Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha 16

Ringkasan Milinda Panha 16

Bagian Enam Belas


1. Pertanyaan Yang Diselesaikan Dengan kesimpulan

Milinda sang raja menemui Nagasena di kediamannya, dan setelah memberi hormat, raja duduk di satu sisi. Karena ingin mengetahui, mendengar dan mengingat di dalam pikiran, serta karena ingin menghalau kebodohan batinnya, Milinda mengumpulkan keberanian dan semangatnya, memantapkan kontrol diri dan perhatiannya dan kemudian berbicara kepada Nagasena:

"Sudah pernahkah Bhante melihat Sang Buddha?" (D.i.Sta.13)

"Belum, Baginda raja".

"Sudah pernahkah guru-guru Bhante melihat Sang Buddha?"

"Belum, Raja yang agung".

"Kalau begitu, Bhante Nagasena, Sang Buddha itu tidak ada; tidak ada bukti yang jelas akan keberadaan Sang Buddha".

"Baginda, apakah para pejuang gagah berani yang merupakan pendiri dari deretan raja yang menurunkan Baginda itu ada?"

"Tentu saja, Bhante. Tidak ada keraguan tentang hal itu".

"Sudah pernahkah Baginda melihat mereka?"

"Belum, Bhante".

"Apakah para guru dan menteri negara yang menetapkan undang-undang sudah pernah melihat mereka?"

"Belum, Bhante".

"Kalau begitu, Baginda, tidak ada bukti yang jelas tentang keberadaan para pejuang jaman dahulu itu".

"Tetapi, Bhante Nagasena, lencana kerajaan yang mereka gunakan masih dapat dilihat, dan dari situ kita dapat menyimpulkan dan mengetahui bahwa para pejuang dahulu itu benar-benar ada".

"Demikian juga, O Baginda raja. Kita dapat mengetahui bahwa Sang Buddha pernah hidup dan kita dapat mempercayai Beliau. Lencana kerajaan yang dipakai Sang Buddha masih dapat dilihat. Ada empat landasan perhatian, empat daya upaya benar, empat landasan keberhasilan, lima kekuatan moral, lima indria pengontrol, tujuh faktor pencerahan dan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Dari semua ini kita dapat menyimpulkan dan mengetahui bahwa Sang Buddha benar-benar ada".

"Berilah saya ilustrasi".

"Seperti halnya orang yang melihat kota yang indah dan terencana dengan baik akan mengetahui bahwa kota itu ditata oleh arsitek yang ahli; demikian juga kota kebenaran yang dibangun oleh Sang Buddha dapat dilihat. Kota ini memiliki perhatian yang tak terputus sebagai jalan utamanya, dan di jalan utama itu terdapat kios-kios pasar yang menjual bunga, parfum, buah, penawar racun, obat-obatan, nektar, permata yang tak ternilai, dan segala macam barang dagangan. Demikianlah, O Baginda raja. Kota kebenaran Sang Buddha direncanakan dengan baik, dibangun dengan kuat, dan terlindung dengan baik sehingga kota itu tak dapat ditembus musuh; dan dengan cara menyimpulkan seperti inilah Baginda dapat mengetahui bahwa Sang Buddha pernah ada".



"Apakah bunga di kota kebenaran itu?"

"Ada beberapa objek meditasi yang diperkenalkan oleh Sang Buddha: persepsi tentang ketidak-kekalan, tentang ketidak-puasan, tidak adanya jiwa, sifat yang menjijikan, bahaya, meninggalkan keduniawian, hilangnya nafsu, kekecewaan terhadap semua alam kehidupan, ketidak-kekalan semua bentukan mental (sankhara); meditasi dengan memperhatikan nafas, persepsi mengenai sembilan macam mayat dalam proses pembusukan yang berlangsung, meditasi cinta kasih (metta), welas asih (karuna), sukacita dengan simpati (mudita) dan keseimbangan batin (upekkha); serta kesadaran akan kematian dan kesadran tentang 32 bagian tubuh. Siapapun yang ingin terbebas dari usia tua dan kematian dapat memilih salah satu dari objek tersebut. Dia akan dapat terbebas dari nafsu ketamakan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin, kesombongan dan pandangan salah (moha). Dia dapat menyeberangi lautan samsara, membendung derasnya aliran nafsu keinginan, dan menghancurkan semua penderitaan. Dia kemudian dapat memasuki kota Nibbana dimana terdapat rasa aman, ketenangan dan kebahagiaan".



"Apakah parfum kota kebenaran itu?"

Parfum itu ada dalam bentuk pelaksanaan pengendalian diri lewat tiga perlindungan (Tisarana), Pancasila, Atthasila, Dasasila, serta Patimokkha bagi para bhikkhu. Hal ini dikatakan oleh Sang Buddha:

'Tak ada bau harum bunga yag dapat melawan arah angin; Baik itu cendana, sari wewangian, atau bunga melati. Tetapi harumnya kebajikan dapat melawan arah angin; Ke segala arah menyebar harumnya nama orang yang bajik'. (Dhp.v.54)



"Apakah buah dari kota kebenaran itu?"

"Buah itu ada dalam bentuk sotapana, sakadagami, anagami, Arahat, pencapaian kekosongan, pencapaian animitta (keadaan tanpa tanda) dan pencapaian hilangnya nafsu. Orang yang dengan tekad yang besar merenungkan anicca (ketidak-kekalan) mencapai animitta, yang dengan ketenangan yang besar merenungkan dukkha (ketidak-puasan) mencapai keadaan tanpa keinginan, yang dengan kebijaksanaan yang besar merenungkan anatta (tiada 'aku') mencapai kekosongan".



"Apakah penawar racun di kota kebenaran itu?"

"Empat Kesunyataan Mulia adalah penawar bagi racun kegelapan batin. Siapa pun yang merindukan pandangan terang yang tertinggi dan mendengar Ajaran ini akan terbebas dari kelahiran, usia tua, kematian, penderitaan, kesakitan, dukacita, ratap-tangis dan keputus-asaan".



"Apakah obat di kota kebenaran itu?"

"Obat-obat tertentu, O Raja, telah diramu oleh Sang Buddha untuk menyembuhkan para dewa maupun manusia. Obat-obatan itu adalah: Empat Landasan Perhatian, Empat Usaha Benar, Empat landasan keberhasilan, Lima indria pengontrol, Lima kekuatan moral, Tujuh faktor kesucian, dan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Dengan obat-obatan ini Sang Buddha menyembuhkan orang dari pandangan salah, pikiran salah, ucapan salah, tindakan salah, mata pencaharian salah, usaha salah, perhatian salah, dan konsentrasi salah. Beliau membebaskan mereka dari ketamakan, kebencian dan khayalan, kesombongan, sakayyaditthi (pandangan tentang diri), keraguan, kegelisahan, kemalasan dan kelambanan, tidak tahu malu dan kesembronoan serta semua kekotoran batin lainnya".



"Apakah nektar di kota kebenaran itu?"

"Perhatian akan tubuh adalah bagaikan nektar, karena semua makhluk yang minum nektar perhatian akan tubuh ini akan terbebas dari segala penderitaan. Hal ini dikatakan oleh Sang Buddha:

'Mereka yang memanfaatkan perhatian akan tubuh akan menikmati nektar keadaan tanpa kematian'". (A.i.45)



"Apakah permata yang tak ternilai di kota kebenaran itu?"

"Kemoralan, konsentrasi, kebijaksanaan, kebebasan, pengetahuan dan visi kebebasan, pengetahuan membedakan, dan faktor-faktor pencerahan adalah permata yang tak ternilai dari Sang Buddha.

Dan apakah permata yang tak ternilai dari kemoralan? Yaitu nilai-nilai luhur pengendalian diri lewat peraturan Patimokkha; nilai-nilai luhur pengendalian diri indra; nilai-nilai luhur dari mata pencaharian yang benar; nilai-nilai luhur dari perenungan terhadap penggunaan empat kebutuhan pokok secara benar: pindapatta, obat-obatan, jubah, dan tempat tinggal; nilai-nilai luhur pengendalian diri sesuai dengan vinaya yang pokok, menengah dan kecil, serta nilai-nilai luhur yang sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang yang luhur.

Dan apakah permata yang tak ternilai dari konsentrasi? Yaitu jhana pertama dengan savitakkasavicara (pikiran yang diterapkan dan pikiran yang bertahan), jhana kedua dengan avitakkasavicara (tanpa pikiran yang diterapkan tetapi dengan pikiran yang bertahan), jhana ketiga dengan avitakka-avicara (tanpa pikiran yang diterapkan maupun pikiran yang bertahan) tetapi dengan sukacita yang murni, kebahagiaan, dan tertuju pada satu titik; dan ini juga merupakan konsentrasi pada kekosongan, animitta dan tiadanya nafsu. Ketika seorang bhikkhu mengenakan permata konsentrasi ini, maka pikiran yang jahat dan pikiran yang tidak bermanfaat akan terkibas dari pikirannya bagaikan air di daun teratai.

Dan apakah permata yang tak ternilai dari kebijaksanaan? Yaitu pegetahuan tentang apa yang bajik dan tidak bajik, apa yag tercela dan apa yang terpuji, serta pengetahuan tentang Empat Kesunyataan Mulia.

Dan apakah permata yang tak ternilai dari kebebasan? Menjadi Arahat adalah permata dari segala permata, permata yang tak ternilai dari kebebasan. Jika seorang bhikkhu mengenakannya, dia akan menjadi lebih cemerlang daripada yag lainnya.

Dan apakah permata yang tak ternilai dari pengetahuan dan visi kebebasan? Yaitu pengetahuan yang digunakan para siswa untuk meninjau lagi Sang Jalan, buah-buahnya dan Nibbana, dan merenungkan kekotoran batin yang telah dapat dihilangkan dan kekotoran batin yang masih ada.

Dan apakah permata yang tak ternilai dari pengetahuan membedakan? Yaitu pemahaman analitis terhadap arti, hukum, bahasa dan intelegensi. Siapapun yang mengenakan permata ini tidak akan takut menghadapi segala macam pertemuan, dan percaya diri karena tahu bahwa ia dapat menjawab segala macam pertanyaan yang diajukan padanya.

Dan apakah permata yang tak ternilai dari faktor-faktor kesucian? Yaitu permata kesadaran (Sati), penyelidikan Dhamma (Dhammacicaya), usaha yang bersemangat (Viriya), sukacita (Piti), ketenangan (Passaddhi), konsentrasi (Samadhi) dan keseimbangan batin (Upekkha). Dihiasi dengan permata-permata ini, seorang bhikkhu akan menerangi dunia dengan keluhurannya".



2. Latihan Pertapa

Sang Raja melihat para bhikkhu di hutan yang sendiri dan jauh dari orang lain, yang menjalankan latihan yang berat sesuai tekadnya. Dan kemudian ia juga melihat para perumah-tangga di rumah mereka yang memetik buah manis dari Jalan Mulia. Mempertimbangkan kedua hal ini, raja merasakan keraguan yang dalam.

"Jika umat awam juga mewujudkan kebenaran, maka bertekad seperti itu tentunya sia-sia saja. Baiklah! Akan saya tanyakan pada guru yang terbaik, yang bijaksana dalam ketiga kitab suci yang berisi sabda Sang Buddha, yang terampil menyanggah argumentasi lawannya. Ia akan mampu memecahkan keragu-raguanku!"

Milinda mendatangi Nagasena, memberi hormat, duduk di satu sisi dan bertanya: "Bhante, apakah ada umat awam yang telah mencapai Nibbana?"

"Tidak hanya seratus atau seribu, tetapi lebih dari semilyar yang telah mencapai Nibbana". (Selain manusia, banyak dewa yang mencapai Nibbana pada waktu mendengarkan Dhamma).

"Bhante Nagasena, jika seorang perumah tangga yang hidup di rumahnya bisa menikmati kesenangan-kesenangan indria, dan juga dapat mencapai Nibbana, apakah gunanya tekad tambahan tersebut? Jika musuh dapat dikalahkan hanya dengan menggunakan tinju, apa gunanya mencari senjata? Jika pohon dapat dipanjat begitu saja, apa gunanya tangga? Jika berbaring di lantai sudah nyaman, apa gunanya tempat tidur? Demikian juga, jika orang awam dapat mencapai Nibbana sementara hidup di rumah, apa gunanya tekad tambahan?"

"O Raja. Ada 28 keluhuran tekad ini yang dinilai tinggi oleh para Buddha. Menjaga tekad adalah:



1. suatu cara hidup murni;

2. buahnya membahagiakan;

3. tidak tercela;

4. tidak membawa penderitaan bagi yang lain;

5. memberikan keyakinan (dia bebas dari rasa takut terhadap perampok);

6. tidak menekan (tak perlu melindungi hartanya);

7. pasti menyebabkan pertumbuhan sifat-sifat yang baik;

8. mencegah kemunduran;

9. tidak mengotori batin;

10. merupakan suatu perlindungan;

11. memenuhi keinginan;

12. menjinakkan semua makhluk;

13. baik bagi disiplin diri;

14. pantas bagi seorang pertapa;

15. dia mandiri (tidak melekat kepada keluarga);

16. dia bebas (dan bebas pergi ke mana pun juga). (Vism.59-83)

17. kemoralan ini juga menghancurkan nafsu (lobha);

18. menghancurkan kebencian (dosa);

19. menghancurkan kebodohan batin (moha);

20. mengikis kesombongan;

21. memutus pikiran yang melantur dan membuat pikiran menuju satu titik;

22. mengatasi keraguan;

23. menghalau kelambanan;

24. melenyapkan ketidak-puasan;

25. membuat orang toleran;

26. keluhuran ini tidak ada bandingnya;

27. tak terukur; dan

28. mengarah pada penghancuran segala penderitaan.

Dan siapa pun yang melaksanakan tekad-tekad itu akan mendapat 18 sifat baik:



1. kelakuannya murni;

2. latihannya sepenuhnya tercapai;

3. tindakan dan kata-katanya terjaga baik;

4. pikirannya murni;

5. semangatnya bangkit;

6. ketakutannya berkurang;

7. pandangannya tentang ego hilang;

8. kemarahannya lenyap; dan

9. cinta-kasihnya tumbuh;

10. dia makan dengan pemahaman sifat makanan yang menjijikan;

11. dia dihormati oleh semua makhluk;

12. dia makan secukupnya;

13. dia penuh kewaspadaan;

14. dia tak-berumah; dan

15. dapat bertempat tinggal di mana pun juga;

16. dia jijik terhadap kejahatan;

17. dia bersukacita dalam kesendirian; dan

18. dia selalu penuh perhatian.

Dan sepuluh macam orang yang pantas mengambil sumpah-sumpah itu:



1. orang yang penuh dengan kepercayaan diri;

2. orang yang tahu malu;

3. orang yang penuh keberanian;

4. orang yang tidak memiliki kemunafikan;

5. orang yang mengandalkan diri sendiri;

6. orang yang tegar;

7 orang yang berniat untuk berlatih;

8. orang yang memiliki kebulatan tekad;

9. orang yang sangat mawas diri; dan

10. orang yang penuh kasih sayang.

Dan semua orang awam yang mewujudkan Nibbana sementara hidup di rumah adalah mereka yang telah menjalankan tekad ini dalam kehidupan-kehidupan mereka sebelumnya. Tidak mungkin ada realisasi tujuan menjadi Arahat dalam hidup kali ini tanpa tekad-tekad tersebut. Arahat hanya dapat dicapai dengan kerja yang amat sangat keras. Oleh karena itulah maka nilai menjaga tekad tersebut sangat tinggi dan berharga.

Dan siapapun, O Baginda raja, yang mempunyai pikiran jahat dan berniat mengambil tekad ini dengan tujuan mencari keuntungan materi, akan mendapatkan hukuman ganda: di dunia ini dia akan dipandang rendah dan dicemooh, dan sesudah mati dia akan menderita di neraka.

Tetapi siapapun, O Baginda raja, yang perilakunya sesuai dengan kehidupan kebhikkhuan, yang layak menjadi bhikkhu, yang keinginannya sedikit dan dapat berpuas hati, terbiasa dengan kesendirian, penuh semangat, tidak memiliki akal bulus, dan telah meninggalkan keduniawian bukan karena ingin memperoleh keuntungan dan ketenaran melainkan karena memiliki keyakinan terhadap Dhamma, yang menginginkan kebebasan dari usia tua dan kematian, dia pantas mendapat penghormatan ganda karena dia dicintai oleh para manusia maupun dewa. Dan dengan cepat dia memperoleh empat buah, empat jenis diskriminasi (diskriminasi arti, hukum, bahasa dan inteligensi), visi berunsur tiga [Tevijja —ingatan akan kehidupan lalu, pengetahuan akan muncul dan lenyapnya makhluk, pengetahuan akan penghancuran banjir (asava)], dan pengetahuan berunsur enam yang lebih tinggi (abhinnana —kekuatan supra-normal seperti misalnya terbang di angkasa, memiliki telinga yang luar biasa daya dengarnya, penembusan pikiran, ditambah tiga di atas).

Dan apakah tiga belas tekad tersebut?



1. mengenakan jubah yang dipotong-potong;

2. menggunakan hanya tiga jubah;

3. hidup hanya dengan pindapatta;

4. pindapatta dari satu rumah ke rumah lain tanpa pilih-pilih;

5. makan sekali sehari;

6. makan dari mangkuk saja;

7. menolak makanan yang ditawarkan sesudah (pindapatta) itu;

8. hidup di hutan;

9. bertempat tinggal di bawah pohon;

10. bertempat tinggal di tempat terbuka;

11. hidup di kuburan;

12. menggunakan tempat tidur manapun yang diberikan; dan

13. tidak berbaring untuk tidur. (Baca Vism.59ff untuk keterangan lebih terinci)

Dan dengan menjalankan tekad-tekad inilah Upasena dapat mengunjungi Sang Buddha ketika Beliau sedang menyendiri (Vin.iii.230ff), dan karena tekad yang sama pula Sariputta memiliki keluhuran yang begitu tinggi sehingga dia dinyatakan sebagai orang kedua yang hanya kalah oleh Sang Buddha dalam kemampuannya membabarkan Dhamma". (A.i.23, S.i.191)

"Bagus sekali Bhante Nagasena. Seluruh ajaran Sang Buddha, pencapaian adi-duniawi (lokuttara) dan semua hasil terbaik di dunia ini termasuk di dalam 13 latihan pertapa ini".

***

Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar