitnya menembus Dhamma? Seperti halnya, O Baginda. Seorang pemanah yang ceroboh dan tidak trampil tidak dapat mempertunjukkan keahliannya seperti misalnya membelah rambut, atau mungkin malahan meleset dari sasarannya; demikian juga mereka yang dungu dan bodoh, yang meninggalkan kehidupan duniawi tidak dapat memahami Empat Kesunyataan Mulia Sang Penakluk yang sangat halus. Karena tidak dapat memahaminya, mereka kembali ke tingkat yang lebih rendah".

Dan bagaimana mereka menunjukkan berbagai macam kontrol dalam kehidupan suci? Seperti halnya, O Baginda. Seorang pengecut yang pergi ke medan perang. Ketika dikepung oleh musuhnya dari segala penjuru ia akan berbalik dan lari terbirit-birit, takut kehilangan kehidupannya; demikian juga siapa pun yang tidak terkontrol, tidak tahu malu, tidak sabar dan plin-plan. Ketika meninggalkan kehidupan duniawi, mereka tidak akan mampu melaksanakan berbagai macam peraturan dan akan kembali ke tingkat yang lebih rendah".



57. Penguasaan Para Arahat

"Bhante mengatakan bahwa para Arahat hanya mempunyai satu jenis perasaan, yaitu perasaan fisik, bukan perasaan mental. Tetapi bagaimana hal ini bisa terjadi? Arahat tetap hidup dengan menggunakan tubuhnya. Apakah itu berarti bahwa ia tidak lagi punya kuasa atas tubuhnya? Bahkan burungpun merupakan penguasa sarang yang dipakainya sebagai tempat tinggal".

"O Baginda. Ada sepuluh kondisi dalam tubuh yang berada di luar kontrol Arahat: rasa dingin, rasa panas, rasa lapar, rasa haus, pembuangan kotoran, kencing, lelah, usia tua, sakit dan mati. Seperti halnya semua makhluk yang hidup di dunia ini tergantung pada dunia ini tetapi tidak mempunyai kuasa atasnya, demikian juga Arahat tergantung pada tubuhnya tetapi tidak mempunyai kontrol atasnya".

"Mengapa, Yang Mulia Nagasena, orang biasa merasakan perasaan tubuh dan juga perasaan mental?"

"Karena keadaan pikirannya yang tidak terlatih. Seperti halnya seekor sapi lapar yang diikat dengan tali rumput yang rapuh akan dengan mudahnya memutus tali itu dan lepas, demikian juga perasaan orang biasa menjadi resah karena rasa sakit, sehingga ia merasakan rasa sakit mental juga. Tetapi pikiran seorang Arahat telah terlatih dengan baik. Sehingga ketika tubuhnya terserang rasa sakit, dengan teguh ia memusatkan pikirannya pada pengertian ketidak-kekalan. Pikirannya tidak terganggu dan ia tidak merasakan sakit mental. Sama seperti batang pohon yang kuat tidak tergerak oleh angin meskipun mungkin cabang-cabangnya akan berayun".



58. Kejahatan Berat

"Jika seorang awam telah melakukan kejahatan berat (Garuka Kamma) sebelum ia memasuki Sangha tetapi tidak menyadarinya, apakah ia akan dapat mencapai tingkat sotapanna?"

"Tidak, tidak dapat. Ini disebabkan karena dasar untuk pemahaman Dhamma dalam dirinya telah dihancurkan".

"Tetapi Bhante mengatakan bahwa bila orang menyadari dirinya telah melakukan pelanggaran, akan datang penyesalan yang menyebabkan adanya suatu penghalang dalam pikirannya. Akibatnya, ia tidak akan dapat memahami kesunyataan (A.iii.165). Tetapi bila orang tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan pelanggaran, tidak akan ada penyesalan, dan ia akan tetap merasakan kedamaian dalam pikirannya".

"Jika, O Baginda, ada orang yang telah minum racun tetapi ia tidak menyadarinya, apakah ia masih tetap akan mati?"

"Ya, Yang Mulia".

"Demikian juga, O Baginda. Meskipun seseorang tidak sadar akan pelanggarannya, ia tetap tidak akan dapat memahami kesunyataan".

"Yang Mulia Nagasena, itu pastilah kata-kata dari Sang Penakluk. Mencari-cari kesalahan dalam kata-kata itu akan sia-sia belaka. Kebenaran itu pasti seperti yang Bhante katakan; dan aku menerimanya".



59. Yang Tidak Bermoral

"Apakah perbedaan antara seorang umat awam yang telah berbuat kesalahan dan seorang bhikkhu yang telah berbuat kesalahan?"

"Ada sepuluh sifat yang membedakan seorang bhikkhu yang mempunyai kebiasaan moral yang lemah dengan seorang umat awam yang mempunyai kebiasaan moral yang lemah:



1. Seorang bhikkhu penuh hormat pada Buddha;

2. Ia penuh hormat pada Dhamma; dan

3. Ia penuh hormat pada Sangha;

4. Ia membaca kitab suci dan menanyakan artinya;

5. Ia telah banyak mendengar;

6. Ia memasuki kelompok para bhikkhu dengan penuh harga diri karena takut dicela;

7. Ia menjaga badan dan perkataannya;

8. Ia mengarahkan pikirannya untuk terus berusaha;

9. Ia berteman dengan para bhikkhu; dan

10. Jika berbuat salah ia merahasiakannya.

Dan dengan sepuluh cara ia memurnikan pemberian yang diperolehnya karena keyakinannya:



1. dengan mengenakan jubah para Buddha;

2. dengan kepala yang tercukur ia membawa tanda orang bijak;

3. dengan berteman dengan para bhikkhu;

4. dengan berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha;

5. dengan bertempat tinggal di tempat yang sepi, yang sesuai untuk latihan keras;

6. dengan menyelidiki Dhamma yang tak ternilai harganya;

7. dengan membabarkan Dhamma yang indah;

8. karena ia menjadikan Dhamma sebagai pelita pembimbingnya;

9. karena ia menganggap Sang Buddha itu agung; dan

10. dengan memperhatikan Hari Uposatha.

Karena semua alasan itulah maka ia patut mendapatkan persembahan meskipun ia telah jatuh dari nilai-nilai luhur. Dan ini disabdakan oleh Sang Buddha dalam Majjhima Nikaya:

'Siapapun yang berbudi luhur dan memberi pada yang tidak saleh; Pemberian yang benar-benar dibutuhkan; Pikiran menjadi senang; Sepenuhnya percaya akan buah kamma yang subur; Inilah pemberian yang dimurnikan oleh si pemberi'". (M.iii.Sta.142)

"Alangkah indahnya, Bhante Nagasena. Meskipun pertanyaanku hanya sederhana, jawabannya sungguh luar biasa. Bagaikan seorang juru masak ahli yang diberi sepotong daging biasa, dia mengolahnya menjadi makanan yang pantas bagi seorang raja".



60. Apakah Air Hidup?

"Ada beberapa pengikut sekte lain yang berkata bahwa Bhante mencelakakan suatu kehidupan bila menggunakan air dingin (MLS.ii.41n4; D.i.167). Bila air dipanaskan dalam ketel, ia membuat berbagai suara. Apakah itu disebabkan karena air mempunyai jiwa dan hidup?"

"Tidak, Raja yang agung. Air tidak hidup. Air yang ada dalam kubangan dangkal akan mengering bila terkena panas dan angin, tanpa ada suara apapun yang terdengar. Genderang mengeluarkan suara tetapi ia tidak berisikan kehidupan ataupun sesuatu yang hidup".

***

Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar