Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha 14

Ringkasan Milinda Panha 14

Bagian Empat Belas


61. Berada Tanpa Rintangan

"Sang Buddha bersabda:

'Hiduplah dengan bakti pada apa yang tanpa rintangan, dan berbahagialah dalam apa yang tanpa rintangan itu'. (M.i.65)

Apakah yang tanpa rintangan itu?"

"Empat Phala dari Sang Jalan dan nibbana adalah yang tanpa rintangan".

"Tetapi, jika demikian, Yang Mulia Nagasena. Mengapa para bhikkhu merepotkan diri dengan mempelajari ajaran Sang Buddha serta membangun apa yang harus diperbaiki dan memberi persembahan pada Sangha?"

"Para bhikkhu yang melakukan hal-hal itu perlu melepaskan pikiran mereka dari rintangan sebelum mereka dapat mencapai Empat Phala Sang Jalan. Akan tetapi mereka yang pada dasarnya memang sudah murni, sebenarnya telah melakukan pekerjaan persiapan seperti itu dalam kehidupan mereka sebelumnya. Maka dengan mudah mereka dapat mencapai Phala Sang Jalan tanpa persiapan seperti itu. Seperti halnya seorang petani di beberapa daerah berhasil menanam tanpa harus membangun pagar, sementara di tempat lain ia terlebih dahulu harus membangun pagar atau tembok; atau seperti orang yang mempunyai kesaktian khusus dapat dengan mudahnya memetik buah yang ada di puncak pohon yang tinggi, sementara orang lain harus membuat tangga terlebih dahulu. Demikian juga, belajar, bertanya, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya adalah seperti tangga yang membantu para bhikkhu mencapai Phala dari empat pencapaian tersebut. Selama masih dibutuhkan proses belajar pada guru, bahkan bhikkhu seperti Bhante Sariputta pun masih menganggap tidak mungkin dapat berhasil mencapai tingkat Arahat tanpa bantuan guru, maka tetap bergunalah pembacaan kitab suci. Dan dengan demikian para murid akan terbebas dari rintangan dan akan mencapai tingkat Arahat".



62. Arahat Awam

"Bhante berkata bahwa jika seorang umat awam mencapai tingkat Arahat, ia harus memasuki Sangha pada hari itu juga, atau mati dan mencapai parinibbana. Tetapi jika ia tidak mendapat jubah, mangkuk dan penahbis, maka kondisi ke-Arahat-an yang mulia itu akan sia-sia karena melibatkan hancurnya suatu kehidupan".

"Kesalahannya bukan terletak pada ke-Arahat-annya, melainkan pada keadaan si umat awam yang terlalu lemah untuk menopang ke-Arahat-an itu. Seperti halnya, O Baginda, meskipun makanan melindungi kehidupan makhluk ia juga akan mengambil nyawa orang yang pencernaannya lemah. Demikian juga, jika seorang awam mencapai tingkat Arahat, maka karena kelemahan kondisi itulah ia harus memasuki Sangha pada hari itu juga. Kalau tidak, ia akan mati".



63. Pelangaran Para Arahat

"Bhante mengatakan bahwa seorang Arahat tidak mungkin mempunyai kewaspadaan yang kebingungan (Pts.contr.114). Kalau begitu, dapatkah ia melakukan pelanggaran?"

"Dapat, O Baginda. Pada masalah ukuran kutinya. Dia mungkin saja bertindak sebagai perantara perjodohan, makan tidak pada waktunya, makan makanan yang tidak dipersembahkan, atau mengira ia tidak diundang padahal sebetulnya diundang".

"Tetapi Bhante mengatakan bahwa orang yang melakukan pelanggaran itu melakukannya karena kebodohan atau rasa tidak hormat. Jika seorang Arahat dapat jatuh dalam pelanggaran dan jika tidak ada rasa hormat di dalam diri Arahat, apakah itu berarti ada kebingungan dalam kewaspadaan?"

"Tidak, tidak ada kebingungan pada kewaspadaan dalam diri seorang Arahat. Ada 2 jenis pelanggaran. Ada hal-hal yang salah di mata dunia umum seperti misalnya pembunuhan, pencurian dan sebagainya. Serta ada hal-hal salah yang hanya berlaku bagi para bhikkhu, seperti misalnya: makan tidak pada waktunya, merusak pepohonan dan tumbuhan, atau bermain air. Dan banyak lagi hal-hal seperti itu, O Raja, yang tidak salah di dunia umum tetapi salah bagi seorang bhikkhu. Seorang Arahat tidak mungkin berbuat kesalahan jenis pertama, tetapi ia mungkin dapat melakukan kesalahan jenis kedua karena ia tidak mengetahui segala hal. Ia mungkin tidak tahu jam berapa saat itu, atau hari apa, atau nama keluarga seorang wanita. Akan tetapi setiap Arahat mengetahui tentang kebebasan dari penderitaan".



64. Apa Yang Tidak Di Dunia

"Ada banyak macam hal yang dapat ditemui di dunia ini, Yang Mulia Nagasena. Tetapi katakanlah padaku apa yang tidak dapat ditemukan di dunia ini".

"Ada tiga hal, O Baginda, yang tidak dapat ditemukan di dunia ini: Sesuatu, yang sadar ataupun yang tidak sadar, yang tidak lapuk dan lenyap, Paduan Unsur (sankhara) atau hal terkondisi yang kekal, dan dalam arti yang sebenar-benarnya tidak ada sesuatu yang disebut makhluk".



65. Yang Tanpa Sebab

"Bhante Nagasena. Terdapat hal-hal di dunia ini yang menjadi ada karena kamma, ada yang merupakan hasil dari suatu sebab, dan ada yang dihasilkan oleh musim. Beritahukan padaku, apakah ada yang tidak masuk di dalam tiga kategori itu?"

"Ada dua hal, O Baginda; ruang dan nibbana".

"Bhante Nagasena. Janganlah mengubah kata-kata Sang Penakluk, atau menjawab pertanyaan tanpa mengetahui apa yang Bhante katakan!"

"Apa yang telah saya katakan, O Baginda, sehingga Baginda berkata demikian?"

"Yang Mulia, memang betul apa yang Bhante katakan tentang ruang. Tetapi dengan ratusan alasan Sang Buddha menyatakan pada muridNya cara menuju perwujudan nibbana. Dan Bhante mengatakan bahwa nibbana bukanlah hasil dari suatu sebab".

"Memang benar, O Raja. Dengan banyak cara Sang Buddha menunjukkan sebab bagi timbulnya nibbana".

"Di sini, Bhante Nagasena, kami melangkah dari kegelapan menuju ke kegelapan yang lebih besar; dari ketidak-pastian menuju ke kebingungan total. Jika ada ayah dari seorang anak, maka kami akan mengharapkan dapat menemukan ayah dari sang ayah. Demikian juga, jika ada penyebab bagi perwujudan nibbana maka kami mengharapkan dapat menemukan penyebab bagi timbulnya nibbana itu".

"Nibbana, O Raja, tidak dibangun, dan karenanya tidak ada sebab yang dapat ditunjuk bagi pembuatannya. Tidak dapat dikatakan bahwa nibbana itu telah timbul atau dapat timbul; bahwa nibbana itu adalah masa lalu, masa kini atau masa depan; atau dapat dikenali dengan mata, telinga, hidung, lidah atau tubuh".

"Kalau begitu, Yang Mulia Nagasena. Nibbana adalah kondisi yang tidak ada!"

"Nibbana itu ada, O Baginda, dan dapat dikenali lewat pikiran. Seorang murid luhur yang pikirannya murni, mulia, tulus, tidak terhalang, dan bebas dari kemelekatan dapat mencapai nibbana".

"Kalau begitu, jelaskanlah dengan perumpamaan apa nibbana itu".

"Apakah ada sesuatu yang disebut angin?"

"Ya, ada".

"Kalau begitu, jelaskanlah dengan perumpamaan apa angin itu".

"Tidaklah mungkin dapat menjelaskan apa angin itu dengan menggunakan perumpamaan. Tetapi angin itu ada".

"Demikian juga, O Baginda. Nibbana itu ada tetapi tidak mungkin digambarkan".



66. Cara-cara Menghasilkan

"Apa saja yang dilahirkan oleh kamma, apa yang dilahirkan oleh sebab, dan apa yang dilahirkan oleh musim? Dan apa yang bukan semua ini?"

"Semua makhluk, O Baginda, dilahirkan oleh kamma. Api, dan semua yang bertumbuh dari biji, dilahirkan oleh sebab. Tanah, air dan angin dilahirkan oleh musim. Sedangkan ruang dan nibbana itu ada, tetapi tidak tergantung dari kamma, sebab dan musim. Tentang nibbana, tidak dapat dikatakan dapat dikenali oleh panca indera, tetapi dapat dipahami oleh batin. Seorang murid yang batinnya murni, dan bebas dari rintangan dapat mencerap nibbana".



67. Setan

"Apakah ada sesuatu yang disebut yakkha (setan) di dunia ini?"

"Ya, O Baginda, ada".

"Kalau begitu mengapa sisa yakkha yang telah mati tidak terlihat?"

"Sisa yakkha dapat dilihat dalam bentuk serangga, seperti belatung, semut, ngengat, ular, kalajengking, lipan dan binatang-binatang liar lainnya".

"Siapa lagi, Nagasena, yang dapat memecahkan teka-teki ini kecuali orang sebijaksana Bhante!"



68. Menetapkan Peraturan Bagi Para Bhikkhu

"Para dokter yang terkenal mampu menuliskan resep obat yag sesuai bagi suatu penyakit sebelum penyakit tersebut timbul, meskipun mereka tidak maha-tahu. Kalau begitu mengapa Sang Tathagata tidak menetapkan peraturan bagi para bhikkhu sebelum ada kejadian, tetapi menunggu sampai suatu pelanggaran terjadi dan terdengar keributan?"

"Sang Tathagata, O Baginda, telah mengetahui sebelumnya bahwa 150 aturan itu semuanya harus ditetapkan. Tetapi Beliau berpikir, 'Jika Saya menetapkan semua peraturan ini sekaligus maka akan banyak yang takut memasuki Sangha karena melihat begitu banyaknya aturan yang harus diperhatikan, karenanya Aku akan menetapkan peraturan ketika dibutuhkan'". (Vin.iii.9,10)



69. Panas Matahari

"Mengapa panas sinar matahari terkadang garang dan terkadang tidak?"

"Terhalang oleh empat hal, O Baginda, maka matahari tidak bersinar garang: oleh awan badai, kabut, awan debu, atau oleh bulan (gerhana) (Vin.ii.295; A.ii.53). (Demikian pula, empat hal yang menghalangi sinar para pertapa: minum minuman yang memabukkan, melakukan hubungan seksual, menerima emas dan perak serta menjalani kehidupan dengan cara yang tidak benar).

"Betapa mengagumkan, Yang Mulia Nagasena. Bahwa matahari yang begitu hebat, dan begitu kuat, dapat terhalang. Apalagi makhluk lain".



70. Matahari Musim Dingin

"Mengapa matahari lebih garang di musim dingin daripada di musim panas?"

"Di musim dingin langit cerah, sehingga matahari bersinar dengan garang. Tetapi di musim panas debu beterbangan dan awan terkumpul di langit, sehingga panas sinar matahari terkurangi".

***

Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar