Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha 9

Ringkasan Milinda Panha 9

Bagian Sembilan



11. Peraturan Yang Minor Dan Tidak Begitu Penting

"Telah disabdakan oleh Sang Buddha:

'O, bhikkhu. Dari pengatahuan yang lebih tinggilah Saya mengajarkan Dhamma'. (A.i.276; M.ii.9)

Tetapi Beliau juga berkata:

'Setelah Saya tidak ada lagi, Ananda. Bila diinginkan oleh Sangha, biarlah Sangha menghapus peraturan yang kecil dan tidak begitu penting'. (D.ii.154; Vin.ii.287)

Apakah itu berarti bahwa pereturan-peraturan itu ditetapkan secara salah dan tanpa sebab yang tepat?"

"O, Baginda. Ketika Sang Buddha berkata, Biarlah Sangha menghapus peraturan yang minor dan tidak begitu penting. Itu dikatakan untuk menguji para bhikkhu. Seperti halnya seorang raja pada waktu akan mangkat akan menguji putra-putranya dengan berkata: 'Daerah-daerah di luar kerajaanku akan berada dalam bahaya keruntuhan setelah aku mangkat'. Nah, setelah ayahandanya mangkat, apakah para putra raja itu akan begitu saja mau kehilangan daerah-daerah di luar kerajaan?"

"Tentu saja tidak, Bhante. Para raja mempunyai keinginan menguasai. Karena nafsu akan kekuasaan, para pangeran mungkin justru akan melebarkan daerah kekuasaannya dua kali lipat dari apa yang telah mereka miliki, tetapi mereka tidak akan pernah mau begitu saja kehilangan apa yang telah mereka miliki".

"Begitu pula, Baginda. Para putra Sang Buddha, karena semangat akan Dhamma mereka mungkin akan mempertahankan bahkan lebih dari seratus lima puluh peraturan (di luar 75 peraturan kecil terdapat 152 peraturan kebhikkhuan —Patimokkha), tetapi mereka tidak akan pernah mau begitu saja kehilangan apa yang telah ditetapkan".

"Bhante Nagasena, ketika Sang Buddha mengacu pada 'Peraturan yang kecil dan tidak begitu penting' orang mungkin merasa ragu-ragu, yang mana peraturan yang dimaksud itu".

"Tindakan yang berkenaan dengan salah-melakukan (Dukkhata —pelanggaran 75 latihan dan peraturan lainnya yangrelatif kecil) merupakan peraturan yang tidak begitu penting, dan salah-berucap (Dubbhasita) mengacu pada peraturan minor. Para tetua yang bertemu dalam Konsili Buddhis Pertama juga tidak satu pendapat mengenai hal ini".



12. Ajaran Rahasia

"Sang Buddha berkata kepada Ananda:

'Sehubungan dengan Dhamma, Sang Tathagata bukanlah seorang guru yang merahasiakan sesuatu dalam genggamannya sendiri'. (D.ii.100; S.v.153)

Tetapi ketika Beliau ditanya oleh Malunkyaputta, Beliau tidak menjawab (M.ii.Sta.63). Apakah Beliau tidak menjawab karena ketidak-pedulian ataukah Beliau hendak menyembunyikan sesuatu?"

"O, Baginda. Bukan karena ketidak-pedulian dan juga bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu maka Beliau tidak menjawab. Suatu pertanyaan dapat dijawab dengan satu dari empat cara:



1. secara langsung;

2. dengan analisa;

3. dengan pertanyaan balik; dan

4. dengan mengabaikannya".

"Dan pertanyaan macam apa yang harus dijawab secara langsung?"

"'Apakah materi itu kekal? Apakah perasaan tubuh itu kekal? Apakah pencerapan itu kekal?' Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab secara langsung".

"Dan apa yang harus dijawab dengan analisa?"

"Apakah yang tidak kekal itu materi?"

"Dan apa yang harus dijawab dengan pertanyaan balik?"

"Apakah mata dapat mencerap segala sesuatu?"

"Dan apa yang harus diabaikan?"

"'Apakah dunia itu abadi? Apakah dunia itu tidak abadi? Apakah Sang Tathagata ada setelah kematianNya? Apakah Sang Tathagata tidak ada setelah kematianNya? Apakah jiwa sama dengan tubuh? Apakah tubuh itu satu hal dan jiwa itu hal lain?' Pada pertanyaan-pertanyaan demikian maka Sang Buddha tidak memberi jawaban pada Malunkyaputta. Tidak ada alasan untuk menjawabnya. Para Buddha tidak berbicara tanpa alasan".



13. Rasa Takut Terhadap Kematian

"Sang Buddha bersabda:

'Semuanya gemetar karena hukuman, semuanya takut akan kematian'. (Dhp.v.129)

Tetapi Beliau juga berkata:

'Arahat telah melewati semua rasa takut'. (A.ii.172)

Jadi bagaimana? Apakah para arahat juga gemetar karena ketakutan akan kematian? Atau apakah para makhluk di neraka takut akan kematian, padahal lewat itu mereka mungkin dapat terbebaskan dari siksaan?"

"O, Baginda. Tidaklah menyangkut para arahat ketika Sang Buddha berkata, 'Semuanya gemetar karena hukuman, semuanya takut akan kematian'. Seorang arahat merupakah perkecualian dari pernyataan itu karena semua penyebab rasa takut telah dihilangkan olehnya. Misalnya saja, O Baginda. Seorang raja mempunyai empat menteri utama yang setia dan dapat dipercaya; apakah mereka akan merasa takut bila raja mengeluarkan perintah yang mengatakan, 'Semua orang di daerahku harus membayar pajak'?"

"Tidak, Bhante Nagasena. Mereka tidak akan merasa takut karena pajak tidak berlaku untuk mereka. Mereka berada di luar perpajakan".

"Begitu juga O Baginda. Pernyataan, 'Semuanya gemetar karena hukuman, semuanya takut akan kematian', tidak berlaku untuk para arahat karena mereka berada di luar rasa takut akan kematian. Ada lima cara, O Baginda. Dimana arti suatu pernyataan harus ditegaskan:



1. Membandingkannya dengan teks yang dikutip;

2. Lewat 'selera', yaitu apakah sesuai dengan teks-teks lain?

3. Apakah sesuai dengan ajaran para guru?

4. Setelah menimbang pendapatnya sendiri, yaitu apakah sesuai dengan pengalamanku sendiri?

5. Dengan gabungan semua cara itu".

"Baiklah, Bhante Nagasena. Saya menerima bahwa para arahat merupakan perkecualian bagi pernyataan itu, tetapi tentunya semua makhluk di neraka tak mungkin merasa takut akan kematian karena lewat itu maka mereka akan terbebas dari siksaan".

"Mereka yang berada di neraka merasa takut akan kematian, O Baginda. Karena kematian merupakan kondisi di mana mereka yang belum melihat Dhamma merasa takut. Seandainya, O Baginda. Seorang tawanan yang ditaruh di ruang bawah tanah harus menghadap raja yang berkehendak akan membebaskannya, apakah tawanan itu merasa takut menghadap raja?"

"Ya, dia akan merasa takut".

"Begitu juga, O Baginda. Semua makhluk di neraka merasa takut akan kematian walaupun mereka akan memperoleh kebebasan dari siksaan".



14. Perlindungan Dari Kematian

"Disabdakan oleh Sang Buddha:

'Tidak di langit, tidak di tengah samudra, tidak di celah gunung yang paling terpencil, tidak di seluruh dunia yang luas ini dapat ditemukan tempat di mana orang dapat lolos dari jerat kematian'. (Dhp.v.128)

Tetapi sebaliknya, syair perlindungan (paritta) diberikan oleh Sang Buddha untuk melindungi mereka yang berada dalam bahaya. Jika tidak ada jalan untuk menghindari kematian, maka upacara paritta itu tidak ada gunanya".

"Syair-syair paritta, O Baginda, dimaksudkan bagi mereka yang masih mempunyai sisa porsi kehidupan. Tidak ada upacara maupun sarana buatan yang bisa memperpanjang kehidupan seseorang yang jangka waktu kehidupannya telah habis".

"Tetapi, Bhante Nagasena. Jika orang yang faktor-faktor kehidupannya masih berjalan akan tetap hidup, dan orang yang tidak memiliki faktor-faktor itu tadi akan mati, maka baik obat maupun paritta sama-sama tidak ada gunanya".

"Tetapi, telah pernahkah Baginda melihat atau mendengar kasus suatu penyakit yang dapat disembuhkan oleh obat?"

"Ya, ratusan kali".

"Kalau demikian, pernyataan Baginda tentang ketidak-mujaraban paritta dan obat pastilah salah".

"Bhante Nagasena. Apakah paritta merupakan perlindungan bagi setiap orang?"

"Hanya bagi beberapa, tidak bagi setiap orang. Ada tiga alasan dimana paritta tidak bekerja:



1. Halangan karena kamma masa lampau;

2. Halangan karena kekotoran batin masa kini; dan

3. Halangan karena kurangnya keyakinan.

Paritta yang merupakan perlindungan bagi para makhluk akan kehilangan kekuatannya karena cacat mereka sendiri".



15. Kekuatan Mara

"Walaupun Bhante mengatakan bahwa Sang Tathagata selalu mendapat makanan waktu pindapatta (A.ii.87), tetapi ketika memasuki Desa Pancasala, Beliau tidak menerima apa-apa karena adanya gangguan Mara (S.i.113f; Dh.A.iii.257). Apakah kekuatan Mara lebih besar daripada kekuatan Sang Buddha, ataukah kekuatan kebatilan lebih kuat daripada kekuatan kebajikan?"

"Raja yang agung. Walaupun apa yang Baginda katakan itu benar adanya, tetapi itu belum cukup kuat untuk menegaskan pernyataan Baginda. Umpamakan seorang penjaga gerbang di suatu kerajaan yang besar. Dia mungkin mencegat orang yang akan membawakan hadiah untuk raja karena dia iri, tetapi toh sang raja tidak akan menjadi kalah berkuasa dibandingkan dengan penjaga gerbang itu. Ada empat cara menghalangi suatu pemberian:



1. Menghalangi pemberian yang belum dimaksudkan untuk satu orang tertentu;

2. Menghalangi pemberian yang sudah disisihkan untuk orang tertentu;

3. Menghalangi pemberian yang sudah disiapkan untuk seseorang; dan

4. Menghalangi rasa gembira yang timbul karena memberi seseorang.

Dalam hal yang Baginda sebutkan, pemberian itu bukanlah dimaksudkan khusus untuk Sang Buddha, karena bila memang sudah ditujukan khusus, tak ada seorang pun yang dapat menghalanginya".

"Ada empat hal, O Baginda, sehubungan dengan Tathagata dimana tak seorang pun dapat melakukan hal yang merugikan:



1. pemberian makanan yang sudah dimaksudkan untuk Beliau;

2. sinar yang mengelilingi Beliau sejauh sedepa;

3. kemaha-tahuan Beliau; dan

4. kehidupan Beliau.

Hal-hal itu terbebas dari cacat dan tidak dapat diserang makhluk lain dan tidak dapat diganggu. Ketika Mara menguasai para perumah tangga di desa Pancasala, itu bagaikan perampok-perampok yang mengepung jalan besar sambil bersembunyi di tempat-tempat yang tidak dapat dicapai. Tetapi jika raja melihat mereka, menurut Baginda apakah mereka akan selamat?"

"Tidak, Bhante. Raja mungkin menyuruh agar mereka dipotong hancur".

"Begitu pula, O Baginda. Jika Mara menciptakan penghalang bagi makanan yang telah dikhususkan untuk Sang Buddha, kepalanya akan hancur menjadi ribuan keping".



16. Pengetahuan Akan Kelakuan Yang Salah

"Disabdakan oleh Sang Buddha:

'Siapapun yang karena kebodohannya menghilangkan kehidupan makhluk lain, berarti dia menumpuk karma buruk yang besar'.

Tetapi di dalam peraturan latihan untuk para bhikkhu, Beliau mengatakan:

'Tidak ada pelanggaran kalau dia tidak tahu'. (Vin.iii.78; iv.49)

Bagaimana mungkin kedua pernyataan ini benar?"

"Ada pelanggaran-pelanggaran dimana tidak ada jalan keluarnya walaupun orang tidak tahu, dan ada pelanggaran-pelanggaran yang memiliki jalan keluar. (Bandingkan, Pacittiya 51 —minum minuman keras adalah pelanggaran walaupun tidak diketahui; Pacittiya 62 —mempergunakan air yang mengandung makhluk hidup di dalamnya adalah pelanggaran bila telah diketahui sebelumnya). Pelanggaran yang kedualah yang dimaksudkan Sang Buddha ketika Beliau berkata bahwa tidak ada pelanggaran jika dia tidak tahu".



17. Sang Buddha Tidak Memiliki Sifat Ingin Memiliki

"Sang Buddha mengatakan:

'Sang Tathagata tidak berpikir bahwa Beliau seharusnya memimpin Sangha atau bahwa Sangha tergantung kepada Beliau'. (D.ii.100; M.i.459)

Tetapi mengenai Buddha Metteyya, Beliau mengatakan:

'Dia akan menjadi pemimpin suatu Sangha yang terdiri dari beberapa ribu seperti halnya Saya sekarang pemimpin Sangha beberapa ratus'". (D.iii.76)

"Oh, Baginda. Suatu pengertian kadang-kadang sudah tercakup dalam satu bagian, sedangkan dalam bagian yang lain tidak. Bukan Sang Tathagata yang mencari pengikut, tetapi para pengikutlah yang mencari Beliau. 'Ini milikku' hanyalah merupakan pendapat umum, itu bukanlah kebenaran tertinggi. Kecintaan adalah bentuk pikiran yang sudah disingkirkan oleh Sang Tathagata. Beliau telah menyingkirkan sifat memiliki, Beliau telah terbebas dari pandangan salah 'Ini milikku'. Beliau hidup hanya untuk membantu orang lain. Seperti halnya awan besar yang membawa hujan, O Baginda; Ia mencurahkan hujan dan memberikan makanan kepada rumput dan pohon, kepada ternak dan manusia, dan semua makhluk hidup bergantung kepadanya. Tetapi awan itu tidak memiliki perasaan rindu akan ide 'Ini adalah milikku'. Begitu juga Sang Tathagata mengajarkan kepada semua makhluk mengenai sifat-sifat baik dan mempertahankan mereka dalam kebajikan, dan semua makhluk bergantung kepada Beliau, tetapi Beliau tidak memiliki konsep kepemilikan karena Beliau telah meninggalkan semua pandangan-pandangan salah mengenai diri".



18. Kesatuan Sangha

"Bhante katakan bahwa Sangha Sang Tathagata tidak akan pernah bisa dipecah-belah (D.iii.172). Tetapi Devadatta dapat membawa pergi lima ratus orang bhikkhu dari Sang Buddha". (Vin.ii.198)

"Perpecahan itu terjadi karena kekuatan memecah-belah. Seorang ibu pun dapat terpisah dari anaknya bilamana ada orang yang membuat keretakan. Tetapi bahwa Sangha Sang Tathagata tidak dapat dipecahkan itu dikatakan dalam pengertian khusus. Belum pernah terdengar bahwa pengikut Beliau dapat dipecah-belahkan oleh sesuatu yang dilakukan Sang Tathagata, atau oleh kata yang tidak baik, tindakan yang salah atau ketidak-adilan dari Sang Tathagata sendiri. Dalam pengertian itulah pengikutNya tidak tergoyahkan".

***

Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar