Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha 11

Ringkasan Milinda Panha 11

Bagian Sebelas

31. Terbunuhnya Yang Ariya Moggallana

"Telah disabdakan oleh Sang Buddha:

'Di antara para muridKu yang mempunyai kekuatan kesaktian, Moggallana adalah yang paling hebat'. (A.i.23)

Akan tetapi beliau dipukuli sampai mati dengan tongkat (DhA,iii.65f komentar Dhp.vv.137,140). Mengapa kesaktiannya tidak berfungsi?"

"Itu, O Baginda. Disebabkan karena pada waktu itu beliau berada dalam kekuatan kamma yang lebih hebat. Bahkan di antara hal-hal yang tidak dapat dibayangkan pun, satu hal mungkin lebih kuat dari yang lain. Dan di antara yang tidak dapat dibayangkan itu, kammalah yang terkuat. Tepatnya, akibat kammalah yang mengalahkan dan mengatur hal-hal lainnya. Tidak ada pengaruh lain pada manusia yang dapat menghalangi kamma yang telah terbukti bersalah karena melakukan tindakan kriminal akan dihukum. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh sanak saudaranya untuk mencegahnya".





32. Kerahasiaan Vinaya

"Telah disabdakan oleh Sang Buddha:

'Dhamma dan Vinaya yang telah dinyatakan oleh Sang Tathagata bersinar terang kalau ditunjukkan, dan tidak akan bersinar kalau tidak diungkap'. (A.i.283)

Nah, mengapa pembacaan Patimokkha dilakukan hanya di hadapan para bhikkhu (Vin.i.115,135), dan mengapa Vinaya Pitaka tertutup dan hanya khusus untuk bhikkhu saja?"

"O Raja. Alasan mengapa Patimokkha hanya terbuka bagi bhikkhu saja adalah karena begitulah kebiasaan semua Buddha. Alasan kedua adalah untuk menghormati Vinaya, dan alasan ketiga adalah untuk menghormati para bhikkhu. Seperti halnya, O Baginda. Tradisi prajurit hanyalah dianjurkan turun-temurun di antara para prajurit, demikian juga Patimokkha harus berada hanya di antara para bhikkhu juga. Vinaya itu patut dihormati dan sangat mendalam. Mereka yang telah mencapai penguasaan Vinaya mungkin berpesan dengan sungguh-sungguh demikian ini, 'Jangan biarkan Ajaran yang sangat mendalam ini jatuh ke tangan mereka yang tidak bijaksana yang kemudian mungkin akan menghina dan mengutuknya, memperlakukannya dengan tidak tahu malu, mencemoohkannya dan mencari-cari kesalahan di dalamnya'. Sama halnya seperti kekayaan raja yang sangat berharga tidak boleh digunakan oleh sembarang orang, demikian juga latihan dan tradisi Sang Buddha adalah kekayaan yang tak ternilai harganya bagi para bhikkhu. Dan itulah sebabnya mengapa pembacaan Patimokkha hanya dilakukan di antara para bhikkhu".





33. Kebohongan Yang Disengaja

"Telah disabdakan oleh Sang Buddha:

'Kebohongan yang disengaja adalah suatu pelanggaran yang berakibat bhikkhu dikeluarkan secara paksa'. (Vin.iii.94ff)

Tetapi Beliau juga bersabda:

'Kebohongan yang disengaja adalah pelanggaran ringan yang harus diakui di hadapan bhikkhu lain'. (Vin.iii.59,66; Vin.iv.2)

Bagaimana kedua pernyataan ini dapat benar?"

"Jika ada orang yang memukul orang lain dengan tangannya, hukuman apa yang akan Baginda berikan padanya?"

"Jika si korban menolak berdamai dalam masalah ini, maka kami akan mendenda si penyerang".

"Tetapi jika ada orang yang memukul Baginda, hukuman apa yang akan Baginda berikan padanya?"

"Kami akan memotong tangan dan kakinya, membeset kulit kepalanya, menyita seluruh kekayaannya dan menghukum keluarganya sampai 7 turunan".

"Demikian juga, O Baginda. Pelanggaran bisa ringan atau berat tergantung dari pokok masalahnya. Kebohongan dengan sengaja tentang pencapaian keadaan di luar kemampuan manusia biasa, seperti misalnya pencapaian jhana, kekuatan kesaktian atau pencapaian Sang Jalan, adalah pelanggaran yang berakibat si bhikkhu dikeluarkan dengan paksa. Tetapi kebohongan dengan sengaja tentang masalah-masalah lainnya hanya merupakan pelanggaran yang berakibat harus mengakuinya".





34. Penyelidikan Bodhisatta

"Disabdakan oleh Sang Buddha dalam ajaranNya tentang hukum alam:

'Semenjak dahulu kala, orang tua Bodhisatta, para murid utama bagi Sang Bodhisatta dsb. telah ditentukan terlebih dahulu'. (D.ii.17-20)

Tetapi disabdakan juga:

'Ketika masih di Surga Tusita, Sang Bodhisatta melakukan delapan penyelidikan: apakah sudah tiba waktu yang tepat baginya untuk dilahirkan kembali, tentang benuanya, negaranya, keluarganya, ibunya, waktu di dalam rahim, bulan kelahirannya, dan waktu untuk meninggalkan kehidupan duniawi'. (Ja.i.48; DA.428)

Jika orang tuanya telah ditentukan sebelumnya, mengapa Sang Bodhisatta perlu mempertimbangkan hal-hal tersebut?"

"Kedua pernyataan itu, O Baginda, adalah benar. Berkenaan dengan delapan hal itu, masa depan harus diselidiki terlebih dahulu sebelum masa itu datang untuk berlalu. Seorang pedagang harus memeriksa barang sebelum membelinya, seekor gajah harus menjajagi jalan dengan belalainya sebelum dia melewati jalan itu, seorang sais kereta harus menyelidiki arungan sebelum menyeberanginya, seorang pemandu harus mempelajari daratan yang belum pernah dia lihat sebelumnya, seorang tabib harus menafsirkan sisa usia pasiennya sebelum mulai merawatnya, seorang pengembara harus memeriksa jembatan sebelum ia berjalan melaluinya, seorang bhikkhu harus tahu waktu sebelum mulai makan, dan seorang Bodhisatta harus menyelidiki keluarganya sebelum ia dilahirkan".





35. Bunuh Diri

"Telah disabdakan oleh Sang Buddha:

'Seorang bhikkhu tidak boleh mencoba untuk bunuh diri [terjun dari ngarai]; siapapun yang melakukan hal seperti itu akan ditindak sesuai dengan aturan yang ada'. (Vin.iii.74,82)

Tetapi sebaliknya Bhante katakan bahwa dalam topik apapun yang ditujukan pada para bhikkhu, dengan berbagai perumpamaan Sang Buddha selalu mendorong mereka untuk mengusahakan lenyapnya kelahiran, usia tua, penyakit dan kematian. Dan pada siapapun yang melakukan hal itu, Beliau memberikan pujian yang tinggi".

"O Baginda. Karena seorang Arahat mempunyai banyak manfaat bagi makhluk hidup, maka Beliau menentukan larangan itu. Orang yang telah mencapai tujuan adalah bagaikan perahu yang dapat membawa penumpang melampaui banjir nafsu indria, bebas dari keinginan untuk dilahirkan kembali, bebas dari kepercayaan adanya diri, dan bebas dari kebodohan batin. Bagaikan awan hujan yang luar biasa, seorang Arahat mengisi pikiran mereka dengan rasa puas, dan ia membimbing orang yang tersesat. Karena kasih sayang terhadap makhluk hiduplah maka Sang Buddha bersabda, 'Seorang bhikkhu tidak boleh bunuh diri'. Dan alasan Sang Buddha mendorong kita untuk mengakhiri kelahiran, usia tua dan kematian? Karena tidak terbatasnya sifat alami penderitaan yang disebabkan oleh lingkaran kelahiran, maka Sang Buddha yang begitu besar welas asihnya terhadap makhluk hidup mendorong mereka, lewat banyak cara dan banyak perumpamaan, agar membebaskan diri dari lingkaran kelahiran".





36. Perlindungan Dari Cinta Kasih

"Telah disabdakan oleh Sang Buddha:

'Sebelas keuntungan ini boleh diharapkan oleh orang yang telah berlatih dan mempunyai kebiasaan memberikan metta (cinta kasih) terhadap semua makhluk:





1. Ia tidur dalam kedamaian;



2. Ia bangun dalam kedamaian;



3. Ia tidak bermimpi buruk;



4. Ia disayangi oleh sesama manusia;



5. Ia disayangi oleh makhluk yang bukan manusia;



6. Ia dilindungi para dewa;



7. Ia tidak dapat terluka baik oleh api, racun, atau senjata;



8. Pikirannya mudah terkonsentrasi;



9. Air mukanya tenang;



10. Ia mati dalam keadaan tidak bingung;



11. Dan ia akan terlahir setidak-tidaknya di alam Brahma, jika tidak mencapai yang lebih tinggi lagi' (A.v.342, Ja.ii.61; Vism.311f).

Kalau begitu, mengapa si pemuda Sama yang hidup dengan penuh metta terluka oleh panah beracun yang dilepaskan oleh Raja Piliyakkha?" (Ja.vi.76)

"O Baginda. Kesebelas nilai luhur metta ini tergantung pada metta itu sendiri, dan bukan pada watak orang yang mempraktekkannya. Pemuda Sama memang berlatih meditasi metta setiap saat. Akan tetapi ketika ia sedang mengambil air, pikirannya melenceng dari meditasi. Pada saat itulah Raja Piliyakkha memanahnya, sehingga panah itu dapat melukainya".





37. Mengapa Devadatta Makmur?

"Bhante mengatakan bahwa perbuatan baik akan membawa kelahiran di surga atau kelahiran sebagai manusia yang beruntung, serta bahwa perbuatan jahat membawa penderitaan atau kelahiran sebagai manusia yang tidak beruntung. Akan tetapi, Devadatta yang penuh dengan sifat-sifat jahat, sering terlahir dengan kedudukan yang lebih baik dibanding Sang Bodhisatta, yang penuh dengan sifat-sifat yang baik. (Ja.Nos.122,474,514,516)

Begitulah, Yang Mulia Nagasena, ketika Devadatta menjadi pendeta keluarga Brahmadatta —raja Benares. Pada waktu itu Sang Bodhisatta adalah kasta yang tersingkir. Ini adalah salah satu kasus dimana Sang Bodhisatta lebih rendah dibandingkan dengan Devadatta, baik dari segi kelahiran maupun reputasi.

Begitu juga, ketika Devadatta menjadi seorang raja yang berkuasa di dunia ini, pada waktu itu Sang Bodhisatta menjadi gajah. Dalam kasus itu, lagi-lagi Sang Bodhisatta lebih rendah dibandingkan dengan Devadatta. Demikian juga di banyak kasus lainnya".

"Memang benar apa yang Baginda katakan itu".

"Kalau begitu, berarti kebajikan dan kejahatan menghasilkan buah yang sama".

"Tidak, bukan demikian, O Baginda. Devadatta dimusuhi oleh siapa saja, tetapi tidak ada yang jahat terhadap Sang Bodhisatta. Dan ketika menjadi raja, Devadatta merlindungi dan melayani rakyatnya serta memberikan persembahan kepada para pertapa dan para brahmana sesuai dengan tekadnya. Tidak dapat dikatakan tentang siapapun, O Baginda. Bahwa tanpa kemurahan hati, pengendalian diri, melaksanakan peraturan dan nilai-nilai luhur lain, maka ia dapat mencapai kemakmuran. Meskipun demikian, semua makhluk yang terhanyut dalam arus lingkaran kelahiran yang tidak berkesudahan selalu akan bertemu dengan pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Sama halnya seperti air yang mengalir di sungai selalu akan menemui benda yang bersih maupun yang tidak bersih. Tetapi perbandingan antara Sang Bodhisatta dan Devadatta harus dipertimbangkan dari sudut panjangnya putaran kelahiran kembali yang tak terbayangkan, dan juga harus diingat bahwa Sang Bodhisatta berada dalam surga selama kurun waktu berkalpa-kalpa, sementara Devadatta mendidih di neraka".





38. Kelemahan Wanita

"Dikatakan bahwa wanita akan selalu melakukan penyelewengan seksual bila ia mendapat kekasih yang sesuai (Ja.v.435). Tetapi istri Mahasodha menolak melakukan tindakan yang salah, meskipun ia ditawari seribu keping emas". (Ja.vi.367)

"Amaradevi adalah wanita yang luhur. Dia takut dikecam di dunia ini. Dia takut menderita dalam api neraka. Dia juga mencintai suaminya. Dan dia memandang rendah pelanggaran susila dan menghargai nilai luhur. Karena semua alasan itulah maka kesempatan itu tidak tampak cocok baginya. Dan suaminya —Mahasodha, adalah laki-laki ideal. Maka Amaradevi tidak ada orang yang dapat dibandingkan dengan Mahasodha. Jadi karena alasan ini pulalah maka Amaradevi tidak melakukan tindakan yang salah".





39. Keberanian Ananda

"Disabdakan oleh Sang Buddha bahwa para Arahat telah menyingkirkan segala rasa takut (Dhp.v.351; Sn.621). Akan tetapi ketika Dhanapalaka (Nalagiri) si gajah mabuk akan menyerang Sang Buddha, lima ratus Arahat lari meninggalkan Ananda sendirian untuk melindungi Sang Buddha (Vin.ii.194; Ja.v.333f). Jika para Arahat sudah terbebas dari rasa takut, mengapa mereka lari?"

"Mereka tidak lari karena rasa takut, O Baginda. Para Arahat sudah bebas dari rasa takut. Tetapi mereka minggir agar pengabdian Yang Mulia Ananda pada Sang Buddha dapat terwujud. Mereka menyadari bahwa jikalau mereka tidak minggir, maka gajah itu tidak akan bisa mendekat. Bhante Ananda, yang pada waktu itu belum menjadi Arahat, tetap berada di samping Sang Buddha. Dengan demikian maka keberanian dan pengabdiannya terlihat. Oleh karena kejadian ini, banyak sekali orang yang terbebas dari belenggu kekotoran batin. Karena telah melihat manfaat-manfaat itulah, maka para Arahat minggir".





40. Perubahan Hati Sang Buddha

"Bhante mengatakan bahwa Sang Buddha itu maha-tahu. Akan tetapi setelah Sang Buddha mengusir serombongan bhikkhu yang dipimpin oleh Yang Ariya Sariputta dan Yang Ariya Moggallana, orang-orang Sakya dari Catuma dan Brahma Sahampati menentramkan Sang Buddha melalui perumpamaan-perumpamaan. Apakah Beliau tidak mengetahui tentang perumpamaan tersebut? (M.ii.Sta.67). Jika tahu, mengapa Beliau perlu ditentramkan?"

"Sang Tathagata, O Baginda, adalah maha-tahu. Akan tetapi toh Beliau tetap merasa ditentramkan oleh perumpamaan-perumpamaan itu. Dengan memakai perumpamaan Beliau pertama kali membabarkan ajaranNya, dan merasa damai karenanya. Dan karena diambil hatiNya itulah maka Beliau menyertakan restuNya. Seperti halnya, O Baginda. Ketika seorang samanera melayani gurunya dengan makanan yang diperoleh sang guru sendiri dari pindapattanya, demikianlah dia menyenangkan sang guru dan mengambil hatinya".

***



Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar