Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha 8

Ringkasan Milinda Panha 8

Bagian Delapan

Penyelesaian Dilema

Setelah merenungkan semalaman mengenai diskusinya dengan Nagasena, sang raja bersumpah pada dirinya sendiri: "Selama 7 hari mendatang ini aku tidak akan memutuskan masalah hukum apapun, aku tidak akan menyimpan pikiran yang bernafsu, pikiran yang berisi kebencian atau pandangan keliru. Terhadap semua pelayan dan pegawai aku akan rendah hati. Aku akan memperhatikan setiap tindak tanduk tubuh dan enam inderaku. Aku akan mengisi pikiranku dengan cinta kasih bagi semua makhluk".

Kemudian Raja Milinda berbicara kepada Nagasena seorang diri. Raja mengatakan, "Ada delapan tempat yang harus dihindari oleh orang yang ingin berdiskusi secara mendalam:



1. tanah yang tidak rata dimana masalah yang didiskusikan menjadi tercerai-berai, bertele-tele, menjadi kabur dan tidak ada hasilnya;

2. tempat yang tidak aman dimana pikiran menjadi terganggu oleh rasa takut sehingga tidak dapat mencerap maksudnya dengan jelas;

3. tempat yang berangin dimana suara menjadi tidak jelas;

4. tempat terpencil dimana mungkin ada orang yang mencuri mendengar;

5. tempat yang sakral dimana pokok pembicaraan mungkin menjadi terbelok ke situasi sekitarnya yang khidmat;

6. jalanan dimana pembicaraan mungkin menjadi dangkal;

7. jembatan dimana pembicaraan mungkin menjadi tidak stabil dan bergoyang; dan

8. tempat mandi umum dimana pembicaraan akan menjadi omongan sehari-hari.

"Juga ada delapan jenis orang, Nagasena, yang cenderung merusak suatu diskusi:



1. orang yang penuh nafsu;

2. orang yang pemarah;

3. orang yang tertutup pandangan salah;

4. orang yang sombong;

5. orang yang iri hati;

6. orang yang malas;

7. orang yang fanatik, hanya punya satu ide; dan

8. orang tolol yang patut dikasihani.

Delapan jenis ini adalah perusak perdebatan tingkat tinggi".

"Ada delapan penyebab, Nagasena, yang menyebabkan berkembangnya dan matangnya kebijaksanaan:



1. berlalunya waktu;

2. bertumbuhnya reputasi;

3. seringnya bertanya;

4. bergaul dengan pembimbing spritual;

5. penalaran dalam diri sendiri;

6. diskusi;

7. bergaul dengan orang-orang yang luhur budi; dan

8. berdiam di tempat yang sesuai.

Tidak ada keberatan tentang tempat di sini ini, jadi kita dapat berdiskusi, dan aku adalah murid teladan; aku bisa memegang rahasia dan pandangan terangku matang.

Inilah, Nagasena, dua puluh lima tugas seorang guru terhadap muridnya yang baik:



1. Guru harus selalu melindungi muridnya;

2. Memberitahukan apa yang harus dikembangkan; dan

3. Memberitahukan apa yang harus dihindari;

4. Memberitahukan apa yang harus ditekuni; dan

5. Memberitahukan apa yang harus diabaikan;

6. Guru harus mengajar pentingnya tidur;

7. Mengajar agar muridnya menjaga kesehatannya;

8. Mengajar tentang makanan apa yang harus dimakan atau dihindari;

9. Mengajar agar tidak makan berlebihan; dan

10. Membagi apa yang diperoleh dalam bowlnya.

11. Guru harus membesarkan hati muridnya yang lemah semangat; dan

12. Menasehatinya tentang teman yang cocok; serta

13. Desa dan vihara mana yang patut dikunjungi.

14. Guru tidak boleh terseret dalam canda atau percakapan tolol yang tak keruan dengan muridnya.

15. Bila guru melihat kelemahan muridnya, ia harus sabar terhadapnya.

16. Guru harus rajin;

17. Harus hidup sesuai dengan sila;

18. Harus patut dihormati; dan

19. Harus berhati lapang.

20. Guru harus memperlakukan muridnya bagai anak kandungnya;

21. Berjuang untuk membuatnya maju;

22. Menguatkannya dalam pengetahuan;

23. Mencintainya dan tidak pernah meninggalkannya saat dibutuhkan;

24. Tidak pernah melalaikan tugas apapun; dan

25. Membawa muridnya kembali ke jalan yang benar bila ia khilaf".

"O, Baginda raja. Untuk murid awam, ada sepuluh sifat ini:



1. Ia harus berbagi suka dan duka Sangha;

2. Memegang Dhamma sebagai pembimbingnya;

3. Bersukacita dalam memberi sejauh ia mampu; dan

4. harus berjuang untuk mengembangkan agamanya jika mulai pudar.

5. Ia memiliki pandangan benar; dan

6. Setelah terbebas dari kesenangan akan ritual (A.iii.206), ia tidak mengejar guru yang lain sekalipun demi kehidupannya.

7. Ia terus mengamati pikiran, perkataan dan perbuatannya;

8. Ia bersukacita dalam keselarasan; dan

9. Tidak bias.

10. Dan karena tidak munafik, ia berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha.

Semua sifat ini ada dalam diri Baginda, dan karenanya pantas dan sesuailah jika Baginda menginginkan agama tumbuh makmur. Setelah melihat kemunduran agama Sang Penakluk ini, Baginda menginginkannya untuk tumbuh subur. Saya ijinkan Baginda bertanya apapun yang Baginda inginkan".



1. Tentang Penghormatan Pada Sang Buddha

"Yang Mulia Nagasena, para pemimpin sekte lain berkata, 'Jika Sang Buddha setuju akan penghormatan dan persembahan, itu berarti Beliau tidak sepenuhnya terbebas dari dunia. Oleh karenanya, semua pelayanan yang diberikan kepada Beliau menjadi kosong dan tidak ada artinya'. Uraikanlah kekusutan pandangan yang salah ini, pecahkanlah dilema ini dan berilah pandangan terang bagi putra-putra Sang Buddha yang akan datang agar dapat membuktikan bahwa lawannya itu berpandangan salah".

"Sang Buddha, O Baginda, telah terbebas sepenuhnya dan tidak mempunyai kemelekatan, baik pada persembahan maupun pada penghormatan yang diberikan kepada Beliau".

"Nagasena, 'Seorang anak boleh memuji ayahnya, atau ayahnya boleh memuji anaknya'. Tetapi itu bukan dasar yang cukup kuat untuk membungkam orang-orang yang mengkritiknya".

"Sang Buddha sekarang telah mangkat dan tidak dapat dikatakan telah menerima penghormatan dan persembahan yang diberikan kepada Beliau. Akan tetapi perbuatan baik telah dilakukan di dalam nama Sang Buddha tetap berharga dan membuahkan hasil yang besar. Bagaikan angin topan yang dahsyat dan kuat bertiup, begitu juga Sang Buddha telah menyapu dunia dengan cinta kasihNya yang begitu melegakan, begitu lembut dan begitu murni. Bagaikan orang yang tersiksa oleh panas dibuai oleh angin yang sejuk, demikian pula makhluk yang tersiksa oleh panasnya nafsu keinginan, kebencian dan kebodohan batin telah ditentramkan oleh ajaran Sang Buddha Yang Mulia. O, Baginda raja yang mulia. Meskipun Sang Buddha telah parinibbana, Beliau telah meninggalkan ajaranNya, muridNya, dan relikNya yang berharga, yang nilainya berasal dari kebajikan luhur, konsentrasi, kebijaksanaan dan kebebasan Beliau. Makhluk yang masih terkena penderitaan karena dumadi pun dapat memperoleh manfaat dari hal-hal ini, seperti halnya orang yang mempunyai kipas masih dapat menikmati angin sepoi meskipun angin tak lagi bertiup. Dan hal ini telah dilihat sebelumnya oleh Sang Buddha ketika Beliau bersabda:

'Mungkin Ananda, beberapa dari kalian akan berpikir, "Ajaran dari Sang Guru telah berakhir, kita tidak lagi mempunyai guru", tetapi kamu tidak boleh menganggap demikian. Dhamma yang telah dibabarkan olehKu dan aturan-aturan yang telah Kugariskan, biarlah mereka menjadi gurumu setelah Aku pergi'. (D.ii.154)

"Dan dengarlah alasan lainnya, O Baginda raja. Apakah Baginda pernah mendengar tentang seorang raksasa bernama Nandaka yang berani memukul Bhante Sariputta lalu tertelan bumi?"

"Ya, Yang Mulia. Itu telah menjadi pengetahuan umum".

"Tetapi apakah Bhante Sariputta yang menyebabkannya?"

"Bhante Sariputta tidak akan pernah menyetujui penderitaan apapun dikenakan pada semua makhluk hidup, karena beliau tidak lagi mempunyai kebencian di hatinya".

"Tetapi jika Sariputta tidak menyetujuinya, mengapa Nandaka ditelan bumi?"

"Itu karena kekuatan perbuatan jahatnya".

"Berapa banyak, O Baginda, orang yang ditelan bumi?"

"Ada lima, Yang Mulia. Cinca si wanita Brahmin (Dh.A.iii.178; Comp.Dhp.v.176), Suppabuddha orang Sakya (Dh.A.iii.44f; Comp.Dhp.v.128), Devadatta (Dh.A.147f; Comp.Dhp.v.17), Nandaka sang raksasa (Vism.380), dan Nanda si Brahmana (Dh.A.ii.49; Comp.Dhp.69). Mereka itu semua ditelan bumi".

"Dan, kepada siapakah, O Raja, mereka telah berbuat salah?"

"Sang Buddha atau murid-murid Beliau".

"Oleh karena itu, O Baginda. Suatu tindakan yang ditujukan kepada Sang Tathagata, meskipun Beliau telah meninggal dunia, tetap ada nilainya dan menghasilkan buah".

"Dengan baik pertanyaan yang dalam ini telah dijawab olehmu, Nagasena. Bhante telah mengungkapkan apa yang tadinya tersembunyi. Bhante telah menguraikan kekusutannya, menjernihkan yang pekat, meluruskan pandangan yang salah. Oleh Bhante orang-orang yang picik telah terselimuti dalam kegelapan. Bhante memang pemimpin terbesar dari segenap pemimpin aliran".



2. Kemaha-tahuan Sang Buddha

"Nagasena, apakah Sang Buddha Maha-tahu?"

"O ya, Baginda. Tetapi pandangan terang untuk pengetahuan tidak selalu ada bersama Beliau. Itu tergantung pada perenungan".

"Kalau begitu, Nagasena. Sang Buddha tidak mungkin Maha-tahu kalau pengetahuanNya didapat dari perenungan".

"Saya akan menjelaskan lebih lanjut. Ada tujuh tingkat kekuatan mental:



1. Orang biasa yang penuh dengan nafsu, kebencian dan kebodohan batin; tidak terlatih dalam tindakan, perkataan dan pikirannya; pemikiran mereka berjalan dengan lambat dan sulit.

2. Para sotapana, yaitu yang telah masuk ke Sang Jalan, yang telah mencapai pandangan benar, dan telah mengerti ajaran Sang Guru dengan benar. Kekuatan pemikiran mereka berjalan dengan cepat dan berfungsi dengan mudah, sejauh masih berhubungan dengan tiga belenggu yang pertama (nafsu, niat jahat, kesombongan). Tetapi di luar itu, kekuatan pemikiran mereka berfungsi dengan lambat dan sulit.

3. Para sakadagami, yaitu yang masih terlahir sekali lagi. Dalam diri mereka nafsu dan kebencian telah hilang. Kekuatan pemikiran mereka bekerja dengan cepat dan baik, sejauh masih berhubungan dengan lima belenggu bagian bawah (nafsu, niat jahat, kesombongan, kepercayaan adanya diri, keraguan). Di luar itu sulit dan lambat.

4. Para anagami, yaitu yang tidak terlahir lagi. Pada mereka nafsu dan kebencian telah lenyap. Kekuatan pemikiran mereka berjalan dengan cepat dan baik sejauh masih berhubungan dengan sepuluh belenggu (nafsu, niat jahat, kesombongan, kepercayaan adanya diri, keraguan, fanatik terhadap upacara dan tradisi, keinginan untuk dumadi, keiri-hatian, pertentangan, kebodohan batin). Tetapi di luar itu sulit dan lambat.

5. Para arahat. Pada mereka banjir hawa nafsu indria, keinginan untuk kelahiran kembali, kepercayaan adanya diri dan kebodohan batin telah berhenti. Mereka telah menempuh kehidupan suci dan mencapai tujuan akhir. Kekuatan pemikiran mereka bekerja dengan cepat, sejauh masih berhubungan dengan lingkup murid. Tetapi di luar itu sulit dan lambat. Walaupun mereka sudah amat bijaksana, tetapi masih belum mengetahui tentang kehidupan-kehidupan sebelumnya dan belum mempunyai pengetahuan akan kemampuan-kemampuan sebelumnya dan belum mempunyai pengetahuan akan kemampuan-kemampuan spritual para makhluk.

6. Para Buddha-Diri-Sendiri (Pacceka Buddha), yang tergantung pada diri mereka sendiri saja dan tidak memerlukan guru. Kekuatan pemikiran mereka berjalan dengan cepat, sejauh masih berhubungan dengan lingkup mereka sendiri. Tetapi dalam lingkup yang khusus bagi Sang Yang Mencapai Penerangan Sempurna, pemikiran mereka lambat dan sulit. Seperti halnya seseorang yang tak akan ragu menyeberangi sungai kecil di tanahnya sendiri akan ragu bila menyeberangi samudra luas.

7. Para Buddha Yang Mencapai Penerangan Sempurna. Mereka mempunyai segala pengetahuan, memiliki 10 kekuatan, 4 macam ketidak-takutan dan 18 ciri seorang Buddha. Kekuatan pemikiran mereka bekerja cepat tanpa ada hambatan dalam pengetahuan apapun. Seperti halnya sebatang anak panah akan dengan mudah menembus kain yang tipis, demikian pula pengetahuan mereka tidak ada batasnya dan jauh melebihi 6 tingkat lainnya. Karena pikiran mereka sangat jernih dan cerdas, maka para Buddha itu dapat melakukan Mukjizat Kembar. Dari situ kita hanya dapat membayangkan betapa jernih dan aktifnya kekuatan mereka. Dan melihat semua keajaiban ini, tidak ada alasan lain yang dapat dikemukakan, kecuali karena perenungan".

"Tetapi, meskipun demikian, Nagasena. Perenungan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sesuatu hal yang masih belum jelas sebelum perenungan dimulai".

"Seseorang yang kaya tidak akan disebut miskin hanya karena tidak ada makanan yang tersedia pada saat seorang kelana tanpa disangka-sangka tiba; tidak juga sebuah pohon yang penuh buah dikatakan mandul hanya karena tak ada buah yang jatuh di tanah. Demikian juga Sang Buddha benar-benar maha-tahu meskipun pengetahuanNya diperoleh dari perenungan".



3. Pentahbisan Devadatta

"Jika Sang Buddha itu benar-benar maha-tahu dan sekaligus penuh dengan welas asih, mengapa Beliau mengijinkan Devadatta masuk Sangha? Toh, Devadatta akhirnya masuk ke neraka selama satu kalpa karena menyebabkan perpecahan Sangha? Jika Sang Buddha tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Devadatta di kemudian hari, berarti Beliau tidak maha-tahu. Sebaliknya jika Beliau tahu, berarti tidak penuh welas asih".

"Sang Buddha benar-benar maha-tahu dan sekaligus penuh welas asih. Karena Beliau telah melihat terlebih dahulu bahwa penderitaan Devadatta akan jadi terbataslah, maka Beliau mengijinkannya memasuki Sangha. Seperti halnya seorang penguasa yang mempunyai wewenang untuk mengubah hukuman mati menjadi hukuman potong tangan dan kaki, tidak bertanggung jawab atas penderitaan dan kesakitan yang tetap harus dirasakan. Atau seperti halnya seorang tabib yang pintar dapat mengurangi penyakit yang kritis menjadi lebih ringan dengan memberikan pengobatan. Demikian juga Sang Buddha mengurangi penderitaan yang akan datang bagi diri Devadatta dengan mengijinkannya memasuki Sangha. Setelah menjalani penderitaan dalam neraka selama satu kalpa, Devadatta kemudian akan bebas dan menjadi Pacceka Buddha yang bernama Atthissara".

"Sungguh besar anugerah yang diberikan pada Devadatta oleh Sang Buddha, Nagasena. Sang Tathagata menunjukkan jalan baginya ketika tersesat di rimba belantara. Beliau memberikan tumpuan yang kokoh ketika Devadatta terjatuh. Tetapi alasan dan maksud dari semuanya itu hanya dapat ditunjukkan oleh orang sebijaksana Bhante!"



4. Penyebab-penyebab Gempa Bumi

"Sang Buddha berkata, Nagasena. Bahwa ada delapan penyebab gempa yang hebat (D.ii.107; A.iv.312). Tetapi kita dapatkan ada sembilan yang disebutkan di dalam text. Ketika Bodhisattva Vessantara memenuhi kesempurnaan kemurahan hatinya dengan memberikan istri dan anaknya sebagai pelayan, maka bumi juga bergetar. Jika pernyataan Sang Buddha itu benar, berarti yang kedua itu salah".

"Kedua pernyataan itu benar, O Baginda. Persembahan Vessantara itu tidak disebutkan sebagai penyebab ke sembilan, karena hal itu merupakan suatu kejadian yang sangat langka. Seperti halnya sebuah anak sungai kering yang biasanya tidak berair tidak akan disebut sungai, tetapi pada saat-saat hujan ia menjadi sungai, demikian juga kebesaran hati Vessantara adalah sesuatu yang amat langka, dan karenanya dibedakan dari delapan penyebab umum gempa".

"Pernahkah Baginda mendengar dalam sejarah agama kita, tentang suatu tindakan pengabdian yang berbuah pada kehidupan sekarang ini juga?"

"Ya, Yang Mulia Nagasena. Ada tujuh macam kasus semacam itu: Sumana si pembuat karangan bunga (Dh.A.ii.40f; Dhp.v.68), Ekasataka sang brahmana (Dh.A.iii.1; Dhp.v.116), Punna sipekerja ladang (Dh.A.iii.302f; Dhp.v.223), Malika sang ratu (Ja.iii.405; Dhp.v.117), Ratu yang dikenal sebagai ibu dari Gopala (AA.i.207f), Suppiya wanita yang penuh pengabdian (Vin.i.217-218: Setelah berjanji mempersembahkan daging untuk seorang bhikkhu namun ia tidak berhasil membelinya maka ia memotong pahanya sendiri untuk dipersembahkan kepada bhikkhu tersebut. Ketika Sang Buddha menemuinya, luka tersebut menjadi sembuh langsung), dan Punna si budak wanita (Dh.A.iii.321; Dhp.v.226)".

"Tetapi sudah pernahkah Baginda mendengar bahwa tanah ini bergetar sekali dua ketika suatu persembahan diberikan?"

"Belum, Yang Mulia. Saya belum pernah mendengar hal itu".

"Sayapun, Baginda raja. Tidak pernah mendengar hal seperti itu meskipun saya telah dengan sungguh-sungguh belajar dan siap untuk belajar, kecuali dalam kasus persembahan luar biasa yang dilakukan oleh Vessantara. Bukan hanya karena usaha yang biasa saja bumi ini dapat bergetar, O Baginda. Hanyalah ketika bumi terbebani oleh kekuatan kebajikan, dikalahkan oleh kekuatan tindakan-tindakan yang baik dan terbukti sepenuhnya murni, maka barulah bumi yang luas ini bergempa dan bergetar karena tak sanggup menahan beban kekuatan itu. Dan ketika Vessantara memberikan persembahannya, O Baginda raja, ia memberikan segala sesuatunya bukan demi kelahiran kembali yang mulia, bukan demi kekayaan di masa mendatang, bukan untuk mengharap imbalan hadiah, dan bukan untuk pujian atau keuntungan pribadi lainnya. Hanya demi kebijaksanaan sejatilah ia memberikan semuanya itu".
 
5. Pernyataan Kebenaran

"Raja Sivi memberikan matanya kepada seseorang yang memintanya dan kemudian dia mempunyai mata baru yang muncul sebagai gantinya (Ja.No.299). Bagaimana hal ini mungkin?"

"Karena kekuatan kebenaranlah hal itu terjadi. Seperti halnya ahli kebatinan yang membaca kebenaran dapat membuat hujan turun, mengusir api atau menetralkan racun".

"Ketika Asoka, penguasa yang jujur itu suatu hari berdiri di antara penduduk kota Palaliputta.

Ia berkata kepada menterinya: 'Adakah orang yang dapat membuat Sungai Gangga ini mengalir balik arah dan melawan arus?'

Kemudian seorang pelacur yang bernama Bindumati, yang ada di antara kerumunan itu, melakukan tindakan kebenaran. Dan pada saat itu juga Sungai Gangga yang besar itu bergemuruh dan bergelombang, membalik arah di depan mata semua orang.

Dan sang raja yang terpengarah mencari wanita yang menyebabkan hal itu terjadi dan bertanya padanya, 'Tindakan kebenaran apa yang telah kau lakukan untuk dapat melakukan hal ini?'

Si wanita menjawab, 'Siapapun yang membayar saya, tak peduli apakah ia seorang brahmana, ningrat, pedagang atau pelayan, saya perlakukan mereka semua sama sederajat. Bebas dari bias saya melayani mereka sesuai dengan apa yang telah dibayarkan kepada saya. Inilah dasar dari tindakan kebenaran yang saya lakukan untuk dapat membalik aliran Sungai Gangga'".

"Tidak ada kekuatan biasa yang dapat menyebabkan hal-hal semacam itu terjadi, hanyalah kekuatan kebenaran itu sendiri yang merupakan penyebabnya. Dan tidak ada alasan untuk merealisasikan Empat Kesunyataan Mulia selain dari kekuatan kebenaran itu sendiri".



6. Dilema Seputar Kehamilan

"Sang Buddha bersabda bahwa kehamilan terjadi di rahim dengan adanya tiga penyebab: persetubuhan yang dilakukan orang tua, kesuburan sang ibu, dan seorang makhluk untuk dilahirkan (M.i.265; M.ii.157). Tetapi Beliau juga berkata bahwa ketika pertapa Dukala menyentuh pusar seorang wanita pertapa yang bernama Parika dengan ibu jarinya, bayi Sama terkandung (Ja.No.540). Jika pernyataan yang pertama itu benar, maka pernyataan kedua pasti salah".

"Kedua pernyataan itu benar, O Baginda raja. Tetapi Baginda jangan berpikir bahwa ada pelanggaran dalam kasus kedua. Sakka —raja para dewa, setelah melihat terlebih dahulu bahwa para pertapa yang luhur tersebut akan menjadi buta, meminta mereka untuk mempunyai anak lelaki. Tetapi kedua pertapa itu tidak mau melakukan hubungan seksual sekalipun untuk menyelamatkan jiwa mereka sendiri. Maka Sakka turut campur dengan menyuruh Dukala. Dengan demikian Sama terkandung".



7. Umur Agama

"Setelah pentahbisan para wanita, Sang Buddha bersabda bahwa ajaran yang murni itu hanya akan bertahan selama 500 tahun. Tetapi kepada Subhadda, Beliau bersabda, 'Selama para bhikkhu Sangha masih menjalani kehidupan suci maka dunia ini tidak akan kekurangan arahat'. Pertanyaan-pertanyaan ini bertentangan".

"O Baginda. Sang Buddha memang membuat kedua pernyataan itu, tetapi keduanya berbeda dalam inti dan arti. Yang satu berhubungan dengan umur ajaran yang murni, sedangkan satunya lagi berhubungan dengan praktek dari kehidupan agama. Dan dua hal ini jelas sangat berbeda. Pada saat bersabda tentang 500 tahun itu Beliau memberikan batasan kepada agama. Akan tetapi ketika berbicara kepada Subhadda, Beliau menyatakan tentang apa yang terkandung dalam agama. Jika murid-murid Sang Buddha terus berusaha sekuat-kuatnya dalam lima faktor perjuangan (Padhana: keyakinan, kesehatan yang baik, kejujuran, semangat dan kebijaksanaan); mempunyai keinginan murni untuk 3 latihan (sila, samadhi, panna); menyempurnakan diri mereka dalam tindakan dan nilai-nilai luhur; maka ajaran Sang Penakluk yang mulia itu akan bertahan lama dan akan semakin kuat dan kokoh dengan berjalannya waktu. Ajaran Sang Buddha, O Baginda raja, berakar pada praktek. Prakteklah intinya, dan ajaran itu akan tetap bertahan selama praktek tidak kendur.

Suatu ajaran bisa lenyap karena tiga hal:



1. mundurnya pencapaian pandangan terang di dalam ajaran itu;

2. mundurnya praktek yang berhubungan dengan ajaran itu; dan

3. mundurnya bentuk luar ajaran itu.

Bila pengertian intelektual hilang, maka meskipun orang yang sudah menjalani hidup dengan benarpun tidak mempunyai pengertian yang jelas tentang ajaran itu. Dengan mundurnya praktek, penerapan aturan Vinaya akan hilang dan hanya bentuk luar agama itu saja yang tertinggal. Bila bentuk luar itu lenyap maka tradisi itu terputus dan tidak akan dapat berlanjut.



8. Kemurnian Sang Buddha

"Jika Sang Tathagata telah menghancurkan semua yang tidak baik di dalam dirinya saat mencapai kemaha-tahuan, mengapa Beliau terluka oleh pecahan batu yang dilemparkan oleh Devadatta? Jika Beliau dapat terluka, maka Beliau tidak dapat dikatakan telah terbebas dari segala kejahatan, karena tidak akan ada perasaan tanpa adanya kamma. Semua perasaan berakar pada kamma dan hanya dengan pengaruh kamma-lah perasaan timbul".

"Tidak, Baginda raja yang mulia. Tidak semua perasaan mempunyai akar pada kamma. Ada delapan penyebab timbulnya perasaan:



1. angin yang berlebihan;

2. cairan empedu yang berlebihan;

3. lendir yang berlebihan;

4. campuran dari tiga cairan tubuh;

5. variasi temperatur;

6. stress lingkungan;

7. pengaruh luar; dan

8. kamma.

Siapapun yang berkata, 'Hanyalah kamma yang mengatur makhluk', berarti dia tidak mengikut-sertakan tujuh penyebab lainnya. Dan karena itu, pernyataannya itu salah.

Bila unsur angin dalam diri seseorang terganggu, gangguan itu dapat terjadi karena salah satu dari 10 penyebab:



1. karena dingin;

2. karena panas;

3. karena lapar;

4. karena haus;

5. karena terlalu banyak makan;

6. karena berdiri terlalu lama;

7. karena pengerahan tenaga yang berlebihan;

8. karena berlari;

9. karena pengobatan medis; atau

10. karena akibat dari kamma.

Empedu dapat terganggu karena tiga hal: karena dingin; karena panas; atau karena makanan yang tidak tepat. Lendir dapat terganggu karena tiga hal: karena dingin; karena panas; atau karena makan dan minum. Bila ketiga-tiganya yang terganggu ini bercampur, terjadi rasa sakit tersendiri. Kemudian ada rasa sakit yang timbul dari variasi temperatur, stress lingkungan, dan pengaruh-pengaruh luar. Kemudian ada juga rasa sakit yang disebabkan oleh kamma.

Jadi rasa sakit yang disebabkan oleh kamma jauh lebih sedikit daripada rasa sakit yang ditimbulkan oleh penyebab-penyebab lainnya. Orang yang salah pandangan sudah keterlaluan bila mengatakan bahwa segala sesuatu yang dialami itu disebabkan oleh kamma. Tanpa pandangan terang dari seorang Buddha, tidak ada yang dapat menentukan jangkauan dari kamma. Dan ketika kaki Sang Buddha terluka oleh pecahan batu, rasa sakitnya berasal dari pengaruh luar. Tetapi meskipun Sang Buddha tidak pernah menderita rasa sakit yang disebabkan oleh kamma Beliau sendiri, atau karena stress lingkungan, Beliau tetap menderita rasa sakit yang disebabkan oleh salah satu dari enam penyebab rasa sakit yang lain. Dan, O Baginda. Seperti yang disabdakan oleh Sang Buddha:

'Ada beberapa rasa sakit yang timbul di dunia ini, Sivaka, dari humor yang menyakitkan. Dan engkau harus tahu apa humor itu karena itu hanyalah persoalan pengetahuan biasa saja. Para pertapa dan Brahmana yang berpendapat dan menyatakan pandangan bahwa semua perasaan yang dialami itu disebabkan oleh tindakan yang lalu, mereka sudah melewati batas kepastian dan pengetahuan, dan karenanya Aku katakan bahwa mereka itu salah'". (S.iv.230f, Moliya Sivaka Sutta)



9. Kesempurnaan Sang Buddha

"Jika Sang tathagata telah mencapai segalanya di bawah pohon bodhi, mengapa Beliau menghabiskan waktu 3 bulan lagi dalam kesendirian?" (Comp.Dhp.v.6)

"O Baginda raja. Meditasi kesendirian mempunyai banyak manfaat. Semua Tathagata mencapai ke-Buddha-an dan kemudian mempraktekkannya pada umat manusia dengan tujuan untuk berterimakasih atas manfaat yang didapat. Ada dua puluh delapan keuntungan dari kesendirian:



1. kesendirian membimbing seseorang;

2. meningkatkan usia kehidupannya;

3. memberikan semangat;

4. menyembunyikan kelemahannya;

5. menghilangkan semua reputasi yang jelek; dan

6. membawa kemashyuran;

7. menghancurkan ketidak-puasan; dan

8. menumbuhkan kepuasan;

9. menghapuskan ketakutan; dan

10. memberi keyakinan;

11. menghilangkan kemalasan; dan

12. memenuhinya dengan semangat;

13. mengusir nafsu;

14. mengusir kebencian; dan

15. mengusir pandangan salah;

16. mengurangi kesombongan;

17. menghalau pikiran yang bercabang-cabang; dan

18. membuat pikiran terpusat;

19. melembutkan pikirannya; dan

20. membuatnya ringan hati;

21. membuatnya serius;

22. membawa keuntungan materi;

23. membuatnya patut dihormati;

24. memberikan kegembiraan;

25. mengisinya dengan sukacita;

26. menunjukkan padanya sifat semua bentuk-bentuk pikiran;

27. menghentikan kelahiran kembali; dan

28. memberikan padanya semua buah dari kehidupan meninggalkan duniawi.

Karena Sang Tathagata mempunyai pemikiran tentang berbagai keuntungan inilah maka Beliau mengikuti praktek kesendirian.

Dan seluruhnya ada empat alasan mengapa Sang Tathagata mengabdikan diri pada kesendirian:



1. agar supaya dapat berdiam dalam ketenangan;

2. karena sifat kesendirian yang sama sekali tak tercela;

3. karena kesendirian merupakan jalan bagi segala yang luhur tanpa kecuali; dan

4. karena hal itu telah dipuji dan dimuliakan oleh semua Buddha.

Bukan karena masih ada yang harus dicapai oleh para Buddha itu, dan bukan pula karena masih ada sesuatu yang perlu ditambahkan pada apa yang telah mereka capai, melainkan hanya karena manfaat-manfaat yang luar biasa itulah maka mereka berlatih kesendirian".



10. Keseimbangan Sang Buddha

"Sang Buddha bersabda bahwa jika diinginkan, Beliau dapat hidup sampai satu kalpa habis (D.ii.103 —Kappa di sini berarti usia manusia rata-rata yaitu sekitar 100 tahun pada jaman kehidupan Sang Buddha). Tetapi Beliau juga bersabda bahwa Beliau akan meninggal 3 bulan kemudian (D.ii.119). Bagaimana kedua pernyataan ini dapat benar semuanya?"

"Kappa, O raja, dalam hal itu adalah jangka waktu lamanya kehidupan seseorang. Dan apa yang disabdakan oleh Sang Buddha adalah untuk menunjukkan hebatnya kekuatan kesaktian. Sang Buddha sudah terbebas sepenuhnya dari keinginan akan bentuk kehidupan mendatang apapun. Beliau bahkan mencelanya dan bersabda:

'Aku tidak menemukan keindahan sama sekali dalam bagian terkecilpun dari kehidupan mendatang, sama halnya bahwa bagian terkecil dari kotoranpun tetaplah berbau busuk'". (A.i.34)

***

Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar