Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha 17

Ringkasan Milinda Panha 17

Bagian Tujuh Belas

"Bhante Nagasena, apa sifat-sifat yang harus dimiliki seorang bhikkhu agar dapat mencapai tingkat Arahat?"





1. Keledai

Seperti halnya, O Baginda, seekor keledai, di mana pun ia berbaring ia tidak akan beristirahat lama; demikian juga seorang bhikkhu yang berniat mencapai tingkat Arahat tidak akan beristirahat lama.





2. Ayam

Seperti halnya seekor ayam yang bertengger pada saat yang tepat; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu dengan cepat melaksanakan tugas-tugasnya setelah berpindapatta dan pergi ke tempat yang sunyi untuk bermeditasi.

Seperti seekor ayam yang bangun pagi; demikian juga seorang bhikkhu harus bangun pagi.

Seperti seekor ayam yang terus-menerus mangais tanah mencari makan; demikian juga seorang bhikkhu harus terus-menerus merenungkan makanan yang dimakannya dengan mengingat: 'Saya makan bukan untuk kenikmatan dan bukan untuk keindahan, melainkan hanya untuk meredakan sakit karena rasa lapar dan memungkinkan diri ini menjalani kehidupan suci. Dengan demikian saya menghentikan penderitaan'.

Seperti ayam yang meskipun mempunyai mata namun buta pada waktu malam; demikian juga seorang bhikkhu menjadi seolah-olah buta ketika sedang bermeditasi, tidak memperhatikan objek indra yang mungkin akan mengganggu konsentrasinya.

Dan seperti ayam yang meskipun diusir dengan tongkat dan batu tidak akan meninggalkan tempatnya bertengger; demikian juga seorang bhikkhu tidak meninggalkan perhatiannya walaupun dia sedang sibuk membuat jubah, membangun, mengajar, mempelajari kitab suci, atau apa pun.





4. Panther Betina

Seperti seekor panther betina yang begitu hamil tidak berpaling lagi kepada yang jantan; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu. Setelah melihat penderitaan yang menjadi sifat kelahiran, seorang bhikkhu memutuskan untuk tidak memasuki kelahiran yang mana pun di masa yang akan datang.

Hal ini telah dikatakan oleh Sang Buddha, O Baginda raja, dalam Dhaniya Sutta di Sutta Nipata:

'Setelah mematahkan belenggu-belenggu seperti banteng, dan seperti gajah yang telah mematahkan tanaman-tanaman jalar, maka tidak akan ada lagi kelahiran bagiKu. Jadi, curahkan hujan, O awan, semaumu!'" (Sn.v.29)





7. Pohon Bambu

Seperti pohon bambu yang berayun ke mana angin bertiup; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu, fleksibel dan menyesuaikan diri pada Ajaran.





10. Monyet

Seperti seekor monyet yang tinggal di pohon besar yang rindang, tertutup rapat oleh dahannya; demikian juga seorang bhikkhu harus tinggal dengan guru yang terpelajar, yang patut dihormati dan mampu membimbingnya.





12. Teratai

Seperti teratai yang tidak ternoda oleh air dimana ia dilahirkan dan bertumbuh; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu tidak ternoda oleh sokongan, persembahan dan penghormatan umatnya.

Seperti teratai yang berada jauh di atas air; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu berada jauh di atas keduniawian.

Dan seperti teratai yang bergetar terkena hembusan angin sepoi; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu gemetar walaupun hanya berpikir ingin melakukan suatu yang jahat, karena melihat adanya bahaya dalam kesalahan yang paling kecil pun.





20. Samudra

Seperti samudra yang melemparkan mayat ke pantai; demikian juga seorang bhikkhu harus menyingkirkan kekotoran batin dari pikirannya.

Seperti samudra yang meskipun menyimpan banyak kekayaan tidak akan mengangkatnya ke atas; demikian juga seorang bhikkhu harus memiliki permata pencapaian tetapi tidak memamerkannya.

Seperti samudra yang berhubungan dengan makhluk-makhluk yang besar; begitu juga seharusnya seorang bhikkhu berhubungan dengan murid-murid yang hanya mempunyai sedikit keinginan, yang berbudi luhur, terpelajar dan bijaksana.

Seperti samudra yang tidak membanjiri pantainya; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu tidak pernah melanggar sila sekali pun demi kehidupannya.

Dan seperti samudra yang tidak penuh meskipun semua sungai mengalir ke dalamnya; demikian juga seorang bhikkhu seharusnya tidak pernah bosan mendengarkan Ajaran dan instruksi Dhamma, Vinaya dan Abhidhamma.





21. Bumi

Seperti bumi yang besar yang tidak tergoyahkan oleh barang-barang, yang baik maupun yang busuk, yang dilemparkan kepadanya; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu tetap tidak tergoyahkan bila dipuji atau dicaci, didukung atau diabaikan.

Seperti bumi yang besar yang tidak berhias tetapi mempunyai aroma sendiri; demikian juga seorang bhikkhu seharusnya tidak dihiasi oleh parfum tetapi memiliki keharuman nilai-nilai kemoralannya.

Seperti bumi yang tidak pernah lelah menyangga beban yang sangat banyak; demikian juga seorang bhikkhu tidak boleh lelah memberikan petunjuk, peringatan dan dorongan.

Dan seperti bumi yang besar yang tidak mempunyai rasa benci atau rasa suka; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu tidak mempunyai kebencian dan kesukaan.





22. Air

Seperti air yang secara alami tetap tenang; demikian juga seorang bhikkhu memiliki sifat tidak munafik, tidak suka berkeluh-kesah, tidak berbicara dengan maksud untuk memperoleh keuntungan, tidak berperilaku yang tercela, tetap tenang tak terganggu dan murni secara alami.

Seperti air yang selalu menyegarkan; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu penuh dengan welas asih, selalu mencari yang baik dan bermanfaat bagi semuanya.

Dan seperti air yang tidak pernah mencelakakan siapa pun; demikian juga seorang bhikkhu bersungguh-sungguh berusaha, tidak pernah melakukan kesalahan yang menyebabkan pertengkaran atau perselisihan, kemarahan atau ketidak-puasan.

Hal ini telah dikatakan oleh Sang Buddha dalam Kanha jataka:

'O Sakka, raja seluruh dunia, sebuah pilihan kau nyatakan: Tidak seharusnya ada makhluk yang dilukai untukku; O Sakka, di manapun, tidak di tubuh tidak pula di pikiran: Ini, Sakka, adalah doaku'. (Ja.iv.14.PTS trnsl)





27. Bulan

Seperti bulan yang berubah semakin besar dari hari ke hari; demikian juga seorang bhikkhu seharusnya meningkatkan sifat-sifatnya yang baik dari hari ke hari.





30. Raja Semesta

Seperti halnya raja semesta yang disenangi rakyatnya karena empat dasar ketenaran yaitu kemurahan hati, keramah-tamahan, keadilan dan sifatnya yang tidak memihak; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu yang disenangi oleh para bhikkhu dan umat awam.

Seperti raja semesta yang tidak mengijinkan para perampok berdiam di alamnya; demikian juga seorang bhikkhu seharusnya tidak mengijinkan pikiran yang jahat, yang bernafsu atau yang kejam berdiam di dalam pikirannya.

Dan seperti raja semesta yang berkelana ke seluruh dunia memeriksa yang baik dan jahat; demikian juga seorang bhikkhu seharusnya memeriksa dirinya dengan seksama dalam pikiran, perkataan dan perbuatannya.





40. Gajah

Seperti seekor gajah yang memutar seluruh tubuhnya ketika memandang sekelilingnya; demikian juga seorang bhikkhu seharusnya memutar tubuhnya ketika memandang sekelilingnya. Tidak melihat ke sana-sini melainkan mengendalikan matanya dengan baik.

Seperti gajah yang mengangkat kakinya dan melangkah dengan hati-hati; demikian juga seorang bhikkhu harus selalu waspada dan sepenuhnya menyadari gerak jalannya.





46. Bangau India

Seperti bangau India yang dengan jeritannya memperingatkan orang akan nasib mereka yang akan datang; demikian juga seorang bhikkhu harus memperingatkan orang akan nasib mereka di masa mendatang dengan Ajaran Dhamma-nya.





47. Kelelawar

Seperti kelelawar yang meskipun terkadang memasuki rumah orang dengan segera akan pergi; demikian juga seorang bhikkhu, meskipun dia memasuki rumah orang untuk berpindapatta, segera dia akan pergi.

Dan seperti kelelawar yang tidak merugikan bila mengunjungi rumah seseorang; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu. Ketika mengunjungi rumah orang dia tidak merugikan karena mudah dilayani dan penuh tenggang rasa melihat kesejahteraan mereka.





48. Lintah

Seperti lintah yang menghisap sampai kenyang sebelum melepas; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu teguh kukuh dalam objek meditasinya dan menghirup sepuasnya nektar kebebasan yang lezat.





50. Ular Batu

Seperti ular batu yang dapat bertahan hidup selama beberapa hari tanpa makan; demikian juga seorang bhikkhu seharusnya dapat terus bertahan meskipun dia hanya menerima sedikit makanan. Hal ini telah dikatakan oleh Bhante Sariputta:

'Tak peduli makanan basah atau kering yang dia santap, tidak pernah dia membiarkan dirinya makan kekenyangan. Pertapa yang baik meningalkan keduniawian dalam kekosongan, dan tetap makan secukupnya saja. Jika dia hanya mendapat empat atau lima suap, biarlah dia minum air. Hal itu bukan masalah bagi orang yang pikirannya tertuju ke tingkat Arahat dan mencari ketentraman'. (Thag.vv.982,983)





60. Tukang Kayu

Seperti tukang kayu yang membuang bagian kayu yang empuk dan hanya menggunakan bagian kerasnya saja; demikian juga seorang bhikkhu seharusnya membuang pandangan-pandangan salah seperti misalnya keabadian, kenihilan, jiwa adalah tubuh, jiwa adalah satu hal sedangkan tubuh adalah hal lain, semua ajaran sama baiknya, yang tidak terkondisi merupakan ketidak-mungkinan, tindakan manusia tidak ada gunanya, tidak ada kehidupan suci, ketika satu makhluk mati maka lahirlah satu makhluk yang baru, hal-hal yang terkondisi secara abadi ada, seseorang yang bertindak akan langsung mengalami hasil dari padanya, seseorang bertindak dan orang lainlah yang akan menerima akibatnya, dan segala macam pandangan salah lainnya mengenai buah dari kamma (niat) dan kiriya (perbuatan). Setelah membuang segala macam jalan seperti itu, dia harus memahami ide tentang kekosongan (void) yang merupakan keadaan yang sebenarnya dari hal-hal yang terkondisi.





61. Pot Air

Seperti halnya pot air yang penuh tidak menimbulkan suara; demikian juga seharusnya seorang bhikkhu tidak menjadi banyak mulut meskipun dia tahu banyak. Hal ini telah dikatakan oleh Sang Buddha:

Dengarkanlah suara air. Dengarkanlah air yang mengalir melalui celah jurang dan bebatuan. Sungai yang kecillah yang menimbulkan suara yang keras. Sungai yang besar mengalir tanpa suara.

Yang kosong bersuara dan penuh tenang. Kebodohan seperti sebuah pot yang berisi setengahnya; orang bijaksana bagaikan sebuah danau yang penuh air. (Sn.vv.720,721)

Pada akhir perdebatan antara Sang bhikkhu thera dan raja ini, bumi yang besar ini bergetar enam kali, kilat menyambar di langit dan para dewa menaburkan bunga dari surga. Milinda dipenuhi oleh sukacita di dalam hatinya dan semua kesombongan lenyap dari dalam dirinya. Ia tidak lagi mempunyai keraguan tentang Sang Tiratana dan tidak lagi mempertahankan kekeras-kepalaannya, bagaikan kobra yang tidak lagi memiliki taring.

Raja kemudian berkata, "Sangat hebat, Yang Mulia Nagasena! Teka-teki yang pantas diselesaikan oleh seorang Buddha, telah Bhante selesaikan. Tidak ada yang seperti Bhante di antara para murid Sang Buddha, terkecuali Yang Mulia Sariputta. Bhante, maafkanlah segala kesalahan saya. Semoga Bhante sudi menerima saya sebagai murid, sebagai seseorang yang telah menemukan perlindungan selama hidupnya".

Dan sang raja, beserta para prajuritnya, menyokong Sang bhikkhu thera itu beserta sejumlah besar pengikutnya. Dia membangun tempat tinggal yang diberi nama Vihara Milinda. Dan di kemudian hari, Milinda menyerahkan kerajaannya kepada putranya. Setelah meninggalkan kehidupan berumah tangga, dia mengembangkan pandangan terang dan mencapai tingkat Arahat.

***



Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar