Check out the Latest Articles:

Minggu, 17 April 2011

Ringkasan Milinda Panha

Ringkasan Milinda Panha

Kata-kata Pali Dan Istilah Teknis

4 Buah Sang Jalan

1.Pemenang Arus (Sotapanna —tingkat kesucian pertama).

Ketika mewujudkan nibbana untuk pertama kalinya, Sotapanna telah menghancurkan 3 belenggu pandangan salah: percaya adanya pribadi (sakkaya-ditthi); percaya pada tata-cara dan ritual; dan keraguan. Dia tidak mungkin dapat melakukan kejahatan yang keji, dan seandainya dia melakukan suatu perbuatan jahat, dia tidak dapat menyembunyikannya. Dia terjamin pasti mencapai tingkat Arahat, paling banyak dalam 7 kali kelahiran.

2.Yang Kembali Sekali (Sakadagami —tingkat kesucian kedua).

Sakadagami ini telah menghilangkan sebagian besar kekuatan belenggu nafsu dan niat jahat; dia akan dilahirkan di bumi paling banyak hanya 1 kali lagi sebelum mencapai tingkat Arahat.

3.Yang Tidak Kembali (Anagami —tingkat kesucian ketiga).

Anagami ini telah sepenuhnya menghilangkan belenggu-belenggu nafsu dan niat jahat; dia tidak akan dilahirkan kembali di bumi tetapi akan mencapai tingkat Arahat di alam-alam yang lebih tinggi, di alam dewa atau alam Brahma.

4.Arahat.

Arahat telah menyingkirkan 5 sisa belenggu, telah menghancurkan semua kebodohan batin dan nafsu keinginan, serta mengakhiri semua bentuk kelahiran kembali. Dengan demikian dia mencapai tujuan akhir kehidupan suci.



4 Cara Hidup Tanpa Rasa Takut (Vesarajja).

Sang Buddha berkata:

"Saya tidak melihat alasan apapun yang dapat dipakai orang untuk marah terhadap Saya dalam hal:

1.telah sepenuhnya tercerahkan;

2.banjir-banjir yang telah sepenuhnya dihancurkan;

3.pengetahuan tentang penghalang kemajuan;

4.pengetahuan Dhamma yang menuju ke penghancuran banjir-banjir itu".



5 Halangan (Nivarana)

Nafsu; keinginan jahat; kelambanan dan kemalasan; keresahan dan penyesalan yang dalam; serta keraguan. Kekotoran-kekotoran batin ini disebut penghalang karena mereka menghambat perkembangan konsentrasi.


5 Khandha Makhluk

Ketika kita mengatakan "makhluk hidup", ini hanyalah suatu cara bicara konvensional. Yang mendasari konvensi ini adalah pandangan salah mengenai kepercayaan akan adanya pribadi (sakkaya ditthi), kekekalan dan adanya substansi. Tetapi, apabila kita periksa dengan lebih seksama apakah sebenarnya makhluk hidup atau orang itu, maka yang akan kita temukan hanyalah suatu arus fenomena yang terus-menerus berubah. Fenomena-fenomena ini dapat diatur dalam 5 kelompok: tubuh atau fenomena materi (rupa), perasaan (vedana), pencerapan (sanna), bentukan-bentukan mental (sankhara), dan kesadaran murni (vinnana). Ini hanya kategori, dan jangan menganggap bahwa kelompok-kelompok ini adalah sesuatu yang stabil.



8 Penyebab Gempa Bumi



1.Bumi ini ditopang oleh air, air ditopang oleh udara, udara oleh ruang. Kadang-kadang angin besar bertiup kencang dan air tergoncang. Ketika air tergoncang, bumi tergoncang. (Air adalah elemen kohesi/kepaduan atau ketidak-stabilan, udara adalah elemen gerak. Elemen-elemen ini ada sekalipun pada batu karang yang leleh).

2.Seorang pertapa atau dewa dengan kekuatan (bala) yang besar menyebabkan bumi bergoncang lewat kekuatan konsentrasinya.

3.Ketika Sang Bodhisatta secara sengaja dan sadar meninggal dari Surga Tusita, dan terkandung dalam rahim ibunya, maka bumi besar ini bergoncang.

4.Ketika Sang Bodhisatta secara sengaja dan sadar keluar dari rahim ibunya, bumi besar ini bergoncang.

5.Ketika Sang Tathagata mencapai pencerahan tertinggi yang sempurna, bumi besar ini bergoncang.

6.Ketika Sang Tathagata memutar roda Dhamma, bumi besar ini bergoncang.

7.Ketika Sang Tathagata secara sengaja dan sadar melepaskan proses mental yang menahan kehidupan, bumi besar ini bergoncang. (Dengan kekuatan kesaktianNya Beliau sebanarnya dapat memperpanjang kehidupanNya, tetapi karena tidak diminta, Beliau melepaskan kemungkinan itu dan mengumumkan waktu wafatNya).

8.Ketika seorang Buddha meninggal dunia dan mencapai Parinibbana, bumi besar ini bergoncang.



10 Belenggu (Samyojana)

Kamachanda (nafsu); byapada (maksud jahat); mana (kesombongan); sakkaya-ditthi (percaya adanya pribadi); vicikiccha (keraguan); silabattam (kemelekatan pada ritual dan upacara); ruparaga (nafsu akan keberadaan); issa (iri hati); macchriya (ketamakan); avijja (kebodohan batin).



10 Kesempurnaan (Parami)

Dana (kedermawanan); sila (keluhuran); nekkhama (meninggalkan keduniawian); panna (kebijaksanaan); viriya (semangat); khanti (kesabaran); sacca (kejujuran); adhitthana (tekad); metta (cinta-kasih); upekkha (ketenangan-keseimbangan).



18 Sifat Ke-Buddha-an (Buddhadhamma)

1-3. Melihat segala hal: di masa lampau, kini dan yang akan datang. 4-6. Kebenaran dalam tindakan, ucapan dan pikiran. 7-12. Mantapnya hal-hal berikut ini sehingga tidak dapat dicegah oleh yang lain: kehendak, doktrin, hal-hal yang dihasilkan oleh konsentrasi, semangat, pembebasan dan kebijaksanaan. 13-14. Menghindari: kesenangan atau apapun yang dapat mengundang hinaan, serta perselisihan dan pertikaian. 15. Maha tahu. 16. Melakukan segala hal dengan kesadaran penuh. 17. Melakukan semua hal dengan tujuan tertentu. 18. Tidak melakukan apapun secara memihak atau tidak bijaksana.



32 Bagian Tubuh (untuk perenungan)

Rambut kepala; bulu tubuh; kuku; gigi; kulit; daging; otot; tulang; sumsum tulang; ginjal; jantung; hati; jaringan; limpa; paru-paru; usus besar; usus kecil; mesentery (???); perut; tinja; empedu; lendir; nanah; darah; keringat; lemak padat; lemak cair; ludah; ingus; cairan synovic (???); air kencing; otak.


Abhidhamma

Berarti Ajaran yang lebih tinggi. Abhidhamma menggunakan metode analitis. Sementara khotbah-khotbah menggunakan bahasa konvensional manusia atau makhluk, Abhidhamma menggunakan istilah-istilah seperti "lima khanda manusia".


Arahat —(lihat 4 Buah Sang Jalan).


Bhikkhu

Biarawan Buddhis yang telah menerima pentahbisan yang lebih tinggi.



Bodhisatta

Makhluk yang sepenuhnya mengabdi untuk mencapai pencerahan sempurna seorang Buddha. Untuk itu dia harus mengembangkan kesempurnaan-kesempurnaan (parami) selama berkalpa-kalpa.



Brahma

Seorang dewa atau makhluk agung yang berada dalam alam kehidupan yang terbebas dari hawa nafsu. Brahmacarin —Orang yang menjalani kehidupan kesucian. Brahmana —Seorang pendeta Hindu atau orang dari kasta itu.


Buddha Soliter

Paccekka Buddha atau Buddha yang mencapai pencerahan tanpa bantuan seorang Buddha Maha Tahu. Tidak seperti Buddha Maha Tahu, seorang Buddha soliter belum sepenuhnya mengembangkan kemampuan untuk mengajar orang lain.



Cara (Prilaku Baik)

Merupakan penggenapan tugas-tugas. Imbalannya, sila, adalah penahanan diri dari perbuatan salah.


Jasa (Punna)

Perbuatan-perbuatan baik yang merupakan landasan untuk kebahagiaan dan kemakmuran dalam lingkaran kelahiran kembali.



Latihan Keras (Dukkarakarikam)

Ini adalah latihan-latihan pengendalian diri yang keras yang dijalankan oleh Sang Bodhisatta tetapi harus dibedakan dari latihan-latihan pertapa (dhutanga), yang walaupun sulit namun bukannya rendah dan bukan pula tidak menguntungkan.



Masa vassa

Masa tiga bulan, dari Agustus sampai Oktober. Dimana para bhikkhu tetap tinggal di satu tempat. Senioritas seorang bhikkhu diukur dari vassa atau jumlah tahun dia menjadi bhikkhu.


Parinibbana

Kematian seorang Buddha, Paccekka Buddha atau Arahat.


Patimokkha

227 peraturan latihan yang diucapkan lagi oleh para bhikkhu pada upacara hari oposatha, setiap bulan baru dan bulan purnama.



Pemenang Arus (Sotapanna) —(Lihat 4 Buah Sang Jalan).



Penalaran (Yoniso Manasikara)

Sering diterjemahkan sebagai "perhatian sistematis". Artinya perhatian akan sifat-sifat yang mengikis kekotoran batin dan bukannya sifat-sifat yang meningkatkan kekotoran batin.


Penyerapan (Jhana)

Yaitu tahap-tahap konsentrasi mental yang dicapai dengan mengatasi 5 rintangan. Hasil dari keadaan-keadaan ini adalah kelahiran kembali di alam Brahma.



Peraturan-peraturan Yang Minor Dan Kurang Penting

Pengarang Milinda Panha mengatakan bahwa peraturan-peraturan minor adalah pelanggaran karena tindakan salah (dukkata), sedangkan peraturan-peraturan yang kurang penting adalah pelanggaran karena ucapan salah (dubhasita), walaupun dia mengakui bahwa 500 bhikkhu thera yang mulia tersebut tidak satu suara mengenai hal ini.


Pohon Bodhi

Pohon dimana Sang Bodhisatta menjadi seorang Buddha. Pohon Bodhi Ananda merupakan anak pohon dari pohon aslinya, yang dibawa Ananda ke Savatthi guna mengingatkan orang-orang akan Sang Buddha jika Beliau sedang pergi. Sebatang anak pohon lain dikirim ke Srilangka oleh Raja Asoka dan msih dipuja sampai kini.


Samana

Seorang pertapa, tidak harus Buddhis.



Tipitaka

Kumpulan berunsur tiga, yaitu Sutta; Vinaya dan Abhidhamma. Yang berupa khotbah, peraturan disiplin, dan filsafat —(Lihat Kitab Suci Pali).



Vedagu

Digunakan dalam Milinda Panha dalam pengertian suatu jiwa atau sesuatu yang mengalami, yang melihat, mendengar, membau, mencicipi, merasa atau mengetahui. Ini juga merupakan julukan bagi Sang Buddha yang artinya "YangTelah Memperoleh Pengetahuan".

Vinaya

Enam dari Kitab Suci yang menangani disiplin-disiplin para bhikkhu dan urusan-urusan pengaturan lainnya.

Visuddhimagga

Suatu buku pegangan yang sangat berharga yang ditulis dalam bahasa Pali pada abad ke 3 M oleh Yang Mulia Buddhaghosa, yang menjelaskan latihan berunsur tiga: keluhuran, konsentrasi dan kebijaksanaan.



Yang Kembali Satu Kali (Sakadagami) —(Lihat 4 Buah Sang Jalan).



Yang Tidak Kembali (Anagami) —(Lihat 4 Buah Sang Jalan).



Yunani Baktria (Baktrian Greek) —(Yonaka).

Ada beberapa acuan untuk kata yonaka selain yang ada di dalam Milinda Panha. Sebuah prasasti di gua di Nasik, dekat Bombay, menyebutkan 9 Yonaka yang merupakan donor, dan Mahavamsa menghubungkannya pada bhikkhu-bhikkhu dari Yona, pada seorang Yonadhammarakkhita yang pasti merupakan seorang bhikkhu Yunani Baktria.

***



Sumber:

Perdebatan Raja Milinda (Ringkasan Milinda Panha), Bhikkhu Pesala; Kaliyani Kumiayi SE, Dra.Sujata Lanny Anggawati, Dra.Yasodhara Wena Cintiawati (alih bahasa); Bhikkhu Uttamo (editor); Sangha Theravada Indonesia, 1995.
WebRepOverall rating

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar