Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha 10

Ringkasan Milinda Panha 10

Bagian Sepuluh



19. Dhamma-lah Yang Terbaik

"Dikatakan oleh Sang Buddha:

'Karena Dhamma-lah, O Vasettha, yang terbaik di dunia ini'. (D.iii.93)

Tetapi Bhante mengatakan bahwa seorang umat awam yang saleh yang telah memasuki tingkat sotapana harus menghormat kepada seorang samanera, meskipun samanera itu belum mencapai tingkat spritual yang sedemikian. Jika memang Dhamma-lah yang terbaik, maka kebiasaan seperti itu tidaklah tepat".

"O Baginda raja. Ada alasan bagi kebiasaan semacam itu. Ada 20 sifat kepribadian dan 2 tanda luar yang membuat seorang pertapa patut dihormati:



1. Ia bersukacita dalam Dhamma yang luar biasa;

2. Ia mempunyai kontrol diri yang sangat tinggi;

3. Ia mempunyai tingkah laku yang baik, karena cara hidupnya dengan pindapatta;

4. Ia tidak minum minuman keras;

5. Ia mengendalikan indrianya;

6. Ia sabar;

7. Ia lembut;

8. Ia hidup sendiri;

9. Ia menikmati kesendirian;

10. Ia bersukacita dalam meditasi;

11. Ia memiliki rasa malu untuk berbuat salah;

12. Ia memiliki rasa takut akan akibat perbuatan salah;

13. Ia bersemangat;

14. Ia tekun;

15. Ia menjalankan peraturan;

16. Ia membaca kitab suci;

17. Ia bertanya kepada yang mengerti tentang apa yang dipelajarinya;

18. Ia bersukacita dalam nilai-nilai luhur;

19. Ia tidak berumah tangga dan karena itu terbebas dari kemelekatan duniawi;

20. Ia melaksanakan peraturan.

Dan dia mempunyai 2 tanda luar —yaitu kepala yang tercukur bersih dan berjubah kuning. Dalam latihan dan perkembangan seperti inilah seorang pertapa hidup. Dengan berlatih dan mengembangkan nilai-nilai luhur sebagai pertapa ia maju menuju tingkat arahat. Karena itu, melihat samanera sebagai orang yang berkawan dengan mereka yang sangat patut dihormati, maka orang awam yang saleh berpikir bahwa benar dan patutlah tindakannya menghormat seorang pertapa meskipun mungkin ia hanyalah orang biasa. Apalagi, O Baginda. Juga karena melihatnya sebagai orang yang memegang aturan vihara, maka seorang umat awam menghormati pertapa. Dan jika seorang umat awam mencapai tingkat arahat, hanya dua tujuan yang menantinya: ia harus masuk Sangha pada hari itu juga, atau ia harus mencapai parinibbana. Tidak tergoyahkan, O Baginda, keadaan meninggalkan kehidupan duniawi, dan hebat serta sangat mulia kondisi masuk dalam Sangha Sang Buddha".



20. Cinta Kasih Sang Buddha

"Bhante mengatakan bahwa Sang Tathagata melindungi makhluk hidup dari bahaya dan memberkati mereka dengan kebaikan. Akan tetapi ketika Sang Buddha sedang membabarkan Dhamma pada para bhikkhu tentang kiasan api yang membara (A.iv.128-135), darah panas tersembur dari mulut 60 orang bhikkhu. Dengan pembabaran ajaran ini mereka mengalami hal yang mencelakakan dan tidak baik. Jadi pernyataan Bhante itu salah".

"Apa yang terjadi pada diri mereka itu disebabkan oleh perbuatan mereka sendiri".

"Tetapi, Bhante Nagasena. Seandainya saja Sang Tathagata tidak membabarkan ajaran tersebut, apakah mereka akan muntah darah panas?"

"Tidak. Ketika mereka menerima secara salah apa yang dibabarkan, maka api itu menyala dalam diri mereka".

"Kalau begitu berarti Sang Tathagata-lah yang menjadi penyebab utama yang menghancurkan mereka. Seandainya ada seekor ular yang sedang melata di sarang semut, dan ada orang yang memerlukan tanah datang untuk mengambil tanah. Lalu sebagai akibatnya ular itu mati karena terpendam dan tidak dapat bernafas, tidakkah hal itu berarti bahwa sang ular mati karena ulah orang tersebut?"

"Ya, Baginda. Tetapi ketika Sang Tathagata membabarkan ajaran, Beliau tidak melakukannya dengan kebencian. Beliau membabarkan dengan keadaan yang sama sekali bebas dari kedengkian. Mereka yang berlatih dengan benar akan mencapai penerangan, tetapi mereka yang salah, akan jatuh. Seperti halnya, O Baginda. Ketika sebatang pohon mangga digoncang, maka buah yang tangkainya kuat tetap bertahan tak terganggu, sedangkan yang tangkainya busuk akan jatuh ke tanah".

"Kalau begitu, tidakkah para bhikkhu tersebut jatuh karena ajaran tersebut?"

"Dapatkah seorang tukang kayu yang membiarkan kayu tergeletak saja tanpa melakukan apapun mengharapkan kayu tersebut lurus dan dapat bermanfaat?"

"Tidak, Yang Mulia".

"Demikian juga, O Baginda. Dengan hanya mengamati para muridnya saja Sang Tathagata tidak dapat membuka mata mereka yang sudah siap untuk melihat. Tetapi dengan menyingkirkan mereka yang salah menangkap ajaran, Beliau menyelamatkan mereka yang sudah siap untuk diselamatkan. Dan karena kesalahan diri sendirilah maka mereka yang berpikiran jahat terjatuh".



21. Kerendahan Hati Sang Buddha

"Ini juga telah disabdakan oleh Sang Buddha:

'Mengendalikan badan adalah baik; Baik pula mengendalikan ucapan; Mengendalikan pikiran adalah baik; Baik pula mengendalikan segala hal'. (S.i.73; Dhp.v.361)

Tetapi ketika Sang Tathagata duduk di antara 4 kelompok (bhikkhu, bhikkhuni, umat awam pria, umat awam wanita). Beliau menunjukkan kepada Brahmana Sela sesuatu yang tidak seharusnya dipertontonkan didepan umum, yaitu alat vital pria yang tersembunyi dalam selaput tipis (M.ii.Sta.92; Sn.103). Jika Beliau melakukan hal itu, berarti pernyataan yang pertama tersebut salah".

"Sang Buddha memang menunjukkan pada Sela si Brahmana sesuatu yang tidak boleh dipertontonkan di depan umum. Tetapi hal itu Beliau lakukan dengan kekuatan kesaktian dalam bentuk bayangan, dan hanya Sela yang dapat melihatnya. Pada Sela yang masih ragu terhadap Sang Tathagata, Sang Guru menunjukkan gambar alat vital pria yang tersembunyi dalam selaput tipis tersebut untuk menyadarkannya terhadap kebenaran. Sang Tathagata, O Baginda, sangat pandai dalam hal sarana. Untuk mencemooh kecantikan jasmani, Sang Guru membawa Bhante Nanda ke alam dewa untuk melihat wanita-wanita yang cantik di sana (Ja.ii.92-94), dan dengan sehelai kain putih Beliau menyadarkan Bhante Culapanthaka terhadap kekotoran tubuh". (Ja.i.116ff)



22. Perkataan Sang Buddha Yang Sempurna

"Yang Mulia Sariputta siswa utama berkata:

'Sang Tathagata itu sempurna dalam berkata-kata. Tidak ada kesalahan dalam perkataan Sang Tathagata. Mengenai perkataanNya, Beliau tidak perlu harus berhati-hati dengan tujuan agar orang lain tak akan melihat kesalahannya'. (D.iii.217)

Jadi mengapa Sang Buddha menggunakan kata-kata yang kasar dan keras terhadap Sudinna si Kalanda dan menyebutnya orang bodoh?" (Vin.iii.20)

"Itu semua bukan dengan kekasaran, O Baginda raja. Tetapi semata-mata untuk menunjukkan kepadanya, dengan cara yang tidak merugikan dia, tentang sifat tingkah lakunya yang tolol dan ceroboh. Jika orang dalam kelahiran ini tidak dapat mencapai pemahaman tentang Empat Kesunyataan Mulia, maka hidupnya sia-sia belaka. Sang Buddha menggunakan kata-kata kebenaran, dan bukannya melebih-lebihkan. Beliau mengingatkan orang lain semata-mata untuk menghancurkan penyakit ketidak-bajikan. Kata-kata Beliau, meskipun dengan nada yang keras, melunakkan kesombongan orang dan membuat mereka rendah hati. Kata-kata Beliau penuh dengan kasih sayang dan dimaksudkan agar bermanfaat. Sama seperti kata-kata seorang ayah pada anak-anaknya".



23. Pohon Yang Berbicara

"Sang Tathagata bersabda:

'Brahmana! Mengapa engkau bertanya, pada benda yang tak sadar yang tidak dapat mendengarmu ini, bagaimana keadaan hari ini? Engkau yang aktif, pandai dan penuh dengan kehidupan, bagaimana kamu dapat berbicara kepada benda yang tidak mempunyai indria, pada pohon Palasa liar ini?' (Ja.iii.24)

Tetapi pada kesempatan lain Sang Tathagata berkata:

'Dan kemudian pohon aspen tersebut menjawab, "Aku, Bharadvaja, dapat berbicara juga. Dengarkanlah aku"'. (Ja.iv.210)

Jika, Yang Mulia Nagasena. Sebatang pohon merupakan sesuatu yang tidak punya kesadaran, maka pernyataan yang kedua ini pasti salah".

"Ketika Sang Buddha menyebut 'pohon aspen', itu hanyalah cara berbicara konvensional, karena meskipun sebatang pohon adalah sesuatu yang tidak sadar, kata 'pohon' tersebut ditujukan bagi dewa yang bertempat tinggal di situ. Dan ini adalah suatu konvensi yang sudah banyak dikenal. Seperti halnya, O Baginda. Sebuah kereta yang penuh jagung disebut 'kereta-jagung' meskipun kereta tersebut tidak terbuat dari jagung, melainkan dari kayu. Sang Tathagata, ketika membabarkan Dhamma menggunakan juga alat bantu cara percakapan sehari-hari".



24. Santapan Terakhir

"Dikatakan oleh para tetua yang berkumpul pada Konsili Buddhis Pertama:

'Setelah makan makanan yang dipersembahkan oleh Cunda si tukang besi, demikian yang telah saya dengar, Sang Buddha jatuh sakit. Beliau merasakan rasa sakit sampai wafatnya'. (D.ii.128)

Tetapi Sang Buddha bersabda:

'Dua persembahan makanan ini, Ananda, mempunyai kebajikan yang sama dan jauh lebih tinggi nilainya daripada yang lain: yaitu makanan yang sesudah dimakan lalu Sang Tathagata mencapai Penerangan Sempurna; dan makanan yang sesudah dimakan lalu Sang Tathagata mencapai Parinibbana'. (D.ii.135)

Tetapi jika rasa sakit yang amat sangat itu menimpanya setelah makan persembahan makanan terakhir itu, maka pernyataan yang terakhir itu pasti salah".

"Persembahan makanan yang terakhir itu besar manfaatnya karena Sang Tathagata lalu mencapai Parinibbana. Bukan karena makanan itu maka Sang Buddha jatuh sakit, melainkan karena tubuhnya sangat lemah dan karena bertepatan dengan waktu mangkatnya. Dua persembahan makanan ini merupakan jasa yang baik dan tidak tertandingi karena adanya pencapaian sembilan tingkat jhana berturut-turut, dengan urutan maju dan mundur, yang terjadi setelah Sang Tathagata makan makanan tersebut".



25. Pemujaan Terhadap Relik

"Sang Buddha bersabda:

'Jangan menghalangi dirimu sendiri, Ananda, dengan menghormati apa yang tersisa dari Sang Tathagata'. (D.ii.141)

Tetapi, pada kesempatan lain Beliau bersabda:

'Hormatilah relik dari mereka yang patut dihormati. Dengan bertindak demikian engkau akan pergi dari dunia ini ke surga'. (Vv.75v8)

Pernyataan manakah yang benar?"

"Nasehat pertama tidak diberikan kepada semua orang, O Baginda, melainkan hanya kepada para putra Sang Penakluk (para bhikkhu). Menghormati relik bukanlah tugas mereka. Memahami hakekat alami dari segala yang berbentuk, penalaran (memperhatikan ketidak-kekalan, dll.), meditasi pandangan terang, mengerti inti obyek meditasi, pengabdian kepada kesejahteraan spritual mereka, itulah tugas-tugas bhikkhu. Seperti halnya, O Baginda. Adalah merupakan urusan para pangeran untuk belajar seni perang dan hukum wilayah; sementara beternak, berdagang dan mengurus ternak merupakan urusan perumah tangga".



26. Kaki Sang Buddha Terluka

"Bhante berkata bahwa bila Sang Buddha berjalan, bumi ini, meskipun tidak sadar, mengisi lubang-lubang yang kosong dan meratakan tanah yang akan Beliau pijak (DA.45). Akan tetapi, Bhante mengatakan bahwa ada pecahan batu karang yang melukai kakiNya (Vin.ii.93). Mengapa pecahan batu tersebut tidak minggir dari kakiNya?"

"O Raja. Pecahan batu karang itu tidak jatuh dengan sendirinya. Batu itu dilemparkan oleh Devadatta. Lalu dua batu karang bersatu untuk menghentikannya, tetapi ada pecahan yang melesat dan melukai kaki Sang Buddha. Sesuatu yang dihentikan dapat dengan mudahnya meleset, seperti halnya air yang ditampung di dua tangan dapat dengan mudahnya mengalir melalui jari-jari".



27. Pertapa Yang Sebenarnya

"Sang Buddha bersabda:

'Orang bisa benar-benar menjadi pertapa dengan cara menghancurkan banjir (nafsu indria, keinginan untuk lahir kembali, kepercayaan adanya diri dan kebodohan)'. (A.ii.238, Pug.63)

Tetapi Beliau juga bersabda:

'Orang dikenal sebagai seorang pertapa bila mempunyai empat sifat: sabar, sederhana dalam hal makan, bersifat melepas, dan bebas dari kepemilikan'. (Ku.5p204)

Nah, keempat sifat ini juga terdapat pada orang-orang yang belum sempurna, pada orang-orang yang akar kekotoran batinnya belum seluruhnya tercabut. Ini juga merupakan masalah yang bersisi dua".

"Kedua pernyataan ini, O Baginda, memang dibuat oleh Sang Buddha. Tetapi yang pertama adalah pernyataan dengan pengertian khusus, sedangkan yang kedua adalah tentang ciri-ciri pertapa pada umumnya".



28. Kesombongan Sang Buddha

"Sang Buddha bersabda:

'Jika ada seseorang yang memuji Aku, ajaranKu atau Sangha, kalian tidak boleh menjadi sangat gembira karena pujian itu'. (D.i.3; M.i.140)

Tetapi, begitu gembiranya Beliau ketika Sela si Brahmana memujinya sehingga Beliau membesar-besarkan nilai-nilai luhurNya sendiri dan bersabda:

'Aku, Sela, adalah seorang raja, raja dengan kebenaran tertinggi. Roda kebenaran yang mulia telah Kuputar —roda yang tidak akan dapat diputar balik oleh siapapun'. (M.ii.Sta.92; Sn.v.554)

Ini juga merupakan masalah bersisi dua".

"Kedua pernyataan itu, O Baginda, betul adanya. Tetapi pernyataan yang pertama dibuat untuk menegaskan dan menjelaskan dengan pasti sifat hakiki ajaranNya. Yang kedua tidak dikatakan untuk memperoleh keuntungan, atau kemashyuran. Juga tidak diucapkan dengan cara yang bercabang, atau untuk memperoleh pengikut. Itu dikatakan dengan penuh welas asih dan merupakan pengetahuan yang menyebabkan 300 brahmana mencapai pengetahuan tentang kebenaran".



29. Siapakah Yang Patut Dihukum?

"Sang Buddha bersabda:

'Janganlah melukai siapapun, hiduplah di dunia ini dengan penuh cinta kasih dan kebajikan'. (Ja.iv.71v9)

Tetapi Beliau juga bersabda:

'Kendalikanlah orang yang patut dikendalikan dan doronglah semangat orang yang patut didorong'. (Ja.v.116)

Nah, mengendalikan berarti memotong tangan dan kaki, memasukkan dalam penjara, dan sebagainya. Jika pernyataan yang pertama itu benar, maka yang kedua tidak mungkin benar".

"O, Baginda. Tidak melukai siapapun adalah ajaran semua Buddha. Akan tetapi, yang kedua itu digunakan secara kiasan. Hal itu berarti mengendalikan pikiran yang jahat, mendorong pikiran yang baik; mengendalikan perenungan yang tidak bijaksana, mendorong perenungan yang bijaksana; mengendalikan latihan yang salah, mendorong latihan yang benar; yang tidak mulia harus dikendalikan, yang mulia harus didorong; si pencuri [bhikkhu yang menginginkan kemashyuran, pujian dan keuntungan] harus dikendalikan, dan bhikkhu yang jujur [bhikkhu yang tulus yang semata-mata berkeinginan untuk menyingkirkan kegelapan batin] harus didorong".

"Sekarang Bhante telah sampai pada inti permasalahan saya. Lalu bagaimana, Yang Mulia Nagasena, seorang perampok harus diatasi?"

"Begini, O Baginda. Jika patut dimarahi maka biarlah dia dimarahi; jika patut didenda biarlah dia didenda; jika patut diasingkan biarlah dia diasingkan, jika patut dihukum mati biarlah dia dihukum mati".

"Kalau begitu, Bhante Nagasena. Apakah hukuman mati menjadi salah satu bagian dari Ajaran yang dibabarkan oleh Sang Tathagata?"

"Tentu saja tidak, O Baginda raja. Siapapun yang dihukum mati, tidaklah menderita hukuman mati tersebut karena pendapat yang telah dikatakan oleh Sang Tathagata. Ia menderita karena perbuatan yang telah dilakukannya sendiri".



30. Pengusiran Bhikkhu Sangha

"Telah disabdakan oleh Sang Buddha:

'Aku tidak mempunyai kemarahan ataupun kekesalan hati'. (Sn.v.19)

Tetapi Beliau mengusir Yang Mulia Sariputta dan Yang Mulia Moggallana beserta murid-murid mereka (M.ii.Sta.67). Tidakkah dengan kemarahan Beliau melakukan hal itu?"

"Sang Tathagata memang mengusir para bhikkhu, tetapi tidak dengan kemarahan. Karena perbuatan yang mereka telah dilakukan sendirilah maka mereka diusir. Sama halnya seperti bumi ini tidak merasa marah bila ada orang yang tersandung dan jatuh. Adalah kesalahan orang itu sendiri maka ia jatuh. Demikian juga Sang Buddha tidak mempunyai sakit hati macam apapun. Ia menyuruh mereka pergi karena mengetahui, 'Adalah demi untuk kebaikan, kebahagiaan, pemurnian dan kebebasan mereka dari penderitaan'".

***

Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar