Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha 12

Ringkasan Milinda Panha 12

Bagian Dua Belas



41. Mengenai Tempat Tinggal

"Disabdakan oleh Sang Buddha:

'Rasa takut lahir dari keintiman; Debu berasal dari rumah yang didirikan. Tidak berumah, bebas dari keintiman; Inilah pemahaman orang bijak'. (Sn.v.207)

Tetapi Beliau juga bersabda:

'Biarkanlah orang bijak membangun tempat tinggal dan menampung orang terpelajar di situ'. (Vin.ii.147; S.i.100)

Jika pernyataan yang pertama diucapkan oleh Sang Buddha, maka yang kedua pasti salah".

"Kedua pernyataan itu memang diucapkan oleh Sang Tathagatha, O Baginda. Tetapi pernyataan yang pertama mempunyai pengertian khusus berkenaan dengan sifat alami dari segala hal, dan berkenaan dengan apa yang patut diinginkan oleh seorang pertapa. Sedangkan pernyataan yang kedua dikatakan hanya mengenai dua persoalan. Pemberian berupa tempat tinggal telah mendapat pujian tinggi dari para Buddha karena mereka yang telah memberikan persembahan semacam itu akan terbebas dari kelahiran, usia tua, penyakit dan kematian. Dan yang kedua, jika ada tempat tinggal maka akan lebih mudah bagi mereka yang ingin mendengarkan Dhamma untuk mengunjungi para bhikkhu, dibandingkan jikalau para bhikkhu tinggal di hutan. Tetapi hal ini tidak lalu diikuti oleh keinginan para bhikkhu untuk mempunyai tempat tinggal".



42. Kontrol Atas Perut

"Sang Buddha bersabda:

'Jangan kehilangan perhatian sewaktu pindapatta, milikilah kontrol atas perutmu'. (Dhp.v.168)

Tetapi Beliau juga bersabda:

'Ada kalanya, Udayi, Aku makan semangkuk penuh atau bahkan lebih'. (M.ii.7)

Ini juga merupakan masalah yang bersisi dua".

"Kedua pernyataan ini benar, O Raja. Tetapi pernyataan yang pertama mempunyai pengertian khusus dan tidak akan terbukti salah. Orang yang tidak mempunyai kontrol diri atas perutnya akan membunuh makhluk hidup atau mencuri demi perutnya. Dengan dasar pemikiran seperti inilah Sang Buddha bersabda, 'Jangan kehilangan perhatian sewaktu pindapatta, milikilah kontrol atas perutmu'. Sedangkan orang yang mempunyai kontrol diri mendapatkan pandangan terang terhadap Empat Kesunyataan Mulia, dan memenuhi kehidupan sebagai pertapa. Bukanlah seekor beo biasa, O Baginda, melalui kontrol atas perutnya mengguncang Surga ke 33 dan membuat Sakka turun untuk melayaninya? (Ja.No.429). Tetapi ketika Sang Buddha bersabda, 'Ada kalanya, Udayi, Aku makan semangkuk penuh atau bahkan lebih', hal itu berhubungan dengan diri Beliau sendiri yang telah mencapai apa yang harus dicapai dengan kontrol diri. Dan seperti permata sempurna yang tidak lagi perlu digosok, Beliau tidak memerlukan latihan lagi".



43. Orang Yang Terbaik

"Sang Buddha bersabda:

'Aku, O para bhikkhu, adalah seorang Brahmana, tempat orang meminta tolong, yang selalu siap memberi; tubuh yang Kutanggung ini adalah yang terakhir. Aku adalah tabib dan dokter yang agung'. (Iti.101)

Tetapi pada kesempatan lain Beliau bersabda:

'Di antara muridKu, Bakkula-lah yang paling baik kesehatannya'. (A.i.24)

Telah diketahui bahwa Sang Buddha beberapa kali terkena penyakit sedangkan Bakkula selalu sehat. Jika pernyataan yang pertama benar; mengapa Sang Buddha kalah sehat dibandingkan Bakkula?"

"Memang benar bahwa Bakkula melebihi Sang Buddha di bidang kesehatan, dan beberapa murid lain juga melebihi Beliau di bidang lain. Akan tetapi Sang Buddha melebihi mereka semua dalam hal nilai-nilai kemoralan (Sila), konsentrasi (Samadhi), dan kebijaksanaan (Panna). Dan mengenai hal-hal inilah Beliau bersabda, 'Aku, O para bhikkhu, adalah seorang Brahmana, tempat orang meminta tolong, yang selalu siap memberi; tubuh yang Kutanggung ini adalah yang terakhir. Aku adalah tabib dan dokter yang agung'.

Sang Buddha, O Baginda, baik ketika sakit ataupun tidak; baik ketika sedang berlatih sebagai pertapa atau tidak, tak tertandingi oleh makhluk lain. Hal ini, O Baginda, disabdakan dalam Samyutta Nikaya:

'O, para bhikkhu. Dari semua makhluk; baik yang tidak berkaki atau yang mempunyai dua atau empat atau banyak kaki; yang mempunyai bentuk maupun yang tidak; yang sadar, atau yang tidak, atau yang bukan-sadar-dan-bukannya-tak-sadar; dari semuanya ini Sang Tathagata, Sang Arahat, Sang Yang Mencapai Penerangan Sempurna, diperhitungkan sebagai yang utama...'" (S.v.41)



44. Jalan Kuno

"Disabdakan oleh Sang Buddha:

'Sang Tathagata adalah penemu jalan yang tidak diketahui sebelumnya'. (S.iii.66; S.i.190)

Tetapi Beliau juga bersabda:

'Sekarang Aku telah memahami, O para bhikkhu, jalan kuno yang telah ditempuh oleh para Buddha sebelumnya' (Jalan menuju Nibbana, S.ii.105).

Ini juga merupakan masalah yang bersisi dua".

"Karena jalan kuno yang ditunjukkan oleh para Buddha sebelumnya itu telah lama hilang dan tidak diketahui oleh siapapun, baik manusia maupun dewa, maka Sang Buddha bersabda: 'Sang Tathagata adalah penemu jalan yang tidak diketahui sebelumnya'. Dan meskipun jalan tersebut telah hancur, tidak lagi dapat dilalui dan hilang dari pandangan —tetapi Sang Tathagata, setelah memperoleh pengetahuan yang mendalam, melihat dengan mata kebijaksanaanNya bahwa itulah jalan yang juga digunakan oleh para Buddha sebelumnya. Dan karena itulah Sang Buddha berkata, 'Sekarang, Aku telah memahami, O para bhikkhu, jalan kuno yang telah ditempuh oleh para Buddha sebelumnya'. Sama seperti jika ada orang yang telah membuka rimba dan membebaskan sebidang tanah, tanah itu disebut tanahnya meskipun ia tidak membuat tanah itu".



45. Kelemahan Sang Bodhisatta

"Disabdakan oleh Sang Buddha:

'Dalam kelahiran-kelahiranKu sebelumnya ketika Aku terlahir sebagai manusia, Aku telah memiliki kebiasaan tidak menyakiti makhluk hidup'. (D.iii.166)

Tetapi ketika Beliau menjadi seorang pertapa yang bernama Lomassa Kasapa, Beliau menyuruh membunuh ratusan ternak untuk dipersembahkan sebagai korban (Ja.iii.30ff,514ff: Dalam cerita Jataka, Kasapa memerintahkan membawa banyak binatang untuk dibantai namun ketika semua binatang itu telah diikat pada tiang, ia sadar dan kemudian membebaskannya semua). Mengapa waktu itu Beliau tidak penuh welas asih?"

"Persembahan itu, O Baginda raja, dilakukan ketika Lomassa Kassapa kehilangan ingatannya karena tergila-gila pada Putri Candavati; pada waktu itu dia tidak sadar pada apa yang diperbuatnya. Seperti halnya orang gila, yang kehilangan akal sehatnya, akan menapak di api, atau menangkap ular berbisa, atau berlari-lari telanjang bulat di jalanan. Begitulah, persis ketika Sang Bodhisatta sedang hilang ingatan maka Beliau melakukan persembahan korban itu. Nah, suatu kejahatan yang dilakukan orang gila tidak bisa dianggap sebagai pelanggaran yang serius, begitu juga mengenai buah yang dihasilkan dalam kehidupannya yang akan datang. Misalkan saja, O Baginda. Seseorang yang gila bersalah karena melakukan pelanggaran besar, hukuman apakah yang akan Baginda jatuhkan padanya?"

'Hukuman apa yang patut bagi orang gila? Kami akan memerintahkan agar dia dipukuli dan kemudian membebaskannya, itu saja".

"Demikian jugalah, O Baginda. Sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh orang gila dapat dimaafkan (Vin.iii.32, tidak ada pelanggaran bila pelakunya gila). Demikian juga dengan kasus Lomassa Kassapa. Setelah sadar kembali, dia meninggalkan kehidupan duniawi untuk kemudian terlahir di alam Brahma".



46. Rasa Hormat Pada Jubah

"Bahkan ketika Sang Bodhisatta terlahir sebagai seekor gajah, Beliau mempunyai rasa hormat pada jubah kuning (Ja.v.49). Tetapi Bhante juga mengatakan, bahwa ketika Beliau terlahir sebagai seorang Brahmana muda yang bernama Jotipala, meskipun terlahir sebagai manusia dengan tanda-tanda khusus, ia mencerca dan mencaci maki Buddha Kassapa, menyebutnya bhikkhu gundul yang tidak berguna (M.ii.47, Sta.48). Bagaimana kedua pernyataan ini dapat benar adanya?"

"O Baginda raja. Kekasaran Sang Bodhisatta ketika menjadi Brahmana muda Jotipala itu disebabkan oleh karena kelahiran dan cara dia dibesarkan. Semua keluarganya adalah orang yang tak percaya, yang memuja Brahma. Dan mereka berpikir bahwa kaum Brahmana adalah manusia tingkat tertinggi. Seperti halnya, O Baginda, air yang sangat dinginpun akan menjadi hangat bila kena api, demikian juga Jotipala. Meskipun penuh dengan nilai-nilai luhur, tetapi karena dilahirkan dalam keluarga yang tidak percaya, ia menjadi seakan-akan buta dan mencerca Sang Tathagata. Walaupun demikian, ketika pergi menghadap Sang Buddha Kassapa, Jotipala menyadari nilai-nilai luhurnya dan menjadi muridnya yang setia".



47. Kebajikan Si Pembuat Barang Tembikar

"Disabdakan oleh Sang Buddha:

'Selama tiga bulan penuh, tempat tinggal Ghatikara si pembuat tembikar tetap berada di alam terbuka, tetapi air hujan tidak akan turun di situ'. (M.ii.53)

Tetapi dikatakan bahwa air hujan membasahi pondok Buddha Kassapa (M.ii.54). Mengapa pondok Sang Buddha basah? Jika hujan turun di pondok Buddha Kassapa yang mempunyai banyak kebajikan, maka pastilah bohong jika dikatakan bahwa hujan tidak turun di pondok Ghatikara karena perbuatan baiknya".

"O Baginda. Ghatikara adalah orang baik yang penuh dengan nilai-nilai luhur, dan kaya akan kebajikan. Dia merawat orang tuanya yang buta dengan segala kerendahan hati. Ketika Ghatikara sedang pergi, karena yakin akan kemurahan hati Ghatikara, beberapa bhikkhu mengambil sejumlah lalang dari atap rumahnya untuk memperbaiki pondok Buddha Kassapa. Waktu Ghatikara kembali, dia tidak marah maupun kecewa. Dia bahkan merasa sangat gembira karena telah melakukan kebajikan yang besar dengan memberi sesuatu pada Sang Tathagata. Dia berpikir dengan amat gembira, 'Sang Tathagata menaruh kepercayaan padaku'. Begitu besar kebajikannya sehingga buahnya langsung dapat dipetik dalam kehidupannya waktu itu. Sebaliknya, Sang Tathagata tidak kekurangan kebajikan karena hujan membasahi pondok Beliau. Sang Tathagata telah mempertimbangkan, 'Biarlah orang-orang tidak mencari-cari kesalahan dengan mengatakan bahwa para Buddha menjalani kehidupan dengan menggunakan kekuatan kesaktiannya'. Maka dari itu hujan turun di pondok Beliau, sama seperti di tempat-tempat lain, kecuali pondok Ghatikara".



48. Raja Atau Brahmana?

"Sang Buddha bersabda:

'Aku, O para bhikkhu, adalah seorang Brahmana, tempat orang meminta tolong'. (Iti.101)

Tetapi pada kesempatan lain Beliau bersabda:

'Sela, Aku adalah seorang raja'. (Sn.v.554)

Nagasena, jika Beliau adalah seorang raja, maka Beliau pasti berbohong ketika mengatakan bahwa diriNya adalah seorang Brahmana. Beliau pastilah seorang Khattiya (prajurit), atau seorang Brahmana. Tidak mungkin Beliau termasuk dalam dua golongan kasta".

"Bukan karena kelahiranNya maka Beliau menyebut diriNya sebagai Brahmana, melainkan karena Beliau sudah bebas dari kegelapan batin, dan telah mencapai kepastian pengetahuan. Juga karena Beliaulah yang menjaga tradisi kuno dalam hal mengajar dan belajar luar kepala, dalam hal kontrol diri, dan dalam hal disiplin (Baca Dhp. Brahmanavagga). Dan seperti halnya seorang raja mengatur rakyatnya dengan hukum, Sang Buddha mengatur para muridNya dengan mengajarkan Dhamma, membawa sukacita bagi mereka yang hidup dengan benar, serta mencela mereka yang melanggar hukum yang mulia itu. Dan seperti halnya seorang raja yang memerintah dengan adil akan bertahan lama, demikian juga Sang Buddha dengan sifat-sifat kebenaranNya yang khusus membuat agamaNya bertahan lama".



49. Cara Hidup Yang Benar

"Bhante mengatakan bahwa Sang Buddha tidak menerima persembahan makanan yang diberikan karena membacakan paritta (S.i.167; Sn.v.81). Tetapi ketika mengajar umat awam, Beliau pertama-tama biasanya berbicara tentang manfaat yang didapat dari berdana dan menerima persembahan yang diberikan (D.i.Sta.5). Jika yang pertama benar, mengapa Beliau menerima persembahan yang diperoleh karena membabarkan ajaran?"

"Adalah kebiasaan Sang Tathagata untuk terlebih dahulu membabarkan tentang manfaat berdana, dengan tujuan untuk melembutkan hati orang-orang, sebelum mulai membabarkan tentang moralitas (Sila) dan hal-hal yang lebih tinggi. Tetapi bukan karena itu lalu para bhikkhu bisa dituduh memberi isyarat menginginkan persembahan. Ada isyarat yang tidak layak, dan ada isyarat yang tidak salah. Dalam hal ini, jika seseorang bhikkhu yang melakukan pindapatta berdiri di tempat yang tidak tepat atau memberi isyarat, itu merupakan isyarat yang salah (Vism.28). Tetapi jika seorang bhikkhu berdiri di tempat yang layak dimana ada orang-orang yang ingin memberi dan dia berjalan terus ketika mereka tidak memberinya, ini tidak salah dan bukan berarti pengisyaratan. Makanan dari si pembajak tanah itu dipersembahkan sebagai usaha membuktikan kesalahan paritta yang diucapkan, dan karena itulah maka Sang Tathagata menolaknya.



50. Keengganan Sang Buddha

"Bhante mengatakan bahwa selama empat Asankheya kalpa dan 100.000 siklus dunia (kalpa) ini Sang Bodhisatta telah melatih kesempurnaan agar mencapai kemaha-tahuan. Akan tetapi ketika telah mencapai tahap maha-tahu itu pikiranNya berubah tidak ingin mengajarkan Dhamma (Vin.i.5, S.i.136). Bagaikan seorang pemanah yang telah berlatih berhari-hari mungkin ragu-ragu ketika hari peperangan tiba, demikian juga Sang Buddha ragu-ragu untuk mengajarkan Dhamma. Apakah hal itu disebabkan oleh rasa takut, atau kurangnya kejernihan, atau kelemahan, atau karena Beliau tidak maha-tahu sehingga keraguan itu timbul?"

"Tidak, Raja yang agung. Hal itu bukan disebabkan oleh alasan-alasan tersebut. Karena sifat Dhamma yang mendalam, dan karena begitu kuatnya kemelekatan serta kegelapan batin para makhluklah maka Sang Buddha menjadi ragu-ragu dan bagaimana caranya agar mereka dapat mengerti. Seperti halnya, O Baginda. Ketika seorang raja mengingat-ingat betapa banyaknya orang yang kehidupannya tergantung padanya —para pengawal, anggota istana, pedagang, prajurit, pesuruh, menteri dan para bangsawan— sang raja mungkin gelisah dan berpikir, 'Bagaimana saya dapat mendamaikan mereka semua?' Demikian juga, ketika Sang Tathagata mengingat bagaimana kuatnya kemelekatan dan kegelapan batin para makhluk, maka Beliau cenderung untuk tidak bertindak dari pada membabarkan ajaranNya. Dan juga memang sudah menjadi aturan alami bahwa Sang Buddha harus membabarkan Dhamma atas permohonan Brahma, karena pada saat itu semua orang adalah pemuja Brahma dan sangat bergantung pada Brahma. Maka dari itu, jika dewa yang begitu tinggi dan berkuasa seperti Brahma ingin mendengarkan Dhamma, maka seluruh alam dewa dan manusia cenderung akan begitu juga. Karena alasan itu jugalah maka sebelum membabarkan Dhamma, Sang Buddha menunggu agar diminta".



51. Guru-guru Sang Buddha

"Sang Buddha bersabda:

'Aku tidak mempunyai guru. Tidak ada yang seperti Aku. Di dunia ini, dengan dewa-dewanya, tidak ada yang sama seperti Aku'. (Vin.i.8; M.i.171)

Tetapi Beliau juga berkata:

'Dengan cara inilah, O para bhikkhu. Alara si Kalama yang menjadi guruKu, menempatkan Aku —muridnya, pada tingkat yang sama seperti dirinya dan menghormati Aku dengan kehormatan tertinggi'. (M.i.165)

Ini juga merupakan masalah yang bersisi dua".

"O Baginda. Ketika Sang Buddha berbicara mengenai Alara si Kalama sebagai guruNya, Beliau mengacu pada saat Beliau masih menjadi Bodhisatta dan belum mencapai ke-Buddha-an. Alara si Kalama semata-mata hanyalah guru untuk kebijaksanaan duniawi. Adalah mengenai masalah-masalah yang luar biasa tingginya, seperti pengetahuan tentang Empat Kesunyataan Mulia dan Nibbana-lah maka Sang Buddha bersabda, 'Aku tidak mempunyai guru. Tidak ada yang seperti Aku. Di dunia ini, dengan dewa-dewanya, tidak ada yang sama seperti Aku'".

***

Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar