Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha 15

Ringkasan Milinda Panha 15

Bagian Lima Belas


71. Pemberian Vessantara (Ja.vi.479ff)

"Bhante Nagasena, apakah semua Bodhisatta meninggalkan istri dan anaknya, atau hanya Vessantara saja?"

"Semuanya".

"Tetapi apakah semua istri dan anaknya menyetujuinya?"

"Para istri menyetujuinya, tetapi anak-anaknya tidak setuju, karena usia mereka yang masih muda".

"Tetapi, apakah tindakan itu bijak, karena toh anak-anaknya ketakutan dan menangis ketika ditinggalkan?"

"Ya. Seperti halnya seseorang yang ingin berbuat kebajikan, dia akan membawa seseorang yang cacat dalam kereta kemanapun ia pergi sehingga membuat kerbaunya menderita; atau seperti halnya seorang raja harus menarik pajak dalam rangka berbuat kebajikan yang besar; demikian juga tindakan memberi. Meskipun hal itu dapat menyebabkan kesedihan yang mendalam bagi beberapa orang, tetapi akan membawa kelahiran kembali di alam surga. Apakah ada, O Baginda, pemberian yang seharusnya tidak diberikan?"

"Ya, Bhante Nagasena. Ada sepuluh macam pemberian yang tidak seharusnya diberikan, pemberian yang menyebabkan kelahiran kembali di alam yang menyedihkan:



1. pemberian yang dapat membuat mabuk;

2. pemberian dalam bentuk pesta;

3. pemberian dalam bentuk wanita;

4. pemberian dalam bentuk pria;

5. pemberian dalam bentuk maksud-maksud tertentu yang tidak baik;

6. pemberian dalam bentuk senjata;

7. pemberian dalam bentuk racun;

8. pemberian dalam bentuk rantai atau alat penyiksaan;

9. pemberian dalam bentuk unggas dan babi;

10. pemberian dalam bentuk timbangan dan alat ukur yang salah".

"Saya tidak bertanya tentang pemberian yang tidak disetujui secara duniawi. Saya bertanya tentang pemberian yang tidak boleh diberikan meskipun ada orang yang patut menerimanya".

Kalau begitu, Bhante Nagasena, tidak ada pemberian yang tidak seharusnya diberikan. Bilamana keyakinan dalam Dhamma telah muncul, beberapa orang memberikan 100.000, atau suatu kerajaan, atau bahkan kehidupan mereka".

"Kalau begitu mengapa Baginda mengkritik pemberian Vessantara dengan begitu sengitnya? Bukankah terkadang ada kasus dimana seseorang yang terlilit hutang mungkin menjual anaknya atau menanggungkannya sebagai agunan? Demikian juga, Vessantara memberikan anaknya sebagai tekad bagi pencapaian kemaha-tahuannya di masa depan".

"Tetapi mengapa ia tidak memberikan dirinya sendiri saja?"

"Karena bukan itu yang diminta. Menawarkan sesuatu yang lain akan menjadi rendah nilainya. Lagi pula, O Baginda raja. Vessantara tahu bahwa Brahmana tersebut tidak akan mampu mempekerjakan anak-anaknya sebagai budak dalam waktu yang lama karena ia telah lanjut usia dan kakek mereka akan menebus mereka kembali".

"Dengan baik sekali, Bhante, teka-teki ini telah tersingkap dan jaring klenik ini telah terobek-robek. Bagus sekali cara Bhante tetap menjaga kata-kata dalam kitab suci ketika Bhante menjelaskan apa yang tersirat. Demikianlah adanya, dan saya menerimanya seperti kata Bhante".



72. Disiplin Yang Keras (Kesederhanaan, Tanpa Kesenangan)

"Apakah semua Bodhisatta berlatih pengendalian diri dengan disiplin yang amat keras, atau hanya Bodhisatta Gotama?"

"Hanya Bodhisatta Gotama (M.Sta.81, Ap.301 —sebagai akibat melecehkan Buddha Kassapa dalam kehidupan yang lampau). Ada empat perbedaan di antara Bodhisatta. Tentang:



1. keluarga (yaitu antara kasta prajurit atau kasta brahmana);

2. lamanya waktu untuk mengembangkan kesempurnaan;

3. masa hidup; dan

4. ketinggian

Tetapi tidak ada perbedaan di antara para Buddha dalam hal keluhuran atau kebijaksanaan mereka. Dalam rangka membawa pengetahuan ini menuju kematanganlah maka Beliau harus berlatih pengendalian diri dengan disiplin yang amat keras".

"Kalau begitu, Bhante Nagasena. Mengapa beliau pergi ketika pengetahuannya masih belum matang? Mengapa beliau tidak mematangkan terlebih dahulu pengetahuannya dan kemudian baru meninggalkan kehidupan duniawi?"

"Ketika Bodhisatta, O Baginda raja, melihat wanita-wanita di haremnya tidur dengan tidak teratur, beliau merasa muak dan resah. Karena melihat bahwa pikiran beliau dipenuhi dengan ketidak-puasan, Mara berkata, 'Tujuh hari dari sekarang kau akan menjadi Monarki Penguasa Dunia'. Tetapi Sang bodhisatta malah merasa telinganya seakan-akan dimasuki sepotong besi panas, dan beliau dipenuhi dengan kegelisahan dan ketakutan. Apalagi, O Baginda raja, Sang Bodhisatta berpikir, 'Jangan sampai aku disalahkan di kalangan dewa dan manusia karena tidak memiliki pekerjaan atau sarana. Biarlah aku menjadi orang yang mau bertindak dan tetap bersungguh-sungguh'. Dengan demikian Sang Bodhisatta menggunakan pengendalian diri tersebut untuk mematangkan pengetahuannya".

"Yang Mulia Nagasena. Ketika Sang Bodhisatta sedang menjalani pengendalian diri, timbul dalam pemikiran beliau, 'Mungkinkah ada jalan lain menuju pengetahuan yang lebih tinggi yang dapat dicapai orang yang mulia?' Apakah itu berarti bahwa beliau bingung mengenai jalan yang benar?"

"Ada dua puluh lima kondisi, O Baginda raja, yang menyebabkan lemahnya pikiran: kemarahan, permusuhan, kemunafikan, kedengkian, keiri-hatian, ketamakan, kebohongan, pengkhianatan, kekeras-kepalaan, suka melawan, harga diri, kesombongan, kecongkakan, ketidak-pedulian, keengganan, rasa mengantuk, kemalasan, teman yang jahat, penglihatan, suara, bau, rasa, sensasi sentuhan, kelaparan, kehausan, dan ketidak-puasan. Dan kelaparan serta rasa hauslah yang menguasai tubuhnya sehingga pikirannya menjadi tidak terarah dengan benar untuk memusnahkan banjir (asava). Sang Bodhisatta telah mencari pencerapan Empat Kesunyataan Mulia selama beberapa kalpa, jadi bagaimana mungkin dapat timbul kebingungan dalam pikirannya tentang jalan itu? Meskipun begitu beliau berpikir, 'Mungkinkah ada jalan lain untuk mencapai kebijaksanaan?' Sebelumnya, ketika berumur satu bulan Sang Bodhisatta telah mencapai empat penyerapan (jhana) ketika sedang bermeditasi di bawah pohon rose-apel ketika ayahnya sedang membajak". (M.i.246, Ja.i.57)

"Bagus sekali Bhante Nagasena. Saya menerimanya seperti apa yang Bhante katakan. Ketika sedang membawa pengetahuannya menuju kematanganlah Sang Bodhisatta berlatih pengendalian diri dengan disiplin yang amat keras".



73. Kekuatan Kejahatan

"Manakah yang lebih kuat, kebajikan atau kebatilan (ketidak-bajikan)?" (Lihat pertanyaan Bab 7 No. 7 di atas).

"Kebajikan lebih kuat, O Baginda raja".

"Itu adalah sesuatu yang tidak dapat saya percaya. Orang-orang yang melakukan kejahatan dalam kehidupan ini sering menerima hasil perbuatannya itu pada kehidupan yang sekarang ini juga ketika mereka dihukum karena kejahatannya. Tetapi apakah ada orang, yang karena memberikan persembahan bagi Sangha atau menjalankan Uposattha, menerima manfaatnya pada kehidupan sekarang ini juga?"

"Ada, O Baginda raja, enam kasus seperti itu. (Lihat juga Bab 8 No. 4)



1. Si budak Punnaka, dengan memberikan makanan kepada Sariputta, pada hari yang sama mendapat kehormatan menjadi seorang bendahara.

2. Kemudian ada juga ibu Gopala, yang menjual rambutnya agar dapat memberikan makanan kepada Maha Kaccayana dan sebagai hasilnya menjadi permaisuri Raja Udena.

3. Si wanita saleh Suppiya, yang memotong daging di pahanya untuk memberi makan seorang bhikkhu yang sakit, keesokan harinya lukanya langsung sembuh sama sekali.

4. Mallika, ketika masih menjadi seorang budak wanita, memberikan makanannya sendiri kepada Sang Buddha dan pada hari itu juga menjadi permaisuri di Kosala.

5. Sumana —tukang bunga, yang memberikan delapan ikat bunga melati pada Sang Buddha, memperoleh kemakmuran yang melimpah; serta

6. Ekasataka si Brahmana yang memberikan satu-satunya pakaian luarnya kepada Sang Buddha dan pada hari itu juga menerima pemberian 'Serba 8' (8 gajah, 8 kuda, 8 ribu kahapanna, 8 wanita, 8 budak, dan hasil penjualan dari 8 desa)".

"Jadi, Bhante, kalau begitu Bhante hanya dapat menemukan delapan kasus dari seluruh penelidikan Bhante?"

"Demikianlah, O Baginda raja".

"Kalau begitu kebatilan lebih kuat daripada kebajikan. Karena saya telah melihat banyak orang ditusuk dengan senjata tajam sebagai hukuman atas perbuatan jahat mereka. Dan dalam peperangan yang dipimpin oleh Jendral Bhaddasala mewakili keluarga kerajaan Nanda melawan Chandagutta ada 80 Tarian Mayat, karena mereka berkata bahwa ketika terjadi pembantaian besar-besaran, mayat-mayat tanpa kepala tersebut bangkit kembali dan menari di kancah peperangan. Dan semua orang itu hancur sebagai hasil dari perbuatan jahat mereka. Tetapi ketika raja Kosala memberikan persembahan dana makanan yang tidak tertandingi, apakah dalam kehidupannya itu juga ia menerima kekayaan atau keagungan atau kebahagiaan?"

"Tidak, O Baginda raja, tidak".

"Kalau begitu, Bhante Nagasena. Tentu saja kebatilan lebih kuat daripada kebajikan".

"Seperti halnya, O Baginda raja, padi yang jelek akan masak dalam waktu satu atau dua bulan tetapi padi yang baik akan masak baru setelah lima atau enam bulan, perbuatan baik baru akan berbuah dalam jangka waktu lama. Apalagi, O Baginda raja, hasil dari perbuatan baik maupun perbuatan jahat akan dialami dalam kehidupan yang akan datang; tetapi karena kesalahan kejahatan, maka telah ditetapkan bahwa mereka yang berbuat jahat akan dihukum menurut hukum; tetapi mereka yang berbuat baik tidak akan dihadiahi. Jika seandainya telah ditetapkan suatu hukum untuk memberikan hadiah bagi pelaku perbuatan baik, maka perbuatan baik juga akan dihadiahi dalam kehidupan ini juga".

"Bagus sekali, Bhante Nagasena. Hanya seseorang yang bijaksana seperti Bhante maka teka-teki semacam ini dapat diselesaikan. Pertanyaan yang saya ajukan dari sudut pandang yang biasa telah Bhante jelaskan dengan cara yang luar biasa".



74. Membagikan Jasa

"Apakah ada kemungkinan bagi keluarga yang telah meninggal untuk ikut menerima jasa dari suatu perbuatan baik?"

"Tidak. Hanya mereka yang dilahirkan sebagai setan kelaparan yang makanannya adalah perbuatan baik orang lainlah yang dapat ikut menerima jasa. Mereka yang dilahirkan di neraka, surga, terlahir sebagai binatang, setan kelaparan yang makanannya muntahan, atau setan kelaparan yang dipenuhi oleh ketamakan, tidak akan mendapatkan manfaat".

"Kalau begitu, persembahan dalam kasus-kasus itu tidak ada gunanya, karena mereka yang diberi tidak mendapat manfaat".

"Tidak demikian, O Baginda raja. Persembahan-persembahan itu bukannya tidak berguna atau tidak berbuah, karena si pemberi sendiri mendapat manfaat darinya".

"Yakinkanlah saya dengan alasan".

"Bila beberapa orang telah menyiapkan hidangan dan mengunjungi sanak saudaranya tetapi sanak-saudara mereka itu tidak menerima pemberian itu, apakah pemberian tersebut menjadi sia-sia?"

"Tidak, Yang Mulia. Si pemilik sendiri dapat memakannya".

"Demikian juga, O Raja. Si pemberi persembahan mendapatkan manfaat dari persembahan dana tersebut".

"Kalau begitu, apakah juga mungkin membagikan ketidak-bajikan?"

"Ini bukanlah pertanyaan yang patut ditanyakan, O Baginda raja. Anda kemudian akan bertanya kepada saya mengapa ruang angkasa tidak terbatas dan mengapa manusia dan burung mempunyai dua kaki sedangkan rusa mempunyai empat!"

"Saya tidak bertanya seperti itu untuk menjengkelkan Bhante, tetapi banyak orang di dunia ini yang tersesat (berpikiran jahat, memiliki pandangan salah) atau tidak dapat melihat (bodoh)".

"Meskipun suatu tanaman dapat menjadi masak dalam air tangki, tetapi tidak mungkin dalam air laut. Perbuatan jahat tidak dapat dibagikan kepada siapa yang tidak melakukannya dan tidak menyetujuinya. Orang mengalirkan air dengan menggunakan pipa-pipa air tetapi mereka tidak dapat mengalirkan batu yang padat dengan cara yang sama. Kebatilan atau ketidak-bajikan adalah sesuatu yang jahat, sedangkan kebajikan adalah sesuatu yang sangat hebat".

"Berikanlah penjelasan".

"Jika setetes air jatuh ke tanah, apakah air itu dapat mengalir sepanjang 50 atau 60 kilometer?"

"Tentu saja tidak, Bhante. Titik air itu hanya akan mempengaruhi tanah dimana ia jatuh".

"Mengapa demikian?"

"Karena sifat sedikitnya".

"Demikian juga, O Baginda raja. Kebatilan adalah sesuatu yang jahat dan karena sifat sedikitnya, ia hanya dapat mempengaruhi si pelaku dan tidak dapat dibagikan. Tetapi jika ada hujan badai yang sangat hebat, apakah airnya akan sampai ke mana-mana?"

"Tentu saja, Bhante. Bahkan bisa sejauh 50 atau 60 kilometer".

"Demikian juga, O Raja. Kebajikan adalah sesuatu yang hebat dan karena sifat melimpahnya, ia dapat dibagikan baik kepada manusia maupun dewa".

"Bhante Nagasena, mengapakah kebatilan begitu terbatas sifatnya, sedangkan kebajikan dapat menjangkau lebih jauh?"

"Siapa pun, O Baginda raja, yang memberikan persembahan, menjalankan sila dan melakukan Uposattha, ia akan merasa gembira dan berada gembira dan berada dalam ketenangan. Karena ketenangannya maka kebaikannya bahkan menjadi semakin melimpah. Seperti kolam air yang dalam dan jernih, segera setelah air mengalir keluar di salah satu sisinya, tempat itu akan terisi penuh lagi dari segala arah. Demikian juga, O Raja, jika seseorang akan mengirimkan kebajikan yang telah dilakukannya kepada orang lain, bahkan selama 100 tahun kebaikannya akan semakin bertumbuh. Itulah sebabnya mengapa kebajikan itu begitu hebat. Tetapi dengan perbuatan jahat, O Baginda raja, orang akan dipenuhi oleh rasa penyesalan dan pikirannya tidak akan dapat terlepas darinya. Dia merasa tertekan dan tidak mendapatkan ketenangan, lalu karena merasa putus asa dia menjadi sia-sia. Seperti halnya, O Raja, setetes air yang jatuh di sungai yang kering tidak akan dapat menambah isinya dan malahan akan langsung tertelan di titik jatuhnya. Inilah sebabnya ketidak-bajikan sangat jahat dan mempunyai sifat sedikit".



75. Mimpi

"Apakah sesuatu yang disebut mimpi itu dan siapakah yang bermimpi?"

"Mimpi adalah tanda yang datang melintasi jalur pikiran. Dan ada enam macam orang yang melihat impian. Orang yang dipengaruhi:



1. oleh angin melihat impian; yang dipengaruhi

2. oleh empedu;

3. oleh lendir;

4. oleh dewa;

5. oleh kebiasaannya sendiri; dan

6. oleh pertanda.

Hanya yang terakhir inilah yang benar, sedang yang lain semuanya tidak benar".

"Ketika seseorang bermimpi, apakah ia sedang terjaga atau tidur?"

"Tidak kedua-duanya. Ia bermimpi ketika sedang 'tidur-tidur monyet', yaitu keadaan antara tidur dan sadar".
76. Kematian Yang Prematur

"Bhante Nagasena, apakah semua makhluk hidup mati ketika jangka waktu hidup mereka telah berakhir, atau apakah beberapa di antaranya mati prematur?"

"Keduanya, O Baginda raja. Seperti halnya buah di pohon yang terkadang jatuh ketika telah masak dan terkadang sebelum masak karena pengaruh angin, serangga atau tongkat. Demikian juga ada makhluk mati ketika jangka waktu hidup mereka telah tiba, tetapi ada juga yang mati secara prematur".

"Tetapi Bhante Nagasena, semua yang mati prematur tersebut, baik yang mati tua atau muda, telah mencapai akhir dari jangka waktu hidup yang telah ditentukan sebelumnya. Jadi tidak ada sesuatu yang dinamakan mati prematur".

"O Raja. Ada tujuh macam kematian prematur bagi mereka yang mati secara prematur, walaupun mereka itu sebelumnya masih mempunyai jangka waktu hidup:



1. karena kelaparan;

2. kehausan;

3. gigitan ular;

4. racun;

5. api;

6. tenggelam;

7. senjata.

Dan kematian datang melalui delapan cara:



1. melalui angin;

2. empedu;

3. lendir;

4. campuran cairan tubuh;

5. perubahan temperatur;

6. tekanan keadaan lingkungan;

7. pengaruh luar; dan

8. kamma. (Lihat pula Bab 8 No. 8)

Dan dari semua tadi, hanya yang melalui kamma saja yang dapat disebut akhir dari jangka waktu hidup. Yang lain semuanya prematur".

"Yang Mulia Nagasena, Bhante mengatakan ada kematian prematur. Berikanlah alasan lain untuk itu".

"Api besar, O Raja, yang kehabisan tenaga dan mati ketika bahan bakarnya telah habis, bukan sebelumnya karena berbagai penyebab lain, dikatakan api itu telah mati sesuai dengan waktunya. Demikian juga dengan seseorang yang mati dalam usia tua tanpa ada kecelakaan apapun dikatakan telah mencapai akhir jangka waktu hidupnya. Tetapi dalam kasus api yang dipadamkan oleh curahan hujan, tidak dapat dikatakan bahwa api itu telah mati sesuai dengan waktunya. Demikian juga, siapa pun yang mati sebelum waktunya karena penyebab selain kamma dikatakan mati prematur".



77. Mukjizat Pada Altar Para Arahat

"Apakah ada mukjizat pada altar (cetiya) semua Arahat atau hanya pada cetiya beberapa Arahat saja?"

"Hanya pada beberapa. Dengan tekad kemauan keras dari tiga macam individu maka akan ada keajaiban:



1. oleh seorang Arahat ketika ia masih hidup;

2. oleh para dewa; atau

3. oleh seorang murid bijaksana yang mempunyai keyakinan.

Jika tidak ada tekad kemauan keras maka tidak akan ada keajaiban sekali pun di altar para Arahat yang mempunyai kekuatan kesaktian. Tetapi meskipun tidak ada keajaiban, orang harus mempunyai keyakinan terhadap mereka setelah mengetahui kelakuan mereka yag murni dan tanpa cela".



78. Dapatkah Semua Mengerti Dhamma?

"Apakah semua yang berlatih dengan benar mencapai pandangan terang dalam Dhamma, atau adakah beberapa yang tidak mencapainya?"

"Tidak akan ada pencapaian pandangan terang bagi mereka yang meskipun telah berlatih dengan benar, merupakan binatang, setan kelaparan, para penganut pandangan salah, penipu, pembunuh ibu, pembunuh ayah, pembunuh Arahat, pemecah belah Sangha, yang menyebabkan berdarahnya seorang Tathagata, yang mencuri jubah dan menyamar sebagai bhikkhu (Vin.i.86 —mengenakan jubah sendiri dan berpura-pura menjadi seorang bhikkhu), yang berpindah ke sekte lain, yang bertindak kejam kepada anagarini/bhikkhuni, menyembunyikan pelanggaran yang menyebabkan perlunya pertemuan Sangha, orang kasim atau banci. Demikian juga anak yang berusia di bawah 7 tahun tidak akan mampu mengerti Dhamma".

"Apakah alasannya sehingga anak yang berusia di bawah tujuh tahun tidak dapat mencapai pandangan terang? Bukankah pikiran seorang anak itu murni dan seharusnya siap untuk menyadari Dhamma?"

"Jika seandainya saja, Baginda, seorang anak di bawah usia tujuh tahun dapat merasakan nafsu untuk hal-hal yang menyebabkan nafsu, dapat merasakan kebencian untuk hal-hal yang menimbulkan kebencian, dapat dibodohi oleh hal-hal yang menyesatkan dan dapat membedakan antara kebajikan dan ketidak-bajikan, maka pandangan terang mungkin baginya. Tetapi, Baginda, pikiran anak yang berusia di bawah tujuh tahun masih lemah sedangkan unsur Nibbana yang tak berkondisi itu berat dan dalam. Oleh karenanya, O Raja, meskipun berlatih dengan benar, anak yang berusia di bawah tujuh tahun tidak dapat menyadari Dhamma".



79. Berkah Nibbana

"Apakah Nibbana itu sepenuhnya membahagiakan ataukah sebagian menyakitkan?"

"Sepenuhnya membahagiakan".

"Hal itu tidak dapat saya terima. Mereka yang mencarinya harus berlatih dengan pengendalian diri yang keras dan usaha keras bagi tubuh dan pikiran, tidak makan kecuali pada saat yang benar, mengurangi tidur, mengendalikan indria, dan mereka harus meninggalkan kekayaan, keluarga, dan teman-temannya. Yang berbahagia adalah mereka yang dapat menikmati kesenangan-kesenangan indria tetapi Anda menahan diri dan mencegah kenikmatan semacam itu, dan karenanya mengalami penderitaan secara fisik maupun mental serta rasa sakit".

"O Baginda raja. Nibbana tidak mempunyai rasa sakit. Apa yang Baginda sebut rasa sakit itu bukanlah Nibbana. Memang benar bahwa mereka yang sedang mencari Nibbana mengalami rasa sakit dan ketidak-nyamanan, tetapi sesudah itu mereka akan mengalami berkah Nibbana yang tidak terhingga. Saya akan memberikan alasan untuk itu. Apakah ada, O Raja, suatu kebahagiaan tertentu yang didapat karena kedaulatan raja?"

"Ya, ada".

"Apakah hal itu bercampur dengan rasa sakit?"

"Tidak".

"Kalau begitu, mengapa O Raja, bila para prajurit garis depan memberontak, raja-raja harus meninggalkan istananya dan menempuh perjalanan pada tanah yang tidak rata, menderita akibat gigitan nyamuk dan angin yang panas, dan terlibat dalam suatu pertempuran yang ganas yang membahayakan nyawa mereka?"

"Itu, Bhante Nagasena, bukanlah kebahagiaan dari kedaulatan. Itu hanyalah tahap awal dari pencaharian kedaulatan tersebut. Baru sesudah memenangkannya maka mereka dapat menikmati kebahagiaan suatu kedaulatan. Dan kehahagiaan itu, Bhante Nagasena, tidak bercampur dengan rasa sakit".

"Demikian juga, O Baginda raja. Nibbana adalah berkah yang tidak tertandingi, dan tidak ada rasa sakit yang tercampur di dalamnya".



80. Gambaran Tentang Nibbana

"Apakah mungkin, Bhante Nagasena, Nibbana ditunjukkan ukurannya, bentuknya atau jangka waktunya dengan menggunakan perumpamaan?"

"Tidak, hal itu tidak mungkin. Tidak ada sesuatu yag menyerupainya".

"Apakah ada sifat pada Nibbana yang terdapat pada sesuatu yang lain yang dapat ditunjukkan dengan perumpamaan?"

"Ya, itu dapat dilakukan".

"Sama seperti bunga teratai yang tidak basah oleh air, Nibbana tidak tercemar karena kegelapan batin.

Sama seperti air, Nibbana mendinginkan panasnya kegelapan batin dan menyegarkan kehausan akan lobha.

Sama seperti obat, Nibbana melindungi makhluk yang terkena racun kegelapan batin, menyembuhkan penyakit penderitaan, dan memberi gizi seperti nektar.

Sama seperti samudra yang tidak menyimpan mayat, Nibbana sama sekali tidak menyimpan kegelapan batin; sama seperti samudra yang tidak bertambah ketika semua air sungai mengalir padanya, demikian juga Nibbana tidak akan bertambah karena adanya makhluk yang mencapainya; Nibbana adalah tempat kediaman bagi para makhluk yang luar biasa (para Arahat), dan dihiasi oleh gelombang pengetahuan dan kebebasan.

Sama seperti makanan yang menopang kehidupan, Nibbana menyingkirkan usia tua dan kematian; Nibbana meningkatkan kekuatan spritual makhluk-makhluk; Nibbana memberikan keindahan keluhuran, Nibbana menghilangkan tekanan kegelapan batin, Nibbana mengusir kelelahan yang terjadi karena penderitaan.

Sama seperti ruang, Nibbana tidak dilahirkan, tidak lapuk ataupun hilang, Nibabna tidak berlalu di sini dan muncul di tempat lain, Nibbana tidak terkalahkan, pencuri tidak dapat mengambilnya, Nibbana tidak terikat pada apapun, Nibbana adalah lingkup bagi para Ariya ibarat burung-burung di angkasa, Nibbana tidak terhalangi dan tidak terhingga.

Sama seperti permata yang bisa memenuhi segala permintaan, Nibbana memenuhi semua keinginan, menyebabkan sukacita dan berkilau.

Sama seperti kayu cendana merah, Nibbana itu sulit didapat, keharumannya tak ada bandingnya dan Nibbana dipuji oleh orang-orang yag baik.

Seperti ghee yang dikenal karena kekhususannya, begitu juga Nibbana mempunyai kekhususannya sendiri; seperti ghee yang mempunyai aroma yang harum, begitu juga Nibbana mempunyai keharuman keluhuran; seperti ghee yang mempunyai rasa yang lezat, begitu juga Nibbana mempunyai kelezatan rasa kebebasan.

Seperti puncak gunung, Nibbana itu sangat tinggi, tidak tergoyahkan, tidak ada jalan masuk bagi kegelapan batin, Nibbana tidak mempunyai ruang bagi kegelapan untuk dapat tumbuh, dan Nibbana tidak memihak atau memiliki prasangka".



81. Perwujudan Nibbana

"Bhante berkata, bahwa Nibbana itu bukan masa lalu, bukan masa kini, dan bukan masa mendatang, bukan timbul dan bukan pula tidak-timbul, dan tidak dapat dihasilkan (bandingkan dengan Bab 14 No. 65). Dalam hal itu, apakah orang yang telah menyadari Nibbana menyadari bahwa sesuatu telah dihasilkan, atau dia sendiri yang pertama-tama menghasilkannya dan baru kemudian menyadarinya?"

"Bukan semua itu, tetapi Nibbana itu benar-benar ada".

"Bhante Nagasena, janganlah menjawab pertanyaan ini dengan membuatnya semakin tidak jelas. Jelaskan dan babarkanlah. Nibbana merupakan titik yang membuat banyak orang menjadi bingung dan tersesat dalam keraguan. Patahkanlah ketidak-pastian ini".

"Unsur Nibbana itu benar-benar ada, O Baginda raja. Dan orang yang telah berlatih dengan benar dan yang benar-benar mengerti bentukan-bentukan menurut apa yang telah diajarkan oleh Sang Penakluk, dia, dengan kebijaksanaannya, mencapai Nibbana.

Dan bagaimanakah Nibbana ditunjukkan? Dengan terbebasnya dari rasa tertekan dan bahaya, dengan kemurnian dan ketenangan. Seperti halnya seeorang, yang ketakutan dan ngeri karena telah jatuh ke tangan musuh, akan merasa lega dan sangat berbahagia ketika ia dapat meloloskan diri ke tempat yang aman; atau seperti halnya seseorang yang terjatuh di selokan yang penuh kotoran akan merasa tenang dan senang setelah ia keluar dari selokan itu dan membersihkan diri; seperti halnya seseorang yang terjebak api di hutan akan menjadi tenang dan merasakan kesejukan setelah dia mencapai daerah yang aman. Anda harus menganggap kecemasan yang timbul terus-menerus karena kelahiran, usia tua, penyakit dan kematian itu sebagai sesuatu yang menakutkan dan mengerikan; Anda harus menganggap keuntungan, kehormatan dan ketenaran itu sebagai kotoran; Anda harus menganggap api berunsur tiga: lobha (nafsu), dosa (kebencian) dan moha (khayalan) sebagai sesuatu yag panas dan tajam.

Dan bagaimana orang yang berlatih dengan benar mencapai Nibbana? Dengan benar dia memahami sifat bentukan yang terus berputar dan di sana dia hanya melihat kelahiran, usia tua, penyakit dan kematian; dia tidak melihat sesuatu yang menyenangkan atau yang serasi di bagian manapun. Karena dia melihat bahwa tidak ada yang dapat dilekati di sana, maka bagaikan di atas bola besi yang panas membara, pikirannya dipenuhi dengan ketidak-puasan dan panas menjalar di seluruh tubuhnya; karena merasa putus asa dan tanpa perlindungan dia menjadi jijik dengan kehidupan yang terulang-ulang. Dan bagi orang yang melihat kilatanlah roda kehidupan ini berada, penuh dengan penderitaan dan keputus-asaan. Jika saja ada akhir dari semua ini, akhir itu akan penuh ketenangan, dan hebat sekali; berhentinya semua bentukan-bentukan mental, lepasnya kemelekatan, musnahnya lobha, hilangnya nafsu, berhentinya penderitaan, Nibbana!

Dari situ pikirannya melompat ke depan menuju keadaan dimana tidak ada lagi dumadi. Pada saat itulah dia telah mencapai kedamaian, kemudian ia bersyukur dan bersukacita pada pemikiran 'Sebuah perlindungan akhirnya telah ditemukan!' Ia terus berusaha keras di Sang Jalan untuk menghentikan bentukan-bentukan, menemukan caranya, mengambangkannya, dan mengambil banyak manfaat darinya. Untuk tujuan itulah dia menimbulkan sati, semangat dan sukacitanya; dan dengan berulang-ulang memperhatikan pemikiran itu (muak pada bentukan-bentukan mental), setelah melampaui rantai kehidupan yang terus berjalan, dia telah dapat menghentikan roda itu. Orang yang telah menghentikan rantai kehidupan yang terus berjalan ini dapat dikatakan telah mencapai Nibbana".



82. Di manakah Nibbana?

"Apakah ada tempat, Nagasena, dimana Nibbana tersimpan?"

"Tidak, tidak ada, tetapi Nibbana itu benar-benar ada. Seperti halnya tidak ada tempat dimana api disimpan tetapi toh api dapat dihasilkan dengan menggosokkan dua batang kayu kering".

"Tetapi, apakah ada tempat dimana orang bisa berdiri dan menyadari Nibbana?"

"Ya, ada; keluhuran adalah tempatnya (bandingka Bab 1 No. 9); dengan berdiri di atas keluhuran, dan dengan pengertian, di manapun ia berada, baik di Sychtia atau di Bactria, di China atau Tibet, di Kashmir atau Gandhara, di puncak gunung atau cakrawala tertinggi, orang yang telah berlatih dengan benar menyadari Nibbana".

"Bagus sekali! Bhante Nagasena, Anda telah mengajarkan Nibbana, telah menjelaskan tentang pencapaian Nibbana, telah memuji kualitas dari keluhuran, menunjukkan cara berlatih yang benar, menjunjung tinggi panji-panji Dhamma, memantapkan Dhamma sebagai prinsip utama, tidak akan sia-sia atau tanpa buah usaha orang-orang yang mempunyai tujuan yang benar!"

***

Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar